Sabtu, 06 Maret 2010

Lempar Batu Sembunyi Tangan

beda pendapat
Lempar Batu Sembunyi Tangan. Saya rasa Anda pasti pernah dengar peribahasa ini, bukan? Dulu sewaktu saya masih kanak-kanak saya juga pernah melakukan ini. Melempar batu ke seorang teman dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Karena saya takut kalau sampai ketahuan saya pasti akan dipukul oleh kawan saya tersebut. Tapi itu dulu. Lain dulu lain sekarang. Saya tidak berharap ini masih menjadi kebiasaan saya dan Anda juga yang tetap dilakukan meskipun saya dan Anda sudah tidak kanak-kanak lagi.

Bagi para sahabat blogger saya yang pernah berkomentar di blog ini, pasti pernah membaca kata-kata ini:

"Terima kasih sudah mau repot untuk memberi comment. Silahkan tinggalkan nama anda agar saya bisa memastikan bahwa anda bukan mesin tapi manusia juga, sama seperti saya."



Barangkali ada yang bertanya, apa memang ada bukan manusia, mesin maksudnya, bisa berkomentar di blog? Saya jawab tentu ada. Dan jika Anda barangkali bertanya lagi ke saya gimana caranya, saya hanya bisa jawab, maaf saya tak tahu caranya karena saya tidak punya software semacam ini.

Prolog diatas komentar diatas saya tulis sebenarnya secara implisit lebih saya tujukan agar siapapun yang akan berkomentar di blog saya, terutama komentar yang bernada kritik atau ingin berbeda pendapat dengan saya mau meninggalkan sebuah nama, bukan dengan anonymous yang tidak ada bedanya seperti Lempar Batu Sembunyi Tangan.

Dengan menulis di blog, artinya saya perlu menegaskan diri bahwa saya membuka diri lewat tulisan saya di blog ini untuk dikoreksi dan dikritik oleh siapapun, tak terkecuali Anda yang baca tulisan ini sekarang. Saya tetap membuka dan menerima jika Anda yang kebetulan tidak setuju atau beda pendapat 180 derajat dengan opini saya yang saya tulis di blog ini. Jadi jangan ragu atau sungkan untuk mengkritik saya. Saya akan terima dan tidak akan mendelete komentar Anda (kecuali komentar spam) asal Anda juga gentle menyebutkan identitas nama atau profile dan URL Anda.

Sekedar contoh komentar yang saya maksud, silahkan Anda bisa lihat komentar anonymous pada posting Cara Extrem Daftar Google Adsense dan Pilih Facebook atau Twitter. Pada posting tersebut ada salah satu pengomentar yang tidak setuju dengan opini tulisan saya. Namun sayangnya, dia tidak cukup gentle dengan meninggalkan sekedar sebuah nama buat saya.

Satu note yang menjadi catatan saya lewat tulisan ini, dengan makin terbukanya arus informasi dan keterbukaan sekarang ini, yang artinya semua orang, siapa pun bebas untuk berbicara dan mengkritik tetapi hendaknya kaidah sopan santun dan etika bukankah tetap harus dijaga, bukan? Dan bukan malah melakukan dengan cara-cara seperti Lempar Batu Sembunyi Tangan.

Pertanyaan saya buat Anda. Gimana reaksi Anda kalau mendapati komentar negatif? Apa yang akan Anda lakukan?



Bookmark and Share

7 komentar:

  1. Wah, aku sudah lumayan sering menemui orang-orang ANONYMOUS berkomentar negatif seperti ini. Tapi, menurutku, memang kita tak bisa berharap semua orang bisa (atau mau) mengerti tentang etika menyampaikan komentar di blog. Ya, karena itu tadi. Dia bisa bersembunyi di balik keanonimannya.

    Caraku, sederhana saja. Mengaktifkan moderasi komentar dan imbauan untuk menyampaikan komentar secara beretika di box komentar. Kujelaskan dengan terbuka, bahwa komentar-komentar (yang menurut pandanganku, pastinya) tidak layak pajang, pasti akan ditolak. Jadi, jangan marah kalau komentarnya ternyata tidak muncul di artikel itu.

    Bukan berniat sombong, tapi bagiku blog itu seperti rumahku sendiri. Jadi, kesal rasanya kalau ada orang yang melempari sampah atau merusak temboknya. Aku tak mencari ratusan komentar di artikelku, kalau hanya 10 diantaranya yang bersifat positif, membangun dan tidak beraroma permusuhan.
    Lebih baik komentarnya hanya 5, tapi semuanya bermanfaat dan membuat artikel itu semakin menarik untuk dibaca orang lain. Hahaha..

    Jadi, sebagai jawaban dariku untuk pertanyaan diatas adalah: aktifkan moderasi komentar dan jangan sungkan-sungkan menolak semua komentar yang tidak membangun. Karena tidak semua komentar Anonymous bernada negatif. Ada juga anonymous yang berkomentar lebih menarik daripada mereka yang meninggalkan url nya. Jadi, meskipun komentar anonymous, asalkan bermutu, pasti akan diterima.

    Salam dari Medan :)
    Maaf komentarnya jadi kepanjangan.
    Blog Perempuan Rumahan
    Mommy Mayonnaise
    Female Stuffs

    BalasHapus
  2. Saya nerima komentar anonymous tiap minggu, Pak. Dan tanpa ambil pusing, komentar-komentar itu saya hapus. Biarpun kadang-kadang isinya bagus juga sih. Tapi saya menjaga kualitas blog saya, termasuk menjaga kualitas pengunjung blog saya juga.

    Kalau ada komentar negatif, selidiki dulu motivasi komentar itu.

    1. Dia tidak setuju dengan isi blog kita. Tindakan kita, jawab komentarnya, jelaskan kenapa kita menulis demikian di blog.

    2. Dia tidak setuju dengan apapun yang kita tulis. Tindakan kita, tulis e-mail ke alamat si komentator, tanyakan apakah dia punya masalah pribadi dengan kita.

    3. Dia memang selalu berkata-kata kasar tiap kali berkomentar.
    Tindakan kita: Abaikan total. Hapus kalau perlu. Tidak usah ambil pusing. Percayalah, nanti dia juga capek sendiri.

    BalasHapus
  3. sama seperti k'vicky, saya jg bakal langsung ngapus mas joko..
    tapiiii, itu klo kritikannya terlalu mojokin dan sensitiffff banggettt..

    klo sekedar beda pendapat dengan postingan saya siiih, yahh.. paling saya jawab dengan argumentasi yang menjadi landasan say..

    yang terpenting... no heart feeling laaahh..

    :D :D

    BalasHapus
  4. Lempar batuuuu...

    sembunyi tangan,,,

    Mendingan dapet komentar yang ngeritik kita daripada isi komen;;

    salam kenal,,,kunjungi blog saya blabla bla...

    BalasHapus
  5. Risma Hutabarat: Benar, Mbak Risma Melakukan moderasi memang pilihan yang tepat untuk menanggapi komentar negatif agar bisa terfilter dan lebih enak dilakukan daripada muncul dulu komentarnya di blog terus mendeletenya.

    Vicky Laurentina: Komentar anonymous tiap minggu, Mbak Vicky? Saya bisa bayangin betapa energi kita akan tersita banyak kalau harus menanggapi komentar miring begitu. Kalau blog saya hampir 80% pengunjung datang dari Google sehingga kebanyakan yg datang adalah pencari informasi yang tidak meninggalkan komentar. Mungkin saatnya nanti jika komentarnya da banyak jalan teraman, ya mau nggak mau pasang moderasi.

    Lisha Boneth: Lho, aku jangan dihapus, Lis. He...He...

    Qorianisme: Wah, kelihatannya Anda lebih siap untuk dikritik ketimbang saya. Terima kasih sudah mampir dan beri komentar, salam kenal juga

    BalasHapus
  6. Biasanya sih ndak anonim...ada namanya tapi emailnya bodong dan websitenya mengarah ke yahoo atau google

    BalasHapus
  7. Kalau anonim yang jenis seperti itu Bukan Lempar Batu Sembunyi Tangan, Mas Gardino. Tapi Lempar Batu Pinjam Tangan Orang Lain namanya. He...He...

    BalasHapus