Rabu, 01 Juni 2011

Apakah Seorang Blogger Publisher Harus Hilang Kekritisannya?

IBNKemarin adalah hari yang cukup mendebarkan buat saya. Saya memposting tulisan yang mengkritik brand besar sekelas Telkomsel. Saya mengkritik Telkomsel dan mengatai penipu di artikel “Promosi Marketing Menipu Pelanggan di Ultah Telkomsel ke-16”. Penipu? Jujur dalam hati saya, ini bukan sebuah perkara yang mudah buat saya. Mengapa? Alasannya, pertama saya harus mengkritik brand yang pernah menjadi klien saya di IBN, tempat saya bekerja freelance sebagai publisher untuk mencari uang di internet. Kedua, kritik yang saya tulis beresiko cukup besar. Beresiko saya akan ditendang dari daftar blogger yang akan mendapatkan job review dari Telkomsel lewat jaringan IBN.

Mengapa saya sampai berani mengambil resiko sebesar itu. Resiko yang akan mengucilkan bahkan mungkin memecat saya sebagai publisher karena berani mengkritik advertiser? Ada dua alasan kuat. Pertama, saya ingin membuktikan komitmen saya di artikel yang pernah saya tulis di blog ini. Baca artikel “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”. Kedua, sekaligus saya merasa tertantang untuk membuktikan artikel Mas Jarwadi di artikelnya yang berjudul: ”Blogvertorial Jinakan Blogger Kritis?” bahwa tidak semua blogger kalau sudah jadi publisher akan hilang kekritisannya.

Baiklah, saya akan kutip komentar saya yang saya tinggalkan di blog Mas Jarwadi. Dan silahkan Anda baca juga artikelnya yang disana agar Anda bisa mengikuti alur dari diskusinya.

Wah, artikel ini sudah memberikan kritik telak kepada saya, Mas. :) Saya selama ini memang tukang kritik di blog. Dan akhir-akhir ini juga menulis advertorial brand dari produk yang ironinya juga pernah saya kritik.

Tanpa bermaksud membela diri sebetulnya jauh sebelum ini diributkan selama ini saya sudah terbiasa mengkritik dan memberikan apresiasi sekaligus di blog saya. Saya pernah menulis review positif, juga pernah menulis kritik sekaligus di blog saya. Dan itu tak tak dibayar semuanya kecuali yang advertorial.

Kalau Mas Jarwadi tak percaya silahkan telusuri arsip artikel blog saya yang berlabel Telkomsel (http://www.diptara.com/search/label/Telkomsel). Di situ ada banyak artikel yang beragam. antara ada yang memuji dan mengkritik. Kalau saya intinya akan menuliskan apa yang saya alami dan praktekkan saja. Saya pun dengan tegas akan menolak kalau diminta mereview produk yang buruk. Terlalu mahal harus menggadaikan reputasi dengan uang yang besarnya tak seberapa.

Jadi dalam menulis advertorial pun juga sama. Pantang bagi saya nulis advertorial kalau belum mencobanya sendiri dan melihat apa yang menjadi kelebihan produknya.

Oh, ya di IBN pun sebetulnya juga ada himbauan begitu. Dalam menulis advertorial harus ditulis dari sudut pandang user experience. Bukan ditulis dengan style seperti produsen dalam mengiklan. Artinya, advertorial harus kuat sisi editorialnya dan itu dihasilkan dari test uji karena kita sebagai konsumen sudah menggunakan produknya.

Ya, tapi saya sadar tak semua blogger melakukan atau bisa seperti itu. Saya pernah menjumpai seorang blogger publisher IBN yang mereview produk WhatsApp dan saya test tanya apakah Anda sudah mencobanya? Jangan bilang ke saya kalau belum nyoba tapi sudah berani nulis review ini. Dan dia jujur dan malu-malu mengatakan ke saya ternyata belum mencobanya.

Tetap bertahan di sisi idealis jika sudah ada uang di dalamnya memang tak mudah, Mas. Namun seyogyanya antara kritik dan advertorial semestinya tetap mesra berdampingan dalam sebuah blog untuk membuktikan kita punya intregritas kejujuran. Artinya, kalau mau independence ya seharusnya begitu. Saya pernah menuliskannya di artikel http://www.diptara.com/2011/04/antara-idealisme-tuntutan-independen.html yang mengulas masalah ini.

Terlepas dari itu semua, produk buruk tentu tidak berlaku seterusnya, kan? Mereka, para pemegang merk juga banyak, kok yang sportif mau mengakui kekurangannya dan akhirnya menerima kritik dari kita terus memperbaiki produk atau pelayanannya.

Oke, next akan saya buktikan bahwa saya masih berani mengkritik brand yang pernah membayar saya seperti yang saya upadate di Twitter tadi.

Terima kasih banyak, Mas atas kritiknya. :)

Khusus menanggapi artikel Mas Jarwadi itu saya sampai cukup panjang meninggalkan komentar disana. Sampai sepuluh paragraf. Itu diluar kebiasaaan saya karena tak biasanya saya sampai berkomentar sepanjang itu. Hanya kasus-kasus tertentu yang saya benar-benar terusik saya baru akan menuliskan komentar sepanjang itu. Dan lagi, eman-eman, toh nulis sepanjang itu, kan sudah bisa jadi satu posting tersendiri di blog saya. Betul? :D

Secara personal lewat BBM di BlackBerry, saya bilang ke Mas Jarwadi, saya tidak marah disentil dalam artikel itu dan Mas Jarwadi juga menjelaskan ke saya sebetulnya artikel itu ditujukan buat temannya, bukan buat mengkritik saya. Namun karena apa yang ditulis itu faktanya sangat mirip dengan kondisi saya saat ini tak urung saya juga tertohok dengan cukup telak juga. Sehingga lahirlah tulisan saya kemarin yang mengkritik Telkomsel untuk menjawab tantangan sekaligus komitmen yang saya dengung-dengunkan di blog ini sebelumnya. Saya berkomitmen tetap indepence sebagai blogger. Dan kebetulan momennya pas ada kasus masalah yang menimpa teman saya, dikecewakan oleh Telkomsel.

Dan apa berkah dari menulis kritik itu? Anda ingin tahu? Saya jadi menuai dua kejadian mengejutkan gara-gara menulis artikel itu. Pertama, saya akhirnya diikuti (di-follow) oleh akun resmi Telkomsel di Twitter. Kedua, salah satu manager yang mewakili management Telkomsel, Ibu Sri A. Yusmeniwati Manager Corporate Communications PT Telkomsel Area Jawa Bali menyempatkan diri datang dan mengunjungi blog saya. Sampai meninggalkan komentar di artikel tersebut untuk menanggapi kritik saya.

Itu bagi saya sebuah kejutan yang luar biasa. Karena sebelumnya saya pernah menulis keluhan serupa belum ada satupun pihak dari Telkomsel yang resmi menanggapi lewat internet, baik lewat blog, Twitter maupun milis. Walau keluhannya cukup ramai dithreat oleh kawan-kawan saya di milis Telematika sampai hampir sebulan lamanya waktu ada kejadian kurang menyenangkan sepulang dari Korea bulan Maret kemarin. Bisa baca artikel keluhannya disini “Telkomsel Terlalu Berlebihan Memperlakukan dan Mencurigai Pelanggan Kartu Halo”.

Terakhir, pesan yang ingin saya sampaikan kepada Anda di tulisan ini. Jika Anda adalah seorang publisher sama seperti saya, saya berharap Anda pun seharusnya juga berbuat sama tetap mempertahankan sikap kritis Anda sebagai seorang blogger agar kredibilitas blogger di mata pengunjung tetap terjaga. Jika tidak, apa yang akan dikuatirkan dalam tulisan Mas Jarwadi tersebut bukan tidak mungkin akan terjadi suatu saat nanti. Blogger sudah tidak dipercaya lagi karena lebih mirip sebagai corong produsen daripada blogger pemberi review yang jujur, rekomended, dan bisa dipercaya para pembaca.

Pertanyaan saya di akhir artikel ini kepada Anda. Apakah Anda setuju dengan saya kalau antara advertorial dan kritik tetap harus sejalan dan bersanding mesra, sejajar di sebuh blog? Ataukah sebaliknya, karena Anda sudah dibayar jadi harus manggut-manggut dan menghilangkan sikap idealis dan kritis Anda sebagai seoarang blogger?


Bookmark and Share

31 komentar:

  1. Menurut saya tidak apa-apa memberikan advertorial sesuai dengan porsinya, namun sebenarnya kritikan pun tidak akan masalah. Dan tidak seharusnya pihak pemberi advertorial menjatuhkan penulis blog karena mengkritisi balik klien yang menyerahkan produknya untuk diulas.

    Alasannya sederhana, karena kritisi pada dasarnya bukan untuk menjatuhkan. Saya rasa seorang narablog yang bijak tidak akan segan menggoreskan penanya setajam mungkin dalam kritisi, bila perlu menelanjangi semua kelemahan yang ada. Karena hanya pada titik tersebut kritisi bisa berbalik menjadi nilai refleksi yang baik bagi pihak yang dikritisi.

    Jika pihak yang menerima masukan lewat tulisan seorang kritikus tidak bisa berlapang hati, berarti memang tidak akan ada pembenahan dan memperlihatkan betapa tidak profesionalnya pihak-pihak tersebut.

    BalasHapus
  2. Thanks atas sharingnya.
    Jng lupa ikutan acara di blog ku ya, ada hadiahnya juga:
    http://www.griyakuliner.com/pencapaian-anda-pada-mei-2011/
    Trims.

    BalasHapus
  3. Ketahanan Independensi seorang blogger tengah di uji kalau sudah bersentuhan dengan advertorial, itulah Mas Joko..saya ibaratkan dua sisi mata uang, yang angka buat commercial dan yang gambar buat identitas diri? soo..dua-duanya sangat dibutuhkan.

    BalasHapus
  4. Sejauh ini yang namanya iklan yang Mas Joko sebutkan saya bilang SUKSES busur panahnya tepat mengenai sasaran, banyak yang tertarik dengan penawaran tersebut namun...menggemaskan mereka menyembunyikan terms-nya! Saya teringat juga model iklan tiket pesawat murah dulu hanya 49ribu untuk jalan2 ke Luar negeri? ternyata selidik punya selidik hanya segelintir pembeli pertama yang mendapatkan nyesek nggak tuh..?
    Salam kenal Mas Joko..

    BalasHapus
  5. Berhubung saya belum pernah mendapat job review dari pihak Telkomsel (walaupun saya pengguna setia salah satu produknya), saya belum bisa menguji idealisme saya :-)

    Toh, selama ngeblog, saya juga pernah beberapa kali menulis pengalaman selama menggunakan produk/layanan Telkomsel. Mulai dari yang sangat memuaskan, hingga yang kurang memuaskan bagi saya. Bisa dibaca pada beberapa postingan lawas blog saya di kafegue.com

    Tapi saya setuju, bahwa publisher harus tetap berusaha kritis dan jujur dalam menulis tentang sebuah produk/layanan. Toh, walaupun saya nggak dibayar, saya tetap jujur memuji layanan salah satu Grapari Telkomsel ketika voucher saya rusak. Pun begitu ketika saya sempat merasa puas dengan speed Telkomsel Flash ketika sudah lewat kuota pemakaian wajarnya.

    Sebenarnya masih ada yang ingin saya tulis tentang layanan/produk Telkomsel (terkait komentar saya di postingan Pak Joko sebelumnya). Cuma masalahnya, saya masih kurang punya data/fakta yang akurat.

    BalasHapus
  6. Selama Kritiknya tidak bersifat menjatuhkan, atau menjelek-jelekkan aja kali ya? malah kalau kritiknya membangun kan bisa jadi bahan pertimbangan atau evaluasi bagi mereka. Dalam hal ini mungkin kritik termasuk kebutuhan juga. Sama seperti dunia film/sastra/lukis yang punya kritikusnya sendiri-sendiri.

    tetap kritis aja mas...

    BalasHapus
  7. Cahya:
    Diluar rasa kekawatiran saya, saya juga berpendapat sama dengan Mas Cahya. Perusahaan besar sekelas nasional tentu sangat terbuka dengan kritik. Tak ada dalam cerita korporasi besar ngamuk-ngamuk kalau dikritik oleh pelanggannya, terlebih kritiknya membangun. Di perusahaan saya pun kami juga sama sangat menghargai kritik dan masukan dari pelanggan toko kami. Kami tak main-main dengan kritik. Kritik atau keluhan pelanggan akan kami tanggapi serius demi terciptanya service yang lebih baik.

    Desi:
    Sama-sama. Terima kasih juga buat tawarannya.

    Agus:
    Ya, dua sisi yang sama-sama kita butuhkan, Mas. Pinginnya,sih kalau saya tetap jadi kolumnis murni namun kebutuhan dapur di rumah membuat saya juga perlu nyari uang tambahan dengan nulis advertorial. Yang terpenting indepensi saya harus tetap terjaga.

    Shafira:
    Dalam beriklan saya berusaha jujur, Mbak. Artinya saya akan melabeli dengan label Advertorial setiap tulisan yang berbayar atau berbau iklan marketing komersial. Saya tak mau menyembunyikan Term (syarat dan ketentuan) yang biasanya ada di penawaran marketing. Ini maksud saya juga agar tidak terkesan saya menutup-nutupi apalagi menjebak.

    Salam kenal juga.

    iskandaria:
    Saatnya nanti idealisme itu akan diuji, Mas Is. Tinggal menunggu waktu saja. He He....

    Saya sudah pernah membaca beberapa review tentang Telkomsel di blog kafegue.com, Mas Is. Dan isinya memang saya lihat jujur sesuai pengalaman. Ada review positifnya dan juga ada kritiknya yang membangun.

    Sebagai blogger (penulis) kita sudah terbiasa dengan data-data untuk membangun argumentasi. Betul? Jadi pantang bagi kita mengkritik hanya dengan asal mencaci tapi tak berdasar dengan fakta dan data.

    Huda Tula:
    Sepakat, asal kritiknya membangun. Dan tidak hanya mencela keburukannya saja tapi juga memberikan solusi masukan positinya. Itu baru namanya kritik membangun.

    Terima kasih atas supportnya, Mas Huda. Saya akan jaga sikap kritis itu.

    BalasHapus
  8. Wah salut...asal dibatas kewajaran dan sesuai ama fakta yang terjadi

    BalasHapus
  9. Saya tidak bisa berkomentar tentang ini. Saya hingga saat ini belum pernah mengalami pengalaman buruk dari marketing. Saya ini memang kuat terhadap godaan marketing pak.

    Saya ingat dulu ada teman kuliah yang heran melihat begitu cepatnya saya menolak tawaran produknya. :) Hingga sekarang saya selalu sangat selektif dalam berbelanja produk, baik produk biasa atau software.

    Jika kasusnya terkait blog personal, bisa jadi ini dilakukan langsung. Tapi, jika blog/situs besar, tindakan ini perlu diperhitungkan dengan matang. Seingat saya di artikel kemarin itu tidak ada kutipan SMS-nya kan. Artinya tidak ada bukti. Pihak perusahaan bisa berkelit.

    BalasHapus
  10. Ttoh yang dibilang bapa kurasa hanya sekedar menyampaikan unek2 dari bpa tentang sedikit miss komunikasi lewat sms yang membuat pelanggan sedikit terkecoh waktu itu, bukan bermaksud menjatuhkan Ads tersebut,.

    WAh sampai di Follow ama orang telkomsel langsung ya pa,, mantap, artinya keinginan bapa di artikel sebelumnya itu tercapai, yaitu ada instansi dari telkomsel yang menanggapi Tulisan bapa.

    BalasHapus
  11. Membahas Telkomsel, terus Twitternya di-follow Telkomsel. Coba lain kali bahas istana negara, Pak. Siapa tahu SBY jadi tertarik mem-follow Twitter Pak Joko, hehehe...

    Btw, saya makin salut dengan blog ini. Sangat jarang orang berani mengkritisi sesuatu (produk) yang sebelumnya telah menjadi kliennya. Dan kenyataan bahwa Telkomsel memberikan reaksi positif (memberikan komentar pada post yang mengkritisinya) bahkan mem-follow akun Twitter Pak Joko, membuktikan kalau Telkomsel memang ingin memperbaiki kualitas layanannya. Artinya pula, apa yang dilakukan Pak Joko melalui post kemarin (meski mungkin pahit bagi Telkomsel) namun bersifat konstruktif.

    Kejujuran seperti pada post kemarin juga menunjukkan bahwa integritas blogger tidak bisa dibeli, meski sesekali juga menulis post advertensi. Semoga blogger2 yang lain juga mengikuti hal positif ini.

    BalasHapus
  12. Pilihan sulit ya Mas. Disaat kita jujur tawaran itu datang yang sebenarnya bersebrangan dengan ideologi. Masalhnya bukan hanya job, tapi akan berakhir direputasi yang bisa menganggap kita plin plan. Yang paling utama kepercayaan pembaca, bukan kepercayaan produsen. Apa gunanya banyak produsen menawarkan kita yang pada akhirnya 'readers' sendiri tak menoleh sedikitpun.
    Tapi ada pengecualian lho Mas. Kritik yang pernah dilayangkan bukan prodk yang akan di Adv, karena ini beda sesi :D

    BalasHapus
  13. saat saya dapat pekerjaan mengulas produk indos*t kemaren, terus terang sy mati gaya, 'demam panggung' ...betapa tidak itu pkrjaan perdana. Lgsg sy hubungi pak gempur slh satu pembicara blogilicious IBN Surabaya, minta masukannya --krn anggapan sy, bertanya kpd beliau akan ada solusinya.
    Pak gempur hanya bilang, lakukan saja spt biasanya menulis, konsekuensi mendptkn job review memang diarahkan sesuai patern yg tertuang dlm brief yg diberikan...
    Kembali ke tulisan pak joko, kebetulan tingkat kritis sy sbg blogger memang dangkal jd ya tdk terlalu dua sisi mata uang bg sy..tdk ada perasaan dilematis...
    Betul2 sekarang sy merasakan fase yg disebut dgn 'happy blogger' :D
    *Fakta sebenarnya, sy kmrn itu heran: 'Kok pak joko sdg mereview tp juga menulis kritik pd brand yg sama? Gitu lho, pak! Wis pokoe happy blogging and keep your manner of critizing!

    BalasHapus
  14. I-one:
    Terima kasih, Mas. Ya, ini memang sesuai fakta.

    Jeprie:
    Artikel kemarin sayang sekali memang saya tak bisa tunjukkan SMS-nya, Mas Jeprie. Saya terlanjur menghapus forwardnya dari teman saya. Kemarin di Facebook saya sempat dapat komentar dari Mas Rismaka. Katanya dia juga dapat SMS-nya juga. Termasuk Mas Jarwadi yang saya ceritakan di artikel ini juga cerita ke saya dapat undangannya.

    Oh, ya ada yang sedikit saya luruskan. Sebetulnya SMS-nya kemarin itu yang lebih tepat bukan tawaran marketing tapi sebuah undangan dari Telkomsel buat datang ke Grapari untuk mendapatkan hadiah. Yaitu hadiah upgrade OS BlackBerry gratis dan mendapatkan souvenir menarik.

    Seandainya saya misalnya terima, saya pun akan datang karena itu bukan berupa kuis seperti tawaran SMS marketing umumnya. Saya juga pernah menerima SMS undangan seperti itu dan benar tak menipu. Waktu itu saya diundang agar datang ke Grapari Jogja untuk mengambil hadiah flashdisk.

    Gaptek:
    Kritik dan Ads-nya memang berbeda, Mas. Betul jadi ini adalah dua hal yang berbeda meski brandnya sama, Telkomsel.

    Saya kemarin sempat kaget juga saat difollow Telkomsel dan siangnya dikunjungi oleh orang Telkomsel ke blog saya. Senang sekali rasanya keluhan saya akhirnya didengar.

    Hoeda Manis:
    Gitu, ya Mas Hoeda? Lain kali bisa saya coba biar bisa difollow Pak SBY. Akun Pak SBY apa, ya ID-nya? HaHaHa. Bisa aja, Mas.

    Terima kasih pujiannya. Saya hanya berusaha menunjukkan kepada pembaca blog ini, terutama yang non publisher bahwa masih banyak blogger yang tak bisa dibeli dan tidak mau nurut begitu saja apa kata produsen. Apa yang saya lakukan kemarin lebih tepatnya untuk membuktikan apa yang menjadi komitmen saya, integritas, juga sebagai sebuah ajakan kepada publisher lain dengan memberikan diri saya sebagai rule modelnya. Itu saja. :)

    Kaget:
    Kepercayaan pembaca, bagi saya itu yang nomor satu atau yang terpenting. Mas. Selanjutnya baru kepercayaan produsen. Saya sependapat.

    blogdangkal™:
    Sampai segitunya, ya Mas. Demam panggung segala. Apa itu karena menulis advertorial yang pertama kali?! Kalau menurut saya hal itu masih wajar, Mas karena sebagai publisher dan dibayar tentu Mas Ade berusaha profesional melakukan job review dengan sebaik-baiknya. Benar?

    Terlihat rada aneh, ya? Memuji sekaligus mengkritik. :)

    BalasHapus
  15. saya sendiri belum pernah mendapatkan job review dari sana, semoga permasalahan ini cepat selesai.

    BalasHapus
  16. Ternyata nulisnya pake deg2an ya pak Joko. Ikutan blogilicius 11 - 12 Juni di Jogja gak Pak. Saya juga deg2an ngebahas reiki, takut malaikatnya ngerubung saya, hehehe... Ada Saint German, Dewi Kwan Im, Michael, dan beberapa lagi gak apa. Sempet demam tapi alhamdulillah dibawa tidur udah sembuh lagi...

    BalasHapus
  17. aku selama ini belum nemuin yang crash yah, antara yg kuiklanin dengan kritik atas produk tsb.

    tapi setuju bahwa seyogyanya kita menulis apa adanya. bolehlah ketika kita ngiklan nulisnya bagus, tapi kalau memang ada yang ga pas kritik tetap jalan.

    Itu kenapa paling enak nulis advertorial dari sisi experience. Apa adanya.

    BalasHapus
  18. izinkan saya ikutan nimbrung mas..

    intinya profesionalisme kerja saja mas...
    bukan berarti saya sering bermitra dengan telkomsel lalu saya harus bermanis muka dengan telkomsel,...

    beberapa tulisan saya yg mengupas tentang telkomsel juga agak pedas,tapi fine-fine aja,hanya mungkin berbeda cara menanggapinya,karena beberapa personal Grapari sudah mengenal saya,jadi mereka tidak menanggapi di blog,langsung damprat via telpon atau kena smash pada waktu briefing event..ha..ha...

    tapi tetap tidak mengurangi rasa kritis saya,pun begitu dengan mas Joko,saya harap tetap netral,soal review dan publisher adalah soal kerja,sedangkan kritis adalah soal rasa,jika di rasa kurang pas ya nggak ada salahnya jika di ungkapkan,toh harusnya mereka (telkomsel) sadar,bahwa mereka tidak dapat memuaskan semua orang dengan berbagai macam isi kepala...

    matursuwun mas..

    BalasHapus
  19. Guusn:
    Gabung di IBN juga, Mas? Nanti akan tiba gilirannya, kok Mas. Sabar. Masalah yang saya ceritakan ini sudah selesai di hari Selasa kemarin

    Ami:
    Lha, gimana gak deg-degan, Mbak Ami, saya mengkritik klien saya sendiri. Insyaalloh saya datang. Mbak Ami juga, kan?

    arief maulana:
    Sebenarnya saya juga bisa melakukannya, Mas agar tak crash. Dengan tak perlu melakukan kritik. Toh, kejadian itu yang tahu saya dan misalnya saya tak mengungkapkan juga tak ada yang tahu. Benar, tidak?

    Nah, masalahnya saya tak ingin begitu. Jika dia (Telkomsel) ada yang tak bener, ya mesti dikritik walaupun disisi lain dia pernah saya review positif dan menjadi advertiser yang pernah menyewa saya untuk direview.

    widodo:
    Terima kasih, Mas Widodo. Artinya saya tak sendirian yang melakukan seperti ini, meskipun konteks kritik kita berbeda dan kerjasamanya juga berbeda tapi tak salah, kan kita tetap mengkritik perusahaan yang menjadi mitra kerja kita kalau dia ada sesuatu hal yang perlu untuk dikritik.

    BalasHapus
  20. Setiap hal pasti ada negatif positifnya, tapi yang penting adalah kita harus mempertahankan sikap jujur kita kepada orang lain. Begitu juga dengan suat produk, ada kelebihan dan pasti ada juga kekurangannya. Kalau setiap orang mengharapkan sebuah provider bisa memuaskannya sampai titik yang ia harapkan harusnya bikin provider sendiri.

    mudah-mudahan dengan keluhan semacam ini Telkomsel bisa menjadi yang terdepan untuk memberikan pelayanan kepada penggunanya.

    jujur, walaupun saya juga kadang mengeluh dengan pelayanan mereka, saya masih tidak sudi untuk membuang kartu Telkomsel saya.

    BalasHapus
  21. slama positif sih gpp :)

    BalasHapus
  22. honeylizious:
    Berarti Hani juga mirip dengan saya, meski kadangkala dikecewakan tapi tetap berusaha setia dengan Telkomsel sampai sekarang.

    Salah satu alasan saya memberi kritik adalah untuk itu, agar Telkomsel selalu meningkatkan kualitas dan pelayanannya.

    Fonega:
    Tentu, itu yang positif, Mbak. :)

    BalasHapus
  23. Kata Ayahku dulu; 'katakan yang benar itu benar, sekalipun berat tantangannya'.
    Tapi aku nggak sepemberani itu, Mas. Makanya masih ragu-ragu untuk jadi publisher sejati. :)

    Mas Joko hebat. Tetap istiqomah ya, Mas!

    BalasHapus
  24. Iya juga yah :D
    Kalo untuk urusan iklan, seorang Blogger harus menulis sesuatu hal yang baik2, padahal disisi lain belum tentu yang ia rasakan juga sama.
    Kadang sebaliknya, sebuah kekecewaan yang sebenernya ia dapatkan.
    Namun hanya karena sebuah tuntutan, maka ia berani beralih ke satu sisi yang lain :D
    Dilema emang :D

    BalasHapus
  25. DewiFatma:
    Terima kasih, Mbak Dewi atas pujian dan dukungannya untuk saya. Ya, Insyaalloh saya akan berusaha selalu istiqomah dalam menulis.

    Zippy:
    Ini sebuah dilema sekaligus tantangan, Mas. Bagimana kita harus profesional di satu sisi dengan menulis review yang postif terhadap keunggulan produk sebuah merk sesuai pesanan. Tapi, di sisi lain kita juga harus mengeluarkan kritik yang menjadi kekurangan dari produk merknya dalam blog yang sama. Ini bukan pekerjaan mudah.

    BalasHapus
  26. Mudah mudahan ada lebih banyak blogger yang punya style seperti pak joko, hehehe

    BalasHapus
  27. wah seperti dapat angin segar nih, mas. jujur saya selama ini agak jaim dalam menulis karena berbagai pertimbangan tetapi dari kisah diatas saya berkesimpulan itulah blogger dari dulu memang seharusnya blogger menjadi media pelengkap dari media yang sudah ada dari kacamata publik atau masyarakat luas.

    ini harus di ketahui juga oleh para narablog untuk tetap melihat segalanya dalam sudut pandang yang jujur karena narablog memang di kenal karena kejujurannya walaupun dari segi keabsahan tulisan masih dipandang sebelah mata oleh jurnalis profesional yang sudah malang melintang di dunia media.

    semoga publisher tetap dapat memberikan tulisan dengan tanpa menghilangkan sisi idealismenya. :)

    BalasHapus
  28. jarwadi:
    Style seperti saya? HaHaHa... Bisa aja, Mas. Saya belum cukup pantas untuk dijadikan panutan. :)

    Andi Sakab:
    Betul, Mas Andi saat saya ngobrol dengan Mas Jarwadi lewat BBM di BB dan setelah baca artikelnya saya baru nyadar. Jika blogger tak kreatif dan tidak jujur atau menghilangkan sisi idealismenya dalam menulis, bukan tidak mungkin apa yang ditulis oleh Mas Jarwadi akan jadi kenyataan suatu saat nanti. Blogger tidak dipercaya lagi.

    Tulisan itu mengkritik sekaligus mengingatkan kita para publisher. Saya tercerahkan sekaligus tertantang setelah baca artikel itu. Mari kita sebagai publisher tetap jujur dalam menulis, Mas.

    BalasHapus
  29. menurut saya seorang blogger tidak harus kehilangan kekritisannya tetapi tetap harus mengembangkan kreativitasnya

    BalasHapus
  30. Di blog saya pun ada artikel di mana saya ngamuk sama Telkomsel, di mana saya nulis advetorial tentang mereka.

    BalasHapus
  31. Jasa Seo:
    Setuju. Seharusnya ya begitu. Kreatif dan tetap kritis.

    isnuansa:
    Sama dengan saya kalau gitu, Mbak. Tos dulu. :)

    BalasHapus