Rabu, 16 Februari 2011

Benarkah Pembajakan Itu Salah dan Samasekali Tidak Bisa Ditolerir?

Plagiat
Urusan lisensi, bajak membajak dan menjiplak (plagiat) karya orang lain, saat ini lagi menjadi isu menarik. Sampai tulisan ini saya tulis masih menjadi topik hangat karena jadi ajang threat diskusi di milis saya. Awalnya, gara-gara situs SalingSapa yang ramai dibicarakan di media. Kemudian berlanjut ke masalah lisensi yang dipakai situs SalingSapa yang katanya menggunakan CMS milik JCows. Dan diluar diskusi di milis, saya lihat beberapa kawan blogger saya juga tidak sedikit yang mengulas tentang SalingSapa, juga masalah HAKI, plagiat dan lisensi ini.

Kali ini saya ingin mengulas dari sisi yang berbeda. Pertanyaan saya: Benarkah tindakan pembajakan itu salah dan samasekali tidak bisa ditolerir? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda?

Sebelum Anda menjawab pertanyaan saya, saya ingin menyampaikan tiga fakta berikut ini kepada Anda. Semoga tiga contoh yang akan saya beberkan kepada Anda ini sedikit bisa memberi warna, bukan hanya sekedar hitam dan putih atau salah dan benar, mengapa pembajakan dan plagiat itu prakteknya masih tumbuh subur. Dan beberapa negara malah melegalkannya. Saya akan bahas satu persatu.

1. Fakta tentang negara China


Kemampuan membuat barang tiruan (imitasi) bangsa China memang luarbiasa mengantar negaranya menjadi raksasa penguasa ekonomi dunia seperti sekarang ini. China tidak perlu pengakuan dari siapapun atas fakta ini. Keberhasilan mereka dalam mencapai kemajuan bangsanya sebagai raksasa ekonomi terbesar di dunia yang terus tumbuh akibat dari salah satunya melakukan praktek meniru atau menjiplak produk negara lain. Betul?

China, apa sih barang yang sekarang ini tidak ditiru oleh China? Dari mulai aksesories seperti arloji, tas, pakaian, ponsel, produk elektronik sampai motor semua bisa dijiplak persis oleh China. Anda ingin tahu apa argumentasi orang China tentang hal ini? Ternyata China punya paham yang berbeda dalam memandang urusan yang satu ini.

Meniru. Bagi China adalah sah-sah saja mereka lakukan apa yang sebetulnya kita sebut sebagai plagiat, sebab bagi mereka itu justru adalah hak. Hak? Aneh, kan terdengarnya? Tapi itu benar. Karena menurut mereka (bangsa China) memiliki hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang umumnya dimiliki oleh negara-negara maju (barat) tersebut. Bangsa China mengklaim telah menyumbangkan warisan kekayaan intelektual secara cuma-cuma kepada seluruh umat manusia dan negara maju untuk meningkatkan peradaban mereka sejak jaman dahulu kala.

Bahkan, ini saya mengutip dari email di milis Telematika, salah seorang menteri China dalam suatu pidato resminya pernah mengatakan bahwa apabila bangsa barat menuntut hak atas kekayaan intelektual (HAKI) masa kini maka seharusnya mereka juga mengakui kekayaan intelektual masa lalu yang telah menjadikan mereka maju seperti sekarang ini. Termasuk membayar semua kerugian atas ide imperialisme dan industrialisasi kaum kapitalis sejak pasca jaman renaissance yang telah menyengsarakan umat manusia di belahan timur dan selatan.

2. Fakta tentang penjajahan di negara kita

Saya berandai-andai kalau saja negara kita tak pernah dijajah oleh negara-negara barat, kalau menurut Anda apakah bangsa ini tetap akan terpuruk, tertinggal kemajuannya dengan negara maju lainnya seperti sekarang ini? Belum tentu, kan? Bayangkan saja selama 350 tahun kita dihisap, dijajah bangsa barat, dieksploitasi kekayaan alamnya sampai selama itu. 350 tahun itu kalau yang jadi patokan adalah AHH (angka harapan hidup) orang Jogja, 73 tahun, bayangkan itu artinya hampir selama lima turunan (generasi).

Jika saja negara kita sudah berdiri mandiri dan tidak dijajah oleh negara barat sejak jaman Majapahit misalnya, belum tentu kita akan tertinggal jauh seperti sekarang ini, kan? Betul?

Kalau tindakan China yang suka meniru atau menjiplak hasil kekayaan intelektual dari bangsa lain, maka bagaimana kalau saya berpendapat sama untuk negara kita? Anggap saja ini impas juga dengan masa lalu karena mereka (negara barat) sudah pernah menjajah kita setelah sekian lama. Jadi kalau pun kita membajak, contoh software, karena salah satunya orang di negara kita memang miskin, tak mampu beli yang legal. Faktanya memang rata-rata begitu, kan?

Boleh saya sebut itu sebagai bentuk Penjajahan Terbalik dari perbuatan dulu karena mereka pernah lakukan penjajahan pada negara kita? Apakah menurut Anda argumentasi saya tersebut salah dan tetap tidak bisa ditolerir?

3. Fakta tentang para underground

Berbicara masalah lisensi dan bajak membajak ada satu komunitas yang eksistensinya harus diakui juga. Yaitu komunitas para underground atau kubu anti lisensi, paten, royalti dan penganut copyleft yang menganggap HAKI adalah produk pemberian dari Tuhan sehingga tidak pantas diperjualbelikan. Mereka ini malah menganggap sistem lisensi ini adalah paham kapitalis liberal yang melakukan penghisapan manusia atas manusia. Salah satu alat imperialisme baru. Salah satu contoh saja, misalnya dalam kasus hak atas virus yang ternyata dimiliki eksklusif oleh industri farmasi negara maju dengan memanfaatkan otoritas lembaga dunia PBB seperti WHO.

Dan kalau Anda pernah membaca buku “Di Balik Kisah-kisah HACKER Legendaris” yang ditulis oleh Wicak Hidayat dan Yayan Sopyan maka di salah satu halamannya ada sebuah kutipan menarik yang ditulis oleh seorang Hacker yang menyebut dirinya bernama “The Mentor, 1986”. Mereka membuat sebuah statement yang sangat menarik, yang merupakan ‘Manifesto Hacker’. Sebuah bentuk ketidakpuasan. Berikut saya kutip sebagian isi kata-katanya:

“….Kalian menyebut kami penjahat.. karena kami menggunakan layanan yang sudah ada tanpa membayar, padahal layanan itu seharusnya sangat murah jika tidak dikuasai oleh orang-orang rakus….”

Bukankah ketiga fakta yang saya sebutkan di atas, yaitu fakta di China, penjajahan di negara kita dan ‘Manifesto Hacker’ itu sebuah fakta yang tak bisa kita pungkiri juga di sisi lain?

Terakhir kesimpulannya. Maaf, kali saya tidak akan menyimpulkan masalah plagiat atau bajak membajak ini. Sama seperti judul dalam artikel ini yang berupa sebuah pertanyaan, saya hanya bertanya kepada Anda. Selanjutnya silahkan jawab dan putuskan sendiri sikap Anda.

Sumber Foto: Plagiarism


Bookmark and Share

37 komentar:

  1. Ide yang menarik, Pak Joko, khususnya point 2 dan 3. Itu sudut pandang unik dalam menilai urusan bajak-membajak ini.

    Untuk Cina, mereka memang pakar dalam urusan membajak. Sayangnya, produk bajakan mereka sangat parah, sehingga juga rentan merugikan konsumennya. Tentu saja, daya tariknya, harga produk mereka sangat murah.

    Ini berbeda dengan Jepang, misalnya (kalau Jepang juga boleh disebut pembajak). Mereka juga pintar meniru, tapi mereka mengembangkan dan memperbaiki barang yang ditirunya, hingga produk mereka nggak kalah bagus, atau malah lebih bagus dari yang ditirunya.

    BalasHapus
  2. Hoeda Manis:
    #Sudut pandang 2 dan 3 sepertinya memang jarang orang pikirkan, Mas Hoeda. Karena semua rata-rata menjudge membajak itu salah, tak bisa dibenarkan. Tapi benarkah benar-benar salah 100%? Dan tak ada ruang sedikit pun untuk mencari sebuah pemakluman kalau kondisinya seperti itu?

    Saya tak mengatakan setuju 100% dengan bajak-membajak tapi hanya memberi ruang dialog bahwa tidak semua hal (masalah) langsung bisa dijudge dengan sangat saklek menjadi hitam dan putih atau dengan salah dan benar. Betul?

    Sependapat, Mas. Jepang memang lebih baik dari China dalam meniru. Jepang meski bukan negara penemu tapi dengan Kaizennya bisa menyaingi negara asal penemunya sendiri sehingga bisa maju seperti sekarang ini.

    #Saya tadi mampir ke blognya dan baca "Kisah Larut Malam, Hujan, Kelaparan, Sendirian, Meriang, Kelayapan Cari Makan sangat romantis sekali", Ah, kenapa tak berlanjut perkenalannya. Bilang saja:

    "Eliana, Hoeda penulis yang kamu kagumi itu sekarang ada di depan kamu. Itu aku."

    Pasti dia akan terbelalak dan langsung merangkul Mas Hoeda karena saking surprisenya. :D

    BalasHapus
  3. dalam sudut pandang orang biasa yang dimana saya bukan pengusaha besar (ya iyalah, masa pengusaha gede masih sempet2nya komen disini..hiii)saya setuju banget dengan paparan diatas...yah anggap aja penyeimbang dari kerakusan kapitalisme...

    BalasHapus
  4. Yang saya pahami, HAKI atau copyright memang upaya kaum kapitalis untuk memperkokoh dominasi (penjajahan) mereka, terutama atas dunia ketiga.
    Agak panjang kalau saya jelaskan detil pendapat saya di form komentar ini. Yang tertarik, silakan search di google dengan keyword "copyright dalam pandangan Islam"

    BalasHapus
  5. saya sih bangga dan tidak mempersalahkan pak.. cuma yg disayangkan kenapa pemberitaannya bilang kalau itu dibuat oleh mereka.. padahal itu bukan dibuat melainkan dikembangkan.
    dan dulu lisensi jg masih nulled dan menghilangkan link footer..
    itu aja yg disayangkan..
    lainnya saya mendukung apalagi ide dan kreatifitasnya

    BalasHapus
  6. terlepas dari paham kapitalis, sebuah hasil karya kita apabila dicuri oleh orang lain dan mereka mengklaimnya, rasanya sangat menyakitkan. apakah anda mau bekerja keras, sementara yang menerima penghasilan orang yang mencuri pekerjaan anda?

    saya pribadi berusaha mengurangi membajak sebisa mungkin. biar koleksi musik dan game cuma dikit, tapi hidup tetap nikmat karena ga ada beban 'takut dosa'.

    BalasHapus
  7. Melanggar hukum tetaplah salah, apapun alasannya. Peniruan dan pembajakan adalah dua hal yang berbeda. Kalau meniru kan hanya mengambil ide, serupa tapi tak sama. Kalau persis sama sampai ke akar-akarnya kan tidak lucu.

    Ponsel Cina walau persis kan tidak sama, lihat saja kemampuannya, jauh di bawah ponsel yang ditiru. Touch screen yang tidak sensitif, sistem operasi yang mengecewakan. Walau pun Cina berani berkoar-koar, rasanya mereka tetap tidak akan berani membajak, melawan hukum internasional, paling hanya meniru - sebagai negara dan bangsa lho, kalau hacker dari Cina sih sudah banyak yang tahu kehebatannya.

    Katakan begini, sekarang ada yang namanya software genuine - berlisensi proprietary. Kemudian diretas, okelah si peretas punya manifesto hacker (dll), tapi yang memanfaatkan hasil retasan itu toh orang rakus juga, yang menjajakan (termasuk menyewakan) software bajakan secara murah, yang tidak bekerja apa-apa hanya meraup untung saja.

    Sementara yang berjuang secara resmi, menjadi agen afiliasi menjual peranti berlisensi, bekerja secara jujur di jalur hukum justru dirugikan.

    Yang bermasalah bukan pembajakannya, namun efeknya. Sama seperti minum alkohol, yang bermasalah bukan alkoholnya, namun mabuknya, kalau alkohol tidak membuat mabuk tapi justru bikin sehat mungkin tidak akan diharamkan. IMHO.

    BalasHapus
  8. Saya rasa sudah banyak pengusaha yang sudah memahami bahwa konsep copyright sudah tidak lagi bisa diandalkan. Salah satu contoh yang bagus adalah wordpress dan linux. Pembuatannya memperoleh keuntungan dari service yang disediakannya.

    Contoh lain misalnya theme wordpress. Theme wordpress yang saya gunakan sebetulnya bisa diperoleh gratis. Tapi woothemes, pembuat theme, selalu rutin menambahkan fitur baru dan memberi bantuan bagi para pengguna resminya. Service inilah yang membuat saya mau beli, walaupun bisa saja mengambil gratisannya.

    Mengalahkan bajakan sebetulnya tidak mungkin. Apalagi dengan biaya produksi yang makin murah. Cara mengatasinya bukan dengan memberantas bajakan -karena tidak mungkin- tapi dengan memberi service lebih.

    Bajakan bisa juga menguntungkan, salah satu contohnya di industri musik. Pembajakan memberi pasar bagi calon pembeli. Ada survey yang menyebutkan konsumen membeli lagu asli setelah mendengarkan bajakannya.

    Jadi, saya rasa pembajakan sudah tidak mungkin lagi dihindari.

    BalasHapus
  9. @Joko Sutarto
    Hehe, saya nggak nyangka Pak Joko bakal baca post iseng itu. Thanks.

    Sebenarnya, saya sangat introver, Pak. Makanya kalau ketemu orang yang udah kenal nama saya, malah saya jadi panik. Makanya kisah itu saya tulis aja di blog, biar dia telat surprise-nya. :)

    BalasHapus
  10. Bahasan yang sangat menarik mas....

    saya sendiri sampai sekarang masih menikmati barang bajakan. windows yang saya pakai bajakan. film-film yang saya tonton dan musik yang saya dengar juga masih bajakan. hehehe...

    tapi kalau seandainya hasil cipta saya yang dibajak, mungkin akan kecewa juga....

    khusus untuk windows saya tidak terlalu merasa berdosa. Kan yang punya sudah tajir bgt mas. Sesuai dengan poin yang ke tiga: penghisapan manusia atas manusia.

    (entahlah..mending saya nyimak saja lah... nekat banget ninggaln komen, hehehe)

    BalasHapus
  11. Fakta ke 4, Bayi baru lahir procot perlahan lahan sudah diajari menirukan orangtuanya, jadi, plagiat sudah ada sebelum kita ada, terkadang saja manusia pikirannya sudah melebihi Tuhan, :) :p

    BalasHapus
  12. Pada dasarnya cuma satu kata kok tentang pembajakan, "ENAK" ... Nggk mikir, tinggal "copast ide" dengan menurunkan kualitas bahan baku, tentu saja dengan tujuan, keuntungan yang sama dengan barang aslinya, bahkan lebih biasanya :P

    BalasHapus
  13. Salah satunya seperti produk saya, haahhahahha, asem malah kena deh baca postingan ini, kebetulan juga numpang nyawa dari logo "Motor Mewah" ini, hahaaahhahaha,, aseeeemmm....

    BalasHapus
  14. Numpang baca mas, coz ide yang segar, kayaknya sudah gak bisa ditemukan lagi mas, mungkin wktu jmannya "Thomas Alfa Edison" yang apa2 dulu belum ada, masih banyak hal bisa dilakukan, tapi sekarang?? Tinggal mengembangkan yang ada, ambil simpelnya aja, Xixixixixii

    BalasHapus
  15. yang paling sering saya gunakan adalah CD bajakan mas...
    Membajak untuk dikembangkan, itu yang boleh ya?

    BalasHapus
  16. dampak positif dengan adanya pembajakan banyak produsen produk asli berlomba-lomba untuk menurunkan harga produk mereka

    ini juga bagus sih buat konsumen...

    tinggal pilih aja mau barang yang mana..

    asli apa bajakan...

    :D

    BalasHapus
  17. Komentar saya nanti ada di artikel selanjutnya bro, yang akan nongol pada esok hari..... Sekarang masih dalam tahap dengar pendapat dengan para pengunjung :-)

    BalasHapus
  18. boyin:
    Terima kasih atas pendapatnya, Mas Boyin. Anda sepertinya orangnya cukup demokratis. Betul? :)

    Abu Furqan:
    Terima kasih atas referensinya. Apakah keyword itu nanti merujuk ke artikel Anda, Mas? Sebetulnya saya tidak keberatan misalnya dishare di sini, kok linknya. :)

    tomi:
    Banyak juga yang bilang begitu, Mas Tomi. Menyayangkan pemberitaan media yang ngawur dalam memberikan liputan. Kita patut dukung anak seumuran remaja SMP sudah punya kreativitas seperti itu.

    Irawan:
    Sikap seperti itu sangat manusiawi, kok Mas. Kita merasa sudah bekerja keras sementara orang lain mencurinya. Walau itu menyakitkan semoga itu bisa menjadi pahala buat Mas Irawan.

    Jika Mas Irawan merasa cukup mampu untuk tidak membajak maka lakukanlah, Mas. :)

    Cahya:
    Mas Cahya kayaknya benar-benar terusik dengan artikel saya ini sehingga komentarnya cukup panjang tidak seperti biasanya. :)

    Melanggar hukum!? Khusus UU HAKI di negara kita sampai saat ini masih memperbolehkan pakai software bajakan, Mas Cahya. Ini samasekali tidak dianggap melanggar hukum meskipun jelas-jelas membajak. Namun, dengan catatan untuk kepentingan non komersial, bukan untuk korporasi yang berorientasi profit.

    Jeprie:
    Mungkin itu salah satu sebabnya mengapa para pengembang software akhirnya ada yang lebih memilih jalur opensource. Karena tidak ingin semata-mata mengkomersialkannya, yaitu cukup dengan membuka link donasi untuk pengembangannya itu sudah lebih daripada cukup. Atau, seperti yang Mas Jeprie sebut itu, lewat service lebih (value added) yang mereka berikan dari pemberian yang gratis.

    Saya baru dengar tentang survey itu. Tapi benar, kok, Mas sebetulnya kualitas lagu (CD) bajakan apalagi yang MP3 itu jauh dari kualitas yang aslinya. Jadi bagi para penikmat musik sejati tetap tak akan puas kalau hanya mendengarkan dari yang bajakannya saja.

    Hoeda Manis:
    Saya jadi ingin bayangin gimana reaksi Eliana kalau pas baca artikel itu. Wah, pasti akan bertambah seru rasa penasarannya. Dan akan mencari Mas Hoeda ke cafe itu. :D
    :

    BalasHapus
  19. Huda Tula:
    Kalau untuk kasus pembajakan pada OS Windows atau software pada umumnya, selain alasan Mas Huda itu, juga menurut UU HAKI di negara kita memang masih memperbolehkannya kita pakai yang bajakan. Asal harus buat komputer pribadi, bukan buat korporasi seperti contoh Warnet di tempat Mas Huda itu.

    Lintang Hamidjoyo:
    Yang merasa julan produk China akhirnya ikutan berkomentar. Ha Ha Ha. Betul, Mas Lintang. Sejak lahir kita sudah diajarkan cara untuk meniru.

    Didik Kusdiyanto:
    #Kalau yang disebut Mas Didik itu adalah falsafah negara China. HeHeHe.
    #Terlepas itu mungkin bisa kena pasal pelanggaran lisensi merknya tapi produknya eksklusif, lho Mas Didik. Dan kayaknya jarang nemu model Batik Harley gitu.
    #Kalau konsep pengembang opensource malah memang begitu falsafahnya. Jika sudah ada mengapa mesti repot-repot harus membuatnya lagi yang baru. Bukankah akan lebih efektif tinggal mengembangkan yang sudah ada?

    mas-tony:
    Maksudnya seperti membajak dalam arti mengadopsi terus dikembangkan? Kalau itu berarti mirip dengan Jepang, Mas Tony. Sah-sah saja kalau melakukan seperti negara itu.

    Rohani Syawaliah:
    Ya, paling tidak harganya jadi lebih kompetitif karena ada yang menyainginya. Betul. Jadi terserah mau pilih yang mana. Harga murah kualitas apa adanya ataukah harga sedikit mahal tapi berkualitas.

    bro eser:
    Oke, Bro nanti akan saya baca komentar dari Bro Eser. Terima kasih, ya sudah tertarik menanggapi artikel saya.

    BalasHapus
  20. Ada artikel bagus dari Pandji "Prococative" tentang bajakan, http://www.pandji.com/wp-content/uploads/2009/12/MENGHARGAI-GRATISAN.pdf.

    Sebetulnya MP3 bajakan kualitasnya bisa setara dgn CS asli pak. Bitrate 128 (rata-rata bajakan) sudah cukup untuk kebanyakan manusia dengan stereo kualitas rata-rata. Kualitas CD sebetulnya hanya berguna bagi orang-orang tertentu yang pendengarannya lebih tajam dan memiliki stereo lebih bagus. Sederhana saja, nyetel CD di speaker laptop ga mungkin bagus pak.

    Selain itu, di era digital kopi data bisa sama persis, yang membedakan hanyalah kualitas media. CD asli kualitas fisik CD bagus, CD bajakan kualitas fisik CD ga tahan lama.

    BalasHapus
  21. hmm.. berarti dendam bangsa kita, sedang terbalaskan lewat bajak-membajak..

    BalasHapus
  22. Jeprie:
    Saya bisa membedakan kulitas suara (lagu) dari MP3 dengan CD asli saat memutarnya di CD/DVD player. Ternyata efek kompresi pada MP3 memang faktanya membuang sebagian dari komposisi musiknya sehingga ada yang terasa kurang. Namun betul seperti yang Mas Jeprie bilang kalau kita tidak membandingkannya perbedaan itu tipis sekali, terlebih kalau playernya hanya lewat player komputer/laptop saja. Kita samasekali tak tahu bedanya ada dimana.

    Terima untuk link referensi tambahannya, Mas Jeprie

    dery:
    Dendam? He2....Anggap saja kita gak mampu beli karena miskin sebab salah satunya sekian lama sudah dijajah oleh mereka.

    BalasHapus
  23. Apa kabar Pak Joko,Setelah lama Saya capek ngurisin trouble setrum-menyetrum akhirnya bisa main kesini lagi.. mudah-mudahan masih diterima. Wah tampaknya makin berkibar saja nih Diptaranya.

    Dari kecil saya suka bajak sawah.. Kini saya masih suka bajak.. OS,MP3,Bokep Amatir , software,dan lain-lainya..hahaha.
    Menurut saya pembajakan tak sepenuhnya salah, bahkan kadang malah diuntungkan yaitu dari segi harga yang murah bahkan gratis..Kalo dari segi kualitas ya nrimo saja.
    Pembajakan masih bisa ditolerir..Paling yang gak mentolerir cuma yang "bikin" produk saja karna "kerakusanya" hingga dia takut rugi.
    Saya setuju dengan kutipan satetement ‘Manifesto Hacker’. tentang Sebuah bentuk ketidakpuasan.

    Demikian Pak Komen SPAM saya.. :D

    BalasHapus
  24. tonykoes:
    Kabar saya juga baik, Mas Tony. Sama, saya juga habis dari luarkota semingguan jadi baru sempat bales komennya sekarang. :)

    Terima kasih buat pengakuan jujurnya, Mas Tony. Kalau saya, sama jujur juga belum mampu untuk beli sofware asli. Contoh AutoCad. Jadi terpaksa sampai saat ini juga menggunakan yang bajakan di laptop pribadi saya kalau mau buka gambar-gambar AsBuild Drawing.

    BalasHapus
  25. Seperti Pembajakan dan Plagiarisme harus dipisah.
    China meniru bukan membajak :-D
    CMIIW

    BalasHapus
  26. @bangsaid:
    Berbicara 'Pembajakan' dan 'Plagiarisme' memang adalah dua hal yang berbeda. Meski beda disini sebetulnya juga tipis sekali bedanya kalau dilihat dari kacamata penghargaan sebuah karya (HAKI) karena keduanya sama-sama melanggar HAKI.

    Saya pernah punya cerita dari seorang teman yang pernah pergi ke China. Disana teman saya malah pernah membeli tas merk Guess buatan China persis dengan yang made in USA. Bedanya, harganya jauh lebih murah karena hanya tiruan.

    BalasHapus
  27. pembajakan jadi halal karena memerangi monopoli orang tertentu,

    bagus sekali pak joko sesuatu yg dulu saya kira salah sekarang berubah menjadi benar. memang di dunia ini tidak ada benar dan salah mereka memiliki kebenaran masing2. dengan begini saya tidak ragu lagi buat jualan ebook bajakan

    BalasHapus
  28. Salam kenal pak, blognya keren abis...moga bisa berteman...

    BalasHapus
  29. hendra comunity:
    Benar dan salah memang tergantung dari aspek mana kita memandangnya, Mas Hendra. Betul?

    ebook tentang apa, nih yang dijual Mas Hendra?

    mbah jiwo:
    Salam kenal juga, Mbah. Terima kasih atas pujian dan uluran pertemanannya. :)

    BalasHapus
  30. onpria.com- kira-shop.blogspot.com

    BalasHapus
  31. Bayangkan kalau anda membuat buku (atau karya cipta apapun) yang memakan waktu, resource, tenaga, effort, research dan lainnya yang tidak sedikit. Setelah beres dan dipublikasikan, tiba2 dibajak.

    It sucks.

    Itu alasan saya bela2in selama saya sanggup (dan saya berusaha menjadi orang sanggup) untuk menggunakan produk berlisensi. Hormati orang sebagaimana kamu mau dihormati. Sudah pernah saya bahas juga di blog saya: http://fikrirasyid.com/mengurangi-penggunaan-produk-bajakan/ :)

    BalasHapus
  32. Fikri Rasyid:
    Boleh cerita? Saya sudah sering membayangkan. Bahkan tidak hanya membayangkan tapi sering sekali mengalami tulisan saya dibajak orang lain. Saya sebetulnya juga mau marah seperti Anda. Apa daya, aplikasi word prosesor komputer yang saya pakai buat nulis juga masih bajakan. Gimana lagi? Saya malu kalau mau menuntut mereka. Bahkan yang lebih malu, sepertinya saya dulu belajar dari komputer yang kebanyakan pakai produk bajakan semua.

    Saya sudah memberi pertanyaan di artikel ini dan Anda sudah menjawab pertanyaan saya dengan jawaban Anda, Mas. Saya menghormati jawaban Anda yang tetap memilih tidak menggunakan produk bajakan.

    BalasHapus
  33. Hmm... panjang kalau harus dibahas pak :)

    Saya simpan saja dulu diskusi ini, nanti kita bahas lagi sama-sama, OK? :)

    Kebetulan ada tugas negara yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang agak lama, jadi selama 20-30 hari ke depan saya tidak update blog.

    BTW pendapat pak joko ada benarnya, namun tidak bisa dibilang sebagai sebuah pendapat yang benar. Apapun itu, mungkin dapat kita ambil jalan tengahnya. :)

    BalasHapus
  34. rismaka:
    Artikel ini saya tulis bukan buat semata-mata sebuah pembenaran bahwa membajak itu benar dan bisa dibenarkan, Mas Adi tapi saya hanya mengajak berpikir kepada semua yang baca bahwa ada sisi lain dari pembajakan yang perlu juga untuk dilihat. Sehingga kita bisa lebih arif, tidak langsung ngejudge dengan salah dan benar atau hitam dan putih tanpa melihatnya secara menyeluruh.

    BalasHapus
  35. artikel ini bagus juga..
    anda melihat dari sudut pandang politik internasional..
    namun, kalo saya identifikasi dari jawaban2 anda adalah mendukung plagiarisme yg dilakukan oleh Cina
    klo saya jg boleh beropini, pembajakan dan plagiarisme itu tetaplah salah
    meskipun kata anda apa yg dilakukan Cina merupakan hal yg sah karena ini sebagai bentuk balasan pada masa lalu bangsa Barat.. Jadi apa bedanya Cina sama Barat klo begitu.. klo kita ikutan membajak dan plagiat apa bedanya dg bangsa Barat..
    pembajakan dan plagiarisme tetaplah hal yg melanggar hukum.. lebih baik berinovasi menciptakan hal yang berbeda dari sesuatu yg sudah ada.. bagaimanapun juga karya orang tetap harus dihargai (bisa melalui apresiasi maupun melalui HAKI)..

    BalasHapus
  36. Anonim:
    Sebetulnya saya juga mendukung masalah HAKI ini. Namun saya juga tak terlalu menyalahkan tindakan pembajakan. Saya perlu melihat konteksnya secara keseluruhan dulu sebelum memvonis.

    Terima kasih Anda sudah memberi pendapat. Saya menghargai pendapat Anda.

    BalasHapus
  37. haaa, misal di balik sekarang, kalo yg menciptakan itu adalah anda sendiri, bayang kan waktu, daya pikir dll segala macam yg sudah anda gunakan untuk menciptakan, dan besok hasil karya anda sudah di pakai orang lain alias di bajak, bagaimana apa anda lantas berkata silah kan karya saya di bajak untuk kebaikan anda, contoh anda sdh menciptakan lagu, maksud anda untuk mendapat kan uang dari hasil menciptakan lagu tapi ternyata besok lagu anda sdh di bagikan geratis lewat situs internet dan anda tidak mendapatkan hasil apa2x dari hasil karya cita anda, bayangkan itu terjadi pada anda.....

    BalasHapus