Selasa, 17 Agustus 2010

Antara BlackBerry, Penjajahan Terbalik dan Penjajahan Terselubung

independence daySaya pernah membaca artikel menarik di sebuah majalah komputer PC Media. Sebuah artikel yang memberikan istilah tentang Penjajahan Terbalik. Dulu, tulis dalam artikel tersebut, selama 350 tahun kita sudah dijajah negara barat. Kini, posisinya terbalik. Indonesia seperti menjajah negara barat kalau bicara bajak membajak software. Ya, bagaimana tidak. Software-software komputer banyak diciptakan oleh mereka, orang barat. Tapi kita dengan seenaknya atau bebas memakai dan membajaknya tanpa membayar. Apa ini tidak seperti bentuk Penjajahan Terbalik?

Hari ini, Selasa 17 Agustus 2010 negara kita sudah ber-HUT atas kemerdekaannya yang ke-65. Sudah banyak bentuk-bentuk kemudahan yang bisa kita nikmati sebagai warga negara yang merdeka. Dan rasanya Anda pun tentu turut bisa merasakan beberapa kemudahan itu sebagai warga negara merdeka, bukan?

Namun, banyak pihak di sisi lain berpendapat katanya kita ini masih belum merdeka seutuhnya. Karena masih maraknya ketimpangan dan ketidakadilan yang ada di negara ini. Akh, saya tak mau membahas dosa-dosa warisan pemerintahan negeri ini yang faktanya memang masih banyak yang belum terselesaikan. Cukup mereka-mereka saja lah. Saya tak mau ikut-ikutan.

Masih terkait dengan tulisan saya yang lalu, "Apakah Cinta Itu Porno?" Kemarin saya membahas tentang pemblokiran content porno di internet yang berimbas pada leletnya akses internet. Berakibat pada terblokirnya beberapa situs yang sebetulnya sama sekali tak ada kaitannya dengan content porno. Nah, kali ini saya ingin sharing kembali tentang sebuah fakta yang mengejutkan tentang BlackBerry dalam kaitannya dengan sebuah, lagi-lagi Penjajahan Terselubung negara lain terhadap negara kita.

Berikut keempat fakta yang perlu Anda tahu tentang kesaktian BlackBerry di Indonesia:

  1. Berbeda dengan koneksi internet dari desktop yang sudah difilter lewat ISP (Internet Service Provider), untuk BlackBerry masih bisa bebas mengakses situs manapun di seluruh dunia, tak terkecuali situs content porno sampai dengan hari ini.
  2. Pemerintah sampai dengan hari ini seperti tak punya kuasa menekan BlackBerry seperti halnya Amerika Serikat yang telah berhasil menekan RIM agar membangun server atau data center-nya di sini. Kita bahkan juga kalah dengan Arab Saudi yang sudah berhasil memaksa Research In Motion untuk menempatkan servernya di Arab Saudi.
  3. Research In Motion vendor BlackBerry sampai sekarang ini tidak dikenakan pajak terhadap biaya berlangganan BIS (BlackBerry Internet Service). Contoh, saat ini pelanggan membayar biaya BIS sebesar Rp 150.000. Operator dapat profit $5. Operator dikenakan pajak terhadap setiap $5 yang diterima, dan RIM terima bersih $10 tanpa kena pajak.
  4. Layanan BIS BlackBerry tak berijin dan tak legal karena sampai dengan hari ini RIM belum pernah ijin ISP di Indonesia. Dan lagi-lagi pemerintah seperti menutup mata dan tak sanggup memaksa BlackBerry seperti halnya Uni Emirat Arab dan India. 

Itulah faktanya yang terjadi. Bukankah itu seperti bentuk Penjajahan Terselubung negara lain terhadap negara kita? Apakah saya salah kalau menyimpulkannya demikian?

Akh, sebagai warga negara yang baik, seharusnya saya tak patut terus menerus menghujat pemerintah akibat ketidakberdayaan atau kekurangannya ini. Saya sebagai warga negara hanya bisa berdoa semoga pemerintah terus berbenah di usia negeri ini yang sudah semakin tua.



Bookmark and Share

7 komentar:

  1. pertamax pak ni (hendra in malang) link saya di comment jangan di klik ntar kena penjajahan hehehe. Memang sofware di endonesia di pake bajakan tanpa beli tekesan endonesia menjajah bangsa asing, tapi sebenernya pembuat sofware orang endonesia yang bekerja di perusahaan asing, karena pekerja pembuat sofware dan game banyak orang endonesianya. Orang endonesia buat aplikasi hak ciptanya di aku oleh orang luar negeri.

    BalasHapus
  2. Fakta menarik. Bisa minta sumbernya dari mana pak?

    Memang Indonesia ini tidak punya wibawa sama sekali. Ini baru ngomong Blackberry yang baru beberapa tahun ini booming. Apalagi kalau kita bicara Freeport yang sudah 30+ tahun!

    Masih banyak PR pemerintah. Harusnya ini jadi refleksi untuk pemerintah. Sebagai rakyat biasa, saya rasa kita semua sudah berkontribusi untuk pembangunan walau tanpa banyak ngomong.

    BalasHapus
  3. hendra:
    Yang saya sebut sebagai penjajahan terbalik, contoh pembajakan software seperti OS Windows punya Microsoft dan aplikasi graphis yang kenyataannya banyak dibajak di negara kita, Mas Hendra

    Jeprie:
    Kalau fakta no 1, kebetulan saya pengguna BB sehingga tahu langsung dari BB saya. Untuk fakta no 2 banyak media sudah mengulasnya. Salah satunya bisa dibaca di sini, Mas Jeprie. Untuk fakta no 3 & 4, info mengejutkan ini saya dapat dari kawan-kawan pengelola ISP di APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) di milis Telematika. Mereka mengeluh karena merasa dianaktirikan akibat perlakuan istimewa BB. Dan pemerintah, dalam hal ini Dirjen Postel sepertinya tak berdaya dengan situasi ini.

    BalasHapus
  4. pak joko alexanya ud bagus kok blogny tdk di buat make a money. n pagerankny kok masih PR2. Saya ada pengalaman nih blog saya PR 0 bisa jadi PR 3 setelah submit di onewaytextlink(dot)com, n selain RSS di kasih freeautobot(dot)com lebih bagus bisa untuk kelak punya domain baru langsung banjir pengunjung karena email folowup seperti punya jokosusilo. n WARNING buat anda jangan sesekali mengklik link yang saya di komen ini karena membuat browser anda ERRORR...

    BalasHapus
  5. hurr-durr.com:
    Saat ini saya masih belum tertarik untuk memoneytisasi blog, Mas Hendra. Entar kalau visitornya da banyak mungkin saya bisa berubah pikiran.

    Sebetulnya awal tahun 2010 lalu blog ini sempat betengger di PR 3 selama kurang lebih 3 bulan. Tapi ya itu mempertahankan lebih sulit dari meraihnya. Algoritma PR Google selalu berubah-ubah terus. Tapi Alhamdulillah meski PR turun tapi Alexa naik, visitornya juga naik. Sekarang saya konsen di content dulu, Mas.

    BalasHapus
  6. Kalau mau sebetulnya Indonesia pasti bisa menekan. Pasar Indonesia kan besar.

    Mungkin nanti kalau sudah ada kasus besar di pemerintahan, baru mereka berkoar-koar untuk mengalihkan isu.

    BalasHapus
  7. Jeprie:
    Harusnya bisa, Mas Jeprie. Arab Saudi aja akhirnya bisa. Masak kita yang penggunanya, mungkin lebih besar tidak bisa.

    BalasHapus