Sabtu, 14 Mei 2011

Tips Menulis Advertorial

Tips Menulis AdvertorialJika Anda seorang blogger yang merangkap sebagai publisher, satu keahlian yang perlu Anda kuasai selain pandai menulis artikel adalah harus bisa menulis artikel advertorial. Apa itu artikel advertorial? Bagi yang belum tahu definisinya, silahkan baca dulu tulisan saya “Etika Menulis dan Memasang Iklan di Blog” yang pernah menjelaskan arti kata advertorial.

Keahlian menulis artikel advertorial ini penting sekali Anda kuasai kalau memang Anda serius ingin mendapatkan penghasilan lewat blog Anda. Keahlian menulis advertorial itu gunanya tidak melulu untuk mengiklankan produk dari para pengiklan atau produsen, tapi suatu saat akan sangat berguna untuk mengiklankan produk Anda sendiri di internet.

Sebelum saya memberikan tips ini kepada Anda, saya perlu jelaskan dulu. Saya belum seorang penulis advertorial yang baik, namun sedikit pengalaman saya menulis beberapa advertorial yang pernah saya tulis ini semoga bisa menjadi bahan belajar bersama bagaimana, sih cara menulis advertorial yang baik dan bisa menarik serta disukai oleh pembaca. Dan yang terpenting, ujungnya bisa berakhir closing, dapat menarik penjualan setelah orang lain membaca advertorial Anda.

Saya mempunyai tiga contoh artikel review dan advertorial. Yang pertama dan kedua sama-sama mereview tentang salah satu produk dari provider telpon seluler Telkomsel. Yang pertama berupa advertorial dan berbayar. Bisa dilihat di artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” Dan artikel yang kedua “Paket simPATI Gratis Internetan Berjam-jam Ternyata Berlaku Buat Internet Lewat Komputer”, yang ini murni berupa review dari saya selaku pengguna, tidak dibayar. Artikel ketiga, “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang” adalah advertorial pesanan dari kawan saya yang sampai dengan tulisan ini saya tulis advertorialnya cukup banyak membuat closing penjualan di internet.

Saya mulai dari artikel yang pertama dan kedua. Sesuai laporan dari Google Analytics, meski kedua artikel mengulas topik yang sama, ternyata artikel pertama dan kedua hasilnya jauh berbeda. Baik jumlah pageviewnya maupun jumlah comment yang masuk dalam artikelnya. Silahkan Anda lihat data statistik artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” dibawah ini.

Staistik Advertorial simPATI freedom

Total pageview artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” sampai dengan tanggal 13 Mei 2011 sebanyak 325. Jumlah comment sampai dengan saya tulis artikel ini yang masuk sebanyak 30 komentar.

Statistik Review Gratis Internet Berjam-jam simPATI

Coba bandingkan sama data statistik di atas! Ternyata jumlah pageview artikel “Paket simPATI Gratis Internetan Berjam-jam Ternyata Berlaku Buat Internet Lewat Komputer” jumlahnya jauh lebih banyak, 797 pageview, dan comment-nya juga sudah mencapai 38 komentar.

Nah, sekarang artikel yang ketiga, “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang”. Saya akan perlihatkan bukti screenshot jumlah email yang masuk dari pembaca melalui form contact setelah membaca advertorial tersebut. Maaf untuk data penjualan dari advertorialnya saya tak bisa share disini. HeHe.

Screenshot email masuk

Advertorial “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang” yang melalui blog saya sudah menuai respond sebanyak 21 komentar dari pembaca, 11 email masuk, 13 kontak melalui telpon/SMS, dan 2 invite contact melalui Blackberry. Data ini belum termasuk respond melalui notes facebook dan blog kawan saya yang juga mempublish advertorial tersebut.

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari ketiga artikel tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tulisan dengan gaya review dari sudut pandang Anda sebagai konsumen ternyata lebih kuat untuk menarik minat pembaca. Ini berbeda dengan tulisan yang ditulis hanya berupa informasi dari sudut pandang produsen.
  2. Untuk menghasilkan tulisan advertorial yang memikat, ternyata syarat wajib ini tidak bisa ditawar. Anda harus menjajal lebih dulu barang yang Anda iklankan sebelum menuliskannya kedalam sebuah artikel.
  3. Pemberian data-data hasil test atau pengujian Anda di dalam artikel advertorial terbukti sangat membantu menarik ketertarikan dari para pembaca.
  4. Proporsional antara advertisement (iklan) dan editorial dalam sebuah artikel advertorial perlu diperhatikan. Yaitu harus lebih kuat unsur editorialnya ketimbang muatan iklannya. Pemberian persuasi atau tawaran iklannya secara halus terbukti lebih efektif ketimbang bahasa iklan yang terlalu berlebihan.

Demikian setidaknya 4 (empat) poin tips yang bisa saya simpulkan dalam menulis advertorial. Jika Anda ada tambahan, sanggahan, atau pertanyaan, saya persilahkan tambahkan dalam kolom komentar. Oke, selamat menulis advertorial.


Bookmark and Share

24 komentar:

  1. Saya ada kejadian unik. Ada blogger yang menuliskan soal mengiklan ini. Gak cuman satu, di bawah blognya berderet banyak banget sponsornya. Tapi belakangan tulisannya marah-marah karena ada komentar menuduh bahwa yang dia tulis semuanya fiktif. Terus jadinya blognya ditutup... pernah kutulis di tulisan ini http://amiratnawatiutami.blogspot.com/2011/04/kisah-penulis-berbakat-yang-multi.html .

    Kabarnya givewaynya gak pernah dikirim dan seabreg projectnya fiktif semua. Terakhir proyek anak asuh juga gak jelas tapi minta dukungan blogger2 dengan memasang foto dengan ngeprint gambar yang dibuatnya.

    Ma kasih sharingnya...

    BalasHapus
  2. Ini artikel yang saya cari ..
    selama ini saya hanya belajar dari situs2 sekaliber yahoo dan detik untuk membuat artikel yang menjual. .
    Saya kirim kontak,untuk menanyakan pertanyaan saya tentang artikel advertorial.. :) ..
    Mohon dibalas ya pak ..

    BalasHapus
  3. ketika semua bicara tentang mencari duit dari internet,menjadi seorang reviewtor sepertinya adalah hal yang paling masuk akal..

    seorang publisher akan lebih di hargai,baik dari sisi personal ataupun dari sisi blog,orang tentu akan lebih senang berkunjung dengan blog yang berimbang,iklan dan artikel menempati porsinya masing-masing dengan takaran yang pas...tapi terkadang yang sering saya jumpai berbanding terbalik,iklan bejibun sampai nggak bisa di bedakan antara sampah iklan dan artikel...

    dan review seperti di atas bukan saja menguntungkan dari sisi product adv,tapi juga menguntungkan blogger itu sendiri,itung-itung latihan menulis,jadi lebih baik latihan menulis adv daripada latihan klik PPC,kalau PPC nggak usah pake latihan,sambil beol juga bisa klik...siapa tahu ke depan bisa menjadi penulis handal dengan bekal latihan menulis review adv,dan belum pernah ada cerita seorang penulis handal berangkat dari latihan klik PPC....!

    BalasHapus
  4. Saya sendiri masih sangat jarang menulis artikel berbayar Pak. Tips di atas dan contoh artikel yang pernah Pak Joko tulis tentunya bisa dijadikan semacam pijakan yang baik.

    Kemampuan mengemukakan argumentasi yang kuat dan objektif juga penting sepertinya (ketika menulis artikel advertorial). Nah, persuasi masuk di wilayah argumentasi itu, di mana kita mendorong secara halus agar pembaca tertarik mencoba produk/layanan yang dipromosikan dalam tulisan tersebut.

    BalasHapus
  5. Pengalaman saya dengan produk memang kurang, jadi akan sulit untuk menulis review advertorial.

    Sepertinya, satu-satunya review yang pernah saya tulis adalah tentang Woothemes. http://www.desaindigital.com/review-theme-wordpress-premium-dari-woothemes/ Saya juga pengguna jadi lebih mudah berbicara tentang itu.

    Setuju dengan komentar di atas. "belum pernah ada cerita seorang penulis handal berangkat dari latihan klik PPC" :)

    BalasHapus
  6. Ami:
    Saya sudah berkunjung ke artikel Mbak Ami tersebut dan saya masih belum mudeng maksudnya. Juga hubungannya dengan artikel saya apa. HeHe

    Blogger yang menuliskan soal mengiklan. Apakah menulis tips/caranya memasang iklan seperti saya dalam artikel ini, Mbak Ami?

    ada-akbar.com:
    Silahkan, Mas Akbar. Selama saya bisa jawab dengan senang hati akan saya coba bantu menjawabnya.

    wi:
    Kalau main PPC memang tak perlu belajar. Betul, Mas Widodo. Tinggal bikin blog pasang scriptnya selesai. Masalah nanti ada yang klik atau tidak itu urusan nanti. Betul sekali! :D

    Tapi kalau mau serius main PPC sebetulnya juga sama. Tak ada beda dengan main bisnis review, harus pandai menulis juga. Pasang PPC, kan ibarat ada gula ada semut. Kalau content artikel kita menarik-menarik ---ini tentu saja hanya bisa didapat di tulisan bagus dari proses belajar menulis terus menerus--- maka semut akan berbondong-bondong datang mengerubuti gula sehingga timbul klik sebagai efeknya.

    iskandaria:
    Terima kasih poin tambahannya, Mas Is. Saya juga merasa bagi kita yang sudah sering melihat banyak persuasi ajakan iklan di internet, sepertinya cara-cara marketing halus lebih mengena ke pembaca. Karena tawaran marketing yang berbusa-busa seperti bahasa sales letter, jujur kalau menurut pendapat saya justru malah kurang diminati karena banyak ngibulnya. Terlebih, umumnya sales letter banyak dikotori oleh bahasa iklan bisnis2 gadungan yang banyak bertebaran di internet.

    Jeprie:
    Menulis review kalau kita belum pengguna memang rada susah, Mas Jeprie. Kalau dipaksakan juga reviewnya akan terkesan di permukaan, kurang mewakili user experience pemakainya, padahal ini yang dimaui oleh advertiser. Kecuali, kalau mau bela-belain beli produknya lalu menjajal dan mengetest produknya dulu baru menulis reviewnya.

    Tapi, Mas Jeprie apa tak tertarik coba ikutan nulis review di IBN seperti banyak teman blogger lain, Mas. Ya, mungkin untuk selingan biar tak nulis tutorial terus. He He.

    Di IBN kita juga bisa menolak, kok Mas kalau misalnya kita merasa tak cocok atau kurang sreg dengan produk advertiser yang akan diiklankan.

    BalasHapus
  7. Saya sudah nanya² untuk menjadi publisher ke mas Is, dan disini saya menemukan tips menulis advertorial. Mudah-mudahan saya diterima dan menjadi seorang publisher yang berpengalaman ☺

    BalasHapus
  8. Sebetulnya saya tertarik juga. Apalagi bayarannya lumayan juga. Nulis artikel lebih mudah daripada nulis tutorial. Apalagi kalau kita bisa bebas menolak tawaran mereka. Artinya, advertorial yang kita tulis bisa tetap dalam kontrol.

    Saya juga sudah melihat formulir daftar IBN, tapi di sana diminta referensi dari 2 blogger yang sudah masuk IBN. Saya sudah kenal beberapa orang (bapak salah satunya), namun saya masih ragu untuk minta referensi. Mengingat situs saya bukan situs populer dan juga sepertinya di luar mainstream blog lokal. Kalau memang bapak mau memberi referensi, saya akan berterima kasih sekali. Mungkin tinggal nunggu seorang lagi yang mau berbaik hati. :)

    BalasHapus
  9. Riky Rizkiyana:
    Berarti sudah mendaftar kesana, Mas? Saya doakan semoga lekas diapprove, ya.

    Jeprie:
    Wah, kalau menurut saya Desain Digital termasuk blog yang sangat memenuhi syarat/kriteria untuk jadi publisher disana, Mas. :)

    Jika Mas Jeprie memang tertarik untuk bergabung jadi publisher disana bisa gunakan saya sebagai pemberi referensinya, Mas. Ini alamat email saya: admin[at]diptara.com

    BalasHapus
  10. wah, saya belom pernah menulis posting advertorial, saya ingin belajar untuk membantu promosi bisnis teman teman saya, kalau untuk mengiklankan produk besar saya belum kepikiran

    terimakasih pak atas artikel ini

    BalasHapus
  11. Hihihi njenengan memang jago dalam penulisan sebuah review mas.. sampe sudah dapet 3 review gini.. hihihi salut...

    BalasHapus
  12. jarwadi:
    Sama-sama, Mas. Saya kemarin-kemarin juga nulis advertorial buat teman. Lumayan, itung-itung latihan sekaligus bantu teman.

    sibair:
    Ah, saya juga masih belajar, kok Mas. Masih perlu latihan terus untuk membuat advertorial yang menarik.

    BalasHapus
  13. Sudah mas, tinggal menunggu keputusan. Amin
    Oya kalau boleh mas mau ga merekomendasikan saya :) *bismillah

    BalasHapus
  14. Riky Rizkiyana:
    Blog Mas Riky baru dibuat di tahun 2011, ya? Boleh tahu berapa trafik hariannya, Mas karena saya lihat tak ada widget statistiknya di blog?

    Maaf, Mas bukannya saya tak mau merekomendasi tapi di IBN sangat melihat itu. Advertisernya mintanya pageview harus tinggi, min 1000 pageview untuk artikel advertorialnya sehingga jika trafik masih rendah perlu kerja keras untuk bisa mencapai pageview segitu.

    Contoh, blog ini trafik harian 300-an pengunjung perhari. Saya butuh usaha cukup keras untuk genjot artikel advertorialnya untuk nembus pageview segitu.

    BalasHapus
  15. belum ada yang mau advertise di blog saya euy... tapi makasih sharenya... saya sebagai pembaca memang lebih teryakinkan kalau melihat dari sudut pandang konsumen...

    BalasHapus
  16. Blog saya sudah berumur 1 tahun (April 2010). Trafik 200-300 perhari.

    Ya saya juga baru tahu IBN memperketat peraturan untuk menjadi anggota nya.
    Waduh.. Harus berusaha mencapai target nih.

    BalasHapus
  17. Irawan:
    Belum ada, Mas? Apa belum ikut di IBN, Mas? Saya lihat blog Mas Irawan cukup ramai gitu trafiknya. Coba aja daftar kesana, Mas. Siapa tahu nanti dapat job review.

    Riky Rizkiyana:
    Wah, itu sudah lumayan bagus, Mas trafiknya. Boleh, silahkan pakai email saya buat referensi. Nanti saya coba bantu. Ini alamat email saya: admin[at]diptara.com

    BalasHapus
  18. Begitu ya? Kapan ya ada yang mau minta Hani mereview produknya...

    hahahahha...

    BalasHapus
  19. honeylizious:
    Coba daftar aja dulu ke IBN, siapa tahu nanti ada yang nawari job review. :)

    BalasHapus
  20. sulit bagiku buat yang kayak gini.

    oh iya bagaimana caranya mengatasi rasa bosan sama blog kita, soalnya faceleakz.blogspot.com adalah blog ke tujuh saya.

    BalasHapus
  21. sulit bagiku buat yang kayak gini.

    oh iya bagaimana caranya mengatasi rasa bosan sama blog kita, soalnya faceleakz.blogspot.com adalah blog ke tujuh saya.

    BalasHapus
  22. Facemash Post & FaceLeakz:
    7 blog? Itu rutin terupdate semua, Mas? Hebat! Nah, kalau masalah mengatasi kebosanan itu sama, sering melanda saya juga. Kalau saya pada saat saya bosan, ya gimana, lupakan dulu update blog untuk sementara waktu. Nanti akan tiba lagi kerinduan lagi untuk menulis. Kerinduan menulis biasanya datang kalau saya terusik oleh sesuatu. Nah, sering-sering lah cari ini. Sesuatu yang bisa mengusik kita untuk menulis.

    Ah, Mas Imroee kah ini? Apa kabarnya, Mas? Sudah lama rasanya kita tak saling mengunjungi :)

    BalasHapus
  23. Yes, it's me.

    Hanya blog terbaru yang diupdate, blog yang lama dibiarkan terbengkalai.

    saya selalu berkunjung di blog ini, hanya saja jarang komen.

    my blog list (mulai dari yang tua):
    faceon.tk
    roybarakpayung.wordpress.com
    roeepiong.wordpress.com (kena suspend)
    iroee.wordpress.com
    imroee.wordpress.com
    imroee.blogspot.com
    facemashpost.blogspot.com
    faceleakz.blogspot.com

    BalasHapus
  24. imroee:
    Berarti masuk kesini lewat direct URL, ya? Karena saya tak menemukan jejaknya di statistik blog ini. :)

    Cukup banyak juga, Mas. Beberapa saya sudah pernah mengunjunginya.

    BalasHapus