Anda pernah membaca kisah hidup Pangeran Siddhartha Gautama? Kalau belum, bisa membaca kisah hidupnya yang ada di Wikipedia ini. Kisah hidup Pangeran Siddhartha memang menarik. Saya pernah sedikit mengutipnya di artikel “Antara Memborong Media, Pangeran Siddhārtha Gautama dan Film Indonesia”.Dalam perjalanan hidupnya Pangeran Siddhartha pernah dijauhkan oleh ayahnya, Sri Baginda Raja Suddhodana agar tak melihat 4 (empat) hal. Yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa karena khawatir sesuai ramalan kelak Pangeran Siddharta Gautama akan pergi meninggalkan istana dan menjadi pertapa dengan melihat banyak hal yang tidak menyenangkan yang sebenarnya ada di kehidupan nyata ini.
Sesuai ramalan pertapa, di bawah pimpinan Asita Kaladewala, memang diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Dan ramalan itu akhirnya benar-benar terjadi. Pangeran Siddhartha akhirnya pergi meninggalkan istana dengan segala kemewahan duniawinya dan menjadi Buddha meskipun empat hal tadi sudah dijauhkan oleh ayahnya sejak kecil.
Sama seperti ayah Pangeran Siddhartha, di kehidupan nyata sekarang ini tak sedikit para orang tua kaya yang berbuat sedikit mirip dengan ayah Pangeran Siddhartha. Memberi banyak fasilitas dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan mencekoki banyak materi sejak kecil. Menjauhkan dari kemiskinan, dari lingkungan pergaulan anak biasa yang tak sesuai dengan orang kaya. Pendeknya, anak tak boleh hidup sengsara dan merasakan hidup susah, itu intinya.
Sikap itu apakah salah? Tidak, tepatnya saya tak ingin melihat dalam prespektif antara salah dan benar, tetapi saat kelak anak mereka tumbuh menjadi dewasa betapa hal yang berlebihan seperti ini bisa berakibat fatal buat masa depan anaknya. Menafikkan fakta kehidupan bisa membuat ironi yang menyedihkan.
Saya punya dua orang contoh teman. Yang pertama ini seorang wanita. Dia lahir dari keluarga kaya. Sejak kecil benar-benar diperlakukan layaknya orang kaya. Karena kaya sehingga belum pernah sekalipun merasakan bagaimana naik kereta ekonomi. Suatu saat teman saya ini naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Yogyakarta. Teman saya ini bercerita ke saya sambil berkaca-kaca, menceritakan benar-benar terharu saat melihat hal-hal yang tidak biasa ia lihat sejak kecil sampai dia tumbuh dewasa sebesar usianya sekarang ini. Dia kagum melihat banyak orang yang lebih menderita dari dia tapi masih bisa tersenyum dan bercengkerama gembira di kereta diantara sesak dan tidak nyamannya naik kereta kelas ekonomi.

Bagi teman saya tersebut pengalaman itu sungguh pengalaman yang menarik, yang membuatnya jadi lebih bersyukur kepada Tuhan sehingga teman saya ini pun menjadi terus ketagihan naik kereta kelas ekonomi. Dan yang terpenting, dia lebih bisa berempati dengan orang, terlebih kepada orang miskin.
Saya coba bandingkan dengan saya. Apa menariknya naik kereta ekonomi? Menjemukan sekali karena tidak nyaman, panas, bau dan sebagainya. Sebuah kondisi yang sudah terlalu akrab di kehidupan saya sejak kecil. Karena sejak kecil saya sudah bergulat dengan kemiskinan. Saya lahir di desa dengan kehidupan yang amat sederhana. Lahir dari kelurga yang biasa-biasa saja. Dan mungkin ini juga berlaku buat Anda yang (barangkali) pernah hidup miskin sama seperti saya. Benar?
Contoh yang kedua, saya punya teman laki-laki yang terlahir dari keluarga kaya juga. Teman saya ini sekarang sudah tumbuh menjadi pengusaha sukses dan kaya seperti orang tuanya. Namun, hal yang berbeda dengan kawan saya yang pertama, teman saya yang satu ini dalam banyak hal kalau berbicara selalu tinggi dan ingin tampil terlihat kaya dan tak mau kalah dengan orang lain. Teman saya ini kurang bisa berempati dengan kemiskinan dan orang-orang di sekitarnya akibat sejak kecil tak pernah bergaul dengan orang kebanyakan apalagi bergulat dengan kemiskinan. Pendek kata teman saya ini sangat sombong sekali. Dalam kaca mata saya dia sok kaya sekali, meskipun belum jadi orang kaya beneran karena rumah dan mobil pun saya lihat masih kredit.
Melihat contoh kehidupan kedua kawan saya tersebut dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Siddhartha, saya berkesimpulan: Beruntunglah kawan saya yang pertama. Meski sejak kecil dia sempat dijauhkan dari hal-hal yang berbau kemiskinan dan kesusahan seperti Pangeran Siddhartha tapi dia tetap bisa berempati dengan orang miskin. Dan saya berterima kasih sekali sudah diingatkan dengan kejadian seperti ini. Karena seringkali orang begitu, saat terlepas dari kesusahan (kemiskinan) mulai menjadi lupa akan siapa dirinya dulu. Dan saya tak malu untuk mengakui tak terkecuali saya.
Semoga kita bisa belajar dari ketiga kisah tersebut. Amin
Sumber Foto: Wikipedia dan ImageShack
Saya punya dua orang contoh teman. Yang pertama ini seorang wanita. Dia lahir dari keluarga kaya. Sejak kecil benar-benar diperlakukan layaknya orang kaya. Karena kaya sehingga belum pernah sekalipun merasakan bagaimana naik kereta ekonomi. Suatu saat teman saya ini naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Yogyakarta. Teman saya ini bercerita ke saya sambil berkaca-kaca, menceritakan benar-benar terharu saat melihat hal-hal yang tidak biasa ia lihat sejak kecil sampai dia tumbuh dewasa sebesar usianya sekarang ini. Dia kagum melihat banyak orang yang lebih menderita dari dia tapi masih bisa tersenyum dan bercengkerama gembira di kereta diantara sesak dan tidak nyamannya naik kereta kelas ekonomi.

Bagi teman saya tersebut pengalaman itu sungguh pengalaman yang menarik, yang membuatnya jadi lebih bersyukur kepada Tuhan sehingga teman saya ini pun menjadi terus ketagihan naik kereta kelas ekonomi. Dan yang terpenting, dia lebih bisa berempati dengan orang, terlebih kepada orang miskin.
Saya coba bandingkan dengan saya. Apa menariknya naik kereta ekonomi? Menjemukan sekali karena tidak nyaman, panas, bau dan sebagainya. Sebuah kondisi yang sudah terlalu akrab di kehidupan saya sejak kecil. Karena sejak kecil saya sudah bergulat dengan kemiskinan. Saya lahir di desa dengan kehidupan yang amat sederhana. Lahir dari kelurga yang biasa-biasa saja. Dan mungkin ini juga berlaku buat Anda yang (barangkali) pernah hidup miskin sama seperti saya. Benar?
Contoh yang kedua, saya punya teman laki-laki yang terlahir dari keluarga kaya juga. Teman saya ini sekarang sudah tumbuh menjadi pengusaha sukses dan kaya seperti orang tuanya. Namun, hal yang berbeda dengan kawan saya yang pertama, teman saya yang satu ini dalam banyak hal kalau berbicara selalu tinggi dan ingin tampil terlihat kaya dan tak mau kalah dengan orang lain. Teman saya ini kurang bisa berempati dengan kemiskinan dan orang-orang di sekitarnya akibat sejak kecil tak pernah bergaul dengan orang kebanyakan apalagi bergulat dengan kemiskinan. Pendek kata teman saya ini sangat sombong sekali. Dalam kaca mata saya dia sok kaya sekali, meskipun belum jadi orang kaya beneran karena rumah dan mobil pun saya lihat masih kredit.
Melihat contoh kehidupan kedua kawan saya tersebut dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Siddhartha, saya berkesimpulan: Beruntunglah kawan saya yang pertama. Meski sejak kecil dia sempat dijauhkan dari hal-hal yang berbau kemiskinan dan kesusahan seperti Pangeran Siddhartha tapi dia tetap bisa berempati dengan orang miskin. Dan saya berterima kasih sekali sudah diingatkan dengan kejadian seperti ini. Karena seringkali orang begitu, saat terlepas dari kesusahan (kemiskinan) mulai menjadi lupa akan siapa dirinya dulu. Dan saya tak malu untuk mengakui tak terkecuali saya.
Semoga kita bisa belajar dari ketiga kisah tersebut. Amin
Sumber Foto: Wikipedia dan ImageShack






