Minggu, 22 Januari 2012

Can I Trust You?

Sisi trust, lagi-lagi tentang kepercayaan transaksi e-commerce di negara kita. Saya ada pengalaman agak kurang menyenangkan pernah diinterogasi oleh calon klien saya. Saya sebut interogasi karena mirip benar dengan gaya bertanyanya Polisi waktu sedang Mem-BAP saya. He2...


Broken Trust


Ada klien yang mau transaksi senilai $70-an USD dengan saya tapi tanyanya macam-macam. Inti pertanyaannya jelas, saya ini nipu apa tidak. Saya kutip sebagian pertanyaan dari klien yang pernah diajukan ke saya via Twitter:


# Kalau boleh tahu, anda berkediaman di mana, indonesia ataukah LN? :)
# Ok berapa lama anda bekerja seperti ini?
# Maaf yah, ada satu pertanyaan lagi, bagaimana saya bisa mempercayai anda, karena kan begitu banyak dusta dalam bekerja di dunia online?


Saya hanya tersenyum kecut kala menerima pertanyaan seperti itu. Antara wajar dan bisa menerima karena memang begitu banyak kasus scam di negara kita sehingga wajar saja jika ada orang yang begitu hati-hatinya dan curiga sama orang di internet. Namun, di sisi lain juga kurang bisa memahami kenapa ada orang yang begitu curiganya ke saya sementara orang yang bertanya seperti itu seorang intelektual muda yang sangat melek internet. Karena saya melihat dia juga sangat aktif di Twitter.

Kedua, bagaimana mungkin dia masih tetap menaruh curiga ke saya, sementara saya sudah membuka kran diri saya seluas-luasnya di internet untuk dihubungi dari semua jalur komunikasi. Catat, semua jalur. Memang, sih tidak ada yang bisa menjamin saya tak menipu. Tapi setidaknya jika orang tersebut cukup melek internet harusnya bisa membedakan mana-mana orang yang serius berjualan di internet dan mana-mana penipu online yang berkedok jualan.

Gimana cara membedakannya? Mudah sekali sebetulnya. Saya pernah menulis ciri-ciri situs penipu di internet. Baca artikel ini "Inilah 5 Ciri-ciri Situs E-Commerce Scam di Internet". Selebihnya, yang jelas kalau orang tersebut berniat menipu pasti menutup rapat-rapat data dirinya siapa dan pasti memberikan nama dan alamat tak jelas atau fiktif di internet, tak mungkin memberikan data lengkap seperti nama asli, alamat kantor/rumah dan telpon PSTN lengkap di situs atau blognya. Kebanyakan hanya memberi nomor ponsel prabayar saja.

Ya, kalau sesama bangsa sendiri saja tidak bisa saling percaya, tentu saja jangan heran apalagi menyalahkan bangsa lain, contoh seller di eBay dan Amazon yang masih belum semuanya mau transaksi e-commerce atau mengecualikan buyer Indonesia dalam daftar layanannya.

Trust Me
Trust Me

Hem, mungkin ada yang bertanya lalu bagaimana cara saya membangun trust dan meyakinkan klien saya agar mereka bisa mempercayai saya? Saya selama ini melakukan beberapa hal berikut ini agar klien mau mempercayai saya.

  1. Selain jualan saya juga menulis (ngeblog), memberikan tips-tips, edukasi, atau pembelajaran tentang e-commerce lewat artikel di blog dan menawarkan bantuan secara gratis buat siapa saja (pembaca) yang ingin tanya lebih lanjut, terlepas mereka mau beli atau pakai Jasa Online saya atau tidak.
  2. Saya menggunakan teknik Social Engineering Marketing dengan tidak pernah memaksa mereka (klien) untuk membeli atau harus pakai jasa saya. Semua keputusan akhir saya serahkan ke mereka.
  3. Saya memberikan alamat Facebook dan Twitter saya agar klien tahu siapa saya setelah melihat profile saya.
  4. Saya mencantumkan beberapa testimoni dan daftar klien saya sebagai portofolio di blog saya lengkap dengan link alamat email, profile FB dan Twitternya, maupun alamat blognya bagi yang punya blog.
  5. Saya memberikan semua data diri saya seperti data kontak email, YM, PIN BB, nomor telpon rumah, HP dan alamat saya lengkap di blog.
  6. Saya memberikan bukti-bukti transaksi online yang sudah pernah saya lakukan di internet, mensharingnya di blog maupun ke social media.
  7. Saya memberikan posisi saya secara realtime di Google Maps dan menaruhnya di halaman Where blog ini bilamana ada yang ingin mengecek keberadaan saya.

Itulah cara saya meyakinkan orang dari sisi trust di internet. Jika ke-7 cara itu masih belum cukup berhasil meyakinkan calon klien, saya nyerah dan biasanya akan bilang ke mereka seperti ini:

Sebaiknya Anda cari di tempat lain saja atau belanja di pasar tradisional yang jelas, jangan belanja online yang tumpuannya memang sebuah kepercayaan.

Sumber Foto: Broken Trust | Trust Me


Bookmark and Share

21 komentar:

  1. Saya percaya lho Mas...
    Brarti orang yg nanya2 itu bukan saya

    BalasHapus
  2. saya percaya kok sama pak joko, saya menilai seseorang layak atau tidak dipercaya dari cara interaksinya, bisa itu interaksi di internet maupun interaksi di real life, hehe

    BalasHapus
  3. Aq percoyo ora yo,,,,, hahhahaha :) Yang menarik buat saya adalah poin No.4, Jarak testimonial dengan marketing sangat dekat. :)

    BalasHapus
  4. marsudiyanto:
    Yang jelas pasti bukan, Pak Mars. He2...

    jarwadi:
    Terima kasih, Mas atas kepercayaannya. Ya, saya pun kalau sudah lama beinteraksi dengan seseorang pasti bisa membedakan orang tersebut layak dipercaya apa tidak. Yang jelas kalau orang yang suka nipu tak mungkin menjadi blogger. Kalaupun ada Itu pasti blogger-bloggeran, Mas. :D

    Gwen Keysha:
    Siap, Mas. Selain portofolio klien, sepertinya Testimoni layak juga ditambahkan untuk menambah Trust. Matur nuwun, ya Mas atas kunjungannya.

    BalasHapus
  5. Suruh orang itu ngikutin blog bapak gih. Buktinya nih saya yang udah ikutin blog bapak dari lama, ya percaya sama bapak. :D

    BalasHapus
  6. saya juga punya pengalaman yang gak enak berbelanja online. solnya duit yang sy transfer 3x katanya gak diterima, akhirnya saya kirim pake wesel pos, eh masih gak diterma juga kata yang mestinya nerima. aneh. jadi males saya bales emailnya orang itu.

    BalasHapus
  7. Kimi:
    Harusnya, ya biar tidak tanya seperti itu orangnya. Kalau saya dan Mbak Kimi pasti sudah saling percaya. Lha sudah conected hampir di semua media online.

    rusydi hikmawan:
    Wah, pengalaman yang kurang menyenangkan itu, Mas. Turut bersimpati atas musibahnya. Memang sebagai buyer kita harus jeli dan hati-hati melihat kejujuran dari seller online.

    BalasHapus
  8. Untuk membangun "Positive Trust" memang tidak semudah membuat blog :) , yang jadi permasalahan sekarang ini adalah global trust dunia terhadap Indonesia dan kita berada di dalamanya. Kenapa? Kembali lagi ke masing-masing individu.

    Banyak prospek bisnis online yang telah meblokir anggota dari Indonesia contohnya CIAO (situs product review yang cukup menjanjikan). Mereka telah memblokir semua member dari Indonesia karena terbukti banyak yang sengaja melanggar TOS-nya CIAO.

    Hemat saya, ini bukan problem Mas Joko secara pribadi namun karena Mas Joko tinggal di Indonesia, ya mau gak mau harus menerima kenyataan ini, meskipun demikian tentu tida semua orang me-cap Indonesi seperti itu.(cmiiw)

    BalasHapus
  9. Yuda:
    Terima kasih contoh kasusnya Mas Yuda. Situs CIAO, saya baru dengar sekarang ini dari Mas Yuda. Ya, akibat ulah beberapa orang yang tidak profesional, kita sebagai orang Indonesia ikut kena getahnya, diblacklist satu negara. Mungkin ada baiknya kita pindah sementara saja, ya dari Indonesia untuk membangun Positive Trust. :D

    BalasHapus
  10. Lha, orang Indonesia sendiri saja kurang percaya dengan sebangsanya, gimana dengan orang luar negri yg mau bertransaksi dengan kita ya?

    Saya jadi ngeh kenapa adsense dan program2 periklanan lainnya malas dan belum mau 'open' dan mendukung situs2/blog brbahasa Indonesia. Track record-nya ngga bagus sih..

    Apa kita harus pindah domisili ke Singapur ya pak? Pasti konsumen akan lebih 'trust' banget ya :D

    BalasHapus
  11. Darin:
    Faktanya memang begitu, Mas. Orang kita sulit dipercaya dan saling mempercayai. Contoh kasus di atas adalah salah satunya. :(

    Pindah negara? He2... Itu salah satu solusi juga. Semoga saya suatu saat ndak tergoda untuk melakukannya, Mas.

    BalasHapus
  12. Aneh juga ya bro jika yang melakukan ahal tersebut justru orang yang sudah malang melintang didunia maya... Mungkin akan berbeda jika yang bertanya adalah orang baru didunia maya.
    Tapi sabar aja bro, jangankan dagang didunia maya, dagang didunia nyata juga kadang kita dibuat jengkel sama buyer :-)

    BalasHapus
  13. hahaha,..... dimanapun dia bertanya, toh tumpuannya juga bukan 'face to face'. takut ketipu, ya ngga usah belanja.
    Begitupun bukan berarti yang tinggal di LN trusted, banyak yg gelap ko', sekalipun negeri Paman Sam.

    BalasHapus
  14. bro eser:
    Iya, Bro terima kasih. Dan sampai sekarang calon klien tersebut belum closing-closing juga. Padahal sudah tanya macam-macam dan conect di Facebook dan Twitter dengan saya.

    Kaget:
    Lha, ya Mas kalau takut ketipu disimpan saja uangnya gak usah belanja apalagi belanja online. He2...

    BalasHapus
  15. hahaha emang bener banget mas.. masalah kepercayaan ini masih menjadi polemik dalam dunia bisnis online dimana tidak ada pertemuan secara real antara penjual dan pembeli layaknya transaksi konvensional yang mereka bertemu di satu tempat untuk melakukan transaksi..
    apa yang mas lakukan udah bener.. jadi santai aja .. rizki itu datangnya dari allah.. yang penting kan kita udah usaha..tul gak? :D

    BalasHapus
  16. crazyhusband:
    Ya betul sekali, Mas santai saja yang trust dan mau bertransaksi online dengan saya masih banyak, kok. :)

    BalasHapus
  17. wah tempat yang bagus untuk menimba ilmu ni!?!?!

    kepercayaan memang penting ya mas......dan untuk jaman yang serba "internet" ini kepercayaan jadi makin penting ya! harus mulai belajar memupuk kepercayaan orang nih!!

    Tengkiu infonya mas!!

    BalasHapus
  18. Jhoni:
    Sama-sama, Mas. Terima kasih sudah mampir kembali.

    BalasHapus
  19. ya kalau seperti itu memang bukankah resiko pasar Indonesia yang belum terbiasa menerima E-market.
    ya jadi memang harus siap-siap.
    sekalian ingin backlink
    Visit to my blog: cokelatnut.blogspot.com

    BalasHapus
  20. wah thanks mas artikelnya sangat membantu, ia semuanya berawal dari sebuah kepercayaan, apabila seseorang sudah tidak percaya kepada kita maka hancurlah dalam sehari semua yang kita bangung selama ini,..

    BalasHapus
  21. hato2 dengan data pribadi kita yang dishare di jejaring sosial. jangan sampai nanti dimanfaatkan pihak lain untuk berbuat negatif

    BalasHapus