twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Mahatma Gandhi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahatma Gandhi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Apakah Anda Selalu Jujur Dalam Tulisan-tulisan Anda?

Mahatma_GandhiAda tulisan menarik yang ditulis Mas Hoeda Manis di blognya yang berjudul Mahatma Gandhi Suka Gulali. Dalam tulisannya itu mengisahkan kisah Mahatma Gandhi yang pernah dimintai oleh sorang ibu untuk menasihati anaknya agar tak makan permen gulali. Hanya untuk menasihati dan mengajarkan kepada seorang anak kecil agar tak makan gulali saja, dia (Mahatma Gandhi) perlu tiga bulan lamanya sebelum memberi nasihat kepada anak tersebut. Mengapa? Masalahnya Mahatma Gandhi juga sangat suka makan gulali. Bagi Mahatma Gandhi dia tak mau melakukan kebohongan kecil yang menurut dia sangat besar seperti itu. Hanya memberi nasihat sementara dia masih melakukan apa yang dinasihatkannya kepada orang lain.

Saya jadi berpikir, bukankah ini kondisinya sama juga kalau kita memposisikan sebagai seorang blogger (penulis). Seringkali kita hanya pintar menasihati orang lain dengan tulisan-tulisan kita yang menginspirasi dan memotivasi orang lain, tapi di sisi lain kita, sang penuturnya, justru masih melakukan apa yang kita nasihatkan kepada orang lain (pembaca) tersebut. Betul?

Saya tercenung lama selesai membaca kisah itu. Saya tak berniat mensejajarkan dengan tindakan Mahatma Gandhi dalam kisah itu. Saya tak seagung, dan sebaik Mahatma Gandhi yang bisa menyejukkan semua orang seperti kata Rhenald Kasali, sehingga saya tidak cukup pantas untuk bersanding dengan Mahatma Gandhi. Faktanya, karena memang sulit untuk menjaga konsistensi dan keselarasan antara tulisan dan tindakan kedalam kehidupan kita.

Apakah Anda juga pernah merasakan kondisi seperti itu? Atau hanya cuek saja, menulis ya menulis, tindakan di kehidupan nyata ya sesuatu yang tak ada hubungannya. Tak perlu disangkutpautkan. Benarkah bisa demikian?

Kalau Anda adalah seorang penulis, yang mana dalam tulisan Anda sering menginspirasi orang lain, sering memotivasi pembaca Anda. Pendeknya, selalu mengajak berbuat baik kepada sesama, apa jadinya jika Anda ternyata bukan orang baik, suka melakukan kebohongan bahkan kejahatan?

Saya memang tak mahir untuk menulis. Lebih tak mahir lagi kalau harus disuruh menuliskan sebuah ketidakjujuran, terlebih sampai berkali-kali, termasuk suatu ketika diminta menulis advertorial yang harus bertentangan dengan prinsip kejujuran, saya pasti akan menolak. Berapapun saya dibayar. Silahkan baca contoh pertentangan batin saya dalam artikel ini “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”.

Kalau Anda seorang blogger atau penulis, pertanyaan saya, apakah Anda selalu jujur dalam tulisan-tulisan Anda?

Sumber Foto: Dreamstime.com


Bookmark and Share

Rabu, 02 Juni 2010

Bagaimana Menjadi Blogger Ideal?

Rhenald KasaliMencari seorang calon pemimpin ideal bukan berarti orangnya harus bisa diterima oleh semua golongan. Karena orang yang mempunyai karakter kuat yang bisa dijadikan calon pemimpin ideal biasanya justru selalu punya musuh. Begitu pernyataan Rhenald Kasali dalam kesempatan wawancara di salah satu stasiun televisi swasta baru-baru ini.

Dalam konteks ngeblog pun sama. Meski sebagian orang masih menganggap kegiatan ngeblog sebagai sesuatu yang remeh, penulis amatir, atau wartawan tanpa koran, atau apalah yang lebih rendah dari itu, sebagai sebuah kerjaan orang iseng ngganggur tak ada kerjaan. Namun yang namanya resistensi, Kritik dan cemoohan bukan berarti samasekali tak ada, mampir ke sebuah blog.

Silahkan Anda baca dulu artikel sahabat saya Mas Anis di artikel Ngeblog Ala PSK. Betapa di artikel tersebut, tidak sedikit blogger yang berbagi pengalamannya, karena pernah mengalami namanya masa-masa sempat down gara-gara dimusuhi, dikritik dan dicemooh habis-habisan. Jika Anda termasuk yang pernah juga mengalami nasib seperti itu, berbahagialah. Itu artinya karakter yang Anda bangun dan eksistensi Anda di blogosphere mulai diakui dan diperhitungkan oleh orang lain.

Tetapi jangan terus berkecil hati dengan menganggap diri Anda belum punya karakter menyikapi pendapat Rhenald Kasali diatas kalau ternyata blog Anda sampai dengan hari ini masih adem ayem saja tanpa pernah mengalami yang namanya kritik pedas. Bisa jadi si pengkritik sangat menghormati atau segan dengan Anda sehingga orang akan berpikir seribu kali sebelum mengkritik Anda. Kalau sudah begitu Kritik Anonim lah biasanya yang akan muncul di blog Anda.

Atau alasan lain, bisa jadi di dunia nyata dan dunia maya Anda dikenal sebagai orang yang terlalu baik hati sehingga orang lain pun merasa tak mau mengusik orang baik seperti Anda. Meskipun dalam tanda kutip orang baik juga tak menutup kemungkinan punya musuh. Mahatma Gandhi yang orangnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan semua orang tetap ada yang memusuhi dan akhirnya dibunuh.

Akhirnya, saya hanya berharap bagi siapapun saja yang membaca artikel ini dan kebetulan salah satunya yang hendak menuntut kesempurnaan pada blog saya, saya hanya bisa bilang: Menjadi blogger adalah sebuah pilihan saya, tapi bukan sama seperti pilihan kalau Anda menghendaki sebuah pelayanan sempurna pada perusahaan jasa atau instansi publik yang memang dituntut harus sempurna, profesional dan bisa memuaskan semua pihak yang harus dilayani.

Jika Anda sebagai blogger tak bisa memuaskan semua pengunjung apakah itu artinya Anda dicap sebagai blogger yang tak patut untuk ngeblog? Tidak bukan? Anggap saja kata Kesempurnaan, kata Blogger Ideal sebagai sebuah proses. Sama seperti Anda lahir tak mungkin langsung ujug-ujug bisa berlari seperti sekarang ini, bukan? Semua tetap melewati proses.

Terakhir, kalau Anda tetap bertanya kepada saya “Bagaimana Menjadi Blogger Ideal?” seperti dalam judul artikel ini, biarlah judul itu tetap sebagai pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab karena kesempurnaan itu hanya ada pada manusia-manusia pilihan yang memang diciptakan sempurna oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan saya atau barangkali Anda yang jauh dari sosok manusia sempurna. Selamat ngeblog dan berkarya. Happy blogging!




Bookmark and Share