Minggu, 24 April 2011

Pangeran Siddhartha Gautama, Orang Kaya, dan Kereta Ekonomi

Siddhārtha GautamaAnda pernah membaca kisah hidup Pangeran Siddhartha Gautama? Kalau belum, bisa membaca kisah hidupnya yang ada di Wikipedia ini. Kisah hidup Pangeran Siddhartha memang menarik. Saya pernah sedikit mengutipnya di artikel Antara Memborong Media, Pangeran Siddhārtha Gautama dan Film Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya Pangeran Siddhartha pernah dijauhkan oleh ayahnya, Sri Baginda Raja Suddhodana agar tak melihat 4 (empat) hal. Yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa karena khawatir sesuai ramalan kelak Pangeran Siddharta Gautama akan pergi meninggalkan istana dan menjadi pertapa dengan melihat banyak hal yang tidak menyenangkan yang sebenarnya ada di kehidupan nyata ini.

Sesuai ramalan pertapa, di bawah pimpinan Asita Kaladewala, memang diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Dan ramalan itu akhirnya benar-benar terjadi. Pangeran Siddhartha akhirnya pergi meninggalkan istana dengan segala kemewahan duniawinya dan menjadi Buddha meskipun empat hal tadi sudah dijauhkan oleh ayahnya sejak kecil.

Sama seperti ayah Pangeran Siddhartha, di kehidupan nyata sekarang ini tak sedikit para orang tua kaya yang berbuat sedikit mirip dengan ayah Pangeran Siddhartha. Memberi banyak fasilitas dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan mencekoki banyak materi sejak kecil. Menjauhkan dari kemiskinan, dari lingkungan pergaulan anak biasa yang tak sesuai dengan orang kaya. Pendeknya, anak tak boleh hidup sengsara dan merasakan hidup susah, itu intinya.

Sikap itu apakah salah? Tidak, tepatnya saya tak ingin melihat dalam prespektif antara salah dan benar, tetapi saat kelak anak mereka tumbuh menjadi dewasa betapa hal yang berlebihan seperti ini bisa berakibat fatal buat masa depan anaknya. Menafikkan fakta kehidupan bisa membuat ironi yang menyedihkan.

Saya punya dua orang contoh teman. Yang pertama ini seorang wanita. Dia lahir dari keluarga kaya. Sejak kecil benar-benar diperlakukan layaknya orang kaya. Karena kaya sehingga belum pernah sekalipun merasakan bagaimana naik kereta ekonomi. Suatu saat teman saya ini naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Yogyakarta. Teman saya ini bercerita ke saya sambil berkaca-kaca, menceritakan benar-benar terharu saat melihat hal-hal yang tidak biasa ia lihat sejak kecil sampai dia tumbuh dewasa sebesar usianya sekarang ini. Dia kagum melihat banyak orang yang lebih menderita dari dia tapi masih bisa tersenyum dan bercengkerama gembira di kereta diantara sesak dan tidak nyamannya naik kereta kelas ekonomi.

Kereta Api

Bagi teman saya tersebut pengalaman itu sungguh pengalaman yang menarik, yang membuatnya jadi lebih bersyukur kepada Tuhan sehingga teman saya ini pun menjadi terus ketagihan naik kereta kelas ekonomi. Dan yang terpenting, dia lebih bisa berempati dengan orang, terlebih kepada orang miskin.

Saya coba bandingkan dengan saya. Apa menariknya naik kereta ekonomi? Menjemukan sekali karena tidak nyaman, panas, bau dan sebagainya. Sebuah kondisi yang sudah terlalu akrab di kehidupan saya sejak kecil. Karena sejak kecil saya sudah bergulat dengan kemiskinan. Saya lahir di desa dengan kehidupan yang amat sederhana. Lahir dari kelurga yang biasa-biasa saja. Dan mungkin ini juga berlaku buat Anda yang (barangkali) pernah hidup miskin sama seperti saya. Benar?

Contoh yang kedua, saya punya teman laki-laki yang terlahir dari keluarga kaya juga. Teman saya ini sekarang sudah tumbuh menjadi pengusaha sukses dan kaya seperti orang tuanya. Namun, hal yang berbeda dengan kawan saya yang pertama, teman saya yang satu ini dalam banyak hal kalau berbicara selalu tinggi dan ingin tampil terlihat kaya dan tak mau kalah dengan orang lain. Teman saya ini kurang bisa berempati dengan kemiskinan dan orang-orang di sekitarnya akibat sejak kecil tak pernah bergaul dengan orang kebanyakan apalagi bergulat dengan kemiskinan. Pendek kata teman saya ini sangat sombong sekali. Dalam kaca mata saya dia sok kaya sekali, meskipun belum jadi orang kaya beneran karena rumah dan mobil pun saya lihat masih kredit.

Melihat contoh kehidupan kedua kawan saya tersebut dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Siddhartha, saya berkesimpulan: Beruntunglah kawan saya yang pertama. Meski sejak kecil dia sempat dijauhkan dari hal-hal yang berbau kemiskinan dan kesusahan seperti Pangeran Siddhartha tapi dia tetap bisa berempati dengan orang miskin. Dan saya berterima kasih sekali sudah diingatkan dengan kejadian seperti ini. Karena seringkali orang begitu, saat terlepas dari kesusahan (kemiskinan) mulai menjadi lupa akan siapa dirinya dulu. Dan saya tak malu untuk mengakui tak terkecuali saya.

Semoga kita bisa belajar dari ketiga kisah tersebut. Amin

Sumber Foto: Wikipedia dan ImageShack


Bookmark and Share

16 komentar:

  1. Sepertinya pertamax nih...! :)

    BalasHapus
  2. Saya percaya terhadap yang namanya roda nasib. Ekonomi terus berputar. Kita nggak selalu hidup di atas, ada kalanya harus terima keadaan hidup dibawah.

    Dan Tuhan tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah kepada-Nya. Kalau lulus ujian kemiskinan itu wajar. Lulus ujian kekayaan, nah itu yang nggak mudah.

    BalasHapus
  3. saya juga membaca kisahnya sidharta gautama (tapi yang versi novel, hehehe).

    wow, saya juga baru kepikiran melihat keterkaitan antara orang tua jaman sekarang dengan apa yang dilakukan ayahnya sidharta berabad tahun yang lalu.

    hmm..kira-kira apa ya, yang membuat reaksi kedua teman mas saat berinteraksi dengan kemiskinan begitu berbeda? meski tumbuh besar dengan cara yang nyaris sama, reaksi mereka berbeda. yang satu empati, yang satunya sama sekali tidak.

    semoga kita bisa mengambil hikmahnya.
    :)

    BalasHapus
  4. Seperti cerita Konser Justin Beiber Vs Orkes Dangdut ya mas, Btw inilah beberapa hal yang paling ditakuti manusia termasuk saya yaitu Kematian, Kemiskinan,Kelaparan,Kehilangan, Kesusahan, Masa Depan Yang Suram, namun kabar gembiranya adalah SABAR - “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS Al Baqarah : 155). :)

    BalasHapus
  5. Saya terbiasa melihat dan memang miskin sejak kecil, sampai sekarang-pun terbiasa hanya makan di warung pojok.

    Saya ndak suka naik kereta ekonomi bukan karena benci kemiskinan, tapi saya memang tidak suka perjalanan jauh. Saya menghindari yang namanya perjalanan jauh. Kecuali memang untuk kepentingan yang mendesak, yah, dinikmati juga pada akhirnya :).

    BalasHapus
  6. inspiring sekali posting nya pak, kalau kebalikannya, sejak kecil dijauhkan dari kekayaan dan kemewahan, hanya dikurung kemiskinan, apa kelak malah tidak jadi sinisme, hehehe

    saya sendiri sampai sekarang berkawan kemiskinan, ya orang miskin memang kawannya adl kemiskinan :D

    BalasHapus
  7. Agus Siswoyo:
    Selamat, Mas Agus sudah mendapatkan pertamax. Jarang-jarang, lho blogger seleb bisa mendapatkan pertamax di blog seleb juga. HaHaHa.....

    Roda berputar, benar! Dan kebanyakan orang pingin di posisi di atas roda terus. Sampai-sampai karena terlalu nyamannya di atas jadi lupa sama yang lagi menderita di bawah. :)

    Ujian menjadi orang miskin memang berat karena penuh dengan penderitaan. Tapi ujian orang kaya harta lebih berat lagi karena godaannya teramat besar. Kata-kata ini benar sekali dan sering dinasehatkan oleh ustad saya, Mas.

    Huda Tula:
    Saya hanya mencoba mengaitkannya Mas Huda karena ada kemiripan sekali, meski dari dua jaman yang jauh rentang waktunya.

    Kedua teman saya ini sama-sama muslim taat. Dari keluarga yang sangat agamis. Saya kurang tahu pasti apa yang bisa menyebabkannya. Teman saya yang pertama kenapa reaksinya berbeda dan bisa berempati? Ya mungkin itu sebuah hidayah dari Alloh, Mas. Dan teman saya yang kedua mungkin belum dibukakan saja pintu hatinya oleh Alloh sehingga kurang bisa berempati dengan orang lain.

    Lintang Hamidjoyo:
    Terima kasih, Mas atas pencerahannya. Semoga kita semua termasuk orang yang "SABAR' tersebut.

    Cahya:
    Perjalanan jauh itu terlalu melelahkan, Mas Cahya. Terlebih naik kereta atau bis ekonomi. Terlebih bagi yang lelah karena lama menderita oleh kemiskinan. Namun adakalanya malah sebaliknya, contoh kisah kawan saya di atas justru amat menyenangkan karena tidak pernah merasakan begitu dekatnya dengan penderitaan yang tak pernah dirasakannya.

    Jarwadi:
    HeHeHe. Mas Jarwadi jadi mengingatkan masa kecil saya. Dulu waktu saya kecil juga gitu, sinis dan begitu mendendam sama orang kaya, mirip seperti kisah Kick Andy yang pernah dendam kepada orang kaya gara-gara memecahkan kaca spion mobil orang kaya.

    Pada saat kita miskin, ya memang tidak ada pilihan untuk berusaha merasakan untuk jadi orang kaya. Tapi saat kita kaya pilihan itu ada, Mas. Dan sebagai orang tua kadang kita lupa mengajarkan hal ini ke anak2 kita karena terlalu nikmat merasakan jadi orang kaya sehingga lupa untuk berempati kepada yang miskin.

    BalasHapus
  8. yah, this is life man, kadang memang sulit untuk menerima keadaan, saat segala sesuatunya belum sesuai dengan harapan kita...

    BalasHapus
  9. Jalan dan pilihan hidup orang tuh macam-macam ya. Yang sudah kaya dan mapan seperti Siddharta, malah menjauh dari kekayaan. Sedang kita yang belum berkecukupan, setiap hari banting tulang peras keringat.

    Omong-omong, Pak Joko, kalau hidup adalah ujian, sampeyan milih diuji dalam kekayaan atau dalam kemiskinan? :)

    BalasHapus
  10. salam sahabat
    jadi tahu secara jelas pangeran siddharta gautama ini terima kasih

    BalasHapus
  11. suke:
    Sulit menerima dan seringkali menafikannya. Betul?

    Hoeda Manis:
    Kalau diuji dalam kemiskinan sudah pernah saya jadi sudah tidak ada sisi menariknya lagi. Yang belum, diuji dalam bergelimangan kekayaan. Jika diberi kesempatan kenapa tidak?. HeHeHe

    Dhana/戴安娜:
    Mungkin karena Mbak Dhana bukan penganut Budha, sama seperti saya seorang muslim jadi kalau belum tahu wajar. Saya tahu kisahnya dari film dan baca buku.

    BalasHapus
  12. Ceritanya mengingatkan saya untuk tak selalu memandang keatas. Inilah hidup yang bisa dan mungkin kita berada dibawah, dan syukurlah ketika saya berada ditempat teratas tetap tak lupa walaupun sekarang berada di kebalikannya.
    Terima kasih mas, sebuah cambuk bagi saya :D

    BalasHapus
  13. Jadi ingat bagaimana dulu kawan saya yang anak mentri takjub naik bis gratis di kampus kami. PAdahal kita menganggap biasa saja naik bis itu. :D

    BalasHapus
  14. Kaget:
    Sama-sama, Mas. Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama agar saling mengingatkan. :)

    bukan detikcom:
    Takjub? Mungkin karena tak biasa naik mobil bus (biasa) seperti kita, Mas. Betul?

    Ternyata banyak juga kejadian-kejadian seperti itu, ya Mas Gardino?

    BalasHapus
  15. hihihi kebiasaan dari kecil memang haru dilatih rata ya mas.. maksdutnya jangan terlalu di kasih madu yang terlalu banyak.. biar setelah besar gak manja dan bisa merasakan apa yang orang rasakan.

    Tapi teman mas itu hebat. walaupun dari kecil sudah mendapat fasilitas yang luar biasa tetapi mau membaur dengan banyak kalangan :)

    BalasHapus
  16. sibair:
    Benar, Mas idealnya, sih harusnya begitu. Sayangnya, jarang (tak banyak) orang tua kaya yang mau melakukannya. Kebanyakan hanya memberi madunya saja.

    Contoh, kalau ingin mengajarkan bagaimana jadi orang miskin dan rasanya kelaparan maka ajarkanlah berpuasa. Betul?

    BalasHapus