Minggu, 05 Juni 2011

Blogger Kritis: Antara Dimaki dan Dibenci Sekaligus Dicari

Blogger KritisMasih terkait dengan artikel saya kemarin yang mengulas tentang Kekritisan Seorang Blogger, kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda bagaimana pengalaman suka dukanya menjadi seorang blogger kritis. Blogger tukang kritik. Saya akan memberikan contoh kasus menarik bagaimana blogger kritis itu ibarat orang yang pantas untuk dimaki dan dibenci sekaligus dicari.

Dimaki dan dibenci? Ya, saya yakin hampir semua orang pasti mengatakan merasa kurang nyaman jika dikritik, bukan? Sehingga reaksi orang per orang bisa bermacam-macam dalam menghadapi sebuah kritikan. Ada yang malah mengucapkan terima kasih sudah diberi kritik karena merasa diberi masukan seperti kasus Kritik saya ke Telkomsel kemarin. Ada yang menyumpah serapahi si pengkritiknya, merasa tak terima dikritik. Ada yang sebatas hanya ngomel-ngomel ngedumel dalam hati. Maupun ada yang lebih gila, marah-marah hingga meneror dan melaporkannya ke Polisi.

Contoh, kasusnya dialami oleh salah satu sahabat blogger saya dari Nganjuk, Mas Widodo. Diteror dan dilaporkan ke Polisi oleh orang yang tak terima karena dikritik. Celakanya, yang tak terima itu orang media, Radar Nganjuk, yang sebetulnya malah lebih sering mengkritik ketimbang blogger. Jadi terdengar aneh kalau tukang kritik tak mau dikritik. Ini arogan sekali.

Okey, saya ceritakan sedikit kasusnya mengapa kritik Mas Widodo memancing kemarahan awak media itu. Karena artikelnya sudah didelete maka saya hanya bisa ceritakan, tidak bisa memberikan tahutan link menuju kesana. Kritik berawal dari iklan media yang ada di koran Radar Nganjuk dikritik oleh Mas Widodo. Intinya koran tersebut dikritik karena mengkomersialkan berita. Yaitu koran tersebut menawarkan jasa lewat korannya sendiri kepada desa-desa di Nganjuk jika ingin diliput dan dimuat di koran bisa request bayar seperti halnya masang iklan di koran agar diberitakan. Mirip seperti kasus Advertorial lah. Dengan membayar kemudian direview atau diberitakan.

Mas Widodo mengkritik dengan sangat kritis lewat blognya dan sempat berbalas mention status di Twitter dengan saya. “Berita, kok dikomersialkan”, itu inti kritiknya.

Berikut kutipan komentar saya yang mengkritik media tersebut saya tinggalkan di blog Mas Widodo:

Saya kemarin juga sempat baca artikelnya. HeHe…. Dan ini komentar saya kemarin yang gagal saya submit di artikelnya.

Saya akan berusaha komentar netral, Mas. Kalau kasusnya itu advertorial, artinya kita, warga desa meminta diliput memang wajar kalau harus membayar. Ini sama seperti kasus perusahaan minta diliput, diberitakan usahanya di media untuk promosi usahanya agar dikenal. Banyak perusahaan melakukan ini.
Tapi, kalau itu sebuah liputan berita umum dan media memungut biaya atas peliputan itu, nah itu yang baru tak benar.
Namun diluar itu seharusnya media tetap punya tanggung jawab sosial untuk mengangkat daerah dimana media tersebut berada. Dan ini mestinya jangan minta imbalan

Diluar konteks mana yang benar dan mana yang salah, saya ingin mengomentari kasus itu kepada pihak medianya. Tidak seharusnya kasus begini sampai nyeret2 ke Polisi segala. Apalagi pakai teror. Apakah Anda lupa bahwa media juga terkenal sebagai tukang kritik? Mengapa harus mencak-mencak kalau dikritik. Anda, kan punya hak jawab meluruskan jika itu tak benar. Gunakan itu. Anda tak perlu pakai cara-cara gaya Orba seperti itu.

Salam kenal Bapak Timur Pradopo. Salam kenal juga dari Jogja. Saya juga blogger tukang kritik. Silahkan Anda boleh mampir ke blog saya.

Hem, diluar masalah tadi benarkah blogger kritis itu dicari? Benar, selain dicari Polisi. (He He… ) juga dicari sebagai penyeimbang banyaknya content di blog yang rata-rata isinya kebanyakan penuh basa-basi dan maaf, rada munafik.

Ups, Anda jangan keburu tersinggung dan marah kepada saya dulu! Dengar dulu penjelasan saya. Bukankah hampir kebanyakan blogger dalam berbahasa itu kebanyakan suka begitu? Penuh dengan basa-basi, kurang terus terang, suka menghiden teks sasaran yang dibicarakan, dan bahasanya cenderung hanya berputar-putar, bermain-main dalam argumen bahasa penuh metafora.

Memang tak semua blogger begitu, sih. Namun Anda akan bisa merasakan bedanya jika membandingkan opini blog yang ditulis oleh blogger kritis dan blogger yang kurang kritis. Terasa sekali bedanya. Pada blogger kritis, contoh Mas Widodo dan Bung Erianto Anas dalam menulis opini sangat jujur, tanpa basa-basi, menghujam bak sebilah keris kalau sedang mengkritik dengan kalimatnya yang tajam tanpa tedeng aling-aling. Sementara blogger tak kritis cenderung cari aman dalam beropini, menghindari masalah dan kalimat-kalimat dalam opini tulisannya akan cenderung biasa-biasa saja. Betul?

Sekian tulisan kritik saya kali ini. Silahkan Anda boleh kritik saya kalau tak sependapat dengan opini saya ini.

Update 7 Juni 2011: Artikel yang sempat dihapus karena mendapat tekanan teror dari Radar Nganjuk akhirnya dipublish kembali oleh Mas Widodo. Bisa baca artikelnya melalui tautan ini "Ingin Dimuat? Wani Piro?"

Sumber Foto: News


Bookmark and Share

32 komentar:

  1. Ketika seseorang mengkritik, sesungguhnya dia punya perhatian pada pihak yang dikritik (kalau nggak punya perhatian, ngapain repot-repot kasih kritik/masukan? Cuekin aja!). Yang jadi masalah, pihak yang dikritik belum tentu punya jiwa besar dalam menerimanya, bahkan sering salah paham dan beranggapan si pengkritik sedang menyerangnya. Ketika reaksi yang dikritik negatif, hasilnya malah pihak yang dikritik makin tampak negatif.

    Padahal, kalau saja pihak yang dikritik berjiwa besar dan melakukan evaluasi untuk menutup/menebus kekeliruannya, hasilnya malah jadi positif. Blog ini sendiri, misalnya, ketika kemarin mengkritik Telkomsel. Sebenarnya Telkomsel bisa saja berdalih dan memberikan serangkaian apologi atau bahkan sampai menuduh Pak Joko mencemarkan nama baik mereka.

    Tapi Telkomsel tidak melakukan itu. Sebaliknya, Telkomsel menunjukkan jiwa besarnya dengan memberikan fasilitas gratis pada teman Pak Joko sebagai bentuk permintaan maaf mereka, bahkan sampai meninggalkan komentar positif di posting tersebut. Hal itu menjadikan kita punya pandangan yang baik pada Telkomsel, dan semakin memperbesar kepercayaan kita pada mereka.

    Membaca posting ini, saya ikut menyayangkan langkah yang diambil Radar Nganjuk.

    BalasHapus
  2. He he..., makanya belajar mengkritisi dalam bahasa yang diplomatis, sehingga istilahnya, walau-pun nanti dipersalahkan karena telah mengkritisi, kita tetap tidak akan bisa diserang karena bahasa kita seakan-akan memberi kekebalan diplomatik.

    BalasHapus
  3. wah, asyik nih topiknya masih bergulir. saya juga semalam udah buat posting terkait :)

    masalah tulisan mas widodo saya juga udah baca via feed karena tetap tersimpan di feed.

    kalo sampai kasus naik ke kepolisian maka tragedi prita dsi tangerang bisa terulang lagi mas. apa lagi sewkarang komunitas blogger udah kuat dengan diakui se ASEAN dan kalo di kompasiana bisa heboh tuh haha

    BalasHapus
  4. wahaaa.. ayo bikin grup di FB, heheh.

    medianya ga berkelas tuh kalau sampai meneror dan melapor ke polisi segala.

    setahu saya, media tetap ga boleh minta bayaran untuk peliputannya. Bahkan saat meliput acara perusahaan. makanya di tiap perusahaan ada PR yang ditugaskan membangun hubungan baik sama media, agar event mereka diliput. Kalaupun advertorial, biasanya formatnya beda.

    lha ini, yang mau diliput desa-desa, masa narik bayaran? Narik uang rakyat tuh.

    BalasHapus
  5. Itu cermin ane bro...wah kl erianto anas sama mas widodo beda jauh..saya lebih suka mas widodo karena real,,,kalau erianto anas itu memainkan judul tentang agama saya yang benar2 tidak suka...

    BalasHapus
  6. Hoeda Manis:
    Perusahaan besar setahu saya, saya membandingkan dengan perusahaan tempat saya bekerja, rata-rata akan berprinsip begitu, Mas Hoeda. Menganggap kritik adalah masukan. Kalau kita melawan kritik, misalnya tak terima justru itu jadi bumerang buat perusahaannya sendiri dan menjadi makin negatif di mata konsumennya. Betul itu.

    Sayangnya, media besar sekelas anak group Jawa Pos seperti Radar Nganjuk lebih mementingkan egonya ketimbang menerima kritik itu dengan jiwa besar. Jika memang ada yang perlu diluruskan mengapa tidak memanfaatkan hak jawab. Dengan menyerang dan mengintimidasi pengkritiknya, apalagi sampai melaporkan ke Polisi, kita bisa menyimpulkan kelas media itu di berada di level mana.

    Cahya:
    Kritik yang seperti itu yang saya lagi belajar, Mas Cahya. Mengkritik tanpa mencaci-maki tapi mengena ke sasaran, juga tak terbantahkan karena didukung oleh data dan fakta sehingga sulit dielakkan.

    Andi Sakab:
    Iya, Mas ibarat bola salju terus bergulir. He He....

    Kita tunggu saja perkembangannya gimana reaksi Radar Nganjuk setelah ini. Saya pun siap jika menghadapi mereka.

    Huda Tula:
    Ya, Mas Huda. Saya juga kaget. Padahal Radar Nganjuk anak groupnya Jawa Pos, koran terbesar di Jatim. Gimana mungkin melakukan tindakan teror dan sampai melaporkan ke Polisi seperti itu kepada pengkritiknya.

    Tentang kasus meminta bayaran buat meliput desa-desa itu memang masih berupa tawaran iklan, sih Mas. Saya belum tahu apa sudah ada desa yang pernah diliput dan membayar. Meski dia perusahaan bisnis dan berorientasi profit saya pun sedikit menyayangkan. Apakah dia tak punya kepedulian sosial dengan lingkungan sekitar sehingga sampai perlu memungut bayaran?

    amdhas:
    Oh, ya Mas? Setahuku Erianto Anas juga kritis tapi memang lebih suka menulis topik seputar compair agama.

    BalasHapus
  7. Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai gaya bahasa berputar-putar atau yang terlalu banyak menggunakan perumpamaan. Seringkali saya merasa berat untuk memahaminya. Kadang jadi tak jelas juga apa sebenarnya yang mau dikritik si penulis. Terkesan jadi ngambang deh akhirnya. Esensi kritikan yang ingin disampaikan pun jadi kabur.

    Untuk gaya tulisan Pak Jojo, jujur saya akui bahwa memang sangat lugas. Saya tak perlu banyak mengerutkan dahi atau berpikir lebih lama untuk bisa memahami apa yang ingin disampaikan.

    Tentang kasus mas Widodo itu, saya malah baru tau dari sini Pak. Sangat disayangkan kalau cuma karena kritikan begitu, pihak media malah mencak-mencak ke polisi. Kayak anak kecil lagi ngadu ke ibunya aja.

    Saya setuju 100% dengan pendapat Pak Joko soal itu.

    BalasHapus
  8. Saya juga tidak menduga, posting mas widodo akhirnya menjadi sebuah kasus,, tapi bagaimanapun kita adalah sesama blogger,, "seperjuangan!!!!"

    BalasHapus
  9. Tiap individu punya keluhan, tapi merasa sungkan ketika mengungkapkan apa yang dirasanya 'tak menyenangkan'.
    Soal kritik, saya bukan salah satunya. Tapi cuma mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasa. Yang lebih parah, terkadang mengkritik tapi belum pernah merasakannya. Hanya sebatas 'kata orang'.
    Kalau dimaki itu kan resiko, kalau tak ingin mendapat cerca dan tekanan, ya ngga usah dipublish. Benar kan, Mas? :D

    BalasHapus
  10. Wah, saya juga sedang ingin mengkritik koran terbesar di yogyakarta yang wartawannya menerapkan praktek hampir serupa, misalnya saya ingin kasus pelanggaran di desa desa di gunungkidul diberitakan di koran mereka, mereka mengenakan tarif tertentu, hehehe

    BalasHapus
  11. tekanan dan ancaman memang tidak menjadi poblem bagi saya,hanya memag saya kurang berkenan dgn cara2 seperti itu,arogan,aorma pongah sangat kentara tercium......

    memang sempat terpikir untuk melakukan perlawanan secara frontal...tapi saya urungkan...mas joko tahu alasan saya kenapa...

    back attact pasti saya lakukan,tapi dgn cara yg elegan,para wartawan dan media juga manusia,tunggu mereka berbuat kesalahan dan tinggal hantamkan balik...ha..ha....

    BalasHapus
  12. iskandaria:
    Terima kasih atas apresiasinya buat tulisan saya, Mas Is.

    Oh, baru tahu, ya? Iya, karena sebetulnya Mas Widodo sengaja mengkeep kasus ini tapi terakhir atas ijin Mas Widodo saya coba angkat case masalahnya ini di blog saya dan Mas Widodo tak keberatan. Memang, betul sekali sekelas media tindakannya, kok begitu. Saya sangat meyayangkan apalagi media besar sekelas Jawa Pos Group.

    MisterXWebz:
    Betul, Mas Didik sesama blogger kita harus mendukungnya. Teman seperjuangan.

    Kaget:
    Sungkan? Saya, kok tidak kepikir begitu. Betul ada juga blogger yang tipe begitu, sungkan kalau mau terang-terangan mengkritik. Kalau saya karena mungkin terbawa karakter orang Surabaya yang cenderung terus terang makanya kalau tak benar tanpa sungkan-sungkan ya langsung tak kritik.

    Eh, bukannya Mas Anto orang Medan? Setahu saya Medan tak beda jauh sama Surabaya.

    Benar, Mas. Kalau ingin tak dapat tekanan dan makian yang paling aman ya dikeep, simpan sendiri aja tak usah diungkapkan.

    jarwadi:
    Kayaknya praktek2 seperti itu sudah lama ada di oknum orang media, Mas. Nah, kalau terang-terangan minta resmi dari medianya ini yang perlu kita kritisi. Itu tak benar. Lha wong berita, kok minta tarif.

    wid:
    Saya dukung, Mas. Jangan sampai terpancing oleh mereka untuk ikut menggunakan cara-cara preman (meneror). Banyak cara elegan yang bisa kita mainkan untuk menghadapi orang media macam mereka. Kawan-kawan kita banyak, kok yang dari media juga.

    Mas Widodo jangan usah kuatir, komunitas blogger tak kalah kuat dibanding mereka. Mereka punya Dewan Pers, kita juga punya komunitas blogger yang solidariatasnya sangat kuat. Terlebih mereka jelas-jelas bersalah, pakai cara-cara melanggar hukum dalam menanggapi kritik dari Mas Widodo.

    BalasHapus
  13. Saya tak mengikuti keseluruhan informasi sejak awal sehingga tak mendapatkan gambaran yang lengkap.

    Komentar yang bisa saya berikan adalah: yang namanya media, jika menyangkut informasi yang dibuatnya, biasanya mendahulukan hak jawab dari pihak yang dirugikan.

    Dalam kausus ini, si media yaitu koran, merasa dirugikan oleh media lain bernama blog milik perseorangan. Artinya pihak koran juga bisa menjelaskan dalam blog tersebut, isinya boleh bantahan sekaligus koreksi.

    Umumnya media, sejauh saya tahu, menghindari penyelesaian melalui delik hukum, apalagi jika si media dalam posisi teradukan. Untungnya media cetak, mereka punya Dewan Pers.

    Bagaimana dengan blogger? Mungkin ya menghubungi pengacara probono semacam LBH dan lainnya.

    BalasHapus
  14. salam dari blogger kritis juga.. :)

    BalasHapus
  15. Kalau saya jadi Pak Widodo, barangkali saya nggak mau repot-repot mengkritik Radar Nganjuk. Kritikan hanya membuat mereka lebih populer, yang ujung-ujungnya malah meningkatkan omzet koran mereka.
    Padahal media macam begitu, yang mengkomersialkan berita, malah nunjukin kalau tulisan mereka nggak bagus-bagus amat buat dibaca. Tulisan koran seharusnya original, bebas dari kepentingan komersial kecuali kalo tujuannya memang ngiklan. Dan tujuan ngiklan itu harus ditulis secara eksplisit pada tulisannya.

    BalasHapus
  16. Saya juga dulu termasuk blogger yang frontal dalam mengkritik. Namun kemudian terbentur kasus serupa (sebanyak tiga kali untuk kasus yang beda-beda) dimana saya nyaris harus mempertanggung jawabkannya di depan hukum. Jujur saya belum siap, dan tidak punya jiwa militan yang cukup.

    Dan akhirnya saya pun dapat pembenaran. Bahwa mungkin yang juga perlu kita ingat, kritikan itu tidak selalu harus diutarakan dengan ketus dan frontal. Salah satu yang saya anggap bisa mengkritik tajam tanpa kita harus merasa negatif ya blognya paman tyo di blogombal.org. Dan saya sedang belajar banyak untuk itu.

    BalasHapus
  17. sama dengan bukan detikcom, ane belum punya cukup jiwa militannya, biarlar yang lain saja, kita mendukung saja...

    BalasHapus
  18. waduh mengerikan sekali kalau sampai dilapor ke polisi.

    tapi kayaknya koran mengkomersialkan berita sah2 aja, biasanya berhubungan dengan pameran dan ditandai dengan artikel pariwara.

    masalahnya adalah pembaca dibuat bingung, apakah itu iklan atau berita. seperti kebingungan saya di artike ini --> http://us.detikhot.com/read/2011/04/15/073327/1617927/445/carissa-putri-yang-dikabarkan-menghilang-sudah-ditemukan

    BalasHapus
  19. Antyo Rentjoko:
    Terima kasih, Paman sudah mau memberi advicenya di blog ini. Sebetulnya kemarin medianya (Radar Nganjuk) sudah melakukan langkah seperti yang Paman Tyo sebutkan itu. Memberikan tanggapannya di artikel kritik Mas Widodo. Namun sayangnya dia disisi lain juga melakukan aksi persuasif dengan melakukan teror ke Mas Widodo. Bahkan mengancam akan mempidanakan jika kritiknya tak dicabut. Akhirnya teman saya ngalah dan menghapus artikel kritiknya dan menggantinya dengan artikel permohonan maaf.

    Setelah kasusnya menjadi ramai akhirnya artikelnya dipublish kembali di blog supaya jelas duduk permasalahannya apa.

    bennythegreat:
    Terima kasih. Salam kenal juga, Mas.

    Vicky Laurentina:
    Salah satu efek samping yang tidak bisa dihindari, Mbak Vicky. Karena dia jadi obyeknya. Tapi blog saya juga menuai berkah. Banjir pengunjung dari Twitter karena artikelnya banyak di-RT oleh kawan-kawan blogger. Nah, betul itu, Mbak. Muatan iklan dengan redaksional itu harus dipisah dan diberi keterangan atau border yang jelas. Jika tidak, itu sama saja seperti membodohi pembaca.

    bukan detikcom:
    Oh, ya Mas? Dulu Mas Gardino juga gitu. Biasanya pertimbangan kebanyakan orang adalah karena keluarga, Mas. Kalau masih remaja kita berani aja kalau mau fight karena belum punya buntut. Setelah punya anak istri kita mikirnya akan jadi lain. Betul?

    Orang yang Mas Gardino sebut (Paman Tyo) ada disini, lho ikut berkomentar. :) Saya juga lagi belajar cara mengkritik yang seperti itu, Mas. Bagaimana memadukan gaya kritik orang Surabaya yang blak-blakan dengan orang Jogja yang santun. Halus namun tetap tajam menusuk dan kalau bisa sulit dipatahkan

    Suke:
    Tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting dukungannya.

    FaceLeakz:
    Koran mengkomersialkan berita? Selama itu ditandai dan bisa dibedakan antara artikel dan pariwara tak masalah, Mas. Yang tak boleh adalah mencampuradukkan keduanya, antara muatan redaksional dengan iklan.

    Saya sudah buka linknya, Mas. Sebetulnya gampang saja membedakannya. Lihat tag di bawah judulnya. Jika berbunyi "Advertorial" itu adalah pariwara.

    BalasHapus
  20. Kalau masalah mas Widodo yang nulis, saya pastikan itu bakal menggigit deh :D

    Ya, sebenarnya keberadaan blogger2 kritis itu perlu. Selain sebagai penyeimbang wacana di blogosphere (yang bapak sentil dgn kebanyakan munafik *hehe*), blogger2 kritis ini juga kadang bisa memutar balikkan opini main-stream.

    Contoh, tentang kemelut kongres PSSI kemarin. Sebagai penganut main-stream, saya pasti ikut menghujat kelompok 78. Namun setelah membaca artikel2 dari blogger kritis, wawasan saya bertambah. Meski memang tak merubah pendirian/judgment awal, opini mereka sungguh masuk di akal dan patut dijadikan referensi sebagai penyeimbang wacana.

    Yah, sekali lagi kritik dan bersikap kritis itu memang perlu. Kalau tidak, salah-salah kita malah terus menerus tenggelam dalam ke-jumud-an dan kita tak sadar dengan hal itu.

    Salam untuk mas Widodo! Keep rockin' the blogosphere! :D

    BalasHapus
  21. Darin:
    Adanya blogger seperti tipe Mas Widodo saya anggap sebagai penyeimbang, Mas. Bukannya saya kurang suka dengan tipikal umumnya blogger yang banyak basa-basinya itu, hanya kadang saya jenuh dengan banyaknya blog yang begitu. Cari aman dalam beropini atau nulis! Adanya blogger macam Mas Widodo bisa memberi warna lain. Warna alternatif.

    Saya pun kalau harus mengklasifikasikan diri entah saya tepatnya berada dimana. Apa yang masih suka basa-basi dan munafik itu? Saya merasa kekritisan saya tak sekritis Mas Widodo dalam hal mengkritik yang suka blak-blakan apa adanya.

    BalasHapus
  22. hehe, saya juga pernah pak, mirip kejadian diatas, dihadapi dengan kepala dingin bakal selesai kok, kasus diatas malah memberi pelajaran bahwa mengalah bukan berarti kalah, asalkan kebebasan kita menulis tidak terpasung, saya rasa, semua kritik dapat kita atasi dengan baik.

    BalasHapus
  23. hanif:
    Kasusnya sekarang sepertinya sudah berhenti, Mas. Pihak Radar Nganjuk sudah tidak berani mengusik lagi. Ya, mungkin dia sadar langkah yang diambilnya kemarin (meneror) itu sebuah kesalahan sehingga tak berani meneruskannya lagi. Langkah kawan saya, Mas Widodo kemarin juga tepat. Mengalah dulu dan akhirnya menang.

    BalasHapus
  24. wow....keren...benar2 dicari banyak orang ya... :D


    bisa jadi artis tuh :D

    BalasHapus
  25. Skydrugz:
    Blogger yang seperti itu (kritis) banyak yang nyari, Mas. Selain dicari Polisi tentunya juga dicari pembaca sebagai alternatif. Jadi artis? Bisa aja. :D

    BalasHapus
  26. Saya belum lama sih kenal dengan bro widodo kebetulan sama-sama pengunjung blog EA... Kritis/kritik itu bagi saya tergantung dipandang dari sudut mana... Bagi saya kritik yang bersifat membangun bukanlah kritik tapi bagi saya itu merupakan MASUKAN. Namun memang ngga semua orang suka dikritik dan memang tidak sedikti yang mempunyai sifat pengecut dan media mungkin salah satunya... Mereka sering memberikan kritikan/masukan yang agak pedas namun ketika mereka dikritik kuping mereka langsung memerah seperti yang dialami oleh bro widodo... Tapi saya setuju kok dengan pendapat bro Widodo, masa berita dikomersilkan??? Memang seberapa hebat sih media itu sampai-sampai jual mahal mengkomersilkan beritanya????

    BalasHapus
  27. bro eser:
    Seberapa hebat? Kalau saya memandanganya bisa karena memang hebat betulan sehingga melakukan itu, mengkomersialkan berita. Atau, bisa jadi karena memang tak laku korannya sehingga miskin pemasukan sampai-sampai mengkomersialkan berita. Betul, Bro?

    BalasHapus
  28. Artikel di blog ini sangat inspiratif, saya merasa bahwa author blog ini adalah blogger sebenarnya

    BalasHapus
  29. Om Tiger:
    Terima kasih atas apresiasinya, Om. Saya doakan semoga kontesnya menang. :)

    BalasHapus
  30. tidak! tidak benar bahwa kalau warga desa meminta diliput maka pers berhak meminta bayaran sebagai biaya advertorial. salah besar!

    tapi saya sependapat dengan anda, dan mendukung sikap anda, dalam konteks bahwa blogger harus kritis. blogger tidak perlu takut mengkritik media pers dan wartawan. apalagi kalau misalnya blogger menemukan media abal-abal dan wartawan sontoloyo, jangan takut, tulis saja!

    saya belum terlalu lama jadi blogger: mulai maret 2007. tapi sudah cukup lama bekerja sebagai wartawan: sejak akhir 1994. tahun 2000 saya bekerja sebagai redaktur di harian milik jawa pos grup di medan.

    dengan pengalaman sebagai wartawan itulah saya berani mengatakan bahwa liputan berita "dari desa ke desa" tidak pantas dijadikan advertorial. itu melanggar etika pers! itu mesti gratis! tulisan advertorial tidak berlaku untuk liputan berita pedesaan.

    kecuali si kepala desa meminta diliput dan diterbitkan satu halaman berwarna penuh saat dia menikah untuk yang keempat kali! itulah baru layak disebut "anda ingin terkenal or tenar?" seperti bunyi penawaran di radar nganjuk.

    BalasHapus
  31. Jarar Siahaan:
    Terima kasih atas kunjungan dan komentar tanggapannya, Pak Jarar. Senang sekali bisa terima kunjungan blogger seperti Anda, terlebih bapak seorang wartawan senior yang tentu saja lebih paham masalah etika pers ini.

    Berarti intinya apa yang dilakukan oleh Radar Nganjuk tetap tidak bisa dibenarkan, ya Pak? Karena sudah mengkomersialkan berita.

    Tahun 2007 ngeblog? Wah, saya malah baru akhir 2008, Pak mengenal dan mulai ngeblog.

    BalasHapus
  32. Duh sayang, saya telat...
    blog sudah dihapus pinginnya lihat tulisan mas widodo.

    BalasHapus