Minggu, 10 Juli 2011

4 Alasan Mengapa Saya Melabeli Tulisan Berbayar Di Blog Dengan Label Advertorial

Ethics Writing
Barangkali ada yang kepingin tahu alasan saya mengapa saya selalu melabeli tulisan berbayar di blog ini dengan label Advertorial (iklan)? Juga tulisan-tulisan yang mengandung unsur penawaran marketing dengan label advertorial? Mengapa? Padahal, banyak para publisher lain yang tetap enggan atau tidak mau melabeli review berbayarnya dengan label advertorial ― yang memberi keterangan kalau itu adalah iklan.

Ingin tahu? Berikut ini adalah alasan-alasan saya:

1. Etika Jurnalistik

Alasan etika jurnalistik ini yang menjadi alasan utama saya karena ini adalah alasan yang berlaku dalam kaidah jurnalistik. Dalam aturan jurnalistik memang ada etika yang tak membolehkan untuk mencampur-adukkan antara muatan editorial (artikel umum) dengan iklan. Harus ada border dan label khusus yang memisahkan keduanya ― antara artikel dengan advertorial ― sehingga pembaca menjadi jelas mana yang iklan dan mana yang opini medianya. Silahkan Anda baca buku Jurnalisme Sastrawi terbitan Pantau. Di buku itu Andreas Harsono menjelaskan masalah ini dengan amat jelas.

Lalu bagaimana dengan blog? Bukankah blog bukan media? Tentu saja sah-sah saja, bukan kalau tak mematuhi kaidah jurnalistik tersebut? Iya, sih, blog kan bukan media, tentunya tak harus terikat dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Tetapi, yang namanya etika bukankah itu sebuah aturan sosial. Sebagai masyarakat sosial apa iya Anda tidak mau memperdulikan aturan sosial ini?

Tapi, ya sekali lagi semua kembali ke pilihan masing-masing blogger (publisher). Tapi kalau saya tetap memberikan label sebagai advertorial kalau itu iklan. Masalah nanti ― sejauh ini belum ada ― advertiser menolak iklannya saya beri label sebagai advertorial saya tinggal bilang: “Kalau di media boleh dilabeli advertorial kenapa di blog tidak boleh?”

2. Etika Ngeblog

Kalau saya mengutip dari blog Ndorokakung disini, baca “Blogvertorial Pecas Ndahe” sebuah blog yang memuat iklan advertorial, kalau Ndorokakung menyebutnya dengan sebutan Blogvertorial. Masih menurut Ndorokakung, sebuah blog yang memuat materi artikel jualan produk dan jasa dianggap tidak melanggar etika ngeblog apabila memenuhi syarat-syarat: Yaitu dalam setiap posting pesanan produsen harus diberi tulisan “blogvertorial” yang menandakan itu adalah iklan. Dengan demikian, pembaca tahu bahwa tulisan tersebut merupakan pesanan dan si blogger memperoleh upah karena sudah membuat posting tersebut.

3. Kejujuran

Dalam pandangan saya sikap tidak terus terang dengan tidak jujur itu tipis sekali bedanya. Saat Anda tak mau terus terang kepada pembaca dengan tidak mau menyebutkan tulisan Anda sebagai iklan bukankah itu sama artinya dengan Anda menyimpan sebuah kebohongan? Bagaimanapun iklan tetap lah iklan, tetap lah tidak sama dan bisa berbaur jadi satu dengan artikel. Sama halnya seperti cerita fiksi dan non fiksi, keduanya punya batas yang jelas jadi tidak bisa dicampur-adukkan.

Oke lah misalnya Anda mau mengelak kalau tulisan advertorial Anda faktanya sangat-sangat obyektif ulasannya sesuai dengan kenyataan. Tapi yang namanya iklan tetaplah ada unsur ketidakjujuran disana yang mirip dengan sebuah kebohongan.

Masih tak percaya? Contoh sederhana. Apakah pernah Anda menjumpai artikel advertorial yang mengulas kekurangan sebuah produk? Tidak ada, bukan? Yang banyak, kan mengelu-elukan kelebihannya tapi menutup rapat-rapat kekurangannya. Mungkin ada yang beralasan, eh, memang barang yang direview sempurna, kok tanpa cacat sehingga tidak diulas kekurangannya. Jawab yang jujur, yakin ada barang yang tanpa cacat sehingga tak mempunyai sedikitpun kekurangan? Hem, boleh Anda tunjukkan ke saya apa itu contoh barangnya.

Contoh lain, dalam banyak hal saya sering mensejajarkan advertorial itu ada persamaan atau kemiripan dengan Endorsement kalau dalam penerbitan buku. Hanya jujur ngecap kelebihannya tapi tak jujur dengan menutup mata akan kekurangan bukunya. Sama, kan dengan advertorial?

4. Disclaimer

Saat saya melabeli artikel iklan blog saya dengan keterangan advertorial, saya merasa sedikit lega dan tenang karena label itu bisa berfungsi ganda. Sebagai keterangan sekaligus Disclaimer. Artinya, pembaca harus paham jika produk yang saya review itu bukan produk saya sehingga bila terjadi complain mereka mengerti dan selanjutnya akan complain ke produsennya, bukan ke publishernya. Pengecualian, yang khusus produk saya sendiri tentunya saya kecualikan.

Dan saya pun dengan tenang jika dicomplain, ya akan meneruskan dan melempar tanggung jawab tersebut ke advertisernya. Tugas publisher, kan hanya mengiklankan, bukan tempat menampung pengaduan kekurangan produknya. Betul?

Kalaupun pada prakteknya saya tetap cawe-cawe dalam kasus complain iklan advertorial ke advertiser, itu adalah bentuk tanggung jawab moral saya saja. Contoh complain saya ke Telkomsel beberapa hari yang lau di artikel “Telkomsel Diam-diam Curang Dalam Paket Promo simPATI Gratis Internet Berjam-jam”, gara-gara sebelumnya saya pernah menulis advertorial ini “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?

Itulah kurang lebihnya alasan-alasan saya mengapa saya tetap melabeli tulisan iklan di blog ini dengan advertorial walaupun banyak blogger publisher lain yang umumnya enggan atau tidak peduli dengan hal seperti ini dan tetap mencampur-adukkan artikel blognya dengan advertorial.

Demikian opini dari saya. Anda punya pendapat berbeda? Silahkan tinggalkan tanggapan Anda dalam kolom komentar, terima kasih.

* Tulisan ini hanya opini saya pribadi. Tidak ada maksud untuk mendeskreditkan apalagi menjelek-jelekkan publisher lain. Saya menghormati setiap pilihan masing-masing publisher, baik yang mau mencantumkan label Advertorial maupun tidak di blognya.

Sumber Foto: Ethics Writings



Bookmark and Share

25 komentar:

  1. Setuju sekali pak. Label advertorial menurut saya perlu sebagai bentuk apresiasi narablog dalam menjunjung tinggi etika ngeblog.

    Selain itu pelabelan advertorial juga akan menambah kesan professional dari sudut pandang pembaca.

    Tapi pak, tulisan review yang bukan merupakan pesanan advertiser, (misal, kita mereview ponsel yang baru kita beli) apakah seharusnya dilabeli dg advertorial?

    BalasHapus
  2. rismaka:
    Seperti asal katanya, Advertorial adalah gabungan kata dari advertisement dan editorial. Jadi selama review itu tak memuat sesuatu yang berbau komersial (jualan), baik jualan produk sendiri maupun mengiklankan produk orang lain, yang dalam hal ini dibayar, saya berpendapat tak perlu melabeli dengan label advertorial, Mas.

    BalasHapus
  3. good,visit me too...
    http://dollardarineobuxcomtanpareferal.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Sebuah alasan yang bijaksana dan mengandung kejujuran.. Setuju..!
    Masalahnya apakah setiap orang memiliki kesamaan pemahaman tentang advertorial dan juga memiliki tingkat kejujuran yang agak lumayan, nyari yang jujur 100% itu sulit.. Ibarat kecap, gak ada yang nomer 2..tentunya..pastinya.. so pasti nomer 1.. :D Dan jualan/iklan itu sedikit banyak memang ada unsur bohong, biar laku..makanya saya juga pernah(sering) menemukan sebuah iklan yang dikemas dalam sebuah artikel advertorial yang cantik,secantik honny.. wkwkwk

    BalasHapus
  5. bagus mas untuk alasannya sangat masuk akal. advertorial menurutku adalah label sekaligus pengelompokan yang menjadi ciri khas di blog ini. sangat samar dan tidak terkesan dengan label yang review promo.

    BalasHapus
  6. Saya rasa itu akan menjadi bagian informasi yang cukup signifikan bagi pembaca :).

    BalasHapus
  7. Diluar konteks etika, pemberian label sebenarnya lebih mewakili pada tema tulisan, dan itu lebih memudahkan orang untuk berasumsi.

    Dalam kasus advertorial, (menurut saya) ini akan memberi semacam rasa percaya lebih pada pemberi job bahwasannya si penulis adalah seorang yang "profesional". Dan ini adalah nilai tambah. :)

    BalasHapus
  8. tonykoes:
    Terima kasih dukungan opininya, Mas Tony. Ya, benar, tak ada yang nomer 2, pasti ngecapnya selalu nomor 1. Semoga dengan memberi label Advertorial semua pembaca tahu dan paham kalau saya sedang Jualan Kecap. Jadi tak perlu lagi ada kata basa-basi dan tanya seperti ini: "Oh, ini iklan, ya?" Bukan begitu? :)

    ajurNA:
    Terima kasih, Mas. Itulah yang saya harapkan. Supaya pembaca jadi jelas membedakannya. Mana artikel dan mana iklan.

    Cahya:
    Bagian dari informasi? Betul. Dan jangan malah terkesan sengaja disembunyikan demi agar pembaca biar mau membaca dan mengomentarinya.

    Sukadi:
    Syukurlah jika nantinya itu ada yang menganggap sebagai bagian dari profesionalisme. Termasuk dari si advertisernya. Sejauh ini, toh belum ada, kok Mas Advertiser yang merasa keberatan akan pemberian label itu.

    BalasHapus
  9. oh baiklah, anda sangat informatif mengenai apa-apa saja yang ingin njenengan lakukan dengan blog ini pak... :D

    BalasHapus
  10. Saya belum menerapkan ini, Pakdhe..
    Semoga tidak tertipu lagi ya.. :p

    BalasHapus
  11. tulisan berbayar itu yang seperti apa ya mas?!?!?

    BalasHapus
  12. Saya juga belum menerapkan ini pak.
    Label yang saya berikan pada artikel advertorial hanya Informasi Umum. Namun bila ada complain bla bla bla, tetap saya lempar untuk menghubungi tim teknis ataupun CS dari produk ybs.

    BalasHapus
  13. Lagi2 soal kejujuran Mas. Masalahnya masih banyak blogger yang ngga jujur soal adv, apakah sudah mencoba produknya atau sama sekali hanya mendengar & membaca apa yang ada

    BalasHapus
  14. sibair:
    Ini hanya opini subyektif saya, Mas Bair. Sebagai penjelas mengapa saya selalu ngotot masalah perlunya etika perlabelan ini. Jika Mas Bair tak sependapat tak masalah, Mas. Saya menghormati masing-masing pilihan orang.

    giewahyudi:
    Kalau saya, sih tak masalah Mas Gie. Saya bisa bedakan, wong sama-sama publishernya. He2... Nah, yang bukan publisher biasanya bisa terkecoh dianggap artikel beneran padahal pesanan.

    Merliza:
    Tulisan berbayar itu tulisan yang ditulis karena memenuhi pesanan, Mbak. Artinya nulis dan dibayar oleh advertiser. Contohnya tulisan saya yang tentang simPATI Berjam-jam itu.

    arief maulana:
    Saya menghormati pilihan masing-masing publisher, Mas Arief. Baik yang mau mencantumkan label advertorial maupun tidak. Yang terpenting kita punya alasan yang menjadi dasarnya. Soal complain itu sudah seharusnya secara moral kita ikut bertanggung jawab karena dipublish di blog kita. Betul?

    Kaget:
    Ya, saya tak menutup mata beberapa kali saya pun menjumpai publisher yang seperti itu. Belum menjajal barangnya tapi sudah berani mereview. Saya tahu karena kebetulan paham sekali dengan bidang yang sedang diiklankan tersebut. Padahal, IBN pun sudah mewanti-wanti kalau advertorial itu harus ditulis dengan gaya user experince, dari pengalaman menggunakan produknya.

    BalasHapus
  15. Bukan selebloger
    Bukan selebvertorial
    Jadi gak pengen bilang apa2 ttg advertorial...

    Saya mampir hanya mau tanya, cawe2 tu apa?Bukan selebloger
    Bukan selebvertorial
    Jadi gak pengen bilang apa2 ttg advertorial...

    Saya mampir hanya mau tanya, cawe2 tu apa?

    BalasHapus
  16. honeylizious:
    Eh, saya lupa kalau "cawe-cawe" itu dialek dari bahasa Jawa. Yang bukan orang Jawa gak ngerti. He2... Cawe-cawe itu maksudnya kalau dalam bahasa Indonesia adalah ikut/ peduli/terpanggil.

    BalasHapus
  17. Klo saya sih hanya memberikan label/kategori/tag/ review jika ada postingan kayak gitu

    BalasHapus
  18. Nurul Imam:
    Kalau postingan yang berisi review tapi yang bukan berbayar pakai apa, Mas labelnya? Apa labelnya beda?

    BalasHapus
  19. klo saya sih pake notes atau catatan mas. klo mas sendiri ?

    BalasHapus
  20. Nurul Imam:
    Berarti sudah dilabeli berbeda, Mas? Ya, masalah nama label itu tergantung masing2 bloggernya, sih Mas. Dan masing2 blogger punya hak buat itu. Kalau di blog ini ada yang saya labeli dengan Review tapi itu berisi murni review, bukan Paid Review. Kalau yang mengandung komersial (berbayar dan jualan) saya pakai label Advertorial. Ya, biar pengunjung bisa bedakan aja.

    BalasHapus
  21. Mas Joko: Tuh kan, pake bhasa jawa. Aku kan g ngertiMas Joko: Tuh kan, pake bhasa jawa. Aku kan g ngerti

    BalasHapus
  22. Memang pembubuhan label "Advertorial" pada tulisan berbayar menjadi penegas bahwa tulisan yang adv dan non-adv memiliki konteks yang berbeda. Penegas ini dibutuhkan, khususnya jika si narablog (publisher) tidak menabukan diri untuk mengkritik produk yang sebelumnya pernah direview-nya. Tanpa penegasan mana yang adv dan mana yang bukan, pembaca blog akan bingung jika sewaktu-waktu si narablog melancarkan kritik sebagaimana yang terjadi dengan blog ini. Bisa-bisa malah si narablog dituduh plin-plan.

    Karenanya, meski mungkin pembubuhan tag advertorial itu tidak diwajibkan, namun si publisher akan lebih "save" jika membubuhkan tag itu, karena secara tidak langsung dia telah menegaskan bahwa itu artikel pesanan, dan tanggung jawabnya hanya sebatas konteks post tersebut. Artinya, jika sewaktu-waktu produk yang direview itu sudah berbeda isinya, maka si publisher telah terlepas dari tanggung jawab dan tuntutan pembaca blognya.

    Tentu saja ini kembali pada kebijakan masing-masing narablog yang menulis review. Cuma, tanpa tag advertorial sebagai penegas, maka si publisher kemungkinan akan merasa ewuh (sungkan, nggak enak) kalau kebetulan sewaktu-waktu ingin menyampaikan keluhan atau kritik pada produk yang direview-nya. IMHO.

    BalasHapus
  23. honeylizious:
    Yang penting sekarang sudah ngerti, kan artinya? He2...

    Hoeda Manis:
    Tentang tuduhan plin-plan ini sangat masuk akal, Mas Hoeda. Sebelumnya sahabat saya juga pernah ada yang nyindir saya begitu terkait posting saya yang berubah-ubah statemennya. Baiklah, khusus menanggapi komentar ini akan saya tanggapi dalam posting khusus. Terima kasih, Mas buat dukungan opininya tentang perlunya perlabelan ini.

    BalasHapus
  24. Nice Post. Sebagai newbie harus belajar dengan Mas nih.
    Makasih mas.

    BalasHapus
  25. Kang Iman:
    Sama-sama, Kang Iman. Mari kita sama-sama terus belajar.

    BalasHapus