Ada tulisan menarik yang ditulis Mas Hoeda Manis di blognya yang berjudul Mahatma Gandhi Suka Gulali. Dalam tulisannya itu mengisahkan kisah Mahatma Gandhi yang pernah dimintai oleh sorang ibu untuk menasihati anaknya agar tak makan permen gulali. Hanya untuk menasihati dan mengajarkan kepada seorang anak kecil agar tak makan gulali saja, dia (Mahatma Gandhi) perlu tiga bulan lamanya sebelum memberi nasihat kepada anak tersebut. Mengapa? Masalahnya Mahatma Gandhi juga sangat suka makan gulali. Bagi Mahatma Gandhi dia tak mau melakukan kebohongan kecil yang menurut dia sangat besar seperti itu. Hanya memberi nasihat sementara dia masih melakukan apa yang dinasihatkannya kepada orang lain.Saya jadi berpikir, bukankah ini kondisinya sama juga kalau kita memposisikan sebagai seorang blogger (penulis). Seringkali kita hanya pintar menasihati orang lain dengan tulisan-tulisan kita yang menginspirasi dan memotivasi orang lain, tapi di sisi lain kita, sang penuturnya, justru masih melakukan apa yang kita nasihatkan kepada orang lain (pembaca) tersebut. Betul?
Saya tercenung lama selesai membaca kisah itu. Saya tak berniat mensejajarkan dengan tindakan Mahatma Gandhi dalam kisah itu. Saya tak seagung, dan sebaik Mahatma Gandhi yang bisa menyejukkan semua orang seperti kata Rhenald Kasali, sehingga saya tidak cukup pantas untuk bersanding dengan Mahatma Gandhi. Faktanya, karena memang sulit untuk menjaga konsistensi dan keselarasan antara tulisan dan tindakan kedalam kehidupan kita.
Apakah Anda juga pernah merasakan kondisi seperti itu? Atau hanya cuek saja, menulis ya menulis, tindakan di kehidupan nyata ya sesuatu yang tak ada hubungannya. Tak perlu disangkutpautkan. Benarkah bisa demikian?
Kalau Anda adalah seorang penulis, yang mana dalam tulisan Anda sering menginspirasi orang lain, sering memotivasi pembaca Anda. Pendeknya, selalu mengajak berbuat baik kepada sesama, apa jadinya jika Anda ternyata bukan orang baik, suka melakukan kebohongan bahkan kejahatan?
Saya memang tak mahir untuk menulis. Lebih tak mahir lagi kalau harus disuruh menuliskan sebuah ketidakjujuran, terlebih sampai berkali-kali, termasuk suatu ketika diminta menulis advertorial yang harus bertentangan dengan prinsip kejujuran, saya pasti akan menolak. Berapapun saya dibayar. Silahkan baca contoh pertentangan batin saya dalam artikel ini “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”.
Kalau Anda seorang blogger atau penulis, pertanyaan saya, apakah Anda selalu jujur dalam tulisan-tulisan Anda?
Sumber Foto: Dreamstime.com






