twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

Tahun Baru Spirit Baru dan Template Baru

Effect Beauty Template
Memasuki bulan kedua di bulan Februari tahun 2014 akhirnya saya memutuskan untuk mengganti template blog ini. Setelah sebelumnya template dua kolom buatan dari Desi Templates sempat saya pakai selama 2 tahun lamanya dari Januari 2012.

Mengapa tiba-tiba ganti template? Alasannya? Ada dua alasan. Alasan pertama mumpung momennya pas lagi ganti tahun agar ada spirit baru lagi dalam ngeblog. Maklum, dua tahun terakhir ini dimana setelah memasuki tahun keenam usia blog ini, saya mulai kehilangan passion untuk menulis.

Minggu, 25 November 2012

Inilah 5 Alasan Saya Untuk Mendelete TNT Dari Daftar Kurir Forwarding Saya

Dari seringnya saya mengirim paket dari luar negeri, terkait bisnis Jasa Forwarding yang saya jalankan, kini saya mulai bisa memetakan mana-mana kurir yang bagus pelayanannya, dan mana-mana kurir yang standar pelayanannya, maupun kurir yang buruk pelayanannya.

Pajak Bea Masuk TNT

Rabu, 05 September 2012

Goodbye Google Adsense

Hari Rabu 29 Agustus 2012 beberapa hari yang lalu tiba-tiba saya menerima email pemberitahuan dari Google. Iklan Google Adsense di blog ini dinonaktifkan oleh Google. Dinonaktifkan? Ya, alasanya karena blog ini dianggap telah melanggar kebijakan (TOS) program Google Adsense.

Goodbye Adsense

Kebijakan apa yang sudah saya langgar di blog ini? Berikut adalah kutipan email penjelasan dari Google yang dikirim ke saya:

Minggu, 12 Agustus 2012

3 Situs E-Commerce Bad Reputation Dari Inggris

Posting kali ini saya akan sharing pengalaman saya Transaksi Pembelian Ke Luar Negeri dengan situs e-commerce dari Inggris. 3 situs poor customer service yang mempunyai reputasi dan pelayanan buruk. Saya kurang tahu apakah tiga situs ini sudah cukup mewakili tipikal orang Inggris memang seperti ini, atau hanya kebetulan belaka?

Hem, entahlah, saya tidak bisa menggeneralisir kalau orang Inggris semua sifat-sifatnya sama seperti ini. Tapi, ya faktanya yang terjadi seperti itu. Ini berbeda dengan mayoritas orang USA, China dan Eropa lainnya yang rata-rata baik semua pelayanannya.

Berikut adalah 3 situs e-commerce Inggris yang mempunyai reputasi dan pelayanan buruk:

River Island 
River Island

Minggu, 29 Juli 2012

Pengalaman Menarik Transaksi Dengan Situs E-Commerce Selandia Baru

Beberapa hari yang lalu saya transaksi e-commerce ke situs Selandia baru. Anda tahu? Orang Selandia baru ternyata sangat percaya dengan saya, orang Indonesia yang katanya di mata dunia luar dianggap paling banyak penipunya. Gudangnya scammer dan transaksi fraud kartu kredit.
Palpung Bookstore New Zealand

Bayangkan, saya belum membayar, tepatnya payment belum mereka terima tapi barangya sudah dikirim duluan. Bukankah ini menyalahi aturan transaksi e-commerce di internet yang umumnya pasti menganut sistem pre order. Ada uang baru barang dikirim. Betul?

Senin, 19 Maret 2012

Saya Ingin Membeli Waktu

Waktu itu sungguh sangat relatif. Benar? Faktanya, saat ini dengan kesibukan yang saya jalani sekarang ini betapa waktu terlalu sempit buat saya. Waktu sedemikian sempit dan cepat berputar tak bisa mengimbangi agenda dan aktivitas saya sehari-hari yang teramat padat.
Buy Time
Saking padatnya sampai bulan ini ngeblog pun saya tak sempat. Lihat saja artikel posting blog ini di bulan Maret 2012 baru satu biji. He2… Biasanya paling tidak saya bisa menulis 2-3 artikel per minggu.

Fakta di sisi lain, ketika kita banyak waktu luang dan lagi menganggur, rasanya waktu itu seperti tidak berharga. Benar-benar tidak berharga! Bahkan dijual pun seolah tak laku. Siapa yang mau beli. Itu pasti pertanyaannya. Karena sulit untuk mencari orang yang bersedia membeli waktu kita saat kita lagi menganggur. Tak percaya? Coba tanya orang yang lagi nganggur karena belum punya pekerjaan, pasti mereka akan jawab begitu.

Kamis, 01 Maret 2012

Belajar Marketing Dari Kisah Cinta dan Orang China

Semakin seringnya saya melakukan transaksi Pembelian ke Luar Negeri di internet membuat saya makin mengenal banyak karakter orang dari berbagai negara. Dari sekian banyak orang yang pernah berkomunikasi dengan saya, orang China menurut saya mempunyai karakter sedikit berbeda dengan orang Asia lainnya, maupun orang Amerika, Eropa, dan orang dari negara kita dalam hal cara berkomunikasinya. Khususnya dalam hal komunikasi marketing.

Mengapa orang China berbeda? Apa perbedaannya? Sebelum saya bercerita, saya ingin menceritakan sedikit tentang kisah cinta saya di masa lalu yang mungkin bisa menjadi pelajaran buat Anda agar kisah cinta saya ini tak terjadi pada Anda. Anda mau mendengarnya?

Meet Women

Dulu, tahun 1997 saat saya masih muda pernah jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan saya melihat gadis tersebut juga punya perasaan yang sama dengan saya. Kami sempat dekat dan hampir seperti sudah berpacaran. Namun akhirnya cinta tersebut kandas di tengah jalan karena gadis yang saya cintai tersebut diam-diam ternyata berpaling kepada pria lain. Dia lebih memilih pria yang lain ketimbang saya. Saya pun menjadi ragu apakah dia, gadis yang saya cintai itu punya perasaan yang sama dengan saya apa tidak. Dan akhirnya saya memutuskan melupakan gadis tersebut.

Sabtu, 14 Januari 2012

Gratisan Itu Tidak Tahan Lama dan Rawan Masalah

Template
Hari Kamis 12 Januari 2012 malam kemarin saya akhirnya memutuskan untuk mengganti template blog ini. Setelah sekian lama hampir tiga tahun lamanya sejak bulan Agustus 2009 blog ini belum pernah sekalipun ganti template. Uh, lama sekali, ya? Kenapa tiba-tiba ganti template? Gara-garanya, template saya yang lama mengalami error. Maklum template gratisan yang beberapa image ada yang embed dari layanan gratis Photobucket jadi begitu layanan gratisan dari Photubucketnya ditutup (limited) akhirnya template jadi error. Beberapa image berupa icon dan background yang seharusnya tampil jadi gagal muncul.

Gratisan Itu Tidak Tahan Lama dan Rawan Masalah. Betul? Sepertinya rumus itu banyak berlaku di semua layanan, tak terkecuali layanan di internet. Namanya juga barang/layanan gratis jadi sepenuhnya bergantung belas kasihan yang memberi. Jika yang memberi sudah mulai itung-itungan dan menyatakan tidak mendapat sharing benefit apa-apa, alhasil ditutup lah layanan gratis mereka. Jadi sebagai pengguna barang gratisan kita mesti tahu diri juga dengan membayar, jangan cari yang gratisan melulu. :D

Terkait masalah layanan gratisan saya ada contoh. Contoh yang sebaiknya dihindari, dalam berbisnis sebaiknya menghindari layanan gratis. Karena, sekali lagi yang gratisan itu tidak tahan lama dan rawan masalah, dan juga dicurangi. Saya akan cerita pengalaman buruk saya menggunakan layanan gratis. Yaitu layanan Forwarding Pembelian Online. Hanya karena ingin menghemat biaya membership fee alamat forwarding di USA, saya akhirnya malah orot-orot biaya. Kena cekik pajak bea masuk tinggi di DHL, dan juga masih ditambah barang order klien Jasa Pembelian Online saya hilang dicuri oleh, entah oknum dari DHL, Shipper, atau Pabean (Custom). Next saya akan ceritakan pengalaman buruk saya menggunakan jasa kurir luar negeri dari DHL.

Jumat, 30 Desember 2011

Maaf, Saya Harus Memecat Citibank Dari Daftar Bank Saya

Citibank
Sekitar satu minggu yang lalu saya baru saja mengajukan naik limit kartu kredit saya ke pihak Citibank, bank penerbit kartu kredit saya. Awalnya saya berniat mengajukan naik limit Rp 11 Juta, naik 50% dari limit saya yang sekarang. Mengapa saya mengajukan naik limit? Apakah belum cukup limit yang ada buat mencover kebutuhan belanja saya setiap bulan? Bukan. Tapi ini karena alasan lain. Yaitu untuk mencover banyaknya Transaksi Bisnis Online yang sering saya lakukan ke situs e-commerce di luar negeri. Contohnya pernah saya ceritakan di artikel ini “Standar Keamanan Transaksi Situs E-Commerce, Perbankan dan PayPal di Internet” sehingga, mau tak mau, membuat saya harus minta naik limit.

Dan apa yang saya dapati kemudian sungguh mengecewakan. Permohonan naik limit saya ditolak sepihak oleh pihak Citibank tanpa konfirmasi apa-apa kepada saya. Saya kecewa dengan tidak adanya pemberitahuan ini, juga penolakannya. Mengapa? Karena kalau untuk urusan marketing waktu nawari ini dan itu seperti asuransi misalnya, mereka sangat getol ngejar-ngejar nelpon saya sampai beberapa kali. Tapi giliran hak saya sebagai nasabah yang seharusnya dapat konfirmasi pemberitahuan tidak saya dapatkan. Jadi, ini tentu saja perlakuan tak adil yang membuat saya jadi kecewa berat. Terlebih saya nasabah Citibank yang sudah cukup lama dan loyal tak pernah nunggak bayar sejak tahun 2004.

Apa alasan Citibank menolak pengajuan naik limit kartu kredit saya? Waktu saya telpon alasannya sepele, katanya saya susah dihubungi. Juga orang-orang kontak person yang menjadi referensi saya katanya semua sulit untuk dihubungi. Sebentar. Saya sulit dihubungi? Nomor ponsel saya ada tiga dan ketiganya aktif semua. Anda bisa cek di halaman Contact blog ini. Itu adalah nomor aktif semuanya karena saya gunakan sebagai call center. Saya tak percaya kalau susah untuk menghubungi saya. Jadi ini pasti alasan yang sangat mengada-ada.

Saya juga sudah crosscek ke adik saya di Sidoarjo yang namanya saya referensikan sebagai penjamin saya apakah benar ada telpon beberapa kali dari Citibank dan tidak diangkat atau belum terhubung. Dan adik saya menjawab tidak, karena pihak Citibank sudah berhasil menghubungi dia sebanyak dua kali.

Hem, mungkin hanya satu yang susah dihubungi, yang ini saya tak menutup-nutupi, yaitu pihak HRD di kantor saya. Sesuai penuturan pihak Citibank katanya setiap kali menelpon ke bagian HRD, beliaunya (Supervisor HRD) sering tak ada di tempat dan beberapa kali pas lagi meeting jadi telpon hanya mandeg tertahan di operator dan sekretarisnya.

Pertanyaan saya sekarang, serumit itu kah untuk memverifikasi naik limit kartu kredit? Maaf saya bukan orang bank. Kok prosedurnya hampir sama persis dengan apply (kartu) kredit baru, ya? Anda bisa baca di artikel saya yang mengulas cara mengajukan kartu kredit ini, “ 7 Tips Mengajukan Kartu Kredit Agar Cepat Diapprove”. Benar-benar sangat ketat. Sepertinya ini yang perlu dibenahi dalam sistem perbankan, khususnya di Citibank. Harusnya perlakuan survey kredit antara nasabah baru dan nasabah lama itu dibedakan perlakuannya, tidak diperlakukan sama seperti ini.

Akhirnya saya berkesimpulan, ini artinya kredibilitas saya di mata Citibank selama 8 tahun jadi nasabah loyalnya yang tak pernah telat apalagi nunggak bayar samasekali tidak berguna dan dihargai di mata mereka. Ini yang membuat saya kecewa untuk kedua kalinya.

Okey, tak masalah saya masih ada satu kartu kredit yang lain. Dan juga tanpa naik limit sebetulnya saya tidak terlalu kendala, sih karena jika saldo balance yang tersedia kurang di kartu kredit saya, saya masih bisa transfer dari rekening tabungan ke akun kartu kredit saya untuk menaikkan limit secara instant. Tanpa perlu repot harus naik limit yang birokrasinya ruwet seperti itu.

Saya sekarang jadi sangat paham. Dengan melakukan pengajuan naik limit ini sama aja saya seperti ngetest bentuk apresiasi mereka, Citibank kepada saya (nasabahnya). Dan hasilnya pihak Citibank memang hanya mau uang saya tapi samasekali tidak menghargai loyalitas saya. Itu kesimpulan akhir dari saya.

Menggunting Kartu Kredit Citibank
Menggunting Kartu Kredit Citibank

Jadi, untuk apa terus mempertahankan jadi nasabah loyal Citibank? Saya akan siap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal, menggunting kartu kredit Citibank, dan memecatnya dari daftar kartu kredit saya. Dan juga karena secara kebetulan ada bank lokal, banknya pernah saya review di artikel ini yang nawari kartu kredit jenis platinum yang kastanya di atas gold punya saya di Citibank saat ini. Terus satu lagi ini yang terpenting, tawarannya amat menggiurkan. Yaitu gratis iuran tahunan seumur hidup. Gratis iuran tahunan semumur hidup? Iya, jadi saya tak perlu lagi nanti repot mengeluarkan biaya iuran tahunan Rp 300.000 per tahun ke Citibank lagi. Termasuk biaya kliring transfer pembayaran dari bank tabungan saya yang besarnya Rp 7.500 per bulan setiap kali membayar tagihan.

Saya boleh mengucapkan selamat tinggal kepada Citibank namun tentu tidak kepada Anda. :D Nah, di penghujung tahun 2011 dalam kesempatan ini, tak lupa saya mengucapkan: “Selamat Menyambut Tahun Baru 2012. Semoga makin sukses di tahun yang baru.”

Sumber Foto: Citibank | Gofotos


Bookmark and Share

Kamis, 29 Desember 2011

Mitos dan Fakta Seputar Bisnis Online

Bisnis Online
Awal dulu saya ngeblog tahun 2008 awal dan belajar apa itu internet marketing, saat itu doktrin yang saya terima adalah bisnis online itu katanya punya potensi penghasilan luar biasa besar. Hanya perlu modal minim, tanpa perlu kerja keras, hanya kerja dengan ongkang-ongkang kaki beberapa jam sehari, bisa kerja darimana saja dan kapan saja, tapi hasilnya bisa melimpah karena uang bisa didapat dengan mudah bak air mengalir deras dari internet.

Kini, setelah empat tahun terjun dalam bisnis online pertanyaannya, benarkah? Jawab saya benar meskipun tak seluruhnya benar. Yang benar memang potensi internet luar biasa besar dalam memberikan penghasilan. Lewat blog jelek ini (diptara.com) saya tak menampik sudah lumayan besar, untuk ukuran saya, penghasilan yang saya dapatkan. Maaf, saya tak bisa sebutkan berapa nominal penghasilan saya sebulan. Tapi yang jelas, Alhamdulillah sudah bisa untuk menopang penghasilan utama saya di pekerjaan offline. Sudah lebih dari cukup buat bayar tagihan internet flash Telkomsel paket Advance, paket internet saya, dan buat beli susu anak saya selama sebulan. Dan juga buat nyicil angsuran bulanan KPR rumah tipe 45, rumah saya saat ini, di Jogja. He2…

Lalu apa doktrin yang tak benar? Yang tidak benar adalah katanya kerja online hanya butuh modal sedikit, tak perlu kerja keras dan bisa ongkang-ongkang kaki kerja beberapa jam sehari tapi hasilnya uang melimpah. Sederhananya, kerja dengan input kecil/rendah tapi impact atau outputnya besar. Hem, jawab saya “No”. Itu hanya omong kosong. Yang namanya bisnis ya tetap bisnis. Prinsipnya tetap berlaku. Butuh kerja keras. Dan kalau Anda ingin mancing ikan besar di lautan lepas tentu tetap butuh sampan, kail bagus dan umpan yang besar pula. Kecuali kalau hanya mengais receh di internet memang tak butuh modal samasekali selain hanya butuh komputer dan sambungan internet saja.

Kedua, siapa bilang kerja online itu tanpa kerja keras dan hanya ongkang-ongkang kaki tapi duit sudah mengalir sendiri. Memelihara tuyul kali yang bisa seperti itu, ya? :D Memang, kerja online Anda tidak dituntut seperti kerja kantoran yang butuh kerja 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Tapi justru karena flexsibilitas kerja online yang tak berbatas waktu dan tempat, asal ada internet justru telah membuat hidup saya tak boleh jauh-jauh dari namanya internet kemanapun saya pergi. Saya ulang kemanapun saya pergi. Saya seperti dibelenggu. Itu fakta yang saya alami akibat menekuni bisnis online. Dan kerja online ini cukup menyita waktu saya sepanjang hari selama 24 jam. Karena selalu saja ada interupsi sewaktu-waktu dari prospek atau klien yang mau beli barang jualan saya maupun minta bantuan Jasa Online saya. Dan satu lagi, email yang butuh saya jawab atau follow up dikirim dari mitra kerja dari Amerika yang seringnya masuk justru saat tengah malam dan dini hari.

Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel ini, baca “6 Tips Memenangkan Lelang di eBay” perbedaan waktu di sini dan USA yang selisih 12 jam membuat tengah malam saatnya saya asyik terlelap tidur sering interupsi panggilan kerja itu selalu datang siap untuk saya eksekusi. Jadi, kerja di internet tak mengenal waktu dan geografis. Tidak juga ada istilah ngambil cuti sementara seperti kerja offline. Atau saat pulang kantor dan hari libur bisa bersantai di rumah tidak memikirkan beban perkerjaan dari kantor.

Apakah semua bisnis online itu kondisinya sama seperti yang saya alami? Saya kurang tahu persis apakah sama. Namun, setidaknya pengalaman saya ini sebagai bukti bahwa yang namanya bisnis, apapun itu metode bisnisnya, baik jualan barang dan jasa, mau offline maupun online saya rasa prinsipnya tetap sama. Tetap butuh kerja keras dan modal. Betul?

Bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah Anda terjun dalam bisnis online? Jika sudah apakah benar kerja online Anda bisa benar-benar bisa seperti yang diiklankan dalam kampanye internet marketing tersebut? Kerja hanya ongkang-ongkang kaki tanpa modal, tanpa kerja keras namun bisa dapat penghasilan melimpah. Silahkan Anda boleh berbagi pengalaman Anda dengan saya, terima kasih.

Sumber Foto: Internet Marketing


Bookmark and Share

Rabu, 23 November 2011

Terkena Musibah PayPal Limited Access

Hari ini saya benar-benar ketiban sial. Sial yang pertama, pagi-pagi buta harus terbangun mendadak oleh suara ponsel yang berdering karena ada orang iseng yang coba-coba mau menipu saya. Kedua, saya sial karena mengalami kejadian yang membuat saya hampir shock. Akun PayPal saya tiba-tiba limited (dibatasi aksesnya) tidak bisa dipakai untuk transaksi.

Untuk sial yang pertama, modus penipuan via telpon next akan saya ceritakan. Kali ini yang akan saya ceritakan tentang PayPal Limited dulu.

Saya sempat bingung dan ketar-ketir juga karena mengalami kejadian PayPal Limited, sebab ini baru untuk pertama kalinya semenjak daftar PayPal di tahun 2008 saya belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Bingung? Bagaimana tidak, saldo di dalam PayPal saya kalau sampai dibekukan saya bisa nangis darah karena uang yang ada di dalam PayPal saya jumlahnya tak sedikit (untuk ukuran saya). Kedua, uang itu adalah modal usaha saya dalam bisnis Jasa Internet Buying Agen.

Dengan dibekukannya akun PayPal saya otomatis roda bisnis Jasa Pembelian Luar Negeri saya akan ikutan terganggu. Khususnya pembelian ke situs-situs yang hanya menerima pembayaran via PayPal saja. Contoh seperti di situs market place semacam eBay yang hanya mau menerima pembayaran via PayPal.

Apa yang menyebabkan akun PayPal saya tiba-tiba limited access? Berikut saya kutip penjelasan resmi dari PayPal yang dikirim via email ke saya:


Yth. Joko Sutarto,

Kami memerlukan bantuan untuk mengatasi masalah pada rekening Anda. Kami memerlukan waktu agar dapat menangani masalah ini, karenanya untuk sementara kami telah membatasi tindakan yang dapat Anda lakukan pada rekening hingga masalah teratasi.

Kami memahami bahwa Anda mungkin kesal karena tidak memiliki akses penuh ke rekening PayPal. Kami ingin bekerjasama dengan Anda untuk mengembalikan rekening seperti semula secepat mungkin.

Apa masalahnya?

Kami melihat aktivitas log in yang tidak normal di rekening Anda. Pastikan tidak ada pengguna yang log in ke rekening Anda tanpa izin.

Luangkan waktu untuk mengubah sandi dan membuat pertanyaan keamanan baru serta periksa perubahan atau pembayaran yang tidak diketahui pada informasi rekening dan transaksi terakhir.

Jika terdapat pembayaran yang tidak dikenali, kunjungi Pusat Penyelesaian, lalu laporkan dengan mengklik "Sengketakan Transaksi".

Nomor ID Kasus: PP-001-563-636-765

Cara yang dapat dilakukan untuk membantu

Biasanya cukup mudah untuk mengatasi masalah ini. Biasanya, kami hanya memerlukan sedikit informasi tambahan tentang rekening atau transaksi terakhir.

Untuk membantu kami dengan masalah ini serta mengetahui tindakan yang dapat dan tidak dapat Anda lakukan pada rekening hingga masalah teratasi, log in ke rekening, lalu buka Pusat Penyelesaian.

Salam Hormat,
PayPal



Semua itu biang keladi awalnya adalah gara-gara koneksi Telkomsel Flash yang bermasalah. Entah kenapa pagi tadi — kebetulan saya lagi ada acara meeting kantor keluar kota selama dua hari di kota Salatiga —jaringan data Flash bermasalah, samasekali tidak bisa dibakai browsing internet. Sehingga saya terpaksa login PayPal menggunakan BlackBerry. Dan sial, PayPal menganggap login itu ilegal. Dianggap bukan saya karena IP Address-nya yang berbeda dan juga diluar kebiasaan saya yang selalu login PayPal via laptop.

Dan kali ini PayPal tak tanggung-tanggung dalam memblokir. Dua akun sekaligus langsung diblokir jadi limited. Akun saya dan akun seorang teman yang akan menerima transfer balance dari saya kena imbas ikut diblokir PayPal menjadi limited.

PayPal memang sangat ketat dalam mengawasi aktivitas seluruh usernya dalam menggunakan akunnya. PayPal tanpa ragu akan memblok akses yang dianggapnya mencurigakan karena berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan oleh usernya.

Tapi untunglah akun limited saya tidak lama akhirnya terus dibuka kembali oleh PayPal setelah saya penuhi syarat-syaratnya sore tadi. Saya cukup lega waktu terima alert seperti di bawah ini waktu buka akun saya.

PayPal Limited Access
PayPal Limited Acces Telah Dibuka

Semoga pengalaman merepotkan ini, Paypal Limited Access tidak sampai menimpa Anda. Oh, ya ada yang sudah pernah mengalami kejadian PayPal Limited? Silahkan sharing, ya. Terima kasih.


Bookmark and Share

Senin, 14 November 2011

Keislaman Indonesia Hanya Ritual Semata, Benarkah?

Komaruddin Hidayat
Membaca tulisan menarik yang berjudul “Keislaman Indonesia” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta di Harian Kompas Sabtu 5 November 2011 lalu —yang mengutip peletakkan Indonesia dalam sebuah penelitian di urutan ke-140 dari 208 negara di dunia yang paling islami— saya jadi ingat dengan pengalaman saya berkunjung ke negeri ginseng Korea pertengahan Maret tanggal 12-19 Maret 2011 lalu. Bagaimana tidak? Apa yang ditulis Komaruddin Hidayat ini jadi mengingatkan saya akan perilaku orang Korea yang benar-benar lebih islami meskipun Korea bukan negara Islam, ketimbang negara kita yang mayoritas penduduknya Muslim. Sedih!

Ini saya kutip sebagian tulisan saya pada poin ke-3 dalam tulisan “Fakta-fakta Unik Tentang Negara Korea (1)” terdahulu yang menceritakan perilaku sosial dan kehidupan beragama orang Korea.

Berbeda dengan kebanyakan orang di negara kita yang rata-rata mengenal dan menganut agama sejak kecil karena agama adalah kebanyakan warisan didikan dari orang tua, tetapi di Korea justru tidak. Pendidikan agama di Korea itu nomor yang kesekian, atau tidak dalam skala prioritas kalau dibandingkan dengan mata pelajaran pendidikan umum. Terdengar aneh, kan?

Jadi jangan heran kalau orang Korea kebanyakan belum beragama atau baru menganut agama setelah mereka dewasa. Namun, satu hal yang patut saya apresiasi dari orang Korea adalah meski mereka kurang kuat dalam hal agama tapi jangan ditanya moralitas orang Korea rata-rata sangat baik dan sangat disiplin melebihi akhlaq orang yang beragama. Ini bisa saya amati dari perilaku mereka saat berkendara di jalan, tidak membuang sampah dan merokok di sembarang tempat, serta kepatuhan mereka pada norma dan hukum yang berlaku di negaranya tinggi. Ya, mungkin ini ciri-ciri umum negara yang sudah maju. Berbeda dengan negara kita yang masih berkembang sehingga masih butuh proses menuju ke arah ini.

Saya juga pernah sedih dan sempat menulis kegundahan hati saya dalam tulisan ini “Mengapa Sholat Itu Tak Penting?” Dan di artikel ini sempat menerima banyak komentar beragam datang mengomentari artikel saya. Salah satu diantaranya banyak yang bilang katanya Sholat itu tetap penting dan wajib dilakukan tak peduli meski kelakuan kita, maaf tetap bejat.

Kalau Anda seorang Muslim saya tanya pilih mana menjalankan Sholat tapi kelakuan tidak bermoral, ataukah tidak Sholat tapi kelakuan Anda baik? Mana yang akan Anda pilih? Jika Anda terjebak memilih jawaban pertama, Sholat tapi kelakuan tetap bejat, maka tak heran kalau hasil penelitian “How Islamic are Islamic Countries” dari Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari hasilnya seperti itu. Apa bedanya Anda dengan orang-orang dari negara Islam anggota OKI lainnya yang dalam penelitian rata-rata muncul di urutan ke-139, betul? Ya, Islam hanya dijadikan sebagai simbol dan ritual belaka, karena samasekali tidak tercermin dalam perbuatan kita.

Hem, kalau saya terus terang jika ditanya seperti itu saya tak mau menjawabnya. Jelas saya tak milih dua-duanya.

Sebetulnya apa yang salah dengan pendidikan agama (Islam) di negara kita? Apa yang salah dengan negara kita yang waktu saya kecil guru saya sering cerita bilang ke saya bahwa Indonesia adalah negara timur yang sangat santun perilaku penduduknya, suka tolong menolong dan membantu sesama. Tapi kini? Saya tidak tahu. Silahkan baca sendiri tulisan menarik dari Komaruddin Hidayat di bawah ini untuk mencari jawabannya.

Keislaman Indonesia
Oleh Komaruddin Hidayat

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Pengalaman UIN Jakarta

Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama besar Mesir setelah berkunjung ke Eropa.”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di Dunia Arab,” Katanya.

Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia akan menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan.

Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan hadis.

Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tak merata, persamaan hak bagi setiap warga untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara Barat. Kedua peneliti itu menyimpulkan : ….it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings-at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and governance policies.

Dari 56 negara OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistan (147), Yaman (198), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke -7,Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.

Semarak Dakwah dan ritual

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam-syahadat, shalat, puasa,zakat, haji-dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah SAW itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama : Keilmuan, Ketakwaan, dan Akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah,menurut penelitian Rehmen dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi, jika ada pertanyaan : How Islamic are Islamic Polotical Parties? Menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan hadis. Lalu diproyeksikan juga untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. (Harian Kompas, Sabtu 5 November 2011)


Bookmark and Share

Minggu, 23 Oktober 2011

Pergi Tanpa Ucapkan Kata Selamat Tinggal

Snow Women
Perpisahan memang selalu menyisakan gurat kesedihan. Dulu, setahun yang lalu (07/2010), saya pernah sedih sekali waktu kehilangan karena harus berpisah dengan salah satu sahabat blogger saya, Mas Anis Fahrunisa. Dia secara tiba-tiba berhenti ngeblog dan mengucapkan kata selamat tinggal pada saya. Dan siapa yang paling sedih kalau berpisah? Biasanya yang ditinggalkan. Betul?

Tapi ada yang datang dan pergi bukankah itu sudah hal biasa? Lumrah. Karena manusia hidup pada akhirnya juga akan berpisah satu sama lainnya. Yang tak biasa dan perlu disesalkan adalah kalau ada yang datang, sudah pernah mengisi hari-harimu lalu tiba-tiba dia pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah katapun apalagi mengucapkan kata selamat tinggal. Bukankah ini tak biasa? Ada apa? Pasti itu pertanyaannya.

Sekali lagi, ada apa? Dan ini yang saya alami sekarang ini. Ada seseorang —teman yang sebetulnya belum lama saya kenal, baru tiga bulan lamanya saya mengenalnya lewat blog dan sosial media— secara tiba-tiba memutus tali pertemanan dengan saya. Bahkan bukan hanya itu saja, dia juga pergi dan memblokirku pula. Memblokir saya di kontak BlackBerry Messenger (BBM), sosial media Facebook dan juga Twitter sekaligus. Tempat dimana kami —saya menyebutnya kami karena dia teman bersama saya dengan beberapa sahabat saya lainnya di dunia maya— biasa saling menyapa bercanda ria.

Apa salah saya?

Tidak jelas! Saya tak tahu. Saat terakhir hari Minggu (16/10/2011) lalu waktu kutanya kenapa BBM saya tiba-tiba diremove waktu itu dia bilang singkat ke saya lewat DM Twitter: “Masa sih mas ga kok”. Lalu dia kembali DM saya untuk yang kedua kali dan memberi nomor PIN-nya ke saya: “Error kali mas Pin:268***F3.”

Itu jawaban dia. Saya tanpa punya prasangka apa-apa lalu coba invite kembali dan dia langsung approve. Tapi kini saya tak perlu lagi menduga-duga alasannya yang untuk kedua kali. Kenyataannya dia sudah meremove saya kembali dan tidak peduli lagi dengan kebingungan saya. Apakah saya harus menanyakan ini kepada dia lagi? Tidak! Untuk apa? Anggap saja dia seperti para teman angin lalu saya yang tiba-tiba invite BBM atau YM saya lalu pergi remove saya begitu saja, setelah dia mendapatkan apa yang diinginkannya.

Di internet saya banyak menjumpai tipe-tipe teman atau orang seperti itu. Datang dan pergi. Jadi kenapa saya harus merasa kehilangan? Masih banyak para teman dan sahabat di luar sana yang tulus mau berteman dengan saya, betul?



Tiga post terbaru blog saya kali ini, yang ini “Cinta dan Kehilangan”, “Ada Saatnya Anda Harus Pergi Lengser” dan artikel ini “Pergi Tanpa Ucapkan Kata Selamat Tinggal”. Semua bercerita menyuarakan tentang sebuah perpisahan. Saya tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Ini suatu kebetulankah? Entahlah. Mungkin ada yang bisa bantu saya untuk menjawabnya? :-)

Sumber Foto: visualizeus.com


Bookmark and Share

Sabtu, 15 Oktober 2011

Cinta dan Kehilangan

Steve Jobs
Saya sangat terkesan sekali waktu mendengarkan pidato Steve Jobs saat berceramah di depan wisuda mahasiswa Universitas Stanford ini. Terus terang saya sangat menyesal mengapa baru tahu sekarang dan bisa mendengarkan isi pidato sebagus itu justru di saat dia (Steve Jobs) sudah meninggal. Saya sangat menyesal sekaligus terkesan sekali terutama dengan bagian kedua dalam pidato Steve Jobs yang bercerita tentang arti Cinta dan Kehilangan.

Entah kenapa saya merasa tersindir saat ini kalau mendengar pidato itu. Semoga saya bisa mengikuti jejak Steve Jobs. Menerima perubahan dan kehilangan sekaligus tapi tetap masih bisa bangkit kembali.

Baiklah, kalau Anda belum pernah mendengar atau membacanya saya sudah mengembed videonya dari Youtube ke blog ini. Dan sekaligus di bawah videonya saya berikan teks pidatonya dalam bahasa Indonesia buat Anda. Saya mengutip sebagian isi pidatonya, yang bagian kedua. Saya kutip dari blognya Nukman Lutfi. Selamat membaca.



Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami –Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya –saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.


Bookmark and Share

Senin, 05 September 2011

Strategi Marketing Harga Tiket Pesawat Saat Lebaran

Post kali ini masih bercerita seputar Lebaran dan Mudik. Saya akan cerita pengalaman saya pesan tiket pesawat secara online. Dan pengalaman saya ini semoga bisa menjadi pembelajaran buat siapa saja yang barangkali suatu saat melakukan booking reservasi tiket pesawat secara online.

Seperti kita ketahui bersama sistem pertiketan pesawat tidak mengenal flat tarif, tapi fluktuatif tarif, bisa tinggi dan rendah tergantung hari H keberangkatannya kapan. Apakah hari biasa ataukah hari peakseason. Saat bertepatan peakseason seperti lebaran, natal dan long weekend harga tiket akan melambung tinggi sampai menyentuh batas atas. Sementara, saat hari-hari biasa harga tiket akan menyentuh level terendahnya. Ini yang umum terjadi di semua maskapai penerbangan.

Apa yang saya paparkan diatas saya yakin sebagian besar dari Anda kebanyakan sudah tahu kalau Anda sering bepergian dan booking tiket pesawat. Namun, pertanyaan saya apakah Anda juga tahu kalau maskapai penerbangan juga cukup cerdik menerapkan strategi marketing harga tiket? Yaitu akan membanting harga tiket saat semakin mendekati hari H-nya. Tak peduli itu hari peakseason sekalipun. Dan ini saya sudah mengalami sendiri waktu pesan tiket buat balik dari mudik lebaran kemarin. Maskapai penerbangan mengenjot harga tiket sampai batas atas pada jauh-jauh hari sebelum hari H saat saya booking tiket sebulan sebelumnya. Lalu membanting harga tiket pada saat semakin mendekati hari H keberangkatannya.

Ya, kemarin kebetulan saya habis mengurus reschedule penerbangan saya. Sebelumnya saya rencana balik ke Jogja tanggal 10 September 2011. Kemudian saya ajukan menjadi tanggal 7 September 2011 karena anak-anak mulai masuk sekolah tanggal 8 September 2011. Iseng-iseng sebelum mengajukan reschedule saya mengecek posisi site kursinya apakah masih ada atau tidak ke situs Batavia. Dan hasilnya, saya sangat terkejut. Site memang masih ada bahkan mulai dari yang site ekonomi, reguler sampai premium ada semua. Ini sungguh berbeda waktu saya booking sebulan sebelumnya waktu itu. Site yang tersisa tinggal premium.

Yang membuat saya semakin terkejut harga tiket sekarang terjun bebas dari sebelumnya waktu saya pesan Rp 600 ribu turun menjadi Rp 337 ribu per orang. Praktis untuk empat site total selisihnya saya harus rela melepaskan uang saya sampai lebih dari Rp 1 juta. Weleh-weleh! :(

Coba Anda lihat perbandingan harga tiketnya di bawah ini.

Tiket Pesawat Batavia_1
Issued Date 27 Juli 2011


Tiket Pesawat Batavia_2
Issued Date 5 September 2011


Hem, pengalaman ini sungguh berharga. Saya harap tahun depan saya tak terkecoh lagi untuk cepat-cepat booking tiket jauh-jauh hari sebelumnya kalau ternyata para maskapai menerapkan Strategi Marketing mengecoh seperti diatas. Membanting harga saat semakin mendekati hari H penerbangannya.


Bookmark and Share

Minggu, 04 September 2011

Merayakan Lebaran Dari Masa ke Masa

Lebaran
Saat saya tulis post ini lebaran telah usai. Yang belum usai adalah sebagian dari mereka yang merayakan lebaran masih belum semuanya balik dari kota tempatnya mudik, tak terkecuali saya. Saat saya menulis tulisan ini saya masih mudik di Surabaya. Rencana baru hari Kamis, 7 September 2011 dengan pesawat Batavia pagi saya baru balik meninggalkan kota Surabaya menuju Jogja.

Lebaran, berdasarkan siklus yang saya alami dari masa ke masa bagaimana merayakan lebaran dan mudik setiap tahun, setidaknya saya sudah mengalami dua dari tiga masa siklus dalam memaknai lebaran. Saya tidak tahu apakah fase yang saya alami ini berlaku juga buat semua orang, termasuk Anda.

Baju baru, makanan enak dan angpaw

Masa pertama ini saya alami saat saya masih anak-anak hingga beranjak remaja. Momen lebaran selalu saya tunggu tiap tahun. Mengapa? Karena lebaran itu bagi saya selalu identik pasti saya akan dibelikan baju baru oleh orang tua saya. Lebaran identik juga dengan banyak makanan enak-enak terhidang di meja rumah saya, juga terima banyak angpaw dari sanak saudara saat bersilahturahim ke rumah mereka. Kegembiraan ini yang akan saya rayakan dan sambut gembira setiap tahun. Dan ini terus berulang setiap tahun hingga akan berakhir setelah saya beranjak dewasa.

Mudik dan reuni berkumpulnya keluarga besar

Masa kedua, setelah saya meninggalkan masa remaja dan mulai menikah dan jauh dari orang tua saya, maka momen lebaran adalah sesuatu yang saya tunggu juga. Bedanya saya tak menunggu baju baru, makanan enak dan angpaw, tapi lebaran adalah saat saya bisa mempertemukan istri, dan anak-anak saya dengan si Mbahnya, saudara dan keluarga saya lainnya.

Dan saya pun ikut menikmati lebaran dan mudik karena bisa ketemu dengan orang tua, mertua dan saudara-saudara yang saling berjauhan. Karena lebaran adalah momen pemersatu buat reuni keluarga. Ada kebahagiaan waktu bisa berkumpul. Kerinduan selama setahun terhapuskan disaat lebaran. Ini kebahagiaan yang saya tunggu setiap tahun.

Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu

Masa ketiga ini saya belum melewatinya. Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu-cucunya. Namun setidaknya saya bisa sedikit merasakannya karena bisa melihat itu pada orang tua saya saat menerima kunjungan kami saat mudik lebaran.

Karena kami terpisah jauh. Jarak geografis dan rutinitas sehari-hari cukup menyita waktu sehingga membuat kami tidak bisa sering-sering menjenguk orang tua. Dan saatnya nanti saya akan berada di masa ini. Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu saya di akhir masa hidup saya. Dengan catatan tentunya kalau Saya tak mati muda dan sempat menikmati masa tua.

****

Hem, suatu saat siklus di atas pasti akan berputar, bukan? Anda semakin menjadi tua dan renta, yang tiap tahun berharap dikunjungi dan bisa melihat anak dan cucu-cucu Anda. Setiap lebaran selalu berdoa buat kebahagiaan mereka. Berdoa dan selalu berharap semoga tahun ini bukan tahun terakhir melihat anak dan cucu-cucu Anda.

Dalam kesempatan ini tak lupa saya mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sumber Foto: Link Sukses


Bookmark and Share

Selasa, 21 Juni 2011

Penagih Hutang Gaya Baru Dari BNI

SMS Spam
Sebagai salah satu nasabah bank dan sekaligus penerima Kredit KPR di salah satu bank BUMN terkemuka, saya sebut saja nama banknya bank BNI, mungkin cara-cara yang akan saya bahas ini termasuk cara baru mirip penagih hutang (debt collector) dalam menagih hutang. Mengapa? Karena meski cukup halus mengingatkan, tapi prakteknya kalau boleh saya sebut mirip benar dengan gaya seperti debt collector dalam menagih hutang. Hanya bedanya yang ini tak pakai cara kekerasan tapi pakai pesan singkat lewat SMS.

Tanggal 13 Juni 2011 kemarin saya terima SMS Broadcast dari bank BNI. Isinya mengingatkan jatuh tempo pembayaran angsuran kredit KPR rumah saya. Dan kemarin, hari Senin 20 Juni 2011, SMS yang sama dikirim kembali ke ponsel saya. Isi SMS-nya berbunyi demikian:

Kpd Yth. Bpk/Ibu angs BNI KPR akan jatuh tempo tgl. 30-06-11, mhn sgr dibayarkan tgl. 24-06-11, abaikan sms bila sudah setor, info 0274-552181

Ya, namanya diingatkan itu tak masalah, wong niatnya baik? Dia mengingatkan kewajiban nasabah atau debiturnya agar membayar sebelum jatuh tempo. Ini wajar. Tapi yang tak wajar adalah mengapa sampai berulang kali dalam sebulan? Ini yang tentu saja membuat saya risih membacanya. Batas antara mengingatkan dan menagih jadi tipis sekali bedanya kalau sampai dikirim berulang kali seperti itu. Betul?

Mereka (BNI) boleh saja mengklaim itu haknya dia untuk mengingatkan nasabah. Tapi, saya juga berhak risih bahkan boleh saja tersinggung karena tak sepantasnya dia melakukan itu ke saya dan sampai berulang-ulang.

Anda ingin tahu alasan-alasan saya mengapa saya berhak tersinggung? Berikut beberapa alasannya:

  1. Saya sudah nasabah loyal BNI cukup lama sejak tahun 2000.
  2. Saya tak pernah telat nunggak bayar angsuran kredit setiap bulan.
  3. Sistem pembayaran angsuran KPR saya sudah pakai sistem autodebit.
  4. Sudah ada saldo ditahan dalam rekening tabungan saya sebesar satu kali angsuran sebagai jaminan jika saya molor bayarnya.
  5. Selama ini bank BNI berlaku tak adil. Hanya care kepada para kreditur (deposan) tapi tidak kepada debitur seperti saya. Baca alasannya disini.

Sedikit cerita juga mengenai diri saya. Saya tak bermaksud mengecap diri saya sendiri, ya. Tapi saya termasuk orang yang tak berani main-main dengan kewajiban (hutang). Poin nomor 3 diatas, pembayaran sistem autodebit, sudah saya lakukan hampir pada semua kewajiban rutin bulanan saya. Bukan apa-apa, saya tak ingin track record saya buruk hanya gara-gara telat atau lupa membayar kewajiban. Sehingga, seluruh tagihan bulanan saya dari mulai Bayar Tagihan Listrik, ponsel, internet, kartu kredit dll semua sudah saya bayarkan secara otomatis dengan sistem autodebit.

Intinya, saya sangat berkomitmen dengan kewajiban saya. Jadi tentu saja saya akan marah besar jika ada pihak yang mencurigai saya sebagai calon pengemplang. Ingat kejadian yang dulu sempat membuat saya marah. Saya sempat dicurigai Telkomsel dianggap tak mampu bayar tagihan Internasional Roaming hanya gara-gara tagihannya melonjak diatas satu juta. Padahal tagihan kartu Halo saya sudah pakai sistem autodebit. Baca artikelnya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Demikian sedikit unek-unek dari saya. Maaf, kalau saya beri bacaan yang hanya berisi keluhan saya. Semoga pengalaman saya bisa jadi pelajaran buat semua, terutama para Corporate Marketing dalam memperlakukan customernya. Terima kasih sudah mau mendengarkan unek-unek yang tak penting ini. Oh, ya apa diantara pembaca ada juga yang pernah mengalami kejadian serupa seperti cerita saya ini? Silahkan share disini, ya!

*** Update: Hari Rabu, 22 Juni 2011 akhirnya pihak BNI dari perwakilan Jogja menemui saya menyelasaikan masalah ini dan meminta maaf kepada saya.

Sumber Foto: SMS Spam


Bookmark and Share

Rabu, 25 Mei 2011

Menulis, Antara Menjadi Kolumnis Dan Kebutuhan Perut

Menulis
Apakah Anda seorang blogger (penulis)? Pertanyaan saya, apakah Anda memposisikan diri sebagai Kolumnis di blog Anda, atau sebagai pebisnis? Kolumnis, artinya kalau Anda menulis murni, pyur untuk menyalurkan hobi, pandangan, dan pikiran maupun idealisme Anda kedalam bentuk tulisan tanpa ada maksud kepentingan komersial di dalamnya. Pebisnis, kalau Anda menulis di blog bertujuan (akhir) untuk mencari duit. Entah sebagai sampingan (sambian) yang akhirnya menghasilkan uang, atau dari awal ngeblog memang karena tujuan monetize, berharap dapat uang.

Jujur, jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, saya pun akan bingung juga untuk menjawabnya. Mengapa? Karena khusus di blog ini sebetulnya tujuan saya menulis, mengisi content di blog hanya sebagai kolumnis, sebagai penyalur hobi menulis, untuk menyalurkan keresahan-keresahan, pandangan dan opini saya. Lain tidak. Jika Anda mengikuti blog ini sejak awal, awalnya memang terlintas pernah ingin mengkomersialkannya di awal-awal ngeblog. Kemudian dengan berjalannya waktu keinginan itu berubah haluan tidak untuk monetize sehingga tagline blog ini pun seperti Anda tahu dan baca hanya tertulis “Sebuah Opini dan Catatan Harian”. Bukan bertagline Bisnis Online seperti umumnya blog yang ditujukan untuk monetize, bertujuan untuk mencari duit dari internet.

Tapi kini, semuanya sudah berubah. Berubah? Ya, saya sudah tidak menjadi kolumnis murni lagi di blog ini. Karena demi kebutuhan perut, alasan klasik, seiring makin ramainya blog ini serta mampirnya beberapa tawaran job menulis dari beberapa produsen membuat saya terpaksa harus menulis iklan di sela-sela postingan-postingan saya untuk memenuhi pesanan dari para advertiser.

Lewat tulisan ini, jika Anda yang baca tulisan ini adalah pembaca rutin blog ini, baik yang berkunjung secara langsung maupun yang berlangganan lewat RSS dan email, saya dengan tulus memohon maaf kepada Anda atas ketidaknyamanan ini, bila suatu saat artikel yang Anda baca ternyata berupa iklan, tidak seperti artikel yang seperti biasanya saya tulis.

Hem, kedengarannya pemberitahuan ini sedikit telat, ya? Bukankah sebelum saya menulis ini sudah pernah beberapa kali menulis iklan Advertorial di blog ini? Benar, namun mungkin baru sedikit dan belum ajeg (rutin). Kedepan, karena beberapa advertiser sepertinya mulai melirik blog ini untuk meminta direview produknya maka dalam sebulan paling tidak, harapan saya, nantinya akan ada satu advertorial saya tulis di blog ini.

Lantas cara untuk membedakannya artikel dan iklan gimana? Gampang, antara artikel umum dan tulisan iklan, silahkan Anda lihat di bawah judul artikelnya. Untuk tulisan pesanan pengiklan, labelnya akan saya tandai dengan tanda khusus dengan label “Advertorial”. Jadi, apabila suatu saat Anda berkunjung ke blog ini menjumpai dan membaca ada postingan yang bertag Advertorial, itu adalah tulisan yang saya maksud. Tulisan iklan berbayar untuk memenuhi pesanan produsen atau pihak advertiser.

Akhirnya, sama seperti tulisan saya di artikel ini, baca “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”, meski saya beriklan tapi independensi dan kejujuran tetap akan saya junjung tinggi. Artinya, saya tetap konsisten memegang prinsip ini. Saya tak akan menulis A jika kondisinya B. Tak akan menulis review baik jika kondisinya buruk. Bahkan akan tegas menolak jika produk pengiklannya buruk sehingga tak pantas untuk direview. Saya tetap berkomitmen tak akan mengorbankan reputasi saya demi segebok uang dengan menggadaikan ini. Kejujuran. Ini janji sekaligus komitmen saya.

Meski saya berharap Anda tak keberatan akan perubahan ini tapi perlu juga saya tanyakan kepada Anda. Pertanyaan saya, apakah Anda tidak berkeberatan dengan pemasangan iklan di blog ini? Terima kasih sebelumnya saya ucapkan bagi siapa saja yang mau meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan ini.


Bookmark and Share

Minggu, 24 April 2011

Pangeran Siddhartha Gautama, Orang Kaya, dan Kereta Ekonomi

Siddhārtha GautamaAnda pernah membaca kisah hidup Pangeran Siddhartha Gautama? Kalau belum, bisa membaca kisah hidupnya yang ada di Wikipedia ini. Kisah hidup Pangeran Siddhartha memang menarik. Saya pernah sedikit mengutipnya di artikel Antara Memborong Media, Pangeran Siddhārtha Gautama dan Film Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya Pangeran Siddhartha pernah dijauhkan oleh ayahnya, Sri Baginda Raja Suddhodana agar tak melihat 4 (empat) hal. Yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa karena khawatir sesuai ramalan kelak Pangeran Siddharta Gautama akan pergi meninggalkan istana dan menjadi pertapa dengan melihat banyak hal yang tidak menyenangkan yang sebenarnya ada di kehidupan nyata ini.

Sesuai ramalan pertapa, di bawah pimpinan Asita Kaladewala, memang diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Dan ramalan itu akhirnya benar-benar terjadi. Pangeran Siddhartha akhirnya pergi meninggalkan istana dengan segala kemewahan duniawinya dan menjadi Buddha meskipun empat hal tadi sudah dijauhkan oleh ayahnya sejak kecil.

Sama seperti ayah Pangeran Siddhartha, di kehidupan nyata sekarang ini tak sedikit para orang tua kaya yang berbuat sedikit mirip dengan ayah Pangeran Siddhartha. Memberi banyak fasilitas dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan mencekoki banyak materi sejak kecil. Menjauhkan dari kemiskinan, dari lingkungan pergaulan anak biasa yang tak sesuai dengan orang kaya. Pendeknya, anak tak boleh hidup sengsara dan merasakan hidup susah, itu intinya.

Sikap itu apakah salah? Tidak, tepatnya saya tak ingin melihat dalam prespektif antara salah dan benar, tetapi saat kelak anak mereka tumbuh menjadi dewasa betapa hal yang berlebihan seperti ini bisa berakibat fatal buat masa depan anaknya. Menafikkan fakta kehidupan bisa membuat ironi yang menyedihkan.

Saya punya dua orang contoh teman. Yang pertama ini seorang wanita. Dia lahir dari keluarga kaya. Sejak kecil benar-benar diperlakukan layaknya orang kaya. Karena kaya sehingga belum pernah sekalipun merasakan bagaimana naik kereta ekonomi. Suatu saat teman saya ini naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Yogyakarta. Teman saya ini bercerita ke saya sambil berkaca-kaca, menceritakan benar-benar terharu saat melihat hal-hal yang tidak biasa ia lihat sejak kecil sampai dia tumbuh dewasa sebesar usianya sekarang ini. Dia kagum melihat banyak orang yang lebih menderita dari dia tapi masih bisa tersenyum dan bercengkerama gembira di kereta diantara sesak dan tidak nyamannya naik kereta kelas ekonomi.

Kereta Api

Bagi teman saya tersebut pengalaman itu sungguh pengalaman yang menarik, yang membuatnya jadi lebih bersyukur kepada Tuhan sehingga teman saya ini pun menjadi terus ketagihan naik kereta kelas ekonomi. Dan yang terpenting, dia lebih bisa berempati dengan orang, terlebih kepada orang miskin.

Saya coba bandingkan dengan saya. Apa menariknya naik kereta ekonomi? Menjemukan sekali karena tidak nyaman, panas, bau dan sebagainya. Sebuah kondisi yang sudah terlalu akrab di kehidupan saya sejak kecil. Karena sejak kecil saya sudah bergulat dengan kemiskinan. Saya lahir di desa dengan kehidupan yang amat sederhana. Lahir dari kelurga yang biasa-biasa saja. Dan mungkin ini juga berlaku buat Anda yang (barangkali) pernah hidup miskin sama seperti saya. Benar?

Contoh yang kedua, saya punya teman laki-laki yang terlahir dari keluarga kaya juga. Teman saya ini sekarang sudah tumbuh menjadi pengusaha sukses dan kaya seperti orang tuanya. Namun, hal yang berbeda dengan kawan saya yang pertama, teman saya yang satu ini dalam banyak hal kalau berbicara selalu tinggi dan ingin tampil terlihat kaya dan tak mau kalah dengan orang lain. Teman saya ini kurang bisa berempati dengan kemiskinan dan orang-orang di sekitarnya akibat sejak kecil tak pernah bergaul dengan orang kebanyakan apalagi bergulat dengan kemiskinan. Pendek kata teman saya ini sangat sombong sekali. Dalam kaca mata saya dia sok kaya sekali, meskipun belum jadi orang kaya beneran karena rumah dan mobil pun saya lihat masih kredit.

Melihat contoh kehidupan kedua kawan saya tersebut dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Siddhartha, saya berkesimpulan: Beruntunglah kawan saya yang pertama. Meski sejak kecil dia sempat dijauhkan dari hal-hal yang berbau kemiskinan dan kesusahan seperti Pangeran Siddhartha tapi dia tetap bisa berempati dengan orang miskin. Dan saya berterima kasih sekali sudah diingatkan dengan kejadian seperti ini. Karena seringkali orang begitu, saat terlepas dari kesusahan (kemiskinan) mulai menjadi lupa akan siapa dirinya dulu. Dan saya tak malu untuk mengakui tak terkecuali saya.

Semoga kita bisa belajar dari ketiga kisah tersebut. Amin

Sumber Foto: Wikipedia dan ImageShack


Bookmark and Share

Jumat, 22 April 2011

Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger

InconsistencyBlogger menyuarakan suara produsen, apa pendapat Anda? Aneh? Biasa? Boleh? Atau seharusnya tak boleh? Karena bIogger seharusnya berdiri di sisi yang mewakili konsumen, bukan di sisi produsen. Benar?

Itu sederet pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya belakangan ini ketika mendapati banyaknya blogger, tak terkecuali saya, yang tiba-tiba menulis artikel yang mewakili produsen tertentu di blognya. Alias tiba-tiba menulis Advertorial yang dibayar di sela-sela posting blognya.

Sebelum Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya ingin memberi dua contoh komparasi perbandingan antara blog (personal) dengan media.

Contoh pertama, saya sering mengamati beberapa media pun tak jarang juga menulis beberapa artikel advertorial pesanan dari advertiser yang mewakili produsen tertentu di sela-sela tulisan artikel, berita dan editorial dari medianya. Selama ini saya beropini demikian, wajar kalau media memuat iklan karena tanpa iklan bagaimana mungkin media tersebut bisa survive? Tentu bisa tutup karena tak punya biaya untuk menutupi biaya operasionalnya. Tak punya biaya untuk menggaji seluruh awak redaktur, wartawan, berikut seluruh kontributornya. Jadi sah-sah saja toh mereka pasang iklan dengan salah satunya menulis artikel pesanan berupa advertorial. Ini pendapat saya.

Nah, sekarang blogger. Dalam konteks yang sama apakah blogger tidak bisa disamakan? Toh, blogger juga butuh makan, butuh biaya untuk berinternet, sewa hosting dan beli domain segala macam. Apakah salah kalau dia (blogger) beriklan dengan menyuarakan (menulis) artikel advertorial dari produsen demi untuk kelangsungan hidup blognya? Apakah ini sebuah pengkianatan karena blogger seharusnya tetap berdiri di sisi yang mewakili konsumen? Apakah ini sebuah pengingkaran sikap idealisme yang kebanyakan dimiliki oleh blogger? Karena banyak yang beranggapan menulis advertorial itu bukan review jujur tapi dibuat sesuai pesanan karena dibayar maka keabsahan artikelnya sedikit diragukan. Betul?

Contoh kedua, ada kasus lain. Sebuah media menerima pembayaran iklan dari advertiser. Sebut saja advertiser tersebut bernama perusahaan X. Media tersebut menerima pembayaran karena sudah membuatkan iklan advertorial dan memajang banner iklan perusahaan tersebut di medianya. Di sisi lain wartawan media tersebut dalam kaitannya meliput berita menemukan kejadian kalau perusahaan X melakukan praktek kecurangan, sebut saja menggelapkan pajak misalnya dalam usaha bisnisnya sehingga merugikan negara dan masyarakat.

Pertanyaan saya kepada Anda, seandainya Anda jadi wartawan media tersebut dan mengetahui kecurangan itu di satu sisi dan sisi lain Anda juga tahu kalau perusahaan itu selama ini sering memasang iklan di media Anda, yang artinya Anda makan salah satunya dapat upah dari perusahaan tersebut apa yang harus Anda lakukan? Tetap menulis beritanya dan menganggap harus tetap independen dengan membela kebenaran buat pembaca? Atau mengkeep berita itu untuk membela perusahaan yang sudah memberi makan Anda dengan tak mau mempublikasikan berita negatif tersebut?

Pertanyaan serupa, dalam konteks ngeblog jika Anda dihadapkan dalam situasi yang sama seperti situasi wartawan di atas bagaimana sikap Anda? Tetap independen menuliskan artikel review negatif yang jujur dan menganggap kebenaran harus tetap disuarakan meski di sisi lain Anda juga menuliskan Advertorial (positif) yang baik-baik saja buat produsen (perusahaan X) yang pernah membayar Anda?

Terakhir pertanyaan kesimpulannya, kalau kedua contoh diatas saling dihubungkan, apakah independensi seharusnya terpengaruh oleh uang? Jika Anda sepakat misalnya menjawab "Tidak", tak boleh terpengaruh dan tetap memperlakukannya dalam dua sisi yang berbeda? Advertorial positif ditulis sesuai pesanan dan artikel review negatif di sisi lain tetap juga (jujur) jalan untuk ditulis.

Jika pilihan Anda benar jatuh pada harus independen. Artinya, uang seharusnya tak mempengaruhi independensi maka resikonya juga tak mengenakkan hati. Anda akan dicap "inkonsisten". Anda dicap "kontra produktif" seperti komentar sahabat blogger saya Gwencraft di artikel ini. Baca "Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?"

Hem, jadi serba salah, kan? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda? Silahkan, Anda bebas untuk berpendapat.

Sumber Foto:Inconsitency


Bookmark and Share