
Menurut Anda apakah keberadaan toko online bisa menggeser toko offline, dan juga pasar modern seperti swalayan, hypermarket, dept store di mal-mal bisa mengancam bahkan mematikan pasar tradisional? Pertanyaan saya kembali, jika jawab Anda misalnya "Ya" apakah sudah ada contoh kasus lahirnya sebuah mal baru kemudian membuat sebuah pasar tradisional akhirnya sepi lalu tutup? Atau kedua, adakah contoh lain misalnya seorang pedagang toko offline karena sudah berjualan secara online kemudian menutup gerai toko offlinenya karena sepi kalah dengan penjualan toko onlinenya?
Sebelum Anda menjawab pertanyaan saya di atas, saya perlu jelaskan dulu latar belakang artikel ini. Artikel ini saya tulis karena saya tergelitik setelah membaca artikel “Pasar Tradisional Lebih Dikenal” yang ditulis oleh seorang sahabat blogger, Mas Anto di blog pribadinya Kaget net.
Baiklah, sebelum saya membahasnya lebih lanjut saya berikan kutipan komentar saya yang telah saya tinggalkan di sana sebagai pembuka:
Saya sependapat, Mas. Antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern (swalayan/hypermarket/toko online) masing-masing punya market yang berbeda. Tak akan terjadi tarik-menarik. Kalau pun ada sedikit tarik-menarik itu rendah sekali angkanya (tak terlalu significant). Jadi keduanya, kalau pendapat saya bukan saling bersaing tapi justru bersinergi saling melengkapi. Kekuatiran sebagian orang yang mengatakan munculnya banyak mal akan menggusur atau mematikan keberadaan pasar tradisional belum bisa dibuktikan sampai sekarang.
Saya boleh cerita sedikit pengalaman saya? Maaf, kalau agak panjang komennya. Saya bekerja di sebuah mal, tepatnya dept store. Waktu saya masih bekerja di kota Malang lokasi toko kami berada di atas pasar tradisional. Beberapa kali saya sempat ada masalah dengan para pedagang pasar. Waktu itu toko kami membocori stand pasar seorang pedagang. Kebetulan pedagang tersebut juga sama-sama jualan baju, sama seperti dept store saya. Dia bilang terus terang ke saya kalau merasa tak senang dan merasa tersaingi dengan keberadaan toko kami.
Sampai suatu ketika tahun 2003 toko kami terbakar sehingga membuat gerai kami tutup selama setahun lamanya. Para pedagang yang merasa iri atau tak senang dengan keberadaan toko kami awalnya kegirangan karena merasa pesaingnya sudah hilang. Sampai akhirnya keadaan berubah 180 derajat (berbalik) mereka meminta Pemkot agar toko kami secepatnya dibangun dan dibuka kembali.
Mengapa bisa begitu? Faktanya adalah saat pasar tradisional tersebut buka tanpa ada toko kami disana selama setahun akibat toko kami terbakar, yang terjadi justru sebaliknya. Sepi! Pedagang di pasar malah mengeluh sepi sehingga impact-nya tidak sedikit para pedagang pasar yang kukut (tutup).
Dan bukan hanya sampai disitu saja, saat toko kami tak ada sepinya pasar membuat banyak orang yang mengeluh. Supir angkot yang jalurnya lewat pasar tersebut mengeluh tarikannya sepi, kost-kostan di sekitar pasar jadi sepi, warung makan sampai tukang parkir semua mengeluh sepi.
Saya akhirnya sadar dan kemudian menarik kesimpulan bahwa keberadaan toko kami ternyata memberi magnet kuat buat menarik trafik pengunjung ke lokasi pasar tersebut. Keberadaan toko kami sebetulnya bukan pesaing pasar tradisonal tapi sebuah sinergi yang saling melengkapi satu sama lainnya.
Kutipan komentar saya diatas adalah contoh riel (nyata) bahwa ternyata pasar modern keberadaannya bukan pesaing apalagi bisa mematikan keberadaan pasar tradisional.
Contoh sebaliknya, saya punya fakta yang bisa membuktikan bahwa antara pasar modern dan pasar tradisional memang masing-masing punya market sendiri-sendiri. Sehingga tidak ada tarik menarik disana. Saya punya contoh dua gerai toko saya di Pasar Beringharjo Yogyakarta dan Pasar Johar Semarang akhirnya terpaksa ditutup. Mengapa? Tokonya sepi. Salah satu alasan yang menyebabkan sepinya toko adalah karena toko saya berada di tempat yang salah. Market yang berada disana (pasar) bukan market untuk dept store toko saya.
Sekarang saya akan beri contoh yang kedua apakah toko online juga bisa mematikan keberadaan toko offline. Silahkan Anda simak pemaparan saya berikut ini. Saya akan berikan contoh kasus pada toko online rujukan sebagian besar pengguna internet di negara kita. Yaitu toko Bhinneka com.
Sebagai toko e-commerce terbesar keberadaan Bhinneka sudah tidak diragukan lagi sebagai pusat referensi maupun penjualan online kalau kita mau mencari informasi tentang spesifikasi dan harga-harga produk elektronik, komputer dan gadget.
Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Hendrik Tio, CEO dari Bhinneka com, yang saya kutip dari majalah bisnis SWA, pernah dijelaskan kalau kontribusi penjualan online Bhinneka.com hanya sekitar 5%. Tidak sebanding dengan jumlah pengunjung toko onlinenya yang jumlahnya sudah mencapai 50 ribu unique visitor perhari. Pendapatan sebesar itu sangat jomplang dengan penjualan dari Bhinneka yang sebagian besar justru masih disumbang dari ke-7 toko offline Bhinneka dari pelanggan yang datang secara langsung alias beli secara offline.
Nah, kedua contoh di atas bisa sebagai argumen yang menguatkan bahwa sampai saat ini kedua tipe toko, antara toko offline dengan online, dan juga antara Pasar Modern dan Pasar Tradisional belum ada bukti kalau keduanya saling mematikan. Faktanya justru malah saling melengkapi.
Catatan:
Artikel ini bukan sebagai justifikasi atau pembenaran yang selalu benar tentang opini bahwa pasar modern dan online tidak terbukti sebagai pesaing yang mematikan pasar tradisional dan pasar offline, meskipun dalam artikel ini saya memberikan contoh-contoh argumentasi yang menguatkan opini tersebut. Jika pembaca ada yang bisa memberi contoh yang berbeda saya akan terima dengan senang hati sehingga bisa menjadi opini yang berimbang tentang keadaan lainnya, yang barangkali luput dari pengamatan penulis, terima kasih.
Sumber Foto: Beringharjo









