Kamis, 13 Januari 2011

Inilah Rahasia Seorang Penulis Yang Jarang Orang Tahu

Rahasia Penulis

Bagi orang awam, maksud saya yang non penulis rata-rata masih banyak yang meyakini bahwa seorang penulis itu pasti adalah orang pinter, orang hebat. Orang yang punya kemampuan atau kompetensi di atas rata-rata orang kebanyakan. Pertanyaan saya kepada Anda, benarkah?

Hem, saya jawab memang, sih orang bodoh tak mungkin bisa jadi penulis. Tapi kalau saya balik, sebetulnya jadi penulis tidak melulu orangnya harus orang hebat yang punya intelegensi tinggi. Karena prakteknya IQ, tingkat pendidikan dan kemahiran menulis tidak selalu berkorelasi secara positif. Banyak, kok orang pinter yang tetap saja gagap menulis dan lebih suka plagiat karya orang lain ketimbang menulis sendiri. Masih ingat dengan kasus plagiat disertasi seorang doktor di ITB dulu? Silahkan baca ulasan di artikel blog sahabat saya, Mas Lintang di sini, "Profesor Masturbasi".

Dulu, sebelum saya aktif menekuni dunia tulis-menulis di blog saya pun punya keyakinan begitu. Penulis pastilah orang hebat. Bagaimana tidak hebat kalau sebuah tulisan ternyata bisa memberi sebuah pelajaran dan ilmu-ilmu baru kepada kita para pembacanya. Tapi itu dulu. Lain dulu lain sekarang. Karena setelah saya tahu rahasia dalemannya seorang penulis, saya baru nyadar tidak ada penulis yang benar-benar hebat 100% sampai-sampai bisa dengan sangat pintar menulis tanpa melakukan teknik rahasia ini.

Apa teknik rahasia tersebut? Rahasianya adalah satu, yaitu melakukan teknik Membaca Sintopikal (membaca perbandingan) untuk menulis.

Hanya itu?

Ya, hanya itu. Itu adalah rahasia terbesar mengapa seorang penulis tampak seperti orang hebat di mata para pembacanya. Kalau Anda belum tahu apa itu teknik Membaca Sintopikal sebelum Anda meneruskan baca tulisan ini, saya persilahkan Anda baca dulu artikel saya sebelumnya yang mengulas hal ini. Baca "Membaca Kreatif Untuk Kreatif Menulis".

Tapi prakteknya ada, kan penulis filsuf (Pemikir), contoh seperti Goenawan Mohamad yang memang menulis benar-benar karena didapat dari hasil olah pikir penulisnya? Didapat dari hasil perenungan-perenungan penulisnya sendiri. Bukankah penulis filsuf memang menulis benar-benar didapatkan dari olah proses kreatif yang dilakukan oleh penulisnya sendiri? Saya ingin bertanya kepada Anda berapa banyak model penulis yang seperti ini? Tak banyak, kan? Yang banyak, kan penulis yang banyak mengutip sana-sini dari beberapa sumber atau referensi penulis lain untuk menulis.

Itu rahasianya. Mudah, bukan caranya menulis?

Oke, misalnya saya tertarik untuk menulis lalu apa yang harus saya lakukan?

Barangkali Anda bertanya seperti itu kepada saya. Jawab saya: Yang harus Anda lakukan agar mudah menulis, sekali lagi terapkan teknik Membaca Sintopikal. Yaitu membaca dengan memperbandingakan banyak buku sekaligus dari subyek tertentu sesuai minat atau topik yang hendak Anda tulis.

Caranya bagaimana?

Ambil dan baca beberapa buku atau dari sumber informasi lain yang punya tema-tema mirip, lalu ambil sarinya, kompair antara sumber informasi satu dengan yang lainnya, lalu salinlah dan tulislah dengan bahasa Anda sendiri. Jangan lupa selipkan juga opini dan pengalaman Anda sendiri di sana. Simsalabim maka jadilah sebuah tulisan. Beres, kan?

Ternyata mudah, bukan rahasianya untuk menjadi penulis? Okey, selamat menulis!

Disclaimer:
Jika Anda seorang penulis dan sudah mengetahui rahasia ini, saya harap Anda tidak mencela apalagi ngece saya. Satu guru satu ilmu dilarang untuk saling mengganggu. HaHaHa.



Bookmark and Share

19 komentar:

  1. Kalu saya sepertinya tidak bakat menulis karena di tata bahasa saja masih acak-acakan.
    Mungkin menulis itu ada yang untuk sendiri ada yang untuk kalangan atau khusus untuk seseorang.

    Kalu saya untuk diri sendiri aja dulu deh,, pun kalu berguna untuk orang lain allhamdulilah.

    Ga punya cita-cita jadi penulis yang mampu merancang kata hebat. Jadi penulis apa adanya aja.

    BalasHapus
  2. hendro:
    Pada saat Mas Hendro memutuskan untuk menulis di blog maka mitos tidak bakat menulis itu sebetulnya sudah termentahkan. Karena masih banyak orang lain yang lebih parah dari itu. Samasekali tak bisa nulis. Ada juga yang punya keinginan nulis kuat namun tak segera nulis-nulis, bingung harus memulainya darimana. :))

    BalasHapus
  3. Ah, sebenarnya menulis itu apa sih? Rasanya saya hanya cuap-cuap saja :).

    BalasHapus
  4. Baru tahu ada rahasia seperti itu. Soalnya saya kebanyakan menulis ya menulis saja begitu. Terjun bebas. Makanya tulisan saya terkadang lebay, sableng, nggak masuk diakal, dan sedikit kekanak-kanakan...

    BalasHapus
  5. Cahya:
    Sama, Mas Cahya, saya juga gak tahu. Tahunya nulis aja. :D Suka cuap-cuap? Wah, ini saingannya Hani kalau gitu, suka cuap-cuap di radio Volare.

    Rohani Syawaliah:
    Satu guru satu ilmu dilarang saling mengganggu, my Hani apalagi pura-pura gak tahu. Kalau sablengnya ini yang gak ketulungan. :-P

    BalasHapus
  6. Setuju Pak. Meramu beberapa sumber yang sudah ada dengan bahasa sendiri dan pendekatan sendiri. Artinya, kita perkaya dengan pemahaman, pengamatan, maupun pengalaman pribadi kita terkait topik yang ditulis. Itu sudah cukup membuat tulisan kita menjadi berbeda dan kaya.

    Ini yang mungkin belum banyak dilakukan oleh penulis blog. Sebagian cuma menulis ulang apa yang sudah ada (tanpa pendalaman dan pengayaan pribadi). Hasilnya adalah tulisan kering dan minim greget.

    BalasHapus
  7. Hmm, sepertinya saya selama ini juga begitu. Baca sana-sini dan diungkap lagi dgn bahasa sendiri. Dan untuk menulis buku? Wait and see sajalah hehe :)

    BalasHapus
  8. iskandaria:
    Kalau saja semua penulis di blog budayanya sudah begitu, alangkah indahnya. Sayangnya, benar kata Mas Iskandaria, kebanyakan pada kurang kreatif dan lebih banyak seperti menulis ulang saja tanpa ada sentuhan opini dan hasil olah pikir dari sudut pandang penulisnya.

    Darin:
    Rata-rata penulis (blogger) saya rasa juga begitu, Mas Darin. Dan saya pun termasuk ada didalamnya yang begitu. Kalau benar-benar nulis dari hasil pemikiran sendiri 100% itu sulit. Dan sudah pasti butuh proses yang tak sebentar. HeHe :D

    BalasHapus
  9. Jadi pada intinya adalah rajin membaca & mencari referensi untuk menjadi penulis yang baik ya Mas.

    BalasHapus
  10. Mas Iskandaria

    Jadi bagaimana dengan blog saya yang asal tulis aja. Kering dan kurang gregetlah ya?

    huahuahuahuahua

    *nangis histeris*

    BalasHapus
  11. tanks infonya, saya juga selalu membandingkan pada saat kehilangan ide untuk menyusun kata.

    BalasHapus
  12. Rudy Azhar:
    Ya, awalnya pasti begitu, Mas Rudy, banyak membaca dan mencari referensi. Setelah itu baru kita punya daya kreatif mencipta benar-benar dari hasil refleksi dan olah pikir sendiri.

    Rohani Syawaliah:
    Ha Ha Ha. Jangan nangis, dong. Hani, kan seorang sastrawan. Jarang-jarang, lho ada orang yang bisa seperti Hani yang nulisnya bisa sangat produktif gitu.

    HeQris:
    Sama-sama, HeQris. Dengan bantuan pustaka atau beberapa referensi itu memang memudahkan proses untuk menulis.

    BalasHapus
  13. Terkadang menulis tidak sesulit yang kita bayangkan, sedainya kita mau bersungguh-sungguh saya pikir semua akan menjadi mudah. Namun semua juga tergantung dari kemauan dan kemampuan, menulis di blog saja kadang saya kesulitan, kalau menulis untuk berlembar-lembar halaman seperti buku mungkin perlu waktu dan kesabaran..he.he..
    terimakasih :)

    BalasHapus
  14. Sukadi:
    Saya sendiri mulai merasakan mudahnya menulis setelah menghasilkan 200 artikel di blog ini dan itu butuh waktu selama 3 tahun lamanya.

    Hem, benar dibilang menulis itu mudah ya mudah, sulit ya sulit. Tapi setidaknya dengan ngeblog dan sering menulis ternyata pekerjaan menulis tak sesulit yang dibayangkan orang.

    BalasHapus
  15. Artikel saya yang paling panjang ada di http://www.desaindigital.com/kontes-desain-buruk-bagi-desainer/.

    Waktu itu penulisannya sampai 2 minggu, banyak sekali referensi yang dibaca. Tulisannya juga tidak langsung dipublish tapi disimpan dulu beberapa hari karena bahasannya memang sensitif untuk desainer.

    Tapi alhamdulillah, sambutannya bagus. Banyak diskusi di sana termasuk dengan desainer lokal.

    Kalau mau menulis bagus memang perlu usaha.

    Banyak orang yang menulis tanpa referensi. Hanya mengandalkan pengetahuan yang ada saat itu. Hasilnya akan seperti curhat biasa (padahal bukan curhat). Kesannya jadi jelek. Dibilang ilmiah tidak ada referensi, dibilang hiburan juga bukan. Banyak blog juga yang isinya seperti itu. Saya mau berkomentar juga bingung karena tidak ada "isinya".

    BalasHapus
  16. Jeprie:
    Terima kasih sharing pengalamannya, Mas Jeprie. Saya percaya tulisan yang menarik dan berbobot tidak bisa hanya dihasilkan hanya dalam hitungan beberapa menit atau dalam waktu beberapa jam saja. Butuh waktu untuk banyak berpikir, merenung dan mencari banyak referensi yang terkait untuk menguatkan opini kita.

    BalasHapus
  17. Betul sekali pak. Dalam diskusi artikel itu, sepertinya semua sanggahan para komentator sudah lengkap dibahas dalam artikel. Dengan banyak referensi memang argumen kita lebih kuat dan sulit dipatahkan.

    BalasHapus
  18. Jeprie:
    Bagi seorang penulis seperti Mas Jeprie tentu sudah sangat paham akan hal ini, betapa pentingnya arti sebuah referensi, bisa berupa pendapat tokoh maupun data-data penunjang lainnya untuk menguatkan sebuah opini. Semakin kuat referensi dan datanya semakin sulit pula untuk bisa dipatahkan.

    BalasHapus
  19. kalau saya menulis pastinya untuk mempertontonkan betapa rendah IQ saya, hehehe

    BalasHapus