Selasa, 21 Juni 2011

Penagih Hutang Gaya Baru Dari BNI

SMS Spam
Sebagai salah satu nasabah bank dan sekaligus penerima Kredit KPR di salah satu bank BUMN terkemuka, saya sebut saja nama banknya bank BNI, mungkin cara-cara yang akan saya bahas ini termasuk cara baru mirip penagih hutang (debt collector) dalam menagih hutang. Mengapa? Karena meski cukup halus mengingatkan, tapi prakteknya kalau boleh saya sebut mirip benar dengan gaya seperti debt collector dalam menagih hutang. Hanya bedanya yang ini tak pakai cara kekerasan tapi pakai pesan singkat lewat SMS.

Tanggal 13 Juni 2011 kemarin saya terima SMS Broadcast dari bank BNI. Isinya mengingatkan jatuh tempo pembayaran angsuran kredit KPR rumah saya. Dan kemarin, hari Senin 20 Juni 2011, SMS yang sama dikirim kembali ke ponsel saya. Isi SMS-nya berbunyi demikian:

Kpd Yth. Bpk/Ibu angs BNI KPR akan jatuh tempo tgl. 30-06-11, mhn sgr dibayarkan tgl. 24-06-11, abaikan sms bila sudah setor, info 0274-552181

Ya, namanya diingatkan itu tak masalah, wong niatnya baik? Dia mengingatkan kewajiban nasabah atau debiturnya agar membayar sebelum jatuh tempo. Ini wajar. Tapi yang tak wajar adalah mengapa sampai berulang kali dalam sebulan? Ini yang tentu saja membuat saya risih membacanya. Batas antara mengingatkan dan menagih jadi tipis sekali bedanya kalau sampai dikirim berulang kali seperti itu. Betul?

Mereka (BNI) boleh saja mengklaim itu haknya dia untuk mengingatkan nasabah. Tapi, saya juga berhak risih bahkan boleh saja tersinggung karena tak sepantasnya dia melakukan itu ke saya dan sampai berulang-ulang.

Anda ingin tahu alasan-alasan saya mengapa saya berhak tersinggung? Berikut beberapa alasannya:

  1. Saya sudah nasabah loyal BNI cukup lama sejak tahun 2000.
  2. Saya tak pernah telat nunggak bayar angsuran kredit setiap bulan.
  3. Sistem pembayaran angsuran KPR saya sudah pakai sistem autodebit.
  4. Sudah ada saldo ditahan dalam rekening tabungan saya sebesar satu kali angsuran sebagai jaminan jika saya molor bayarnya.
  5. Selama ini bank BNI berlaku tak adil. Hanya care kepada para kreditur (deposan) tapi tidak kepada debitur seperti saya. Baca alasannya disini.

Sedikit cerita juga mengenai diri saya. Saya tak bermaksud mengecap diri saya sendiri, ya. Tapi saya termasuk orang yang tak berani main-main dengan kewajiban (hutang). Poin nomor 3 diatas, pembayaran sistem autodebit, sudah saya lakukan hampir pada semua kewajiban rutin bulanan saya. Bukan apa-apa, saya tak ingin track record saya buruk hanya gara-gara telat atau lupa membayar kewajiban. Sehingga, seluruh tagihan bulanan saya dari mulai Bayar Tagihan Listrik, ponsel, internet, kartu kredit dll semua sudah saya bayarkan secara otomatis dengan sistem autodebit.

Intinya, saya sangat berkomitmen dengan kewajiban saya. Jadi tentu saja saya akan marah besar jika ada pihak yang mencurigai saya sebagai calon pengemplang. Ingat kejadian yang dulu sempat membuat saya marah. Saya sempat dicurigai Telkomsel dianggap tak mampu bayar tagihan Internasional Roaming hanya gara-gara tagihannya melonjak diatas satu juta. Padahal tagihan kartu Halo saya sudah pakai sistem autodebit. Baca artikelnya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Demikian sedikit unek-unek dari saya. Maaf, kalau saya beri bacaan yang hanya berisi keluhan saya. Semoga pengalaman saya bisa jadi pelajaran buat semua, terutama para Corporate Marketing dalam memperlakukan customernya. Terima kasih sudah mau mendengarkan unek-unek yang tak penting ini. Oh, ya apa diantara pembaca ada juga yang pernah mengalami kejadian serupa seperti cerita saya ini? Silahkan share disini, ya!

*** Update: Hari Rabu, 22 Juni 2011 akhirnya pihak BNI dari perwakilan Jogja menemui saya menyelasaikan masalah ini dan meminta maaf kepada saya.

Sumber Foto: SMS Spam


Bookmark and Share

28 komentar:

  1. menurut saya Kreditur tidak berhak mengingatkan, kecuali si debitur sudah kelewat jatuh tempo, hehehe

    hak mereka sebenarnya adalah menerima pembayaran paling lambat pada tanggal jatuh tempo.

    mengingatkan berkali kali bagi saya pun malah mengganggu orang yang berhak hidup nyaman :D

    BalasHapus
  2. hak konsumen tetaplah nomer satu, setidaknya cara diatas jika digunakan terus oleh produsen, lambat laun banyak nasabah yang menutup buku disana dan berpindah ke lain bank, ini setidaknya bisa dijadikan pelajaran bagi produsen untuk meningkatkan layanannya bagi para nasabah yang setia.

    BalasHapus
  3. Hihihii lah tapi memang cara penagihan itu berbeda-beda ya pak, mungkin untuk beberapa orang cara penagihan seperti itu terkesan mengejar seperti debt collector tapi untuk sebagian orang yang pelupa mengingatkan dengan cara seperti mungkin cocok, tapi ya kita tunggu saja respon dari BNI hehehe

    BalasHapus
  4. sms spam sudah sering terjadi, bahkan dari provider sndiri :D

    BalasHapus
  5. Pernah Mas. Saya diburu-buru orang PLN (atau pesuruhnya?), katanya saya nunggak 4 bulan. Bayangkan Mas, betapa malu dan murkanya saya saat itu. Padahal seharipun saya nggak pernah nunggak. Seperti yang Mas Joko bilang, saya juga sangat tau kewajiban saya. Meski nggak make sistem autodebet, setiap gajian saya langsung pilah-pilah masuk ke amplop masing-masing. Besoknya langsung setor ke bank2 yang bersangkutan. So, wajar aja Mas Joko tersungging menurut saya. Boleh aja, kok. Nggak ada yang larang :)

    BalasHapus
  6. Memang saat ini banyak perusahaan keuangan berlomba-lomba meningkatkan pelayanan pra Jual dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan user yang sudah menjadi CLIEN, NASABAH, tapi sayangnya mereka menggunakan system autopilot yang berlebihan durasinya yang ujung-ujungnya merasa seperti di kirimi pesan SPAM yang mengganggu.

    Kadang hal ini dijadikan senjata dalam presentasi penjualan para agen asuransi. Seperti bilang, kalau kita menabung satu milyar, di bank staff bank nggak akan datang bawa roti tar saat, kita ulang, tahun, kita sakit rawat inap 7 hari mereka bisa dipastikan tidak menjenguk kita. Tidak ada perlakuan istimewa padahal kita menitipkan uang yang sangat besar. Tidak seperti agen asuransi.

    BalasHapus
  7. waaah, saya sudah lama gak berurusan dengan bank. sejak balik ke jogja uang cash terus urusannya. tapi yang jelas kalo mau buka rekening belain berangkat pagi deh, kalo berangkat siang pernah sampe bank tutup gak terlayani

    BalasHapus
  8. jarwadi:
    Kayaknya buat orang yang punya hutang lama-lama memang tak akan bisa hidup nyaman, Mas.

    hanif:
    Betul, Mas. Saya pun kalau ini tak ditanggapi serius oleh mereka maka saya akan siap-siap take over kredit saya ke bank lain. Bank pemberi KPR, kan bukan hanya bank BNI saja. Masih banyak bank lain yang malah memberikan bunga lebih kompetitif.

    sibair:
    Kalau kasusnya seperti tagihan renewal domain dan hosting yang setahun sekali menurut saya wajar, Mas jika diingatkan karena intervalnya cukup lama, setahun. Lha, ini tagihan rutin tiap bulan masak harus di-SMS terus untuk diingatkan setiap bulan.

    r10:
    Yang namanya SMS Spam berupa iklan kalau di ponsel saya hampir setiap hari selalu nerima, Mas. Betul.

    DewiFatma:
    Ternyata Mbak Dewi punya pengalaman menjengkelkan juga, ya dengan PLN. Ya, kita tentu saja berhak marah kalau dituding sebagai penunggak kalau kita bukan tipe orang yang seperti itu.

    HENDRIK LIM:
    Benar, Pak sistem broadcast SMS-nya sepertinya autopilot. Namun meski autopilot seharusnya mereka juga harus memilah-milah, mengimbangi dengan melihat profil nasabahnya juga. Jangan disamaratakan semua nasabah seolah orang pelupa yang suka nunggak bayar. Mereka juga harus melihat track record nasabah atau debiturnya juga.

    Kalau memang mau autopilot semua harusnya bisa meniru cara operator Telkomsel dan Telkom Flexy. Mereka selalu kirim SMS ucapan terima kasih setiap kali pelanggan selesai bayar tagihan. Jangan hanya waktu nagih saja berulang kali ngingatkan tapi waktu sudah dibayar diam saja.

    Terima kasih poin tambahan contohnya, Pak. Berarti pelayanan yang tidak istimewa pada bank itu jadi bahan argumen dalam presentasi agen asuransi, ya? HeHeHe

    Eh, tapi setahu saya kalau terhadap para deposan gede perlakuannya beda, Pak. Contoh demi membela mereka agar tak menarik uangnya, suku bunga selalu ditahan meski suku bunga BI turun, karena rata-rata bank takut mereka (deposan) menarik uangnya. Saya pernah dapat cerita dari teman yang pura-pura narik uangnya dari bank kemudian oleh orang banknya sampai didatangi ke rumah dengan dibawakan banyak oleh-oleh buah-buahan segala macam, Pak. Dia dibujuk agar jangan menarik uangnya.

    Ami:
    Baguslah, Mbak kalau sudah tidak pernah berurusan dengan kredit dengan bank. Kalau duit Mbak Ami banyak harusnya buka rekening giro. Jangan buka rekening tabungan biasa sehingga saat teller bank sudah tutup pun masih bisa dilayani. Bank itu kebanyakan memberikan spesial pelayanan buat nasabah yang duitnya banyak di bank. Contoh pemilik rekening giro dan para deposan. Bank tak berani main-main sama mereka.

    BalasHapus
  9. Pak ..
    caranya autodebet yang otomatis gtu bagaimana ya ?
    wah saya mw ne .. kalo dibuat otomatis. .hehe

    BalasHapus
  10. Apa kabar Mas Joko,
    Kalau saja SMS tersebut bukan spam seperti yang dikatakan r10, tentu hal itu sangat tidak wajar apalagi setelah saya simak dengan seksama alasan Mas Joko di point 1-4. Kemungkinan besar saya pun akan tersinggung jika mengalami hal serupa, lho kok perusahaan sedege itu tidak ada auto communication antar staf/divisi?

    Kalau pun akan melakukan penagihan kenapa gak telpon langsung, kan lebih professional, terlebih kepada nasabah setia seperti Mas Joko.

    BalasHapus
  11. ada-akbar.com:
    Caranya tinggal mendaftarkan aja autodebitnya ke bank, Mas Akbar. Kalau rek. tabungan bisa lewat ATM atau ke teller bank. Kalau pakai kartu kredit harus ngisi aplikasinya dulu ke bank penerbit kartu kreditnya. Kalau kartu kredit Citibank bisa langsung request by phone aja. Udah punya kartu kredit belum? :)

    Yuda:
    Kabar saya juga baik, Mas Yuda. Semoga demikian dengan Mas Yuda.

    Itulah, Mas karena semua sistem serba otomatis pakai autopilot, jadinya orang dibroadcast oleh mesin. Mesin, mana ada yang bisa memanusiakan manusia. :(

    BalasHapus
  12. sebagai orang yang kerja di bank sangat aneh sekali sih klo ada bank yang kirim Reminder seperti itu, karena setahu semua bank pakai autodebet,baik bank tempat saya kerja maupun juga bank tempat tetangga yang saya juga KPR di sana, bahkan kemaren saldo rekening ternyata kurang seratus ribu untuk didebet saja baru hari H+1 saya di telpon, kalau di leasing baru wajar dikasih remider, itu pun paling cepat 3 hari sebelum hari jatuh tempo...

    BalasHapus
  13. Sriyono Semarang:
    Oh, Mas Sriyono orang bank, toh ternyata? Senang dengarnya, Mas, setidaknya komentar dari Mas Sriyono bisa mewakili sudut pandang dari sisi banknya. Berarti, saya tak sendirian yang mengatakan kalau itu tak wajar. Terima kasih, Mas.

    BalasHapus
  14. Rumit yach jadi nasabah bank..

    BalasHapus
  15. Dari dulu saya tak pernah suka dengan cara penagihan, sampai sekarang sudah putus hubungan dengan Bank. Sebenarnya kita sudah menjamin, tapi kenapa Bank lebih tak berprofesional soal tagih menagih. Semua memang berujung pada tunggakn, tapi sepanjang kita bayar plus bunga mereka malah lebih senang kan?

    BalasHapus
  16. zhanaz45:
    Rumit, Mas. Serumit waktu mengajukan kreditnya. Segebok syarat2nya. :D

    Kaget:
    Nah, seharusnya begitu. Betul sekali, Mas. Waktu terlambat ada late charge. Bukankah itu malah untung banknya karena dapat tambahan.

    BalasHapus
  17. Ha ha..., kalau begitu berarti jika mau pasang kartu kredit cukup menyerahkan sebuah nomor ponsel yang jarang dipakai :D - khusus menampung sms spam :)).

    BalasHapus
  18. Cahya:
    Atau alternatif lain tutup atau ganti nomor sekalian biar mereka tak bisa kirim SMS Spam ke saya lagi. :D

    BalasHapus
  19. Hebat ya yg bikin blog nya... bisa nge klik and nge link kemana-mana tanpa di sadari sm pembacanya... good...

    BalasHapus
  20. Itu terjadi di bank BNI jogja ato di bank BNI mana aja y? Coz saya mau ngajuin KPR di bank BNI.

    BalasHapus
  21. Anonim:
    Kalau pengalaman saya ini saya alami dengan BNI Jogja

    BalasHapus
  22. bener tuh, saya juga sering mengalami. padahal saya gak pernah telat.

    BalasHapus
  23. saya ada pengalaman dengan kartu kredit.... saya ada beberapa kartu kredit, karena kerjaan kadang di buang ke pedalaman, saya tidak bisa bayar tagihan, biasa tlp berdering hampir tiap hari, menagih cicilan.... hanya 1 bank penerbit kartu kredit yang cuek2 aja, gak tlp, gak blokir... telat sampe sebulan penuh di biarin... cm kasih denda di billing, bank itu bank niaga, stl keluar dari pedalaman, pertama yg saya lunasi billing nya adalah bank niaga... sayang sih...

    BalasHapus
  24. saya hanya sebagai penengah dari stiap uneg-uneg.. klo mnerutu saya pribadi, toh sifatnya hanya mengingatkan , meskipun berkali-kali.. ya di anggap biasa saja, tergantung pemahanan kita.. kan biasanya dalam sms itu ditulis, "abaikan jika telah melakukan pembayaran". jika kita telah membayar tepat waktu sms itu pun sendiri akan hilang saat jatuh tempo. lagian emang kewajiban kita yng sebagai debitur membayar,dan hak kreditur mengingatkan.. simplenya tinggal di hapus kan kalu udh bayar.. jadi dianggap biasa saja hal seperti ini, tidak perlu di tanggapi dengan emosi.. terima kasih

    BalasHapus
  25. Adi:
    Masalah ini sudah selesai, Mas. BNI sudah meminta maaf atas kejadian SMS-nya tersebut. Dan sekarang BNI sudah tidak SMS2 ke saya lagi. Permohonan keberatan saya dipenuhi oleh pihak BNI.

    BalasHapus
  26. Salam mas Joko,.

    Curhat en berbagi pengalaman sy noh,..
    Saya pernah mengajukan aplikasi kartu kredit BNI di daerah tempat saya bekerja, yang pertama ditolak tanpa alasan yg jelas dan yang kedua (gak menyerah ajukan lg) ditolak juga tetap tanpa alasan yg jelas haha,.. Akhirnya sy berfikir knp bs ditolak padahal tmn sy yg pendapatan bulanannya setengah dibawah sy di approve,. Usut punya usut sy simpulkan sendiri bahwa gaji sy tiap bulan selalu sy trnsfr ke rek istri sy (BNI jg) dan selalu sy sisakan di tabungan sy sebesar lbh krng 10-20%, mungkin ini yg menjadi pertimbangan BNI mengapa tdk menyetujui pengajuan kartu kredit sy, namun sy kembali mikir apa pihak BNI tidak mempelajari history/ mutasi rek sy??? Jgn2 saat istri sy mengajukan aplikasi credit card lngsng di setujui lg haha,.. Akhirnya sy membuka rek BRI tempat sy tinggal jg tanpa bermaksud menjelekkan citra BNI sy ceritakan kronologisnya, petugas sdkt heran mengapa pihak BNI menolak aplikasi kartu kredit sy pdhl status sy di perusahaan adlh pegawai tetap dan berpenghasilan diatas rata-rata (pihak BNI bisa lihat history transaksi sy antara saya & istri),. Pihak BRI senyum lucu lihat perlakuan BNI terhadap saya dan menyarankan utk membuka aplikasi kartu kredit di BRI dan berjanji akan membantu meloloskannya dan sy msh mempertimbangkan mengingat blm terlalu membutuhkan,. Teman2 sekantor yg tau cerita tsb mulai berfikir untuk beralih kartu kredit ke BCA, Mandiri or BRI,.

    Alahasil BNI hanya sebagai transit gaji para staff yg selanjutnya akan berpindah ke rekening2 favorit yg lebih menghargai nasabahnya,.

    Salam,.
    -Cahyo

    BalasHapus
  27. Mungkin saya mau mengkomentari tulisan ini.. Tanpa ada maksud membela bank BNI

    Untuk masalah deposan lebih di utamakan karena di semua Bank yang dikejar adalah Dana Pihak Ketiga (deposito, giro, tabungan), jadi tidak heran sekarang semua bank menerapkan sistem nasabah prioritas.. Dan yang perlu diketahui bahwa semakin banyak nya dana tabungan yang dimiliki sebuah bank, prestige mereka sebagai Bank terbesar atau Bank pilihan masyarakat itu semakin tinggi..
    Dan seperti yang kita tahu, bahwa pencairan kredit itu beresiko, karena bila debitur tidak sanggup membayar bank sendiri memiliki resiko kerugian... Dan sebuah bank akan dikatakan tidak sehat jika kredit macetnya kurang lebih d atas 3% .. Sehingga wajar untuk penagihan ini sangat diperhatikan oleh semua bank.. Contohnya pada saat kris mon thn 98, kredit kredit macet itu salah satu penuebab banyak bank yang bangkrut..
    Kalo untuk debitur ada sistem auto debet, di sistem bank jg ada untuk menyebarkan sms penagihan secara otomatis.. Jd itu by sistem pak untuk pengirimannya. Karena nasabah nasabah yang mengutang itu semakin hari semakin banyak ulah jadi wajar setiap bank tidak ingin Debiturnya jatuh ke kategori macet

    BalasHapus