Rabu, 03 November 2010

Mengapa Anda Perlu Membaca Cerita?

Taste

Sebagian orang menganggap membaca cerpen, novel, karya sastra atau lebih luasnya membaca sebuah cerita dianggap sebagai sesuatu yang remeh, tak penting, hanya membuang-buang waktu saja. Untuk apa baca cerita, atau baca seperti cerita curhat-curhat orang lain seperti di blog misalnya? Mending baca-baca buku How-to, tentang Tips atau tentang ilmu pengetahuan yang bisa menambah wawasan kita.

Saya ingin bertanya kepada Anda: Benarkah? Benarkah Anda juga punya pendapat seperti itu? Jika Anda menjawab "Ya" untuk apa, mungkin Anda perlu membaca kisah-kisah inspiratif dari Andy Noya di KickAndy. Betapa isi di dalam websitenya semuanya adalah tentang cerita semuanya. Tapi Anda jangan meremehkan. Cerita-cerita di KickAndy sangat inspiratif dan mencerahkan bagi siapa pun yang membacanya. Bahkan terkadang saya sampai berkaca-kaca saat membacanya tatkala kisah yang ditulis benar-benar menyentuh hati saya.

Tidak berlebihan kalau saya sebut seperti itu karena kenyataannya tulisan KickAndy banyak berisi tentang pelajaran atau nilai-nilai tentang hidup yang sekarang ini pelajaran itu mulai banyak dikesampingkan oleh sebagian besar orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sama seperti nasib jurusan sastra dimata para orang tua modern yang dianggap hanya melahirkan sastrawan dan seniman saja, yang dianggap tak menjanjikan finansial di masa depan, dibanding jurusan kedokteran, ekonomi atau teknik.

Ada salah satu tulisan KickAndy yang cukup menohok atau menyindir saya. Judulnya: "Kaca Spion". Tulisan itu bercerita tentang kebencian KickAndy kepada orang kaya. Gara-garanya di masa kecilnya KickAndy pernah mematahkan kaca spion mobil orang kaya kemudian dia disuruh menggantinya.

Saya tak bermaksud untuk mensejajarkan diri dengan KickAndy dengan membandingkan kisah hidup saya dengan KickAndy. Saya perlu tegaskan, tidak. Saya tidak sekaya dan sesukses KickAndy. Tapi pengalaman hidup KickAndy, terutama di masa kecilnya seperti cermin buat diri saya. Mengingatkan masa kecil saya yang dulu pernah hidup sangat susah dan selalu iri kalau melihat orang kaya.

Dan cerita yang sedikit menyindir saya adalah tentang makan gado-gado itu. Gado-gado yang dulu semasa kuliah KickAndy selalu membuatnya ngiler. Namun katanya: Mengapa kini baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? Tulisnya di KickAndy

Saat KickAndy menceritakan kegundahannya itu kepada istrinya. Istrinya hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,’’ ujarnya.

Saya jadi tercenung lama selesai membaca tulisan itu. Ingatan saya jadi melayang ke masa 12 tahun yang lalu, masa awal-awal saya bekerja. Dulu, ingat saya rumah makan Wapo di pojok dekat Unair jalan Airlangga Surabaya saya anggap sebagai tempat makan satu-satunya yang paling lezat dan tak ada duanya, selain masakannya enak juga bisa sebagai tempat asyik nongkrong karena di sana banyak cewek-cewek cantik makan di sana.

Tetapi setelah 5 tahun kemudian saya kembali ke sana mengapa citarasa masakannya berubah, saya merasa tastenya tak seenak dulu lagi. Saya baru nyadar kemudian setelah membaca kisah KickAndy tersebut. Mungkin saja selama ini saya sudah terlalu sering makan bufe di hotel-hotel berbintang, restoran mahal dan kuliner kemana-mana waktu mobile di pekerjaan saya yang sering keluar kota sehingga lidah saya pun juga ikutan berubah jadi lebih sensitif mencicipi taste (citarasa) makanan.

Hal yang sama, juga saat saya mudik lebaran ke Surabaya dan pulang ke desa saya di Lamongan. Saya merasa begitu tersiksa karena merasakan udaranya yang sangat panas, banyak nyamuk, di kedua kota itu, berbeda dengan rumah tinggal saya sekarang ini di Jogja yang sangat sejuk dan nyaman karena sudah ada AC di rumah saya.

Ya, ternyata saya juga ikutan berubah seperti KickAndy. Tubuh saya menjadi sangat manja sekarang. Mudah sekali kegerahan kalau harus hidup tanpa AC. Padahal sejak kecil selama tiga puluhan tahun saya tidur tanpa AC pun ya tak masalah. Kini, saya sudah berubah. Tak urung saya juga ikutan sedih karenanya. Semoga saya tak menjadi sombong karena perubahan ini. Semoga saya tetap punya kepekaan sosial dan rasa empati dengan kesusahan hidup orang lain.

Semoga judul di posting ini "Mengapa Anda Perlu Membaca Cerita?", bukan lagi jadi sebuah pertanyaan tapi sebuah pertanyaan sekaligus jawaban bahwa betapa perlunya kita membaca cerita, kisah-kisah hidup orang lain untuk mengingatkan diri kita. Arswendo Atmowiloto pernah menulis di bukunya betapa pentingnya kita untuk membaca karya sastra karena dalam setiap karya sastra selalu ada tawaran nilai-nilai baru yang disodorkan oleh pengarangnya. Dan katanya, tidak ada hal yang paling menyedihkan bagi kita, seorang manusia jika kita hanya mau belajar tentang hidup hanya dari pengalaman sendiri dan tak mau mencoba bercermin dan belajar dari pengalaman hidup orang lain.


Sumber Foto: Touch smell lick taste


Bookmark and Share

18 komentar:

  1. saya suka membacaaa.. tp kurang suka membeli buku.. *suka baca gretongan soalnya* hihihi

    jaman saya di jkt, saya suka berlama2 di toko buku, demi membaca novel or komik gratiiiisss... hihihi
    *ga modal banget yah??
    yaa.. namanya jg kala itu saya msh anak kuliahan yg perlu ber-irit2 ria..
    sekarang setelah jd ibu2.. teteup aja ga ada dana cadangan utk beli buku, jdnya.. paling baca2 liwat internet.. *gratisss jugaa..
    hihihi

    soal ga kuat tanpa AC, saya malah kebalikannya mas..
    saya yg dulu dilahirkan dan dibesarkan ditanah yang super duper dingin.. kini harus merasa tersiksa setengah mampus klo pulang kampung.. dan mandi adalah mimpi buruk bagi saya.. krna saya bisa menggigil ga keruan saking kedinginan... hahaha
    aneh memang!

    *enw, puanjjaaangggggg....

    BalasHapus
  2. Tepat sekali Mas Joko, membaca cerita atau novel walaupun piktif menurut saya akan menambah koleksi informasi, bahkan di antaranya dapat memberi wejangan secara tidak langsung pada diri kita. Itu yang saya alami.

    Jadi jangan pernah menganggap sepele membaca sebuah cerpen atau novel.

    BalasHapus
  3. Lisha Boneth:
    Ah, dasar kamu, Lis sukanya sama yang gratisan mulu. :D Kalau kamu saya percaya penghobi baca makanya tulisanmu menarik-menarik ceritanya. Kata orang penulis yang baik biasanya adalah juga pembaca yang baik.

    Oke, kalau gitu nanti kita tukeran tempat aja. Gimana?

    Yuda:
    Ya betul, Mas Yuda. Selalu ada hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah cerita. Cerita itu konsumsi buat jiwa. Kalau kita tak suka baca cerita maka keringlah jiwa kita.

    BalasHapus
  4. Saya sekarang sudah tidak menyempatkan membaca kisah-kisah yang memotivasi atau inspirasional. Kalau dulu iya pak, saya suka sekali. Sekarang paling-paling kalau ada notes pendek di facebook.

    Saat ini saya tidak merasa terbantu dengan cerita-cerita semacam itu. Waktu cerita ke teman yang tukang memotivasi. Katanya sikap seperti ini tidak jadi masalah, artinya saya sudah memiliki referensi lain, bukan dari cerita.

    BalasHapus
  5. Jeprie:
    Mas Jeprie, seiring dengan bertambahnya usia maka pengalaman hidup kita akan bertambah. Kearifan seseorang juga meningkat sehingga kebutuhan akan suntikan motivasi akan menurun juga tak setinggi saat kita masih muda. Namun saya kurang sependapat kalau kebutuhan akan hal ini harus ditiadakan menjadi tidak ada samasekali.

    Seorang desainer juga seorang artist (seniman), Mas Jeprie dalam kelompok ini, pada saat melihat/menikmati karya seni sebetulnya itu juga sama seperti efek saat kita membaca cerita/ karya sastra. Karena bukankah sebuah karya seni, contoh desain itu adalah hakekatnya sebentuk komunikasi/cerita lewat visual dari pembuatnya, dari pengalaman seseorang yang coba dibagi kepada kita penikmat karyanya.

    BalasHapus
  6. Betul juga pak. Setiap hari saya mencari inspirasi lewat galeri desain, posting blog wawancara dengan desainer dan artis. Saya sendiri baru nyadar ternyata malah saya sudah membuat dan berbagi inspirasi lewat blog.

    Seperti kata teman saya, seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan, kita bisa membuat referensi sendiri.

    BalasHapus
  7. Jeprie:
    Ya betul, Mas Jeprie dengan kita ngeblog sebetulnya kita sudah membuat dan berbagi inspirasi tanpa kita sadari.

    BalasHapus
  8. wah begitu ya? jadi makin semangat buat nulis.. banyak hal yang saya tuliskan entah bermanfaat atau tidak buat orang laen.. yang jelas saya sama sekali tidak berhenti menulis

    BalasHapus
  9. Bener pak, kadang dengan membaca sebuah cerita hidup/biografi seseorang, kita bisa menemukan cerminan diri kita juga. Selain itu banyak hal-hal inspiratif yang bisa kita gali.

    Untuk KickAndy, wah kalau itu saya demen banget! Saya sering tercenung saat liat show-nya di tivi kala menghadirkan orang2 yang sama sekali di luar pemikiran kita, namun punya semangat hidup yang luar biasa.

    Dan, ya..kita semestinya banyak membaca kisah2 orang lain. Dengan begitu kita bisa mengambil pelajaran tuk memperkaya khasanah hidup kita.

    BalasHapus
  10. Rohani Syawaliah:
    Masalah nanti bermanfaat atau tidak itu relatif, sih Mbak. Kalau saya yang penting nulis aja dulu.

    Darin:
    Mengambil pelajaran dari kisah2 orang lain untuk memperkaya batin kita, betul itu, Mas Darin. Itu lah tujuan kita membaca cerita.

    BalasHapus
  11. membaca fiksi selain menghibur juga mendapatkan buah pikiran si penulis... dari buah pikiran itu kita bisa mendapatkan banyak hal.. minimal sudut pandang baru, sehingga nggak terlalu seperti katak dalam tempurung..

    BalasHapus
  12. aku suka sekali baca tulisan anda.

    aku pernah baca atau dengar, entahlah, katanya pengalaman (sendiri) adalah guru yang baik tapi belajar dari pengalaman atau orang yg berpengalaman adalah guru terbaik. benar gak sih??

    BalasHapus
  13. mpokb:
    Iya, Mpokb itu lah sisi positifnya baca karya fiksi, membuat wawasan batin kita tak sempit

    ImRoee:
    Terima kasih. Keduanya benar, antara pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Kalau kita hanya mau belajar dari pengalaman sendiri dan tak mau mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang lain betapa sempitnya sudut pandang kita

    BalasHapus
  14. betul juga, membaca bisa mencoba bercermin dan belajar dari pengalaman hidup orang lain.

    BalasHapus
  15. Great article! I agree! Memang sangat disayangkan masyarat indonesia ketingalan dalam hal membaca. Boleh saya menambah komentar? Apalagi membaca buku bahasa Ingriss. Banyak novel di terjemahkan. Padahal, saya merasa belajar bahasa ingriss lewat membaca novel ingriss tentunya lebih gampang dan menyenangkan. Satu hal lagi mengenai buku ingriss mahal dibeli dan banynk perpustakaan tak menyediakan buku bahasa ingriss. Bookathon adalah perpustakaan online yang menyewakan buku bahasa ingriss dengan harga sewa yang sangat nominal (Rp.6000). Tujuan Bookathon adalah membangun masyarakat Indonesia dalam membaca buku. Karena itu, motto mereka "Race to Wisdom" yang sangat bermakna sosial. Registrasi dan pemilihan buku secara online dan free delivery yang disediakan membuat alasan tidak membaca abis bablas! Dari pengelaman saya sendiri, bahasa ingriss saya meningkat dan juga hobby membaca.. karena gampang dan tidak mahal.

    BalasHapus
  16. Bookathon:
    Terima kasih poin tambahannya. Saya baru tahu ada metode belajar seperti itu. Belajar bahasa Inggris dengan membaca novel Inggris. Ternyata itu sangat baik untuk membantu meningkatkan kemampuan Inggris kita, ya?

    BalasHapus
  17. tulisanmu bagus2 mas ...

    good job,
    fans/.

    BalasHapus
  18. tujuan membaca seluruh cerita itu apa sih?

    BalasHapus