Senin, 05 Oktober 2009

Apakah Anda Hidup Bahagia?

hidup bahagia

Anda ingin hidup bahagia? Jangan jadi orang kaya. Jangan tinggal di Surabaya. Jangan (apalagi) tinggal di ibukota dan sekitarnya, Jabodetabek maksud saya, tetapi tinggallah di kota Yogyakarta. Atau kalau mau tinggalah di negara Kanguru Australia.

Aha… Anda jangan keburu gusar dulu dengan pernyataan saya ini, jika kebetulan anda adalah salah satunya yang saya sebut! Mengapa? Karena kalau anda adalah orang Jawa pasti akan paham dengan maksud saya.

Tetapi jika anda adalah orang Jawa yang mulai kehilangan taste ‘Jawa’nya, atau sama sekali bukan orang Jawa, maaf, tanpa bermaksud menyinggung rasis dan mengunggulkan suku Jawa dari suku lainnya, dengarkan dulu penjelasan saya. Nanti anda akan mengerti dan paham apa maksud saya.

Sedikit saya mengutip apa yang ditulis Ndoro Kakung di blognya. Berikut ini tulisannya:

Kebahagiaan memang salah satu ciri negeri itu (Australia). Dalam survei tentang Australia, The Economist edisi sepuluh tahun silam, mengutip satu pengumpulan pendapat yang membandingkan rasa bahagia orang di pelbagai negara. Diketahui bahwa orang Australia berada di tingkat atas. Orang Jepang, pekerja keras pembangun mukjizat pertumbuhan ekonomi itu, meletakkan diri di tingkat bawah.
Kenapa? Jawabnya: orang Australia adalah orang Jawa yang jauh lebih kaya. Mereka paham betul apa arti hidup yang tak ngoyo — persis seperti orang Jawa pada umumnya.


Dan ini menurut data PBB yang dikeluarkan Senin (5/10/2009). Berdasarkan data yang dikumpulkan sebelum krisis ekonomi global menunjukkan salah satunya orang di Norwegia, termasuk Australia, dan Islandia memiliki standar hidup terbaik.

Nah, sekarang sedikit paham, kan maksud saya? Dengan hidup sumeleh, narimo ing pandum dan tidak ngoyo. Ini falsafah orang Jawa yang tetap diugemi, dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa di Jogja, menjadikan orang Jogja rata-rata hidupnya bahagia dan berumur panjang. Dan ini dikuatkan dengan data statistik yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 tentang indikator kesejahteraan bangsa Indonesia, penduduk Jogja mempunyai usia harapan hidup yang tertinggi di Indonesia yaitu sampai 73 tahun.

Berikut saya tambahkan update data terbaru dari seorang sahabat dan tetangga baik saya di BPS Bantul, Jogja berkaitan dengan Angka Harapan Hidup (AHH) di D.I.Y untuk tahun 2007, sebagai berikut : Kulonprogo = 73,35; Bantul = 70,95; Gunungkidul = 70,85; Sleman = 73,85; Propinsi D.I.Y = 73,17. (Sumber: Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2007)

Dan satu lagi fakta mengapa orang kaya cenderung tidak bahagia hidupnya? Berikut pendapat Edwad Diener, Psikolog dari University of Illionis, betapa kemewahan atau kekayaan ternyata tidak berkorelasi positif dengan apa yang disebut sebuah kebahagiaan itu. Edwad Diener menemukan tingkat kecemasan orang yang sudah memiliki banyak uang lebih tinggi dibandingkan kebahagiaannya. Hasil penelitiannya pada 400 orang terkaya se- Amerika menunjukkan mereka mengalami reference anxiety, yakni kecemasan yang timbul setelah membandingkan kepunyaan mereka tidak sebagus milik orang lain. Bahayanya, reference anxiety ini semakin meningkat ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki barang-barang lebih mewah dan mahal.

Kesimpulannya, uang dan kekayaan memang mempunyai kuasa untuk membeli apa saja, namun untuk hal yang lebih bermakna dari itu, yaitu arti sebuah kebahagiaan, uang tidak mampu untuk membelinya.

Pertanyaan saya sekarang: "Apakah anda ingin hidup bahagia?" Jika ya, maka jadilah seperti orang Jawa yang benar-benar Jawa agar bisa hidup bahagia.



Bookmark and Share

12 komentar:

  1. He...he..kadang definisi bahagia aja belum ketemu Mas :lol:

    BalasHapus
  2. mungkin belajar untuk merasa cukup (bukan berarti hidup pasrah dan pas-pasan..)
    iya kan pak??

    soale kebahagiaan itu harus diraih, bukan kado gratissan... ;D

    BalasHapus
  3. dan berusaha menikmati setiap detail kehidupan.. *nyambungin toufan

    ahh... saya bahagia koq dgn hidup saya.. meski tmn saya pernah bilang "i'm not too much happy wiv ma life"
    hey bukan orang lain yg nilai.. kita sendiri yg ngejalanin koq.. iya ndak sih??

    BalasHapus
  4. Memang untuk bahagia itu dasarnya harus dengan hidup sumeleh/pasrah (beda dengan menyerah? ora gelem ikhtiar), narimo ing pandum / ora nggerangsang dan tidak ngoyo tapi kabeh terpenuhi loh? ngono yo ngono ning ojo ngono! salam hangat mas Joko.

    BalasHapus
  5. semoga kita bersyukur pada saat merasakan ke bahagiaan
    jika ingin tau profil saya silahkan kunjungi..
    click this

    BalasHapus
  6. bahagia adalah bekal menuju kekayaan yang kekal...saya belajar nrimo/sumeleh malah dr istri saya hehehe meski wong jowo tp sy ini trmsk yang ngoyo...so ga semua org jowo nrimo/sumeleh ya...hehehe

    BalasHapus
  7. Sirih Merah:
    Betul, Pak. Kalau kita mulai sudah tidak Sumeleh dan nrimo itu artinya kita mulai kehilangan "taste" kita sebagai orang Jawa

    BalasHapus
  8. tinggal di indonesia pun bs bahagia pak.

    BalasHapus
  9. Salam, Mas Joko

    Maaf maaf... tetep aja rasis kok... (jangan esmosi dulu! hehehe...)

    Kenapa saya mengatakan demikian?
    Hidup ini tidak bisa terlepas dari hal yang bersifat rasial...
    Menurut saya, orang yang menganggap dirinya non-rasis pun sesungguhnya adalah orang yang rasis terhadap ke-non-rasis-annya...

    Coba saja kalau kita dibilang (maaf): "Jawa", "Batak", "Padang", "Ambon", coba dengar "kata hati kita"...

    Soal kebahagiaan...
    Parameternya akan lain untuk setiap manusia... jadi tidak bisa dikatakan dengan seperti ini atau seperti itu manusia akan bahagia...

    Soal usia panjang, bukan kebahagiaan patokannya... Sebaliknya kebahagiaan (ataupun kesehatan) tidak menyebabkan usia seseorang bertambah panjang...

    Bagi saya kesehatan hanyalah memberikan kesempatan lebih bagi seseorang untuk berusaha... (tidak menambah usianya ataupun kebahagiaannya)

    Terlepas dari semua ini, manusia bisa tertawa atau menangis karena bahagia...

    Jadi, siapa yang dapat mengatakan bahwa seseorang itu bahagia dan tidak bahagia... dari fisik yang terlihat?

    atau

    Kecemasan, bagi sy juga bukan parameter kebahagiaan... Karena ada hidup yg harus dijalani dengan sebaik-baiknya... dan ada harapan yang menjadi impian... JADI BUATLAH HIDUP INI MENJADI LEBIH HIDUP...

    Terima kasih, buat Mas Joko "Terus Berkarya..."

    BalasHapus
  10. saya:
    Yang saya tulis ini juga salah satunya di Jogja. Indonesia juga, kan?

    Anonim:
    Terima kasih Anda mau menanggapi artikel ini. Sayang Anda tak mau meninggalkan nama sehingga kita bisa berdiskusi lebih enak dan tentu saya juga bisa memanggil Anda dengan sebutan yang tepat.

    Ya, Anda benar tanpa saya sadari tulisan ini masih rasis. Saya seolah tetap mengelu-elukan (mengunggulkan) suku Jawa ketimbang suku lainnya. Mohon Anda maklumi ini sebagai salah satu keterbatasan penulis karena saya kurang mengerti pada suku-suku lainnya.

    Silahkan tambahkan kalau Anda ada contoh pada suku lainnya selain Jawa. Barangkali dari suku Anda mungkin?

    Perspektif saya melihat dan menyimpulkan memang sempit dan sengaja saya batasi. Saya melihat mengapa orang Jogja secara umum cenderung berumur panjang dan bahagia hidupnya? Karena dia berbeda dengan masyarakat modern pada umumnya yang tinggal di kota2 besar, yang hidupnya suka nggoyoh untuk mengejar kenikmatan duniawi sementara di Jogja dan orang Jawa umumnya tidak seperti itu makanya saya menyimpulkan demikian.

    Hem, mungkin juga ada faktor lain yang menjadi penyebabnya. Atau Anda mungkin tahu apa ada faktor lain yang menjadi penyebabnya itu, yang menjadi penyebab mengapa orang Jogja umurnya rata-rata panjang?

    BalasHapus
  11. Yups, dalam daftar kebahagiaan di dunia, negara-negara maju semacam jepang memang ada di urutan bontot. Orang Indonesia ternyata malah lebih bahagia daripada orang amerika. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kebahagiaan kita juga bisa menurun.

    Mungkin yang terpenting sekarang adalah, setiap orang harus menemukan definisi kebahagiaannya. kita terlanjur sepakat mendefinisikan kebahagiaan dengan uang atau kekayaan. Padahal urusan bahagia itu tidak bisa disepakati. Harus ditemukan sendiri.

    BalasHapus
  12. Huda Tula:
    Terima kasih untuk poin penguatan opininya, Mas Huda. Ya, selama ini, termasuk saya, saya meyakini sumber kebahagian ya uang dan kekayaan itu sendiri.

    Logikanya, kalau kita banyak uang pingin kesenangan apapun pasti bisa keturutan. Tapi prakteknya sifat serakah manusia yang tak gampang puas ini yang jadi sumber bencananya sehingga kebahagiaan menjadi barang mahal yang tetap tidak bisa terbeli dengan uang manapun.

    BalasHapus