Kamis, 26 Januari 2012

Perseorangan Dilarang Import CD/DVD Musik Atau Film Dari Luar Negeri, Tapi Silahkan Membajak Saja Di Internet

Maraknya polemik seputar SOPA dan PIPA di internet yang membatasi kebebasan pengguna di internet ternyata cukup ramai juga jadi trending topik di sosial media seperti Twitter dan Facebook. Termasuk, sampai saat ini di blog tak sedikit teman-teman blogger saya yang membahas masalah ini. Nah, kali ini saya pun ingin mengulas topik ini, mengulasnya dari aspek hukum dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita.

Stop SOPA & PIPA
Stop SOPA dan PIPA

Apa Anda sudah tahu? Ternyata UU di negara kita banyak juga yang aneh aturan dalam pasalnya yang mengatur masalah perlindungan hak cipta ini, khususnya tentang masalah perlindungan hak cipta perfilman dan musik. Dan secara tak langsung, ini opini saya pribadi, justru menyuburkan praktek atau tindakan ilegal. Yaitu Praktek Membajak dan mengunduh barang berhak cipta seperti film dan musik dari internet. Karena, hingga sekarang ini kebebasan sebagai warga negara di NKRI memang masih dibelenggu. Contoh, kalau Anda ingin membeli CD/DVD musik atau film dari luar negeri saat ini dilarang oleh negara dengan alasan tertentu.

Minggu, 22 Januari 2012

Can I Trust You?

Sisi trust, lagi-lagi tentang kepercayaan transaksi e-commerce di negara kita. Saya ada pengalaman agak kurang menyenangkan pernah diinterogasi oleh calon klien saya. Saya sebut interogasi karena mirip benar dengan gaya bertanyanya Polisi waktu sedang Mem-BAP saya. He2...


Broken Trust


Ada klien yang mau transaksi senilai $70-an USD dengan saya tapi tanyanya macam-macam. Inti pertanyaannya jelas, saya ini nipu apa tidak. Saya kutip sebagian pertanyaan dari klien yang pernah diajukan ke saya via Twitter:


# Kalau boleh tahu, anda berkediaman di mana, indonesia ataukah LN? :)
# Ok berapa lama anda bekerja seperti ini?
# Maaf yah, ada satu pertanyaan lagi, bagaimana saya bisa mempercayai anda, karena kan begitu banyak dusta dalam bekerja di dunia online?


Saya hanya tersenyum kecut kala menerima pertanyaan seperti itu. Antara wajar dan bisa menerima karena memang begitu banyak kasus scam di negara kita sehingga wajar saja jika ada orang yang begitu hati-hatinya dan curiga sama orang di internet. Namun, di sisi lain juga kurang bisa memahami kenapa ada orang yang begitu curiganya ke saya sementara orang yang bertanya seperti itu seorang intelektual muda yang sangat melek internet. Karena saya melihat dia juga sangat aktif di Twitter.

Sabtu, 21 Januari 2012

Pakai Speedy Internet Saya Ngebut dan Stabil

Awal bulan Januari 2012 ini di rumah saya mulai berlangganan paket internet Speedy. Awalnya sebelum saya memutuskan pakai Speedy saya sempat ragu-ragu juga. Bukan apa-apa karena cerita dari beberapa teman yang sudah pernah berlangganan Speedy, katanya Speedy banyak sekali masalah. Sering sekali trouble. Dan ini tentu saja membuat saya apriori, tak begitu tertarik menggunakan ISP milik PT Telkom ini.

Dan apa yang saya kawatirkan kemudian ternyata samasekali tidak terbukti waktu saya sudah mencobanya. Kecepatan Speedy di rumah saya ternyata lumayan ngebut. Hem, saya tidak tahu apakah ini dikarenakan pengaruh jaringan backbone yang digunakan Telkom ke perumahan saya sudah menggunakan jaringan FO (Fiber Optic) sehingga kecepatan Speedy di rumah saya sangat cepat dan stabil.

Seberapa cepat? Di bawah ini saya tunjukkan bukti screnshootnya saat saya test menggunakan Speedtest.net. Lumayan juga kecepatan downloadnya bisa nembus sampai angka 3.31 Mbps. Kecepatan upload nembus 0.51 Mbps.

Test Speed Speedy Pakai SpeedTest.Net
Test Kecepatan Speedy Pakai SpeedTest.Net

Ya, kecepatan di atas memang masih kalah jauh dengan kecepatan Telkomsel Flash saya saat ini yang pernah saya test di sini, baca “Era Baru Layanan Mobile Broadband 3”. Tapi soal kestabilan speednya jaringan wireless GSM masih kalah dibandingkan dengan jaringan kabel.

Sabtu, 14 Januari 2012

Gratisan Itu Tidak Tahan Lama dan Rawan Masalah

Template
Hari Kamis 12 Januari 2012 malam kemarin saya akhirnya memutuskan untuk mengganti template blog ini. Setelah sekian lama hampir tiga tahun lamanya sejak bulan Agustus 2009 blog ini belum pernah sekalipun ganti template. Uh, lama sekali, ya? Kenapa tiba-tiba ganti template? Gara-garanya, template saya yang lama mengalami error. Maklum template gratisan yang beberapa image ada yang embed dari layanan gratis Photobucket jadi begitu layanan gratisan dari Photubucketnya ditutup (limited) akhirnya template jadi error. Beberapa image berupa icon dan background yang seharusnya tampil jadi gagal muncul.

Gratisan Itu Tidak Tahan Lama dan Rawan Masalah. Betul? Sepertinya rumus itu banyak berlaku di semua layanan, tak terkecuali layanan di internet. Namanya juga barang/layanan gratis jadi sepenuhnya bergantung belas kasihan yang memberi. Jika yang memberi sudah mulai itung-itungan dan menyatakan tidak mendapat sharing benefit apa-apa, alhasil ditutup lah layanan gratis mereka. Jadi sebagai pengguna barang gratisan kita mesti tahu diri juga dengan membayar, jangan cari yang gratisan melulu. :D

Terkait masalah layanan gratisan saya ada contoh. Contoh yang sebaiknya dihindari, dalam berbisnis sebaiknya menghindari layanan gratis. Karena, sekali lagi yang gratisan itu tidak tahan lama dan rawan masalah, dan juga dicurangi. Saya akan cerita pengalaman buruk saya menggunakan layanan gratis. Yaitu layanan Forwarding Pembelian Online. Hanya karena ingin menghemat biaya membership fee alamat forwarding di USA, saya akhirnya malah orot-orot biaya. Kena cekik pajak bea masuk tinggi di DHL, dan juga masih ditambah barang order klien Jasa Pembelian Online saya hilang dicuri oleh, entah oknum dari DHL, Shipper, atau Pabean (Custom). Next saya akan ceritakan pengalaman buruk saya menggunakan jasa kurir luar negeri dari DHL.

Senin, 09 Januari 2012

5 Alasan Mengapa Anda Wajib Punya NPWP

NPWP
Tulisan saya kali ini akan mengulas sedikit tentang betapa pentingnya kita harus mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Sebentar, saya perlu jelaskan dulu. Saya bukan orang dari Dirjen Pajak apalagi konsultan pajak. Silahkan koreksi kalau nanti ulasan saya ada yang salah. Saya menulis ini hanya berdasar pengetahuan dan pengalaman saya pribadi dari sudut wajib pajak biasa. Alasan saya menulis? Tentu sebagai warga negara yang baik tak ada salahnya, kan saya menyeru, mengajak Anda agar taat dan tertib pajak. Dengan mempunyai NPWP artinya Anda sudah selangkah lebih baik dan mau tertib pajak kepada negara.

Nah, sekarang langsung kepada intinya mengapa Anda harus atau wajib punya NPWP? Saya sudah mengumpulkan, setidaknya ada lima alasan mengapa kita wajib punya NPWP. Sebegitu penting kah NPWP jaman sekarang? Kalau saya pribadi akan menjawab sangat penting. Kenapa penting? Berikut ini alasan-alasannya.

1. Memudahkan bayar Zakat Mal

Saya seorang muslim. Di agama saya, Islam, kami diwajibkan untuk membayar zakat mal sebesar 2.5% dari penghasilan. Dan karena penghasilan saya sudah masuk nisob (batas) yang wajib untuk membayar zakat maka tidak ada alasan untuk menolak kewajiban ini. Membayar zakat mal.

Lalu apa hubungannya bayar zakat dengan punya NPWP? Hubungannya, dengan memiliki NPWP maka seluruh penghasilan saya yang kena PPh Pasal 21 (Pajak Penghasilan) akan terkontrol atau saya terpaksa harus mengontrolnya. Karena nantinya seluruh pendapatan akan masuk semua dalam laporan PPh Pasal 21 saya. Jadi tentu lebih mudah untuk memonitor berapa besar dan prosentase zakat mal yang akan saya bayar.

Saya sendiri tak tahu persis berapa nominal penghasilan saya sebulan. Maaf, tak tahu bukan berarti karena penghasilan saya besar sekali, ya tapi karena jumlah penghasilan saya memang mawut (campur baur) antara penghasilan offline dan online. Jadi, dengan punya NPWP dan ada laporan bukti PPh Pasal 21, saya bisa tahu penghasilan saya berapa setahunnya, yang akhirnya bisa memudahkan saya dalam urusan membayar zakat mal ini supaya saya tak berdosa karena kurang bayar zakat.

Minggu, 08 Januari 2012

3 Kata Sederhana Namun Berimpact Besar

BroadcastBeberapa waktu yang lalu saya mendapatkan broadcast message melalui BlackBerry saya. Isi pesannya cukup membuat saya terhenyak karena menceritakan tentang kisah yang amat menyentuh.

Berbeda dengan broadcast dari BlackBerry yang seringkali saya abaikan, kecuali tentang Pengobatan Gratis Hydrochepalus beberapa waktu yang lalu, yang sempat saya posting di blog ini, broadcast kali ini membuat saya jadi tertegun sejenak kala membacanya.

Apa isi pesannya? Inti pesannya mengisahkan cerita di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur di sebuah perusahaan. Tepatnya, dalam sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan & kritikan dari anak buah kepada sang direktur yang segera memasuki masa pensiun.

Jumat, 06 Januari 2012

Cost, Risk dan Benefit Dalam Berbisnis

Cost_Risk dan BenefitBerbisnis itu penuh resiko. Hem, sepertinya kata-kata ini sudah sangat sering dan akrab kita dengar. Benar? Berbisnis bisa kena resiko ditipu, resiko rugi, resiko gagal dsb. Karena saking seringnya kita dengar dan takutnya akan resiko ini makanya banyak orang tak berani mulai berbisnis. Tak terkecuali saya, sampai sekarang di usia saya yang awal Januari 2012 ini genap menjadi 39 tahun, saya tetap takut memulai berbisnis. Saya tetap jadi seorang pengecut dengan tetap memilih jalan aman dengan penghasilan pas-pasan menjadi seorang karyawan.

Ya, satu-satunya yang sedikit membanggakan dari diri saya di usia yang sudah tidak muda lagi ini adalah akhirnya saya berani mencoba berbisnis sambilan via internet. Saya berbisnis sambil multitasking kerja kantoran ikut orang. Sebuah pilihan yang sebetulnya tidak mudah juga untuk saya lakukan. Yang namanya kerja multitasking tak jarang membuat kepala saya cenut-cenut kalau harus diberondong banyak pekerjaan. Baik pekerjaan kantor yang menuntut untuk cepat diselesaikan, maupun serbuan order dari prospek yang ingin membeli barang dan minta bantuan Jasa Pembelian Online saya. Belum lagi nanti kalau ada masalah yang membuat hari-hari saya penuh interupsi. Malam-malam saya harus bangun dan tentu saja jadi sulit untuk tidur nyenyak.

Nah, berbicara resiko, boleh saya cerita sedikit tentang pengalaman saya berbisnis di internet. Pagi tadi saya sempat ngetweet di Twitter. Isi tweet saya menceritakan tentang transaksi besar pembelian barang ke luar negeri yang pernah saya lakukan di internet. Beberapa hari yang lalu sempat saya ceritakan di artikel ini “Standar Keamanan Transaksi Situs E-Commerce, Perbankan dan PayPal di Internet”. Tepatnya, sebelum liburan Natal dan tahun baru tahun ini (2012) kalau semua orang banyak yang bersuka cita menunggu perggantian tahun, tapi tidak demikian halnya dengan saya. Mengapa? Karena gara-gara holiday ini salah satu transaksi e-commerce saya dengan nilai 2231.04 USD jadi ikut terlambat. Barang harus pending menunggu liburan di Inggris usai baru bisa dikirim ke Indonesia.

Yang membuat saya kawatir toko onlinenya saya baru kenal dan belum tahu reputasinya seperti apa karena belum pernah transaksi di sana. Saya hanya melihat dari sisi trust secara online saja pakai parameter tool-tool online. Terus kedua, pembayaran barangnya sudah saya transfer via PayPal lunas di muka namun celakanya barangnya harus menunggu lumayan lama, sekitar 12 harian baru dikirim.

Bagaimana kalau ini hanya alasan dari merchantnya saja yang ingin mengulur-ulur waktu atau jangan-jangan ingin menipu saya. Sempat terbesit pikiran jelek seperti itu di benak saya. Dan saya pun sudah menyiapkan resiko paling buruk seandainya itu terjadi. Saya harus jual barang apa yang ada di rumah saya buat mengembalikan duit klien sebesar itu —maaf besar untuk ukuran saya mungkin bisa kecil untuk ukuran Anda— sebagai bentuk tanggung jawab moral saya kepada klien saya.

Dan malam tadi berita menggembirakan itu datang. Alhamdulillah akhirnya senam sport jantung deg-degan karena menunggu beberapa lama akhirnya mereda. Merchantnya memberi kabar ke saya via email akan mengirim barang pesanan saya. Saya diberi kabar tentang detil invoice dan verifikasi sekali lagi masalah alamat pengiriman dan barangnya yang saya pesan. Ah, lega saya terlebih nomor tracking FedEx yang diberikan ke saya statusnya saya cek sudah shipment atau mulai tracking jalan pengirimannya.

Tracking FedEx


Tracking FedEx



Kembali ke masalah resiko berbisnis tadi. Cerita saya di atas hanya sekedar contoh kecil saja mengenai berbisnis. Dan dari contoh kecil ini kini saya mulai belajar untuk berkawan dengan resiko. Ada kelegaan yang sulit untuk saya lukiskan dengan kata-kata bagaimana saat saya bisa memenangkan pertarungan ini. Melawan resiko. Kelegaan setelah harap-harap cemas sekian lama akhirnya bisa terbayarkan lunas dengan reward yang cukup lumayan besarnya sebagai imbalannya.

Terakhir, Satu hal yang bisa saya petik dari pelajaran ini adalah dalam berbisnis, berlaku pada bisnis apapun, semakin besar resiko yang kita ambil, dalam artian semakin besar nilai transaksi bisnisnya, tentu rewardnya juga semakin besar pula. Jadi kalau Anda ingin berbisnis ambil untung (benefit) gede, sepertinya ini sudah hukum alam dan dalam bisnis juga berlaku, pasti butuh pengorbanan gede, biaya modal (cost) duit gede dan kita harus berjuang menempuh resiko (risk) gede pula. Betul?

Pertanyaan saya di akhir posting ini kepada Anda sudah kah Anda mulai berbisnis? Apa resiko terbesar yang pernah Anda lakukan? Silahkan, Anda boleh sharing atau berbagi dengan saya.


Bookmark and Share