Jumat, 22 April 2011

Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger

InconsistencyBlogger menyuarakan suara produsen, apa pendapat Anda? Aneh? Biasa? Boleh? Atau seharusnya tak boleh? Karena bIogger seharusnya berdiri di sisi yang mewakili konsumen, bukan di sisi produsen. Benar?

Itu sederet pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya belakangan ini ketika mendapati banyaknya blogger, tak terkecuali saya, yang tiba-tiba menulis artikel yang mewakili produsen tertentu di blognya. Alias tiba-tiba menulis Advertorial yang dibayar di sela-sela posting blognya.

Sebelum Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya ingin memberi dua contoh komparasi perbandingan antara blog (personal) dengan media.

Contoh pertama, saya sering mengamati beberapa media pun tak jarang juga menulis beberapa artikel advertorial pesanan dari advertiser yang mewakili produsen tertentu di sela-sela tulisan artikel, berita dan editorial dari medianya. Selama ini saya beropini demikian, wajar kalau media memuat iklan karena tanpa iklan bagaimana mungkin media tersebut bisa survive? Tentu bisa tutup karena tak punya biaya untuk menutupi biaya operasionalnya. Tak punya biaya untuk menggaji seluruh awak redaktur, wartawan, berikut seluruh kontributornya. Jadi sah-sah saja toh mereka pasang iklan dengan salah satunya menulis artikel pesanan berupa advertorial. Ini pendapat saya.

Nah, sekarang blogger. Dalam konteks yang sama apakah blogger tidak bisa disamakan? Toh, blogger juga butuh makan, butuh biaya untuk berinternet, sewa hosting dan beli domain segala macam. Apakah salah kalau dia (blogger) beriklan dengan menyuarakan (menulis) artikel advertorial dari produsen demi untuk kelangsungan hidup blognya? Apakah ini sebuah pengkianatan karena blogger seharusnya tetap berdiri di sisi yang mewakili konsumen? Apakah ini sebuah pengingkaran sikap idealisme yang kebanyakan dimiliki oleh blogger? Karena banyak yang beranggapan menulis advertorial itu bukan review jujur tapi dibuat sesuai pesanan karena dibayar maka keabsahan artikelnya sedikit diragukan. Betul?

Contoh kedua, ada kasus lain. Sebuah media menerima pembayaran iklan dari advertiser. Sebut saja advertiser tersebut bernama perusahaan X. Media tersebut menerima pembayaran karena sudah membuatkan iklan advertorial dan memajang banner iklan perusahaan tersebut di medianya. Di sisi lain wartawan media tersebut dalam kaitannya meliput berita menemukan kejadian kalau perusahaan X melakukan praktek kecurangan, sebut saja menggelapkan pajak misalnya dalam usaha bisnisnya sehingga merugikan negara dan masyarakat.

Pertanyaan saya kepada Anda, seandainya Anda jadi wartawan media tersebut dan mengetahui kecurangan itu di satu sisi dan sisi lain Anda juga tahu kalau perusahaan itu selama ini sering memasang iklan di media Anda, yang artinya Anda makan salah satunya dapat upah dari perusahaan tersebut apa yang harus Anda lakukan? Tetap menulis beritanya dan menganggap harus tetap independen dengan membela kebenaran buat pembaca? Atau mengkeep berita itu untuk membela perusahaan yang sudah memberi makan Anda dengan tak mau mempublikasikan berita negatif tersebut?

Pertanyaan serupa, dalam konteks ngeblog jika Anda dihadapkan dalam situasi yang sama seperti situasi wartawan di atas bagaimana sikap Anda? Tetap independen menuliskan artikel review negatif yang jujur dan menganggap kebenaran harus tetap disuarakan meski di sisi lain Anda juga menuliskan Advertorial (positif) yang baik-baik saja buat produsen (perusahaan X) yang pernah membayar Anda?

Terakhir pertanyaan kesimpulannya, kalau kedua contoh diatas saling dihubungkan, apakah independensi seharusnya terpengaruh oleh uang? Jika Anda sepakat misalnya menjawab "Tidak", tak boleh terpengaruh dan tetap memperlakukannya dalam dua sisi yang berbeda? Advertorial positif ditulis sesuai pesanan dan artikel review negatif di sisi lain tetap juga (jujur) jalan untuk ditulis.

Jika pilihan Anda benar jatuh pada harus independen. Artinya, uang seharusnya tak mempengaruhi independensi maka resikonya juga tak mengenakkan hati. Anda akan dicap "inkonsisten". Anda dicap "kontra produktif" seperti komentar sahabat blogger saya Gwencraft di artikel ini. Baca "Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?"

Hem, jadi serba salah, kan? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda? Silahkan, Anda bebas untuk berpendapat.

Sumber Foto:Inconsitency


Bookmark and Share

30 komentar:

  1. menurut saya, itu suka - suka si blogger itu sendiri, toh blogger bukan pelayan public yang menggunakan uang dan fasilitas negara untuk blogging.

    eh iya pak, bukannya sekarang ada corporate blog, selain sebelumnya telah ada corporate official website, hehehe

    kalau saya sih selama ini belum pernah dibayar untuk menulis advertorial di blog saya, hehehe, kalaupun ada pasti akan saya pertimbangkan

    selamat berhari libur pak
    salam

    BalasHapus
  2. Akhirnya kembali ke Narablog sendiri mas, kalo di bilang "inkonsistensi" ya memang sulit untuk yang selama ini idealis. Namun hal itu tidak penting, bagi saya ada kesempatan kenapa kita lewatkan...

    BalasHapus
  3. Menurut saya, banner berbeda dengan artikel review. Untuk banner, pemilik situs hanya sekadar menempatkan tanpa beropini. Dalam review, situs memberikan opini --walaupun bisa jadi itu sebenarnya opini pengiklan.

    Saat ini, saya rasa pengunjung sudah mulai terbiasa dengan kultur internet. Mereka sudah mulai bisa membedakan banner dan reviewnya. Selain itu, ada juga iklan yang memang di luar kontrol pemilik blog, misalnya adsense atau BSA. Pemilik situs hanya menyediakan space dengan kontrol diatur pihak lain.

    Menerima banner atau advertorial lain, selama ada batasan khusus yang memisahkan antara pengiklan dan pemilik situs saya rasa tidak jadi masalah. Pengunjung bisa membedakannya. Tapi, jika itu perusahaan yang memang memiliki citra sangat buruk, akan jauh lebih bijak jika menghindarinya.

    Saya pernah baca artikel review tentang situs Spec Work (kontes desain) di DesignM.ag. Dikatakan dalam artikel, pemilik situs malah memperingatkan pemasang iklan bahwa dia tetap pada pendirian menolak Spec Work. Karena pemasang iklan tetap bertahan, isi reviewnya pun cuma sekadar memberi link dan perkenalan saja, tidak ada hal bagus yang diberitakan. Saya lebih setuju dengan review seperti ini, jujur dan idealis. Seandainya menerima tawaran review, saya berharap bisa melakukan hal yang sama.

    Tolong koreksi jika ada kalimat saya yang tidak jelas. Waktu saya terbatas untuk berkomentar sepanjang ini. Terima kasih Pak Joko.

    BalasHapus
  4. Koreksi
    ===
    Pemilik situs hanya menyediakan space dengan kontrol (isi banner) diatur pihak lain.
    ===

    BalasHapus
  5. waaah susah juga ya independen kalau dihadapkan sama uang? tapi pembaca berhak juga mendapat informasi yang benar mengenai suatu produk.

    sejauh ini saya mereview-review buku dan film berdasarkan kesukaan pribadi si (belum ada yang mau bayar, heee). sejauh ini saya hanya mereview buku atau film yang saya suka. kalau tidak suka tidak direview (daripada jelek2in).

    hmmm...mungkin dalam mengutarakan sisi negatifnya perlu dengan cara yang kreatif kali ya? *meski saya sendiri tidak tahu seni mereview sisi yang negatif itu seperti apa...

    ^^ postingan yang sangat menarik mas..

    BalasHapus
  6. Saya rasa nggak ada yang bilang blogger tidak boleh berdiri di sisi produsen. Kalo dia mau ngiklan, suka-suka dialah. Toh dia yang punya blognya, dia yang berhak menentukan isi blognya. Bahwa blognya nanti akan ditinggalkan oleh pembaca karena isi (iklan-)nya bohong, itu sudah konsekuensinya sebagai penulis.

    BalasHapus
  7. Keren mas, saya seneng baca judulnya :
    * Idealisme = saya rasa zaman sekarang sudah ga ada and hampir punah, kalau ada yang mengaku idealis,mungkin hanya di bibir saja atau hanya di tulisannya saja. :D
    * Independen = Itu hak prerogatif masing masing blogger.
    * Inkonsistensi = Wajar wajar saja, karena butuh hidup :D :D

    Jadi saya pikir2 blogger itu mirip2, Aktivis mahasiswa yang kritis, yang akhirnya di sodori jabatan di parlemen or partai... hahahahah,

    Nice share Mas....

    BalasHapus
  8. memangnya blogger gak boleh menulis tentang iklan ?


    jadi apa gunanya idealis,,,, toh gak ada salahnya kan , kalo diberi kesempatan untuk sebuah Review, dan kebetulan kita memang menggunakan sebuah produk, dan produknya itu memang bagus,,


    Nah,,, ada analogi seorang wartawan yang lagi dilema di atas,

    Apakah om juga pernah mengalami hal kurang mengenakan dengan produk yang di review???


    Di postingan sebelumnya aku jg pernah membaca seh kekecewaan om,, tapi itu cuman sodaranya produk yang bapa review kan "H4lo" bukannya "smpT"

    BalasHapus
  9. Saya blm bs koment banyak tetang ini,soalnya banyak jg neh pembisnis internet yang menyuarakan penghasilan selangit,tapi setelah di beli ebooknya,apa jadinya kata2 tadi..?masih tanda tanya BESAR.

    BalasHapus
  10. Jarwadi:
    Gitu, ya Mas. Terima kasih. Ya, blogger memang bukan pelayan publik. Selamat berlibur juga, Mas. :)

    mas-tony:
    Setuju, kesempatan itu momen langka jangan dilewatkan. Saya setuju, Mas.

    Jeprie:
    Tidak ada yang perlu saya koreksi, Mas Jeprie. Itu benar.

    Pada kasus-kasus tertentu kita seharusnya memang harus tegas menolak mereview kalau advertiser yang kita review ternyata punya citra buruk atau produknya buruk. Ini jelas bertentangan dengan prinsip kejujuran itu sendiri. Ya, saya juga setuju ini, Mas Jeprie. Biarlah orang mengatakan kita idealis dengan bersikap seperti ini. Tapi jangan hanya karena uang advertiser bisa membeli kejujuran kita. Ini sikap idealis yang seharusnya tetap dipertahankan.

    Huda Tula:
    Jalan paling aman ya begitu, Mas Huda. He..He.... Hanya memberi review pada apa yang kita sukai saja. Review positif.

    Nah, yang sulit kalau kita dihadapkan pada situasi harus mereview sesuatu yang bukan karena keinginan kita atau bukan hal yang kita sukai tapi kita dituntut profesional memberikan reviewnya. Ini yang menurut saya tak mudah, Mas. Terlebih kalau sudah ada uang di dalamnya. Uang suka (kecenderungan) membuat para penulis advertorial jadi tidak independen, kurang netral.

    Vicky Laurentina:
    Kalimat yang paling belakang itu secara implisit saya bisa menangkap ada harapan dari Mbak Vicky agar blogger tetap berusaha jujur. Benar?

    BalasHapus
  11. Gwencraft:
    Akhirnya yang ditunggu datang lagi. :)
    Kalau tentang idealisme, selama itu menyangkut hal yang bernama kejujuran prinsip ini harusnya tetap dipertahankan, Mas. Meski ini mulai menjadi barang langka sekarang. Agama kita mengajarkan kita harus jujur. Benar?

    Analogi blogger mirip aktivis mahasiswa kritis, saya no komen aja. Hi...Hi.... Cari aman saja. :)

    Gaptek:
    Tidak ada yang bilang begitu, Mas Farid. Saya hanya melontarkan pertanyaan itu saja. Dan secara implisit meski saya tak jawab boleh apa tidak, tapi di artikel saya sebetulnya pertanyaan itu sudah terjawab.

    Ya, sedikit mirip. Karena saya sebelumnya mereview negatif (complain), meski akhirnya masalah ini sudah selesai dan juga beda kasusnya karena pada produk yang berbeda (Kartu Halo) tapi di dalam hati kecil saya, saya merasa ndak enak terhadap pembaca blog saya. Saya seolah-olah inkonsisten gitu, Mas. Kemarin mengkritik, eh sekarang memuji. Padahal ini beda kasus walau sama-sama terjadi pada produk Telkomsel.

    situs dofollow:
    Kata-kata berbusa selangit itu biasanya ada pada sales letter. Kalau advertorial seharusnya tidak ada janji2 kosong begitu jika ditulis dengan jujur. Karena Advertorial di dalamnya ada unsur editorialnya. Artinya ada artikel, opini yang mewakili pandangan jujur penulis. Yang sama mungkin hanya persuasi marketingnya aja.

    BalasHapus
  12. Sebuah blog "mungkin" masih tetap dapat hidup tanpa adanya iklan. Tapi seorang blogger "pasti" akan sakit kepala ketika tahu pengunjung/pembacanya menghilang karena kecewa.

    Iklan dalam bentuk apa pun, menurut saya, bisa masuk ke dalam blog, selama pembaca tidak merasa terganggu, kecewa, apalagi tertipu, oleh iklan itu. Bahkan, idealnya, blogger mendapatkan penghasilan dari aktivitas ngeblognya, sehingga dia bisa lebih serius mengurus blog, sekaligus lebih dapat memberikan yang lebih baik untuk para pembacanya.

    Dalam kasus blog ini, sekali lagi menurut saya, yang dilakukan Pak Joko itu tidak kontraproduktif, karena dua post itu memiliki konteks yang berbeda. Lebih dari itu, post berisi keluhan dulu itu menjadikan Telkomsel memperbaiki layanannya, dan Pak Joko sendiri nyatanya menyukai produk Telkomsel (bahkan kalau nggak salah sampai pakai dua nomor dari Telkomsel). Menjadi kontraproduktif jika kita sesungguhnya tidak menyukai suatu produk, tetapi mau menuliskannya secara positif hanya untuk sejumlah uang.

    Pada akhirnya, yang menentukan kehidupan sebuah blog bukan iklan, tetapi content dan pengunjung yang loyal. Loyalitas terbangun karena adanya kepercayaan, dan kepercayaan terbentuk karena adanya integritas. Bukan gitu, Pak Joko? Maaf kalau komennya terlalu panjang. :)

    BalasHapus
  13. Hanya bisa membaca komentar yang masuk tanpa ada komentar lagi, karena aku juga pernah menulis dari sisi produsen tapi itu masih dalam batas kaca mataku sendiri. Dan itu murni dari diri sendiri tanpa ada fee nya :D

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  14. Hoeda Manis:
    Terima kasih Mas Hoeda. Begitu, ya? Semoga semua pembaca melihatnya dalam perspektif seperti itu. Itu adalah dua hal yang berbeda meski dalam satu operator yang sama. Harapan saya juga begitu.

    Sampai kapan pun saya akan berusaha mempertahankan intregritas demi kepercayaan itu. Karena itulah modal utama saya mempertahankan pengunjung loyal ke blog saya. Mas Hoeda benar.

    Sugeng:
    Kalau itu berarti dari sisi produsen tapi mengulasnya tetap dari sudut pandang user experience. Benar? Saya juga beberapa kali pernah melakukan review seperti itu Mas Sugeng.

    BalasHapus
  15. Dulu sebelum ngeblog, saya sudah terbiasa menulis artikel berjenis review, terutama review mengenai produk dan jasa tertentu dari produsen. Maklum, saya dulu gabung di sebuah situs suara konsumen. Bedanya, tulisan-tulisan review saya dan member lain di situs terebut bukanlah pesanan produsen, melainkan memang murni pendapat kami selaku konsumen yang pernah menggunakan produk serta jasa tertentu.

    Nah, kalau sudah berupa pesanan, biasanya kan ada ketentuan yang harus kita patuhi. MIsalnya dilarang menuliskan hal-hal negatif seputar produk/objek yang akan direview.

    Untuk kasus produk Telkomsel, setahu saya pihak IBN menganjurkan agar tulisannya bergaya sudut pandang seorang pemakai/konsumen. Jadi diusahakan agar tidak terkesan terlalu ngiklan.

    Namun rasanya sulit juga ya menyeimbangkan antara anjuran broker dengan ketentuan pemesan. Tinggal bagaimana kita pinter-pinter mengakali lewat gaya bahasa saja akhirnya.

    Bagi saya, sepanjang materi pesanan berupa promo terbaru sebuah layanan/produk, sebenarnya tidak ada masalah. Tetap saja berpeluang memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca yang belum mengetahuinya.

    Lain soal jika kita disuruh mengelabui calon konsumen dengan materi yang berbau kebohongan.

    BalasHapus
  16. Akhirnya, saya bingung untuk menjawab pertanyaan ini. Antara independensi, materi, dan pastinya kejujuran pada publik. Masalahnya, apakah sponsor benar2 menerima?

    BalasHapus
  17. iskandaria:
    Rata-rata blogger (penulis) pasti pernah mereview dari sudut pandang sebagai konsumen. Bisa karena alasan terpuaskan sehingga membuat review postif atau membuat review negatif karena sudah pernah dikecewakan. Nah, yang sedikit berbeda adalah review karena diminta produsen (dibayar). Benar, Mas Is sebagai publisher tak mungkin menuliskan hal-hal negatif. Itu pasti ditolak oleh advertiser.

    Pilihannya hanya ada dua. Terima tawarannya dan beri review positif, atau tolak kalau memang produknya buruk sehingga tak pantas untuk direview.

    Yang unsur informasi ini saya baru tersadar sekarang. Benar Mas Is. Iklan advertorial itu, kan tak melulu iklan tapi bentuk informasi juga sama seperti news dan artikel yang berisi tentang informasi layanan/produk terbaru. Jadi tetap ada pembaca yang belum tahu dan butuh akan informasi yang disampaikan. Dan tugas kita (publisher) menyampaikannya dengan bahasa yang menarik.

    *Mas Iskandaria publisher disana juga, kah? Kok saya tak melihat bannernya di blog maupun pernah muncul di forumnya? :)

    Kaget:
    Bingung, Mas? Tulisan ini lahir juga karena kebingungan saya. Makanya, saya tulis di blog agar saya tahu bagaimana sudut pandang orang lain dalam menyikapi situasi seperti ini.

    Kalau direview negatif sponsor pasti tak mau, Mas. Mana ada yang mau, betul? :)

    BalasHapus
  18. Salam sahabat
    Salam kenal
    Membaca poatingan ini sangat pluralusme mengingat kata yanf ada sungguh menggugah pembaca untuk memahami apa se sebenarnya yang cocok hehehe
    Great post mas , btw folowers boxnya kok belum saya temukan xixixi

    BalasHapus
  19. Setidaknya advetorial lebih informatif daripada menyebar spam di borang tanggapan blog lainnya :).

    Advetorial bisa jadi sebuah informasi yang berharga bagi pembaca, tergantung bagaimana narablog mengolahnya, sehingga dapat menjadi investasi tersendiri bagi masing-masing pihak.

    BalasHapus
  20. hampir sama kayak inti komentar mas is pak..
    smua blogger yg dapat job review kan juga menulis dengan sudut pandang blogger seolah2 sbg konsumen.. jadi tidak ada masalah kalau menjadi inkonsistensi dalam dunia ngeblog..

    rejeki tak baik ditolak pak hehehe... mas is dan saya keliatannya meski sbg publisher tp sama2 jarang aktif dan jg pasang banner pak..

    BalasHapus
  21. menawarkan sih sah-sah saja. cuman tergantung yang baca kan. sudah kadung nempel sama provider lain, hehehe

    BalasHapus
  22. Pak Joko.
    Saya anggota IBN kok Pak (publisher). Itu aja karena saya iseng-iseng daftar. Eh, taunya beberapa waktu lalu dikasih pekerjaan menulis ulasan..hehe

    Anggota/publisher IBN kan nggak harus pasang banner. Kalau mau ikutan PPC-nya, ya harus pasang banner sih. Kalau nggak mau juga nggak papa setahu saya. Soalnya di IBN ada beragam pilihan yang bisa kita ikuti sebagai publisher.

    Nah, kalau di forumnya saya memang kurang aktif, walaupun saya udah gabung di fans FB-nya. Tapi saya pernah nongol kok di situ :)

    BalasHapus
  23. Setiap blogger sebenarnya sama. Punya niat monetasi sekaligus mencari ajang aktualisasi diri. Hanya saja kadar dan waktu menunjukkannya yang berbeda. Semua akan terseleksi secara alami seiring berjalannya waktu.

    BalasHapus
  24. Dhana/戴安娜:
    Salam kenal kembali, Mbak Dhana. Senang terima kunjungan seleb blogger dari negeri China. Tapi orang Indonesia, kan ya? :)

    Pluralisme? Jadi kayak film "?" . He..He... Setidaknya begitulah keadaannya, Mbak. Untuk widget follower memang sengaja tidak saya pasang. Biar bebas aja agar tidak ada keterpaksaan untuk saling follow.

    Cahya:
    Gitu, ya Mas Cahya?

    Nah, cara mengolah advertorial agar menarik dan memberi informasi buat pembaca, sekaligus tidak mengecewakan advertiser ini yang saya lagi belajar.

    tomi:
    Sesama publisher, toh rupanya. :)
    Ya, Mas Tomi, tak baik menolak rejeki.

    Ami:
    Namanya juga menawarkan Mbak Ami. Siapa yang mau aja, deh. Asal jangan terus ditawar aja bisa rugi nanti pedagangnya. HeHeHe

    iskandaria:
    Wah, saya senang Mas Is mendengarnya, ternyata sahabat2 blogger saya rata-rata jadi publisher disana.

    Pertanyaan saya hanya untuk memastikan saja, kok Mas Is. Termasuk masalah banner dan masalah di forum IBN itu.

    Agus Siswoyo:
    Khusus blog ini awalnya hanya untuk ajang aktualisasi diri (personal branding), Mas. Uang bukan tujuan utamanya karena saya masih punya beberapa blog lain yang memang khusus buat cari uang.

    Terseleksi secara alami. Yang serius, entah hanya ngeblog karena hobi maupun buat cari duit, akan bertahan. Yang tidak serius akan mati (blognya). Setuju! :)

    BalasHapus
  25. Kalau saya sih, yang penting blogger harus bisa mempertanggungjawabkan semua kontennya..
    Itu seni seorang publisher..

    BalasHapus
  26. giewahyudi:
    Kalau pertanggungjawaban itu sudah jelas dan wajib, Mas hukumnya. Betul? Kalau mau melepaskan diri dari tanggung jawab, ya pasang Disclaimernya agar kita terbebas dari tuntutan. :)

    BalasHapus
  27. wah ramai sekali. namun di jaman sekarang rasanya setiap blogger memiliki pendapat masing2 pak. ada yang bilang benar, ada yang bilang salah, ada yang ragu, dsb. ya kita memang bebas beropini.

    tapi intinya, selama apa yang kita berikan berguna bagi orang lain itu suda lebih dari cukup.

    beberapa blog saya yang sudah d monetize pun, masih saya seleksi iklan2 yang masuk.
    bahkan beberapa produk juga saya coba untuk membuktikan apakah iklan sesuai dengan kualitas yang ditawarkan :)

    BalasHapus
  28. willy merdiansyah:
    Silahkan, kan Mas Willy. Saya pun menghormati pendapat dari masing-masing blogger.

    Saya juga sama dengan Mas Willy dalam berprinsip. Menyeleksi tawaran iklan2 yang masuk. Jika produknya buruk, daripada menyesatkan pembaca mending saya tolak saja tawarannya.

    BalasHapus
  29. yang pasti sampe saat ini saya ngeblog hanya untuk mengungkapkan apa yang dalam kepala saya.:D

    BalasHapus
  30. seru nih artikelnya. diskusi dalam setiap komentar juga sedikit banyaknya menambah wawasan saya. salam kenal semua.

    BalasHapus