twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Siddhartha Gautama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siddhartha Gautama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

Pangeran Siddhartha Gautama, Orang Kaya, dan Kereta Ekonomi

Siddhārtha GautamaAnda pernah membaca kisah hidup Pangeran Siddhartha Gautama? Kalau belum, bisa membaca kisah hidupnya yang ada di Wikipedia ini. Kisah hidup Pangeran Siddhartha memang menarik. Saya pernah sedikit mengutipnya di artikel “Antara Memborong Media, Pangeran Siddhārtha Gautama dan Film Indonesia”.

Dalam perjalanan hidupnya Pangeran Siddhartha pernah dijauhkan oleh ayahnya, Sri Baginda Raja Suddhodana agar tak melihat 4 (empat) hal. Yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa karena khawatir sesuai ramalan kelak Pangeran Siddharta Gautama akan pergi meninggalkan istana dan menjadi pertapa dengan melihat banyak hal yang tidak menyenangkan yang sebenarnya ada di kehidupan nyata ini.

Sesuai ramalan pertapa, di bawah pimpinan Asita Kaladewala, memang diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Dan ramalan itu akhirnya benar-benar terjadi. Pangeran Siddhartha akhirnya pergi meninggalkan istana dengan segala kemewahan duniawinya dan menjadi Buddha meskipun empat hal tadi sudah dijauhkan oleh ayahnya sejak kecil.

Sama seperti ayah Pangeran Siddhartha, di kehidupan nyata sekarang ini tak sedikit para orang tua kaya yang berbuat sedikit mirip dengan ayah Pangeran Siddhartha. Memberi banyak fasilitas dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan mencekoki banyak materi sejak kecil. Menjauhkan dari kemiskinan, dari lingkungan pergaulan anak biasa yang tak sesuai dengan orang kaya. Pendeknya, anak tak boleh hidup sengsara dan merasakan hidup susah, itu intinya.

Sikap itu apakah salah? Tidak, tepatnya saya tak ingin melihat dalam prespektif antara salah dan benar, tetapi saat kelak anak mereka tumbuh menjadi dewasa betapa hal yang berlebihan seperti ini bisa berakibat fatal buat masa depan anaknya. Menafikkan fakta kehidupan bisa membuat ironi yang menyedihkan.

Saya punya dua orang contoh teman. Yang pertama ini seorang wanita. Dia lahir dari keluarga kaya. Sejak kecil benar-benar diperlakukan layaknya orang kaya. Karena kaya sehingga belum pernah sekalipun merasakan bagaimana naik kereta ekonomi. Suatu saat teman saya ini naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Yogyakarta. Teman saya ini bercerita ke saya sambil berkaca-kaca, menceritakan benar-benar terharu saat melihat hal-hal yang tidak biasa ia lihat sejak kecil sampai dia tumbuh dewasa sebesar usianya sekarang ini. Dia kagum melihat banyak orang yang lebih menderita dari dia tapi masih bisa tersenyum dan bercengkerama gembira di kereta diantara sesak dan tidak nyamannya naik kereta kelas ekonomi.

Kereta Api

Bagi teman saya tersebut pengalaman itu sungguh pengalaman yang menarik, yang membuatnya jadi lebih bersyukur kepada Tuhan sehingga teman saya ini pun menjadi terus ketagihan naik kereta kelas ekonomi. Dan yang terpenting, dia lebih bisa berempati dengan orang, terlebih kepada orang miskin.

Saya coba bandingkan dengan saya. Apa menariknya naik kereta ekonomi? Menjemukan sekali karena tidak nyaman, panas, bau dan sebagainya. Sebuah kondisi yang sudah terlalu akrab di kehidupan saya sejak kecil. Karena sejak kecil saya sudah bergulat dengan kemiskinan. Saya lahir di desa dengan kehidupan yang amat sederhana. Lahir dari kelurga yang biasa-biasa saja. Dan mungkin ini juga berlaku buat Anda yang (barangkali) pernah hidup miskin sama seperti saya. Benar?

Contoh yang kedua, saya punya teman laki-laki yang terlahir dari keluarga kaya juga. Teman saya ini sekarang sudah tumbuh menjadi pengusaha sukses dan kaya seperti orang tuanya. Namun, hal yang berbeda dengan kawan saya yang pertama, teman saya yang satu ini dalam banyak hal kalau berbicara selalu tinggi dan ingin tampil terlihat kaya dan tak mau kalah dengan orang lain. Teman saya ini kurang bisa berempati dengan kemiskinan dan orang-orang di sekitarnya akibat sejak kecil tak pernah bergaul dengan orang kebanyakan apalagi bergulat dengan kemiskinan. Pendek kata teman saya ini sangat sombong sekali. Dalam kaca mata saya dia sok kaya sekali, meskipun belum jadi orang kaya beneran karena rumah dan mobil pun saya lihat masih kredit.

Melihat contoh kehidupan kedua kawan saya tersebut dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Siddhartha, saya berkesimpulan: Beruntunglah kawan saya yang pertama. Meski sejak kecil dia sempat dijauhkan dari hal-hal yang berbau kemiskinan dan kesusahan seperti Pangeran Siddhartha tapi dia tetap bisa berempati dengan orang miskin. Dan saya berterima kasih sekali sudah diingatkan dengan kejadian seperti ini. Karena seringkali orang begitu, saat terlepas dari kesusahan (kemiskinan) mulai menjadi lupa akan siapa dirinya dulu. Dan saya tak malu untuk mengakui tak terkecuali saya.

Semoga kita bisa belajar dari ketiga kisah tersebut. Amin

Sumber Foto: Wikipedia dan ImageShack


Bookmark and Share

Kamis, 01 Juli 2010

Antara Memborong Media, Pangeran Siddhārtha Gautama dan Film Indonesia

Siddharta GautamaDalam suatu kesempatan Garin Nugroho pernah mengatakan membuat film di Indonesia katanya tidak sebebas seperti film di luar negeri. Yaitu seperti film Mandarin, film Hollywood, atau film Bollywood yang bisa bebas berkreasi. Di Indonesia kita tidak mengenal atau tidak boleh membuat film dengan mengantagoniskan tokoh seperti polisi, seorang militer dan pejabat negara. Beda dengan film-film luar negeri yang katanya bisa bebas, tak ada pembatasan. Makanya, kalau Anda pernah nonton film barat misalnya, tidak jarang ada tokoh polisi jahat, seorang Jendral militer makar atau seorang menteri korupsi dsb muncul di film-filmnya.

Dan faktanya, sepanjang pengalaman saya menonton dan mengamati wajah perfilman negara kita, bahkan hingga hari ini memang saya belum pernah menjumpai satu pun tokoh polisi, militer, dan pejabat negara jahat pernah muncul dan ditokohkan ada di cerita film atau sinetron Indonesia. Kecuali, hanya ada di film sejarah G30S-PKI yang memang diangkat dari kisah nyata sebuah sejarah.

Ah, saya jadi berpikir, alangkah rendah dan terhinanya kah orang sipil biasa seperti saya ini di film Indonesia. Bisa dengan bebas ditokohkan sebagai orang jahat, tukang Korupsi, pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh dsb. Sementara Anda Pak polisi, tentara, pejabat yang terhormat bak malaikat yang tak pernah punya salah. Bukankah polisi, tentara atau pejabat negara juga seorang manusia? Seorang yang karena kealphaannya juga suatu saat mungkin saja bisa berbuat salah?

Saya bukan orang film dan juga bukan polisi, tentara, atau pejabat negara sehingga kurang tahu dan paham apa maksud dari ketidakbolehan mengantagoniskan tokoh-tokoh tersebut di film Indonesia. Apakah maksud dari tidak bolehnya ini sama seperti tujuan mulia Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama untuk menjauhkan sang pangeran dari 4 (empat) hal: Orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa karena khawatir pangeran Siddharta Gautama meninggalkan istana dan menjadi pertapa dengan melihat banyak hal yang tidak menyenangkan yang sebenarnya ada di kehidupan nyata ini?

Apakah sama seperti tujuan mulia itu agar kita dibiasakan melihat hal yang baik-baik saja agar kita menjadi orang baik meskipun kenyataannya tidak semua di kehidupan nyata ini baik-baik saja? Bukankah selalu saja ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang merupakan sisi kehidupan yang lain, yang sebenarnya juga perlu kita saksikan sebagai sebuah kenyataan pahit hidup yang perlu dilihat? Apakah memang semua polisi, tentara dan pejabat negara itu baik-baik saja, tak ada yang nyeleweng, Korupsi misalnya?

Saya jadi ingin membandingkan aksi memborong majalah Tempo edisi 28 Juni-4 Juli 2010 lalu bukankah itu juga hampir sama? Sebagai aksi untuk memblokir fakta karena tidak ingin berita yang dimuat dalam Tempo tersebut sampai jatuh dan diketahui oleh publik? Bahkan dalam editorialnya Koran Tempo menegaskan siapa pun pelakukanya, polisi atau bukan, itu tak penting. Tapi motif mereka yang memborong sudah terbaca, ingin membendung agar majalahnya tak jatuh ke tangan publik, karena ada berita yang sengaja di-keep karena merugikan pemborongnya.

Saya menjadi heran setelah melihat ulasan media, mengapa polisi justru marah ketika majalah Tempo menyajikan laporan investigasi tentang adanya indikasi korupsi di tubuh POLRI karena adanya Aliran dana mencurigakan di rekening beberapa perwira polisi. Mengapa pula mesti mencak-mencak seperti Aburizal Bakrie yang juga pernah marah mempermasalahkan cover fotonya dikarikaturkan oleh majalah Tempo? Bukankah seharusnya malah bersyukur dan hal itu bisa dijadikan momentum untuk menindak oknum polisi-polisi, maaf, brengsek nakal yang berlindung dibalik korps POLRI? Sudah saatnya POLRI menyikapi dewasa tanpa arogansi dalam menyikapi kasus seperti ini. Arogansi hanya makin menyebabkan masyarakat makin antipati kepada polisi.

Antara Memborong Media, Pangeran Siddharta Gautama dan Film Indonesia memang tak ada hubungannya, selain hanya analogi kebetulan saya saja bahwa dalam hidup ini tentu tidak selamanya kita harus menafikan, mengingkari dan mencoba menutup-nutupi sebuah kenyataan yang sebenarnya ada dan nyata dalam hidup ini.



Bookmark and Share