Senin, 14 Februari 2011

Review Buku: Belajar Goblok Dari Bob Sadino

Bob SadinoParadigma saya sekolah dan mengenyam hidup selama 38 tahun runtuh sudah. Itu semua karena Bob Sadino. Gara-gara membaca bukunya seperti telah dicuci otak saya. Benar-benar dicuci bersih dan seperti dilahirkan kembali. Ha Ha Ha.

Bagaimana tidak, falsafah-falsafah bisnis dan hidup Bob Sadino sudah menjungkirbalikkan fakta tentang keyakinan yang banyak diyakini orang pintar selama ini. Apa itu? Falsafah Goblok.

Berikut salah satu pernyataannya yang bisa membuat saya dan barangkali Anda juga menjadi tersenyum kecut, atau kening sampai berkerut-kerut bahkan mungkin bisa kebakaran jenggot karena pernyataannya yang tentu bertolak belakang 180 derajat beneran kalau dilihat dari kacamata pinter orang sekolah.

Kalau ingin sukses berbisnis Jangan pakai tujuan. Jangan pakai rencana. Jangan pula pakai harapan. Mengalir saja jalani apa adanya. Dan juga tak perlu sekolah. Catat tak perlu sekolah. Ini pesan "Goblok" tapi sebetulnya pinter yang disampaikan oleh Bob Sadino dalam sebuah bukunya yang baru selesai saya baca.

Mengapa dibilang Goblok? Karena tak pernah ada pelajaran pinter sekolah ilmu manajemen modern universitas manapun yang mengajarkan demikian. Apalagi nyuruh jangan sekolah. Hanya Bob Sadino lah satu-satunya orang yang mengajarkan pakai cara "Goblok" yang tak lazim ini.

Mengapa Bob Sadino berani bilang tak perlu sekolah? Bila Anda termasuk orang yang membangga-banggakan sekolah atau ijazah Anda, semoga Anda tak semakin marah apalagi mencak-mencak mendengar ucapannya lagi tentang sekolah. Sekolah itu racun. Catat sekali lagi, hanya membodohi Anda dengan racun informasi basi seperti sampah yang tak berguna.

Maksud dari ucapan Bob Sadino yang bisa saya tangkap adalah intinya kalau ingin pinter, salah satunya pinter berbisnis, ya bisnis saja dengan langsung praktek, just do it, tak perlu banyak mikir ini dan itu yang membuat Anda menjadi takut karena kebanyakan pertimbangan. Kebanyakan mikir malah tak jalan-jalan. Dan celakanya, kebanyakan sekolah hanya mendidik orang menjadi penakut akibat terlalu banyak dicekoi pelajaran sampah yang semakin membuat takut orang berbisnis. Ini faktanya.

Ucapan itu bukan tanpa alasan dan guyonan tapi sangat serius. Dan dalam banyak kesempatan seperti saat diundang untuk seminar-seminar atau diwawancarai media kata-kata itu sering meluncur dari mulut Bob Sadino.

Sebagai bukti ucapannya, jangan ditanya setidaknya Bob Sadino sudah membuktikan kesuksesan berbisnisnya pada dirinya sendiri dengan memakai cara-cara "Goblok". Coba bayangkan dari awalnya menjajakan telur door to door sampai akhirnya bisa punya rumah megah, mobil Jaguar dua sampai punya supermarket Kem Chick yang terus berkembang pesat dan punya pabrik sosis & ham Kem Food dan juga punya pabrik pengolah sayur Kem Farm.

Apa itu masih belum cukup untuk membuktikan bahwa teori "Goblok" Bob Sadino sebetulnya adalah pinter?

Dalam konteks melakukan apapun adakalanya tujuan, adanya banyak atau sederet rencana dan harapan justru malah membelenggu kita. Kita memang fokus pada rel tujuan namun fokus di sini justru menafikan peluang lain yang ada di luar rencana atau tujuan kita, yang sebetulnya adakalanya malah lebih menjanjikan. Betul?

Itulah setidaknya penggalan pesan yang bisa saya tangkap dari maksud Bob Sadino mengapa berbisnis itu tak perlu pakai tujuan, tak perlu pakai rencana seperti kontingensi plan, adanya banyak plan-plan seperti plan A, plan B, plan C, dst. Dan juga tak perlu sebuah harapan.

Anda ingin tahu selengkapkanya bagaimana belajar pakai cara "Goblok" agar menjadi pinter, silahkan baca bukunya. Baca buku "Belajar Goblok Dari Bob Sadino" yang ditulis oleh Dodi Mawardi.

Maaf, ini bukan Advertorial tapi hanya review saja. Saya tidak dibayar sepeser pun dengan mereview buku ini. Yang ini tolong Anda catat juga. biggrin



Bookmark and Share

41 komentar:

  1. Om Bob ini memang gila-gila jenius..
    Tanpa banyak bla bla bla, Om Bob bisa membuktikannya..

    BalasHapus
  2. hahahahhaha...

    cara goblok aja bs berhasil apalagi cara pinter

    BalasHapus
  3. giewahyudi:
    Orang jenius memang rata-rata gitu, Mas. Sedikit agak2 gila tapi hebat. :D

    Rohani Syawaliah:
    Lha iya pakai cara goblok aja sudah kayak begini apalagi yang pinter. Yang dimaksud goblok di sini kalau saya tangkap lebih kepada cara gampang. Tak mau ruwet

    BalasHapus
  4. jika terlalu banyak rencana tanpa action biasanya akan jadi layangan yang terbang disitir kemana terus nggak jelas. tapi jika pekerjaan tanpa rencana yang matang hasilnya kurang maksimal. Pengusaha macam uncle bob memang banyak dan terbukti banyak yang sukses namun banyak juga yang ambruk ketika ternyata kurang cakap dalam bisnis baru gelutannya.

    BalasHapus
  5. Bener kata om bob, bahasa om bob sebenarnya menyindir, karena org sekarang bnyak yg keminter, :p

    BalasHapus
  6. dan belum pernah ada cerita orang goblok sukses seperti bob sadino yang berangkat dari blog..ha..ha..ha....
    _________________________________________

    langsung praktek,tanpa perlu basa-basi...kalau setiap hari hanya membaca teori,hanya membaca blog motivasi,hanya membaca buku motivasi,tidak akan ada yang dapat di lakukan dan di hasilkan selain hanya bisa berkata "luar biasa..wah dasyat sekali" ..anak bini tidak butuh kata-kata "luar biasa dan dasyat" mereka butuh duit untuk makan...

    resiko pasti langsung praktek pasti akan timbul,apa sih di dunia ini yang tidak beresiko?..pacaran resikonya hamil,makan resikonya kenyang..dll..semakin banyak rencana,semakin besar peluang untuk gagal,itu yang saya alami selama ini..semakin banyak membaca artikel motivasi,akan semakin membuat anda tertinggal dan ketinggalan kereta....

    berapa banyak mereka yang berhasil karena langsung terjun?dan berapa banyak mereka yang gagal karena setiap hari hanya membaca buku sukses,buku berhasil,dsb?

    banyak orang koar2,kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda,tapi giliran dia sendiri menentukan aksi nyata,malah mundur sebelum perang,dengan gagal kita akan tahu kesalahan,..jika gagal otomatis uang melayang,tapi bukankah jika kelak kita mati uang nggak akan kita bawa?

    BalasHapus
  7. pututik:
    Komentar saya, itulah lika-liku hidup. Betul? Yang pinter karena saking pinternya jadi takut dengan segala resiko dalam bisnis. Yang bodoh karena tidak dicekoki segala macam ilmu manajemen modern jadi sedikit sekali pertimbangan sehingga tak jarang malah lebih sukses.

    Pelajaran yang bisa saya petik dari Bob Sadino adalah belajar dari praktek dengan terjun ke lapangan (jalanan kalau istilah Om Bob) itu lebih mem-"bisa"-kan orang ketimbang belajar dari bangku sekolah yang rata-rata hanya mengajarkan orang menjadi "tahu" saja. Tidak mengajarkan 'bisa".

    Lintang Hamidjoyo:
    Ya salah satunya bisa jadi menyindir dengan menggoblokkan diri sendiri padahal sebetulnya orangnya pinter. Faktanya banyak orang yang sok keminter itu, Mas. Dan biasanya itu yang menghambat kemajuan seseorang. Karena merasa sudah pinter jadinya tengsin (malu) kalau harus bertanya ke orang lain.

    widodo:
    Mudah-mudahan nanti ada saya, Mas. Orang goblok yang bisa sukses berangkat dari blog. HaHa Ha

    Kadang, bedanya orang akedemisi dengan praktisi ya di situ, Mas Widodo. Akedemisi hanya belajar untuk menjadi "tahu" dengan terus sekolah dan sekolah atau membaca buku. Sementara orang praktisi langsung belajar "bisa" dengan praktek sendiri di lapangan secara langsung. Praktisi butuh teori hanya untuk mempertajam ilmunya, sementara akedemisi terus mempertajam teorinya tapi biasanya tumpul di lapangan karena minimnya pengalaman. Betul, ya?

    Tanpa bermaksud untuk mensejajarkan diri dengan Bob Sadino, skill saya sekarang juga saya dapat dari lapangan dan belajar otodidak selama belasan tahun nguli di proyek, Mas. Saya tak pernah lulus kuliah apalagi sampai menyandang gelar insinyur dari bangku kuliah. Pekerjaan saya sebetulnya hanya bisa dijabat oleh insinyur. Bukan orang seperti saya yang hanya lulusan SMA dan tak pernah lulus kuliah. Tapi karena saya punya skill yang bisa sejajar dan sedikit melebihi insinyur maka perusahaan lebih memilih saya ketimgang insinyur fresh graduate yang tak bisa apa-apa karena hanya mahir teori aja.

    BalasHapus
  8. Ini saya rasa hanya bisa diungkapkan oleh Bob Sadino. Kalau orang lain yang ngomong ga akan ada yang percaya.

    Kalau ke toko buku, akan saya cari bukunya pak. Terima kasih infonya.

    BalasHapus
  9. Jeprie:
    Apalagi yang ngomong saya pasti orang-orang akan bilang gini mengolok-ngolok saya: "Eh, itu ada orang gila dan goblok dari mana, kok berani-beraninya ngomong begitu." :D

    Sama-sama, Mas Jeprie. Buku ini tidak hanya cocok buat orang yang kepingin berbisnis (buka usaha) tapi juga cocok dibaca oleh siapapun karena banyak falsafah hidup Bob Sadino yang disharing di buku ini. Makanya, tak salah kalau menjadi buku best seller di Gramedia meski sudah dua tahun lamanya sejak pertama kali diterbitkan.

    BalasHapus
  10. ini sebenanarnya cambukan buat kita bahwa pendidikan formal pun seseorang bisa sukses.

    satu kalimat say no NATO (no action talk only) just ADA (action doing and action again ) hehe

    kalo semua orang pake caranya bob sadiono engga bakalan ada orang nganggur kali ya mas? :)

    BalasHapus
  11. nah.. sejak dulu anak menganggap sekolah itu penting,, tapi sekarang ini mungkin sudah tidak penting lagi.. seperti yang telah dijelaskan diatas,, kita tidak perlu teori, tapi langsung aja praktek,, otomatis teori juga sudah dapat kita kuasai dengan baik..
    btw, mas mau order baju blogger indonesia g? cek blogku :)

    BalasHapus
  12. wah kurang satu kata hehe revisi ah "bahwa tanpa pendidikan formal pun seseorang bisa sukses"

    BalasHapus
  13. andisakab.com:
    #Ya tentu, Mas. Para sarjana yang sudah sekolah tinggi-tinggi tak akan menganggur dan akan buka usaha sendiri.

    #Kalau menilik konteks kalimatnya saya sudah bisa nangkep maksudnya pasti itu, Mas Andi. Kurang kata "tanpa". He He He.

    dery:
    Sebetulnya sekolah dibilang samasekali tak penting, ya jangan. Tetap perlu, Mas tapi orientasi sekolahnya yang perlu diubah. Salah satunya seperti apa yang disampaikan Bob Sadino di buku ini. Sekolah secukupnya saja buat modal untuk praktek belajar dari kehidupan. Ini yang terpenting.

    Terima kasih tawarannya nanti akan saya lihat.

    BalasHapus
  14. Walaupun demikian, menurut dan bagiku belajar goblok dari bob sadino tersebut sangat tidak bisa diterapkan pada diriku yang terlebih malas ini..., mungkin untuk orang tertentu hal tersebut menjadi motivasi sekaligus ide yang sangat bagus untuk segera di terapkan...

    BalasHapus
  15. Fakta memang membuktikan bahwa sekolah dan juga bangku kuliah hampir selalu gagal mencetak para wirausahawan. Kebanyakan cuma mencetak para karyawan.

    Mungkin sistem pendidikan dan kurikulumnya yang salah. Sekolah bisnis yang real tetaplah di dunia luar sekolah.

    Saya jadi ingat dengan salah satu pengusaha francise makanan khas Turki. Ternyata ia nggak lulus kuliah. Salah satu penulis buku best-seller (yaitu Andrias Harefa) ternyata juga memilih DO dari bangku kuliah.

    BalasHapus
  16. ToPu:
    Apa yang ditawarkan Bob Sadino ini hanya metode belajar alternatif saja. Jadi ada kemungkinan cocok. Contoh pada saya. Saya lebih suka belajar otodidak dari praktek. Tapi tak menutup kemungkinan ada juga yang tidak cocok. Dan contohnya itu adalah Anda. :)

    iskandaria:
    Banyak contoh kasusnya begitu, Mas Is. Sekolah hanya mendidik jadi karyawan dan akedemisi saja, bukan enterpreneur. Karena faktanya enterpreneur sukses dunia banyak yang malah sukses karena meninggalkan bangku kuliah.

    Terima kasih poin tambahan untuk contoh-contohnya, Mas Is.

    BalasHapus
  17. Yang membedakan Bill Gates dengan Bob Sadino adalah: Bill Gates itu anak sekolahan &mdash meskipun akhirnya DO.

    Mungkin mereka sama-sama kaya raya, tetapi orang yang bersekolah itu tetap kelihatan bedanya dengan yang tidak bersekolah.

    Sukses itu tergantung tujuan hidup yang ingin diraih. Tidak selamanya tujuan hidup seseorang di dunia itu adalah menjadi kaya raya... :)

    BalasHapus
  18. ardianzzz:
    Mas Ardian, makna kata 'Tidak bersekolah' jangan diartikan sebagai tidak sekolah beneran. Itu hanya kata kiasan. Maksudnya, jangan sekolah tinggi-tinggi dengan hanya mengandalkan bangku kuliahan. Tapi belajarlah langsung dari sekolah kehidupan (praktek). Itu makna implisit yang dimaksud Bob Sadino.

    Apakah Mas Ardian termasuk klasifikasi orang yang di paragraf terakhir komentar Mas Ardian itu? Tidak selamanya tujuan hidup seseorang di dunia itu adalah menjadi kaya raya :)

    BalasHapus
  19. Buku yang bisa merubah pola keragu-raguan menjadi suatu keyakinan !? Simpel, cerdas dan terkesan "aneh" untuk golongan orang-orang "pintar" !!

    BalasHapus
  20. Sebenernya kesalahan kita adalah pikiran kita telah terkotak bahwa pendidikan = sekolah. padahal faktanya sekolah belum tentu mendidik.

    Yang namanya pendidikan bisa kita dapatkan dimana saja. Bob Sadino sendiri sudah membuktikan bahwa pendidikan bisa didapat dari mana saja, tidak harus dari sekolah.

    Dari Fakta tersbut bisa ditarik pelajaran bagi teman2 yang kurang beruntung tidak dapat mengenyam sekolahan, bahwa kunci sukses itu ada pada pendidikan dan untuk mendapat pendidikan tidak harus melalui sekolah.

    Bagi teman2 yang punya kesempatan sekolah, belajarlah sungguh, kuasai ilmunya dengan benar dan belajar bagaimana menerapkan ilmu tersebut. Karena kebanyakan orang yang sekolah sebenernya juga ga ngerti esensi dari sekolah sehingga mereka asal-asalan aja, yang penting lulus dapet ijasah.

    Begitu terjun ke dunia kerja ga bisa apa2. Parahnya lagi di sekolah kita di doktrin untuk tidak melakukan kesalahan. Sehingga kebanyakan dari lulusan S1, S2, S3 dst yang dibawah standart, mereka maunya cari aman, kerja kalo bisa jadi PNS dapet gaji tetap dan kalo pensiun dapet tunjangan, kalo gaji kurang ya ujung2nya korupsi.

    Karena mereka takut ambil resiko untuk menjadi pengusaha, karena kalo jadi pengusaha kalo gagal resikonya bangkrut. tapi kalo jadi koruptor resikonya cuman di penjara, keluar dari penjara juga masih tetep kaya.

    BalasHapus
  21. irf_luck00:
    Terima kasih atas komentar dan apresiasinya. :)

    Anung:
    Saya mungkin salah satu contohnya orang yang kurang beruntung tersebut, Mas. Yang tidak dapat mengenyam sekolah tinggi dan terpaksa motol (putus) kuliah kemudian memilih belajar otodidak dari praktek dengan bekerja secara langsung.

    Terima kasih penambahan poin argumentasi dan contoh dari Anda.

    BalasHapus
  22. kita harus kritis dalam membaca buku jangan sampai kita konyol sudah punya karir bagus keluar jadi pengusaha dan gagal. ujung2nya kita di caci orang terdekat kok begitu bodohnya.

    Menurut saya kita ambil jalan tengahnya seperti marketing Insurance mereka harus pandai secara teori di kelas training dan pandai terjun kelapangan. Dan kesuksesan mereka hasil dari teori dan praktek

    kisah sukses seseorang tidak bisa dijadikan acuan cuma berguna sebagai inspire saja, Karena kita tidak bisa mengulang kisah yg sama,

    dan seperti yg di katakan bapak widi keswianto Manager Prudential Jakarta jika anda mau beralih profesi menjadi marketing/wirausahawan UKM jika penghasilan anda sudah mencapai posisi 50%-50% kita putusan untuk memilih salah satu mau fokus jadi wirausahawan UKM/Marketing atau fokus jadi Karyawan

    Agar tidak jadi konyol dan beresiko bagi keharmonisan keluarga.

    BalasHapus
  23. hendra comunity:
    Sebuah buku adalah tawaran, Mas Hendra. Kalau merasa cocok dengan diri kita silahkan pakai. Tetapi jika tidak abaikan. Rasanya ini berlaku dalam mempelajari ilmu apapun. Tak terkecuali ilmu dari Bob Sadino dalam buku ini. Bahkan dalam teknik 'Membaca Kreatif' sebetulnya malah wajib (harus) seperti itu teknisnya. Kita harus melakukan kajian dengan membaca banyak buku dari subyek tertentu kemudian memperbandingkannya dengan buku-buku yang lain kemudian compair dengan pengalaman sendiri baru kita terapkan buat diri kita sendiri.

    Dalam buku ini Bob Sadino juga menegaskan dalam salah satu babnya agar kita jangan mengcopi-paste dirinya. Kita disuruh kreatif. Jangan jadi peniru saja. Karena peniru sulit untuk menjadi sukses. Katanya.

    BalasHapus
  24. @Pak Joko
    Secara pribadi, saya kurang suka dengan Bob Sadino. Ini hanya masalah persepsi saja. :D

    Pengertian "kaya" itu subyektif. Secara pribadi saya tidak begitu tertarik dengan kehidupan yang megah, seperti memiliki rumah/mobil lebih dari satu hanya untuk bermewah-mewah.

    Bahkan untuk kondisi saat ini, saya masih merasa melakukan banyak sekali pemborosan. :)

    Sukses itu adalah pencapaian tujuan. Sayangnya, paradigma tentang tujuan kehidupan/kesuksesan didominasi dengan pencapaian materi. :D

    Yeah, buat apa punya mobil tiga? toh kita tidak bisa menaikinya sekaligus. :)

    BalasHapus
  25. ardianzzz:
    Saya bisa memahami cara pandang Mas Ardian yang seperti itu. Tidak tertarik dengan kehidupan yang megah (kaya). Namun, saatnya nanti kalau Mas Ardian sudah tidak muda lagi, berkeluarga, punya istri dan anak-anak, saya yakin cara pandanganya akan berbeda, Mas. Karena kalau sudah berkeluarga ada orang lain yang perlu dipikirkan, tidak hanya sekedar buat diri kita saja. Silahkan nanti dibuktikan sendiri kalau nanti sudah menikah dan punya anak, Mas.

    Kalau misalnya pertanyaan "buat apa punya mobil tiga itu" ditujukan kepada saya (kalau saya) maka saya akan jawab, ya yang satu tentu buat saya. Terus yang kedua dan ketiga buat anak2 dan istri saya. Dan ini juga berlaku buat rumah juga. Orang tua mana yang tidak ingin memberikan anaknya rumah kalau dia mampu. Kalau ada kesempatan bisa menjadi kaya dan membeli rumah tiga kenapa harus ditolak.

    Selebihnya, tidak semua orang punya kesempatan untuk menjadi kaya. Jika saya diberi kesempatan untuk bisa menjadi kaya raya, kenapa tidak tertarik dan harus menolak. Bukan karena semata-mata ingin bermewah2 sendiri seperti apa yang Mas Ardian sebutkan itu yang percuma punya mobil tiga, toh tetap tidak bisa dinaiki bareng semuanya. Bukan karena alasan itu tapi dengan bisa menjadi kaya saya akan bisa membantu banyak saudara saya yang masih miskin hidupnya. Kecuali kalau negara kita sudah maju, penduduknya semua sudah kaya dan sudah tidak ada yang perlu dibantu lagi.

    Kenapa diskusi kita harus ngelantur membahas tentang "Kaya" padahal di buku itu Bob Sadino tidak ngomong begitu, kok. Hanya ngajak menjadi enterpreneur. Dan bukan ngajak semata-mata jadi kaya raya.

    BalasHapus
  26. klo menurut saya kebanyakan buku di indonesia kebanyakan meniru pemikiran
    1. rich dad poor dad
    2. Learning Revolution
    3. 7 Habbit Effective People

    mereka para penulis kebanyakkan membicarakan materi yang sama, klo bob sadiono mungkin ada yg unik saya coba baca dulu. Siapa tau bisa menginspirasi..

    BalasHapus
  27. hendra comunity:
    Oh ya? Contohnya buku-buku yang mana aja itu, Mas? Kebetulan saya belum baca ketiga buku Mas Hendra itu jadi belum ada gambaran

    BalasHapus
  28. intinya bercerita tentang kritik system pendidikan yg tdk menjamin kesuksesan. Berbisnis lebih baik dari pada jd karyawan. cuman untuk ACTION kita harus minimalisir resiko misalny jk gagal bagaimana nasib ekonomi keluarga, jadi kita harus kritis terhadap pemikiran tersebut. Cuma kita sendiri yg bisa tau mengukur kemampuan kita jk kita terjun ke dunia bisnis.

    BalasHapus
  29. http://pandawa.wordpress.com/2009/02/05/robert-kiyosaki-guru-kebebasan-finansial/

    BalasHapus
  30. hendra comunity:
    Terima kasih link referensinya, Mas Hendra. Saya akan mampir kesana. :)

    BalasHapus
  31. menarik-menarik..
    bapak Bob termasuk idola saya tuh. orang yang cuek dan memandang hidup dengan santai ..:)

    BalasHapus
  32. toto:
    Iya, Bob Sadino adalah sosok menarik meskipun agak kontroversial.

    BalasHapus
  33. Om Bob sudah masuk tahap spiritual yang tinggi oleh karenanya apa yg dikatakannya ngga banyak orang yg ngerti

    BalasHapus
  34. Om Bob sudah masuk tahap spiritual yang tinggi oleh karenanya apa yg dikatakannya ngga banyak orang yg ngerti

    BalasHapus
  35. MAS DOT:
    Betul sekali, Mas Dodi. Di akhir bab dalam bukunya Bob Sadino ini sempat mengulas tentang apa itu Total Surender. Ini adalah tahap kebijaksanaan dan spiritual tertinggi yang telah dicapai oleh Bob Sadino. Jika orang belum mencapai tahapan ini akan sulit bisa menerima pemikiran Bob Sadino.

    BalasHapus
  36. sepertinya saya menangkap maksud dari belajar goblok ini.sebenarnya intinya actionkan yang sudah ada jangan terlalu banyak mencari informasi sampai lupa action.

    BalasHapus
  37. belajar goblok kok bisa sukses ya.

    BalasHapus
  38. Ah kayaknya menarik.
    Malah jadi penasaran pengen baca langsung bukunya biar lebih jelas.

    BalasHapus
  39. setuju mas. Emang kita kadang2 dalam hidup ini harus menggunakan cara2 goblok dan gila. Karena hidup ini kadang2 gila, semakin banyak belajar tentang bisnis menyebabkan kita jadi takut. Takut rugi, takut salah sehingga menyebabkan tak berani melangkah

    BalasHapus
  40. Aku setuju dengan ucapan Om Bob, jangan pake tujuan, rencana, harapan. Just do it. Artinya jangan ragu2x, lakukan saja. Jangan sekolah karna itu sampah buat pikiran. Konteksnya adalah jika ingin kaya jangan sekolah. Ini betul, karna di sekolah tidak diajarkan cara menjadi kaya. Sekolah hanya mengajarkan menjadi ahli dalam bidang tertentu. Aku setuju dengan cara gobloknya Om Bob, ingat bahwa cara di atas adalah langkah awal, langkah berikutnya Om Bob mengatakan, jangan pernah berhenti belajar. Pengertiannya bukan belajar menjadi TAHU tapi menjadi BISA. Itulah konsep Om Bob. Pada gilirannya konsep itu mengatakan jangan menjadi seorang pegawai tapi jadilah seorang bos. Anda tinggal renungkan, mau jadi pegawai atau mau jadi bos?
    Catatan ; jika anda membaca sebagian konsep atau kiat dari Om Bob, anda akan tersesat, dan mungkin anda jadi orang goblok beneran. Maka bacalah konteksnya dan seutuhnya. Agar anda menjadi "goblok" seperti Om Bob

    BalasHapus