twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2013

Terompet Tahun Baru; Waktunya Resolusi Keuangan

Resolusi Keuangan 2014
Selain terompet, yang banyak dipersiapkan orang menjelang malam Tahun Baru adalah resolusi. Perkara akan mereka tepati atau tidak selama 2014, resolusi tetap dibikin. Siapkan malam Tahun Baru dengan kemeriahan dan resolusi keuangan, tentunya Anda harus berkomitmen dalam menjalankannya.

Setelah mengevaluasi seluruh aspek kehidupan Anda di tahun 2013, perkembangan atau perubahan apa yang Anda alami dalam segi keuangan Anda? Jika Anda sudah berkeluarga, kira-kira apa lagi yang harus Anda siapkan untuk masa depan keluarga, terutama anak Anda? Apalagi yang akan Anda beli, atau apakah Anda punya rencana berlibur? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul di benak Anda berikut segala renacana lainnya, namun bukankah tujuan resolusi adalah untuk menjadikan hidup Anda lebih baik? Berikut tips sederhana untuk resolusi keuangan Anda di tahun 2014.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Bisakah Kita Menyembunyikan Penghasilan Dari BI?

Petani
Kemarin ada salah satu teman lewat kontak BlackBerry kirim message BBM ke saya. Dia bertanya kepada saya seperti ini: “Bagaimana caranya supaya penghasilan kita tidak diketahui BI, Mas?”

He2.. Sebuah pertanyaan yang konyol terdengar di telinga saya. Bagaimana mungkin jaman sekarang kita bisa menyembunyikan data finansial kita ke Bank Indonesia, terlebih kalau kita termasuk orang yang punya penghasilan tinggi yang sering berurusan dengan bank.

Teman saya ini sebelumnya juga pernah menanyakan ke saya. Intinya, dia takut penghasilan sampingan dia di luar diketahui kantornya tempat dia bekerja. Gara-garanya setiap ada pembayaran jasa dari pihak pembayarnya selalu meminta NPWP. Dia takut ketahuan kantornya dan takut harus bayar pajak tinggi kalau ketahuan penghasilannya dobel dapat dari luar.

Kembali ke pertanyaan di atas. Bisakah kita menyembunyikan penghasilan dari BI?

Rabu, 23 Mei 2012

Lady Gaga Oh Lady Gaga

Karena semua pada ribut mengomentari kedatangan penyanyi Amrik Lady Gaga, saya jadi terusik juga untuk menulis post ini. Bagaimana tidak? Kemarin di kantor baca koran KR (Kedaulatan Rakyat) di kolom opini ada tulisan Lady Gagal. Sekarang, artinya hari ini, hari masih pagi benar ada juga SMS seruan masuk ke ponsel saya mengajak polling menolak kedatangan Lady Gaga. Belum cukup sampai di situ, baca email dari milis semua juga pada ramai mengomentari pro dan kontra tentang kedatangan Lady Gaga.

Lady Gaga

Berikut saya kutip isi SMS-nya yang dikirim dari nomor yang saya tidak tahu (kenal) siapa pengirimnya tiba-tiba nyelonong masuk ke ponsel saya:

Mohon kesediaan para Kyai/dosen/ustad/guru/profesional/walimurid/mhs/pelajar dan sebagainya utk kirim sms ke 1717 , contoh: kami dr guru2 TK Depok: berdoa semoga Bpk Kapolda Metro & Kapolri diberi kekuatan oleh Allah SWT,sehingga tidak tunduk pada tekanan dan opini para pemuja LadyGaga,yg mencari keuntungan pribadi dan mengumbar syahwat yg jelas2 munkar! Dan sangat tidak mendidik bagi anak2 dan generasi muda kita. 

Dan ini saya kutip salah satu komentar menarik dari kawan saya di milis yang mengomentari Lady Gaga:

Selasa, 17 April 2012

Mental Judi Sangat Baik Buat Modal Berbisnis

Sedari kecil hingga umur setua ini, 39 tahun, saya tidak suka dengan namanya judi. Judi apapun. Mau judi kartu, dadu atau Taruhan Bola, semuanya saya tidak suka. Saya bilang tak suka, ya bukan bilang tidak pernah samasekali. Terdengar munafik kalau tidak pernah main judi. He2… Alasan tak sukanya kenapa? Selain karena di agama saya, Islam diajarkan kalau judi itu termasuk dosa besar dan termasuk perbuatan yang dilarang agama, juga karena saya tak punya mental penjudi sedari kecil. Saya kalau judi takut kalah. Saya selalu gelo, tak rela kalau kalah dan kehilangan uang saya sehingga tak pernah tertarik untuk berjudi.
Casino
Hem, sampai di sini mungkin Anda berpikir sikap saya tersebut Anda anggap baik. Benar? Terlepas dari konteks agama memandang itu baik, sikap saya yang menjauhi judi namun di sisi lain saya justru ingin mengatakan kepada Anda bahwa sikap saya tersebut malah tidak bagus buat perkembangan jiwa bisnis saya kelak saat saya tumbuh dewasa. Justru mental judi faktanya bertolak belakang 180 derajat, sangat baik buat perkembangan mental bisnis. Mengapa?

Sabtu, 25 Februari 2012

Benarkah Manusia Lahir Diciptakan Untuk Dilayani, Bukan Melayani?

Minggu kemarin saya baru saja mengikuti sebuah seminar motivasi saat Rakernas di Tangerang yang diadakan oleh kantor saya. Satu pernyataan yang saya ingat dan selalu terngiang di telinga saya adalah saat speakernya menyodorkan sebuah fakta menarik. Yaitu sebuah analogi menarik yang membandingkan antara bayi manusia dengan bayi binatang.

Apa perbandingannya? Bayi binatang begitu lahir secara naluri langsung bisa survive, bertahan hidup. Sementara bayi manusia tidak. Bayi manusia pasti akan mati kalau lahir dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menolongnya. Betul? Contoh, coba Anda bandingkan anak ayam yang begitu menetas lahir langsung bisa jalan sendiri mengikuti induknya dan bisa mulai belajar cari makan sendiri. Manusia? Boro-boro mencari makan sendiri, jalan sendiri saja tak mampu. Makan pun butuh disuapi baru bisa makan dan bertahan hidup.

Ya, manusia memang mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna melebihi mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Semua tidak bisa menyangkal fakta ini. Namun fakta yang saya sampaikan di atas akan menjadi berbeda 180 derajat keadaannya kalau manusianya adalah bayi manusia yang baru lahir. Manusia justru mahluk paling lemah tak berdaya yang butuh bantuan pertolongan manusia lainnya untuk bisa bertahan hidup dibandingkan dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

Melayani

Jadi, tidak salah kalau saya menyimpulkan bahwa sejak lahir manusia memang dikondisikan atau ditakdirkan untuk dilayani, bukan untuk melayani. Secara kodrat semua manusia begitu. Meminta atau menuntut untuk dilayani secara terus menerus sepanjang hidupnya dari sejak dia lahir sampai tumbuh dewasa bahkan sampai mati.

Kamis, 26 Januari 2012

Perseorangan Dilarang Import CD/DVD Musik Atau Film Dari Luar Negeri, Tapi Silahkan Membajak Saja Di Internet

Maraknya polemik seputar SOPA dan PIPA di internet yang membatasi kebebasan pengguna di internet ternyata cukup ramai juga jadi trending topik di sosial media seperti Twitter dan Facebook. Termasuk, sampai saat ini di blog tak sedikit teman-teman blogger saya yang membahas masalah ini. Nah, kali ini saya pun ingin mengulas topik ini, mengulasnya dari aspek hukum dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita.

Stop SOPA & PIPA
Stop SOPA dan PIPA

Apa Anda sudah tahu? Ternyata UU di negara kita banyak juga yang aneh aturan dalam pasalnya yang mengatur masalah perlindungan hak cipta ini, khususnya tentang masalah perlindungan hak cipta perfilman dan musik. Dan secara tak langsung, ini opini saya pribadi, justru menyuburkan praktek atau tindakan ilegal. Yaitu Praktek Membajak dan mengunduh barang berhak cipta seperti film dan musik dari internet. Karena, hingga sekarang ini kebebasan sebagai warga negara di NKRI memang masih dibelenggu. Contoh, kalau Anda ingin membeli CD/DVD musik atau film dari luar negeri saat ini dilarang oleh negara dengan alasan tertentu.

Senin, 09 Januari 2012

5 Alasan Mengapa Anda Wajib Punya NPWP

NPWP
Tulisan saya kali ini akan mengulas sedikit tentang betapa pentingnya kita harus mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Sebentar, saya perlu jelaskan dulu. Saya bukan orang dari Dirjen Pajak apalagi konsultan pajak. Silahkan koreksi kalau nanti ulasan saya ada yang salah. Saya menulis ini hanya berdasar pengetahuan dan pengalaman saya pribadi dari sudut wajib pajak biasa. Alasan saya menulis? Tentu sebagai warga negara yang baik tak ada salahnya, kan saya menyeru, mengajak Anda agar taat dan tertib pajak. Dengan mempunyai NPWP artinya Anda sudah selangkah lebih baik dan mau tertib pajak kepada negara.

Nah, sekarang langsung kepada intinya mengapa Anda harus atau wajib punya NPWP? Saya sudah mengumpulkan, setidaknya ada lima alasan mengapa kita wajib punya NPWP. Sebegitu penting kah NPWP jaman sekarang? Kalau saya pribadi akan menjawab sangat penting. Kenapa penting? Berikut ini alasan-alasannya.

1. Memudahkan bayar Zakat Mal

Saya seorang muslim. Di agama saya, Islam, kami diwajibkan untuk membayar zakat mal sebesar 2.5% dari penghasilan. Dan karena penghasilan saya sudah masuk nisob (batas) yang wajib untuk membayar zakat maka tidak ada alasan untuk menolak kewajiban ini. Membayar zakat mal.

Lalu apa hubungannya bayar zakat dengan punya NPWP? Hubungannya, dengan memiliki NPWP maka seluruh penghasilan saya yang kena PPh Pasal 21 (Pajak Penghasilan) akan terkontrol atau saya terpaksa harus mengontrolnya. Karena nantinya seluruh pendapatan akan masuk semua dalam laporan PPh Pasal 21 saya. Jadi tentu lebih mudah untuk memonitor berapa besar dan prosentase zakat mal yang akan saya bayar.

Saya sendiri tak tahu persis berapa nominal penghasilan saya sebulan. Maaf, tak tahu bukan berarti karena penghasilan saya besar sekali, ya tapi karena jumlah penghasilan saya memang mawut (campur baur) antara penghasilan offline dan online. Jadi, dengan punya NPWP dan ada laporan bukti PPh Pasal 21, saya bisa tahu penghasilan saya berapa setahunnya, yang akhirnya bisa memudahkan saya dalam urusan membayar zakat mal ini supaya saya tak berdosa karena kurang bayar zakat.

Jumat, 06 Januari 2012

Cost, Risk dan Benefit Dalam Berbisnis

Cost_Risk dan BenefitBerbisnis itu penuh resiko. Hem, sepertinya kata-kata ini sudah sangat sering dan akrab kita dengar. Benar? Berbisnis bisa kena resiko ditipu, resiko rugi, resiko gagal dsb. Karena saking seringnya kita dengar dan takutnya akan resiko ini makanya banyak orang tak berani mulai berbisnis. Tak terkecuali saya, sampai sekarang di usia saya yang awal Januari 2012 ini genap menjadi 39 tahun, saya tetap takut memulai berbisnis. Saya tetap jadi seorang pengecut dengan tetap memilih jalan aman dengan penghasilan pas-pasan menjadi seorang karyawan.

Ya, satu-satunya yang sedikit membanggakan dari diri saya di usia yang sudah tidak muda lagi ini adalah akhirnya saya berani mencoba berbisnis sambilan via internet. Saya berbisnis sambil multitasking kerja kantoran ikut orang. Sebuah pilihan yang sebetulnya tidak mudah juga untuk saya lakukan. Yang namanya kerja multitasking tak jarang membuat kepala saya cenut-cenut kalau harus diberondong banyak pekerjaan. Baik pekerjaan kantor yang menuntut untuk cepat diselesaikan, maupun serbuan order dari prospek yang ingin membeli barang dan minta bantuan Jasa Pembelian Online saya. Belum lagi nanti kalau ada masalah yang membuat hari-hari saya penuh interupsi. Malam-malam saya harus bangun dan tentu saja jadi sulit untuk tidur nyenyak.

Nah, berbicara resiko, boleh saya cerita sedikit tentang pengalaman saya berbisnis di internet. Pagi tadi saya sempat ngetweet di Twitter. Isi tweet saya menceritakan tentang transaksi besar pembelian barang ke luar negeri yang pernah saya lakukan di internet. Beberapa hari yang lalu sempat saya ceritakan di artikel ini “Standar Keamanan Transaksi Situs E-Commerce, Perbankan dan PayPal di Internet”. Tepatnya, sebelum liburan Natal dan tahun baru tahun ini (2012) kalau semua orang banyak yang bersuka cita menunggu perggantian tahun, tapi tidak demikian halnya dengan saya. Mengapa? Karena gara-gara holiday ini salah satu transaksi e-commerce saya dengan nilai 2231.04 USD jadi ikut terlambat. Barang harus pending menunggu liburan di Inggris usai baru bisa dikirim ke Indonesia.

Yang membuat saya kawatir toko onlinenya saya baru kenal dan belum tahu reputasinya seperti apa karena belum pernah transaksi di sana. Saya hanya melihat dari sisi trust secara online saja pakai parameter tool-tool online. Terus kedua, pembayaran barangnya sudah saya transfer via PayPal lunas di muka namun celakanya barangnya harus menunggu lumayan lama, sekitar 12 harian baru dikirim.

Bagaimana kalau ini hanya alasan dari merchantnya saja yang ingin mengulur-ulur waktu atau jangan-jangan ingin menipu saya. Sempat terbesit pikiran jelek seperti itu di benak saya. Dan saya pun sudah menyiapkan resiko paling buruk seandainya itu terjadi. Saya harus jual barang apa yang ada di rumah saya buat mengembalikan duit klien sebesar itu —maaf besar untuk ukuran saya mungkin bisa kecil untuk ukuran Anda— sebagai bentuk tanggung jawab moral saya kepada klien saya.

Dan malam tadi berita menggembirakan itu datang. Alhamdulillah akhirnya senam sport jantung deg-degan karena menunggu beberapa lama akhirnya mereda. Merchantnya memberi kabar ke saya via email akan mengirim barang pesanan saya. Saya diberi kabar tentang detil invoice dan verifikasi sekali lagi masalah alamat pengiriman dan barangnya yang saya pesan. Ah, lega saya terlebih nomor tracking FedEx yang diberikan ke saya statusnya saya cek sudah shipment atau mulai tracking jalan pengirimannya.

Tracking FedEx


Tracking FedEx



Kembali ke masalah resiko berbisnis tadi. Cerita saya di atas hanya sekedar contoh kecil saja mengenai berbisnis. Dan dari contoh kecil ini kini saya mulai belajar untuk berkawan dengan resiko. Ada kelegaan yang sulit untuk saya lukiskan dengan kata-kata bagaimana saat saya bisa memenangkan pertarungan ini. Melawan resiko. Kelegaan setelah harap-harap cemas sekian lama akhirnya bisa terbayarkan lunas dengan reward yang cukup lumayan besarnya sebagai imbalannya.

Terakhir, Satu hal yang bisa saya petik dari pelajaran ini adalah dalam berbisnis, berlaku pada bisnis apapun, semakin besar resiko yang kita ambil, dalam artian semakin besar nilai transaksi bisnisnya, tentu rewardnya juga semakin besar pula. Jadi kalau Anda ingin berbisnis ambil untung (benefit) gede, sepertinya ini sudah hukum alam dan dalam bisnis juga berlaku, pasti butuh pengorbanan gede, biaya modal (cost) duit gede dan kita harus berjuang menempuh resiko (risk) gede pula. Betul?

Pertanyaan saya di akhir posting ini kepada Anda sudah kah Anda mulai berbisnis? Apa resiko terbesar yang pernah Anda lakukan? Silahkan, Anda boleh sharing atau berbagi dengan saya.


Bookmark and Share

Senin, 12 Desember 2011

Buyer Pun Bisa Menipu di Internet, Tak Percaya?

China LoveBagi orang awam, maksud saya yang bukan pebisnis online mungkin sering beranggapan yang sering melakukan aksi tipu menipu di internet adalah kebanyakan seller atau penjual toko online. Dan aksi penipuan yang sering terjadi dan menimpa buyer adalah pembeli sudah pre order dengan melakukan transfer pembayaran ke seller namun kemudian barang tidak kunjung datang atau sengaja tidak dikirim oleh sellernya.

Ya, saya tak memungkiri memang banyak sekali seller gadungan di internet. Jadi berhati-hatilah setiap kali akan bertransaksi di internet. Anda harus selalu waspada sebelum memutuskan untuk belanja online. Saya pernah menulis ciri-ciri situs scamer (penipu). Baca artikel “Inilah 5 Ciri-ciri Situs E-Commerce Scam di Internet”. Silahkan Anda baca kalau Anda belum mengerti ciri-cirinya atau belum pernah membaca artikel saya tersebut.

Sekarang pertanyaannya, apakah bisa buyer menipu seller di internet? Bukankah yang umumnya menipu itu seller (penjual)? Bisa saja, kenapa tidak. Sekarang para penipu sudah semakin canggih dalam melakukan aksi tipu dayanya di internet. Kalau Anda yang kebetulan pelaku bisnis online tentu sudah tidak kaget lagi menjumpai fakta ini. Buyer menipu seller di internet.

Sebagai pelaku bisnis online yang Berjualan Barang dan Jasa di Internet, saya pun tak luput pernah punya pengalaman buruk. Pernah ditipu oleh salah satu buyer online saya. Celakanya, buyer yang menipu saya seorang wanita muslimah yang berasal dari daerah yang katanya paling islami dan disebut Serambi Mekkah. Tapi ini memang kesalahan saya, sih karena saya terlalu naif mudah mempercayai mulut manis buyer yang sebetulnya adalah jelas-jelas orang yang tidak ada itikad baik buat membayar transaksinya.

Kasus yang menimpa saya, buyer pre oder dengan membayar 50% dan sisanya yang 50% janjinya akan dibayar setelah barang sudah diterima. Dan ternyata buyernya ingkar janji. Hingga satu bulan berlalu sejak tanggal 10 November 2011 transaksi sampai dengan hari ini, saat saya tulis ini, orangnya tak mau melunasi pembeliannya. Beberapa kali saya coba kontak ke dia namun seribu satu macam alasan dikemukakannya ke saya. Intinya, dia berusaha ingkar tidak mau melunasi hutangnya.

Saya akhirnya nyerah. Mungkin saya harus belajar dari kasus penipuan ini supaya kedepan saya lebih berhati-hati lagi untuk bertransaksi di internet.

Dan kemarin saya sempat cerita-cerita dengan Sahabat saya. Rupanya pengalaman saya ini juga pernah dialami oleh sahabat saya juga. Dia juga pernah ditipu seorang wanita. Barang sudah dikirim namun buyernya tak mau membayarnya. Kedua, sahabat saya juga cerita ke saya, istrinya pernah transaksi PayPal Balance $500 USD dengan seorang wanita yang berasal dari Jogja di forum Adsense-ID. Istrinya ditipu, setelah uang ditransfer dan saldo PayPal Balance ditranfer masuk ke rekening PayPal istrinya tiba-tiba tidak berapa lama kemudian di-dispute, atau ditarik lagi ke PayPal sellernya.

Persamaan kasus antara penipuan yang menimpa saya dan kasus yang menimpa sahabat dan istri sahabat saya adalah penipunya, maaf semuanya adalah wanita. Itu yang pertama. Persamaan yang kedua dua dari penipunya dari daerah Sumatera. Sumatera? Iya, saya tidak ada maksud untuk memojokkan orang Sumatera itu penipu semua, ya karena bisa saja ini suatu kebetulan. Saya ditipu oleh orang Aceh, sementara teman saya ditipu oleh orang Medan. Dan kemarin saya juga hampir mau ditipu lagi oleh seorang wanita yang mengaku dari Palembang. Dia mengaku ke saya katanya kerja di PT Angakasa Pura Bandara Palembang.

Pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian yang pernah menimpa saya ini adalah:

  1. Jangan mudah percaya dengan orang lain hanya karena melihat dia seorang yang kuat agamanya atau dia berasal dari daerah yang katanya paling agamis. Agama dan moralitas di negeri ini faktanya tak selalu berbanding lurus dan bukan jaminan untuk tidak berbuat jahat (menipu). Baca artikel Komaruddin Hidayat ini kalau Anda tak percaya “Keislaman Indonesia Hanya Ritual Semata, Benarkah?”
  2. Jangan mudah terkecoh. Trik para penipu biasanya pakai gaya memelas karena kesulitan keuangan sehingga minta diberi keringanan harga dengan menyicil atau minta bayar di belakang saat barang diterima.
  3. Penipu sering membalik fakta dengan dalih mengatakan dia tidak mungkin menipu. Karena beralasan seringnya kasus penipuan dilakukan oleh seller. Uang sudah ditransfer tapi barang tidak dikirim.
  4. Berhati-hatilah terutama terhadap buyer wanita. Maaf, bukan maksud saya untuk menggeneralisasi atau mendeskreditkan kaum wanita, tapi fakta atau pengalaman yang telah terjadi adalah kebanyakan para pelakunya (penipu) seorang wanita. Masih ingat dengan penipu yang pernah saya tulis di blog ini, lagi-lagi kebetulan mengaku seorang wanita bernama Rina Indria?

Pertanyaan saya di akhir post ini, Apakah diantara para pembaca pernah mengalami kejadian yang sama, pernah ditipu di internet? Silahkan sharing, ya. Terima kasih.

Catatan: Pengambilan gambar foto dalam artikel ini sekedar buat ilustrasi saja, samasekali atau tidak ada hubungannya dengan para penipu online. Sumber foto diambil dari sini


Bookmark and Share

Senin, 14 November 2011

Keislaman Indonesia Hanya Ritual Semata, Benarkah?

Komaruddin Hidayat
Membaca tulisan menarik yang berjudul “Keislaman Indonesia” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta di Harian Kompas Sabtu 5 November 2011 lalu —yang mengutip peletakkan Indonesia dalam sebuah penelitian di urutan ke-140 dari 208 negara di dunia yang paling islami— saya jadi ingat dengan pengalaman saya berkunjung ke negeri ginseng Korea pertengahan Maret tanggal 12-19 Maret 2011 lalu. Bagaimana tidak? Apa yang ditulis Komaruddin Hidayat ini jadi mengingatkan saya akan perilaku orang Korea yang benar-benar lebih islami meskipun Korea bukan negara Islam, ketimbang negara kita yang mayoritas penduduknya Muslim. Sedih!

Ini saya kutip sebagian tulisan saya pada poin ke-3 dalam tulisan “Fakta-fakta Unik Tentang Negara Korea (1)” terdahulu yang menceritakan perilaku sosial dan kehidupan beragama orang Korea.

Berbeda dengan kebanyakan orang di negara kita yang rata-rata mengenal dan menganut agama sejak kecil karena agama adalah kebanyakan warisan didikan dari orang tua, tetapi di Korea justru tidak. Pendidikan agama di Korea itu nomor yang kesekian, atau tidak dalam skala prioritas kalau dibandingkan dengan mata pelajaran pendidikan umum. Terdengar aneh, kan?

Jadi jangan heran kalau orang Korea kebanyakan belum beragama atau baru menganut agama setelah mereka dewasa. Namun, satu hal yang patut saya apresiasi dari orang Korea adalah meski mereka kurang kuat dalam hal agama tapi jangan ditanya moralitas orang Korea rata-rata sangat baik dan sangat disiplin melebihi akhlaq orang yang beragama. Ini bisa saya amati dari perilaku mereka saat berkendara di jalan, tidak membuang sampah dan merokok di sembarang tempat, serta kepatuhan mereka pada norma dan hukum yang berlaku di negaranya tinggi. Ya, mungkin ini ciri-ciri umum negara yang sudah maju. Berbeda dengan negara kita yang masih berkembang sehingga masih butuh proses menuju ke arah ini.

Saya juga pernah sedih dan sempat menulis kegundahan hati saya dalam tulisan ini “Mengapa Sholat Itu Tak Penting?” Dan di artikel ini sempat menerima banyak komentar beragam datang mengomentari artikel saya. Salah satu diantaranya banyak yang bilang katanya Sholat itu tetap penting dan wajib dilakukan tak peduli meski kelakuan kita, maaf tetap bejat.

Kalau Anda seorang Muslim saya tanya pilih mana menjalankan Sholat tapi kelakuan tidak bermoral, ataukah tidak Sholat tapi kelakuan Anda baik? Mana yang akan Anda pilih? Jika Anda terjebak memilih jawaban pertama, Sholat tapi kelakuan tetap bejat, maka tak heran kalau hasil penelitian “How Islamic are Islamic Countries” dari Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari hasilnya seperti itu. Apa bedanya Anda dengan orang-orang dari negara Islam anggota OKI lainnya yang dalam penelitian rata-rata muncul di urutan ke-139, betul? Ya, Islam hanya dijadikan sebagai simbol dan ritual belaka, karena samasekali tidak tercermin dalam perbuatan kita.

Hem, kalau saya terus terang jika ditanya seperti itu saya tak mau menjawabnya. Jelas saya tak milih dua-duanya.

Sebetulnya apa yang salah dengan pendidikan agama (Islam) di negara kita? Apa yang salah dengan negara kita yang waktu saya kecil guru saya sering cerita bilang ke saya bahwa Indonesia adalah negara timur yang sangat santun perilaku penduduknya, suka tolong menolong dan membantu sesama. Tapi kini? Saya tidak tahu. Silahkan baca sendiri tulisan menarik dari Komaruddin Hidayat di bawah ini untuk mencari jawabannya.

Keislaman Indonesia
Oleh Komaruddin Hidayat

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Pengalaman UIN Jakarta

Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama besar Mesir setelah berkunjung ke Eropa.”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di Dunia Arab,” Katanya.

Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia akan menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan.

Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan hadis.

Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tak merata, persamaan hak bagi setiap warga untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara Barat. Kedua peneliti itu menyimpulkan : ….it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings-at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and governance policies.

Dari 56 negara OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistan (147), Yaman (198), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke -7,Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.

Semarak Dakwah dan ritual

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam-syahadat, shalat, puasa,zakat, haji-dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah SAW itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama : Keilmuan, Ketakwaan, dan Akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah,menurut penelitian Rehmen dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi, jika ada pertanyaan : How Islamic are Islamic Polotical Parties? Menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan hadis. Lalu diproyeksikan juga untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. (Harian Kompas, Sabtu 5 November 2011)


Bookmark and Share

Minggu, 04 September 2011

Merayakan Lebaran Dari Masa ke Masa

Lebaran
Saat saya tulis post ini lebaran telah usai. Yang belum usai adalah sebagian dari mereka yang merayakan lebaran masih belum semuanya balik dari kota tempatnya mudik, tak terkecuali saya. Saat saya menulis tulisan ini saya masih mudik di Surabaya. Rencana baru hari Kamis, 7 September 2011 dengan pesawat Batavia pagi saya baru balik meninggalkan kota Surabaya menuju Jogja.

Lebaran, berdasarkan siklus yang saya alami dari masa ke masa bagaimana merayakan lebaran dan mudik setiap tahun, setidaknya saya sudah mengalami dua dari tiga masa siklus dalam memaknai lebaran. Saya tidak tahu apakah fase yang saya alami ini berlaku juga buat semua orang, termasuk Anda.

Baju baru, makanan enak dan angpaw

Masa pertama ini saya alami saat saya masih anak-anak hingga beranjak remaja. Momen lebaran selalu saya tunggu tiap tahun. Mengapa? Karena lebaran itu bagi saya selalu identik pasti saya akan dibelikan baju baru oleh orang tua saya. Lebaran identik juga dengan banyak makanan enak-enak terhidang di meja rumah saya, juga terima banyak angpaw dari sanak saudara saat bersilahturahim ke rumah mereka. Kegembiraan ini yang akan saya rayakan dan sambut gembira setiap tahun. Dan ini terus berulang setiap tahun hingga akan berakhir setelah saya beranjak dewasa.

Mudik dan reuni berkumpulnya keluarga besar

Masa kedua, setelah saya meninggalkan masa remaja dan mulai menikah dan jauh dari orang tua saya, maka momen lebaran adalah sesuatu yang saya tunggu juga. Bedanya saya tak menunggu baju baru, makanan enak dan angpaw, tapi lebaran adalah saat saya bisa mempertemukan istri, dan anak-anak saya dengan si Mbahnya, saudara dan keluarga saya lainnya.

Dan saya pun ikut menikmati lebaran dan mudik karena bisa ketemu dengan orang tua, mertua dan saudara-saudara yang saling berjauhan. Karena lebaran adalah momen pemersatu buat reuni keluarga. Ada kebahagiaan waktu bisa berkumpul. Kerinduan selama setahun terhapuskan disaat lebaran. Ini kebahagiaan yang saya tunggu setiap tahun.

Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu

Masa ketiga ini saya belum melewatinya. Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu-cucunya. Namun setidaknya saya bisa sedikit merasakannya karena bisa melihat itu pada orang tua saya saat menerima kunjungan kami saat mudik lebaran.

Karena kami terpisah jauh. Jarak geografis dan rutinitas sehari-hari cukup menyita waktu sehingga membuat kami tidak bisa sering-sering menjenguk orang tua. Dan saatnya nanti saya akan berada di masa ini. Menjadi orang tua dan dikunjungi anak-anak dan cucu saya di akhir masa hidup saya. Dengan catatan tentunya kalau Saya tak mati muda dan sempat menikmati masa tua.

****

Hem, suatu saat siklus di atas pasti akan berputar, bukan? Anda semakin menjadi tua dan renta, yang tiap tahun berharap dikunjungi dan bisa melihat anak dan cucu-cucu Anda. Setiap lebaran selalu berdoa buat kebahagiaan mereka. Berdoa dan selalu berharap semoga tahun ini bukan tahun terakhir melihat anak dan cucu-cucu Anda.

Dalam kesempatan ini tak lupa saya mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sumber Foto: Link Sukses


Bookmark and Share

Minggu, 14 Agustus 2011

Pemahaman Yang Keliru Tentang Test Virginitas

Test KeperawananSaya tak menyangka ternyata banyak orang, khususnya para wanita yang masih salah persepsi dalam menyikapi dan memahami tujuan dari test virginitas (Test Keperawanan). Banyak wanita yang menganggap test keperawanan itu bertujuan untuk mencari wanita perawan. Padahal, bukan itu tujuan mendasarnya tapi ada alasan lain. Yaitu lebih ke arah sisi moral.

Apakah termasuk Anda juga yang mempunyai pemahaman seperti itu?

Coba Anda simak dialog saya lewat chat BBM di BlackBerry dengan seorang teman di bawah ini sebagai salah satu contohnya.

Guest: Pagi Pak. Ada yang mau saya tanya :)

Joko Sutarto: Silahkan, Mbak. Apa yang bisa kubantu?

Guest: Temen saya kan mau ngelamar kerja, terus ada tes keperawanan, kalau pake alat yang bapak pasarin itu, bisa ngebantu dalam tes ga ya ?

Joko Sutarto: Wah, selaput dara buatan yang pernah saya tawarkan itu tidak bisa bantu untuk mengelabuhi test seperti itu, Mbak. Maaf, memang ngelamar kerja apa, kok sampai minta test begituan?

Guest: Jadi pramugari Pak.

Joko Sutarto: Oh, saya baru tahu kalau test pramugari memakai test seperti itu.

Joko Sutarto: Tapi tidak usah kawatir kalau tidak virginnya karena jatuh dan bukan karena hubungan seks tak masalah, kok Mbak. Bisa dibedakan.

Joko Sutarto: Ini cerita kalau test pada calon istri militer dan Polisi.

Guest: Temen saya kan diperkosa Pak. Maka itu kasihan.

Joko Sutarto: Diperkosa? :( Kalau ada visum dan bukti laporan ke kepolisian mestinya tak masalah.

Joko Sutarto: Sepanjang yang saya tahu test virgin itu lebih ke arah sisi moral yang dinilai. Bukan tidak virginnya secara fisik

Guest: Mmmm.. Temen saya ngerasa minder sama takut.

Joko Sutarto: Ini, Mbak contohnya mengapa calon istri militer virginitas istrinya dipermasalahkan? Karena itu bagian dari disiplin si suaminya.

Joko Sutarto: Kalau bukti visum karena diperkosa dan surat keterangan dari kepolisian teman Mbak itu ada tidak usah takut.

Joko Sutarto: Nah, kalau tidak ada. Ini yang berat karena tak ada buktinya yang menunjukkan dia pernah diperkosa.

Guest: Begitu ya Pak. Terima kasih atas sarannya Pak, siapa tahu bisa bikin semangat temen saya

Joko Sutarto: Sama-sama, Mbak

Itu petikan dialog yang sering sekali ditanyakan pengunjung hampir setiap hari dari blog ini kepada saya. Gara-garanya setelah membaca artikel saya yang ini. Baca “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang.”

Untuk pertanyaan-pertanyaan yang lainnya saya tak bisa share disini, maaf karena dialognya terlalu pribadi. Kecuali yang ini karena saya menganggap mengandung informasi yang perlu diketahui dan mengedukasi banyak orang.

Wanita depresi

Jika Anda termasuk wanita malang yang mengalami kecelakaan akibat jatuh sehingga itu membuat robek selaput dara Anda, Anda tidak usah minder, takut dan kawatir. Metode test virginitas yang dilakukan di militer, contohnya, bisa membedakan robeknya selaput dara akibat berhubungan seks atau karena jatuh (kecelakaan).

Khusus wanita yang pernah diperkosa agar musibah itu tidak membawa petaka yang kedua. Yaitu berakibat Anda hamil akibat perkosaan, langkah-langkah yang harus Anda lakukan adalah selain lapor ke kepolisian adalah minta visum dokter atau rumah sakit. Karena setelah divisum dokter akan memberi obat pencegahan agar Anda tidak hamil. Ini yang penting. Silahkan baca artikel dr Vicky Laurentina di artikel ini "Pertolongan Pertama Korban Pemerkosaan" untuk lebih lengkapnya.

Catatan:
Kutipan chatting diatas beberapa kata sudah saya rubah redaksionalnya namun tidak mengurangi konteks kalimatnya secara menyeluruh.


Bookmark and Share

Selasa, 09 Agustus 2011

3 Hambatan Terbesar Untuk Memulai Berbisnis Online

Online Business ChallengeDalam berbisnis online ada beberapa kendala terbesar yang menghambat Anda untuk memulai berbisnis. Setidaknya, ini berdasarkan pengalaman saya. Saya menemukan ada tiga hambatan terbesar yang sering dialami waktu pertama kali akan jualan barang dan jasa di internet sehingga para internet marketer sering gagal dalam mulai berbisnis.

Apa saja hambatan terbesar tersebut? Pertama, bingung menentukan niche (ceruk market) yang akan dibidik. Kedua, tidak tahu bagaimana mencari pasar bisnis, dan ketiga bagaimana membangun market bisnis yang trust (dipercayai) konsumen di awal akan memulai berbisnis.

Mari kita bahas satu persatu. Sebagai pendahuluan saya akan berikan contoh kongkrit.

Berjualan Nanas Murah

Bisnis jualan online itu hampir tidak ada bedanya dengan bisnis jualan offline. Dalam bisnis offline di toko retail modern kami pernah memakai strategi menjual rugi untuk mendapatkan untung. Saya pernah menuliskannya dalam artikel “Menjual Rugi Untuk Mendapatkan Untung.”

Dulu sewaktu saya masih bekerja di bagian supermarket di Surabaya sekitar tahun 1998. Saya pernah mempraktekkan menjual buah Nanas dengan harga rugi tanpa margin. Saya, tepatnya toko kami, jual Nanas dengan harga murah Rp 250 per buah.

Nanas

Anda tahu di pasaran kalah itu harga Nanas masih dijual di kisaran harga antara Rp 300-500 per buah.

Waktu itu saya sempat bingung, juga berpikir, lha kalau orang jualan tidak mencari untung tapi malah menjual rugi terus dapat apa?

Itu pertanyaan polos saya waktu itu? Apa jawaban manager saya kala itu?

“Kita memang rugi karena tak dapat margin apa-apa dengan menjual buah Nanas tersebut tapi efek marketing yang ditimbulkan dengan pemasaran tersebut membuat banyak customer berbondong-bondong datang ke supermarket kita”.

Itu penjelasan manager saya. Dan benar, setelah itu mereka (customer) berbondong-bondong ke toko kami. Tentu saja mereka tak hanya membeli Nanas tapi prakteknya barang-barang lainnya yang margin normal tanpa sadar akan ikut ramai dibeli juga. Inilah Teknik Marketing yang secara diam-diam kami terapkan untuk membuka pasar.

Cerita saya di atas memang sudah cukup lama. Sudah 13 tahun berlalu. Namun hingga saat ini di bisnis retail modern saya amati strategi marketing seperti ini (menjual rugi) masih amat populer dan diterapkan di banyak retail modern seperti minimarket, supermarket menengah maupun supermarket besar sekelas hypermarket. Dan faktanya, terbukti sangat ampuh dalam menaikkan omzet penjualan. Bahkan tidak kalah ampuhnya dengan strategi marketing affiliasi yang banyak digunakan oleh pemasar online di internet.

Bahkan, pernah ada sebuah hypermarket besar sampai berani menjual rugi tanpa margin selama dua tahun di awal opening tokonya hanya demi untuk membuka atau menciptakan pasar (market) di awal pembukaan gerai tokonya.

Cara Menundukkan Hambatan Dalam Memulai Berbisnis Online

Sekarang balik lagi ke pembahasan bagaimana menundukkan hambatan dalam memulai berbisnis online. Untuk menentukan market yang akan Anda bidik jika Anda bingung menentukan niche bisnisnya, cara termudah adalah pilih apa yang menjadi hobi Anda.

Di internet marketing memang diajarkan cara mencari niche adalah dengan mencari pasar apa yang dibutuhkan orang dibandingkan dengan jumlah pesaing yang ada di internet. Semakin banyak yang search, mencari niche tersebut dan semakin sedikit jumlah pesaingnya semakin bagus.

Ya, tapi itu mah teori, prakteknya tidak semudah itu. Bisnis itu memang terjadi kalau ada pasar yang mencari dan membutuhkan niche tersebut. Tapi kalau niche itu bukan bidang atau hobi yang menjadi kesenangan Anda, Anda biasanya tetap akan terkapar di tengah jalan karena mengalami kesulitan untuk menjalankannya, betul? Terlebih di awal akan memulai berbisnis. Sebagai referensi silahkan baca tulisan menarik dari Hendrik Lim, MBA di artikel ini “Ayo Jadi Enterpreneur”.

Orang Sukses

Jadi untuk menentukan market yang akan Anda bidik silahkan cari dan gali potensi apa yang menyenangkan, yang menjadi kegemaran Anda yang itu dibutuhkan orang lain (pasar). Intinya Anda harus senang mengerjakan pekerjaan tersebut.

Dan bagaimana cara mencari pasar bisnis? Jawabnya carilah dan mulai memasarkan dengan mencari orang-orang yang sehobi dengan Anda. Ini adalah jalan termudahnya. Langkahnya, bergabunglah dalam komunitas yang sehobi dengan Anda untuk membuka pasar produk Anda.

Terakhir, yang ketiga bagaimana membangun market bisnis yang trust (dipercayai) konsumen di awal akan memulai berbisnis online? Caranya, Anda bisa sedikit meniru contoh yang sering dilakukan oleh retail modern di pasar offline yang saya contohkan di atas. Menjual murah atau jual rugi tanpa margin jika perlu untuk membuka pasar di awal berbisnis. Dan awali lah dengan menjual barang dan jasa bisnis Anda ke orang-orang terdekat di dalam komunitas offline maupun online Anda dulu.

Setelah itu barulah Anda mulai naikkan sedikit marginnya jika bisnis Anda mulai ramai dan dikenal. Percayalah setiap pelanggan yang pernah Anda layani dan terpuaskan oleh pelayanan Anda itu adalah asset marketing yang secara tidak langsung akan membroadcast, menggetoktularkan bisnis Anda ke teman-teman mereka yang lain. Puncaknya, tentu saja akhirnya bisnis Anda akan menyebar dan mulai dikenal di internet.

Itulah Cara Bagaimana Menundukkan Hambatan Dalam Memulai Berbisnis Online. Lebih jauh, untuk membangun bisnis online sekaligus bagaimana cara berbisnis online saya sudah pernah menuliskan dalam dua tips marketing di beberapa artikel saya terdahulu. Silahkan baca-baca artikel ini untuk melengkapinya: Teknik Marketing Ala Gambar Porno dan Joger Bali dan Tips Marketing Ala Bob Sadino.

Sumber Image: Online Business|Succes People


Bookmark and Share

Rabu, 27 Juli 2011

Menukar Kematian Dengan Segebok Uang, Haram?

Life InsuranceIni adalah kisah lama saat saya berobat di sebuah rumah sakit Islam di kota Malang beberapa tahun silam. Waktu itu di sela-sela dokter memeriksa saya, kami sempat ngobrol perihal masalah asuransi. Awalnya saya menceritakan kalau ikut program Asuransi Medicare ke dokternya. Namun waktu itu asuransi medicare saya hanya menanggung untuk rawat inap saja, untuk rawat jalan tidak. Entah bagaimana ceritanya kemudian pembicaraan berlanjut jadi membahas masalah asuransi jiwa. Dokternya kemudian bercerita ke saya kalau asuransi medicare itu bagus dan diperbolehkan dalam agama Islam, katanya, asal jangan yang asuransi jiwa. Itu haram hukumnya di Islam.

Karena saya tak tahu dalil atau hadistnya, saya hanya manggut-mangut saja diberi wejangan itu oleh dokternya. Dan kebetulan kala itu bahkan hingga sekarang saya pun belum tertarik untuk ikut program asuransi jiwa perusahaan insurance manapun. Beberapa asuransi jiwa yang saya ikuti hanya memproteksi jiwa saya secara tidak langsung, bukan semata-mata seperti Menukar Kematian Dengan Segebok Uang seperti yang ada dalam asuransi jiwa.

Saya boleh cerita sedikit perihal asuransi saya itu? Pertama, saya mengasuransikan jiwa saya dalam Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Jika saya tiba-tiba meninggal atau Mati Muda sebelum kredit lunas maka bank BNI ― tempat saya ambil kredit rumah ― akan membebaskan ahli waris, istri dan anak-anak saya untuk melunasi hutang KPR-nya. Kedua, asuransi pendidikan anak saya juga begitu memberikan jaminan bebas bayar premi jika saya meninggal sebelum jatuh tempo asuransinya. Ketiga, kartu kredit saya juga begitu. Jika saya meninggalkan saldo hutang di kartu kredit secara otomatis akan dianggap lunas oleh pihak bank penerbit kartu kredit saya.

Asuransi Jiwa

Oke, sekarang lupakan sejenak tentang halal dan haram pada asuransi jiwa. Saya ada cerita menarik. Di Surabaya, ada salah satu tetangga mertua saya beberapa tahun lalu baru saja kehilangan suaminya. Suaminya meninggal dunia di daerah asalnya di Ponorogo. Ibu tadi kemudian pulang mengurus kematian suaminya. Sebagaimana umumnya orang yang kesusahan banyak tetangganya berdatangan ke rumah ibu tersebut untuk melayat. Sambil melayat para tetangga tak lupa memberi amlop kepada ibu tersebut sebagai tanda bela sungkawa.

Sampai disitu kisahnya saya anggap masih normal dan wajar. Karena dimana-mana umumnya begitu, kan kalau melayat pasti kebanyakan memberi amplop sebagai tanda bela sungkawa, betul?

Nah, kisah itu pun kemudian berlanjut jadi cerita yang mengejutkan. Selesai mengurus pemakaman beberapa hari kemudian ibu itu pulang balik lagi ke rumahnya yang ada di Surabaya. Kemudian tanpa diduga ibu itu satu persatu mendatangi rumah-rumah para tetangganya yang sudah memberi amplop saat melayat ke rumahnya kemarin. Ia mengembalikan satu persatu amplop berisi uang yang diberikan oleh tetangganya.

Dikembalikan? Iya. Anda ingin tahu apa alasan ibu itu waktu mengembalikan uang amplop tadi? Dia bercerita tak bisa menerima pemberian itu. Alasannya, dia sedih karena merasa seperti menukar kematian suaminya dengan uang. Ia jadi sedih teringat suaminya yang sudah meninggal waktu memegang uang itu sehingga tak mau menerima pemberian itu. Itu yang menjadi alasannya.

Deg! Bagai ditampar saya amat tersentuh haru mendengar cerita itu dari ibu mertua saya. Jaman sekarang, kok masih ada, ya orang yang seperti itu? Ini sebuah ironi yang menggembirakan diantara banyaknya orang yang begitu tamak dan akan melakukan segala cara demi mendapatkan uang. Tak peduli barokah, halal dan haram. Betul?

Pertanyaan saya di akhir posting ini: Jika memang asuransi jiwa itu benar diharamkan dalam Islam apakah salah satunya itu yang menjadi alasannya? Yaitu karena tak pantas menukar nyawa seorang manusia dengan segebok uang? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda?

Image credit: Life Insurance|Asuransi Jiwa


Bookmark and Share

Rabu, 13 Juli 2011

Inilah 4 Resiko Blogger (Publisher) Kalau Jadi Pengkritik

Resiko
Sampai saat ini sepanjang pengamatan saya di blogosphere setahu saya tak banyak para blogger, terlebih yang merangkap jadi publisher yang tema blognya khusus membahas masalah kritik. Mengapa tidak banyak? Ya, ini sebatas opini pribadi saya, sih karena konsekuensi jadi tukang kritik itu lumayan besar resikonya. Sungguh tak mengenakkan. Dan yang jelas jika Anda tidak siap mental dengan segala resiko yang akan Anda hadapi maka pilihan paling aman dan minim resiko adalah, ya pilih jalur yang aman. Menulis yang baik-baik saja. Menafikkan fakta! Meskipun mohon maaf, ini sedikit munafik kalau menurut pendapat saya karena sudah mengingkari kenyataan yang ada ― yang sebetulnya cukup banyak yang tak beres, yang patut dan perlu dikritik.

Sekedar contoh saja, seorang blogger (publisher) kalau saya amati (kebanyakan) sangat sedikit yang berani terang-terangan mengkritik, terlebih mengkritik advertisernya. Kecuali mungkin kasus saya di posting ini, baca “Telkomsel Diam-diam Curang Dalam Paket Promo simPATI Gratis Internet Berjam-jam”.

Sebetulnya saya tak yakin jika ada sebuah brand yang tak mempunyai celah sedikitpun yang bisa dikritik. Yang jelas, yang menjadi alasan utamanya bukan belum pernah menemukan momen buat mengkritik tapi memang sengaja bermain aman. Tidak mau ambil resiko sehingga kebanyakan lebih banyak yang sebatas hanya berkeluh kesah saja, tidak mengkritik secara terbuka di internet.

Nah, saya ingin membeberkan alasan-alasannya kepada Anda yang menurut dugaan saya sebagai penghalang mengapa banyak blogger (publisher) yang lebih senang bermain aman dan tak mau ambil resiko besar dengan mengkritik. Mungkin bisa jadi empat hal ini yang menjadi alasannya.

Berikut adalah keempat alasannya. Silahkan Anda simak pemaparan saya berikut ini:

1. Dituduh inkonsisten (Plin-plan)

Alasan dituduh inkonsisten (plin-plan) ini pasti, karena bagaimana mungkin dalam satu blog bisa bersanding dua artikel setopik yang sangat bertolak belakang. Yang satu memuji mengelu-elukan dan satunya lagi complain mengkritik. Saya ambil contoh, saya pernah disindir seperti itu oleh sahabat blogger saya, Mas Lintang di artikel ini. Baca “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” dan terakhir yang masih hangat di artikel terbaru saya yang ini “4 Alasan Mengapa Saya Melabeli Tulisan Berbayar Di Blog Dengan Label Advertorial”, Mas Hoeda Manis juga berpendapat sama.

Namun bedanya, Mas Hoeda Manis kali ini memberikan alasan sangat masuk akal yang justru mendukung saya tentang masalah perlunya pemberian label pada artikel advertorial. Salah satu alasannya tentu saja adalah biar pembaca tak bingung dan menuduh saya, blogger publishernya, plin-plan.

Sebuah resiko memang dituduh sebagai orang plin-plan. Sebentar memuji, sebentar kemudian complain menjelekkan. Sebetulnya saya juga bisa saja, kok bermain aman pura-pura tak tahu saja, diam, dengan kasus Pencekikan Bandwidth Telkomsel itu. Toh, itu bukan di pihak saya yang curang. Sebab awalnya saat saya tulis advertorialnya memang benar kondisinya tak begitu, tidak dibatasi bandwidthnya.

Nah, kesimpulan pertama jika Anda siap dengan resiko dituduh blogger plin-plan silahkan lanjutkan untuk mengkritik. Jika tidak, stop jangan pernah menerjunkan diri jadi pengkritik.

2. Diblacklist Advertiser

Resiko kedua ini sangat masuk akal. Karena di IdBlogNetwork, publisher yang dipilih mendapatkan job review adalah blogger yang blognya memenuhi syarat-syarat tertentu. Dan salah satu penentu terpilihnya atau yang memberikan syaratnya adalah advertisernya sendiri. Sangat manusiawi, kan bila advertisernya sampai sakit hati karena dikritik sehingga akan memblacklist publisher yang pernah menjelek-jelekkan produk brandnya di internet.

Ini resiko kedua. Jika Anda sangat berharap dapat job review dan tidak sampai dicoret dari list advertiser maka jangan pernah sekali-kali mengkritiknya. Kecuali kalau Anda lebih memilih seperti saya. Ya, memilih menyuarakan kebenaran dan kejujuran itu memang mahal harganya sehingga saya pun tak menyalahkan teman-teman publisher lain yang lebih memilih jalur aman dengan tak mau mengkritik advertiser biar aman dan lancar dapat rejeki terus dari pengiklan.

3. Dipecat sebagai Publisher

Resiko yang ketiga ini, dipecat sebagai publisher, bukan sesuatu yang tak mungkin tidak terjadi. Bisa saja karena mereka (advertiser) punya duit, punya kuasa sehingga bisa saja melakukan itu.

Namun, saya berharap mudah-mudahan ini tak sampai terjadi dan menimpah saya. Dan saya berharap jika Anda yang masih berharap terus dapat job dari pengiklan, salah satunya dari IBN, sekali lagi jangan tiru jejak saya ini. Resiko ketiga ini siap menyambut Anda, dipecat.

4. Dipenjara dijerat Pasal 27 UU ITE

Satu momok yang paling besar dan paling menakutkan melakukan kritik di internet adalah dianggap dan dituduh mencemarkan nama baik seseorang. Dan jeratnya tak main-main. Penjara selama 6 tahun siap menanti Anda sebagaimana dulu pernah dirasakan Prita Mulyasari ― yang sempat mencicipi penjara sebentar karena didakwa telah melanggar Pasal 27 Ayat 3 UU ITE akibat pernah menulis email yang mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni di internet.

Ya, pasal karet UU ITE yang menuai banyak kontroversi itu sampai sekarang dianggap momok karena bisa sebagai alat penguasa, para korporat, juga orang-orang yang berduit untuk memasung kebebasan kita berekspresi di internet.

Bagi Anda yang tak mau ambil resiko sangat tidak disarankan untuk mengkritik di internet. Terlebih nyali Anda kecil kalau sudah berhadapan dengan aparat penegak hukum yang prakteknya banyak berpihak kepada yang kuat, bukan yang lemah seperti blogger kayak kita ini.

Demikian sedikit opini dari saya. Jika Anda ada tambahan atau barangkali sanggahan terkait opini saya ini saya persilahkan menambahkan. Silahkan tinggalkan tanggapan Anda dalam kolom komentar, terima kasih.


Bookmark and Share

Minggu, 10 Juli 2011

4 Alasan Mengapa Saya Melabeli Tulisan Berbayar Di Blog Dengan Label Advertorial

Ethics Writing
Barangkali ada yang kepingin tahu alasan saya mengapa saya selalu melabeli tulisan berbayar di blog ini dengan label Advertorial (iklan)? Juga tulisan-tulisan yang mengandung unsur penawaran marketing dengan label advertorial? Mengapa? Padahal, banyak para publisher lain yang tetap enggan atau tidak mau melabeli review berbayarnya dengan label advertorial ― yang memberi keterangan kalau itu adalah iklan.

Ingin tahu? Berikut ini adalah alasan-alasan saya:

1. Etika Jurnalistik

Alasan etika jurnalistik ini yang menjadi alasan utama saya karena ini adalah alasan yang berlaku dalam kaidah jurnalistik. Dalam aturan jurnalistik memang ada etika yang tak membolehkan untuk mencampur-adukkan antara muatan editorial (artikel umum) dengan iklan. Harus ada border dan label khusus yang memisahkan keduanya ― antara artikel dengan advertorial ― sehingga pembaca menjadi jelas mana yang iklan dan mana yang opini medianya. Silahkan Anda baca buku Jurnalisme Sastrawi terbitan Pantau. Di buku itu Andreas Harsono menjelaskan masalah ini dengan amat jelas.

Lalu bagaimana dengan blog? Bukankah blog bukan media? Tentu saja sah-sah saja, bukan kalau tak mematuhi kaidah jurnalistik tersebut? Iya, sih, blog kan bukan media, tentunya tak harus terikat dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Tetapi, yang namanya etika bukankah itu sebuah aturan sosial. Sebagai masyarakat sosial apa iya Anda tidak mau memperdulikan aturan sosial ini?

Tapi, ya sekali lagi semua kembali ke pilihan masing-masing blogger (publisher). Tapi kalau saya tetap memberikan label sebagai advertorial kalau itu iklan. Masalah nanti ― sejauh ini belum ada ― advertiser menolak iklannya saya beri label sebagai advertorial saya tinggal bilang: “Kalau di media boleh dilabeli advertorial kenapa di blog tidak boleh?”

2. Etika Ngeblog

Kalau saya mengutip dari blog Ndorokakung disini, baca “Blogvertorial Pecas Ndahe” sebuah blog yang memuat iklan advertorial, kalau Ndorokakung menyebutnya dengan sebutan Blogvertorial. Masih menurut Ndorokakung, sebuah blog yang memuat materi artikel jualan produk dan jasa dianggap tidak melanggar etika ngeblog apabila memenuhi syarat-syarat: Yaitu dalam setiap posting pesanan produsen harus diberi tulisan “blogvertorial” yang menandakan itu adalah iklan. Dengan demikian, pembaca tahu bahwa tulisan tersebut merupakan pesanan dan si blogger memperoleh upah karena sudah membuat posting tersebut.

3. Kejujuran

Dalam pandangan saya sikap tidak terus terang dengan tidak jujur itu tipis sekali bedanya. Saat Anda tak mau terus terang kepada pembaca dengan tidak mau menyebutkan tulisan Anda sebagai iklan bukankah itu sama artinya dengan Anda menyimpan sebuah kebohongan? Bagaimanapun iklan tetap lah iklan, tetap lah tidak sama dan bisa berbaur jadi satu dengan artikel. Sama halnya seperti cerita fiksi dan non fiksi, keduanya punya batas yang jelas jadi tidak bisa dicampur-adukkan.

Oke lah misalnya Anda mau mengelak kalau tulisan advertorial Anda faktanya sangat-sangat obyektif ulasannya sesuai dengan kenyataan. Tapi yang namanya iklan tetaplah ada unsur ketidakjujuran disana yang mirip dengan sebuah kebohongan.

Masih tak percaya? Contoh sederhana. Apakah pernah Anda menjumpai artikel advertorial yang mengulas kekurangan sebuah produk? Tidak ada, bukan? Yang banyak, kan mengelu-elukan kelebihannya tapi menutup rapat-rapat kekurangannya. Mungkin ada yang beralasan, eh, memang barang yang direview sempurna, kok tanpa cacat sehingga tidak diulas kekurangannya. Jawab yang jujur, yakin ada barang yang tanpa cacat sehingga tak mempunyai sedikitpun kekurangan? Hem, boleh Anda tunjukkan ke saya apa itu contoh barangnya.

Contoh lain, dalam banyak hal saya sering mensejajarkan advertorial itu ada persamaan atau kemiripan dengan Endorsement kalau dalam penerbitan buku. Hanya jujur ngecap kelebihannya tapi tak jujur dengan menutup mata akan kekurangan bukunya. Sama, kan dengan advertorial?

4. Disclaimer

Saat saya melabeli artikel iklan blog saya dengan keterangan advertorial, saya merasa sedikit lega dan tenang karena label itu bisa berfungsi ganda. Sebagai keterangan sekaligus Disclaimer. Artinya, pembaca harus paham jika produk yang saya review itu bukan produk saya sehingga bila terjadi complain mereka mengerti dan selanjutnya akan complain ke produsennya, bukan ke publishernya. Pengecualian, yang khusus produk saya sendiri tentunya saya kecualikan.

Dan saya pun dengan tenang jika dicomplain, ya akan meneruskan dan melempar tanggung jawab tersebut ke advertisernya. Tugas publisher, kan hanya mengiklankan, bukan tempat menampung pengaduan kekurangan produknya. Betul?

Kalaupun pada prakteknya saya tetap cawe-cawe dalam kasus complain iklan advertorial ke advertiser, itu adalah bentuk tanggung jawab moral saya saja. Contoh complain saya ke Telkomsel beberapa hari yang lau di artikel “Telkomsel Diam-diam Curang Dalam Paket Promo simPATI Gratis Internet Berjam-jam”, gara-gara sebelumnya saya pernah menulis advertorial ini “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?”

Itulah kurang lebihnya alasan-alasan saya mengapa saya tetap melabeli tulisan iklan di blog ini dengan advertorial walaupun banyak blogger publisher lain yang umumnya enggan atau tidak peduli dengan hal seperti ini dan tetap mencampur-adukkan artikel blognya dengan advertorial.

Demikian opini dari saya. Anda punya pendapat berbeda? Silahkan tinggalkan tanggapan Anda dalam kolom komentar, terima kasih.

* Tulisan ini hanya opini saya pribadi. Tidak ada maksud untuk mendeskreditkan apalagi menjelek-jelekkan publisher lain. Saya menghormati setiap pilihan masing-masing publisher, baik yang mau mencantumkan label Advertorial maupun tidak di blognya.

Sumber Foto: Ethics Writings



Bookmark and Share

Sabtu, 09 Juli 2011

Memfacebookkan Twitter dan Mentwitterkan Facebook

Facebook
Bingung tidak kalau Anda membaca judul yang saya bolak-balik di atas? Tidak usah bingung, toh sekarang hampir sama, kan keduanya? Baik antara Facebook dan Twitter sekarang nyaris tak ada bedanya, betul? Yang jelas keduanya sama-sama situs social media yang digunakan buat pertemanan, dan sama-sama populernya sehingga hampir semua fitur Twitter ada juga di Facebook. Begitupun sebaliknya.

Lihatlah Facebook sekarang! Kalau saya bilang banyak menyontek fitur-fitur Twitter. Kalau kita menyebut nama teman kita dalam status dan komentar di Facebook maka efeknya hampir mirip dengan di Twitter. Akan muncul alert ke user yang bersangkutan seperti mention kalau di Twitter jika kita nyebutin nama user Twitter orang lain di status kita.

Tinggal sekarang perilaku penggunanya, yang saya pikir masih berbeda. Karena kedua pengguna situs social media tersebut memang berbeda (mayoritas). Saya sendiri tentu saja perilakunya saat ngetweet di Twitter tidak saya lakukan di Facebook. Kebiasaan saya di Facebook pun sama, juga tidak saya lakukan di Twitter meskipun secara fitur dan tujuan update statusnya sebetulnya sama akhirnya. Ujung-ujungnya pasti bermuara ke blog saya. Kenapa? Karena keduanya saat ini saya gunakan sebagai tool buat mempromosikan blog saya.

Kalau sebelumnya saya pernah menulis tentang mindset saya yang telah berubah dalam memandang situs jejaring sosial Facebook. Baca artikel “Inilah Peluang Bisnis Yang Paling Menggiurkan di Facebook”. Kini, hal yang sama juga terjadi pada Twitter. Ada mindset yang berubah dalam memandang Twitter. Dulu, saya mengganggap karena Twitter itu berbeda dengan Facebook karena sistem pertemanannya yang tak sejajar (follow dan follower), berbeda dengan di Facebook maka saya sangat selektif dalam memfollow orang. Saya hanya follow orang-orang yang dimana dari orang tersebut saya bisa dapat sesuatu. Jadi tak follow sembarangan orang. Termasuk memfollow balik para follower saya.

Buah dari pilihan saya di atas adalah sampai hari ini follower saya di Twitter masih di kisaran angka 200-an. Padahal saya mulai ngetweet sudah sejak bulan Agustus tahun 2009. Sudah cukup lama, bukan? Tapi itu tak sebanding dengan jumlah followernya yang baru beberapa gelintir tak sampai seribu. Bandingkan, saya punya beberapa teman yang baru daftar Twitter tapi jumlah followernya langsung melejit di atas 500 orang.

Tapi ada sedikit yang membanggakan, sampai dengan hari ini saya tak pernah melakukan spamming dengan memfollow massal banyak akun di Twitter, terus mengemis-ngemis minta difollback kepada orang yang saya follow. Juga, saya tak pernah menggunakan bantuan semacam software yang katanya bisa menambah follower dengan cepat. Tidak! Semua saya lakukan secara alamiah.

Kedua, ada sedikit yang membanggakan lagi. Saya punya beberapa follower yang berkualitas. Follower dari para corporate seperti Telkomsel, Bank BNI dan IM2. Yang Telkomsel dan BNI, mereka memfollow saya gara-gara saya kritik di internet. Sementara IM2 ini yang agak aneh karena saya bukan followernya, juga bukan pengguna IM2 tapi tiba-tiba mereka follow saya. Saya menduga mungkin karena saya terkenal kritis mengkritik di internet sehingga mereka (IM2) diam-diam mengamati dan perlu pasang kuping untuk mendengarkan ocehan saya di Twitter.

Sekarang mari kita bahas apa yang saya maksud dengan memfacebookan Twitter dan mentwitterkan Facebook.

Yang saya maksud dengan menfacebookkan Twitter dan mentwitterkan Facebook adalah memperlakukan pertemanan di Twitter menjadi sejajar seperti halnya pertemanan di Facebook. Begitupan sebaliknya. Menjadikan Facebook lebih sedikit terbuka dan tidak terlalu selektif dalam memberi approve invite pertemanan dari orang lain sama seperti Twitter.

Caranya? Kalau di Twitter dengan memfollow balik para follower Anda. Karena selama belum saling follow pertemanan di Twitter belum bisa dikatakan sejajar. Yang satu (follow) tidak bisa melihat upadate status (tweet) teman follower yang satunya. Itu yang pertama.

Kedua, dengan memfollow banyak orang yang Anda kenal, entah itu teman offline maupun online meskipun dia bukan follower Anda. Dengan begitu jumlah follower Anda lambat laun akan bertambah banyak.

Setelah banyak followernya apa manfaatnya? Pertanyaan ini sama dengan apa manfaatnya kalau punya banyak teman di Facebook? Banyak. Contoh di Twitter, kalau Anda sudah join di IBN dan punya follower di atas 500 orang, satu kali tweet campaign bisa dihargai Rp 150 ribu per tweet. Kedua, follower banyak di Twitter dan teman banyak di Facebook itu adalah network yang amat bernilai harganya.

Selain "Network" apalagi peluang potensial yang bisa Anda dapat dengan punya banyak teman di Twitter dan Facebook? Teman banyak adalah “Asset Bisnis”. Di artikel saya yang terdahulu, baca “Inilah Peluang Bisnis Yang Paling Menggiurkan di Facebook” saya pernah menulis sebuah akun di Facebook kalau jumlah temannya sudah sangat banyak, contoh yang sudah mencapai 2000-an ke atas itu "Bisa dijual", lho. Ada pasar (orang) yang berminat untuk membelinya. Serius! Bahkan, sahabat saya sudah ada yang jualan akun Facebook ini di internet.

Terakhir pertanyaan saya, masih memperlakukan Facebook dan Twitter sebagai situs pertemanan murni? Anda berhak memilih. Yang jelas jika Anda mau memanfaatkan Facebook dan Twitter lebih dari itu (situs pertemanan) pintu telah terbuka. Saya hanya memberikan pilihan. Semua terserah kembali lagi pada Anda buat memilihnya.

Sumber Foto: Flickr


Bookmark and Share

Selasa, 21 Juni 2011

Persamaan Antara Pengacara, Pengendorsement, dan Penulis Advertorial

Endorsement
Persamaan antara pengacara, pengendorsement dan penulis advertorial (Publisher) kalau saya tarik pakai benang merah adalah sama dari satu sisi. Ada persamaan dari sudut yang sama dalam melihat dan bersikap, sama-sama menggali kelebihan yang ada pada kliennya. Menutup mata, atau lebih tepatnya tidak akan mengungkap apa yang menjadi kekurangan pada kliennya.

Mari kita bahas satu persatu. Saya mulai dari pengacara. Pengacara seringkali dipahami oleh orang awam, termasuk saya dulu, sebagai pekerjaan membela orang yang bersalah. Banyak orang beranggapan orang salah, kok masih dibela. Contoh terdakwa pembunuh mengapa harus dibela? Biarin, toh biar dihukum seberat-beratnya. Itu kebanyakan pernyataan orang yang kurang mengerti hukum. Maaf, saya juga bukan orang hukum jadi tolong Anda luruskan jika opini saya ada yang kurang tepat.

Tugas pengacara bukan membela orang salah. Betul? Tapi menggali dan membela kebenaran. Artinya, kalaupun yang dibela meskipun bersalah, tujuan dari pembelaannya adalah untuk mencari kebenaran. Untuk membela agar si terdakwa tidak terlalu dianggap bersalah yang melebihi dari kesalahan yang seharusnya tidak ditimpakan kepadanya. Pendeknya, jangan sampai terdakwa dihukum lebih berat dari kesalahan yang dia perbuat. Terlebih, jika terdakwanya tak bersalah. Jangan sampai yang tak salah terhukum. Nah, itu adalah tugas pengacara.

Endorsement BukuSekarang pengendorsement. Apa itu Endorsement? Anda hobi baca buku? Pernah lihat endorsement di sampul sebuah buku? Itu loh kata-kata testimonial advertising berisi review singkat tentang kelebihan dari sebuah buku.

Biasanya para pengendorsement itu orang terkenal. Bisa seorang tokoh sesama penulis, lembaga, atau bisa juga seorang publik figur lainnya. Tujuan dari endorsement jelas, untuk memberi apresiasi (penilaian) postif kepada bukunya agar buku yang diendorsement dibaca dan dibeli orang. Artinya, sang pengendorsement hanya mengulas dan memberi review di sisi positif tentang apa yang menarik dari isi bukunya. Sisi negatif tidak akan diulas.

Itu yang sedikit membedakan antara endorsement dengan Resensi Buku. Pada resensi buku akan membedah dan mengulas kelebihan dan kekurangan sebuah buku sekaligus. Dan biasanya resensi buku cenderung lebih independence. Ini berbeda dengan endorsement yang ditulis sesuai permintaan penulis bukunya.

Terakhir, penulis advertorial juga punya kemiripan dengan pengacara dan pengendorsement. Mereview dari sudut pandang yang menjadi kelebihan dari produk yang direview. Sama seperti tugas pengacara. Tugas penulis advertorial (publisher) menggali sebanyak-banyaknya apa-apa yang menjadi kelebihan suatu produk yang diiklankan agar orang yang membaca advertorialnya menjadi tertarik sehingga memutuskan membeli produk yang direview.

Kesimpulannya, diantara ketiganya, Pengacara, Pengendorsement, dan Penulis Advertorial bukankah ketiganya sama? Sama-sama mengulas sisi kelebihan dari kliennya tapi menutup mata akan kekurangannya. Jadi kesimpulannya: Pertama, kalau Anda membeli buku jangan hanya baca endorsementnya saja tapi lihat juga siapa penulisnya, sinopsis bukunya, dan yang paling penting ratingnya. Bukunya masuk buku laris (best seller) apa tidak. Kedua, saat membaca advertorial juga jangan mudah percaya pada reviewnya jika tidak didukung dengan fakta dan data-data yang lengkap mengenai kelebihan produknya.

Terakhir, tips buat teman-teman saya yang sering Menulis Advertorial, agar review Anda menarik jangan lupa untuk menyertakan fakta dan data-data hasil pengujian produknya seperti yang saya sampaikan di atas agar advertisernya senang dan pembaca pun tak merasa seperti disodori iklan tapi lebih mirip testimoni sungguhan.

Sumber Foto: Endorsement


Bookmark and Share

Jumat, 10 Juni 2011

Teknik Marketing Ala Gambar Porno dan Joger Bali

LingerieBanyak cara atau teknik-teknik marketing yang bisa diterapkan untuk sukses berjualan di internet melalui blog. Pertanyaan saya kepada Anda apa tantangan terbesarnya berjualan di internet? Tentu tantangan pertama adalah blog Anda harus bisa bersaing dan memenangkan pertarungan SEO agar muncul di halaman pertama pencarian Google, mengalahkan toko online yang lain. Betul? Kedua, Anda harus berjuang keras untuk meyakinkan pengunjung di sisi trust kepada (toko) Anda sehingga pengunjung mau membeli produk Anda.

Dua hal di atas adalah tantangan terbesarnya, dan itu bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih jika situasinya, produk yang Anda jual di internet harus bersaing ketat dalam situasi ceruk market yang terlalu keruh (Red Ocean kalau istilah marketingnya). Kedua, apalagi berjualan dengan market Indonesia yang sisi trust-nya masih begitu rendah akibat banyaknya kasus scam (penipuan) ada di negara kita. Ketiga, blog tempat Anda jualan dari sisi branding belum begitu luas dikenal oleh pengunjung di internet.

Namun, bukan berarti tak ada celah untuk bisa menembus tantangan tadi. Masih ada cara-cara unik dan kreatif yang bisa Anda pakai untuk mencari peluangnya. Salah satunya yang akan saya bahas di artikel ini.

Marketing ala gambar porno

Marketing ala gambar porno? :D Sebetulnya ini istilah saya saja, sih. Kalau Anda cari di buku-buku marketing saya pastikan belum ada buku marketing manapun yang menjelaskan tentang teknik marketing ini. Teknik ini mengapa saya sebut ala gambar porno? Karena sedikit mirip sebab mencontoh bagaimana reaksi pria saat melihat gambar wanita telanjang dan membandingkannya dengan reaksi saat melihat wanita dengan pakaian, misalnya Lingerie seksi, sedikit mendekati telanjang.

Kalau saya tanya kepada Anda mana yang lebih memancing rasa penasaran Anda, apakah gambar wanita yang telanjang bulat atau yang semi telanjang? Saya yakin kebanyakan akan menjawab yang semi telanjang. Mengapa? Karena saat disodori gambar yang semi telanjang kebanyakan rasa penasarannya jauh lebih tinggi ketimbang gambar yang langsung telanjang bulat. Betul? :D

Contoh teknik marketing ala gambar porno ini sudah saya praktekkan di artikel ini, baca “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang”.

Saya sudah menguji teknik marketing ala gambar porno ini buat barang dagangan saya di internet. Di artikel tersebut sengaja saya tidak menyebutkan secara jelas bagaimana barangnya, berapa harganya. Bahkan, kalau Anda baca terkesan saya seperti jaim, tak niat jualan. Satu-satunya kekuatan marketingnya benar-benar hanya bertumpu kepada kata-kata pada artikel advertorialnya. Bukan bertumpu pada penampakan atau gambar barangnya, maupun pada bahasa sales letter yang kebanyakan berbusa-busa.

Anda ingin tahu apa reaksi pengunjung setelah baca artikel advertorial itu? Penasaran! Hampir setiap hari ada saja pengunjung yang SMS, nelpon dan kirim email ke saya melalui halaman Contact blog ini untuk menanyakan barang yang saya jual itu. Dan beberapa diantaranya akhirnya berakhir closing.

Itu yang baru lewat blog saya, belum termasuk yang dipublish kawan saya lewat notes facebook dan forum-forum di internet. Nah, Anda pun bisa terapkan teknik marketing ini jika barang yang Anda jual adalah barang yang unik, lain daripada yang lain, karena langka di pasaran.

Kedua, teknik marketing ini juga sangat pas buat Anda terapkan buat yang masih dalam taraf membangun branding toko online di blog. Contoh, blog personal yang baru pertama kali jualan online. Karena cara seperti ini membuat pengunjung lebih trust kepada Anda. Alasannya? Kesan jualannya tak nampak. Lebih jauh Anda tak akan terlihat memaksa seperti yang banyak dilakukan oleh sales letter yang kebanyakan merayu dengan banyak tipu dayanya. Dan maaf, tidak sedikit yang menipu beneran di internet.

Marketing ala Joger Bali

Pernah berkunjung ke toko Joger di Bali? Salah satu motto yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah kata-kata di toko Joger ini: “Belanja Tidak Belanja Tetap Thank You!” Kata-kata ini sangat menarik. Artinya, toko Joger tetap memberikan pelayanan yang baik buat seluruh pelanggan tokonya. Baik yang beli maupun tidak. Perlakuan seperti ini sangat membekas di benak saya. Sebagai pengunjung saya merasa sangat dihargai.

Joger Bali

Nah, dalam berjualan online pun konsep toko Joger Bali itu bisa juga Anda terapkan. Anda tetap melayani calon pelanggan toko Anda. Baik yang berniat beli, maupun yang hanya sekedar tanya-tanya saja, belum berniat beli. Yakinlah pengunjung yang sudah Anda layani dengan sangat baik suatu saat akan kembali mencari Anda. Dan saya sudah beberapa kali membuktikannya.

Baiklah, untuk menguatkan opini ini saya berikan contoh pengalaman dari sahabat blogger saya, Mas Lintang. Dia dan istrinya seringkali jadi tempat curhat pelanggan toko onlinenya. Dan curhatnya itu tidak seputar barang dagangannya, lho tapi hal-hal yang bersifat pribadi. Tapi jangan salah, justru dengan seperti itu kebanyakan pelanggan tokonya merasa sangat dihargai karena ada kedekatan secara emosional sehingga tanpa diminta dan dipaksa secara marketing pun akhirnya mereka mau dengan suka rela membeli barang dagangannya di internet.

Gimana, mau coba teknik marketing ini? Satu pesan saya sebelum Anda mencoba, sama seperti software freeware release beta dan open source, anggap saja teknik marketing yang saya tawarkan ini sama seperti itu. Harap maklum, tentu teknik ini masih banyak bug kelemahan di sana-sini. Dan saya juga memberi kebebasan kepada Anda untuk mengembangkannya sendiri layaknya open souce sesuai kreativitas dan kebutuhan Anda. Toh, saya sudah memberikan source kodenya, kan? :D

Sumber Foto: Deriell Jaqueline|Joger


Bookmark and Share