Sabtu, 14 Mei 2011

Apakah Anda Selalu Jujur Dalam Tulisan-tulisan Anda?

Mahatma_GandhiAda tulisan menarik yang ditulis Mas Hoeda Manis di blognya yang berjudul Mahatma Gandhi Suka Gulali. Dalam tulisannya itu mengisahkan kisah Mahatma Gandhi yang pernah dimintai oleh sorang ibu untuk menasihati anaknya agar tak makan permen gulali. Hanya untuk menasihati dan mengajarkan kepada seorang anak kecil agar tak makan gulali saja, dia (Mahatma Gandhi) perlu tiga bulan lamanya sebelum memberi nasihat kepada anak tersebut. Mengapa? Masalahnya Mahatma Gandhi juga sangat suka makan gulali. Bagi Mahatma Gandhi dia tak mau melakukan kebohongan kecil yang menurut dia sangat besar seperti itu. Hanya memberi nasihat sementara dia masih melakukan apa yang dinasihatkannya kepada orang lain.

Saya jadi berpikir, bukankah ini kondisinya sama juga kalau kita memposisikan sebagai seorang blogger (penulis). Seringkali kita hanya pintar menasihati orang lain dengan tulisan-tulisan kita yang menginspirasi dan memotivasi orang lain, tapi di sisi lain kita, sang penuturnya, justru masih melakukan apa yang kita nasihatkan kepada orang lain (pembaca) tersebut. Betul?

Saya tercenung lama selesai membaca kisah itu. Saya tak berniat mensejajarkan dengan tindakan Mahatma Gandhi dalam kisah itu. Saya tak seagung, dan sebaik Mahatma Gandhi yang bisa menyejukkan semua orang seperti kata Rhenald Kasali, sehingga saya tidak cukup pantas untuk bersanding dengan Mahatma Gandhi. Faktanya, karena memang sulit untuk menjaga konsistensi dan keselarasan antara tulisan dan tindakan kedalam kehidupan kita.

Apakah Anda juga pernah merasakan kondisi seperti itu? Atau hanya cuek saja, menulis ya menulis, tindakan di kehidupan nyata ya sesuatu yang tak ada hubungannya. Tak perlu disangkutpautkan. Benarkah bisa demikian?

Kalau Anda adalah seorang penulis, yang mana dalam tulisan Anda sering menginspirasi orang lain, sering memotivasi pembaca Anda. Pendeknya, selalu mengajak berbuat baik kepada sesama, apa jadinya jika Anda ternyata bukan orang baik, suka melakukan kebohongan bahkan kejahatan?

Saya memang tak mahir untuk menulis. Lebih tak mahir lagi kalau harus disuruh menuliskan sebuah ketidakjujuran, terlebih sampai berkali-kali, termasuk suatu ketika diminta menulis advertorial yang harus bertentangan dengan prinsip kejujuran, saya pasti akan menolak. Berapapun saya dibayar. Silahkan baca contoh pertentangan batin saya dalam artikel ini “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”.

Kalau Anda seorang blogger atau penulis, pertanyaan saya, apakah Anda selalu jujur dalam tulisan-tulisan Anda?

Sumber Foto: Dreamstime.com


Bookmark and Share

23 komentar:

  1. wah ngena banget nih.

    well, kalo boleh jujur apa yang saya tulis biasanya merujuk ke diri sendiri sebagai bahan renungan saya di masa yang datang. adapun manfaatnya yang dibagi itu siapa tahu bermanfaat juga kepada orang lain.

    Tapi posting kali ini juga memang jadi bahan renungan buat kita semua. :)

    BalasHapus
  2. Saya sih nggak mau repot-repot merenung, takut kesurupan, hihihi..

    Tapi saya selalu berusaha supaya tulisan saya nggak melenceng dari kata hati saya. Karena saya rasa kekuatan dari blog saya adalah karena saya selalu menulis jujur apa adanya. :)

    BalasHapus
  3. Kalau saya pribadi, saya selalu mencoba jujur. Saya lebih suka menulis tutorial dan memang semua teknik saya dibahas di sana, tidak ada yang disembunyikan. Jika masalah opini, saya mencoba menjelaskan pendapat saya seadanya.

    Untuk masalah motivasi... Saya ini bukan pekerja yang baik, bukan orang baik-baik, bukan orang hebat. Jadi, saya tidak berminat menulis motivasi.

    Saya juga heran dengan banyaknya blog motivasi. Mungkin karena materinya yang begitu mudah, sehingga nulisnya gampang. Yang jadi permasalahan, bukan sekadar isi yang penting bagi pembaca. Pembaca juga perlu melihat sosok penulisnya. Pembaca selain membaca juga mencontoh penulis. Ini bagian yang meragukan, sehingga saya sering kali malas berkunjung ke blog-blog begitu. Kesannya -> cuma bisa ngomong.

    Memang idealnya kita hanya melihat apa yang ditulis atau apa yang didengar. Tapi dalam kenyataannya, sosok penulis atau pembicara itu sangat penting.

    BalasHapus
  4. Sarah sepakat dengan mas jeprie..
    Kalau sarah bisa tambahkan, kejujuran dalam menulis di media aplikasi blog semisal, yang perlu di tekankan adalah sumber..jika tutorial alangkah bijaknya memberikan sumber, tpai jika karya sendiri tak perlu masukan sumber.
    Sarah pernah posting tentang harian kopas yang di mana itu adalah kritikan untuk blogger yang tidak menautkan sumber.

    Kalau untuk opini jelas pasti blogger tersebut jujur, terkecuali opini yang kopas.
    Tapi kalau untuk motivasi itu relatif, setidaknya dari diri pribadi dulu, sebelum memotivasi orang lain.

    BalasHapus
  5. Waduh, jangan-jangan Pak Joko nulis post ini buat nyindir saya nih? :D

    Btw, yang paling berat dalam pekerjaan menulis memang bukan menulisnya itu sendiri. Tapi menjaga konsistensi dari apa yang kita tulis dengan perbuatan dan perilaku diri kita sehari-hari.

    Menulis itu kan tak jauh beda dengan orang bicara atau bahkan ceramah. Ngapain ribut-ribut mengutuk maksiat kalau ternyata dirinya sendiri masih suka melakukannya? Karenanya, saya sendiri selalu berusaha hanya menulis sesuatu yang TELAH saya lakukan sendiri. Dan, dalam hal ini, semoga saya tidak terlalu tinggi menilai diri sendiri.

    Untuk kesekian kalinya, Pak Joko, terima kasih atas backlink-nya. :)

    BalasHapus
  6. Kalau saya menjawab, ada beberapa titik hal yang tak seharusnya kita ungkapkan. Pada dasarnya memberikan yang baik adalah yang terbaik bagi pembaca.Pahit itu tak harus dirasakan orang lain, dan manis itu juga tak perlu diungkapkan. Manis terkadang membuat orang lain tak percaya (seperti web investasi yang ada sebagian mencicipi manisnya).
    Kalau menurut saya, bertentangan dengan hati itu biasa, saya dulu pernah ditawari untuk riview yg memang jauh dari konten dan kemampuan, apa saya harus berbohong? Kalaupun berbohong, tak semua harus diungkapkan. Blogging itu ujung2nya memang priceless!

    Keep blogging mas, itu semua bukan penghalang dan membuat citra kita buruk!

    BalasHapus
  7. Untuk tulisan berjenis tutorial atau tips praktis yang pernah saya tulis, semuanya memang sudah saya coba praktekkan dulu. Kalau belum saya coba, rasanya gimanaa gitu.

    Nah, kalau tulisan berupa opini atau wacana yang di dalamnya juga mengandung saran/himbauan, sebisa mungkin sudah saya praktekkan dulu. Itu poin penting bagi saya sebagai dasar pijakan untuk memberinya sentuhan pengalaman pribadi.

    Terkait komentar Mas Jeprie tentang blog motivasi, sangat menarik. Bukan hanya blog motivasi yang begitu (isinya kering dan hanya wacana kosong), namun juga beberapa blog bertopik lain, seperti topik marketing/bisnis.

    Kesalahannya karena sang penulis jarang sekali atau hampir tidak pernah memperkaya tulisannya dengan studi kasus atau sisipan pengalaman pribadi.

    Jadi, cuma berupa wacana klise.

    BalasHapus
  8. melihat postingan ini, aku ingat sesuatu yang menjadi kebiaasaanku namun merepotkan...

    aku tidak bisa menulis cerpen dan prosa, kecuali itu adalah pengalaman pribadiku T_T

    BalasHapus
  9. Andi Sakab:
    Posting ini sebetulnya buat renungan untuk diri saya sendiri, Mas Andi. Terima kasih. Syukur-syukur ternyata bisa berguna buat orang lain, termasuk Mas Andi. :)

    Vicky Laurentina:
    Ya, Mbak Vicky rata-rata pembaca tahu membedakannya. Tulisan yang benar-benar ditulis dari hati lah yang terbukti disukai oleh para pembaca.

    Tentang merenung, kalau saya pasti melakukannya dulu sebelum menulis. Mbak Vicky beda, ya? HeHe....

    Jeprie:
    Ada suatu hadis yang lebih kurang maknanya sama seperti yang Mas Jeprie sebutkan itu. Kita harus melihat apa yang dikatakan seseorang. Jangan melihat siapa yang mengatakannya. Benar! Namun prakteknya sangat susah orang bisa percaya kepada orang lain tanpa melihat siapa yang mengatakannya.

    Saya pun bukan seorang motivator yang baik makanya saya berusaha untuk tidak terjun menulis di koridor ini. Terlalu berat buat saya. Ya, berat karena tuntutan yang seperti Mas Jeprie sebut itu. Kalau OMDO (omong doang) memang gampang tapi menjadi rule model dari tulisan yang kita tulis ini tak mudah.

    sarah azahra:
    Saya pernah lihat postingan Mbak Sarah tersebut. Ya saya melihatnya itu sebagai sindiran kepada blogger-blogger yang tidak jujur, yang lebih senang copas tulisan orang lain tanpa memberi tautan sumber.

    Tulisan motivasi relatif? Kalau saya sering memperlakukan diri saya sebagai bemper. Yaitu dengan memberikan kehidupan atau pengalaman saya sebagai cermin saja. Biarlah orang lain yang menilainya sendiri. Jika orang lain merasa termotivasi itu hanya efek sampingnya saja.

    Hoeda Manis:
    Justru saya yang merasa tersindir oleh tulisan Mas Hoeda sebenarnya sehingga terlahir tulisan ini. HaHaHa..... :D

    Berarti kita sama, Mas. Yang sulit adalah menjaga konsistensi. Jangankan dengan perbuatan, antara tulisan di artikel, tulisan dalam membalas komentar di blog sendiri dan komentar di blog lain saja adakalanya saya juga merasa inkonsisten opininya.

    Kadangkala saya merasa begitu. Baru tersadar ternyata menulis itu tak ubahnya seperti orang berceramah. Terutama saat menulis artikel dan opini. Padahal, saya juga tak mahir kalau disuruh beri ceramah.

    Sama-sama, Mas Hoeda.

    Kaget:
    Kali ini komentar dari Mas Anto tak seperti biasanya. Panjang dan anti biasa. HeHeHe.

    Terima kasih, Mas. Komentarnya sudah menyemangati saya. Mudah-mudahan kalaupun suatu saat saya terpaksa tak terus terang --tidak terus terang dan tidak jujur beda, kan ya--- kepada pembaca itu semata-mata buat kebaikan seperti yang Mas Anto sebutkan itu.

    iskandaria:
    Saya juga merasa, sebagai penulis, tulisan yang mengandung unsur opini berdasar pengalaman itu lebih realistis dan disukai oleh pembaca, Mas Is. Ketimbang tulisan teori, misalnya tentang bisnis yang muluk-muluk namun kita sendiri bukan orang bisnis.

    Tulisan berdasar pengalaman itu lebih punya kekuatan daripada tulisan yang hanya berputar-putar diseputar teori saja. Itu benar, Mas Is.

    W i e d e s i g n a r c h:
    Wah, jujur, Mbak. Sama, saya pun kurang mahir menulis tulisan fiksi. Saya lebih suka menulis yang non fiksi saja dan itupun saya batasi menulis dari hasil pengalaman sendiri. Karena itu lebih mudah menulisnya.

    BalasHapus
  10. Saya akan mencoba jujur sejujur-jujurnya, bahwa saya tidak selalu jujur dalam menulis kejujuran. Nah lho?

    Maksudnya adalah terkadang saya menulis himbauan akan sesuatu, namun pada dasarnya saya tidak/blm melakukan sesuatu tsb.

    Hal itu saya lakukan karena (1) Gengsi donk :D, (2) Menghimbau diri sendiri, (3) Ada kalanya perlu dan harus utk mengubah org lain dulu, setelah bnyak orang lain melakukannya, baru deh kita lakukan :D

    O iya, biasanya hal itu terkait hak cipta, baik itu hak cipta gambar yg sering saya langgar, dan hak cipta software :P

    BalasHapus
  11. Tambahan, tapi kalau tutorial ttg web/blog itu hampir semuanya sudah saya lakukan, jd tidak ada keraguan di dalamnya hehehe

    BalasHapus
  12. Saya gak ingin ngebahas soal Gandhi, tapi Hoeda manis. Tulisannya memang manis, dan gak dikasih kolom komentar. Gak ada penjelasan detil soal diri cuman ditulis bujang, pembelajar.

    Kayaknya dia penulis produktif, waktu di kampus bikin majalah. Dan tema simpel bisa dibuat sangat menarik dengan pemilihan kat-katanya.

    Salam kenal buat Hoeda manis... (kalo dia baca komentar saya yang ini...)

    BalasHapus
  13. hahaha, ngena' banget mas..

    menulis adalah satu hal, memperaktikannya di kehidupan nyata adalah hal lain. Kadang setelah mengalami sesuatu, saya mendapat kesimpulan, atau inspirasi, kemudian menuliskannya...tapi itu pun tidak menjamin saya akan menjadi manusia yang lebih baik semenjak hari itu. Bisa saja saya terjerumus pada kesalahan-kesalahan yang sama di kemudian hari.

    apakah itu berarti saya tidak lagi jujur? mmmm mungkin itu berarti bahwa saya ini manusia, hehehe. Yang pasti dengan menulis membuat saya belajar untuk lebih bertanggungjawab. Kalau saya tidak menulis, saya merasa tak punya sesuatu untuk dipertanggungjawabkan.

    Yups, sisi positifnya di situ; saya terdorong untuk menjadi manusia yang lebih baik.

    *saya jadi tergugah untuk menulis sebuah postingan ...^^

    BalasHapus
  14. rismaka:
    Poin 1 itu jarang orang yang mau jujur mengakuinya. :D Kalau yang no 2 itu seharusnya. Poin 3 ini mirip dengan beta testes jadinya, Mas. HeHeHe

    Kalau tutorial blogging Mas Adi sudah tidak diragukan lagi kepakarannya. Saya justru banyak belajar dari blog Mas Adi. :)

    Ami:
    Tulisan Mas Hoeda Manis memang manis, semanis orangnya, Mbak Ami. Tertarik, ya? Boleh, monggo silahkan kalau mau berkenalan. :)

    Huda Tula:
    Tergugah? Saya tunggu postingannya, Mas Huda. Karena sepertinya juga sudah beberapa hari ruMah reView belum update. :)

    BalasHapus
  15. Pandangan yang bagus pak. Kalau saya, karena tulisan saya kebanyakan hanya opini dan pendapat subyektif, ya saya berusaha untuk jujur. Terutama untuk artikel yang menuangkan perspektif dari sisi saya sendiri, saya selalu membandingkan dari sisi pembaca lewat pertanyaan2 di akhir paragraf.

    Nah, beda soal bila tulisan itu bersifat ajakan atau menceritakan hal/peristiwa/seseorang dan menggiring pembacanya untuk menyetujui/menolak, padahal hati kecil kita beda suaranya. Ini yang menjadi dilema bagi penulis, ya seperti yang bapak ungkap di paragraf2 akhir itu.

    Tapi seyogyanya ya kita nulis yg jujur2 sajalah, meski tak persis mirip Mahatma Gandhi. Betul pak? :)

    BalasHapus
  16. hihihi, itu postingan terbaru saya tadinya mau nyerempet2 ke arah sini sih. tapi kepanjangan. akhirnya dibikin jadi dua episode, hehehe

    BalasHapus
  17. Darin:
    Betul, Mas. Sebisa mungkin kita harus bersikap jujur. Karena jika tidak, itu bisa menjadi beban buat diri kita sendiri, penulisnya.

    Huda Tula:
    Berarti masih ada kelanjutannya, Mas Huda yang cerita tentang Einstein itu. Oke, saya tunggu kelanjutannya.

    BalasHapus
  18. @Ami:
    Terima kasih, Mbak Ami, atas apresiasinya. Salam kenal juga ya.

    Kok sampeyan tahu kalau saya dulu bikin majalah waktu di kampus? Apa jangan-jangan dulu kita satu kampus?

    BalasHapus
  19. Sikap dari mahatma gandhi memang patut kita contohi karena terkadan kita berusaha menasehati orang lain padahal kita sendiri tidak melakukan nasehat yang berikan kepada orang lain... dalam dunia blogging juga berlaku hal yang sama. Pada artikel saya ada yang mencoba memberikan nasehat lewat kolom komentar, namun lucunya komentar tersebut terbalik dengan apa yang dilakukannya (menggunakan nama yang berbau pornografi)... Aneh memang, tapi inilah kenyataan yang terjadi disekitar kita yang tidak bisa kita bantah

    BalasHapus
  20. bro eser:
    Begitulah, Bro. Seringkali orang tak nyadar akan hal itu. Menasihati orang lain tapi dianya sendiri tidak melakukan apa yang dinasehatkannya kepada orang lain tersebut. Mencari orang yang pinter ngomong dan nulis memang banyak tapi mencari orang yang pinter dan bisa menjadi rule model dari apa yang dikatakannya itu yang tak banyak. Betul?

    BalasHapus
  21. so, orang yang punya utang tidak boleh meminjamkan uang kepada orang lain?

    BalasHapus
  22. facemash post:
    Analogi Anda kurang pas. Berhutang dan meminjamkan uang bukan sebuah tindakan ketidakjujuran.

    BalasHapus
  23. Bagi saya, penulis dan apa yang ditulisnya adalah dua hal yang berbeda. Tidak melulu berbanding lurus.

    BalasHapus