twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Kartu Kredit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kartu Kredit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

Pengalaman Menarik Transaksi Dengan Situs E-Commerce Selandia Baru

Beberapa hari yang lalu saya transaksi e-commerce ke situs Selandia baru. Anda tahu? Orang Selandia baru ternyata sangat percaya dengan saya, orang Indonesia yang katanya di mata dunia luar dianggap paling banyak penipunya. Gudangnya scammer dan transaksi fraud kartu kredit.
Palpung Bookstore New Zealand

Bayangkan, saya belum membayar, tepatnya payment belum mereka terima tapi barangya sudah dikirim duluan. Bukankah ini menyalahi aturan transaksi e-commerce di internet yang umumnya pasti menganut sistem pre order. Ada uang baru barang dikirim. Betul?

Minggu, 17 Juni 2012

Pemahaman Yang Salah Dalam Memahami Kurs Valuta Asing

Sampai hari ini, terkait bisnis Jasa Importir Pembelian Barang Luar Negeri saya, tak jarang saya sering menemui pertanyaan dari klien yang belum bisa membedakan antara Kurs Jual dan Kurs Beli bank untuk penukaran valuta asing. Banyak orang yang bertanya ke saya kalau mau belanja ke situs e-commerce luar negeri yang menggunakan mata uang asing (dolar) itu yang digunakan pakai kurs apa. Pakai kurs bank jual apa kurs beli?
Exchange Rate Valas

Maaf, tanpa bermaksud untuk menggurui atau merendahkan bagi yang kurang paham tentang masalah kurs ini apakah salah satunya termasuk Anda yang belum paham masalah kurs ini? He2… Baik, saya coba terangkan bagi yang belum mengerti.

Kalau Anda pegang mata uang rupiah (IDR) ingin membeli barang ke luar negeri yang pakai mata uang asing dolar (USD) maka kurs yang dipakai adalah kurs jual yang lebih tinggi. Sebaliknya, kalau Anda punya dolar, contoh karena Anda bekerja online yang berpenghasilan dolar dan ingin menukar ke rupiah maka nilai kurs yang dikenakan adalah kurs beli.

Rabu, 02 Mei 2012

3 Fungsi Kartu Kredit Buat Saya

Saya mulai mengenal (baca memakai) kartu kredit semenjak tahun 2001. Era dimana dulu di tahun-tahun 2000-an awal apply kartu kredit tak semudah seperti mengajukan permohonan kartu kredit sekarang ini, yang sudah diobral di mal-mal. Baca "7 Tips Mengajukan Aplikasi Kartu Kredit" kalau ingin tahu cara mudah mengurus kartu kredit.

Dulu, saya perlu lewat jalur nepotisme dari teman orang finance di kantor saya sehingga tanpa banyak syarat macam-macam permohonan aplikasi kartu kredit saya langsung diapprove. Dan limit kartu kredit saya untuk pertama kalinya cuma sebesar Rp 2 Juta. Maklum, karena penghasilan saya saat itu juga belum ada Rp 2 Juta sebulan.

Credit Card

Kini tanpa terasa saya sudah berpartner selama 11 tahun dengan kartu kredit. Anda tahu? Ini jauh lebih lama dari saya berpartner sama istri saya. He2...

Nah, kali ini saya akan cerita, berbagi pengalaman dengan Anda bagaimana pengalaman saya memperlakukan kartu kredit. Setidaknya selama 11 tahun terakhir ini. Semoga cerita saya ini bisa menjadi pelajaran atau sharing pengalaman bagi yang belum pernah atau ada keinginan memiliki kartu kredit.

Jumat, 30 Desember 2011

Maaf, Saya Harus Memecat Citibank Dari Daftar Bank Saya

Citibank
Sekitar satu minggu yang lalu saya baru saja mengajukan naik limit kartu kredit saya ke pihak Citibank, bank penerbit kartu kredit saya. Awalnya saya berniat mengajukan naik limit Rp 11 Juta, naik 50% dari limit saya yang sekarang. Mengapa saya mengajukan naik limit? Apakah belum cukup limit yang ada buat mencover kebutuhan belanja saya setiap bulan? Bukan. Tapi ini karena alasan lain. Yaitu untuk mencover banyaknya Transaksi Bisnis Online yang sering saya lakukan ke situs e-commerce di luar negeri. Contohnya pernah saya ceritakan di artikel ini “Standar Keamanan Transaksi Situs E-Commerce, Perbankan dan PayPal di Internet” sehingga, mau tak mau, membuat saya harus minta naik limit.

Dan apa yang saya dapati kemudian sungguh mengecewakan. Permohonan naik limit saya ditolak sepihak oleh pihak Citibank tanpa konfirmasi apa-apa kepada saya. Saya kecewa dengan tidak adanya pemberitahuan ini, juga penolakannya. Mengapa? Karena kalau untuk urusan marketing waktu nawari ini dan itu seperti asuransi misalnya, mereka sangat getol ngejar-ngejar nelpon saya sampai beberapa kali. Tapi giliran hak saya sebagai nasabah yang seharusnya dapat konfirmasi pemberitahuan tidak saya dapatkan. Jadi, ini tentu saja perlakuan tak adil yang membuat saya jadi kecewa berat. Terlebih saya nasabah Citibank yang sudah cukup lama dan loyal tak pernah nunggak bayar sejak tahun 2004.

Apa alasan Citibank menolak pengajuan naik limit kartu kredit saya? Waktu saya telpon alasannya sepele, katanya saya susah dihubungi. Juga orang-orang kontak person yang menjadi referensi saya katanya semua sulit untuk dihubungi. Sebentar. Saya sulit dihubungi? Nomor ponsel saya ada tiga dan ketiganya aktif semua. Anda bisa cek di halaman Contact blog ini. Itu adalah nomor aktif semuanya karena saya gunakan sebagai call center. Saya tak percaya kalau susah untuk menghubungi saya. Jadi ini pasti alasan yang sangat mengada-ada.

Saya juga sudah crosscek ke adik saya di Sidoarjo yang namanya saya referensikan sebagai penjamin saya apakah benar ada telpon beberapa kali dari Citibank dan tidak diangkat atau belum terhubung. Dan adik saya menjawab tidak, karena pihak Citibank sudah berhasil menghubungi dia sebanyak dua kali.

Hem, mungkin hanya satu yang susah dihubungi, yang ini saya tak menutup-nutupi, yaitu pihak HRD di kantor saya. Sesuai penuturan pihak Citibank katanya setiap kali menelpon ke bagian HRD, beliaunya (Supervisor HRD) sering tak ada di tempat dan beberapa kali pas lagi meeting jadi telpon hanya mandeg tertahan di operator dan sekretarisnya.

Pertanyaan saya sekarang, serumit itu kah untuk memverifikasi naik limit kartu kredit? Maaf saya bukan orang bank. Kok prosedurnya hampir sama persis dengan apply (kartu) kredit baru, ya? Anda bisa baca di artikel saya yang mengulas cara mengajukan kartu kredit ini, “ 7 Tips Mengajukan Kartu Kredit Agar Cepat Diapprove”. Benar-benar sangat ketat. Sepertinya ini yang perlu dibenahi dalam sistem perbankan, khususnya di Citibank. Harusnya perlakuan survey kredit antara nasabah baru dan nasabah lama itu dibedakan perlakuannya, tidak diperlakukan sama seperti ini.

Akhirnya saya berkesimpulan, ini artinya kredibilitas saya di mata Citibank selama 8 tahun jadi nasabah loyalnya yang tak pernah telat apalagi nunggak bayar samasekali tidak berguna dan dihargai di mata mereka. Ini yang membuat saya kecewa untuk kedua kalinya.

Okey, tak masalah saya masih ada satu kartu kredit yang lain. Dan juga tanpa naik limit sebetulnya saya tidak terlalu kendala, sih karena jika saldo balance yang tersedia kurang di kartu kredit saya, saya masih bisa transfer dari rekening tabungan ke akun kartu kredit saya untuk menaikkan limit secara instant. Tanpa perlu repot harus naik limit yang birokrasinya ruwet seperti itu.

Saya sekarang jadi sangat paham. Dengan melakukan pengajuan naik limit ini sama aja saya seperti ngetest bentuk apresiasi mereka, Citibank kepada saya (nasabahnya). Dan hasilnya pihak Citibank memang hanya mau uang saya tapi samasekali tidak menghargai loyalitas saya. Itu kesimpulan akhir dari saya.

Menggunting Kartu Kredit Citibank
Menggunting Kartu Kredit Citibank

Jadi, untuk apa terus mempertahankan jadi nasabah loyal Citibank? Saya akan siap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal, menggunting kartu kredit Citibank, dan memecatnya dari daftar kartu kredit saya. Dan juga karena secara kebetulan ada bank lokal, banknya pernah saya review di artikel ini yang nawari kartu kredit jenis platinum yang kastanya di atas gold punya saya di Citibank saat ini. Terus satu lagi ini yang terpenting, tawarannya amat menggiurkan. Yaitu gratis iuran tahunan seumur hidup. Gratis iuran tahunan semumur hidup? Iya, jadi saya tak perlu lagi nanti repot mengeluarkan biaya iuran tahunan Rp 300.000 per tahun ke Citibank lagi. Termasuk biaya kliring transfer pembayaran dari bank tabungan saya yang besarnya Rp 7.500 per bulan setiap kali membayar tagihan.

Saya boleh mengucapkan selamat tinggal kepada Citibank namun tentu tidak kepada Anda. :D Nah, di penghujung tahun 2011 dalam kesempatan ini, tak lupa saya mengucapkan: “Selamat Menyambut Tahun Baru 2012. Semoga makin sukses di tahun yang baru.”

Sumber Foto: Citibank | Gofotos


Bookmark and Share

Sabtu, 26 November 2011

7 Tips Mengajukan Aplikasi Kartu Kredit Agar Cepat Diapprove

Apply Credit Card
Kartu kredit adalah satu diantara sekian banyak alat pembayaran yang dipakai untuk pembayaran e-commerce di internet. Semua tak bisa menyangkal pentingnya alat pembayaran kartu kredit ini untuk bertransaksi online. Kalau Anda seorang buyer terlebih seorang pebisnis online, contoh seperti saya yang buka Jasa Internet Buying Agen di internet, punya kartu kredit adalah syarat wajib. Karena kartu kredit adalah alat pembayaran yang paling banyak dipakai dan paling populer digunakan sebagai alat pembayaran toko online (seller) di internet.

Dari hasil investigasi saya ke beberapa teman yang tak punya kartu kredit, alasan yang paling banyak selain karena belum butuh adalah karena sulitnya untuk mengurus aplikasi kartu kredit ke bank. Seperti kita tahu syarat untuk punya akun PayPal yang verified (bisa dipakai belanja/berjualan) memang dibutuhkan kartu kredit VISA/Master untuk memverifikasinya. Kalau pakai kartu debit belum semua bank bisa diterima oleh PayPal.

Yang mengalami kesulitan mengurus kartu kredit umumnya adalah teman yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, atau belum punya pekerjaan tetap. Kedua, para pekerja freelance atau bukan pekerja kantoran. Sehingga, banyak yang memilih pakai VCC (Virtual Credit Card) ketimbang pakai kartu kredit sungguhan. Saya menjumpai banyak teman yang untuk verifikasi ke PayPal yang seharusnya pakai kartu kredit, berhubung karena kesulitan mengurusnya maka sebagian besar lebih memilih praktisnya, pakai VCC.

Saya bukannya merekomendasi jelek pakai VCC. Tapi menurut saya tanggung kalau hanya punya VCC. Kenapa tak langsung saja ngurus kartu kredit sekalian. Dan yang kedua, VCC itu punya banyak kelemahan serta sangat ribet jalurnya kalau misalnya akun PayPal Anda tiba-tiba di-limit aksesnya oleh PayPal. Contoh seperti kasus saya kemarin. Baca “Terkena Musibah PayPal Limited Access”. Juga, Anda punya ketergantungan yang tinggi dan perlu menghubungi pihak pembuat kartu VCC-nya secara reguler untuk perpanjangan masa berlaku kartunya, maupun bila sewaktu-waktu Anda ada masalah.

Sebetulnya apa yang membuat orang kesulitan mengurus kartu kredit? Apa karena tidak tahu caranya? Atau sudah frustasi karena sering ditolak?

Jika jawaban salah satu atau kedua pertanyaan di atas adalah iya, berarti Anda perlu baca tips saya ini. Saya akan berbagi tips kepada Anda bagaimana cara mengurus aplikasi kartu kredit agar cepat diapprove oleh pihak bank. Silahkan pakai tips-tips yang saya berikan berikut ini sebelum Anda mengajukan aplikasi kartu kredit ke bank.

1. Pilih bank yang kelas dua

Yang saya maksud bank kelas dua adalah, maaf saya tak bisa sebutkan nama-nama banknya, tapi intinya bukan bank dari deretan bank papan atas seperti bank BCA, Mandiri, BNI dan BRI. Bank papan atas ini kebanyakan sangat selektif dalam menerima calon nasabah kartu kreditnya. Kenapa? Karena mereka bank besar, yang jelas tidak mencari kuantitas nasabah tapi kualitas nasabah yang minim resiko kredit macet yang dicari. Contoh yang lain, bank asing juga termasuk yang punya seleksi ketat dalam menerima calon nasabahnya. Maka, agar mudah untuk mengurus aplikasi kartu kreditnya, untuk tahap pertama kali mengurus kartu kredit usahakan menghindari bank-bank ini kalau Anda ingin cepat diapprove.

2. Pilih bank yang sama dimana tempat Anda menyimpan uang di bank

Jika Anda termasuk orang yang berprofesi bukan karyawan tetap, bukan PNS/ABRI, atau bukan kalangan eksekutif profesional, bank sangat ketat dalam memberikan approval kepada Anda. Kenapa bisa begitu? Karena tidak ada pihak atau korporasi yang memberikan jaminan kepada Anda sehingga bank kebanyakan menolak permohonan aplikasi Anda. Tak peduli misalnya Ada seorang freelance berpenghasilan besar sampai ribuan dolar per bulan melebihi karyawan sekalipun tetap saja akan ditolak. Tak percaya? Saya punya teman yang berbisnis online penghasilannya besar jauh melebihi gaji saya sebagai chief engineer. Sampai sekarang teman saya ini masih kesulitan mengurus kartu kredit. Permohonan dia yang terakhir ke bank BCA sampai sekarang ditolak, tak ada kabar beritanya.

Tapi Anda tak perlu berkecil hati, bukan berarti tidak ada celah buat mensiasatinya agar pihak bank melirik aplikasi permohonan Anda. Tunjukkan kalau Anda adalah nasabah bank itu dimana tempat Anda menyimpan uang. Bank biasanya akan mempertimbangkan untuk mengapprove permohonan kartu kreditnya kalau pemohon adalah nasabahnya sendiri. Terlebih Anda nasabah giro atau yang punya deposito besar disana. Ingat tulisan saya sebelumnya di tulisan ini. Baca “Penagih Hutang Gaya Baru Dari BNI”, bank sangat segan dengan orang yang nyimpan banyak duit di banknya.

3. Usahakan cash flow keuangan di rekening Anda selama tiga bulan terakhir saldo dan lalu-lintasnya besar

Yang tips ini nyambung dengan tips nomor dua. Kalau Anda pekerja freelance atau pebisnis (enterpreneur), umumnya bank akan meminta rekening koran tiga bulan terakhir yang memuat data-data finansial Anda. Jadi, saat Anda hendak mengurus kartu kredit usahakan lalu-lintas (cash flow) keuangan Anda besar. Paling tidak di tiga bulan terakhir. Bank biasanya akan melihat ini untuk melihat kemampuan keuangan Anda sebagai bahan pertimbangan.

4. Cari referensi dari pemegang kartu kredit (card holder)

Bank penerbit kartu kredit tidak jarang sering melakukan promosi member get member (MGM) kepada para nasabah kartu kreditnya. Nah, jangan sia-siakan jika ada kesempatan semacam ini untuk ikut apply jika ada teman yang menawari Anda. Bank umumnya akan mempertimbangkan kalau pemohon kartu kreditnya ada yang merekomendasikannya. Bank menganggap Anda direferensikan oleh pemegang kartu lain maka layak dan jadi pertimbangan bank untuk mendapatkan kartu kredit.

5. Apply penawaran kartu kredit di mal

Kalau Anda sering berpergian ke mal tak jarang menemui marketing bank tertentu yang menawarkan aplikasi kartu kredit. Tidak ada salahnya Anda mencoba menerima tawaran semacam ini. Karena bank memberikan banyak kemudahan dan syarat yang tidak ribet. Biasanya bank hanya meminta foto copy KTP saja sudah cukup. Karena cukup mudah syaratnya maka tidak ada salahnya untuk dicoba.

6. Uruslah kartu kredit di kota dimana Anda tinggal sama seperti KTP Anda

Tidak semua ditolaknya permohonan aplikasi kartu kredit karena alasan finansial. Tak jarang penolakan karena masalah domisili juga jadi bahan pertimbangan bank. Bank biasanya langsung menolak permohonan aplikasi kalau alamat rumah (KTP) calon pemohon kartu kreditnya berasal dari luar kota. Karena bank tentu tak mau ambil resiko besar jika sampai terjadi kredit macet terus kesulitan mencari alamat nasabahnya karena jauh. Jadi, menguruslah kartu kredit di kota tempat tinggal Anda. Jangan di kota perantauan dengan pakai alamat kost atau kontrakan Anda.

7. Pasang telpon (PSTN) di rumah dan kantor Anda

Tips ketujuh ini juga tak kalah penting. Bank sebelum menyetujui permohonan aplikasi Anda biasanya dia akan crosscheck dengan menelpon ke rumah dan kantor Anda. Jika rumah dan kantor Anda ada telponnya dan mudah dihubungi, ini sangat membantu pihak bank untuk memutuskan menyetujui permohonan Anda. Kenapa harus telpon rumah (PSTN)? Karena nomor PSTN umumnya pasca bayar yang terdaftar jelas siapa pemiliknya di Telkom. Jadi lebih trust dibanding telpon seluler yang kebanyakan adalah nomor prabayar. Survey permohonan aplikasi (kartu) kredit, pihak bank akan cek via telpon lebih dulu ke alamat yang ada di data aplikasinya. Jika rumah dan kantor Anda sulit dihubungi maka bank tanpa pikir lebih panjang lagi akan langsung menolak permohonan aplikasi kartu kredit Anda.

Demikian beberapa sharing tips dari saya cara untuk mengurus kartu kredit. Semoga bermanfaat. Jika Anda ada pertanyaan jangan segan untuk bertanya dalam kolom komentar, terima kasih.


Bookmark and Share

Selasa, 25 Oktober 2011

Standar Keamanan Terbaru Belanja Online Dengan Kartu Kredit

3D Secure
Keamanan bertransaksi online memang masih menjadi ekspektasi terbesar orang dalam berbelanja online (e-commerce) di internet. Mudahnya kartu kredit dibobol dan disalahgunakan untuk transaksi online membuat banyak orang, pemegang kartu kredit, takut untuk bertransaksi secara online.

Bayangkan saja, hanya dengan berbekal tahu nama pemegang kartu, nomor dan masa berlaku kartu serta tiga angka dibalik kartu kredit seseorang, pembobol sudah bisa menyalahgunakan kartu kredit Anda untuk berbelanja online. Mudah, bukan?

Makanya, tak heran kalau sampai detik ini banyak orang yang tetap enggan atau tak berani transaksi online. Saya pun meski sudah sangat sering bertransaksi online —karena saya buka Jasa Internet Buying Agen— selama ini masih sangat berhati-hati sekali dan lebih memilih menggunakan Paypal ketimbang pakai kartu kredit secara langsung. Alasannya? Saya tak ingin mengobral data kartu kredit saya kepada para merchant online yang sangat rawan buat disalahgunakan.

Dan seperti menjawab tantangan tersebut beberapa bank penerbit kartu kredit kini mulai mengeluarkan inovasi terbarunya. Beberapa bank, saya ambil contoh Citibank dan bank BCA mulai care akan hal ini sehingga terus berupaya melakukan proteksi perlindungan kepada para nasabahnya.

Bank BCA

Apa standar dan inovasi keamanan terbaru yang sudah dilakukan oleh Citibank dan BCA? Baiklah, langsung saya bahas mulai dari BCA dulu. Khusus BCA mulai 17 Oktober 2011 sudah mengeluarkan program baru dengan memberikan proteksi PIN buat melindungi transaksi online khusus pemegang kartu kredit BCA Visa. Perlindungan ini hampir mirip seperti perlindungan terhadap pemegang kartu debit (Tahapan) yang sudah cukup lama dilindungi dengan token PIN untuk setiap akses finansial perbankan via Klik BCA. Atau sedikit mirip seperti sistem PIN internet banking di bank CIMB Niaga — dikirim lewat ponsel.

BCA menyebutnya dengan Lima Langkah Mudah Belanja Online bersama BCA. Program ini memungkinkan pemegang Kartu Kredit BCA Visa untuk berbelanja online dalam 5 (lima) langkah mudah, yaitu dengan cara update informasi; input data; notifikasi; verifikasi; dan konfirmasi.

Berikut ini adalah rincian kelima langkah tersebut saya kutip dari situs resminya di BCA:

  1. Daftarkan informasi pribadi anda dengan memasukkan nomor ponsel anda ke Halo BCA (021) 500888. Pendaftaran nomor ponsel ini hanya bisa dilakukan oleh Pemegang Kartu Utama. Jika anda adalah Pemegang Kartu Tambahan, harap informasikan Pemegang Kartu Utama untuk melakukan update nomor handphone ke Halo BCA.
  2. Setelah memilih barang atau jasa yang diinginkan dan hendak melakukan transaksi, masukkan nomor kartu kredit; tiga angka di balik kartu (Card Verification Value); dan Expiry Date. Jika situs tempat anda berbelanja online terdaftar dalam program 3D Secure, akan muncul halaman pop-up setelah anda memilih "Continue" untuk langkah verifikasi.
  3. Selanjutnya, notifikasi Authorisation Code akan dikirim ke nomor ponsel yang telah anda daftarkan. Nomor Authorisation Code ini akan berganti setiap anda melakukan transaksi baru.
  4. Setelah itu, masukkan nomor tersebut ke slot Authorisation Code yang tersedia. Apabila nomor Authorisation Code yang dimasukkan salah satu hilang sebelum dimasukkan ke dalam layar tampilan, tekan tombol Resend Authorisation Code untuk mendapat nomor yang baru. Untuk dapat mengakses halaman verifikasi seperti diatas, pastikan settingan browser anda memperbolehkan (enable) halaman pop-up.
  5. Terakhir, jika proses verifikasi berhasil, anda akan mendapat konfirmasi bahwa transaksi anda sudah berhasil. Halaman akan kembali ke website asal anda saat bertransaksi.

Lima langkah diatas tentunya harus didukung oleh merchantnya juga. Merchant harus sudah support dengan sistem kemanan transaksi 3D Secure — istilah proteksi yang dipakai oleh BCA dari jaringan Visa dan Mastercard internasional.

Contoh yang kedua, di Citibank juga sama melakukan perlindungan hampir serupa dengan yang dilakukan di bank BCA. Bedanya kalau di Citibank tidak menggunakan PIN tapi transaksi diverifikasi secara langsung by phone dari Citibank Officer kepada nasabah.

Pengalaman saya pernah menggunakan kartu kredit Citibank buat transaksi online, saya langsung ditelpon oleh pihak Citibank begitu transaksi selesai saya lakukan. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit setelah transaksi selesai saya lakukan ponsel saya langsung berdering. Citibank langsung menghubungi saya untuk mengklarifikasi transaksinya apakah benar saya yang melakukan.

Saya pun sempat menanyakan hal ini kepada Citibank Officer apakah ini standar baru yang diterapkan oleh pihak Citibank? Jawabnya benar Citibank memang sudah menerapkan perlindungan ekstra seperti itu untuk melindungi para nasabahnya. Mereka secara realtime akan memantau dan melaporkan kepada pemegang kartu kredit setiap kali ada transaksi online tidak wajar atau diluar kebiasaan nasabah. Termasuk transaksi dengan nilai transaksi besar, misalnya sudah memakai limit sampai 50% akan diverifikasi kepada pemegang kartu.

Melihat inovasi bank BCA dan bagaimana langkah perlindungan yang sudah dilakukan Citibank, rasanya tidak ada alasan lagi sekarang ini untuk tetap takut berbelanja e-commerce di internet pakai kartu kredit. Selain karena alasan tersebut di atas, kartu kredit punya keunggulan tersendiri secara keamanan dibanding Anda menggunakan kartu debit. Apa kelebihan kartu kredit? Baca tulisan terdahulu saya “5 Alasan Mengapa Anda Lebih Aman Menggunakan Kartu Kredit Daripada Kartu Debit” kalau Anda ingin tahu lebih jelasnya.

Demikian, semoga sharing info ini bermanfaat. Jika Anda ada tambahan atau pertanyaan saya persilahkan tinggalkan dalam kolom komentar, terima kasih.


Bookmark and Share

Selasa, 21 Juni 2011

Penagih Hutang Gaya Baru Dari BNI

SMS Spam
Sebagai salah satu nasabah bank dan sekaligus penerima Kredit KPR di salah satu bank BUMN terkemuka, saya sebut saja nama banknya bank BNI, mungkin cara-cara yang akan saya bahas ini termasuk cara baru mirip penagih hutang (debt collector) dalam menagih hutang. Mengapa? Karena meski cukup halus mengingatkan, tapi prakteknya kalau boleh saya sebut mirip benar dengan gaya seperti debt collector dalam menagih hutang. Hanya bedanya yang ini tak pakai cara kekerasan tapi pakai pesan singkat lewat SMS.

Tanggal 13 Juni 2011 kemarin saya terima SMS Broadcast dari bank BNI. Isinya mengingatkan jatuh tempo pembayaran angsuran kredit KPR rumah saya. Dan kemarin, hari Senin 20 Juni 2011, SMS yang sama dikirim kembali ke ponsel saya. Isi SMS-nya berbunyi demikian:

Kpd Yth. Bpk/Ibu angs BNI KPR akan jatuh tempo tgl. 30-06-11, mhn sgr dibayarkan tgl. 24-06-11, abaikan sms bila sudah setor, info 0274-552181

Ya, namanya diingatkan itu tak masalah, wong niatnya baik? Dia mengingatkan kewajiban nasabah atau debiturnya agar membayar sebelum jatuh tempo. Ini wajar. Tapi yang tak wajar adalah mengapa sampai berulang kali dalam sebulan? Ini yang tentu saja membuat saya risih membacanya. Batas antara mengingatkan dan menagih jadi tipis sekali bedanya kalau sampai dikirim berulang kali seperti itu. Betul?

Mereka (BNI) boleh saja mengklaim itu haknya dia untuk mengingatkan nasabah. Tapi, saya juga berhak risih bahkan boleh saja tersinggung karena tak sepantasnya dia melakukan itu ke saya dan sampai berulang-ulang.

Anda ingin tahu alasan-alasan saya mengapa saya berhak tersinggung? Berikut beberapa alasannya:

  1. Saya sudah nasabah loyal BNI cukup lama sejak tahun 2000.
  2. Saya tak pernah telat nunggak bayar angsuran kredit setiap bulan.
  3. Sistem pembayaran angsuran KPR saya sudah pakai sistem autodebit.
  4. Sudah ada saldo ditahan dalam rekening tabungan saya sebesar satu kali angsuran sebagai jaminan jika saya molor bayarnya.
  5. Selama ini bank BNI berlaku tak adil. Hanya care kepada para kreditur (deposan) tapi tidak kepada debitur seperti saya. Baca alasannya disini.

Sedikit cerita juga mengenai diri saya. Saya tak bermaksud mengecap diri saya sendiri, ya. Tapi saya termasuk orang yang tak berani main-main dengan kewajiban (hutang). Poin nomor 3 diatas, pembayaran sistem autodebit, sudah saya lakukan hampir pada semua kewajiban rutin bulanan saya. Bukan apa-apa, saya tak ingin track record saya buruk hanya gara-gara telat atau lupa membayar kewajiban. Sehingga, seluruh tagihan bulanan saya dari mulai Bayar Tagihan Listrik, ponsel, internet, kartu kredit dll semua sudah saya bayarkan secara otomatis dengan sistem autodebit.

Intinya, saya sangat berkomitmen dengan kewajiban saya. Jadi tentu saja saya akan marah besar jika ada pihak yang mencurigai saya sebagai calon pengemplang. Ingat kejadian yang dulu sempat membuat saya marah. Saya sempat dicurigai Telkomsel dianggap tak mampu bayar tagihan Internasional Roaming hanya gara-gara tagihannya melonjak diatas satu juta. Padahal tagihan kartu Halo saya sudah pakai sistem autodebit. Baca artikelnya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Demikian sedikit unek-unek dari saya. Maaf, kalau saya beri bacaan yang hanya berisi keluhan saya. Semoga pengalaman saya bisa jadi pelajaran buat semua, terutama para Corporate Marketing dalam memperlakukan customernya. Terima kasih sudah mau mendengarkan unek-unek yang tak penting ini. Oh, ya apa diantara pembaca ada juga yang pernah mengalami kejadian serupa seperti cerita saya ini? Silahkan share disini, ya!

*** Update: Hari Rabu, 22 Juni 2011 akhirnya pihak BNI dari perwakilan Jogja menemui saya menyelasaikan masalah ini dan meminta maaf kepada saya.

Sumber Foto: SMS Spam


Bookmark and Share

Jumat, 08 April 2011

Inilah 3 Alasan Mengapa Merchant Menolak Pembayaran Kartu Kredit

Kartu KreditSampai saat ini saya lihat tidak sedikit orang yang masih enggan menggunakan kartu kredit. Mengapa? Adanya pemberitaan-pemberitaan minus seputar kerugian kalau kita menggunakan kartu kredit telah banyak membuat orang menganggap kalau menggunakan kartu kredit itu lebih banyak efek mudaratnya ketimbang asas manfaatnya.

Benarkah? Saya tak akan membahas sisi polemik itu dalam tulisan saya kali ini. Jika Anda mau membaca tulisan saya sebelumnya yang mengulas masalah ini, silahkan baca artikel terkait tentang Kartu Kredit di bawah artikel ini.

Nah, itu kalau di sisi pengguna. Bagaimana kalau di sisi merchant atau tokonya yang menerima pembayaran itu sendiri? Sama, di sisi merchant tak sedikit juga beberapa toko yang tidak mau atau belum bisa terima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit dengan berbagai macam alasan.

Kalau di sisi pengguna (konsumen) kebanyakan tidak mau menggunakan kartu kredit karena alasan takut terbebani bunga berbunga atau terjerat hutang, tetapi di sisi merchant lain lagi alasannya.

Anda ingin tahu alasannya mengapa beberapa merchant ada yang masih menolak pembayaran menggunakan kartu kredit? Berikut adalah alasan-alasannya:

1. Takut scam

Beberapa merchant online di negara kita saya lihat masih banyak yang menolak untuk menerima payment (pembayaran) kartu kredit. Alasannya tentu bisa ditebak. Salah satunya tentu karena takut scam (penipuan). Contoh merchant besar sekelas Bhinneka com saya lihat belum bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit secara online (baru offline khusus Jakarta). Dan kalau contoh yang lain, perusahaan web hosting seperti Rumah web dan Pojok Web juga belum bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Contoh lainnya yang menurut saya menarik karena setengah-setengah. Yaitu para maskapai penerbangan di negara kita juga sama, rata-rata memberlakukan mau menerima pembayaran dengan kartu kredit dengan catatan asal yang terbang adalah pemegang kartu kreditnya, bukan orang lain. Jika tidak, maka pasti ditolak nanti pas akan melakukan check-in atau boarding di bandara.

Ya, pembayaran dengan kartu kredit memang rawan penipuan (carding), terutama di negara kita yang katanya tingkat penipuan carding menggunakan kartu kredit katanya masih tergolong tinggi sehingga jangan heran kalau sampai sekarang beberapa merchant online dari luar negeri masih ada yang menolak pembayaran card dari orang Indonesia.

2. Tidak mau dibayar secara kredit

Namanya saja sudah kartu kredit jadi sudah pasti bayarnya juga kredit. Sebuah merchant kecil tentu tidak selamanya punya modal besar sehingga adanya pembayaran mundur sampai sebulan pasti cukup membebani cash flow merchant tersebut. Makanya beberapa toko merchant kecil rata-rata menolak atau tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Disamping alasan tersebut, mayoritas bank tidak mau investasi mesin EDC (electronic data card) sebagai alat pembayaran di tempat merchant yang omzetnya masih kecil. Karena investasi dari mesin EDC tidak murah.

3. Merchant terbebani biaya charge rate bank

Kalau Anda pernah belanja di sebuah showroom atau tenant kecil di mal dan membayar dengan kartu kredit hampir bisa saya pastikan rata-rata mereka akan mengenakan charge pembayaran sebesar antara 2-3% terhadap transaksi Anda. Mengapa ini dilakukan oleh merchant? Karena merchant tidak mau rugi atau terbebani charge rate dari bank terhadap pembayaran card yang dilakukan oleh customernya, makanya dibebankan kepada Anda sebagai pembeli.

Anda perlu tahu setiap merchant yang menerima pembayaran dengan kartu kredit, merchant baru terima uang pembayarannya setelah bank penerbit kartu kredit customer melakukan tranfer pembayaran kepada merchant tersebut. Dan besarnya pembayaran oleh bank akan dilakukan pemotongan fee sebesar antara 1.5 - 3% per transaksi.

Contoh, misalnya Anda belanja baju di sebuah dept store A seharga Rp 100 ribu. Selanjutnya merchant (dept store A) akan dibayar oleh bank penerbit kartu kredit customer sebesar Rp 100 ribu dikurangi charge rate sebesar 1.5-3%. Saya ambil contoh misal terkena charge 3% berarti merchant hanya dapat pembayaran uang Rp 97 ribu dari bank. Sisanya Rp 3 ribu masuk ke bank sebagai feenya.

Bukankah itu nilai yang cukup lumayan kalau transaksinya banyak. Bayangkan, sebagai contoh sebuah dept store saja dalam satu bulan ada yang terkena pemotongan charge rate bank itu sampai sebesar Rp 30 juta. Bukankah itu nilai yang cukup besar? Makanya merchant kecil tak mau terbebani biaya ini.

Demikian sedikit paparan saya mengenai kartu kredit. Semoga pengetahuan ini bermanfaat buat Anda, terutama bagi yang mau berjualan secara offline, maupun online dan berencana menerima pembayaran kartu kredit sebagai alat pembayarannya.

Sumber Foto: Ecommerce Payment


Bookmark and Share

Jumat, 04 Maret 2011

Membungkam Gangguan SMS Tawaran Kredit

Marketing SMS
Kalau sebelumnya saya sempat menulis artikel yang berjudul: "Gratis Tak Selamanya Berujung Menyenangkan" yang mengomentari maraknya pemberian bonus SMS gratis dari pihak operator, maka kali ini masih terkait atau nyambung dengan artikel tersebut saya ingin membeberkan contoh kongkrit kasusnya. Dan Anda perlu tahu betapa adanya bonus SMS gratis dari operator seluler di negara kita ini sudah sangat mengganggu sekali. Sudah ada belasan ribu orang merasa terganggu dan melaporkan hal ini ke pihak regulator.

Bonus SMS gratis memang faktanya telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang kurang beretika dalam melakukan promosi atau pemasaran. Celakanya, tersangkanya justru adalah para pemasar yang berasal dari sebuah korporasi besar yang notabene adalah bank-bank asing yang berada di negara kita.

Saya mendapatkan info ini dari milis Telematika. Bagi Anda yang merasa terganggu dengan adanya SMS yang terutama menawarkan Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari bank-bank tertentu, pihak BI (Bank Indonesia) sudah membuka jalur pengaduan (hotline) buat Anda untuk melakukan pelaporan. Silahkan lakukan kontak pengaduan ke nomor hotline BI di nomor ini 085888509797 jika Anda merasa terganggu dengan adanya SMS-SMS marketing penawaran kredit tersebut.

Berikut selengkapnya saya kutip artikelnya di bawah ini yang mengulas tentang gangguan SMS Tawaran Kredit tersebut. Selamat membaca.

Laporan pengaduan layanan telekomunikasi selama 2010 didominasi keluhan pengiriman SMS yang tidak dikehendaki termasuk penawaran KTA
Oleh Marchelo

LAYANAN pesan singkat atau short message service (SMS) merupakan layanan yang memudahkan komunikasi pelanggan telepon seluler (ponsel). Dengan biaya murah, SMS menjadi wahana tukar informasi antar keluarga, relasi, maupun sahabat.

Belakangan, layanan yang semestinya pribadi ini tercemar ulah sejumlah tenaga pemasar kredit tanpa agunan (KTA) bank. Mereka menyebar SMS hingga belasan kali sehari. Parahnya, terkadang SMS yang tidak di undang ini muncul tengah malam. Padahal, pemegang ponsel tengah beristirahat atau menunggu kabar penting dari rekanan bisnis.

Perilaku meresahkan tenaga pemasar bank ini pun mulai disoroti Bank Indonesia (BI).

Sebagai regulator perbankan, pada 26 Januari lalu BI meluncurkan nomor pengaduan (hotline) 085888509797.

Sejak peluncuran sampai per tengahan Februari, BI telah menerima 11.515 pengaduan.

“Sebagian besar mengeluh mengenai KTA, rata-rata yang masuk 800-an SMS per hari,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah, kemarin.

Dari jumlah itu, 83% mengadukan SMS yang tidak menyebutkan nama bank. Sedangkan 1.807 SMS yang diterima BI, menyebutkan nama bank yang menawarkan KTA melalui SMS.

Difi menyebutkan pihaknya mencatat penawaran KTA melalui SMS yang menyebut nama didominasi oleh dua bank asing, masing-masing dengan 65,36% dan 16%. Laporan itu ditindaklanjuti dengan melaporkan nama-nama bank kepada Direktorat Pengawasan Bank BI. “BI telah memberikan teguran atau peringatan kepada bank tersebut untuk tidak lagi menawarkan KTA melalui SMS karena dianggap meresahkan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut sumber Media Indonesia yang mengetahui masalah ini, dua bank asing yang mendominasi laporan pengaduan tawaran KTA adalah Standard Chartered Bank dan PT Bank DBS Indonesia.

Saat dimintai konfirmasi, Country Head Consumer Banking of Standard Chartered Sajid Rahman mengatakan, pihaknya tidak lagi menawarkan KTA melalui SMS. Selain itu, banknya menggunakan pihak ketiga dalam melakukan penawaran KTA. “Kami sudah menghentikan pemasaran dengan SMS sejak November tahun lalu,” ujarnya.

Adapun pihak manajemen DBS Indonesia ketika hendak dimintai konfirmasi sama sekali tidak mengangkat telepon atau menjawab pesan singkat. Tapi yang paling tinggi ya SMS yang tidak dikehendaki seperti penawaran KTA itu,” ujarnya.

Untuk mengatasi pengiriman SMS yang tidak diinginkan, Sudaryatmo mengatakan saat ini operator telekomunikasi dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia sedang menyiapkan sistem yang dapat memblokir SMS penawaran KTA.

Dengan sistem itu, semua SMS penawaran KTA atau produk sejenisnya akan terblokir.

“Sudah ada rencananya dan itu bisa dilakukan,” cetusnya.

Namun menurut Sudaryatmo, persoalan utamanya ialah asal data nomor pelanggan ponsel yang digunakan pengirim SMS KTA. Selama ini nomor ponsel masyarakat sudah tersebar luas sehingga bisa digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Padahal data konsumen menjadi hak konsumen itu sendiri,” tegasnya. (E-5)

EMAIL
marchelo@mediaindonesia.com

Sumber Foto: Marketing


Bookmark and Share

Senin, 08 November 2010

5 Alasan Mengapa Anda Lebih Aman Menggunakan Kartu Kredit Daripada Kartu Debit

Chip Card

Banyak para penasihat keuangan yang menyarankan agar Anda tak usah menggunakan kartu kredit jika Anda memang tak benar-benar perlu atau membutuhkannya. Alasannya? Karena kartu kredit lebih banyak memberi efek mudaratnya, yaitu mendidik orang menjadi konsumtif, ketimbang asas manfaatnya. Anda ingin contoh? Coba baca artikel yang ditulis Mas Giewahyudi disini.

Selain itu, karena hampir semua Fungsi Kartu Kredit kini fungsinya sudah bisa tergantikan oleh kartu debit sehingga kalau karena alasan untuk memudahkan pembayaran tanpa perlu bawa uang tunai kemana-mana, kini kartu kredit bukan satu-satunya solusi karena kartu debit juga bisa melakukan fungsi kartu kredit.

Kedua alasan di atas memang benar, tidak salah. Namun ada sisi lain yang perlu Anda ketahui juga bahwa ternyata menggunakan kartu kredit ternyata jauh lebih aman ketimbang menggunakan kartu debit.

Hem, kok bisa? Berikut kelima alasannya. Silahkan Anda simak fakta-faktanya berikut ini:

  1. Teknologi kartu kredit lebih baik dibanding kartu debit karena sudah menggunakan chip pada kartunya, sementara kartu debit rata-rata masih menggunakan magnetic yang mudah sekali digandakan atau dibobol orang lain. Ingat kejadian maraknya Pembobolan Rekening beberapa waktu yang lau
  2. Transaksi menggunakan kartu debit langsung memotong saldo di rekening di bank Anda, sementara traksaksi menggunakan kartu kredit ada jeda waktu satu bulan sebelum transaksi ditagihkan kepada Anda. Jika terjadi transaksi ilegal pada pemakaian kartu kredit, Anda masih punya waktu untuk menyanggah sebelum transaksi tersebut Anda bayar tagihannya, sementara pada kartu debit sebaliknya uang Anda terdebet dulu dan baru bisa dikreditkan kembali setelah Anda memberikan surat keberatan kepada pihak bank.
  3. Pada kartu debit bank tertentu, saya ambil contoh bank CIMB Niaga sangat rawan untuk disalahgunakan oleh pihak lain selain pemegang kartu karena tanpa perlu PIN, tanpa perlu tanda tangan kartu bisa dipakai buat berbelanja di seluruh merchant-merchant seperti dept store dan supermarket yang menerima pembayaran dengan kartu debit.
  4. Kartu debit history transaksi harus sering Anda cek sendiri secara manual, baik lewat Internet Banking maupun cetak buku rekening ke bank Anda, sementara kartu kredit tidak karena selalu dilaporkan oleh pihak bank kepada Anda setiap bulan secara rutin bersamaan dengan billing Anda sehingga kartu kredit lebih mudah terkontrol kalau terjadi transaksi tak wajar dibanding kartu debit.
  5. Berdasarkan beberapa kasus transaksi pembayaran di merchant, kartu debit seringkali mempunyai tingkat masalah lebih banyak dibanding kartu kredit. Contoh kasus yang sering terjadi di dept store tempat saya bekerja, mesin EDC (Electronic data card) seringkali melakukan pendebetan dua kali ke rekening customer terhadap satu kali transaksi yang sama.


Jadi, pesan saya berhati-hatilah kalau Anda sering transaksi menggunakan kartu debit. Sering-seringlah mengontrol saldo dan histori transaksi Anda. Dan gantilah PIN Anda secara berkala agar aman. Terakhir, bagi pengguna kartu kredit silahkan baca tips-tips dari saya bagaimana menggunakan kartu kredit agar tak terjebak dari hutang yang akan membelit Anda. Baca "Tips Agar Terhindar Dari Belitan Hutang Kartu Kredit". Demikian sedikit tips dari saya. Semoga bermanfaat.


Sumber Foto: Chip Card



Bookmark and Share

Sabtu, 29 Agustus 2009

Tips agar terhindar dari belitan hutang Kartu Kredit

Tips Hutang Kartu Kredit

Berikut ini adalah beberapa tips yang saya dapatkan dari berbagai sumber serta berdasar pengalaman pribadi saya agar kita terhindar dari belitan hutang pada Kartu Kredit:

Bedakan antara kebutuhan dan keinginan
Setiap anda berbelanja dengan kartu kredit, tanyalah selalu pada diri sendiri apakah barang yang akan anda beli ini benar-benar anda butuhkan? Adakalanya kita belanja karena berdasar keinginan semata dan tidak benar-benar membutuhkan barangnya. Dengan membiasakan bertanya pada diri sendiri sebelum belanja, mudah-mudahan anda bisa terhindar dari hutang kartu kredit di kemudian hari.

Jangan belanja melebihi kemampuan
Belanjalah sesuai dengan kemampuan anda. Jangan pernah belanja melebihi anggaran budget pengeluaran anda. Karena sering orang awalnya menggampangkan hal semacam ini, karena belanja tinggal nggesek saja pakai kartu kredit kemudian tanpa sadar berakibat pada penumpukan hutang karena pengeluaran melebihi pendapatan.

Hati-hati dengan tawaran cicilan
Kartu kredit memang tak henti-hentinya sering memberikan tawaran cicilan yang menarik dengan bunga 0% misalnya. Tapi meski menarik berpikirlah secara jernih apakah anda memang butuh barang tersebut? Karena tak jarang penawaran ini biasanya berupa barang-barang yang sudah anda punyai di rumah. Jangan pernah mengikuti nafsu untuk selalu mengikuti model terbaru yang belum tentu sepadan dengan harga yang anda bayar.

Jangan selalu membawa kartu kredit
Kalau anda tipe orang konsumtif, ada baiknya anda tinggal kartu kredit anda di rumah sehingga jika muncul keinginan belanja, misal saat ke mall anda tidak bisa menggesek kartu kredit dengan gampang.

Pakailah kartu debit daripada kartu kredit
Lebih baik gunakan kartu debit untuk membayar setiap pembelajaan anda. Gunakan kartu kredit pada saat darurat saja. Contoh misal secara tiba-tiba anda atau keluarga anda harus rawat inap di rumah sakit sementara anda tak cukup punya uang simpanan untuk membayar, maka kartu kredit bisa digunakan untuk alat pembayaran darurat.

Pembayaran dengan sistem auto debet
Dan pertahanan lapis terakhir agar anda tidak terbelit hutang pada kartu kredit, silahkan ubah sistem pembayaran kartu anda menjadi auto debet 100% dari rekening bank anda untuk menghindari lupa membayar yang bisa berakibat terkena late charge atau bunga. Dan dengan diauto debet secara penuh anda akan selalu mengukur antara batas kemampuan bayar dan pengeluaran anda setiap belanja menggunakan Kartu kredit.

Apakah anda termasuk butuh kartu kredit?
Nah, satu lagi jika anda bukan kategori orang yang sering mondar-mandir bepergian Keluar Negeri atau seorang pengusaha yang pentingnya untuk mengatur cash flow keuangan perusahaan anda serta bukan orang yang sering bertransaksi Ecommerce di internet, saya malah lebih menyarankan anda tidak perlu memiliki kartu kredit. Mengapa? Karena hampir semua fungsi kartu kredit kini bisa tergantikan fungsinya oleh kartu debit.

Demikian sharing tips dari saya. Mudah-mudahan info ini bermanfaat dan akhirnya bisa menghindarkan kita semua dari jeratan hutang pada kartu kredit yang bisa saja membelit siapa saja.


Bookmark and Share

Selasa, 09 Juni 2009

Kartu Kredit, Masih Perlukah?

kartu kreditAda pertanyaan mengusik dari seorang kawan “Kartu Kredit, Masih Perlukah?”

Pertanyaan itu dilontarkan salah seorang kawan karena melihat saat ini hampir semua fungsi Kartu Kredit sudah tergantikan fungsinya oleh Kartu Debit. Ya, memang kedua jenis kartu ini sekarang adalah sebuah solusi untuk bisa melakukan pembayaran tanpa perlu repot-repot bawa uang tunai lagi. Tapi benarkah demikian? Kartu Kredit sudah tidak diperlukan lagi sekarang?

Baiklah, mari coba kita bahas bersama-sama. Pada kelompok yang menganggap Kartu Kredit tidak perlu, boleh saya sebut sebagai kubu yang pertama dan bagi yang menganggap Kartu Kredit masih perlu saya sebut sebagai kubu yang kedua. Mari coba kita tinjau apa masing-masing alasannya antara kubu pertama dan kubu kedua.

Bebera fakta berikut ini adalah alasan utama bagi kubu pertama mengapa tidak mau menggunakan Kartu Kredit:

  • Mendidik orang menjadi konsumtif karena sulit mengontrol dan tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
  • Tidak suka dan takut terbelit hutang.
  • Takut accountnya dibobol, terutama bila menggunakannya dalam transaksi online.
  • Bunga Kartu Kredit cukup tinggi sehingga orang takut menggunakannya.
  • Harus keluar biaya untuk membayar iuran tahunan Kartu Kredit.
  • Fungsi Kartu Kredit bisa digantikan dengan Kartu Debit.

Dan berikut adalah fakta yang menjadi alasan bagi kubu kedua mengapa masih tetap mempertahankan Kartu Kredit:

  • Kartu Kredit menjadi bagian dari gaya hidup atau Lifestyle modern dan sebagai bagian prestise penggunanya.
  • Kartu Kredit memberikan apresiasi seperti reward poin, penawaran-penawaran eklusif di merchant-merchant tertentu yang menarik bagi penggunanya.
  • Ada perlindungan asuransi pembelian pada setiap transaksi pembelian barang dengan menggunakan Kartu Kredit.
  • Kartu Kredit bisa dimanfaatkan untuk meringkas pembayaran semua tagihan rutin bulanan seperti listrik, PAM, telepon, internet, TV kabel, asuransi dll kedalam satu rekening tagihan.
  • Bisa menunda pembayaran selama satu bulan.
  • Dengan tergabungnya dalam jaringan Visa dan Master internasional, kartu kredit adalah satu-satunya alat pembayaran universal yang bisa diterima di seluruh merchant yang ada di semua negara.
  • Dana di kartu kredit bagi pemegang kartu bisa dimanfaatkan sebagai dana emergency yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan dalam keadaan darurat.

Dan terlepas dari perlu tidaknya Kartu Kredit bagi Anda, berikut adalah beberapa tips, baca juga posting saya sebelumnya tentang Tips Aman Belanja di Internet, berkaitan dengan Kartu Kredit:

Jika Anda pemegang Kartu Kredit, ubahlah sistem pembayaran kartu Anda menjadi autodebit dari rekening bank Anda untuk menghindari lupa membayar yang bisa berakibat terkena late charge atau bunga. Dan dengan di-autodebit secara penuh Anda akan selalu mengukur antara batas kemampuan bayar dan pengeluaran Anda setiap belanja menggunakan Kartu Kredit.

Gunakan Kartu Kredit yang bank penerbitnya sama dengan account rekening simpanan uang Anda di bank untuk menghindari biaya kliring antar bank setiap Anda melakukan pembayaran.

Nah, dari beberapa fakta diatas rasanya Anda bisa menyimpulkan sendiri apakah Kartu Kredit masih tetap diperlukan atau tidak sebagai salah satu pilihan alat pembayaran Anda.



Bookmark and Share