Minggu, 01 Maret 2009

Blackberry, Sebuah LifeStyle atau Kebutuhan?

BlackBerry
Sebelum saya mengulas lebih jauh tentang gadget yang lagi ngetrend dan banyak digandrungi orang saat ini, yaitu gadget yang bernama BlackBerry, saya mau bercerita tentang tiga sosok teman saya yang cukup unik dalam memandang gadget komunikasi nirkabel.

Sebut saja teman saya yang pertama bernama Sutan, seorang assistan manager dengan tingkat ekonomi, saya bilang cukup mapan sehingga kalau hanya untuk beli handphone seri terbaru maupun beli BlackBerry, saya rasa sangat mampu. Tapi kenyataannya, dia tidak pernah mau beli handphone.

Suatu waktu saya tanya alasan dia mengapa tidak mau beli handphone, alasan dia seperti ini: “Buat apa mesti beli handphone, toh saya di kantor sudah ada telepon, di rumah juga sudah ada telepon. Untuk apalagi?” jawabnya argumentative.

Jawaban yang cukup logis dan tidak terlalu salah, pikir saya waktu itu.

Meskipun sekarang akhirnya dia pakai handphone, itu lain soal. Dia tidak berubah prinsip tapi lebih karena alasan tuntutan pekerjaan karena diprotes oleh atasan dan teman-teman dia karena susah kalau dihubungi.

Dan teman saya yang kedua, sebut namanya Yudi. Seorang manager di salah satu cabang perusahaan tempat saya bekerja. Berbeda dengan Sutan, Yudi mau memakai handphone seperti orang kebanyakan. Yang berbeda adalah setiap kali saya bertemu dia, handphone yang dia pakai selalu itu-itu saja, tidak pernah ganti merk ataupun model. Untuk orang sekelas manager, handphone dia termasuk handphone kuno karena modelnya tidak uptodate.

Alasan dia kalau ditanya mengapa tidak mau ganti handphone: “fungsi handphone, kan sebagai alat komunikasi, untuk menelepon dan sesekali sms. Lalu untuk apa gonta-ganti handphone kalau fungsinya tetap sama?” ujarnya beralasan. Benar juga pikirku.

Lain Sutan, lain Yudi, lain lagi temanku yang satu ini. Sebut saja namanya Ferry. Seorang manager juga tapi orangnya yang ini kalau berpenampilan sangat dandy, fashionable dan selalu mengikuti mode dalam berpenampilan. Termasuk dalam urusan gadget handphone. Dalam satu tahun dia bisa sampai 3-4 kali ganti handphone demi untuk mendukung penampilannya.

Nah, sebelum saya menjawab BlackBerry sebuah LifeStyle atau Kebutuhan”, saya ingin sedikit sharing tentang apa itu BlackBerry (bagi yang belum tahu). BlackBerry adalah perangkat gadget komunikasi seluler buatan vendor RIM (Research In Motion) dari Canada, yang mempunyai feature unggulan berupa pushmail, yaitu adanya alert atau pemberitahuan sms setiap kali ada email masuk ke inbox email kita sehingga kita tidak ketinggalan berita, dapat langsung membaca serta membalasnya langsung lewat perangkat BlackBerry.

Pada PDA atau handphone jenis communicator dan seri office terbaru, contoh pada Nokia seri 9300, 9500, E61, E63, E71, E90 dan E95 sebenarnya fasilitas pushmail juga sudah ada, namun kelebihan BlackBerry adalah karena perusahaan RIM (Research In Motion) menyediakan APN di servernya untuk memfasilitasi BlackBerry pada setiap akses data penggunanya dengan melakukan enskripsi, scanning virus dan kompresi data menjadi sangat kecil. Bayangkan email berukuran 1 MB bisa diperkecil oleh BlackBerry menjadi 10 kb aja dengan isi yang tetap sama sehingga sangat menghemat byte data yang terpakai dan mempercepat loading dan lalu lintas datanya.

Kesimpulannya, bagi anda yang mirip dengan karakter Si-Ferry maka BlackBerry adalah sebuah LifeStyle, namun bila anda adalah orang yang penting karena punya kedudukan strategis, punya mobilitas tinggi, pembuat dan pengambil keputusan pada sebuah lembaga, perusahaan atau negara yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak layaknya Presiden Obama maka BlackBerry adalah sebuah Kebutuhan.


Bookmark and Share

4 komentar:

  1. Kalau menurut saya demam BB di Indonesia salah satunya adalah bersamaan waktu lahirnya dengan "aplication killer" yaitu Face Book, saya melihat di Jakarta alasan utama ibu-ibu punya BB adalah ingin ber "FB" ria disamping sangat banyak pula yg ber fashion ria....inilah kesuksessan BB dan FB istilahnya "lahir tepat tanggal"

    salam

    BalasHapus
  2. Thanks Mas Agus untuk tambahannya. Hem... Ini yang dinamakan seperti efek samping dari pemanfaatan sebuah teknologi.

    BalasHapus
  3. Artikel menarik, tapi saya agak bingung, maksudnya "life style / lifestyle" itu apa sih ya?

    BalasHapus
  4. Thanks Yuma untuk koreksi pada kata Lifestyle. Yang benar seperti koreksi anda, yaitu nyambung tanpa penggalan. Lifestyle kalau diterjemahkan artinya adalah "Gaya Hidup".
    Istilah ini banyak dipakai dalam dunia Fashion

    BalasHapus