twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2015

6 Manfaat Hebat Vitabumin

Vitabumin
Saat anak Anda mengalami tumbuh kembang, terutama di usia penting 0-5 tahun, selain pemberian ASI dan makanan bergizi, pemberian supleman berupa vitamin juga sangat dibutuhkan oleh anak balita Anda.

Masalahnya, untuk anak di usia itu tidak semua mudah atau mau makan makanan tambahan seperti buah-buahan dan sayuran. Anak balita karena mungkin belum terbiasa mengkonsumsi makanan selain ASI sehingga perlu pembiasaan yang maaf, kadang butuh dipaksa untuk memberikan nutrisi makanan tambahan tersebut.

Selasa, 24 Desember 2013

Terompet Tahun Baru; Waktunya Resolusi Keuangan

Resolusi Keuangan 2014
Selain terompet, yang banyak dipersiapkan orang menjelang malam Tahun Baru adalah resolusi. Perkara akan mereka tepati atau tidak selama 2014, resolusi tetap dibikin. Siapkan malam Tahun Baru dengan kemeriahan dan resolusi keuangan, tentunya Anda harus berkomitmen dalam menjalankannya.

Setelah mengevaluasi seluruh aspek kehidupan Anda di tahun 2013, perkembangan atau perubahan apa yang Anda alami dalam segi keuangan Anda? Jika Anda sudah berkeluarga, kira-kira apa lagi yang harus Anda siapkan untuk masa depan keluarga, terutama anak Anda? Apalagi yang akan Anda beli, atau apakah Anda punya rencana berlibur? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul di benak Anda berikut segala renacana lainnya, namun bukankah tujuan resolusi adalah untuk menjadikan hidup Anda lebih baik? Berikut tips sederhana untuk resolusi keuangan Anda di tahun 2014.

Minggu, 13 Oktober 2013

Bagaimana Membuat Perseroan Makin Adaptif, Besar dan Gesit?

Buku ABG
Setelah bulan Juni 2012 tahun lalu Hendrik Lim, MBA meluncurkan buku BOM (Business Owner Mentality). Buku yang mengupas tentang strategi perseroan untuk menjawab tantangan besar di era globalisasi. Strategi bagaimana agar perseroan bisa terus bertahan dan memenangkan pasar dari fenomena banyaknya perusahaan-perusahaan yang secara mengejutkan ganti kepemilikan dan menjadi milik asing. Kali ini, Hendrik Lim, MBA kembali memberikan tool terbarunya kepada kita. Buku Adaptif Besar Gesit (ABG).

Bagaimana Membuat Perseroan Makin Adaptif, Besar dan Gesit? 

Ditengah laju perkembangan konvergensi tekonologi, knowledge economi, integrasi pasar dan globalisasi, Transformasi Perseroaan bukan lagi sebuah opsi tetapi mandatori, jika perseroan ingin produk dan jasa yang di hasilkannya tetap relevan dan dicari oleh konsumen yang makin cerdas.

Sabtu, 30 Juni 2012

Mengapa Perusahaan Besar Sering Ganti Kepemilikan?

Buku BOM Business Owner Mentality
Saat ini banyak perusahaan besar di Indonesia yang mengalami pergantian kepemilikan. Anda tahu pergeseran atau ganti kepemilikan adalah salah satu tanda ketidaksanggupan industrial competitives di pasar. Pergeseran kepemilikan perseroan, seperti arus bawah yang deras, tidak kelihatan di atas permukaan, seolah-olah tidak ada pergerakan, tetapi di bagian dasar ada arus yang sangat deras.

Pergeseran kepemilikan dalam jumlah prosentase besar, umumnya merupakan salah satu indikator perseroan tidak sanggap bertahan melawan globalisasi dan akhirnya dijual kepada pihak lain. Persaingan bebas dalam konteks globalisasi itu seperti bertarung melawan cerita Spartan Goliath, Simson dan Hercules. Hasilnya? Competiveness kalah, akibatnya pemilik berganti. Peta berubah. Meskipun konsumen dipermukaan tidak merasakan perbedaan substantial.

Lihat tabel berikut ini. Ini adalah contoh nyata perusahaaan nasional yang telah saya sebutkan di muka tadi.

Kamis, 01 Maret 2012

Belajar Marketing Dari Kisah Cinta dan Orang China

Semakin seringnya saya melakukan transaksi Pembelian ke Luar Negeri di internet membuat saya makin mengenal banyak karakter orang dari berbagai negara. Dari sekian banyak orang yang pernah berkomunikasi dengan saya, orang China menurut saya mempunyai karakter sedikit berbeda dengan orang Asia lainnya, maupun orang Amerika, Eropa, dan orang dari negara kita dalam hal cara berkomunikasinya. Khususnya dalam hal komunikasi marketing.

Mengapa orang China berbeda? Apa perbedaannya? Sebelum saya bercerita, saya ingin menceritakan sedikit tentang kisah cinta saya di masa lalu yang mungkin bisa menjadi pelajaran buat Anda agar kisah cinta saya ini tak terjadi pada Anda. Anda mau mendengarnya?

Meet Women

Dulu, tahun 1997 saat saya masih muda pernah jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan saya melihat gadis tersebut juga punya perasaan yang sama dengan saya. Kami sempat dekat dan hampir seperti sudah berpacaran. Namun akhirnya cinta tersebut kandas di tengah jalan karena gadis yang saya cintai tersebut diam-diam ternyata berpaling kepada pria lain. Dia lebih memilih pria yang lain ketimbang saya. Saya pun menjadi ragu apakah dia, gadis yang saya cintai itu punya perasaan yang sama dengan saya apa tidak. Dan akhirnya saya memutuskan melupakan gadis tersebut.

Sabtu, 25 Februari 2012

Benarkah Manusia Lahir Diciptakan Untuk Dilayani, Bukan Melayani?

Minggu kemarin saya baru saja mengikuti sebuah seminar motivasi saat Rakernas di Tangerang yang diadakan oleh kantor saya. Satu pernyataan yang saya ingat dan selalu terngiang di telinga saya adalah saat speakernya menyodorkan sebuah fakta menarik. Yaitu sebuah analogi menarik yang membandingkan antara bayi manusia dengan bayi binatang.

Apa perbandingannya? Bayi binatang begitu lahir secara naluri langsung bisa survive, bertahan hidup. Sementara bayi manusia tidak. Bayi manusia pasti akan mati kalau lahir dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menolongnya. Betul? Contoh, coba Anda bandingkan anak ayam yang begitu menetas lahir langsung bisa jalan sendiri mengikuti induknya dan bisa mulai belajar cari makan sendiri. Manusia? Boro-boro mencari makan sendiri, jalan sendiri saja tak mampu. Makan pun butuh disuapi baru bisa makan dan bertahan hidup.

Ya, manusia memang mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna melebihi mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Semua tidak bisa menyangkal fakta ini. Namun fakta yang saya sampaikan di atas akan menjadi berbeda 180 derajat keadaannya kalau manusianya adalah bayi manusia yang baru lahir. Manusia justru mahluk paling lemah tak berdaya yang butuh bantuan pertolongan manusia lainnya untuk bisa bertahan hidup dibandingkan dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

Melayani

Jadi, tidak salah kalau saya menyimpulkan bahwa sejak lahir manusia memang dikondisikan atau ditakdirkan untuk dilayani, bukan untuk melayani. Secara kodrat semua manusia begitu. Meminta atau menuntut untuk dilayani secara terus menerus sepanjang hidupnya dari sejak dia lahir sampai tumbuh dewasa bahkan sampai mati.

Minggu, 08 Januari 2012

3 Kata Sederhana Namun Berimpact Besar

BroadcastBeberapa waktu yang lalu saya mendapatkan broadcast message melalui BlackBerry saya. Isi pesannya cukup membuat saya terhenyak karena menceritakan tentang kisah yang amat menyentuh.

Berbeda dengan broadcast dari BlackBerry yang seringkali saya abaikan, kecuali tentang Pengobatan Gratis Hydrochepalus beberapa waktu yang lalu, yang sempat saya posting di blog ini, broadcast kali ini membuat saya jadi tertegun sejenak kala membacanya.

Apa isi pesannya? Inti pesannya mengisahkan cerita di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur di sebuah perusahaan. Tepatnya, dalam sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan & kritikan dari anak buah kepada sang direktur yang segera memasuki masa pensiun.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Cinta dan Kehilangan

Steve Jobs
Saya sangat terkesan sekali waktu mendengarkan pidato Steve Jobs saat berceramah di depan wisuda mahasiswa Universitas Stanford ini. Terus terang saya sangat menyesal mengapa baru tahu sekarang dan bisa mendengarkan isi pidato sebagus itu justru di saat dia (Steve Jobs) sudah meninggal. Saya sangat menyesal sekaligus terkesan sekali terutama dengan bagian kedua dalam pidato Steve Jobs yang bercerita tentang arti Cinta dan Kehilangan.

Entah kenapa saya merasa tersindir saat ini kalau mendengar pidato itu. Semoga saya bisa mengikuti jejak Steve Jobs. Menerima perubahan dan kehilangan sekaligus tapi tetap masih bisa bangkit kembali.

Baiklah, kalau Anda belum pernah mendengar atau membacanya saya sudah mengembed videonya dari Youtube ke blog ini. Dan sekaligus di bawah videonya saya berikan teks pidatonya dalam bahasa Indonesia buat Anda. Saya mengutip sebagian isi pidatonya, yang bagian kedua. Saya kutip dari blognya Nukman Lutfi. Selamat membaca.



Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami –Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya –saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.


Bookmark and Share

Selasa, 27 September 2011

Review Novel Memamah Jantungmu

Novel Memamah Jantungmu
Cover Novel Memamah Jantungmu


Pembunuhan sepuluh tahun yang lalu terus menghantui hidup Gilda. Roh-roh itu mengganggunya tanpa henti. Di tengah ketidakwarasannya ia kembali ke rumahnya. Saat ia semakin tenggelam dalam bayangan kematian ia akhirnya tahu papanya telah menemukan sesuatu yang dapat membuat nyawanya terancam. Seketika itu juga sebuah petualangan dimulai. Berjuang di antara hidup dan mati, Gilda menemukan cinta pertamanya. Ketika ia mulai percaya, semuanya berbalik menohok hidupnya. Tak ada yang bisa dia percaya lagi. Semuanya ingin merebut penemuan papanya. Gilda bimbang. Ia ingin menyerah. Langkah mana yang terbaik? Tikungan mana yang harus ia tuju? Penemuan apakah yang harus ia selamatkan sampai harus mengorbankan begitu banyak nyawa?

***

Itu adalah cuplikan sinopsis novel Memamah Jantungmu yang ditulis Rohani Syawaliah, atau Hani kalau saya biasa memanggilnya. Seorang penulis muda asal Pontianak yang selain jadi penulis, dia juga seorang penyiar radio di Volare FM dan aktif ngeblog hingga sekarang. Anda bisa mengunjungi blognya di honeylizious.com.

Rohani Syawaliah
Foto Hani dengan Novelnya


Novel yang ditulis Hani kali ini bergenre horor berbalut misteri mirip seperti cerita detektif yang penuh teka-teki. Mengisahkan kisah pembunuhan sebuah keluarga yang mati terbunuh akibat telah menemukan penemuan obat yang lagi diperebutkan banyak orang. Yaitu obat penawar HIV (AIDS).

Kalau membaca jalan ceritanya yang cukup menegangkan. Disini Hani sebagai penulis cukup pintar memainkan para pembacanya. Betapa dari awal cerita sampai akhir, pembaca seperti diseret ke dalam suasana horor yang amat mencekam. Adegan demi adegan dalam cerita novelnya membuat pembaca dipaksa harus sering-sering menahan nafas dengan berdebar menanti kejutan demi kejutan saat membacanya.

Satu adegan yang membuat saya sampai menahan nafas adalah ketika Gilda kecil, tokoh utama dalam novelnya, menyaksikan dari balik lemari satu persatu keluarganya mati dibunuh. Dan yang paling menegangkan saat pembunuhnya tahu dan akan membuka lemari dimana Gilda bersembunyi. Gilda dalam posisi yang sudah terancam akan bernasib sama seperti kedua orang tua dan adiknya yang lebih dulu terbunuh, tiba-tiba diselamatkan oleh suara ponsel adiknya.

Ya, novel ini memang sangat pas bagi pembaca yang senang dengan kisah-kisah horor dan berbau sedikit teka-teki seperti cerita detektif. Sebagai novel karya perdana dan dicetak secara self publishing, saya pikir ini adalah karya yang patut mendapatkan apresiasi. Keberanian Hani yang tak ragu membukukan karyanya tersebut bisa menjadi contoh banyak blogger lain dan calon-calon penulis yang suatu saat mungkin berencana akan menerbitkan buku namun masih ragu belum punya keberanian buat menerbitkannya.

Bagi penulis pemula yang belum pernah menerbitkan buku maka pilihan cetak buku secara mandiri (self publishing) adalah pilihan paling tepat. Karena tanpa ada resiko penolakan dari pihak penerbit. Juga tanpa ada bentuk campur tangan editor penerbit yang akan menyetir isi bukunya apakah layak jual apa tidak. Kita tahu di dunia penerbitan tak selalu karya bagus mendapat sambutan baik dan bisa naik cetak. Selama karya bukunya tak bisa memenuhi selera penerbit atau pasar pasti ditolak oleh penerbit.

Karena saya sudah cukup mengenal Hani dan sering membaca tulisan-tulisan dia yang memikat di blognya, waktu pertamakali novel tersebut akan diterbitkan saya langsung tertarik untuk preorder. Dan hasilnya saya cukup senang menjadi pembeli novel itu yang pertama sebelum akhirnya novel tersebut laris manis sampai cetak ulang beberapa kali karena banjir pesanan.

Kalau Anda ingin mencicipi versi gratis dari novel tersebut, silahkan kunjungi blognya Hani melalui link ini. Dia memberikan bab pertamanya secara gratis untuk dibaca sebelum Anda memutuskan untuk membeli novel tersebut.

Nah, kalau penasaran dengan kelanjutan cerita Memamah Jantungmu, tentu Anda harus membelinya ke Hani. He..He… Silahkan kontak ke dia. Siapa tahu dia mau memberikan harga khusus buat Anda.


Bookmark and Share

Rabu, 27 Juli 2011

Menukar Kematian Dengan Segebok Uang, Haram?

Life InsuranceIni adalah kisah lama saat saya berobat di sebuah rumah sakit Islam di kota Malang beberapa tahun silam. Waktu itu di sela-sela dokter memeriksa saya, kami sempat ngobrol perihal masalah asuransi. Awalnya saya menceritakan kalau ikut program Asuransi Medicare ke dokternya. Namun waktu itu asuransi medicare saya hanya menanggung untuk rawat inap saja, untuk rawat jalan tidak. Entah bagaimana ceritanya kemudian pembicaraan berlanjut jadi membahas masalah asuransi jiwa. Dokternya kemudian bercerita ke saya kalau asuransi medicare itu bagus dan diperbolehkan dalam agama Islam, katanya, asal jangan yang asuransi jiwa. Itu haram hukumnya di Islam.

Karena saya tak tahu dalil atau hadistnya, saya hanya manggut-mangut saja diberi wejangan itu oleh dokternya. Dan kebetulan kala itu bahkan hingga sekarang saya pun belum tertarik untuk ikut program asuransi jiwa perusahaan insurance manapun. Beberapa asuransi jiwa yang saya ikuti hanya memproteksi jiwa saya secara tidak langsung, bukan semata-mata seperti Menukar Kematian Dengan Segebok Uang seperti yang ada dalam asuransi jiwa.

Saya boleh cerita sedikit perihal asuransi saya itu? Pertama, saya mengasuransikan jiwa saya dalam Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Jika saya tiba-tiba meninggal atau Mati Muda sebelum kredit lunas maka bank BNI ― tempat saya ambil kredit rumah ― akan membebaskan ahli waris, istri dan anak-anak saya untuk melunasi hutang KPR-nya. Kedua, asuransi pendidikan anak saya juga begitu memberikan jaminan bebas bayar premi jika saya meninggal sebelum jatuh tempo asuransinya. Ketiga, kartu kredit saya juga begitu. Jika saya meninggalkan saldo hutang di kartu kredit secara otomatis akan dianggap lunas oleh pihak bank penerbit kartu kredit saya.

Asuransi Jiwa

Oke, sekarang lupakan sejenak tentang halal dan haram pada asuransi jiwa. Saya ada cerita menarik. Di Surabaya, ada salah satu tetangga mertua saya beberapa tahun lalu baru saja kehilangan suaminya. Suaminya meninggal dunia di daerah asalnya di Ponorogo. Ibu tadi kemudian pulang mengurus kematian suaminya. Sebagaimana umumnya orang yang kesusahan banyak tetangganya berdatangan ke rumah ibu tersebut untuk melayat. Sambil melayat para tetangga tak lupa memberi amlop kepada ibu tersebut sebagai tanda bela sungkawa.

Sampai disitu kisahnya saya anggap masih normal dan wajar. Karena dimana-mana umumnya begitu, kan kalau melayat pasti kebanyakan memberi amplop sebagai tanda bela sungkawa, betul?

Nah, kisah itu pun kemudian berlanjut jadi cerita yang mengejutkan. Selesai mengurus pemakaman beberapa hari kemudian ibu itu pulang balik lagi ke rumahnya yang ada di Surabaya. Kemudian tanpa diduga ibu itu satu persatu mendatangi rumah-rumah para tetangganya yang sudah memberi amplop saat melayat ke rumahnya kemarin. Ia mengembalikan satu persatu amplop berisi uang yang diberikan oleh tetangganya.

Dikembalikan? Iya. Anda ingin tahu apa alasan ibu itu waktu mengembalikan uang amplop tadi? Dia bercerita tak bisa menerima pemberian itu. Alasannya, dia sedih karena merasa seperti menukar kematian suaminya dengan uang. Ia jadi sedih teringat suaminya yang sudah meninggal waktu memegang uang itu sehingga tak mau menerima pemberian itu. Itu yang menjadi alasannya.

Deg! Bagai ditampar saya amat tersentuh haru mendengar cerita itu dari ibu mertua saya. Jaman sekarang, kok masih ada, ya orang yang seperti itu? Ini sebuah ironi yang menggembirakan diantara banyaknya orang yang begitu tamak dan akan melakukan segala cara demi mendapatkan uang. Tak peduli barokah, halal dan haram. Betul?

Pertanyaan saya di akhir posting ini: Jika memang asuransi jiwa itu benar diharamkan dalam Islam apakah salah satunya itu yang menjadi alasannya? Yaitu karena tak pantas menukar nyawa seorang manusia dengan segebok uang? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda?

Image credit: Life Insurance|Asuransi Jiwa


Bookmark and Share

Senin, 13 Juni 2011

Tips Menulis dan Leadership Dari Hendrik Lim, MBA

Hendrik Lim, MBAHendrik Lim, MBA, Anda sudah pernah dengar nama ini? Dia adalah seorang penulis, juga seorang motivator terkenal. Dia mempunyai cara unik dalam memotivasi dirinya dalam menulis. Pakai orang lain. Yaitu dengan cara memanfaatkan istri dan juga sopir pribadinya untuk membuatnya tetap eksis menulis.

Penulis terkenal saja masih butuh motivasi dari orang lain. Pertanyaannya, bagaimana dengan saya dan Anda yang belum mahir menulis? He He…

Bagi yang belum tahu Hendrik Lim, MBA itu siapa, selain saya sebutkan di muka tadi sebagai penulis dia juga seorang CEO sekaligus owner sebuah perusahaan dan juga seorang akademisi.

Saya sedikit beruntung karena pernah mengikuti acara training motivasinya pertengahan bulan Februari tahun 2011 lalu. Waktu itu Hendrik Lim diundang oleh perusahaan saya untuk jadi pembicara dalam acara Raker nasional perusahaan saya di Tangerang.

Balik ke cerita tentang istrinya Hendrik Lim tadi. Kepada istrinya ia pernah menjanjikan akan memajang foto istrinya di salah satu cover bukunya.

Anda ingin tahu apa reaksi istrinya waktu mendapatkan iming-iming hadiah tersebut? Sangat senang sekali. Ini membuat sang istri selalu menyemangati Hendrik Lim untuk selalu Menulis agar segera menyelesaikan bukunya. Karena, istrinya tak sabar ingin segera melihat fotonya dipajang dalam buku suaminya.

Kemana-mana, saat Hendrik Lim akan pergi istrinya selalu tak lupa untuk selalu mengingatkannya agar jangan sampai lupa membawa laptop biar bisa menulis. Jika kebetulan Hendrik Lim tidak menulis dalam sehari maka istrinya selalu mengingatkannya agar menulis.

Dan akhirnya janji itu telah ditepatinya. Foto istrinya dipajang di salah satu cover bukunya.

Cover Buku Hendrik Lim

Gambar Cover Buku Hendrik Lim yang ada foto istrinya


Kepada sopirnya lain lagi ceritanya. Dia bilang ke sopirnya, daripada dia bengong nungguin dia (Hendrik Lim) saat menunggu waktu mengantar maka diberikan draft bukunya untuk dikoreksi ejaannya.

Apa hadiah yang diberikan Hendrik Lim kepada sopirnya? Hadiahnya adalah dengan mencantumkan nama dia sebagai korektor bukunya. Ternyata, hadiah itu membuat sopirnya sangat berbunga-bunga dan bangga.

Lha, iya siapa, sih yang tak bangga namanya muncul sebagai korektor di sebuah buku seorang penulis dan motivator terkenal?

Sekarang, saya akan cerita pengalaman saya sendiri dalam kaitannya menulis di blog ini. Dulu, waktu tahun pertama dan kedua saya ngeblog istri saya sering protes ke saya. Baginya ngeblog itu hanya perbuatan sia-sia, membuang-buang waktu saja, dan tidak bisa menghasilkan apa-apa.

Kini, setelah tahun ketiga saya menulis di blog dan ternyata bisa menghasilkan uang, dia malah berbalik arah mendukung saya. Jika sehari saja saya tidak ngeblog atau belum menulis dia lah orang pertama yang akan oprak-oprak (mendorong) saya agar menulis.

Nah, kesimpulan dari semua cerita di atas adalah sehebat-hebatnya Anda, Anda tetap butuh support dari orang lain. Termasuk dalam hal menulis. Betul? Ini kesimpulan yang pertama.

Dan kesimpulan kedua, dari cerita Hendrik Lim yang disampaikan ke kami waktu itu kesimpulannya adalah Leadership. Inilah kunci penting kesuksesan sebuah leadership! Inilah cara dahsyat bagaimana menggerakkan orang lain tanpa sadar dengan cara memberikan apa yang menjadi keinginannya.

Kalau Anda seorang pemimpin Anda bisa tiru cara unik Hendrik Lim ini dalam memimpin. Berikan apa yang menjadi keinginan orang lain atau anak buah Anda di satu sisi untuk menyenangkan hatinya, supaya Anda bisa mudah mengerakkan orang tersebut tanpa mereka sadari, sehingga mereka mau menuruti keinginan Anda.


Bookmark and Share

Sabtu, 15 Januari 2011

The Power of Kepepet: Cara Tergila, Terampuh Berbisnis Online!

Jurus Kepepet

Ada sebuah artikel menarik yang ditulis oleh seorang Internet Marketer dari Surabaya bernama Lutvi Avandi di blognya, CafeBisnis. Terus terang, awalnya saya ingin meninggalkan komentar di sana. Karena saya tergelitik untuk mengomentari salah satu artikelnya yang berjudul: "Bisnis Itu Seperti Nyetir Mobil". Namun, saya urungkan niat saya karena setelah saya pikir-pikir akan lebih baik saya menanggapinya dengan menulis di blog sendiri saja.

Mengapa saya tergelitik? Karena ada kata-kata yang sudah mengusik saya dalam artikel yang ditulis oleh Lutvi Avandi tersebut. Yaitu sebuah pernyataan menarik pada paragraf ke-5 yang berbunyi sebagai berikut:

Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana. Bisnis tetaplah bisnis, butuh proses untuk belajar, ujicoba, nyerempet sana nyerempet sini. Spion patah body tergores. Kalau anda jadikan bisnis yang baru anda pelajari ini sebagai tempat bergantung, ya sangat beresiko sekali.

Secara overall sebetulnya saya sangat setuju dengan artikel Mas Lutvi Avandi itu. Saya hanya mau memberi note sedikit pada paragraf ke-5 di atas terutama pada pernyataannya yang berbunyi:

"Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana."

Dan tanggapan saya, dalam situasi normal idealnya memang begitu, yang namanya bisnis online ya tetap bisnis, sama seperti bisnis offline pada umumnya. Butuh persiapan matang, rencana dan segala macam tetek bengeknya. Bagaimana jadinya kalau sebuah bisnis online dijalankan hanya karena pelampiasan akibat terkena PHK, akibat karena hutang banyak? Sudah barang tentu pasti nabrak-nabrak. Sampai di sini saya setuju dengan pernyataannya.

Tetapi, ada tetapinya, tidak untuk situasi yang memang benar-benar terjepit yang memang memaksa seseorang benar-benar ingin menyambung hidupnya karena tidak punya pekerjaan dan ingin menghidupi keluarganya. Mungkin penulisnya lupa terkadang potensi luarbiasa seorang manusia justru bisa tergali pada saat posisi terjepit, pada posisi kepepet seperti itu. Makanya sampai ada muncul kata-kata "The Power of Kepepet". Anda pernah dengar istilah ini? Eh, bahkan bukunya ada, lho diterbitkan Gramedia ditulis oleh seorang penulis bernama Jaya Setiabudi. :D *Maaf ini bukan iklan, ya. Saya tidak sedang mereview atau jualan buku ini.

Baiklah, saya akan berikan contoh nyata untuk menguatkan opini saya. Saya punya seorang sahabat blogger dari Yogyakarta yang juga seorang pebisnis online. Sahabat saya ini dulu adalah seorang karyawan sebuah pabrik susu bagian EDP di Waru Sidoarjo Jawa Timur. Saat krismon tahun 1998 lalu dia mengalami PHK dari pabrik susu tersebut. Setelah itu dia menekuni bisnis online sebagai seorang Web Developer, juga sekaligus jualan macam-macam barang dan jasa di internet. Dan faktanya, kini ia sangat sukses. Bahkan penghasilannya jauh melebihi pendapatan saya sebagai seorang Chief Engineer perusahaan Go Public multi nasional, profesi saya saat ini.

Anda kepingin tahu lebih jelas siapa sahabat saya tersebut? Dia, sahabat saya tersebut, pernah saya ceritakan atau saya review dalam artikel saya di sini "Ingin Bisnis Online, Ngapain Capek-capek Bikin Blog?" dan juga di artikel ini "Blog Narsis Versus Blog Bisnis, Pilih Mana?"

Nah, bukankah itu sebagai bukti nyata bahwa tidak selamanya kondisi yang seperti diceritakan Lutvi Avandi bahwa berbisnis online karena nabrak-nabrak atau pelampiasan akibat PHK adalah tindakan yang tidak bijaksana? Justru sebaliknya, seringkali potensi seseorang baru tergali secara maksimal justru pada saat dia kepepet. Betul, tidak?

Satu pertanyaan terakhir saya buat Anda yang sekaligus juga sebagai kesimpulannya. Anda pernah lihat seekor binatang yang lari terbirit-birit ketakutan karena berusaha menyelamatkan diri? Bukankah seekor binatang pun seringkali bisa lari lebih kencang, melompat lebih tinggi dari biasanya justru pada saat dia kepepet karena terancam dibunuh oleh binatang lainnya? :D

Kalau Anda serius ingin sukses berbisnis online, meski Anda tidak sedang kepepet, mengapa Anda tidak ubah mindset otak Anda dengan menerapkan cara dahsyat seperti motivasi orang yang lagi kepepet itu agar bisa sukses?

Bagaimana, berani mencoba? Selamat berbisnis!


Sumber Foto: Dikejar Anjing


Bookmark and Share

Rabu, 03 November 2010

Mengapa Anda Perlu Membaca Cerita?

Taste

Sebagian orang menganggap membaca cerpen, novel, karya sastra atau lebih luasnya membaca sebuah cerita dianggap sebagai sesuatu yang remeh, tak penting, hanya membuang-buang waktu saja. Untuk apa baca cerita, atau baca seperti cerita curhat-curhat orang lain seperti di blog misalnya? Mending baca-baca buku How-to, tentang Tips atau tentang ilmu pengetahuan yang bisa menambah wawasan kita.

Saya ingin bertanya kepada Anda: Benarkah? Benarkah Anda juga punya pendapat seperti itu? Jika Anda menjawab "Ya" untuk apa, mungkin Anda perlu membaca kisah-kisah inspiratif dari Andy Noya di KickAndy. Betapa isi di dalam websitenya semuanya adalah tentang cerita semuanya. Tapi Anda jangan meremehkan. Cerita-cerita di KickAndy sangat inspiratif dan mencerahkan bagi siapa pun yang membacanya. Bahkan terkadang saya sampai berkaca-kaca saat membacanya tatkala kisah yang ditulis benar-benar menyentuh hati saya.

Tidak berlebihan kalau saya sebut seperti itu karena kenyataannya tulisan KickAndy banyak berisi tentang pelajaran atau nilai-nilai tentang hidup yang sekarang ini pelajaran itu mulai banyak dikesampingkan oleh sebagian besar orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sama seperti nasib jurusan sastra dimata para orang tua modern yang dianggap hanya melahirkan sastrawan dan seniman saja, yang dianggap tak menjanjikan finansial di masa depan, dibanding jurusan kedokteran, ekonomi atau teknik.

Ada salah satu tulisan KickAndy yang cukup menohok atau menyindir saya. Judulnya: "Kaca Spion". Tulisan itu bercerita tentang kebencian KickAndy kepada orang kaya. Gara-garanya di masa kecilnya KickAndy pernah mematahkan kaca spion mobil orang kaya kemudian dia disuruh menggantinya.

Saya tak bermaksud untuk mensejajarkan diri dengan KickAndy dengan membandingkan kisah hidup saya dengan KickAndy. Saya perlu tegaskan, tidak. Saya tidak sekaya dan sesukses KickAndy. Tapi pengalaman hidup KickAndy, terutama di masa kecilnya seperti cermin buat diri saya. Mengingatkan masa kecil saya yang dulu pernah hidup sangat susah dan selalu iri kalau melihat orang kaya.

Dan cerita yang sedikit menyindir saya adalah tentang makan gado-gado itu. Gado-gado yang dulu semasa kuliah KickAndy selalu membuatnya ngiler. Namun katanya: Mengapa kini baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? Tulisnya di KickAndy

Saat KickAndy menceritakan kegundahannya itu kepada istrinya. Istrinya hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,’’ ujarnya.

Saya jadi tercenung lama selesai membaca tulisan itu. Ingatan saya jadi melayang ke masa 12 tahun yang lalu, masa awal-awal saya bekerja. Dulu, ingat saya rumah makan Wapo di pojok dekat Unair jalan Airlangga Surabaya saya anggap sebagai tempat makan satu-satunya yang paling lezat dan tak ada duanya, selain masakannya enak juga bisa sebagai tempat asyik nongkrong karena di sana banyak cewek-cewek cantik makan di sana.

Tetapi setelah 5 tahun kemudian saya kembali ke sana mengapa citarasa masakannya berubah, saya merasa tastenya tak seenak dulu lagi. Saya baru nyadar kemudian setelah membaca kisah KickAndy tersebut. Mungkin saja selama ini saya sudah terlalu sering makan bufe di hotel-hotel berbintang, restoran mahal dan kuliner kemana-mana waktu mobile di pekerjaan saya yang sering keluar kota sehingga lidah saya pun juga ikutan berubah jadi lebih sensitif mencicipi taste (citarasa) makanan.

Hal yang sama, juga saat saya mudik lebaran ke Surabaya dan pulang ke desa saya di Lamongan. Saya merasa begitu tersiksa karena merasakan udaranya yang sangat panas, banyak nyamuk, di kedua kota itu, berbeda dengan rumah tinggal saya sekarang ini di Jogja yang sangat sejuk dan nyaman karena sudah ada AC di rumah saya.

Ya, ternyata saya juga ikutan berubah seperti KickAndy. Tubuh saya menjadi sangat manja sekarang. Mudah sekali kegerahan kalau harus hidup tanpa AC. Padahal sejak kecil selama tiga puluhan tahun saya tidur tanpa AC pun ya tak masalah. Kini, saya sudah berubah. Tak urung saya juga ikutan sedih karenanya. Semoga saya tak menjadi sombong karena perubahan ini. Semoga saya tetap punya kepekaan sosial dan rasa empati dengan kesusahan hidup orang lain.

Semoga judul di posting ini "Mengapa Anda Perlu Membaca Cerita?", bukan lagi jadi sebuah pertanyaan tapi sebuah pertanyaan sekaligus jawaban bahwa betapa perlunya kita membaca cerita, kisah-kisah hidup orang lain untuk mengingatkan diri kita. Arswendo Atmowiloto pernah menulis di bukunya betapa pentingnya kita untuk membaca karya sastra karena dalam setiap karya sastra selalu ada tawaran nilai-nilai baru yang disodorkan oleh pengarangnya. Dan katanya, tidak ada hal yang paling menyedihkan bagi kita, seorang manusia jika kita hanya mau belajar tentang hidup hanya dari pengalaman sendiri dan tak mau mencoba bercermin dan belajar dari pengalaman hidup orang lain.


Sumber Foto: Touch smell lick taste


Bookmark and Share

Sabtu, 26 Juni 2010

Bahasa Ibu, Anak Tiri Yang Kini Benar-benar Dianaktirikan

Bahasa ibuKalau Anda pernah tinggal di Surabaya dan pernah bergaul dengan orang etnis Tionghoa maka satu yang membedakan antara etnis Tionghoa Surabaya dengan orang Jawa (pribumi) kalau dilihat dari cara mereka ngomong adalah dari logat bicaranya yang berbeda. Dan bagi saya yang sudah pernah bergaul lama dengan etnis Tionghoa, selain dari ciri-ciri fisik, maka saya bisa membedakan mereka dari cara mereka ngomong meskipun itu sama-sama ngomong dalam bahasa Indonesia. Karena mereka punya logat bicara yang khas.

Itu kalau di Surabaya, di Medan etnis Tionghoa berbeda lagi. Sewaktu saya tinggal di Medan saya menjumpai orang Tionghoa sana tak pernah ngomong dalam bahasa Indonesia logat Melayu seperti orang Medan pada umumnya. Mereka baru ngomong bahasa Indonesia kalau lawan bicaranya adalah bukan sesama etnis mereka. Mereka sehari-hari benar-benar ngomong dalam bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Mandarin. Aneh juga terdengarnya waktu itu, saya jadi sempat berpikir apa sedang di Hongkong, kok orang-orang Tionghoa di sini banyak yang ngomong dalam bahasa Mandarin. Pikir saya heran.

Saya coba bandingkan orang Tionghoa Medan dengan orang Tionghoa Surabaya. Setahu saya di Surabaya hanya orang Tionghoa kakek-kakek atau nenek-nenek yang sudah tua yang masih ngomong pakai bahasa Mandarin. Kalau jatuh pada anak-anaknya, jarang saya menemui mereka ngomong pakai bahasa Mandarin. Di Medan berbeda. Orang Tionghoa Medan masih sangat setia dengan bahasa ibu mereka meskipun sudah tidak tinggal di China lagi.

Lain lagi Surabaya, lain lagi Medan, lain pula Tionghoa Jogja atau Jawa Tengah pada umumnya. Di sini (Jogja) saya beberapa kali tertipu. Di kantor saya, saya punya beberapa teman dan relasi dari etnis Tionghoa. Saya tertipu karena saya pikir teman saya tersebut adalah orang Jawa tulen tapi nggak tahunya adalah orang etnis Tionghoa.

Kenapa pasalnya? Kenapa saya bisa sampai salah? Gara-garanya logat bicara kawan dan relasi saya tersebut tak ada yang mencirikan orang Tionghoa sama sekali. Terus didukung juga oleh ciri-ciri fisik yang kebetulan tak seperti orang Tionghoa kebanyakan yang matanya kebanyakan sipit. Saya salah karena terkecoh oleh logat Jawa teman saya yang memang sangat medok, fasih, luwes berbahasa Jawa seperti logat orang Jawa Jogja pada umumnya.

Kembali saya jadi ingin membandingkan antara Orang Jawa di Jogja dengan dengan orang Tionghoa di Surabaya. Keduanya sama, dalam konteks cara mereka berbicara. Jika ngomong dalam bahasa Indonesia, sama-sama tak bisa menyembunyikan asal mereka darimana karena logatnya yang sangat kental mengikuti cara mereka berbicara. Saya pun waktu tahun 1998 tinggal di Samarinda Kalimantan dalam sebuah pembicaraan lewat telpon pernah ditebak orang sana karena logat Jawa saya yang sangat medok.

Kalau kita mau sedikit merenung dan mau belajar dari para etnis Tionghoa, terus terang saya jadi sedikit malu sekaligus prihatin dengan para orang tua sekarang yang lebih mengutamakan ngajari anaknya dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris tapi menganaktirikan bahasa ibu mereka sendiri. Seharusnya kita belajar dari etnis Tionghoa Medan. Meski mereka tinggal di negara asing yang mayoritas berbahasa Indonesia, terlebih di Medan yang sehari-hari pakai bahasa melayu tetapi, toh mereka tetap setia dan tak melupakan bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Mandarin.

Kedua, kalau kita mau belajar dari para etnis Tionghoa di Jogja yang begitu pandai berbahasa Jawa dan logatnya yang benar-benar luwes menyatu seperti orang Jawa, saya jadi malu kembali, mengapa kita para orang tua justru mengajari anak kita dengan bahasa Indonesia dan mengesampingkan bahasa ibunya sendiri, bahasa Jawa? Bukankah idealnya kedua bahasa itu seharusnya diajarkan sejajar pada anak kita? Sedih rasanya kalau saya mengamati keluarga Jawa sekarang yang anak-anaknya sudah tidak bisa boso kepada para orang tua.

Sedih, bahasa ibu kini benar-benar seperti anak tiri yang benar-benar sudah dianaktirikan. Maaf, untuk kasus keluarga dengan perkawinan multi etnis mungkin bisa saya kecualikan. Karena orang tua seperti ini mungkin akan kesulitan mengajarkan tiga bahasa sekaligus, dua bahasa ibu kedua orang tuanya dan bahasa Indonesia sekaligus kepada anak-anaknya.



Bookmark and Share

Sabtu, 05 Juni 2010

Change Your Life

Change Your LifeSebenarnya ini tulisan lama yang pernah ditulis Rhenald Kasali 5 tahun yang lalu saat selesai merelease buku "Change!" ke publik. Saya ambil tulisan ini dari salah satu Forum Alumni Fisip Unpar. Artikelnya cukup menarik. Menarik karena mengulas tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi sebuah perubahan. Menarik karena Rhenald Kasali menyindir fakta secara umum bagaimana rata-rata orang kebanyakan enggan menerima sebuah perubahan. Enggan untuk mau mengakui sebuah realita yang baru di depan kita.

Rhenald Kasali kali ini tak hanya sekedar menyindir kita tapi juga membeberkan contoh-contoh kongkritnya di kehidupan nyata dalam tulisannya ini. Selamat membaca dan semoga Anda bisa lebih siap menerima perubahan setelah membaca tulisan ini.

Menyangkal Realita Baru
Oleh: Rhenald Kasali

Saya mohon maaf harus absen mengisi kolom ini beberapa kali. Sejak buku Change beredar, Saya terpaksa harus mempertanggung-jawabkan pemikiran-pemikiran Saya kepada publik. Banyak kisah nyata tentang perubahan yang Saya temui dan tentu saja ribuan curhat dari mereka yang rela dicaci-maki demi perubahan.

Menjadi Change Maker memang tidak mudah. Surat kaleng, SMS palsu, fitnah, sampai upaya-upaya fisik yang mematikan kerap harus dihadapi. Kepada kelompok ini, Saya hanya bisa mengatakan, Gandhi saja yang wajahnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan, mereka bunuh, apalagi Anda yang bukan siapa-siapa.

Persoalan terbesar manusia di era yang berubah ini sebenarnya hanya satu, yaitu tidak berani menerima realita-realita baru. Sebagian besar karyawan, eksekutif dan birokrat yang Saya temui masih terbelenggu pada kisah sukses di masa lalu. Mereka berpikir solusi yang mereka temukan di masa lalu itulah solusi yang sesungguhnya.

Buktinya ada, yaitu bonus dan kesejahteraan. Makan siang disediakan dan karyawan bisa bergantian memainkan alat musik. Mengapa kita tidak pakai cara yang sama untuk mengatasi masalah hari ini?

Seperti menemui jalan buntu, banyak orang yang tiba-tiba mulai menggunakan kata "Dulu ......" ketika memulai pembicaraannya untuk mengacu ke masa lalu.

Sinar terang yang menyinari suatu usaha bisa berarti manfaat, tapi juga bisa menjadi mudharat. IBM contohnya, sukses dengan komputer mainframe di tahun 70'an membuatnya menyangkal realita baru pasar PC. Motorola bahkan lebih gawat lagi. Setelah sukses dengan celluler analog, ia menyangkal kehadiran digital handphone dengan melakukan investasi-investasi baru pada bidang analog. Xerox juga sempat terengap-engap saat menyangkal kenyataan munculnya pasar personal-copier yang dirilis Minolta, Canon dan Ricoh. Ensiklopedia Britanica juga menyangkal realita baru membaca buku pintar yang diputar oleh Microsoft (Encarta).

Di Indonesia sendiri ada ribuan pelaku usaha yang juga menyangkal realita-realita baru. Teman-teman di perkebunan teh tengah menyangkal kenyataan bahwa masyarakat dunia sudah mulai minum teh tanpa daun teh sama sekali. Sekarang ini, pergulatan terbesar justru tengah dihadapi universitas-universitas negeri. Ada demikian banyak realita-realita baru yang bermunculan dan mereka terus berdebat dengan menggunakan ukuran-ukuran lama untuk menilai hari esok. Mereka menggunakan pengalaman- pengalaman lamanya kala bersekolah yang penuh dengan kesulitan untuk dibingkaikan pada generasi baru yang bergerak dengan cara yang berbeda.
Padahal kepada mereka, Albert Einstein pernah menyatakan, "the measure of intelligence is the ability to change" (ukuran kecerdasan Anda adalah kemampuan Anda untuk berubah, menerima kenyataan baru).

Sulit dibayangkan dewasa ini masih ada banyak orang yang hidup di jaman kemarin dan dibiarkan terus mengepalai kegiatan untuk membawa organisasi ke masa lalu, tetapi semua ini juga terjadi karena organisasi dibiarkan dikuasai oleh kalangan "pedalaman" yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dalam kantor tanpa berinteraksi dengan dunia luar sama sekali.

Dalam setiap institusi kita dengan mudah membedakan, mana kalangan "pedalaman" dan mana yang "pesisir". Kalangan pesisir selalu berinteraksi dengan dunia luar, tetapi ia banyak membawa hal-hal baru. Ia lebih mudah menerima fakta-fakta baru. Sebaliknya kalangan pedalaman cenderung memelihara tradisi. Seorang usahawan senior membisiki Saya, sekarang ini, katanya, "tradition is a number one killer!". Saya pikir ini ada betulnya.

Catatan Kaki:
Apakah Anda sudah siap berubah? Jika Anda tak harus benar-benar berubah, ada baiknya Anda juga perlu Belajar dengan China bagaimana cara negara China menyikapi sebuah perubahan akibat adanya arus globalisasi di satu sisi, tapi di sisi lain China tetap teguh memegang prinsip dan warisan budayanya. Dan hasilnya, Anda bisa lihat bagaimana kemajuan pesat ekonomi negara China seperti sekarang ini.

Semoga Anda tak bosan membaca artikel kutipan-kutipan saya, sama seperti Pelajaran Buat Sang Pramugari kemarin, dan juga kali ini lagi-lagi tentang pernyataan Rhenald Kasali. Anggap saja ini posting trilogi tentang Rhenald Kasali. Ngomong-ngomong, barangkali ada yang belum tahu atau Anda ingin mengetahui lebih detil siapa sosok Rhenald Kasali, bisa baca Biografi singkatnya di sini.




Bookmark and Share

Selasa, 01 Juni 2010

Pelajaran Buat Sang Pramugari

Pramugari ChinaDalam sebuah kesempatan training motivasi yang pernah saya ikuti awal tahun 2007 lalu di Jakarta, Krishnamurti pernah mengatakan pada kami agar jangan pernah memberikan senyum tak tulus kepada seorang pelanggan. Mengapa? Sebab senyum tak tulus atau palsu bisa terlihat di mata orang lain. Senyum tak tulus bisa ditangkap karena auranya terpancar berada di sekitar Anda. Begitu pesannya.

Sama seperti perkataan Krishnamurti, pesan moral dalam cerita dari email yang dikirim oleh seorang kawan saya ini juga hampir sama, ada baiknya Anda juga jangan memandang rendah orang dari penampilan luarnya saja tetapi harus tetap menghargai setiap orang dengan tulus apapun penampilannya. Tulisan curhat dari seorang Pramugari China ini saya nggak tahu apakah Anda sudah pernah membacanya atau belum. Jika misalnya belum, saya persilahkan Anda untuk membacanya! Semoga tulisan ini bisa menggugah hati Anda.

Pelajaran Buat Sang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga
.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya.
Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang
.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang modern, yang kaya raya, yang pejabat, yang pengusaha, yang sangat terhormat, yang sangat terpelajar, ternyata mereka banyak tingkah, cerewet, angkuh, senyum dan ucapan terimakasihnya hanya basa-basi belaka, penuh kepalsuan dan lain-lain,
tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua miskin yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih yg tulus, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya,
perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dengan tulus dan mensyukuri apa yang sudah kita dapat.
Sungguh luar biasa berharga pelajaran yg sudah saya terima………
.




Bookmark and Share

Senin, 15 Maret 2010

The Power of Giving

The Power of GivingMENULIS identik dengan berbagi, dengan memberi. Ada yang bilang BERBAGI itu indah, bikin Hidup jadi lebih Hidup. Benarkah? Kalau misalnya benar, mengapa ada banyak orang pintar sekarang ini tapi tidak sedikit yang masih beranggapan jika saya membagi ilmu saya, bukankah itu berbahaya buat diri saya sendiri, karena bisa membuat saya bisa tidak dibutuhkan lagi, berbahaya karena mereka yang akan saya bagi ilmu suatu saat akan menjadi pesaing saya.

Atau, saya juga sering menjumpai ada orang yang gemar membaca tapi enggan untuk menulis. Anda masih ingat dengan point ke-8 pada salah satu tulisan saya 10 Alasan Mengapa Orang Enggan Ngeblog? Silahkan Anda baca dulu tulisan saya tersebut jika kebetulan Anda belum sempat membacanya.

Terkait dengan MEMBERI atau bahasa kerennya The Power of Giving. Saya ada cerita menarik yang menggambarkan tentang kekuatan memberi. Saya kutip dari tulisan seorang Life Inspirator, Johanes Arifin Wijaya dari Majalah Intisari, ada cerita menarik yang menggambarkan tentang hal memberi, dari buku The Man Nobody Knows karya Bruce Barton. Dalam buku tersebut diceritakan, di Palestina ada dua laut, laut yang pertama bernama Laut Mati dan yang kedua bernama Laut Galilea. Keduanya sangat berbeda jauh meskipun sebenarnya berasal dari aliran sungai yang sama, yaitu berasal dari sungai Yordan.

Apa perbedaan dari kedua laut tersebut? Kalau Laut Mati, rasanya sangat asin karena kandungan garamnya sangat tinggi, lebih tinggi dari asinnya air laut pada umumnya. Sehingga karena saking asinnya menebarkan bau yang sangat tidak sedap ke sekeliling pantainya sehingga tak ada orang yang ingin atau mau tinggal di sekitar lautnya apalagi hidup didalamnya, karena mahluk hidup akan mati kalau hidup di dalamnya.

Sementara laut yang satunya bernama danau Galilea atau sering disebut Laut Galilea. Mengapa disebut laut dan bukan danau? Karena saking luasnya maka banyak orang menyebutnya laut. Berbeda dengan Laut Mati yang memang mati beneran karena tidak menebarkan kehidupan di sekitarnya, kalau Laut Galilea ini airnya sangat jernih, bisa diminum, banyak ikan, dan manusia suka berenang di dalamnya. Danau itu juga dikelilingi ladang dan kebun hijau dan banyak orang yang mendirikan rumah di sekitarnya.

Kalau keduanya berasal dari sungai yang sama, mengapa keduanya bisa jauh berbeda 180 derajat? Apa penyebabnya? Penyebabnya ternyata disebabkan karena karena laut yang satu, yaitu Laut Mati hanya mau menerima tapi tidak mau Memberi, sementara laut yang satunya, Laut Galilea mau menerima tapi juga mau memberi. Aliran air dari sungai Yordan yang mengalir ke Laut Galilea dari dasarnya dialirkan juga ke danau lain yang kemudian memanfaatkan airnya, sementara Laut Mati serakah, air yang masuk hanya ditampung di lautnya sendiri tidak pernah keluar lagi.

Luar biasa! Bukankah ini sebuah gejala alam yang diberikan tuhan untuk mengingatkan kita semua agar kita mau BERBAGI, TIDAK SERAKAH dan mau MEMBERI kepada sesama?

Hem, kalau ada kata MEMBERI, saya jadi ingat dengan tulisan dalam posting saya terdahulu. Baca BerQurban, Benarkah Hanya Untuk Orang Kaya? Didalam tulisan saya tersebut saya mengutip tulisan pada buku difference for excellence karangan Ashoff Murtadha. Di buku tersebut ada kata-kata seperti ini:

“Untuk menolong si miskin, seseorang tidak perlu menunggu jadi kaya. Untuk menolong orang susah, ia tidak perlu menunggu hidupnya mudah. Untuk menolong orang bodoh, ia tidak perlu menunggu menjadi pintar dulu. Untuk melakukan kebaikan, ia tidak harus menunggu segala sesuatu pada dirinya sempurna dulu. Justru penyempurnaan akan dicapai saat kebaikan itu dijalankan. Penyempurnaan itulah yang akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya amal kebaikan.”

Saya bukan seorang inspirator, juga bukan seorang motivator, tapi lewat tulisan ini tidak ada salahnya, kan saya ingin mengajak Anda untuk BERBAGI, bisa berbagi dengan cara memberi sesuatu yang tidak selalu bersifat materi. Contoh salah satunya dengan MENULIS atau ngeblog seperti saya misalnya, yang siapa tahu bisa memberi manfaat buat orang lain.




Bookmark and Share

Rabu, 18 November 2009

5 Pelajaran Dari Seorang Dokter

Dokter

Kalau ada profesi yang tidak perlu gencar melakukan promosi marketing, mungkin salah satunya adalah dokter. Dan kalau berbicara profesi dan perusahaan apa yang tidak menerapkan promosi marketing bahkan malah membuat persuasi yang bertentangan dengan teori marketing itu sendiri, jawabannya juga sama adalah dokter. Yang kedua mungkin Rumah Sakit dan perusahaan PLN.

Nah, terkait dengan seorang dokter dan rumah sakit, saya punya pengalaman mengantar anak saya pergi berobat ke dokter di sebuah Rumah Sakit swasta yang cukup terkenal dan favorit di Jogja karena sangat terkenal dengan pelayanannya yang bagus dan peralatan medisnya yang cukup lengkap. Rumah Sakit yang menjadi langganan saya, termasuk semua anggota keluarga saya kalau sedang sakit akan berobat kesana. Saya jadi ingat dengan kata-kata Lisha, kawan blogger saya yang pernah mengomentari posting saya yang berjudul Saya Mirip Tukang Rombeng Apa Orang Smart? Yang mengatakan kalau orang terlalu pintar malah bikin mumet karena banyak pertimbangan. Dan sekarang, boleh dong saya beropini kalau orang semakin tua dan makin pintar akan cenderung rewel dan cerewet. Benar, tidak?

Dan hari ini saya baru mendapat beberapa pelajaran berharga dari seorang dokter tua berumur sekitar 50-an tahun tetapi pintar karena saya lihat cukup banyak embel-embel gelarnya di depan dan belakang namanya. Profesor, Dr, DTMH, DSAK dan PhD. Dan satu lagi saya tambahkan gelarnya, cerewet. Maaf, saya bilang cerewet tapi memang kenyataannya demikian. Namun saya sportif, tidak mau menampik, mengakui kalau apa yang dicerewetin ke saya semuanya itu benar. Dan ini adalah kelima pelajarannya yang bisa saya petik agar anda tidak mengulang kesalahan sama seperti yang sudah saya lakukan.

1. Peduli Dengan Anak

Anak saya yang berumur 7 tahun kebetulan lagi sakit panas dan muntah-muntah selama dua hari. Kalau biasanya yang mengantar dan mendampingi periksa ke dokter adalah istri saya, maka kali ini saya sendiri, bapaknya. Sewaktu dokter bertanya ke saya berapa kali muntah-muntahnya dalam sehari, saya tidak bisa menjawab kemudian telpon ke istri saya. Dan dokter tersebut berkata ke saya: “Pak, lain kali kalau mengantar anaknya ke dokter itu Ibunya atau siapa aja yang tahu kondisi persis sakit anaknya. Kalau seperti ini, kan susah gimana saya bisa mengetahui penyakitnya kalau informasinya tidak jelas?” Saya kemudian berusaha membela diri sedikit dengan mengatakan: “Ibunya sedang mengantar anak saya yang kecil sekolah, Dok sehingga saya sendiri yang mesti mengantar.” Jawab saya sedikit malu ditodong dengan pernyataan seperti itu. Pelajaran pertama. Jangan diulang kesalahan saya, ya yang kurang peduli dengan sakit anaknya. Atau kalau bisa sebelum ke dokter mesti nanya-nanya istri dulu secara persis sakitnya apa dan tolong hafalin biar tidak gelagap-gelagap kalau sedang ditanya dokter. He…He…

2. Jaga Kesehatan

Ini yang saya bilang di muka kalau dokter adalah profesi yang tidak menerapkan promosi marketing bahkan malah membuat persuasi yang bertentangan dengan teori marketing itu sendiri. “Tolong dijaga kesehatan anaknya agar tidak sering sakit-sakit, “ begitu pesan dokternya pada saya. “Nah, kalau saya selalu menjaga kesehatan dan tidak sering sakit berarti jarang ke dokter, kan Dok?” kataku dalam hati. Lha memang iya kan? Orang sakit adalah sama seperti omzet kalau dalam perusahaan Retail. Sama juga seperti prospek kalau dalam perusahaan asuransi. Dia menyuruh saya menjaga kesehatan berarti bertentangan dengan kenyataan bahwa dia, para dokter dan Rumah Sakit yang secara kenyataan, kecuali RSU karena disubsidi pemerintah, bisa tetap eksis karena dapat pemasukan dari pasien yang berobat, kan? Dan maaf, beberapa Rumah Sakit malah sudah ada yang benar-benar berani mengkomersialkan orang sakit. Menyuruh orang untuk opname atau rawat inap padahal sebenarnya dengan rawat jalan saja sudah cukup. Dan fakta lain, ada yang mengganti nama rumah sakitnya menjadi Rumah Sakit dengan embel-embel Internasionalnya padahal bukan. Nah, sekali lagi sebuah pelajaran, jaga kesehatan.

3. Diagnosa

Saya sekeluarga kebetulan ikut program asuransi Medicare, tepatnya perusahaan tempat saya bekerja yang mengangsuransikannya. Kebiasaan yang tidak boleh saya lupakan sebagai syarat claim asuransi saya adalah selalu minta kwitansi, diagnosa dan copy resep setiap kali ke dokter. Ngomong-ngomong masalah diagnosa, saya baru ngeh sekarang setelah dokter menjelaskan ke saya. Sebenarnya diagnosa itu hanya untuk kalangan medis, tidak boleh pasien minta hasil diagnosanya ke dokter. Makanya dia heran dan mempertanyakan, kok perusahaan asuransi saya minta diagnosa itu. Saya tidak tahu apa memang benar seperti ini ketentuannya. Dan lebih lanjut dokternya menjelaskan kepada saya, kalau seorang dokter terjadi salah dalam memberikan diagnosa itu bisa dituntut di pengadilan dengan hukuman penjara maksimal 1 tahun atau denda senilai Rp 200 juta. Nah, dengan saya minta diagnosa tersebut, dokter punya peluang untuk saya tuntut jika terbukti diagnosa yang diberikan salah. Makanya di lembar yang menyatakan diagnosa tersebut, saya diminta oleh dokternya agar ikut tanda tangan juga yang intinya menyatakan tidak keberatan dengan diagnosa tersebut.

Weleh-weleh, bagaimana saya bisa nuntut, lha wong saya sendiri juga gak mudeng istilah medis, tulisan dokter juga rata-rata pakai huruf latin yang susah untuk dibacanya. He….He… Saya sebetulnya mau bilang jelek kok pekewuh, takut nanti Mbak Vicky, kawan blogger saya yang kebetulan seorang dokter juga tiba-tiba mampir dan membaca posting ini bisa gawat nanti. Pelajaran ketiga, jangan mengeluh kalau pelayanan di rumah sakit lama karena dokter ternyata butuh ketelitian untuk mendiagnosa masing-masing pasiennya.

4. Mentang-mentang Asuransi

Masih terkait dengan diagnosa, sewaktu saya minta ke dokternya, dokternya bertanya kepada saya: “Mana form claim asuransinya yang harus saya isi?” Begitu tanyanya. “Tidak ada, Dok. Saya sudah sering berobat kesini, bahkan hampir sebulan sekali dan biasanya oleh dokter yang meriksa cukup ditulis di salah satu lembaran kertasnya, Dok,” kataku menjelaskan. “Ah, dokter ini benar-benar rewel dan cerewet. Lain kali saya akan bawa formnya biar tidak protes melulu, “ kataku dalam hati sedikit menggerutu. “Jangan pernah merasa karena sudah diasuransikan terus sedikit-sedikit berobat ke dokter, “ Mungkin itu sindirannya yang dilontarkan pada saya sewaktu menceritakan hampir sebulan sekali berobat ke dokter. Padahal maksud saya cerita seperti itu untuk menegaskan ke dia kalau dokter lainnya tidak nanya-nanya detil seperti ini. Kenapa dia, kok beda sendiri. Pelajaran keempat, lain kali jangan lupa membawa form asuransinya.

5. Surat Dokter

Saya sebenarnya tidak minta surat dokter buat ijin ke sekolah anak saya. Tapi dokter tanpa saya minta memberikan surat ijin kepada anak saya. “Sebenarnya kalau anak-anak yang sakit yang terpenting bukan surat ijin seperti ini tapi seharusnya ada komunikasi dari orang tua anak ke gurunya di sekolah. Itu yang lebih penting.” Kata dokter tersebut kembali menceramahi saya. Pelajaran kelima, selalu menjaga hubungan dengan guru anak di sekolah.

Inilah kelima pelajaran yang saya dapat hari ini, saat mengantar anak saya berobat ke rumah sakit. Mudah-mudahan anda yang membaca posting ini tidak mengulang beberapa kesalahan saya dan mengerti bahwa menjadi dokter seharusnya memang seperti itu, harus teliti, detil dan terkadang harus cerewet.



Bookmark and Share

Senin, 09 November 2009

BerQurban, benarkah hanya untuk orang kaya?

Qurban

Ada dua kejadian yang cukup menggugah hati saya. Dan kalau ditarik ternyata ada benang merah yang saling terkait menghubungkannya. Kejadian pertama, saya baru selesai membaca buku difference for excellence karangan Ashoff Murtadha. Di dalam buku tersebut ada kata-kata yang cukup membuat saya terhenyak. Setidaknya, ini sudah mementahkan tulisan saya yang berjudul Antara Kultum dan Rule Model, salah satu artikel posting saya yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu. Berikut saya kutip sedikit isi kata-kata dari buku tersebut:


“Untuk menolong si miskin, seseorang tidak perlu menunggu jadi kaya. Untuk menolong orang susah, ia tidak perlu menunggu hidupnya mudah. Untuk menolong orang bodoh, ia tidak perlu menunggu menjadi pintar dulu. Untuk melakukan kebaikan, ia tidak harus menunggu segala sesuatu pada dirinya sempurna dulu. Justru penyempurnaan akan dicapai saat kebaikan itu dijalankan. Penyempurnaan itulah yang akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya amal kebaikan.”


Duh, saya benar-benar merasa tersindir, sedih dan nelangsa banget membaca kutipan kata-kata tersebut. Jujur, saya termasuk orang yang belum bisa berbuat banyak untuk bisa membantu orang lain. Saya selalu punya seratus satu alasan tiap kali hati ini tergerak untuk berniat membantu sesama. Ah, semoga anda tidak seperti saya, orang yang terlalu banyak berpikir kalau diminta berbuat kebajikan untuk membantu sesama.

Kejadian yang kedua, ini terkait dengan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban, hari raya agama Islam yang akan dirayakan seluruh umat muslim, salah satunya termasuk saya, pada tanggal 27 November 2009 nanti. Ada seorang kawan hari Jumat lalu curhat kepada saya. Dulu dia berpikir-- pikiran yang sama seperti pendapat saya – bahwa seorang muslim yang diwajibkan berQurban adalah hanya orang yang sudah mampu saja. Dan definisi mampu disini gambarannya, bukan orang seperti dia yang masih menempuh kuliah, uang masih nodong minta orang tua setiap bulannya, tapi pastilah seseorang yang sudah bekerja dan paling tidak, kaya sehingga mampu untuk berQurban.

Suatu waktu di jaman kuliahnya dulu kawan saya menceritakan berniat akan berQurban karena disuruh oleh orang tuanya. Singkat cerita dia kemudian hunting ke desa-desa untuk mencari kambing buat Qurban. Akhirnya tiba lah dia di sebuah desa di kabupaten Bantul Yogyakarta. Dia mendapati seorang anak desa yatim miskin karena sudah ditinggal mati bapaknya. Anak tersebut punya beberapa ekor kambing yang siap dijual untuk dipakai berQurban. Kawan saya kemudian menceritakan berniat membeli satu ekor kambing yang paling besar diantara kambing lainnya. Tetapi anak tersebut menolak menjualnya. Teman saya kemudian bersikeras mencoba membujuk anak tersebut agar mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Tapi anak tersebut tetap bersikeras menolak dan mengatakan: “Silahkan Bapak pilih kambing saya yang lainnya, Pak asal jangan kambing yang paling besar ini.”

Teman saya kemudian menawar: “Berapa harga yang kamu minta untuk kambing yang paling besar ini, Dik? Tolong sebutkan berapa, saya tidak akan nawar dan berapa pun harga yang kau minta saya akan bayar,” tegas kawan saya sedikit memaksa.

Anak tersebut tetap bersikukuh tidak mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Selidik punya selidik kawan saya jadi makin penasaran apa yang menjadi alasannya sehingga anak tersebut kekeh, tidak mau menjual kambingnya. Dan inilah alasan anak itu, yang membuat kawan saya jadi tersentak kaget mendengar jawabanya. “Bapak, kambing ini tidak saya jual karena mau saya pakai buat Qurban saya sendiri.”

Betapa terkejutnya kawan saya tersebut mendengar jawaban polos anak tersebut. Anak yang masih kecil, melarat, yang baru menginjak umur belasan tahun, dan masih duduk di bangku kelas 5 SD, yang untuk hidup sehari-hari saja susah, kok ya mau berQurban? Apalagi ini kambing yang paling besar pula, yang tentu saja bagi kebanyakan orang yang mau sedekah tentu merasa eman-eman untuk memakainya buat Qurban. Mending dijual aja buat makan atau biaya hidup lainnya. Toh, dia masih bisa Qurban dengan kambing lainnya yang lebih kecil. Deg! Kawan saya tersebut langsung menangis terharu, tersentuh hatinya mendengar jawaban polos anak tersebut. Jawaban, yang sekali lagi sudah mementahkan pendapat saya dan pendapat dia juga, bahwa berQurban hanya dilakukan oleh orang-orang kaya dan dewasa saja.

Dari dua kejadian ini, setidaknya sudah ada dua kejadian yang merupakan sebuah teguran tuhan kepada saya bahwa untuk tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, seharusnya saya tidak punya alasan lagi untuk menolak berQurban karena berbagai macam alasan.

Semoga cerita ini bisa sedikit menggugah hati anda. Dan harapan saya, meskipun anda yang baca tulisan ini bukan seorang muslim, terlebih seandainya iya, semoga anda bukan termasuk orang seperti saya, yang lupa kepada penciptaNya dan tidak mau berbuat baik membantu meringankan beban sesama, dengan salah satunya mau berQurban buat orang miskin di hari raya Idul Adha. Amin.
Selamat menyambut dan merayakan hari raya Idul Qurban, kawan!



Bookmark and Share