Selasa, 27 September 2011

Review Novel Memamah Jantungmu

Novel Memamah Jantungmu
Cover Novel Memamah Jantungmu


Pembunuhan sepuluh tahun yang lalu terus menghantui hidup Gilda. Roh-roh itu mengganggunya tanpa henti. Di tengah ketidakwarasannya ia kembali ke rumahnya. Saat ia semakin tenggelam dalam bayangan kematian ia akhirnya tahu papanya telah menemukan sesuatu yang dapat membuat nyawanya terancam. Seketika itu juga sebuah petualangan dimulai. Berjuang di antara hidup dan mati, Gilda menemukan cinta pertamanya. Ketika ia mulai percaya, semuanya berbalik menohok hidupnya. Tak ada yang bisa dia percaya lagi. Semuanya ingin merebut penemuan papanya. Gilda bimbang. Ia ingin menyerah. Langkah mana yang terbaik? Tikungan mana yang harus ia tuju? Penemuan apakah yang harus ia selamatkan sampai harus mengorbankan begitu banyak nyawa?

***

Itu adalah cuplikan sinopsis novel Memamah Jantungmu yang ditulis Rohani Syawaliah, atau Hani kalau saya biasa memanggilnya. Seorang penulis muda asal Pontianak yang selain jadi penulis, dia juga seorang penyiar radio di Volare FM dan aktif ngeblog hingga sekarang. Anda bisa mengunjungi blognya di honeylizious.com.

Rohani Syawaliah
Foto Hani dengan Novelnya


Novel yang ditulis Hani kali ini bergenre horor berbalut misteri mirip seperti cerita detektif yang penuh teka-teki. Mengisahkan kisah pembunuhan sebuah keluarga yang mati terbunuh akibat telah menemukan penemuan obat yang lagi diperebutkan banyak orang. Yaitu obat penawar HIV (AIDS).

Kalau membaca jalan ceritanya yang cukup menegangkan. Disini Hani sebagai penulis cukup pintar memainkan para pembacanya. Betapa dari awal cerita sampai akhir, pembaca seperti diseret ke dalam suasana horor yang amat mencekam. Adegan demi adegan dalam cerita novelnya membuat pembaca dipaksa harus sering-sering menahan nafas dengan berdebar menanti kejutan demi kejutan saat membacanya.

Satu adegan yang membuat saya sampai menahan nafas adalah ketika Gilda kecil, tokoh utama dalam novelnya, menyaksikan dari balik lemari satu persatu keluarganya mati dibunuh. Dan yang paling menegangkan saat pembunuhnya tahu dan akan membuka lemari dimana Gilda bersembunyi. Gilda dalam posisi yang sudah terancam akan bernasib sama seperti kedua orang tua dan adiknya yang lebih dulu terbunuh, tiba-tiba diselamatkan oleh suara ponsel adiknya.

Ya, novel ini memang sangat pas bagi pembaca yang senang dengan kisah-kisah horor dan berbau sedikit teka-teki seperti cerita detektif. Sebagai novel karya perdana dan dicetak secara self publishing, saya pikir ini adalah karya yang patut mendapatkan apresiasi. Keberanian Hani yang tak ragu membukukan karyanya tersebut bisa menjadi contoh banyak blogger lain dan calon-calon penulis yang suatu saat mungkin berencana akan menerbitkan buku namun masih ragu belum punya keberanian buat menerbitkannya.

Bagi penulis pemula yang belum pernah menerbitkan buku maka pilihan cetak buku secara mandiri (self publishing) adalah pilihan paling tepat. Karena tanpa ada resiko penolakan dari pihak penerbit. Juga tanpa ada bentuk campur tangan editor penerbit yang akan menyetir isi bukunya apakah layak jual apa tidak. Kita tahu di dunia penerbitan tak selalu karya bagus mendapat sambutan baik dan bisa naik cetak. Selama karya bukunya tak bisa memenuhi selera penerbit atau pasar pasti ditolak oleh penerbit.

Karena saya sudah cukup mengenal Hani dan sering membaca tulisan-tulisan dia yang memikat di blognya, waktu pertamakali novel tersebut akan diterbitkan saya langsung tertarik untuk preorder. Dan hasilnya saya cukup senang menjadi pembeli novel itu yang pertama sebelum akhirnya novel tersebut laris manis sampai cetak ulang beberapa kali karena banjir pesanan.

Kalau Anda ingin mencicipi versi gratis dari novel tersebut, silahkan kunjungi blognya Hani melalui link ini. Dia memberikan bab pertamanya secara gratis untuk dibaca sebelum Anda memutuskan untuk membeli novel tersebut.

Nah, kalau penasaran dengan kelanjutan cerita Memamah Jantungmu, tentu Anda harus membelinya ke Hani. He..He… Silahkan kontak ke dia. Siapa tahu dia mau memberikan harga khusus buat Anda.


Bookmark and Share

16 komentar:

  1. Novel yang keren,, walaupun gak begitu suka cerita horor, tapi rekomendasi deh bwt temen2 yang suka baca novel..

    Saya mengenal Hani hanya lewat dunia maya ... orangnya criwis hihihii...

    BalasHapus
  2. alhamdulillah akhirnya bisa numpang mejeng di blognya mas joko....


    Mas didik lagi bikin review juga :)

    BalasHapus
  3. Wah saya banyak ketinggalan info nih. Ternyata sudah beberapa kali cetak ulang? Ckckck, mantap Han! :D

    BalasHapus
  4. Mas Darin: ayo dibeli-dibeli *gelar tiker buka lapak*

    BalasHapus
  5. wah jadi ingat janji mau mereview temen waktu kopdar di Komunitas Blogger Jogja, sempet diserang bertubi-tubi teroris soalnya, hahaha...

    BalasHapus
  6. Bagus juga strategi Mbak Hani, memberikan satu bab gratis dulu, kalo tertarik, bisa memesan bukunya. :)

    BalasHapus
  7. wah, sudah ada di gramedia yogya belum ya? tapi kayaknya asik kalau dikasih free sama author nya :D

    BalasHapus
  8. Lha ko' saya baru tau ya kalo Honeylizius itu Novelis. Yang saya tau cuma penyiar.

    BalasHapus
  9. mmmmm...
    aku kok nggak ngerti apa apa ya soal ini...
    #ngertinya seputar semarangan tok :D

    BalasHapus
  10. MisterXWebz/Didik Kusdiyanto:
    Nah, ceriwisnya itu yang melahirkan review ini Mas Didik. Gara-gara saya pernah janji terus ditagih. Padahal saya da pura-pura nglali. He2....

    honeylizious:
    Yang jadi tokoh utamanya akhirnya muncul juga. Dan sekalian gelar lapak. Kalau lapaknya laris ditunggu traktirannya, ya? He2

    Darin:
    Iya, Mas kata Hani gitu. Bahkan katanya ada rencana ditulis lagi dalam versi skenario. Mantab!

    Ami:
    Nah, hayo ndang direview Mbak Ami. Jangan ditunda2 lagi gara-gara mikirin si RJ itu. Sekarang sudah gak mungkin ganggu lagi, kan wong sudah dimoderasi komentarnya. Percayalah nanti akan capek sendiri orang model begitu. Ndak usah dipikirin terus. Betul? :)

    Asop:
    Itu termasuk strategi marketing, Mas. Diberi tester dulu sebagian. Sama seperti kalau mau beli parfum diamboni disik. He2...

    jarwadi:
    Kalau self publishing hanya cetak terbatas atau hanya pre order sesuai pesanan aja, Mas. Jadi tidak ada di toko buku.

    Kaget:
    Sekarang akhirnya jadi tahu, kan Mas.

    Sriyono Semarang:
    Maksudnya gak ngerti yang mana, Mas? Lha yang penting seputar Semarang kuwi, Mas. :)

    BalasHapus
  11. aduh mau dunk novelnya. tapi harga diskon ckckc ---->> tak tau malu 0_0

    BalasHapus
  12. wah, bener2 teknik marketing sabu2, di kasih gratis dulu, setelah merasa penasaran dan ketagihan maka akan membelinya.
    Jd penasaran juga nihwah, bener2 teknik marketing sabu2, di kasih gratis dulu, setelah merasa penasaran dan ketagihan maka akan membelinya.
    Jd penasaran juga nih

    BalasHapus
  13. Wah ternyata banyak juga sekarang blogger yang menerbitkan karyanya ya mas,sudah lama tidak membaca novel yang bergenre semacam ini,sepertinya menarik coba di telusuri dulu ah... :D

    BalasHapus
  14. Cuma main saja Pak.. Karena lg bingung mau ngapain.. blog saya dah hangus, terlambat mbayar kontrakan..hehehe.. gara" tak tinggal ke Shibuya,Kanagawa-Jepang.. Tetap sukses blognya..

    BalasHapus
  15. Kolumnis:
    Kalau mau diskon hubungi aja ke penulisnya, Hani :)

    SUTRISNO:
    He2... Biasa toh, Mas. Anggap saja seperti mau beli parfum pasti diberi tester dulu, kan agar bisa cium wanginya sehingga beli

    grandchief:
    Iya, Mas banyak blogger yang akhirnya menulis buku. Silahkan dibaca dulu bab pertamanya ke blog Hani, Mas.

    tonykoes:
    Wah, sayang sekali, Mas kok bisa sampai lupa. Kenapa tidak diautorenewal aja buat jagain kalau lupa seperti ini :(

    BalasHapus