Minggu, 23 Januari 2011

Tujuan Menulis di Blog Untuk Apa?

MenulisDalam menulis di blog saya lebih suka pakai Cara Goblok. Saya tak mau pakai cara-cara yang terlalu pinter, karena pakai cara-cara pinter membuat saya jadi mumet. Meski saya ndak tahu apakah tulisan saya sok keminter apa tidak. Meski juga ada beberapa kawan yang bilang, katanya, tulisan saya ketinggian bahasanya. Intinya, sebetulnya saya menuliskan apa adanya sesuai yang saya kuasai dan saya tahu. Menulis dan tetap jadi diri sendiri itu yang terpenting.

Kadang-kadang kalau saya baca tulisan di blog lain dan bahasan isinya tinggi, cara nulisnya memikat, sama, saya jadi merasa kecil, merasa paling goblok, betapa jeleknya tulisan saya. Namun sebaliknya, jika tulisannya hanya biasa-biasa saja maka saya pun cenderung skip bacanya lalu pergi.

Pada intinya, ini menurut pendapat saya. Tulisan (blog) menarik atau tidak tergantung dari satu hal. Tanya pada diri sendiri apakah pembaca setelah membaca tulisan kita akan mendapatkan sesuatu (value added) atau tidak. Jika tidak mendapatkan sesuatu apapun, yang lebih tepat mungkin kita berada pada posisi meminta bukan memberi. Meminta orang lain (pembaca) menerima ocehan kita, yang hanya penting buat kita tapi tak penting buat mereka (pembaca).

Orang boleh bilang saya penulis blog yang Cari Trafik. Iya benar. Saya pemuja trafik. Tidak apa-apa Anda sebut saya demikian. Anda ingin tahu alasannya? Saya adalah penulis blog yang berharap tulisan saya dibaca dan kalau bisa memberi manfaat buat orang lain. Orang (blogger) lain boleh saja bilang mengklaim saya nulis ma nulis saja, masalah dibaca, bermanfaat atau tidak buat orang lain itu bonus dan tidak usah terlalu dipikirkan.

Hey, serius begitu?

Kita menulis tujuannya adalah untuk berkomunikasi dengan pembaca atau orang lain. Betul? Terus terang kalau saya, entah kalau Anda, saya sedih kalau sudah capek-capek nulis, memapar tulisan di internet ternyata tak dibaca orang. Sedih. Apakah Anda tidak? Apakah Anda serius masih bilang menulis buat diri sendiri? Kenapa tidak nulis di diary offline saja yang hanya Anda sendiri yang baca kalau memang tujuannya begitu?

Pertanyaan-pertanyaan dejavu saya itu perlu dipertanyakan pada diri kita sendiri secara terus menerus agar kita tahu Tujuan Menulis di Blog Untuk Apa.

Sumber Foto: Journal Prompts


Bookmark and Share

25 komentar:

  1. masalah pemuja traffik atau bukan hanya masalah individunya

    toh ini adalah 'dinding pribadi kamar' kita

    tidak ada satu orang pun yang berhak untuk mengganggu gugatnya...

    hahahhahaha...

    Kalo saya pemuja blogger yang blogwalking, apalagi kalo ganteng... bisa klepek2 baca komennya walaupun ditulis dengan huruf gede kecil .... wkwkwkkwkwkw

    BalasHapus
  2. Rohani Syawaliah:
    Selamat Hani dapat pertamax.

    HaHaHa...Klepek-klepek? Berarti tujuan Hani nulis di blog untuk nyari cowok ganteng, dong? :D

    BalasHapus
  3. di paragraf pertama-pertama kok ngena ya? :)

    tujuannya ya? hmmm... kebanyakan apa kebingungan nih saya jawabnya hihi

    walau dejavu tetep ngena nih, mas. :D

    BalasHapus
  4. Saya punya sedikit pengalaman. Dulu awalnya saya memulai blog dengan tujuan utama monetizing. HIngga akhirnya seiring berjalannya waktu saya sadar.

    Kalau seperti itu caranya, saya egois sekali. Seperti mas joko bilang, memaksa pembaca untuk sekedar mendengar celotehan kita tanpa mereka mendapatkan apa-apa.

    Dari sana saya mengubah tujuan blog. Sekaran saya menulis untuk berbagi hal bermanfaat. Masalah duit, ah Tuhan tidak tidur kok.

    Makin banyak memberi hal bermanfaat, ada saja rezeki didatangkan untuk kita. :)

    BalasHapus
  5. Sebenarnya saya juga heran dengan blogger yang ngotot bilang ia cuma nulis buat dirinya sendiri dan nggak pernah mikir tentang ada yang mau baca atau enggak.

    Kalau dari tulisannya, sebagian jelas-jelas dimaksudkan untuk dibaca juga oleh orang lain. Kalau memang cuma buat diri sendiri, ya tulis aja di word, lalu simpan sebagai arsip di komputer pribadi..hehehe

    Tapi step pertama perkembangan penulis memang cenderung menulis hanya untuk minta perhatian pembaca, tanpa/minim sekali usaha untuk memberi value pada tulisannya. Penulis jenis begini tergolong mayoritas.

    Saya pernah mengupas hal itu dalam tulisan tentang "3 tahap perkembangan psikologis penulis".

    Pada intinya, jika sudah masuk ranah publik, ada baiknya menyisipkan value bagi pembaca. Sebab pembaca juga berhak memperoleh sesuatu dari tulisan kita, sekecil apapun itu.

    BalasHapus
  6. Iskandaria

    Mampir dong ke blog saya, tolong diliat, apakah saya udah termasuk blogger yang memberikan manfaat buat orang lain atau tidak?

    BalasHapus
  7. Mengomunikasikan pendapat, saya rasa itu inti dari ngeblog. Kalau ngga, ya sebaiknya kita buat saja website statis yg tak mensyaratkan adanya interaksi.

    Dan anggapan bahasa tinggi/biasa menurut pak joko itu saya setuju. Kalau membaca sebuah postingan blog, saya lebih senang jika saya seakan diajak ngobrol, jadi bukan hanya mendengarkan si narablog berceloteh ttg opininya.

    Tapi ya balik lagi, konsep blognya itu apa. Dan bila merujuk pada gambaran di atas yang sedih bila tulisannya tak dibaca, hmm..ini kena banget buat yang sering fast-reading, hehe.

    Mari sama2 kita menegaskan tujuan ngeblog kita. Kalau saya pribadi: untuk personal branding agar selalu eksis! *tos* :D

    BalasHapus
  8. Memang kesannya naif kalau kita ngotot bilang bahwa kita nulis untuk diri sendiri, tapi kenyataannya tulisan itu ada di blog yang dapat diakses publik. Betapa pun juga penulis blog berharap tulisannya dibaca orang lain, terbukti dengan disediakannya kolom komentar yang diharapkan diisi pengunjung/pembaca.

    Nah, kalau saya bertanya pada diri sendiri, apa tujuan saya menulis di blog, saya tetap akan menjawab bahwa motivasi terbesarnya adalah untuk diri sendiri. Kalau boleh jujur, saya menulis di blog tujuan utamanya adalah untuk mengeluarkan semua yang mengganjal dalam pikiran saya, biar plong. Artinya, dalam hal ini, saya tak pernah memikirkan apalagi memperhitungkan kata kunci. Tetapi, seperti yang dibilang mas iskandaria di atas, sebuah tulisan harus memiliki manfaat untuk pembaca ketika telah masuk ke ranah publik. Karenanya pula, saya juga berupaya agar pembaca dapat memetik manfaat dari apa yang saya tulis, sekecil apa pun manfaat itu.

    Untuk blog saya, mungkin kasusnya sangat personal. 45% trafik datang secara direct. 50% dari search engine. Nah, kata kunci terbanyak (hingga saat ini) yang dipakai orang adalah nama saya. Jika saya harus memperhitungkan kata kunci tertentu dalam menulis, saya justru akan bingung. :D

    Ini sekadar sharing saja. Gimana pendapat Pak Joko?

    BalasHapus
  9. Andi Sakab:
    Tanpa dijawab sepertinya saya sudah tahu apa tujuanya Mas Andi ngeblog. HeHeHe. Yang jelas bukan nulis buat diri sendiri tanpa tujuan. Betul, kan Mas Andi? :D

    arief maulana:
    Saya juga termasuk yang mempercayai itu Mas Arief. Semakin kita banyak memberi kepada orang lain (pembaca) dengan konten-konten yang membawa manfaat atau dibutuhkan orang lain, maka Tuhan akan membukakan pintu rejekinya buat kita.

    iskandaria:
    Ternyata Mas Iskandaria juga punya pemikiran yang sama dengan saya, tidak percaya begitu saja kalau ada orang (blogger) yang bilang begitu. Menulis hanya buat diri sendiri, tidak untuk dibaca orang lain.

    Juga, sama-sama sependapat perlunya untuk memberikan value (nilai tambah) kepada pembaca dalam tulisan kita di blog. Ya, karena kalau kita memposisikan sebagai pembaca pastinya tuntutan kita akan seperti itu. Ngapain capek-capek baca kalau kita tidak dapat nilai tambah apapun dari tulisan yang kita baca. Betul, kan Mas Is?

    Rohani Syawaliah:
    Sesama orang Pontianak boleh saling mampir dan berkenalan. Tapi Hani juga harus mampir juga ke blognya Mas Iskandaria di KafeGue. :)

    Darin:
    Mengomunikasikan pendapat, berharap tulisannya didengar dan dibaca orang lain. Saya rasa ini tujuan paling mendasar orang menulis (ngeblog). Setuju, Mas.

    Kalau tentang fast reading saya tak sepenuhnya menyalahkan. Tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk membaca di blog memang. Tapi semua blogger pasti punya harapan yang sama, walau membaca secara cepat (sekilas) tapi kalau pembacanya cukup cerdas untuk menangkap pesan penulisnya, ya tak menjadi masalah. Yang sering, kan hanya baca judul tak memahami isinya tapi langsung nyolot berkomentar sinis. Ini yang seringkali terjadi.

    Mari bersulang, Mas Darin, :)

    Hoeda Manis:
    Pendapat saya: Itulah bedanya seorang penulis profesional dengan yang bukan. Bedanya blogger yang meski sama-sama motivasi dan tujuannya sama, nulis buat diri sendiri tapi yang membedakannya tetap memikirkan orang lain. Tetap memikirkan apakah tulisan kita membawa manfaat buat orang lain (pembaca) apa tidak.

    Kalau melihat komposisi data statistik dan banyaknya kata kunci yang paling banyak dicari, saya bisa tarik kesimpulan bahwa kekuatan dari blog Mas Hoeda berasal dari sebuah Personal Branding yang sukses, bukan karena teknik SEO. Tapi justru ini sebetulnya yang malah lebih bagus dan dicari banyak orang yang menerapkan teknik SEO. Artinya, nama "Hoeda Manis" ibarat sebuah brand sudah menancap di khalayak pembaca.

    Jadi tanpa menerapkan SEO pun tak menjadi masalah Mas Hoeda. SEO sudah tidak penting lagi buat blog Mas Hoeda. Itu pendapat saya.

    BalasHapus
  10. Rohani Syawaliah:
    Saya sering kok mampir ke blog mbak Hani. Cuma jarang ninggalin jejak aja alias langsung kabur gitu aja...hahaha. Abisnya bingung mau komen apa. Tapi sejauh yang saya baca sih, mbak Hani rata-rata ngasih sesuatu kok dalam tulisannya.

    BalasHapus
  11. Pendapat saya nih :
    Tujuan saya menulis di blog adalah sebagai sarana agar blog saya tidak kosong.. :) Saya berusaha agar tulisan saya bisa komunikatiflah dan Syukur-syukur tulisan itu mempunyai "Value add" buat pembaca(blogger)
    Saya sependapat dengan Master Pak JOKO SUTARTO (DIPTARA) & ISKANDARIA, tidak ada yang menulis blog untuk dirinya sendiri. Namanya kita nulis ya pasti ingin dibaca orang lain, dapat feedback/komen, termasuk saya, walau saya sadar bahwa tulisan saya belum menarik saya ya ingin orang lain baca..jangan cuma di skip saja :D
    Dan artikel pak joko tentang "Goblok" itu ternyata menyesatkan otak goblok saya menjadi agak sangat sedikit sekali menjadi pinter.

    BalasHapus
  12. iskandaria:
    Sesama warga Pontianak harusnya gitu, Mas. HeHeHe.

    Oh, ya Mas Is saya lupa memberi tahu kalau comment jika Mas Iskandaria punya artikel terkait yang relevan dikaitkan dengan artikel saya, silahkan tinggalkan ghost linknya saja di sini pada kolom komentar agar saya pun bisa baca artikel Mas Iskandaria dengan sekali klik. :)

    tonykoes:
    "Menjadi agak sangat sedikit sekali menjadi pinter"
    Walah, isok wae nek nggawe kata-kata, Mas. HeHeHe
    Sesekali nulis tema-tema tentang bidang teknik, kan ndak apa-apa, toh Mas Tony.
    Kalau bidang ini pasti sudah pinter jenengan. Karena kalau ndak pinter ora mungkin dadi tukang insinyur (Chief Engineer). Benar, kan? :))

    BalasHapus
  13. haii mas terimakasih postingnya, iya memang belajar menulis itu harus mulai dari goblok, kalau tidak nggobloki, malah merasa pinter jadinya malah gak belajar-belajar

    BalasHapus
  14. Kalau saya belum bisa menulis mas, makanya saya sering bertandang ke Blog Mas Joko, kalau cari trafik blog saya masih ngos ngosan trafiknya, kalau tujuan ngeblog Insya Allah cari rejeki mas.

    BalasHapus
  15. kalau menurut saya si... menulis untuk diri sendiri juga tidak ada salahnya mas. dengan menjadi diri sendiri, tidak menghalangi kita memberi manfaat bagi orang lain juga kan?

    blog itu tempat yang bagus untuk berbagi pengalaman. Dan lebih hebat lagi, di sini kita bebas memilih pengalaman siapa saja yang ingin kita dengarkan.

    kalau malas baca, tinggal ngacir aja tho?

    BalasHapus
  16. Saya menulis dan saya senang, itu saja :).

    BalasHapus
  17. erwinsusetya:
    Terima kasih. Sama-sama, Mas Erwin. Idealnya memang gitu, sih cara belajarnya yang mudah.

    Lintang Hamidjoyo:
    Saya yakin juga blogger yang selalu mendengungkan nulis hanya buat diri sendiri dan tak punya tujuan eksplisit juga sama, Mas Lintang, tak nolak rejeki juga kalau diberi. Betul?

    Huda Tula:
    Tulisan saya ini sebetulnya tak bicara masalah salah dan benar, Mas Huda. Hanya berbicara gambaran idealnya saja, blog yang menarik dari sudut pandang pembaca itu seperti apa.

    Pertanyaan-pertanyaan dejavu saya itu sekedar sebagai refleksi saja.

    Cahya:
    Dan pembaca biasanya tuntutannya: Saya datang, baca dan senang. Sangat simpel juga. HaHaHa. Betul, ya Mas Cahya?

    BalasHapus
  18. Setelah saya baca postingan sampeyan .. saya jadi tahu kenapa kita menulis ..
    dulu saya membuat blog hanya bertujuan untuk menyampaikan apa yang ada di kepala saya dan tidak berharap untuk aprtesiasi dari orang lain ..
    benar .. sedikit kecewa jika postingan kita tidak mendapat apresiasi dari orang lain ..

    BalasHapus
  19. hoedz:
    Terima kasih Anda mau jujur mengakuinya. Kecewa itu wajar. Justru yang tak wajar jika ada blogger yang mengatakan tetap biasa-biasa saja kalau tulisan di blognya ternyata tidak dibaca orang lain. Padahal, jelas-jelas isi tulisannya ditujukan buat dibaca orang dan banyak kalimat di tulisannya yang bertanya dan meminta feedback dari pembaca.

    BalasHapus
  20. Bicara soal tujuan ngeblog,, saya selalu punya pertanyaan balik "di blog yang mana?"

    Karena masing-masing blog yang saya kelola beda-beda tujuannya,,

    Tapi secara garis besar saya bagi menjadi tiga,,"Blog Komersil" , "Blog Narsis" yang ke tiga "Blog sharing"

    Di blog yang komersil saya update hampir tiap dua jam, (kadang kadang pake Robot), bahasa yang di gunakan bahasa linggis yang acakadut,, yang penting traficc,, maklum saya gak kerja apa-apa lagi selain ngeblog,,ibarat rangka blog adalah tulang punggung,,

    Di blog yang narsis,, saya pajang foto,, update sesuatu yang narsis,, opini pribadi,, ngomentarin apa aja ,, update nggak nentu,, tapi justru itu yang dapet PR 3 mungkin karena keunikan kontentnya,,

    Di blog yang sharing,, saya baru update kalau ada sesuatu yang ingin saya bagi,, biasanya trik blogging trik komputer dll,,,

    BalasHapus
  21. Haryanto Blog:
    Ini baru jawaban yang paling logis, dan yang terpenting sangat jujur. Terima kasih, Mas Haryanto. Setidaknya, saya sudah dua kali pernah mendengar jawaban cerdas seperti ini. :D

    Karena saya sering menemui jawaban yang tak logis dari beberapa blogger lain saat saya mengajukan pertanyaan ini. Ada yang bilang nulis untuk diri sendiri, tidak untuk bertujuan dibaca oleh orang lain. Tapi anehnya, di blognya tulisannya tidak narative, tapi bertebaran pertanyaan kepada pembaca, terus minta pendapat (feedback), kolom komentar juga dibuka lebar-lebar tapi bloggernya bilang tetap ngotot nulis buat diri sendiri, masalah dibaca oleh orang lain katanya hanya sekedar bonus, bukan tujuan.

    Kalau saya, jujur juga cenderung setuju dengan Mas Haryanto ini, agar tidak mencampuradukkan antara personal blog dengan blog komersial.

    BalasHapus
  22. ...memang menyenangkan membaca komentar blogger yang penuh kompetensi --saya seolah-olah sedang membaca artikel.

    BalasHapus
  23. blogdangkal™ :
    Blogger penuh kompetensi? Yang mana itu, Mas. He He He

    BalasHapus
  24. Tulisan anda sangat mnginspirasi :)

    BalasHapus