Sabtu, 08 Mei 2010

3 Cara Elegan Memberikan Komentar Kritik Pada Blog

Komentar KritikSaat kejatuhan Presiden Soeharto pada tahun 1998, banyak orang ramai-ramai menghujat beliau. Rasanya jasa-jasa beliau memimpin negeri ini selama 32 tahun sebagai Bapak Pembangunan yang telah berjasa memimpin dan mensejahterakan negara kita tak ada artinya samasekali, tak terlihat karena tertutupi oleh kesalahan beliau yang dianggap melakukan KKN selama memimpin negara Indonesia.

Kasus diatas sebagai contoh sederhana saja, secara umum orang punya kecenderungan menilai segala sesuatu pada endingnya saja, bukan totally secara keseluruhannya. Jadi ending sangat menentukan keseluruhan, maka berhati-hatilah dengan ending yang Anda buat, termasuk dalam berkomentar pada sebuah blog. Karena banyak para blogger tanpa sengaja terjebak dalam memberikan komentar seperti ini. Kalau saya suka menyebutnya sebagai "Komentar Skeptis"

Apa itu Skeptis? Skeptis asal kata dari bahasa Inggis "Sceptic" kalau saya kutip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terjemahannya adalah:

skep·tis /sk√©ptis/ a kurang percaya; ragu-ragu (thd keberhasilan ajaran dsb): penderitaan dan pengalaman menjadikan orang bersifat sinis dan --



Karena saya orangnya tak suka berkonflik dengan orang lain, jika saya menemui komentar seperti itu di blog saya, maka saya sangat berhat-hati untuk menanggapinya. Dan pelan-pelan saya akan menghindari pertemanan dengan tipe blogger semacam itu (kalau itu seorang blogger), dengan tak berkunjung lagi dan meninggalkan komentar di blognya. Jurus ini biasanya cukup ampuh, bloggernya kemudian, biasanya tak akan datang-datang lagi ke blog saya dan meninggalkan komentar.

Bagaimana ciri-ciri Komentar Skeptis? Berkomentar memuji atau setuju dengan artikel posting kita di depan tapi endingnya sinis atau pakai kata "Tapi" yang kalau dinterpretasikan berupa pernyataan yang kontraproduktif dengan pujiannya di depan alias mengkritik negatif. Contoh Anda bisa lihat Komentas Skeptis tersebut pada blog saya di artikel "Cara Extrem Daftar Google Adsense" dan artikel "Pilih Facebook atau Twitter"

Komentar kritik seperti itu, meski sebuah kritik membangun tapi kalau cara berkomentarnya seperti itu kurang elegan menurut saya karena sedikit kurang sejuk dibacanya.

Sekarang pertanyaannya, lantas bagaimana Cara Elegan Memberikan Komentar Kritik Pada Blog?

Berikut adalah 3 Cara Elegan Memberikan Komentar Kritik Pada Blog:

  1. Seperti yang sudah saya ulas dimuka tadi. Taruhlah Kritik di depan dan pujiannya di belakang sebagai ending komentarnya. Jangan dibuat sebaliknya. Itu cara yang pertama.
  2. Kalau blognya pakai bahasa Indonesia, meski bahasa Indonesia tak mengenal apa itu Kasta bahasa seperti halnya dalam bahasa Jawa atau bahasa-bahasa lainnya tapi usahakan pilih idiom kata yang lebih halus untuk menghormati si bloggernya dalam mengkritik. Jangan sekali-kali menggunakan kata-kata yang kurang halus secara bahasa. Contoh, lebih halus menyebut kata "Kamu" dengan "Anda" dan menyebut kata "Minta" dengan "Mohon" dan masih banyak lagi contoh-contoh kata lain.
  3. Cara elegan ketiga, beri pernyataan juga kalau kritik itu hanya sebuah saran dari Anda saja. Orang tersebut, yang Anda kritik boleh mengabaikan atau tak setuju dengan komentar kritik dari Anda.

Demikian sedikit tips dari saya. Sebelum saya akhiri posting ini, jika Anda punya cara lain yang lebih elegan dari cara saya dalam memberikan sebuah kritik? Jangan segan-segan untuk memberi kritik kepada saya. Selamat Mengkritik! He.....He.......

Note: Artikel ini saya tulis karena diilhami oleh posting sahabat saya Mas Anis Fahrunisa dalam postingnya Tipologi Pengomentar.

Disclaimer: Tidak ada jaminan dari saya dengan memakai cara ini Anda bisa berhasil 100%. Jadi pesan saya tetap berhati-hatilah dalam memberikan kritik. Dan pemilihan kata, kalimat, dan gaya bahasa Anda turut berperan apakah cara yang saya sampaikan dalam artikel ini bisa membuahkan hasil apa tidak.




Bookmark and Share

6 komentar:

  1. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

    BalasHapus
  2. Wah..kalau saya perhatikan akhir-akhir ini para sobat senior saya lagi focus pada topik "komentar", tapi it's OK karena saya juga demikian (lol).

    Sedikit menggaris bawahi topik ini:
    1. Saya perhatikan para pengomentar seperti itu memiliki gelar yang cukup keren, M.B.A (Master of Blogger Anonymous) lulusan Universitas Kamuflase. Masih lebih baik komentar yang sering saya terima via email, pedas tapi jantan dan tidak bermaksud mempermalukan.
    2. Ketiga cara elegan itu, saya pikir sangat tepat karena dapat mengantisipasi penulisan Komentar yang dapat merusak reputasi. Bernar kan Mas Joko?
    3. Banyak Blogger yang sengaja menghapus komentar yang mereka nilai kurang baik, padahal menurut saya sepedas apapun, sejelek apapun secara etika kita tidak boleh menghapus komentar, kecuali....sebelumnya kita beritahu aturan mainnya melalui halaman TOS dan Pivacy Policy atau di tempat lain sebagai notifikasi.

    BalasHapus
  3. Sama halnya dengan Mas Joko, saya orang yang tidak suka berkonflik, meskipun bukan berarti saya anti kopmetisi. Konflik bersifat saling mengalahkan. Sedangkan kompetisi berko-eksistensi dan tidak selalu harus ada yang kalah (win-win solution)

    Ketiga cara yang ditawarkan Mas joko ini sebenarnya bisa dilakukan secara serempak dan ini saya kira paling fair. Model komentar ini sudah dicontohkan sendiri oleh Mas Joko ketika mengkritik salah satu posting saya yang terlalu panjang. Saya pun merasa nyaman membaca kritikan tersebut, dan lebih memahaminya sebagai saran seorang kawan.

    Saya pernah membaca sebuah teori dalam komunikasi, bahwa "Orang-orang yang peduli akan relationship (atau dalam bahasa kita mungkin silaturahim), cenderung berkomunikasi lebih baik ketimbang mereka yang tidak mempedulikannya."

    Bukankah kita bisa menilai keluhuran budi seseorang dari tutur bahasanya? :)

    BalasHapus
  4. Yuda: Kata-kata delete bagi saya, entah kenapa rasanya kurang enak aja didengar. Jika kita ingin selektif terhadap komentar, pilihan moderasi sebetulnya lebih tepat daripada muncul dulu komentarnya baru kemudian didelete. Komentar negatif sebenarnya tantangan buat blogger seperti kita, Mas Yuda.

    Anis Fahrunisa: Benar, Mas Anis. Apa yang saya tulis dalam artikel ini pernah saya praktekkan di blognya Mas Anis. Anggap saja komentar saya itu sebagai beta testernya dari artikel ini. He...He....

    BalasHapus
  5. Ada gak ya komentar yang alami, tanpa bahan pengawet ? hihihihi

    BalasHapus
  6. Emangnya kue, pakai bahan pengawet segala? He....He.... Tapi memang bener, enak yang alami-alami aja.

    BalasHapus