twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ekspresi Seni dalam Sampul

ExistereDulu kover atau sampul buku di Indonesia nyaris hanya menjadi sarana memajang judul saja. Seiring perkembangan teknologi cetak dan visual, sampul buku kian beragam sesuai selera desainer dan penerbit.

Lihat saja kover novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka kita, yang diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara tahun 2006. Buku ketiga dari tetralogi karya Pulau Buru ini pernah diterbitkan Hasta Mitra tahun 1980-an dan dilarang pada zaman Orde Baru.

Sampul itu berwarna coklat pastel dengan fokus seorang laki-laki sedang mengetik. Latar belakangnya, sebuah bangunan dengan sejumlah orang sibuk berdiskusi. Samar-samar terselip juga halaman koran Medan Prijaji.

Rangkaian gambar itu segera mengajak kita berimajinasi tentang penulis. Kerumunan orang menggambarkan suatu pergerakan. Sementara bangunan bergaya Indies mengingatkan kita pada masa penjajahan.

Memang, novel ini mengisahkan kehidupan pemuda bernama Minke. Dia merintis pendirian koran dan menggalang pemberdayaan masyarakat pribumi.

”Saya ingin mengajak pembaca langsung masuk ke atmosfer saat itu, sekaligus menunjukkan semangat juang masyarakat pribumi,” kata Ong Hari Wahyu (50), perancang sampul buku Jejak Langkah.

Kreasi

Kreasi visual itu muncul setelah Ong berdiskusi dengan Pramoedya Ananta Toer. Suatu ketika, pengarang itu mengunjungi Ong di rumahnya di Kampung Nitiprayan, Yogyakarta. ”Dia meminta dibuatkan kover yang memberi semangat. Katanya, orang pribumi harus bekerja, jangan inferior, jangan malas,” kata desainer itu mengenang.

Dengan pendekatan serupa, Ong membuat kover untuk tiga buku lain, yaitu Bumi Manusia, Anak semua Bangsa, dan Rumah Kaca. Sampul masing-masing buku itu mengolah foto-foto lama yang digarap lagi dengan teknologi digital komputer. Dengan begitu, kekuatan rupa lokal tersajikan dalam bahasa rupa modern.

Ong, yang mulai merancang sampul buku sejak awal tahun 1980-an, termasuk salah satu desainer yang konsisten mewarnai buku-buku di Tanah Air. Karyanya mewarnai buku-buku terbitan Bentang, Pustaka Pelajar, LKiS, Hastra Mitra, atau Lentera Dipantara. Selain menonjolkan ekspresi seni, karyanya banyak menyuguhkan khazanah lokal Nusantara.

Ong kerap berangkat dari foto-foto lama. Kadang, dia mengolah lukisan karya seniman lokal. ”Lokal itu keren, tak ada duanya di tempat lain, dan itu mencerminkan kekuatan diri kita sendiri,” katanya.

Digital

Berbeda dengan Ong, beberapa desainer kover buku lebih muda memilih bersikap lebih terbuka pada citra visual global. Mereka enteng saja mengunggah foto-foto baru, gambar digital dari internet, atau ikon lain yang jamak berseliweran di dunia maya. Gambar-gambar itu diolah dengan teknologi digital.

Salah satunya, sebagian buku terbitan Mizan atau anak penerbitan di bawah kelompok ini, seperti Hikmah dan Lingkar Pena. Sebagian kover buku-buku itu cenderung futuristik dan menonjolkan corak visual digital.

Ambil contoh saja novel Existere: Betapa Dia Memahami Getirnya Sebuah Pilihan tulisan Sinta Yudisia (penerbit Lingkar Pena, tahun 2010). Buku ini mengisahkan perempuan yang terseret dalam dunia prostitusi di kawasan Dolly, Surabaya. Tokoh itu terjebak di antara jerat bisnis berahi, keinginan menjadi ibu, dan tampil sebagai perempuan baik-baik.

Novel itu diluncurkan dengan sampul wajah perempuan cantik. Wajah itu tampak seperti diukir dengan ornamentasi yang melingkar-lingkar dan berlapis. Warna dasar toska mengesankan sifat feminin, sementara ornamen mengentalkan kesan rumit.

”Itu tafsir saya atas tarik-menarik kepribadian perempuan dalam novel. Saya selalu ingin menggambarkan sosok tokoh yang menjadi pusat drama. Bukankah itu bahasa visual yang mudah dipahami masyarakat umum?” kata Windutampan (34), perancang sampul buku itu.

Tipografi

Di antara kover buku yang dipenuhi permainan gambar, masih ada buku- buku yang lebih mengacu pada permainan tipografi atau bentuk aksara judul saja. Salah satunya, Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang ajek menerbitkan sebagian buku dengan kover berisi judul dengan huruf-huruf besar. Nyaris tanpa gambar atau foto.

”Kalau judulnya sudah informatif, kami langsung memainkan teks pada sampul. Itu lebih cepat terbaca dan sampai di benak calon pembeli ketimbang memainkan bahasa gambar yang butuh perenungan lama,” kata Agus Purwanto, salah seorang desainer kover buku Gramedia.

Agus memberi contoh buku The 8th Habit: Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan tulisan Stephen R Covey (terbit tahun 2005). Kover buku ini mengandalkan teks judul. Berlatar putih bersih, aksara itu ditulis dalam font Palatino berukuran besar dengan warna hitam, biru, dan merah untuk angka ”8”.

Desainer lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Jurusan Desain Grafis Yogyakarta itu mengaku sengaja tak menampilkan wajah pengarang. Dia juga tak memunculkan gambar. ”Judulnya sudah sangat kuat sehingga tak perlu dibantu foto atau gambar. Font Palatino pas karena indah, tetapi tegas,” kata Agus yang merancang kover buku Gramedia sejak tahun 1991. (Ilham Khoiri, Sumber: Kompas Cetak 17 Oktober 2010)

Sumber Foto: Existere

Catatan kaki:
Salah satu pembuat kover buku yang disebut dalam artikel Kompas ini, Windu Tampan adalah sahabat terbaik saya. Beliau ini adalah salah satu sumber inspirasi buat saya. Saya banyak berdiskusi tentang banyak hal dengan beliau dan menemukan ide-ide baru dalam menulis di blog ini banyak dari Mas Windu Tampan ini.



Bookmark and Share

Kamis, 21 Oktober 2010

3 Alasan Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Memonetasi Blog

Get paid bloggingKapan sebaiknya mulai memonetasi blog? Kapan waktu yang tepat? Ada yang bilang nanti jika trafik blog sudah ramai itulah waktu yang paling tepat untuk mulai memonetasi blog. Ini pendapat pertama. Pendapat kedua, ada yang berpendapat lagi tak ada salahnya, kan sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui? Betul juga, sambil mulai belajar ngeblog dan nulis sekalian pasang iklan saja di blog.

Tetapi ada yang berpendapat berbeda, saya ngeblog tidak untuk cari uang, hanya untuk menyalurkan hobi saya saja? Apa pendapat Anda? Tentu saja tak apa-apa dan sah-sah saja, kan Ngeblog Tanpa Tujuan demi uang, meskipun menurut saya kata-kata ini, maaf sedikit munafik kalau menurut saya.

Anda jangan gusar dulu dengan saya kalau kebetulan Anda termasuk blogger yang saya sebut terakhir, ngeblog bukan karena cari uang. Coba baca tulisan saya yang ini dulu "Benarkah, Personal Branding Seperti Lomba Burung?" Bukankah ngeblog sedikit mirip dengan lomba burung?

Kembali ke topik kapan waktu yang tepat untuk memonetasi blog. Kalau saya boleh berpendapat karena kebetulan blog ini berbahasa Indonesia maka waktu yang tepat untuk mulai pasang iklan di blog adalah sebagai berikut:

  1. Jika saatnya nanti Google Adsense untuk konten sudah support untuk konten berbahasa Indonesia.
  2. Saat PPC lokal sudah mulai lebih profesional dari yang sekarang ini. Tak suka mengubah TOS dengan seenak perutnya sendiri. Baca "AdsenseCamp Tidak Profesional?" Dan yang paling penting kalau menurut saya adalah jika muatan iklannya tidak terus nawari untuk cepat menjadi kaya mendadak dari internet seperti sekarang ini.
  3. Ada bisnis online lain selain pasang iklan PPC yang lebih mudah, tanpa banyak syarat dan cepat menghasilkan duit dari internet.


Anda punya pendapat lain tentang waktu yang paling tepat untuk memonetasi blog? Atau barangkali punya bisnis online paling gampang dan cepat menghasilkan duit? Silahkan kalau mau sharing dengan saya, terima kasih.


Sumber Foto: Get Paid to Blog


Bookmark and Share

Benarkah Gaya Tulisan Saya Subyektif dan Bombastis?

blogKemarin saya baru saja menulis opini tentang blogging: "Ngeblog Tanpa Tujuan, Buat Apa?" Dan hasilnya setidaknya saya menuai tiga reaksi yang cukup menarik menurut saya. Satu komentar datang dari Mas Darin yang kemudian tertarik untuk melanjutkan diskusi dengan menanggapi opini saya dari blognya. Jika Anda ingin baca artikelnya silahkan baca postingnya di sini.

Tanggapan kedua datang dari Mas Bayu. Sungguh diluar dugaan. Mas Bayu ini justru punya opini yang membuat saya terkejut. Dia dalam komentarnya bilang sebaiknya kita ngeblog tanpa tujuan. "Lalu tujuannya apa? Gak usah pake tujuan, ikhlas dan bermanfaat. Hoho," katanya. Bahkan saya semakin menjadi sangat kaget saat mengunjungi blognya. Jargon blognya benar-benar Ngeblog Tanpa Tujuan.

Komentar ketiga datang dari Mas Iskandaria. Kalau Mas Iskandaria ini berbeda 180 derajat dengan Mas Bayu. Keberatan kalau ada blog disebut tanpa tujuan. Dia protes dan tak setuju dengan opini saya. Protes kalau blog yang punya ciri-ciri tanpa iklan dianggap blog tidak jelas dan tak punya tujuan. Dan yang kedua, tak setuju jika menutup kolom komentar blog dikaitkan dengan tujuan ngeblog.

Nah, lewat tulisan ini saya tak bermaksud untuk memperpanjang perbedaan pendapat ini. Karena yang namanya opini memang selalu rawan untuk diperdebatkan. Dan saya bisa menerima dan menghargai kalau ada blogger lain yang coba berbeda pendapat dengan saya.

Hem, namun saya sedikit terusik saat baca komentar Mas Bayu di halaman About Me blog saya ini. Mas Bayu dalam komentarnya bilang kalau gaya menulis saya Subyektif dan Bombastis.

Benarkah? Benarkah gaya tulisan saya demikian? Saya tak ingin mengamini atau menolak pendapat tersebut. Biarlah pembaca saja yang menilainya.

Terkait dengan gaya tulisan ini, saya ingin mengemukakan sebuah opini menarik terkait hal ini. Katanya, tulisan seseorang bisa mencerminkan siapa diri dia sesungguhnya. Darimana asal suku dan daerahnya. Apa latar belakang profesi dan pendidikannya. Dan satu lagi, biasanya tingkat emosi tulisannya berkaitan erat dengan umur dan kedewasaan penulisnya. Benarkah begitu? Anda boleh percaya boleh tidak.


Bookmark and Share

Sabtu, 16 Oktober 2010

Ngeblog Tanpa Tujuan, Buat Apa?

Tujuan ngeblogNgeblog tanpa tujuan, buat apa? Itu pertanyaan di kepala saya yang sempat terlintas akhir-akhir ini. Buat apa ngeblog kalau tak punya tujuan. Hem, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda seorang blogger juga? Sudah jelas kah tujuan Anda ngeblog? Dan masihkan Anda konsisten dengan tujuan Anda tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tadi penting untuk Anda tanyakan pada diri Anda sendiri jika kebetulan Anda mulai merasakan tidak nyaman (enjoy) dan kehilangan gairah (passion) dalam ngeblog. Karena, tidak ada hal yang paling menyedihkan di dunia ini jika melakukan perbuatan sia-sia tanpa ada satu pun tujuan (goal) ada di dalamnya. Bukankah begitu?

Jika Anda sedang jalan-jalan di internet (blogwalking) dan menemukan blog dengan ciri-ciri yang akan saya sebutkan di bawah ini, Anda patut curiga kalau bloggernya memang tak serius, tidak punya tujuan jelas dalam ngeblog. Alias hanya ngeblog untuk membunuh waktu luangnya saja. Dan jangan berharap akan lama umur blog yang seperti ini. Saya bisa memastikan blognya adalah calon penghuni Kuburan Dunia Maya di masa depan. Percayalah!

Ciri-ciri blog yang tak punya tujuan jelas biasanya akan memenuhi kriteria-kriteria seperti berikut ini:



  1. Tanpa ada satu pun banner atau teks iklan komersial ada terpasang di blognya.
  2. Tema blog campur aduk, tak spesifik atau tidak ada hubungannya samasekali dengan lingkaran profesi, pendidikan dan hobi dari bloggernya.
  3. Menutup semua kolom komentar blog tanpa ada alasan yang jelas.
  4. Posting blognya tak banyak, tidak teratur dan sangat jarang update.
  5. Hanya menulis posting dan tak pernah peduli dengan komentar apalagi membalas komentar yang datang.
  6. Postingnya hanya berupa tulisan (content), maaf Artikel Sampah yang kurang memberikan manfaat buat orang lain.
  7. Bloggernya tak jelas (anonym), alias tak mau menyebutkan jelas siapa jati dirinya.

Jika Anda menjumpai blog yang memenuhi paling tidak tiga saja dari ciri-ciri yang saya sebutkan seperti di atas, hanya ada satu sebutan yang pantas disandang oleh bloggernya. Yaitu, Blogger Aneh, blogger yang ngeblog tak punya tujuan jelas. Titik.

Kalau Anda tidak ingin disebut blogger yang aneh dan ngeblog tak punya tujuan jelas, sebaiknya Anda hindari ketujuh ciri-ciri di atas. Okey, tetap semangat ngeblog, Keep Blogging!


Sumber Foto: Goal Setting

Bookmark and Share