Rabu, 29 Juni 2011

Tips Marketing Ala Bob Sadino

Bob SadinoMasih melanjutkan artikel saya sebelumnya yang bercerita tentang teknik marketing, baca “Teknik Marketing Ala Gambar Porno dan Joger Bali”, kali ini saya mau sharing kembali tentang Tips Marketing Ala Bob Sadino agar Anda bisa sukses berjualan online di internet.

Sebelum saya bahas lebih lanjut saya ingin bertanya. Bob Sadino, ada yang masih belum kenal dengan pengusaha gila yang satu ini? Gila? He…He… Begitulah pengusaha satu ini sering dijuluki orang sebagai pengusaha gila karena ide-ide gilanya yang nyentrik. Saya pernah mereview buku yang berjudul “Belajar Goblok Dari Bob Sadino”, yang mengulas sisi menarik kehidupan Bob Sadino. Silahkan baca dulu artikelnya kalau Anda belum pernah membacanya.

Oke, saya lanjutkan. Sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan retail (dept store), pekerjaan offline saya, dan juga pernah coba-coba jualan online sendiri lewat blog, marketing bagi saya bukan sesuatu yang baru buat saya. Jadi kali ini saya akan berbagi tips sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman saya pribadi yang pernah berjualan offline dan online untuk saya mix dengan pengalaman Bob Sadino. Juga, saya kaitkan dengan pengalaman nyata teman saya yang telah sukses malang melintang berjualan online di internet. Mari kita bahas apa itu Tips Marketing Ala Bob Sadino.

Anda tahu dulu saat Bob Sadino masih miskin, masih menjajakan telur door to door, Bob Sadino menerapkan teknik marketing ini. Yaitu menjual telur kepada orang-orang ekspatriat di wilayah Kemang Jakarta Selatan dengan memberikan bonus setangkai bunga Anggrek kepada pembelinya. Value Added yang diberikan oleh Bob Sadino ini membuat para bule-bule yang beli telurnya merasa senang sehingga dagangan telur berbonus setangkai bunga Anggrek Bob Sadino sangat laris manis dan diminati oleh pembeli.

Bob Sadino yang awalnya harus keliling dari rumah ke rumah untuk berjualan lambat laun akhirnya kualahan menerima pesanan. Dia yang awalnya banyak ditolak oleh pembeli akhirnya justru dicari oleh pembeli tanpa bersusah payah menjajakan telurnya lagi.

Memberikan Hadiah Sebagai Kejutan

Dalam berjualan online pun sama. Tidak ada salahnya pembeli (toko) online Anda, Anda beri bonus. Bonus tak perlu mahal-mahal tapi yang penting unik dan bisa membuat pembeli senang. Adanya bonus akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi si pembeli. Pembeli akan merasa senang sehingga menciptakan impulse buying (pembelian kembali) untuk yang kedua kali, ketiga dan seterusnya.

Saya sudah pernah mempraktekkan hal itu di internet. Dan pembeli yang puas akan nanya-nanya lagi ke saya: “Ada lagi, nggak barang lain yang dijual lainnya?

Satu hal yang terpenting, dalam berjualan online Anda bisa pakai tips ini, yaitu berikan hadiah Anda sebagai kejutan. Jangan diumbar hadiahnya apa di penawaran Anda seperti (kebanyakan) sales letter yang penawarannya penuh bertabur bonus sampai berderet-deret. Alasannya? Pengunjung kebanyakan sudah neg (bosan) dengan model marketing seperti itu. Perlu strategi yang unik untuk membuatnya sedikit berbeda dengan kebanyakan.

Surprise Gift

Ingat, pengunjung bukan orang bodoh! Kebanyakan mereka berasumsi jika barang diberikan secara gratis, itu artinya bukan barang istimewa. Karena logikanya pasti begini: Kalau barangnya bagus ngapain harus diberikan gratis. Bukankah akan lebih menguntungkan kalau dijual?

Dan kasus itu tentu tak berlaku kalau Anda memberikan hadiahnya sebagai kejutan. Karena ada unsur surprise yang membuat pembeli senang sehingga membuat hadiahnya menjadi amat bernilai.

Efek marketing ini juga sama, impulse buying atau memicu pembelian yang kedua dan seterusnya. Pilih mana untung gede tapi hanya sekali jual dengan tanpa memberi hadiah, ataukah margin keuntungan berkurang sedikit untuk membeli hadiah tapi pembeli datang lagi suatu saat untuk membeli? Saya yakin Anda pasti akan memilih jawaban yang kedua.

Teknik Social Engineering Marketing

Pembeli adalah raja, perlakukan mereka dengan istimewa jadi jangan pernah memperlakukan mereka sebagai obyek bisnis. Salah satunya jangan mempengaruhi mereka dengan hard selling yang memaksa mereka untuk membeli produk Anda, tapi tawarkan secara soft selling. Sebagai penjual tugas Anda hanya menawarkan dan untuk selanjutnya melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Serahkan sepenuhnya keputusan membeli hanya kepada mereka.

Mengapa? Alasannya sederhana, untuk membangun Trust. Karena beda antara penjual menyebalkan dan penipu, dengan penjual beneran di internet tipis sekali bedanya. Penipu kebiasannya akan memaksa. Penjual menyebalkan juga akan memaksa. Jadi jangan pernah memaksa tapi gunakan teknik Social Engineering untuk menggali kelemahan dasar manusia dalam mempengaruhi mereka. Sentuhlah sisi emosinya. Keputusan membeli biarkan sepenuhnya mereka yang memutuskan. Anda tak berhak memaksa calon pembeli untuk membeli produk Anda.

Social Engineering

Apa itu Social Engineering Marketing? Yaitu teknik marketing yang memanfaatkan kelemahan dasar manusia untuk mempengaruhi prospek (calon pembeli) agar percaya (Trust) dan menuruti keinginan kita. Dalam Social Engineering ada 6 (enam) point penting yang bisa Anda eksploitasi untuk mempengaruhi calon pembeli, yaitu sebagai berikut:

  • Timbal balik
  • Konsistensi
  • Validasi Sosial
  • Kesukaan
  • Otoritas
  • Kelangkaan.

Penjelasan selengkapnya silahkan Anda baca ulasan sahabat saya disini.

Demikian sedikit tips dari saya. Semoga tips ini bermanfaat dan selamat berjualan di internet. Jika Anda ada tambahan atau pertanyaan silahkan tinggalkan di kolom komentar, terima kasih.

Sumber Foto: Koran Baru|Surprise Gift|Social Engineering


Bookmark and Share

Selasa, 28 Juni 2011

TOS (Terms of Service), Kata-kata Penting Yang sering Terabaikan

Terms of Service
TOS (Terms of Service) atau ketentuan sebuah layanan, seberapa banyak orang yang mau membaca kata-kata ini? Seberapa banyak orang yang mau repot membaca kata-kata panjang mirip dengan bahasa hukum yang bertele-tele? Ehm, saya coba tebak. Saya yakin diantara Anda kebanyakan hanya skip, tak mau membaca ketentuan-ketentuan yang ada dalam TOS sebuah layanan. Benar?

Anda tak perlu malu mengakui. Anda pikir saya apa juga tidak begitu? Mau repot membaca TOS? Sama juga. Saya juga malas kalau disuruh membaca TOS.

Terkait dengan masalah TOS ini saya ada cerita menarik yang bisa kita jadikan pelajaran bersama. Kebetulan cerita ini dialami oleh salah satu teman saya. Ceritanya begini, teman saya ini ngamuk-ngamuk ke provider telepon selulernya karena tagihan ponselnya membengkak sampai di atas Rp 3 Juta. Gara-garanya terkena tagihan data saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Persisnya dia terkena charge tinggi tagihan internasional roaming BlackBerry, mirip dengan kasus saya akhir bulan Maret 2011 lalu. Baca artikel “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Bedanya kalau kasus saya, saya hanya mempermasalahkan masalah pemblokirannya sepulang dari luar negeri, sedangkan teman saya ini mempermasalahkan masalah tagihannya yang membengkak tinggi. Teman saya ini bersikeras tak mau bayar tagihannya karena merasa belum dijelaskan oleh CS operatornya―saat mengaktifkan Internasional Roaming―kalau data service BB (BIS) itu tak berlaku di luar negeri (dihitung terpisah).

Teman saya bersikukuh menganggap kesalahan itu bukan kesalahannya sehingga tetap ngotot tak mau bayar tagihan telponnya. Dia kekeh kalau kesalahan informasi itu bukan dari dia tapi dari pihak CS Grapari (operatornya) yang lalai karena tak menjelaskan sehingga dia tetap mengaktifkan data servis BlackBerry tanpa registrasi data khusus roaming selama di luar negeri. Contoh, kalau Anda pakai kartu Telkomsel, Anda harus mengaktifkan dulu data BIS roamingnya dengan mendial *266# lebih dulu. Jika tidak, Anda akan dikenakan biaya data normal dengan tarif data luar negeri.

Sempat awalnya saya membela kawan saya tersebut. Saya anggap dia benar karena sesuai penuturannya dia katanya belum dijelaskan ketentuan itu oleh CS Grapari.

Kemudian, saya coba ingat-ingat kembali di BB saya. Kebetulan saya menggunakan paket BIS yang operatornya sama dengan kawan saya tersebut, Telkomsel. Dan saya kemudian ingat sewaktu pertama kali mengaktifkan layanan BlackBerry (BIS) di BB saya ada kata-kata TOS seperti ini diSMSkan oleh operator ke saya. Bunyinya seperti berikut ini:

"Anda akan dikenakan biaya berlangganan BlackBerry Rp 90ribu/bulan utk akses tanpa batas (biaya tdk termasuk streaming, roaming internasional & penggunaan BlackBerry sbg modem). Jika SETUJU, ketik BB ON & kirim ke 333.Biaya ditagihkan setiap tgl… Pastikan Handset anda support layanan BlackBerry"

Anda perhatikan baik-baik kata-kata TOS di atas, terutama kata yang ada dalam tanda kurung! Bukankah jelas disana terbaca kalau langganan BB itu tidak termasuk, salah satunya, untuk roaming internasional?

Sekarang ketahuan, kan siapa yang salah dan siapa yang benar? Yang jelas pasti teman saya yang bersalah karena tak membaca ketentuannya. Dijelaskan apa tidak oleh CSnya, yang pasti secara hukum operator menang karena ketentuannya sudah jelas seperti itu ada di dalam TOS layanannya.

Nah, pesan saya di akhir tulisan ini: Mulai sekarang biasakan untuk selalu membaca semua TOS layanan apapun yang Anda ikuti agar kejadian seperti di atas tidak pernah terjadi menimpah diri Anda.


Bookmark and Share

Sabtu, 25 Juni 2011

Inilah 110 Keyword “Perawan” Yang Masuk ke Blog Ini

Keyword Perawan_1Bermula dari tweet Mas Jarwadi yang saya baca di timeline Twitter saya pagi ini. Yaitu cerita kalau ada keyword “cara berjalan wanita tidak perawan” yang nyasar ke blognya dia, saya jadi ikutan tertarik untuk ngecek keyword masuk di blog saya. Kenapa tertarik? Karena selama ini lewat Traffic Feedjit beberapa kali saya pernah melihat ada jejak keyword yang sama masuk juga ke blog ini. Jadinya, saya juga penasaran berapa banyak kira-kira kata kunci “Perawan” yang sempat nyasar ke blog saya.

Dan hasilnya, setelah saya buka statistik Google Analytics di bulan Juni 2011 ini sampai dengan tanggal 24, jumlah keyword yang mengandung kata kunci “Perawan” cukup banyak juga yang masuk ke blog saya. Saya menemukan ada 110 keyword yang mengandung kata “Perawan” pernah masuk ke blog ini. Dan lucunya, diarahkan ke artikel iklan advertorial ini “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang”.

Beberapa phrasa kata kuncinya ada yang kalimatnya amat konyol. Beberapa lagi, maaf rada saru tetapi lucu sehingga tak urung membuat saya tersenyum geli karena pertanyaannya itu. Cupu banget! :)

Saya jadi teringat salah satu kata kunci terpanjang yang pernah diketikkan oleh Mak Cik dari negara tetangga sebelah (Malaysia) di artikel ini, "Keyword Terpanjang". Sama lucunya.

Berikut saya ambil 11 kata kunci dari screnshotnya, yang menurut saya terkonyol, paling saru, dan paling lucu. Silahkan disimak. Dan mari ngakak bareng-bareng dengan saya setelah selesai membacanya. :))

  1. Tips cara biar vagina menjadi seret/seperti perawan
  2. Apa benar orang yang sudah tidak perawan sudah lama tidak melakukan hubungan intim dapat menjadi perawan kembali
  3. Apakah benar benda yang masuk ke dalam liang vagina seorang perempuan itu sudah tidak perawan
  4. Apakah kalau melakukan hubungan suami istri kalau masuknya 2 menit apakah itu sudah putus perawan?
  5. Apakah wanita yang sudah tidak perawan sudah lama gak berhubungan bisa rapet lagi vaginanya
  6. Benarkah 40 hari setelah melakukan bisa kembali perawan
  7. Cara agar tetap perawan meskipun telah berhubungan sex
  8. Cara untuk mengembalikan keperawanan wanita (membuat vagina merapat seperti sedia kala)
  9. Cara-cara melakukan hubungan seks dengan perawan agar tidak terjadi masalah atau tidak ketahuan orang lain
  10. Orang yang melakukan seks menggunakan kondom bagi wanita perawan dianggap bukan perawan lagi?
  11. Rahasia biar perawan terus

Terakhir pertanyaan saya: Kira-kira ada yang mau bantu saya untuk jawab pertanyaan-pertanyaan di atas? :D

*** Jika ingin melihat keyword selengkapnya, silahkan buka di Google Docs saya.


Bookmark and Share

Selasa, 21 Juni 2011

Penagih Hutang Gaya Baru Dari BNI

SMS Spam
Sebagai salah satu nasabah bank dan sekaligus penerima Kredit KPR di salah satu bank BUMN terkemuka, saya sebut saja nama banknya bank BNI, mungkin cara-cara yang akan saya bahas ini termasuk cara baru mirip penagih hutang (debt collector) dalam menagih hutang. Mengapa? Karena meski cukup halus mengingatkan, tapi prakteknya kalau boleh saya sebut mirip benar dengan gaya seperti debt collector dalam menagih hutang. Hanya bedanya yang ini tak pakai cara kekerasan tapi pakai pesan singkat lewat SMS.

Tanggal 13 Juni 2011 kemarin saya terima SMS Broadcast dari bank BNI. Isinya mengingatkan jatuh tempo pembayaran angsuran kredit KPR rumah saya. Dan kemarin, hari Senin 20 Juni 2011, SMS yang sama dikirim kembali ke ponsel saya. Isi SMS-nya berbunyi demikian:

Kpd Yth. Bpk/Ibu angs BNI KPR akan jatuh tempo tgl. 30-06-11, mhn sgr dibayarkan tgl. 24-06-11, abaikan sms bila sudah setor, info 0274-552181

Ya, namanya diingatkan itu tak masalah, wong niatnya baik? Dia mengingatkan kewajiban nasabah atau debiturnya agar membayar sebelum jatuh tempo. Ini wajar. Tapi yang tak wajar adalah mengapa sampai berulang kali dalam sebulan? Ini yang tentu saja membuat saya risih membacanya. Batas antara mengingatkan dan menagih jadi tipis sekali bedanya kalau sampai dikirim berulang kali seperti itu. Betul?

Mereka (BNI) boleh saja mengklaim itu haknya dia untuk mengingatkan nasabah. Tapi, saya juga berhak risih bahkan boleh saja tersinggung karena tak sepantasnya dia melakukan itu ke saya dan sampai berulang-ulang.

Anda ingin tahu alasan-alasan saya mengapa saya berhak tersinggung? Berikut beberapa alasannya:

  1. Saya sudah nasabah loyal BNI cukup lama sejak tahun 2000.
  2. Saya tak pernah telat nunggak bayar angsuran kredit setiap bulan.
  3. Sistem pembayaran angsuran KPR saya sudah pakai sistem autodebit.
  4. Sudah ada saldo ditahan dalam rekening tabungan saya sebesar satu kali angsuran sebagai jaminan jika saya molor bayarnya.
  5. Selama ini bank BNI berlaku tak adil. Hanya care kepada para kreditur (deposan) tapi tidak kepada debitur seperti saya. Baca alasannya disini.

Sedikit cerita juga mengenai diri saya. Saya tak bermaksud mengecap diri saya sendiri, ya. Tapi saya termasuk orang yang tak berani main-main dengan kewajiban (hutang). Poin nomor 3 diatas, pembayaran sistem autodebit, sudah saya lakukan hampir pada semua kewajiban rutin bulanan saya. Bukan apa-apa, saya tak ingin track record saya buruk hanya gara-gara telat atau lupa membayar kewajiban. Sehingga, seluruh tagihan bulanan saya dari mulai Bayar Tagihan Listrik, ponsel, internet, kartu kredit dll semua sudah saya bayarkan secara otomatis dengan sistem autodebit.

Intinya, saya sangat berkomitmen dengan kewajiban saya. Jadi tentu saja saya akan marah besar jika ada pihak yang mencurigai saya sebagai calon pengemplang. Ingat kejadian yang dulu sempat membuat saya marah. Saya sempat dicurigai Telkomsel dianggap tak mampu bayar tagihan Internasional Roaming hanya gara-gara tagihannya melonjak diatas satu juta. Padahal tagihan kartu Halo saya sudah pakai sistem autodebit. Baca artikelnya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Demikian sedikit unek-unek dari saya. Maaf, kalau saya beri bacaan yang hanya berisi keluhan saya. Semoga pengalaman saya bisa jadi pelajaran buat semua, terutama para Corporate Marketing dalam memperlakukan customernya. Terima kasih sudah mau mendengarkan unek-unek yang tak penting ini. Oh, ya apa diantara pembaca ada juga yang pernah mengalami kejadian serupa seperti cerita saya ini? Silahkan share disini, ya!

*** Update: Hari Rabu, 22 Juni 2011 akhirnya pihak BNI dari perwakilan Jogja menemui saya menyelasaikan masalah ini dan meminta maaf kepada saya.

Sumber Foto: SMS Spam


Bookmark and Share

Persamaan Antara Pengacara, Pengendorsement, dan Penulis Advertorial

Endorsement
Persamaan antara pengacara, pengendorsement dan penulis advertorial (Publisher) kalau saya tarik pakai benang merah adalah sama dari satu sisi. Ada persamaan dari sudut yang sama dalam melihat dan bersikap, sama-sama menggali kelebihan yang ada pada kliennya. Menutup mata, atau lebih tepatnya tidak akan mengungkap apa yang menjadi kekurangan pada kliennya.

Mari kita bahas satu persatu. Saya mulai dari pengacara. Pengacara seringkali dipahami oleh orang awam, termasuk saya dulu, sebagai pekerjaan membela orang yang bersalah. Banyak orang beranggapan orang salah, kok masih dibela. Contoh terdakwa pembunuh mengapa harus dibela? Biarin, toh biar dihukum seberat-beratnya. Itu kebanyakan pernyataan orang yang kurang mengerti hukum. Maaf, saya juga bukan orang hukum jadi tolong Anda luruskan jika opini saya ada yang kurang tepat.

Tugas pengacara bukan membela orang salah. Betul? Tapi menggali dan membela kebenaran. Artinya, kalaupun yang dibela meskipun bersalah, tujuan dari pembelaannya adalah untuk mencari kebenaran. Untuk membela agar si terdakwa tidak terlalu dianggap bersalah yang melebihi dari kesalahan yang seharusnya tidak ditimpakan kepadanya. Pendeknya, jangan sampai terdakwa dihukum lebih berat dari kesalahan yang dia perbuat. Terlebih, jika terdakwanya tak bersalah. Jangan sampai yang tak salah terhukum. Nah, itu adalah tugas pengacara.

Endorsement BukuSekarang pengendorsement. Apa itu Endorsement? Anda hobi baca buku? Pernah lihat endorsement di sampul sebuah buku? Itu loh kata-kata testimonial advertising berisi review singkat tentang kelebihan dari sebuah buku.

Biasanya para pengendorsement itu orang terkenal. Bisa seorang tokoh sesama penulis, lembaga, atau bisa juga seorang publik figur lainnya. Tujuan dari endorsement jelas, untuk memberi apresiasi (penilaian) postif kepada bukunya agar buku yang diendorsement dibaca dan dibeli orang. Artinya, sang pengendorsement hanya mengulas dan memberi review di sisi positif tentang apa yang menarik dari isi bukunya. Sisi negatif tidak akan diulas.

Itu yang sedikit membedakan antara endorsement dengan Resensi Buku. Pada resensi buku akan membedah dan mengulas kelebihan dan kekurangan sebuah buku sekaligus. Dan biasanya resensi buku cenderung lebih independence. Ini berbeda dengan endorsement yang ditulis sesuai permintaan penulis bukunya.

Terakhir, penulis advertorial juga punya kemiripan dengan pengacara dan pengendorsement. Mereview dari sudut pandang yang menjadi kelebihan dari produk yang direview. Sama seperti tugas pengacara. Tugas penulis advertorial (publisher) menggali sebanyak-banyaknya apa-apa yang menjadi kelebihan suatu produk yang diiklankan agar orang yang membaca advertorialnya menjadi tertarik sehingga memutuskan membeli produk yang direview.

Kesimpulannya, diantara ketiganya, Pengacara, Pengendorsement, dan Penulis Advertorial bukankah ketiganya sama? Sama-sama mengulas sisi kelebihan dari kliennya tapi menutup mata akan kekurangannya. Jadi kesimpulannya: Pertama, kalau Anda membeli buku jangan hanya baca endorsementnya saja tapi lihat juga siapa penulisnya, sinopsis bukunya, dan yang paling penting ratingnya. Bukunya masuk buku laris (best seller) apa tidak. Kedua, saat membaca advertorial juga jangan mudah percaya pada reviewnya jika tidak didukung dengan fakta dan data-data yang lengkap mengenai kelebihan produknya.

Terakhir, tips buat teman-teman saya yang sering Menulis Advertorial, agar review Anda menarik jangan lupa untuk menyertakan fakta dan data-data hasil pengujian produknya seperti yang saya sampaikan di atas agar advertisernya senang dan pembaca pun tak merasa seperti disodori iklan tapi lebih mirip testimoni sungguhan.

Sumber Foto: Endorsement


Bookmark and Share

Sabtu, 18 Juni 2011

3 Tips Corporate Marketing Melalui Blogger

Corporate Marketing
Dewasa ini ada kecenderungan orang sebelum memutuskan memilih sebuah merk akan googling dulu mencari kelemahan produknya di internet. Mengapa? Masalahnya, kalau melihat kelebihannya sudah banyak yang mengkampanyekan. Itu sudah ada di iklan-iklan. Bayangkan, rata-rata blogger banyak yang mahir SEO sehingga bukan sesuatu yang mustahil tulisan kritik yang berisi kelemahan suatu produk bisa menguasai SERPs (hasil pencarian) Google. Ini tentu saja kurang menguntungkan dari sisi marketing buat brand yang dikritik. Betul?

Sebagai orang corporate, selain sebagai blogger, saya sadar betul tulisan-tulisan berupa keluhan dan kritik itu adalah pil pahit, momok menakutkan buat corporate marketing sebuah brand. Corporate yang sangat concern dengan service pasti tidak akan main-main dengan hal seperti ini. Pasti akan cepat untuk merespond complain agar tak berkembang menjadi opini negatif yang merusak citra brandnya. Terlebih informasi di internet yang begitu cepat menyebar luas bak virus worm.

Kalau corporate pandai dalam melakukan handling complainnya sebetulnya, ini yang penting, justru bagus, kritik bisa berbalik arah menjadi marketing positif buat brandnya. Perusahaan justru dapat impact marketing tanpa mengeluarkan cost marketing yang besar seperti halnya beriklan karena sudah diiklankan secara otomatis gara-gara complain ini. Hanya sayangnya tak semua corporate mampu melakukannya. Tak semua corporate berhasil menyelesaikan complain dengan customernya dengan berakhir manis.

Banyak orang, salah satunya tentu Anda, sangat paham bahwa dengan menulis complain di Surat Pembaca, blog dan social media maupun milis, mau tak mau akan memaksa corporate untuk menanggapi keluhan kita. Saya pun jika pakai jalur resmi sudah mentok pasti akan menempuh jalur ini. Menulis di internet, bisa ke blog saya, lewat social media (facebook dan twitter), kirim ke milis-milis maupun ke Surat Pembaca.

Dan sejauh ini jurus itu masih sangat ampuh buat memaksa corporate pemilik brand yang saya complain akhirnya menanggapi dan menyelesaikan complain saya. Saya sudah berkali-kali membuktikannya. Bisa Anda baca di artikel saya di bawah ini:


Nah, lewat tulisan ini saya akan berbagi tips kepada para corporate marketing seperti Anda. Bagaimana cara menghadapi complain blogger kritis agar tidak menjadi penghalang kampanye marketing corporate Anda.

1. Melalui iklan advertorial di blog

Karena saya juga seorang blogger tentu saja saya juga tahu apa yang menjadi kelemahan seorang blogger agar tidak kritis mengkritisi brand perusahaan Anda. Caranya? Pakai media periklanan melalui blogvertorial. Anda rangkul bloggernya sebagai publisher agar menjadi alat marketing Anda. Contohnya, bisa melalui broker (agregator) periklanan internet semacam jaringan IBN. Atau bisa secara langsung menghubungi bloggernya. Nanti pasti bloggernya akan pekewuh (sungkan) kalau mau mengkritik perusahaan Anda.

Advertorial blog

Ingin bukti? Banyak contoh kasus blogger kritis hilang kekritisannya dan akhirnya melunak setelah dirangkul oleh advertiser setelah menulis job review berbayar (advertorial). Baca ulasan saya di artikel ini “Apakah Seorang Blogger Publisher Harus Hilang Kekritisannya?” Ini tips cara menghadapinya yang pertama. Melalui iklan advertorial di blog.

2. Melalui kopdar dengan blogger

Tips kedua, dekatilah secara personal dan rangkul lah blogger yang lagi ada masalah dengan produk Anda. Bisa dengan cara mendatangi atau mengundangnya untuk mengajaknya kopdar. Cara ini bisa Anda gunakan apabila menghadapi blogger-blogger kritis tapi sangat idealis. Blogger idealis, yaitu blogger yang murni kolumnis, ngeblog tidak karena cari uang biasanya memang agak sulit dijinakkan. Tapi blogger juga manusia, kok. Jika mereka didekati dan diajak bicara secara baik-baik tentu saja mereka mau berkompromi.

Berjabat tangan

3. Melalui komunitas blogger

Terakhir, tips yang ketiga. Kebanyakan blogger memiliki sebuah komunitas. Coba dekati komunitasnya. Ajak mereka berbicara. Biasanya sebuah komunitas mempunyai agenda-agenda tertentu. Nah, tentu tak ada salahnya Anda menjadi sponsor untuk mendanai kegiatan komunitas mereka. Cara ini sangat efektif membuat mereka jadi merasa dekat dengan corporate Anda. Sehingga, mereka pasti akan segan bila mengkritik Anda di internet. Jika ada masalah mereka akan langsung berbicara mengkomunikasikannya dengan Anda. Selebihnya, blogger karena kegemarannya menulis biasanya secara tidak langsung akan menulis kegiatan-kegiatan komunitasnya sehingga secara tak langsung produk Anda akan teriklankan di internet.

Komunitas Blogger

Demikian sedikit tips dari saya. Semoga tips ini bisa membantu Anda. Dan lewat tulisan ini saya menawarkan bilamana Anda membutuhkan kampanye marketing melalui jalur blog, baik melalui advertorial maupun banner saya membuka tawaran kepada Anda. Silahkan hubungi saya melalui form Contact blog ini, terima kasih.

Sumber Foto: Corporate Marketing|Advertorial Blog|Karir|Community


Bookmark and Share

Senin, 13 Juni 2011

Tips Menulis dan Leadership Dari Hendrik Lim, MBA

Hendrik Lim, MBAHendrik Lim, MBA, Anda sudah pernah dengar nama ini? Dia adalah seorang penulis, juga seorang motivator terkenal. Dia mempunyai cara unik dalam memotivasi dirinya dalam menulis. Pakai orang lain. Yaitu dengan cara memanfaatkan istri dan juga sopir pribadinya untuk membuatnya tetap eksis menulis.

Penulis terkenal saja masih butuh motivasi dari orang lain. Pertanyaannya, bagaimana dengan saya dan Anda yang belum mahir menulis? He He…

Bagi yang belum tahu Hendrik Lim, MBA itu siapa, selain saya sebutkan di muka tadi sebagai penulis dia juga seorang CEO sekaligus owner sebuah perusahaan dan juga seorang akademisi.

Saya sedikit beruntung karena pernah mengikuti acara training motivasinya pertengahan bulan Februari tahun 2011 lalu. Waktu itu Hendrik Lim diundang oleh perusahaan saya untuk jadi pembicara dalam acara Raker nasional perusahaan saya di Tangerang.

Balik ke cerita tentang istrinya Hendrik Lim tadi. Kepada istrinya ia pernah menjanjikan akan memajang foto istrinya di salah satu cover bukunya.

Anda ingin tahu apa reaksi istrinya waktu mendapatkan iming-iming hadiah tersebut? Sangat senang sekali. Ini membuat sang istri selalu menyemangati Hendrik Lim untuk selalu Menulis agar segera menyelesaikan bukunya. Karena, istrinya tak sabar ingin segera melihat fotonya dipajang dalam buku suaminya.

Kemana-mana, saat Hendrik Lim akan pergi istrinya selalu tak lupa untuk selalu mengingatkannya agar jangan sampai lupa membawa laptop biar bisa menulis. Jika kebetulan Hendrik Lim tidak menulis dalam sehari maka istrinya selalu mengingatkannya agar menulis.

Dan akhirnya janji itu telah ditepatinya. Foto istrinya dipajang di salah satu cover bukunya.

Cover Buku Hendrik Lim

Gambar Cover Buku Hendrik Lim yang ada foto istrinya


Kepada sopirnya lain lagi ceritanya. Dia bilang ke sopirnya, daripada dia bengong nungguin dia (Hendrik Lim) saat menunggu waktu mengantar maka diberikan draft bukunya untuk dikoreksi ejaannya.

Apa hadiah yang diberikan Hendrik Lim kepada sopirnya? Hadiahnya adalah dengan mencantumkan nama dia sebagai korektor bukunya. Ternyata, hadiah itu membuat sopirnya sangat berbunga-bunga dan bangga.

Lha, iya siapa, sih yang tak bangga namanya muncul sebagai korektor di sebuah buku seorang penulis dan motivator terkenal?

Sekarang, saya akan cerita pengalaman saya sendiri dalam kaitannya menulis di blog ini. Dulu, waktu tahun pertama dan kedua saya ngeblog istri saya sering protes ke saya. Baginya ngeblog itu hanya perbuatan sia-sia, membuang-buang waktu saja, dan tidak bisa menghasilkan apa-apa.

Kini, setelah tahun ketiga saya menulis di blog dan ternyata bisa menghasilkan uang, dia malah berbalik arah mendukung saya. Jika sehari saja saya tidak ngeblog atau belum menulis dia lah orang pertama yang akan oprak-oprak (mendorong) saya agar menulis.

Nah, kesimpulan dari semua cerita di atas adalah sehebat-hebatnya Anda, Anda tetap butuh support dari orang lain. Termasuk dalam hal menulis. Betul? Ini kesimpulan yang pertama.

Dan kesimpulan kedua, dari cerita Hendrik Lim yang disampaikan ke kami waktu itu kesimpulannya adalah Leadership. Inilah kunci penting kesuksesan sebuah leadership! Inilah cara dahsyat bagaimana menggerakkan orang lain tanpa sadar dengan cara memberikan apa yang menjadi keinginannya.

Kalau Anda seorang pemimpin Anda bisa tiru cara unik Hendrik Lim ini dalam memimpin. Berikan apa yang menjadi keinginan orang lain atau anak buah Anda di satu sisi untuk menyenangkan hatinya, supaya Anda bisa mudah mengerakkan orang tersebut tanpa mereka sadari, sehingga mereka mau menuruti keinginan Anda.


Bookmark and Share

Jumat, 10 Juni 2011

Teknik Marketing Ala Gambar Porno dan Joger Bali

LingerieBanyak cara atau teknik-teknik marketing yang bisa diterapkan untuk sukses berjualan di internet melalui blog. Pertanyaan saya kepada Anda apa tantangan terbesarnya berjualan di internet? Tentu tantangan pertama adalah blog Anda harus bisa bersaing dan memenangkan pertarungan SEO agar muncul di halaman pertama pencarian Google, mengalahkan toko online yang lain. Betul? Kedua, Anda harus berjuang keras untuk meyakinkan pengunjung di sisi trust kepada (toko) Anda sehingga pengunjung mau membeli produk Anda.

Dua hal di atas adalah tantangan terbesarnya, dan itu bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih jika situasinya, produk yang Anda jual di internet harus bersaing ketat dalam situasi ceruk market yang terlalu keruh (Red Ocean kalau istilah marketingnya). Kedua, apalagi berjualan dengan market Indonesia yang sisi trust-nya masih begitu rendah akibat banyaknya kasus scam (penipuan) ada di negara kita. Ketiga, blog tempat Anda jualan dari sisi branding belum begitu luas dikenal oleh pengunjung di internet.

Namun, bukan berarti tak ada celah untuk bisa menembus tantangan tadi. Masih ada cara-cara unik dan kreatif yang bisa Anda pakai untuk mencari peluangnya. Salah satunya yang akan saya bahas di artikel ini.

Marketing ala gambar porno

Marketing ala gambar porno? :D Sebetulnya ini istilah saya saja, sih. Kalau Anda cari di buku-buku marketing saya pastikan belum ada buku marketing manapun yang menjelaskan tentang teknik marketing ini. Teknik ini mengapa saya sebut ala gambar porno? Karena sedikit mirip sebab mencontoh bagaimana reaksi pria saat melihat gambar wanita telanjang dan membandingkannya dengan reaksi saat melihat wanita dengan pakaian, misalnya Lingerie seksi, sedikit mendekati telanjang.

Kalau saya tanya kepada Anda mana yang lebih memancing rasa penasaran Anda, apakah gambar wanita yang telanjang bulat atau yang semi telanjang? Saya yakin kebanyakan akan menjawab yang semi telanjang. Mengapa? Karena saat disodori gambar yang semi telanjang kebanyakan rasa penasarannya jauh lebih tinggi ketimbang gambar yang langsung telanjang bulat. Betul? :D

Contoh teknik marketing ala gambar porno ini sudah saya praktekkan di artikel ini, baca “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang”.

Saya sudah menguji teknik marketing ala gambar porno ini buat barang dagangan saya di internet. Di artikel tersebut sengaja saya tidak menyebutkan secara jelas bagaimana barangnya, berapa harganya. Bahkan, kalau Anda baca terkesan saya seperti jaim, tak niat jualan. Satu-satunya kekuatan marketingnya benar-benar hanya bertumpu kepada kata-kata pada artikel advertorialnya. Bukan bertumpu pada penampakan atau gambar barangnya, maupun pada bahasa sales letter yang kebanyakan berbusa-busa.

Anda ingin tahu apa reaksi pengunjung setelah baca artikel advertorial itu? Penasaran! Hampir setiap hari ada saja pengunjung yang SMS, nelpon dan kirim email ke saya melalui halaman Contact blog ini untuk menanyakan barang yang saya jual itu. Dan beberapa diantaranya akhirnya berakhir closing.

Itu yang baru lewat blog saya, belum termasuk yang dipublish kawan saya lewat notes facebook dan forum-forum di internet. Nah, Anda pun bisa terapkan teknik marketing ini jika barang yang Anda jual adalah barang yang unik, lain daripada yang lain, karena langka di pasaran.

Kedua, teknik marketing ini juga sangat pas buat Anda terapkan buat yang masih dalam taraf membangun branding toko online di blog. Contoh, blog personal yang baru pertama kali jualan online. Karena cara seperti ini membuat pengunjung lebih trust kepada Anda. Alasannya? Kesan jualannya tak nampak. Lebih jauh Anda tak akan terlihat memaksa seperti yang banyak dilakukan oleh sales letter yang kebanyakan merayu dengan banyak tipu dayanya. Dan maaf, tidak sedikit yang menipu beneran di internet.

Marketing ala Joger Bali

Pernah berkunjung ke toko Joger di Bali? Salah satu motto yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah kata-kata di toko Joger ini: “Belanja Tidak Belanja Tetap Thank You!” Kata-kata ini sangat menarik. Artinya, toko Joger tetap memberikan pelayanan yang baik buat seluruh pelanggan tokonya. Baik yang beli maupun tidak. Perlakuan seperti ini sangat membekas di benak saya. Sebagai pengunjung saya merasa sangat dihargai.

Joger Bali

Nah, dalam berjualan online pun konsep toko Joger Bali itu bisa juga Anda terapkan. Anda tetap melayani calon pelanggan toko Anda. Baik yang berniat beli, maupun yang hanya sekedar tanya-tanya saja, belum berniat beli. Yakinlah pengunjung yang sudah Anda layani dengan sangat baik suatu saat akan kembali mencari Anda. Dan saya sudah beberapa kali membuktikannya.

Baiklah, untuk menguatkan opini ini saya berikan contoh pengalaman dari sahabat blogger saya, Mas Lintang. Dia dan istrinya seringkali jadi tempat curhat pelanggan toko onlinenya. Dan curhatnya itu tidak seputar barang dagangannya, lho tapi hal-hal yang bersifat pribadi. Tapi jangan salah, justru dengan seperti itu kebanyakan pelanggan tokonya merasa sangat dihargai karena ada kedekatan secara emosional sehingga tanpa diminta dan dipaksa secara marketing pun akhirnya mereka mau dengan suka rela membeli barang dagangannya di internet.

Gimana, mau coba teknik marketing ini? Satu pesan saya sebelum Anda mencoba, sama seperti software freeware release beta dan open source, anggap saja teknik marketing yang saya tawarkan ini sama seperti itu. Harap maklum, tentu teknik ini masih banyak bug kelemahan di sana-sini. Dan saya juga memberi kebebasan kepada Anda untuk mengembangkannya sendiri layaknya open souce sesuai kreativitas dan kebutuhan Anda. Toh, saya sudah memberikan source kodenya, kan? :D

Sumber Foto: Deriell Jaqueline|Joger


Bookmark and Share

Minggu, 05 Juni 2011

Blogger Kritis: Antara Dimaki dan Dibenci Sekaligus Dicari

Blogger KritisMasih terkait dengan artikel saya kemarin yang mengulas tentang Kekritisan Seorang Blogger, kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda bagaimana pengalaman suka dukanya menjadi seorang blogger kritis. Blogger tukang kritik. Saya akan memberikan contoh kasus menarik bagaimana blogger kritis itu ibarat orang yang pantas untuk dimaki dan dibenci sekaligus dicari.

Dimaki dan dibenci? Ya, saya yakin hampir semua orang pasti mengatakan merasa kurang nyaman jika dikritik, bukan? Sehingga reaksi orang per orang bisa bermacam-macam dalam menghadapi sebuah kritikan. Ada yang malah mengucapkan terima kasih sudah diberi kritik karena merasa diberi masukan seperti kasus Kritik saya ke Telkomsel kemarin. Ada yang menyumpah serapahi si pengkritiknya, merasa tak terima dikritik. Ada yang sebatas hanya ngomel-ngomel ngedumel dalam hati. Maupun ada yang lebih gila, marah-marah hingga meneror dan melaporkannya ke Polisi.

Contoh, kasusnya dialami oleh salah satu sahabat blogger saya dari Nganjuk, Mas Widodo. Diteror dan dilaporkan ke Polisi oleh orang yang tak terima karena dikritik. Celakanya, yang tak terima itu orang media, Radar Nganjuk, yang sebetulnya malah lebih sering mengkritik ketimbang blogger. Jadi terdengar aneh kalau tukang kritik tak mau dikritik. Ini arogan sekali.

Okey, saya ceritakan sedikit kasusnya mengapa kritik Mas Widodo memancing kemarahan awak media itu. Karena artikelnya sudah didelete maka saya hanya bisa ceritakan, tidak bisa memberikan tahutan link menuju kesana. Kritik berawal dari iklan media yang ada di koran Radar Nganjuk dikritik oleh Mas Widodo. Intinya koran tersebut dikritik karena mengkomersialkan berita. Yaitu koran tersebut menawarkan jasa lewat korannya sendiri kepada desa-desa di Nganjuk jika ingin diliput dan dimuat di koran bisa request bayar seperti halnya masang iklan di koran agar diberitakan. Mirip seperti kasus Advertorial lah. Dengan membayar kemudian direview atau diberitakan.

Mas Widodo mengkritik dengan sangat kritis lewat blognya dan sempat berbalas mention status di Twitter dengan saya. “Berita, kok dikomersialkan”, itu inti kritiknya.

Berikut kutipan komentar saya yang mengkritik media tersebut saya tinggalkan di blog Mas Widodo:

Saya kemarin juga sempat baca artikelnya. HeHe…. Dan ini komentar saya kemarin yang gagal saya submit di artikelnya.

Saya akan berusaha komentar netral, Mas. Kalau kasusnya itu advertorial, artinya kita, warga desa meminta diliput memang wajar kalau harus membayar. Ini sama seperti kasus perusahaan minta diliput, diberitakan usahanya di media untuk promosi usahanya agar dikenal. Banyak perusahaan melakukan ini.
Tapi, kalau itu sebuah liputan berita umum dan media memungut biaya atas peliputan itu, nah itu yang baru tak benar.
Namun diluar itu seharusnya media tetap punya tanggung jawab sosial untuk mengangkat daerah dimana media tersebut berada. Dan ini mestinya jangan minta imbalan

Diluar konteks mana yang benar dan mana yang salah, saya ingin mengomentari kasus itu kepada pihak medianya. Tidak seharusnya kasus begini sampai nyeret2 ke Polisi segala. Apalagi pakai teror. Apakah Anda lupa bahwa media juga terkenal sebagai tukang kritik? Mengapa harus mencak-mencak kalau dikritik. Anda, kan punya hak jawab meluruskan jika itu tak benar. Gunakan itu. Anda tak perlu pakai cara-cara gaya Orba seperti itu.

Salam kenal Bapak Timur Pradopo. Salam kenal juga dari Jogja. Saya juga blogger tukang kritik. Silahkan Anda boleh mampir ke blog saya.

Hem, diluar masalah tadi benarkah blogger kritis itu dicari? Benar, selain dicari Polisi. (He He… ) juga dicari sebagai penyeimbang banyaknya content di blog yang rata-rata isinya kebanyakan penuh basa-basi dan maaf, rada munafik.

Ups, Anda jangan keburu tersinggung dan marah kepada saya dulu! Dengar dulu penjelasan saya. Bukankah hampir kebanyakan blogger dalam berbahasa itu kebanyakan suka begitu? Penuh dengan basa-basi, kurang terus terang, suka menghiden teks sasaran yang dibicarakan, dan bahasanya cenderung hanya berputar-putar, bermain-main dalam argumen bahasa penuh metafora.

Memang tak semua blogger begitu, sih. Namun Anda akan bisa merasakan bedanya jika membandingkan opini blog yang ditulis oleh blogger kritis dan blogger yang kurang kritis. Terasa sekali bedanya. Pada blogger kritis, contoh Mas Widodo dan Bung Erianto Anas dalam menulis opini sangat jujur, tanpa basa-basi, menghujam bak sebilah keris kalau sedang mengkritik dengan kalimatnya yang tajam tanpa tedeng aling-aling. Sementara blogger tak kritis cenderung cari aman dalam beropini, menghindari masalah dan kalimat-kalimat dalam opini tulisannya akan cenderung biasa-biasa saja. Betul?

Sekian tulisan kritik saya kali ini. Silahkan Anda boleh kritik saya kalau tak sependapat dengan opini saya ini.

Update 7 Juni 2011: Artikel yang sempat dihapus karena mendapat tekanan teror dari Radar Nganjuk akhirnya dipublish kembali oleh Mas Widodo. Bisa baca artikelnya melalui tautan ini "Ingin Dimuat? Wani Piro?"

Sumber Foto: News


Bookmark and Share

Rabu, 01 Juni 2011

Apakah Seorang Blogger Publisher Harus Hilang Kekritisannya?

IBNKemarin adalah hari yang cukup mendebarkan buat saya. Saya memposting tulisan yang mengkritik brand besar sekelas Telkomsel. Saya mengkritik Telkomsel dan mengatai penipu di artikel “Promosi Marketing Menipu Pelanggan di Ultah Telkomsel ke-16”. Penipu? Jujur dalam hati saya, ini bukan sebuah perkara yang mudah buat saya. Mengapa? Alasannya, pertama saya harus mengkritik brand yang pernah menjadi klien saya di IBN, tempat saya bekerja freelance sebagai publisher untuk mencari uang di internet. Kedua, kritik yang saya tulis beresiko cukup besar. Beresiko saya akan ditendang dari daftar blogger yang akan mendapatkan job review dari Telkomsel lewat jaringan IBN.

Mengapa saya sampai berani mengambil resiko sebesar itu. Resiko yang akan mengucilkan bahkan mungkin memecat saya sebagai publisher karena berani mengkritik advertiser? Ada dua alasan kuat. Pertama, saya ingin membuktikan komitmen saya di artikel yang pernah saya tulis di blog ini. Baca artikel “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”. Kedua, sekaligus saya merasa tertantang untuk membuktikan artikel Mas Jarwadi di artikelnya yang berjudul: ”Blogvertorial Jinakan Blogger Kritis?” bahwa tidak semua blogger kalau sudah jadi publisher akan hilang kekritisannya.

Baiklah, saya akan kutip komentar saya yang saya tinggalkan di blog Mas Jarwadi. Dan silahkan Anda baca juga artikelnya yang disana agar Anda bisa mengikuti alur dari diskusinya.

Wah, artikel ini sudah memberikan kritik telak kepada saya, Mas. :) Saya selama ini memang tukang kritik di blog. Dan akhir-akhir ini juga menulis advertorial brand dari produk yang ironinya juga pernah saya kritik.

Tanpa bermaksud membela diri sebetulnya jauh sebelum ini diributkan selama ini saya sudah terbiasa mengkritik dan memberikan apresiasi sekaligus di blog saya. Saya pernah menulis review positif, juga pernah menulis kritik sekaligus di blog saya. Dan itu tak tak dibayar semuanya kecuali yang advertorial.

Kalau Mas Jarwadi tak percaya silahkan telusuri arsip artikel blog saya yang berlabel Telkomsel (http://www.diptara.com/search/label/Telkomsel). Di situ ada banyak artikel yang beragam. antara ada yang memuji dan mengkritik. Kalau saya intinya akan menuliskan apa yang saya alami dan praktekkan saja. Saya pun dengan tegas akan menolak kalau diminta mereview produk yang buruk. Terlalu mahal harus menggadaikan reputasi dengan uang yang besarnya tak seberapa.

Jadi dalam menulis advertorial pun juga sama. Pantang bagi saya nulis advertorial kalau belum mencobanya sendiri dan melihat apa yang menjadi kelebihan produknya.

Oh, ya di IBN pun sebetulnya juga ada himbauan begitu. Dalam menulis advertorial harus ditulis dari sudut pandang user experience. Bukan ditulis dengan style seperti produsen dalam mengiklan. Artinya, advertorial harus kuat sisi editorialnya dan itu dihasilkan dari test uji karena kita sebagai konsumen sudah menggunakan produknya.

Ya, tapi saya sadar tak semua blogger melakukan atau bisa seperti itu. Saya pernah menjumpai seorang blogger publisher IBN yang mereview produk WhatsApp dan saya test tanya apakah Anda sudah mencobanya? Jangan bilang ke saya kalau belum nyoba tapi sudah berani nulis review ini. Dan dia jujur dan malu-malu mengatakan ke saya ternyata belum mencobanya.

Tetap bertahan di sisi idealis jika sudah ada uang di dalamnya memang tak mudah, Mas. Namun seyogyanya antara kritik dan advertorial semestinya tetap mesra berdampingan dalam sebuah blog untuk membuktikan kita punya intregritas kejujuran. Artinya, kalau mau independence ya seharusnya begitu. Saya pernah menuliskannya di artikel http://www.diptara.com/2011/04/antara-idealisme-tuntutan-independen.html yang mengulas masalah ini.

Terlepas dari itu semua, produk buruk tentu tidak berlaku seterusnya, kan? Mereka, para pemegang merk juga banyak, kok yang sportif mau mengakui kekurangannya dan akhirnya menerima kritik dari kita terus memperbaiki produk atau pelayanannya.

Oke, next akan saya buktikan bahwa saya masih berani mengkritik brand yang pernah membayar saya seperti yang saya upadate di Twitter tadi.

Terima kasih banyak, Mas atas kritiknya. :)

Khusus menanggapi artikel Mas Jarwadi itu saya sampai cukup panjang meninggalkan komentar disana. Sampai sepuluh paragraf. Itu diluar kebiasaaan saya karena tak biasanya saya sampai berkomentar sepanjang itu. Hanya kasus-kasus tertentu yang saya benar-benar terusik saya baru akan menuliskan komentar sepanjang itu. Dan lagi, eman-eman, toh nulis sepanjang itu, kan sudah bisa jadi satu posting tersendiri di blog saya. Betul? :D

Secara personal lewat BBM di BlackBerry, saya bilang ke Mas Jarwadi, saya tidak marah disentil dalam artikel itu dan Mas Jarwadi juga menjelaskan ke saya sebetulnya artikel itu ditujukan buat temannya, bukan buat mengkritik saya. Namun karena apa yang ditulis itu faktanya sangat mirip dengan kondisi saya saat ini tak urung saya juga tertohok dengan cukup telak juga. Sehingga lahirlah tulisan saya kemarin yang mengkritik Telkomsel untuk menjawab tantangan sekaligus komitmen yang saya dengung-dengunkan di blog ini sebelumnya. Saya berkomitmen tetap indepence sebagai blogger. Dan kebetulan momennya pas ada kasus masalah yang menimpa teman saya, dikecewakan oleh Telkomsel.

Dan apa berkah dari menulis kritik itu? Anda ingin tahu? Saya jadi menuai dua kejadian mengejutkan gara-gara menulis artikel itu. Pertama, saya akhirnya diikuti (di-follow) oleh akun resmi Telkomsel di Twitter. Kedua, salah satu manager yang mewakili management Telkomsel, Ibu Sri A. Yusmeniwati Manager Corporate Communications PT Telkomsel Area Jawa Bali menyempatkan diri datang dan mengunjungi blog saya. Sampai meninggalkan komentar di artikel tersebut untuk menanggapi kritik saya.

Itu bagi saya sebuah kejutan yang luar biasa. Karena sebelumnya saya pernah menulis keluhan serupa belum ada satupun pihak dari Telkomsel yang resmi menanggapi lewat internet, baik lewat blog, Twitter maupun milis. Walau keluhannya cukup ramai dithreat oleh kawan-kawan saya di milis Telematika sampai hampir sebulan lamanya waktu ada kejadian kurang menyenangkan sepulang dari Korea bulan Maret kemarin. Bisa baca artikel keluhannya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Terakhir, pesan yang ingin saya sampaikan kepada Anda di tulisan ini. Jika Anda adalah seorang publisher sama seperti saya, saya berharap Anda pun seharusnya juga berbuat sama tetap mempertahankan sikap kritis Anda sebagai seorang blogger agar kredibilitas blogger di mata pengunjung tetap terjaga. Jika tidak, apa yang akan dikuatirkan dalam tulisan Mas Jarwadi tersebut bukan tidak mungkin akan terjadi suatu saat nanti. Blogger sudah tidak dipercaya lagi karena lebih mirip sebagai corong produsen daripada blogger pemberi review yang jujur, rekomended, dan bisa dipercaya para pembaca.

Pertanyaan saya di akhir artikel ini kepada Anda. Apakah Anda setuju dengan saya kalau antara advertorial dan kritik tetap harus sejalan dan bersanding mesra, sejajar di sebuh blog? Ataukah sebaliknya, karena Anda sudah dibayar jadi harus manggut-manggut dan menghilangkan sikap idealis dan kritis Anda sebagai seoarang blogger?


Bookmark and Share