Sabtu, 15 Januari 2011

The Power of Kepepet: Cara Tergila, Terampuh Berbisnis Online!

Jurus Kepepet

Ada sebuah artikel menarik yang ditulis oleh seorang Internet Marketer dari Surabaya bernama Lutvi Avandi di blognya, CafeBisnis. Terus terang, awalnya saya ingin meninggalkan komentar di sana. Karena saya tergelitik untuk mengomentari salah satu artikelnya yang berjudul: "Bisnis Itu Seperti Nyetir Mobil". Namun, saya urungkan niat saya karena setelah saya pikir-pikir akan lebih baik saya menanggapinya dengan menulis di blog sendiri saja.

Mengapa saya tergelitik? Karena ada kata-kata yang sudah mengusik saya dalam artikel yang ditulis oleh Lutvi Avandi tersebut. Yaitu sebuah pernyataan menarik pada paragraf ke-5 yang berbunyi sebagai berikut:

Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana. Bisnis tetaplah bisnis, butuh proses untuk belajar, ujicoba, nyerempet sana nyerempet sini. Spion patah body tergores. Kalau anda jadikan bisnis yang baru anda pelajari ini sebagai tempat bergantung, ya sangat beresiko sekali.

Secara overall sebetulnya saya sangat setuju dengan artikel Mas Lutvi Avandi itu. Saya hanya mau memberi note sedikit pada paragraf ke-5 di atas terutama pada pernyataannya yang berbunyi:

"Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana."

Dan tanggapan saya, dalam situasi normal idealnya memang begitu, yang namanya bisnis online ya tetap bisnis, sama seperti bisnis offline pada umumnya. Butuh persiapan matang, rencana dan segala macam tetek bengeknya. Bagaimana jadinya kalau sebuah bisnis online dijalankan hanya karena pelampiasan akibat terkena PHK, akibat karena hutang banyak? Sudah barang tentu pasti nabrak-nabrak. Sampai di sini saya setuju dengan pernyataannya.

Tetapi, ada tetapinya, tidak untuk situasi yang memang benar-benar terjepit yang memang memaksa seseorang benar-benar ingin menyambung hidupnya karena tidak punya pekerjaan dan ingin menghidupi keluarganya. Mungkin penulisnya lupa terkadang potensi luarbiasa seorang manusia justru bisa tergali pada saat posisi terjepit, pada posisi kepepet seperti itu. Makanya sampai ada muncul kata-kata "The Power of Kepepet". Anda pernah dengar istilah ini? Eh, bahkan bukunya ada, lho diterbitkan Gramedia ditulis oleh seorang penulis bernama Jaya Setiabudi. :D *Maaf ini bukan iklan, ya. Saya tidak sedang mereview atau jualan buku ini.

Baiklah, saya akan berikan contoh nyata untuk menguatkan opini saya. Saya punya seorang sahabat blogger dari Yogyakarta yang juga seorang pebisnis online. Sahabat saya ini dulu adalah seorang karyawan sebuah pabrik susu bagian EDP di Waru Sidoarjo Jawa Timur. Saat krismon tahun 1998 lalu dia mengalami PHK dari pabrik susu tersebut. Setelah itu dia menekuni bisnis online sebagai seorang Web Developer, juga sekaligus jualan macam-macam barang dan jasa di internet. Dan faktanya, kini ia sangat sukses. Bahkan penghasilannya jauh melebihi pendapatan saya sebagai seorang Chief Engineer perusahaan Go Public multi nasional, profesi saya saat ini.

Anda kepingin tahu lebih jelas siapa sahabat saya tersebut? Dia, sahabat saya tersebut, pernah saya ceritakan atau saya review dalam artikel saya di sini "Ingin Bisnis Online, Ngapain Capek-capek Bikin Blog?" dan juga di artikel ini "Blog Narsis Versus Blog Bisnis, Pilih Mana?"

Nah, bukankah itu sebagai bukti nyata bahwa tidak selamanya kondisi yang seperti diceritakan Lutvi Avandi bahwa berbisnis online karena nabrak-nabrak atau pelampiasan akibat PHK adalah tindakan yang tidak bijaksana? Justru sebaliknya, seringkali potensi seseorang baru tergali secara maksimal justru pada saat dia kepepet. Betul, tidak?

Satu pertanyaan terakhir saya buat Anda yang sekaligus juga sebagai kesimpulannya. Anda pernah lihat seekor binatang yang lari terbirit-birit ketakutan karena berusaha menyelamatkan diri? Bukankah seekor binatang pun seringkali bisa lari lebih kencang, melompat lebih tinggi dari biasanya justru pada saat dia kepepet karena terancam dibunuh oleh binatang lainnya? :D

Kalau Anda serius ingin sukses berbisnis online, meski Anda tidak sedang kepepet, mengapa Anda tidak ubah mindset otak Anda dengan menerapkan cara dahsyat seperti motivasi orang yang lagi kepepet itu agar bisa sukses?

Bagaimana, berani mencoba? Selamat berbisnis!


Sumber Foto: Dikejar Anjing


Bookmark and Share

34 komentar:

  1. kalo saya engga berani kalo nekat tanpa persiapan. bisa engga di kasih jatah sama istri gara-gara nekat gitu :D

    BalasHapus
  2. Andi Sakab:
    Berarti Mas Andi lebih takut sama istri daripada dikejar-kejar anjing seperti dalam gambar itu. :D HaHaHa

    BalasHapus
  3. Tapi saya yakin, tidak banyak orang yang bisa menerapkan jurus "The Power of Kepepet" ini pak. Meski kepepet, dia pasti sudah pernah atau mimal sudah tahu caranya..

    Eh, gambar diatas kok yang melompat orangnya, padahal diparagraf terakhir binatang dikejar binatang lhoo..

    BalasHapus
  4. zainul abidin:
    Cara ini memang tak mudah diterapkan, Mas tapi bukan berarti terus nglokro tidak berusaha, bukan? Sahabat saya yang saya ceritakan ini juga tak mengenal apa itu Internet Marketing saat awal terjun di bisnis online. Bahkan pada tahun 1998 mungkin bagi orang kebanyakan kata itu masih sangat asing terdengar di telinga apalagi dijalankan sebagai bisnis.

    Tentang gambar itu, itu hanya sekedar penganalogian saja, Mas. Tapi intinya pesannya tetap sama, kan? Sama-sama menggambarkan situasi yang terjepit karena terancam.

    BalasHapus
  5. Jika orang lain melakukan The POwer of Kepepet, maka saya melakukan The Power of Mblenger. Udah bosan jadi karyawan maka saya memecat boss. Hehehe.

    BalasHapus
  6. "Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana."

    saya tidak pernah bisa memahami,pakar bisnis online macam gimana yang bisa memberi statemen seperti ini,hanya pakar bisnis online kelas kutu kupret saja yang ngoceh kayak gitu....setiap hari hanya berkutat dengan diktat,ngomong doang yang gede....bacot doang yang besar...
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    semua bisnis harus berdasar intuisi,insting dan kapabilitas...mau pecatan pabrik..mau bekas PHK dari perusahaan..jika insting bisnis kuat...tanpa di baca motivasi bisnis dan ebook bisnis,mereka akan sukses...

    tapi jika basicnya memang bukan enterpreneur..setiap hari baca ebook bisnis online dari Lutvi Avandi setebal 8 meterpun tak akan berhasil...

    intusisi yang maju,insting berbicara...justru karena kepepet insting yang tadinya mati akan hidup...
    orang kalau kepepet bisa berbuat apa saja,energi apapun akan keluar...dari energi yang muncul nalar akan berkembang....

    4 dari rekan saya yang berhasil justru berawal dari PHK pabrik di surabaya....pengangguran terbanyak di desa saya justru di kuasai kaum sarjana dan anak orang berduit...

    jadi bila ada yang bertanya dan mengeluarkan statemen :

    "Memulai bisnis online hanya sebagai pelampiasan gara-gara kena PHK atau gara-gara hutang banyak, bukanlah tindakan yang bijaksana."

    perlu di pertanyakan lagi kualitas otakknya...dan patut di pertanyakan pula dasarnya,apakah hal tersebut berdasar riset ataukan hanya berdasar asumsi pribadi..

    kalau belum melakukan melakukan riset secara mendalam sudah berani mengeluarkan pernyataan di atas,apakah patut kita percayai?saya curiga,jangan-jangan si lutvi avandi ini cuman tukang motivasi doang tanpa pernah melakukan riset sesuai dengan keahlian yang di akuinya sebagai pebisinis online....

    BalasHapus
  7. Ha..ha.. Gambar ilustrasinya oke banget Pak :D

    Saya kalau lagi dikejar anjing mungkin juga akan bisa lompat setinggi 1 setengah meter. Pada dasarnya saya setuju jika potensi manusia bisa keluar maksimal pada saat ia sedang kepepet atau terdesak. Saya kasih contoh pengalaman pribadi saya saja deh.

    Pada dasarnya saya seorang laki-laki yang agak kurang pede mendekati cewek (dulunya), walaupun saya naksir cewek itu. Namun pernah suatu ketika, saya sangat gelisah. Akhirnya timbul keberanian luar biasa untuk mendekati cewek yang saya taksir dan akhirnya saya pun bisa berbincang-bincang secara nyaman dengan si dia. Respon si dia ternyata sangat menyenangkan dan dia ternyata juga suka sama saya! :D

    Saya aja nggak nyangka saya bisa sepede itu dan punya kemampuan mendekati cewek kayak gitu. Andai saja saya tidak terdesak dalam kegelisahan, mungkin saja potensi/kemampuan saya itu nggak akan pernah keluar.

    BalasHapus
  8. walah ternyata Mas Is pemalu nih? :p

    BalasHapus
  9. @iskandar, tumben bener komennya curhat :D hihi, ketauan belangnya deh hahaha

    BalasHapus
  10. Nuwun Sewu :

    Kayaknya Yang digaris bawahi terlalu panjang deh.. Kalo Menurut saya yang perlu digaris bawahi cuma " Bukanlah Bijaksana " artinya ini tidak sepenuhnya menyalahkan.. boleh-boleh saja namanya juga kepepet.

    Cuman masalahnya.. bisnis kan memerlukan modal yaitu kemauan dengan otak yang jernih, modal uang, ketekunan dan mungkin masih banyak lagi. Tentu modal yang dibutuhkan sangatlah berbeda dengan mas Iskandar yang sekedar maaf merayu cewek... hehehe.

    Dan buat Pak Joko pertanyaan saya adalah :
    1. Teman Pak Joko ini apakah dulu bekerja di Pabrik WEB atau gimana, kok setelah di PHK tiba-tiba bisa menjadi WEB developer yang notabenenya tentulah tidak mudah.
    2. Bisa gak kalo "Kepepetnya" perlu diperjelas,kepepet yang gimana gicu... Kalo kepepetnya gak punya modal gimana, ditambah kondisi psikis yang labil akibat PHK, biasanya orang di PHK cenderung begini nih.. hehehe.
    3. Power Kepepet saya baru dengar, Kalo POwer Of Love saya sudah dengar,gimana kalao Pak Joko.. wkwkwk
    4. Mungkin orang yang kepepet bisa membangun sebuah bisnis, bila sebelumnya orang itu memang sudah pernah terjun dibidang yang sama,bagaimana kalo yang di luar bidang yang ditekuni selama ini.
    5. Masih bisakah Pak Joko membalas posting saya yang ngeyel ini dengan senyuman... hahaha...!!!

    BalasHapus
  11. Hmm, opini tuk memulai berbisnis online memang beragam ya. Satu sisi saya setuju opini dari Mas Lutvi, dan dari sis yg lain saya juga mau ngga mau mengiyakan opini Pak Joko.

    Tapi kalau boleh beropini pribadi, dua2nya ada peluang. Mana yg cocok, silakan dipakai :)) Toh dalam hidup juga tak ada kepastian, bukan?

    BalasHapus
  12. Agus Siswoyo:
    Boleh juga "The Power of Mblenger" HaHaHa... Bisa aja, Mas Agus. Masalahnya Mas Agus belum merasakan pernah duduk di level top management (direktur) perusahaan, sih sehingga tidak pernah merasakan bagaimana enaknya sering bisa jalan-jalan sampai keluar negeri. :D

    widodo:
    Fakta 4 dari rekan dan cerita tentang pengangguran di desa Mas Widodo itu setidaknya semakin menguatkan opini bahwa kalau ingin berhasil berbisnis ya langsung praktek. Dan jurus ampuhnya salah satunya pakai Jurus Kepepet. Kalau orang kebanyakan teori biasanya cenderung begitu, Mas. Malah bingung karena kebanyakan mikirnya.

    iskandaria:
    Saat saya masih remaja saya juga kurang PD dan pemalu, Mas. Jadi Mas Iskandaria tidak sendirian. Saya pun demikian dulu. :D
    Dulu saya paling takut nembak cewek. Takut dan malu kalau sampai ditolak.

    Memang dibutuhkan keberanian extra untuk urusan yang satu ini. Hem, boleh dikenalin Mas ceweknya ke saya. HaHaHa.

    Oh, ya Mas Is semalam saya sudah coba edit CSS blog ini sesuai petunjuk dari Mas Iskandaria tapi kok ndak berubah, ya jaraknya?

    BalasHapus
  13. tonykoes:
    Mas Tonykoes, bukankah saya sudah menyebutkan di dalam artikel saya pada paragraf ke-4 secara overall saya juga setuju dengan opini Mas Lutvi Avandi. Dan di paragraf ke-6 artikel saya, saya juga memberi tambahan kalau pada situasi normal idealnya ya harus begitu kalau mau berbisnis.

    Intinya, saya hanya memberi note saja pada poin pada kalimat yang saya kuotasi itu bahwa adakalanya justru situasinya menuntut sebaliknya kalau keadaannya sudah benar2 kepepet. Kesuksesan berbisnis faktanya justru tidak sedikit yang bisa diraih dengan cara seperti itu. Kepepet.

    Tentang kuotasi kata "Bukanlah Bijaksana" kalau saya menginterpretasikan sama dengan kata "Tidak Bijaksana" hanya bahasanya sedikit diperhalus saja. Seandainya diksi kata yang dipakai adalah "Kurang Bijaksana" maka maknanya akan berbeda dan menurut saya sebetulnya kata ini yang paling pas dipakai dalam konteks kalimat yang Mas Tonykoes artikan itu (tidak sepenuhnya menyalahkan).

    Saya akan jawab satu persatu pertanyaan Mas Tonykoes:

    1. Kawan saya ini bekerja di pabrik susu Nestle bagian EDP (electronic data processing), admin bagian olah data komputer, Mas.
    2. Kepepetnya susah nyari pekerjaan lagi karena kondisinya krismon sementara dia harus menghidupi keluarganya sehingga uang pesangonnya diputuskan buat modal berbisnis online.
    3. Sekarang tapi sudah dengar, kan? HeHe. Kalau Mas Tonykoes mau jalan2 ke Gramedia bahkan ada bukunya, lho. Silahkan dicari dalam kelompok buku-buku terlaris.
    4. Saya bukan pakar bisnis jadi tak bisa jawab yang ini. Tapi kalau menurut saya pribadi mestinya ya bisa saja. Anggap saja ini seperti insinyur suruh ngelola toko dept store, prakteknya banyak yang bisa, kok kawan2 saya.
    5. Masih, lah Mas. Diambil santai saja kalau saya. Bahkan komentar kritik yang lebih pedas, saya juga pernah dapat dan tetap santai-santai saja saya menanggapinya. Beda pendapat itu wajar, kok.

    Darin:
    Saya rasa itu yang paling bijaksana, Mas Darin. Semua kembali kepada masalah pilihan. Pilih mana yang cocok buat kita.

    BalasHapus
  14. "Boleh juga "The Power of Mblenger" HaHaHa... Bisa aja, Mas Agus. Masalahnya Mas Agus belum merasakan pernah duduk di level top management (direktur) perusahaan, sih sehingga tidak pernah merasakan bagaimana enaknya sering bisa jalan-jalan sampai keluar negeri. :D"

    ha..ha..ha....kalau merasakan sebagai top blogger paling banter cuman JJB alias jalan-jalan blog..ha..ha.,..dan banjir pujian "mantab gan...bla..bla..."...
    coba kalau sebagai top manajer pasti banjir bonus dan tidak mungkin akan berani bilang "Udah bosan jadi karyawan maka saya memecat boss. Hehehe." ..
    hanya blogger keblinger jika di tawari posisi top manager lalu menolaknya...

    saya juga pingin tahu orangnya jika memang betul-betul berangkat dari manajer lalu banting setir menjadi blogger,saya kira hanya orang bego yang mau melakukannya...

    BalasHapus
  15. Pendapat saya mas Joko untuk saat ini Bisnis online merupakan pilihan, bekerja di rumah tanpa label dan tanpa status sosial merupakan cara tersehat untuk menjadi diri sendiri, weleh weleh, ngaya :p

    BalasHapus
  16. Pak Joko,
    Soal hasil edit yang tidak berubah, waduh, mungkin saja saya salah ngasih saran. Nanti saya liat-liat lagi deh kode CSS blog ini. Sayangnya ekstensi Firebug (untuk mengedit CSS secara online) pada blogspot ternyata tidak bisa berjalan.

    Tapi saya tidak kehabisan akal deh. Nanti saya coba liat-liat lagi kode mana yang bis mengubah padding atau margin list pada sidebar blog ini.

    BalasHapus
  17. Widodo:
    Mas Widodo ini kalau nembak orang memang tak suka dengan basa-basi dan tedeng aling-aling blas. HaHaHa. :D

    Sayang Mas Agus Siswoyo tak pernah cerita waktu dulu jadi karyawan di Doremi Pizza sebagai apa. Jujur meski saya juga masih di quadrant karyawan tapi jangan salah, ya kalau karyawan yang sudah di level manager apalagi perusahaan gede dan go publik, sebetulnya saya malah melihat dia tak mirip sebagai karyawan karena sehari-hari secara day to day-nya tak nampak seperti karyawan karena dia lebih mirip bosnya sendiri daripada seorang karyawan.

    Dan belum lagi fasilitasnya yang didapat benar-benar banyak. Saya ambil contoh saja di perusahaan tempat saya bekerja. Fasilitasnya banyak mulai dapat mobil setiap 5 tahun sekali, rumah dan perabotan, tunjangan kesehatan (medicare) buat seluruh keluarganya, bonus2 segala macam, jalan2 keluar negeri dsb. Apa iya ini masih kurang enak ketimbang menjadi seorang blogger yang penghasilannya belum pasti besarannya setiap bulan. Kecuali kalau levelnya sudah sesukses Anne Ahira dalam bisnis online mungkin baru bisa bilang menjadi karyawan (manager) itu tidak enak.

    Kalau yang diperbandingkan itu level karyawan sekelas supervisor apalagi masih perusahaan kecil atau perusahaan keluarga yang campur tangan owner begitu tinggi maka meskipun sudah jadi manager pun ya tetap ndak enak karena disetir terus kerjanya.

    Lintang Hamidjoyo:
    Lha, kan yang dibahas di artikel ini dan sebagai contoh akhirnya datang juga dan meninggalkan komentar. HaHaHa. Mohon petunjuknya, Master Lintang.

    Iskandaria:
    Santai saja, Mas Iskandaria. Sesempatnya saja. Yang penting sisi kekurangan ini masih bisa sedikit tertutupi oleh yang lainnya. Ya, bulan ini saya melihat trendnya trafik blog saya meningkat menjadi 300-an visitor per hari dan PR juga dibalikin lagi oleh Google menjadi PR 2. :)

    BalasHapus
  18. Yup, setiap orang punya opsi. Apakah nunggu kepepet dulu, atau memepetkan diri sebelum bertindak ataukah menyiapkan segalanya dulu sebelum hal itu terjadi.

    BalasHapus
  19. Lutvi Avandi:
    Terima kasih, Mas Lutvi sudah bersedia mampir berkunjung ke blog saya. Senang saya bisa berdiskusi dengan Anda. Ya, kita sama-sama setuju semua pada akhirnya nanti kembali kepada masalah pilihan. :)

    BalasHapus
  20. @Joko>>>>
    sering kali budaya ewuh pakewuh di jadikan tameng..dan terlalu sering pula sebuah keterusterangan di anggap sebagai ancaman...
    atas nama sahabat,atas nama budaya,walaupun jelek tetap di bilang bagus,walaupun salah tetap saja di bilang benar..sayangnya saya bukan termasuk manusia macam itu...
    sudah terlalu banyak yang berpura-pura..sok baik..sok akrab...saya jadi balance saja...

    BalasHapus
  21. Kepepet kadang perlu digunakan namanya juga terpaksa tapi juga harus belajar. Jangan terus cari anjing untuk bisa melompat tinggi tanpa berlatih lagi.

    BalasHapus
  22. tulisan anda menginspirasi saya
    trimakasih :D

    BalasHapus
  23. Terimakasih Mas Joko, Alhamdulillah saja, walau kepepet, saya belm sampai ke blinger, hehehe, Terlepas dari itu semua bukan masalah berapa penghasilan online yang sudah di dapat dan dapat dinikmati tetapi seberapa besar rasa syukur terhadap apa yang telah diberi NYA sehingga menjadikan segala sesuatu menjadi cukup.

    BalasHapus
  24. Widodo:
    Ya, Mas memang harus ada yang jadi penyeimbang. Saya juga sebetulnya mirip dengan Mas Widodo, benci dengan kepura-puraan. Cuma kalau langsung main tembak atau tunjuk hidung ini saya yang kadangkala masih pekewuh. Saya biasanya lewat sindiran sukanya.

    Agus Salim:
    Anggap saja dikejar anjing itu sebagai belajar atau latihan kepepetnya, Mas Agus. Setuju.

    lukmanefendi:
    Sama-sama, Mas Lukman. Terima kasih sudah mampir.

    Lintang Hamidjoyo:
    Sama-sama, Mas Lintang. Saya juga berterima kasih karena pengalaman hidup Mas Lintang banyak mencerahkan hidup saya. Ah, benar rasa syukur itu yang harus dipupuk terus.

    BalasHapus
  25. emang biasanya yang ampuh yang kaya gtu,, salnya gak banyak pikir,, kerja terus demi makan besok

    BalasHapus
  26. sehatalakita:
    Anda sepertinya punya pengalaman juga? Terima kasih sudah mampir. :D

    BalasHapus
  27. the power of reading aja deh ...

    habis baca ini jadi semangat!

    BalasHapus
  28. Rohani Syawaliah:
    The Power Kepepet nggak suka? Padahal enak, lho kalau dipepet sampai mepet seperti ini >:D<

    Semangat apa, nih? :D

    BalasHapus
  29. mas joko anda kan ud bnyak mnulis postingan nh dn isinya informasi yg sangt brguna,
    trus dpt pnghasilan dr bkin blog ini dr mana mas,
    smntara sya ingin blajar bgaimana mnghasilkan uang dr blog,trimksh ats jwbnnya...

    BalasHapus
  30. Cara Paling Cepat....:
    Saya punya beberapa blog yang lain untuk berbisnis online tapi masih belum bisa terlalu diharapkan karena hasilnya belum seberapa. Blog yang ini khusus buat sharing dan latihan menulis aja.

    BalasHapus
  31. Buat yang lagi kepepet, boleh kok belajar disini.. :)

    BalasHapus
  32. Putri:
    Maksudnya di tempat Mbak Putri? :)

    BalasHapus
  33. The power of kepepet benar-benar ampuh bila dipraktekan.dapat menjadi aktivator kesuksesan

    BalasHapus
  34. Saya sih setuju dengan The power of kepepet, Saya udah mengalaminya.
    Kepepet memang bikin yang ga mungkin jd mungkinSaya sih setuju dengan The power of kepepet, Saya udah mengalaminya.
    Kepepet memang bikin yang ga mungkin jd mungkin

    BalasHapus