Senin, 09 Mei 2011

TV Tabung Mulai Ditinggalkan

LED TVEra televisi tabung atau teknologi CRT (Cathode Ray Tube) sepertinya akan benar-benar berakhir, karena mulai ditinggalkan oleh konsumen pemakainya. Kalau pada komputer, saat ini monitor CRT malah sudah lebih dulu ditinggalkan. Baca artikel saya sebelumnya “Teknologi Tidak Bersahabat Dengan Orang Kreatif”. Karena, semua sudah beralih pada monitor LCD (Liquid Colour Display). Tak percaya? Silahkan Anda berkunjung ke toko-toko komputer dan tanya ke penjualnya. Saat ini sangatlah susah untuk mencari monitor komputer yang berjenis tabung (CRT). Semua toko rata-rata pasti merekomendasikan dan memberikan pilihan monitornya pakai LCD.

TV digital menggantikan TV analog

Sama seperti teknologi pada komputer, hadirnya teknologi baru TV digital tak bisa dihindari juga. Kini kehadiran TV digital mulai menggantikan TV analog. Televisi digital yang umumnya sudah berlayar flat, seperti Plasma TV, LCD TV, dan yang paling baru LED TV membuat televisi tabung semakin kurang diminati para konsumen. Lihatlah hypermarket dan toko-toko elektronik sekarang! Hampir semuanya saya lihat sekarang ini pajangan raknya lebih banyak didominasi display TV LCD dengan berbagai ukuran dan merk, sementara TV tabung semakin sedikit pilihan model dan merk pabrikan yang masih mengeluarkannya.

Diantara ketiga pilihan layar teknologi TV digital (Plasma TV, LCD TV, dan LED TV), yang paling terakhir, yaitu LED TV katanya diklaim mempunyai teknologi paling unggul.

Apa, sih kelebihan TV digital seperti LED TV ini kalau dibandingkan dengan TV tabung konvensional? Berikut adalah keunggulan-keunggulan dari LED TV:

  • Menghasilkan warna yang lebih realistis
  • Teknologi anti glare (tanpa bayangan)
  • Tersedia mulai ukuran kecil hingga besar
  • Tidak ada radiasi yang dipancarkan
  • Dapat digunakan sebagai monitor komputer
  • Kebutuhan sumber daya listrik yang lebih rendah dibanding Plasma.

Itulah kelebihan-kelebihan LED TV. Namun begitu, bukan berarti LED TV tanpa kelemahan. Kelemahannya tetap ada, yaitu harga LED TV lebih mahal satu setengah kali lipatnya dibanding TV LCD biasa, dan tentu lebih mahal lagi kalau pembandingnya adalah TV tabung biasa. Selengkapnya tentang perbandingan ketiga TV: Plasma TV, LCD TV, dan LED TV silahkan Anda baca artikelnya disini.

TV fitur internet

Kemarin saya sempat iseng-iseng melihat-lihat TV LCD dan nanya-nanya kepada pramuniaga di salah satu hypermarket. Satu hal yang belum pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya adalah ternyata TV terbaru saat ini sudah sedemikian canggihnya. Selain kontras ketajaman gambarnya sudah sangat tinggi dan sudah berteknologi 3D, kini sudah dibenamkan pula fitur internet di dalamnya. Saya ambil contoh merk Panasonic VT 30, dilengkapi dengan fitur internet dan bisa koneksi pakai internet wifi dan local area network (LAN) untuk akses internet langsung tanpa bantuan komputer.

Pada TV Panasonic ada fitur Viera Cast yang berfungsi untuk menghubungkan dengan berbagai layanan streaming movie/TV di internet. Contoh yang paling populer seperti menonton video dari Youtube. Terus ada fitur Viera Connect yang bisa menghubungkan pengguna ke situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Dan satu lagi, ini yang hebat bisa digunakan untuk berkomunikasi video calling melalui Skype.

Televisi kedua yang tak kalah hebat adalah merk Sony, akses internetnya malah sudah dilengkapi dengan remote yang bentuknya seperti keyboard QWERTY, sehingga kita bisa mengoperasikan TV layaknya keyboard pada komputer saja. Bukan hanya sampai disitu, TV Sony memiliki fitur Bravia Internet Widgets yang menyediakan update real time berita-berita dari Yahoo. Dan fitur Bravia Internet Video yang diklaim memiliki lebih dari 30 saluran hiburan streaming. Dan sesuai klaim resminya katanya memiliki kemampuan internet cukup lengkap karena sudah dibundling bersama paket Google TV.

Dalam perangkat lunak Internet TV itu banyak sekali fitur streaming movie/video internet yang dibenamkan ke TV Sony. Yaitu seperti Hulu yang merupakan TV iklan gratis, Amazon video on demand, Qriocity layanan hiburan streaming dari Sony, Netflix, Youtube, NPR, dan Pandora internet radio ke layar TV Anda. Dan tentu saja kemampuan mesin pencari Google tak ketinggalan ada juga dibesut di dalamnya yang memungkinkan pencarian dan menemukan pilihan acara televisi, film dari layanan internet atau dari TV kabel dari penyedia satelit yang mereka tawarkan.

Dan merk yang lainnya yang sempat saya survei adalah TV Sharp, LG dan Samsung. Fiturnya juga tak kalah dengan TV Panasonic dan Sony karena rata-rata sudah mendukung fitur internet juga.

Hem, saya tidak bisa membayangkan misalnya nonton video HD high resolution dari Youtube dan ditonton lewat TV LCD layar lebar (wide screen) yang besar serta didukung lengkap dengan sound sistem home teaternya, pasti akan mengasyikkan sekali.

Selain fitur-fitur diatas, TV digital terbaru sekarang ini semua sudah dilengkapi colokan atau port USB, yang mana dulu ini hanya ada di komputer saja. Jadi, misalnya Anda berniat melihat foto-foto yang ada di flashdisk bisa dilihat melalui TV. Hebat, bukan?

Itulah perkembangan teknologi terbaru pada pesawat televisi saat ini. Pertanyaan saya apakah Anda sudah siap meninggalkan televisi tabung Anda dan beralih ke TV digital berlayar datar?

Sumber Foto: Samsung LED TV


Bookmark and Share

35 komentar:

  1. enak banget dong pak liat youtube dari televisi, tapi lemot apa enggak???

    BalasHapus
  2. tambah canggih ya. Besok anak2 udah gak pasang tivi di kamar, tapi nonton tv pake laptop kayaknya nih

    BalasHapus
  3. Saya tidak tahu, tapi saya rasa masih televisi bertabung :).

    BalasHapus
  4. Monitor tabung juga sudah susah didapat Mas...
    Harganya nggak beda banyak tapi tampilannya memang bagusan yg LCD

    BalasHapus
  5. iya nih, anak-anak juga udah pada ribut minta digantiin yang lcd, hihihiihi.... nabung dulu deh... semoga cepet bisa beli. Jujur aja saya juga udah ngiler, xixixixixii

    BalasHapus
  6. tipi saya masih tabung pak.... :D

    BalasHapus
  7. hendra82:
    Wah, kalau lemot dan tidaknya itu tergantung jaringan internetnya, Mas Hendra. Tidak tergantung sama TV-nya. He...He...
    Ya, kelemahan internet kita saat ini ya itu, speednya rata-rata belum kencang sehingga akan tersendat2 kalau buat streaming video.

    Ami:
    Ya, semakin canggih teknologi sekarang, Mbak Ami. Sekarang pun laptop sudah bisa nyetel TV, Mbak. Tinggal dipasang aja TV tuner. Kalau internetnya sudah cepat bisa streaming lewat internet langsung.

    Cahya:
    Tenang, Mas Cahya. Saya pun masih pakai TV tabung di rumah. Pingin juga pakai LED TV di rumah tapi harganya itu. :)

    marsudiyanto:
    Iya, Pak Mars monitor tabung memang sudah jadi barang langka sekarang.

    MisterXWebz:
    Sama, Mister di rumah saya juga masih pakai TV tabung. Ngiler juga saya kalau melihat TV LCD di toko-toko elektronik.

    Sriyono Semarang:
    Tidak hanya Mas Sriyono saja, TV saya di rumah juga masih TV 21 inch pakai tabung. :)

    BalasHapus
  8. Di beberapa bank ternama yang pernah saya masuki, TV layar datar/plasma/LED sudah jadi barang wajib Pak. Gambarnya memang terlihat sangat jernih.

    Saya sendiri di kos juga menggunakan TV layar datar lho, tapi menggunakan laptop sebagai monitornya :) Maklum, saya menggunakan TV tuner yang colokannya pakai USB :D

    BalasHapus
  9. iskandaria:
    Kalau di level korporat seperti bank, perkantoran, hotel, rumah sakit dll TV Plasma/LCD/LED sebetulnya sudah bukan barang baru dan mewah lagi. Benar, Mas Is wajib karena selain sebagai hiburan, juga bisa menaikkan prestise korporasinya di mata konsumen.

    Saya dulu waktu masih indekost di Jakarta juga pernah pakai TV turner external saya colokin ke laptop. Benar, keren, tak kalah dengan TV LCD beneran. :-)

    BalasHapus
  10. Televisi digital menurut pengertian saya adalah pada reception nya, bukan pada display yang digunakan untuk menampilkan gambar bergerak (video)

    TV digital menerima informasi yang dikirim dari transmitter dalam format digital, sedangkan TV analog ya dari sononya sinyal masih dikirim dalam format analog. Kebanyakan TV analog memang menggunakan display tabung, meski ada beberapa TV ber-display tabung yang sudah digital. Sedangkan TV berdisplay Plasma/led spt merek polytron yg murah juga masih analog, belom bisa menerima format digital

    cmiiw
    salam
    salam

    BalasHapus
  11. Jarwadi:
    Benar, Mas hubungan antara TV analog dan digital dengan TV tabung dengan TV layar datar (Plasma/LCD/LED) memang tidak ada karena itu adalah dua hal yang berbeda. Yang satu berbicara teknologi siarannya (broadcast), satunya berbicara teknologi pada display layar televisinya. Hubungan keduanya hanya ada pada korelasi perkembangan teknologinya saja. Jadi tetap ada kemungkinan tidak nyambung. Teknologi layarnya sudah layar flat tapi TV-nya masih analog. Begitu pun sebaliknya. Namun kalau berbicara televisi digital, pasti umumnya akan menggunakan teknologi layar yang sudah paling baru (Plasma/LCD/LED). Sebaliknya, kalau berbicara TV analog umumnya kebanyakan masih pakai TV tabung.

    Terima kasih, Mas atas koreksinya. Komentar dari Mas Jarwadi bisa menjadi tambahan dan makin memperjelas pengertian dari TV digital di artikel saya. :)

    BalasHapus
  12. benar sekali....
    memang ada kemanjaan tersendiri karena kemudahan tipi dengan fungsi USB Connection.. ^_^
    di flat, saya juga kaget saat ayah saya membelikan tipi dengan fungsi tersebut...
    ternyata, harganya memang terjangkau menurut beliau...
    teknologi sekarang sudah menawarkan pilihan... ^_^

    BalasHapus
  13. Pengen punya TV yang 'begituan' sih, Mas. Tapi harganya itu lho, bikin hatiku linu. Yo wis lah, TV tabung pun tetap wokkeh kok!
    *nyenengin hati*

    BalasHapus
  14. W i e d e s i g n a r c h:
    Harga TV LCD terbaru saat ini. Contoh yang ukuran 32 inch sebetulnya hampir sama dengan harga smartphone terbaru (4 jutaan). Jadi, untuk kelas orang tertentu, contoh seperti keluarga Mbak Wiwied masih dianggap terjangkau. Betul?

    DewiFatma:
    Kalau saya mau membeli TV LCD dengan sedikit memaksakan diri sepertinya mampu. Tapi masalahnya, TV lama (tabung) saya masih bagus, terus mau dikemanain, Mbak Dewi. Itu pemborosan namanya. He2 :)

    BalasHapus
  15. Saya membaca artikel ini lewat monitor layar datar pak. Maklum sih, karena bisa menghemat tempat. Bayangkan kalau meja kerja yg sudah banyak barang harus dihuni juga oleh monitor tabung? Wah, repot.

    Untuk TV, saya masih demen sama yang tabung. Lagian, belum kuat beli yang flat dan ada internetnya macam punya Sony itu hehe. Mungkin nanti deh, amiin :)

    Salam dari Jayapura pak :)

    BalasHapus
  16. LCD TV ibarat penganten baru, selalu bagus n cantik, terlepas dari artikel mas Joko yg menarik diatas, Justru kebanyakan dari kita melupakan substansi dari televisi itu sendiri. :D

    BalasHapus
  17. Darin:
    Salah satu alasan mengapa orang meninggalkan monitor CRT dan beralih memakai monitor LCD adalah betul itu, Mas Darin. menghemat ruang apalagi sekarang ruang dan rumah modern rata-rata minimalis.

    Sama kalau gitu. Mungkin nanti karena saya pun masih sayang dengan TV tabung saya. Mau dikemanakan.

    Lintang Hamidjoyo:
    Betul, Mas kalau berbicara substansi, seringkali fungsi bergeser dari esensi itu sendiri. Namun kalau saya melihatnya ini bukan melupakan subtansi atau esensi tapi sebuah keinginan (lebih) multi fungsi bagaimana memadatkan fungsi kedalam satu perangkat teknologi.

    Itu sama kasusnya dengan fungsi HP, kan awalnya buat komnunikasi tapi mengapa perlu ada fitur kamera di dalam ponselnya. Bukankah esensi komunikasi dan foto itu berbeda meskipun akhirnya keduanya bisa saling dihubung-hubungkan. Ponsel buat motret lalu dikirimkan via MMS atau diupload ke FB itu juga bentuk komunikasi dalam bentuk visual. Betul?

    BalasHapus
  18. Saya masih pakai tabung, tapi slim. Pengen yang LCD, yg tabung kok yang lama gak rusak-rusak. He he he!!!

    BalasHapus
  19. ane malah berharap akan ada era TV PROYECTOR..biar bisa satu tembok full gambarnya hehehee :D
    kayaknya keren. .dan masih bisa dikembangkan..

    BalasHapus
  20. Teknologinya bagus sekali. Yang ini sepertinya benar-benar fungsional. Dulu, mungkin bapak masih ingat, ada teknologi teletext di TV. Seperti internet, ada halaman berita tapi datanya dikirim lewat sinyal TV. Waktu itu saya masih SD, internet belum ada. Sayangnya, pihak TV males update berita. Jadinya, teknologinya percuma, tidak berguna.

    Saat ini, tinggal masalah koneksi internetnya. Sanggup tidak untuk memutar film? BTW, ini pasti bisa buat browsing biasa ya? Dalam pikiran saya, terbayang iPad raksasa dalam format TV tanpa touchscreen.

    Pak, kalau tidak salah Hulu cuma bisa di Amrik. Di Asia, setahu saya alternatifnya pake Boxee.

    BalasHapus
  21. Kalau melihat TV tabung, layaknya melihat radio gelombang yang sering digunakan Mbok saya. Kadang kadang, terlalu canggih saya juga bingung menggunakannya ^_^

    BalasHapus
  22. M Mursyid PW :
    Berarti harus nunggu rusak dulu atau siaran TV digital sudah ada di negara kita, Pak baru beli TV yang digital berlayar LCD/LED. HeHe...

    ada-akbar.com:
    Kalau Mas Akbar maunya begitu, gampang, kok. Tinggal beli infocus dan sambungkan dengan VGA output TV-nya maka jadilah TV gede mirip bioskop. :)
    Hem, tapi harga infocusnya, malah lebih mahal dari harga TV-nya sendiri. Gimana? :D

    Eh, ya domain Mas Akbar, kok expirednya, ya Mas? Barusan saya mampir kesana masuk ke halaman domain parking.

    Jeprie:
    Saya sudah lupa, Mas Jeprie tahun berapa ya itu waktu ada teletext di televisi kita.

    Ya, yang jadi kendala masalah kecepatan koneksinya sekarang, sama siaran TV digital juga belum ada di negara kita. Untuk akses internetnya masih milih-milih daerahnya dimana dulu. Kalau sudah tercover jaringan 3.5G/HSDPA tak masalah internetan dan streaming video/TV. Kecuali hanya buat browsing halaman web biasa tak masalah.

    Tentang Holu saya sebetulnya juga baru dengar waktu browsing dan baca-baca kemarin, Mas. Hanya bisa di Amrik saja, ya? :)

    Kaget :
    Kalau terlalu canggih, betul juga, Mas kita jadi tergagap menggunakannya. Perlu belajar lebih dulu :)

    BalasHapus
  23. Kemarin saya ke kantor seseorang. Dia menghubungkan PC-nya dengan TV LCD segede gaban. Dan dia pun buka Youtube...beneran sob...keren banget keliatannya :D

    BalasHapus
  24. apalagi TV rusak
    sudah pasti ditinggalkan ya
    hahaha

    BalasHapus
  25. bukan detikcom:
    Wah, itu berarti berasa nonton bioskop di kantor, Mas. HeHeHe.

    ciwir:
    Ditinggalkan atau diloak kalau masih laku. :D

    BalasHapus
  26. Untuk saat ini saya masih setia dengan TV crt bro... Mungkin jika sudah punya dana lebih akan beralih ke TV LCD....

    BalasHapus
  27. wah saya masih pake yang tabung-tabung, mas hehe pengennya ganti tetapi belum ada budget :)

    BalasHapus
  28. Gila ya, perkembangan teknologi sekarang. Makin canggih! Sayang, kondisi financial saya, kurang mendukung untuk selalu mengikuti kemajuan teknologi2 terbaru tersebut. :D

    BalasHapus
  29. bro eser:
    Sama, Bro. Di rumah saya juga masih pakai TV CRT.

    Andi Sakab:
    Budgetnya masih buat pos yang lainnya, ya Mas Andi? :)

    Tongkonanku:
    Kalau mau menuruti teknologi baru rasanya memang tak ada habis-habisnya, Mas Feri. Duit berapapun akan masuk kalau nuruti yang baru terus. Betul?

    BalasHapus
  30. jika TV tabung mulai ditinggalkan terus bagaimana upaya mengatasi masalah ini

    BalasHapus
  31. Perawatan Wajah:
    Yang meninggalkan, kan konsumen. Produsen tinggal mengikutinya. Jika ditinggalkan ya beralih ke TV digital terpaksa.

    BalasHapus
  32. aku masih pake tipi tabung pak.
    mo beli yang baru nanti aja nunggu yang ini rusak. :D

    BalasHapus
  33. Wah ulasannya mantap saya jadi lebih tahu perkembangan Tv, teruatama ulasan tv internetnya.

    BalasHapus
  34. Wah ulasannya mantap saya jadi lebih tahu perkembangan Tv, teruatama ulasan tv internetnya.

    BalasHapus
  35. yup,,
    sekarang pilihan lebih banyak,,
    dengan bentuknya yang lebih ramping banyak diminati,,
    layar tabung lebih berat juga sich,,

    BalasHapus