Kamis, 27 Januari 2011

Behind The Scenes

Behind the Scanes
Apakah Anda mempunyai sisi kekurangan dalam diri Anda? Maaf, ini hanya sebuah pertanyaan. Anda boleh menjawab, boleh juga tidak. Pertanyaan saya yang kedua, pernahkah Anda nonton Behind The Scenes (kisah di balik layar) sebuah film atau membaca kisah hidup yang menjadi sisi lain dari kehidupan seorang penulis yang begitu Anda kagumi?

Jika pernah mungkin tulisan ini sedikit mirip dengan itu. Tetapi samasekali tak mirip kalau Anda memandang ke saya sebagai bukan siapa-siapa karena bukan seorang penulis hebat sehingga mungkin tulisan ini tak menarik buat Anda. Namun ijinkan saya menulis ini untuk menceritakan sebuah sisi yang amat pribadi tentang beberapa latar belakang lahirnya beberapa tulisan-tulisan yang telah saya publish di blog ini. Terlepas ini menarik buat Anda apa tidak, Anda mau membacanya atau tidak.

Mengapa saya perlu menceritakan ini? Sekedar bukti saja kepada Anda bahwa saya masih manusia biasa, punya hati. Juga sekedar bukti bahwa saya seorang yang juga lemah, pernah marah, pernah menangis, dan kadang-kadang tak berdaya.

Anda tertarik ingin tahu Behind The Scenes, sisi lain dari diri saya dalam menulis di blog ini? Silahkan menyimak inilah beberapa contoh artikel dan sisi yang melatarbelakangi lahirnya tulisan di blog ini.

  1. Salam Perpisahan. Artikel ini saya tulis karena waktu itu saya sangat sedih dan merasa kehilangan sebab salah seorang sahabat blogger saya berhenti ngeblog dan mengucapkan selamat tinggal kepada saya.
  2. Alasan Goenawan Mohamad Mengembalikan Bakrie Award Membuat Saya Jadi Sedih. Artikel ini saya tulis sambil menahan sebuah kegeraman amarah. Bagaimana tidak, saya begitu tersentak saat membaca statement Aburizal Bakrie kepada blogger Langsat yang tetap ngotot merasa tidak bersalah atas musibah Lumpur Lapindo. Ternyata apa yang ditulis Anindya Bakrie, anak Bakrie, hanya omong kosong belaka. Keluarga Bakrie pada prakteknya tetap mempermasalahkan pentingnya siapa yang bersalah dalam musibah Lumpur Lapindo ketimbang menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Maaf, Pak SBY Mimpi Anda Terlalu Dini. Artikel ini juga sama, saya tulis dalam kondisi marah, geram, dan kecewa berat kepada bapak presiden kita, SBY. Dan terbukti apa yang dikatakannya ternyata tidak bisa dibuktikan atau direalisasikan hingga sekarang. SBY ternyata tak konsisten dengan kata-katanya.
  4. In Memorian Lumpur Lapindo. Saya pernah sedih, sangat-sangat sedih, sampai berkaca-kaca bahkan menangis saat menulis artikel di blog ini. Salah satunya waktu menulis artikel ini. Mungkin ini artikel paling mahal buat saya karena saya tulis dengan tinta air mata.
  5. Berqurban, Benarkah Hanya Untuk Orang Kaya? Kalau ada orang yang bilang seorang penulis itu hanya pandai berkata-kata tapi tak pandai membuktikannya dalam kehidupan dia sendiri di kehidupan nyata, maka artikel ini sudah mematahkannya. Saya menulis artikel ini dengan penuh keharuan sambil berkaca-kaca saat menuliskannya. Mengapa? Karena saya baru mengalami sebuah pencerahan luarbiasa yang mengubah cara pandang saya menyikapi ibadah Qurban. Artikel ini juga saya tulis dengan bercucuran air mata sehingga layak saya anggap sebagai artikel termahal juga karena dituliskan dengan tinta air mata.

Saya rasa contoh lima artikel saja sudah cukup, ya? Saya tak ingin Anda tahu semuanya tentang diri saya. Saya tak ingin menjadi benar-benar telanjang di depan Anda. Biarlah kusisakan sebagian untuk kusimpan rapat-rapat dan menjadi rahasia buat saya sendiri.

Kesimpulan dari tulisan ini. Dalam diri seorang manusia selalu punya titik-titik terlemah. Tak terkecuali pada diri saya. Entah kalau Anda apakah mau mengakui sisi ini pada diri Anda atau tidak. Tapi terlepas dari semua itu, ternyata saya tak sendirian yang seperti ini. Saya jadi ingat salah satu artikel menarik yang ditulis oleh salah seorang sahabat blogger saya, Mas Hoeda Manis, di artikelnya yang berjudul "Surat Rachel Kepada Batman" bahkan orang hebat sekelas Bruce Wayne dalam tokoh Batman saja masih tetap manusia biasa. Batman tokoh super hero itu tetap perlu cinta dari Rachel, wanita yang begitu dicintainya sebagai sosok kekasih sekaligus sebagai seorang ibu hangat yang bisa melindungi sifat bocah kesepian dan ketakutan yang ada di dalam diri seorang Batman.

Sumber Foto: Photobucket com


Bookmark and Share

29 komentar:

  1. behind the scene ya?

    belum pernah nonton sih akunya...

    tapi kenapa merasa seperti dejavu ya?

    bagian akhirnya itu...

    wkwkwwkkwkw

    Tidak ada kok manusia yang sempurna...

    Mau itu blogger master sekalipun

    BalasHapus
  2. Rohani Syawaliah:
    Mosok gak pernah? Itu lho adegan-adegan salah dalam syuting film yang biasanya diputar saat selesai film. Atau cerita-cerita dibalik layar seputar pembuatan sebuah film.

    Tulisan ini sebagai bukti bahwa saya juga manusia yang tak sempurna itu. :)

    BalasHapus
  3. jujur belum lihat hehe

    Behind The Scene saya terlalu pahit untuk di ungkap biarlah saya tetap jadi The misterius blogger deh :D

    BalasHapus
  4. Andi Sakab:
    Behind The Scene itu semacam kisah atau cerita di belakang layar dari pembuatan sebuah film, Mas Andi. Biasanya sering direview saat sebuah film akan direlease (premier). Oke, saya insert penjelasannya di artikelnya.

    Saya punya keyakinan semua orang punya sisi itu, Mas. Kalau itu terlalu berat untuk diceritakan, sebaiknya jangan diceritakan. :)

    BalasHapus
  5. Kalau Mas Joko banyak menulis dengan tinta air mata, saya justru sebaliknya...
    Karena tulisan saya ringan2 saja, maka nulisnya ya sambil ketawa2...

    BalasHapus
  6. Artikelnya bagus-bagus pak, terutama tentang Lumpur Lapindo. Mungkin karena ditulis dari perspektif korban.

    Saat ini saya lebih memilih tidak menulis yang berkaitan dengan pribadi, fokus pada keahlian saja. Mungkin jika ada waktu nulis dalam blog personal.

    BalasHapus
  7. marsudiyanto:
    Kalau Pak Mars, kan seorang Guru tentu ada tuntutan harus tampil selalu sempurna di depan siswanya makanya selera humornya harus lebih tinggi. Jangan seperti saya yang sentimentil begini. HeHeHe

    Jeprie:
    Terima kasih apresiasinya, Mas Jeprie.

    Tulisan seperti ini memang hanya cocok buat blog personal aja. Oh, ya setahu saya dulu Mas Jeprie pernah buat blog personal pada sub domain di desain digital. Tapi saya lupa URL-nya. :)

    BalasHapus
  8. Wah, sampai ngesoul banget gitu... Salute... :)

    BalasHapus
  9. waaaaaaaaah kalah pertamaaax lagggii

    Wis pokoke cuma satu katan klo baca tulisan mas joko,,,
    Oyeeeeeeeeeeeeee
    mas joko pancen oyeeeeeeeeeee

    l
    l
    v
    With Smile
    MisterXWebz

    BalasHapus
  10. ardianzzz:
    Inilah kalau ngeblog ditulis pakai tinta air mata. HaHaHa :)

    MisterXWebz:
    Makanya Twitter dipantengin biar gak telat.

    Lha, itu Pak Mantep kalau yang suka ngomong begitu. :)

    BalasHapus
  11. Kehidupan para penulis memang (biasanya) tidak normal, dalam arti tidak asing dengan tragedi, kelemahan manusiawi, bahkan duka cita mendalam. Tapi anehnya, semakin "tidak normal" hidupnya, semakin bagus tulisannya. :D

    Seperti Pak Joko sendiri, misalnya, pastinya sulit untuk bisa nulis soal lumpur lapindo dengan mendalam kalau tidak pernah mengalami secara langsung tragedi itu. Meski orang lain menulis topik yang sama, tapi "soul"nya tetap beda. Bagi penulis atau yang suka menulis, "ketidaknormalan" sepertinya justru patut disyukuri. (Tapi saya tetap cowok normal, lho! :D)

    Trims atas backlink-nya, Pak.

    BalasHapus
  12. behind the scene saya terlalu cantik untuk diceritakan, tar pada naksir sama saya... halah...

    :D

    BalasHapus
  13. Tumben tulisanya berbau "melow" nih...
    Pada dasarnya semua orang tidak sempurna, tapi ada beberapa orang yang memiliki SEMPURNA, yaitu ONCE Si Vokalis dan DEMIAN si pesulap.... :D
    Yang pasti saya mempunyai banyak kekurangan pak.. Kurang Ganteng.. Kurang Sugih.. tapi kalo kurang ajar aku dah punya... :D

    BalasHapus
  14. Hoeda Manis:
    Saya pernah baca juga gitu, Mas Hoeda. Situasi ketidaknormalan, misal kemiskinan, penderitaan, seringkali justru memicu lahirnya sebuah karya hebat. Contoh penyanyi Ebiet G Ade katanya dulu sewaktu masih "menggelandang" ngamen di Malioboro Jogja karya lagu-lagunya justru bagus-bagus. Namun kini setelah secara materi berkecukupan karena sudah sukses justru karya-karyanya menurun, tidak sebagus yang dulu-dulu.

    Ya, "Soul" itu tanpa saya sadari bisa saya dapat karena saya mengalami dan bergumul dengan penderitaan itu sendiri. Saya mengalami bagaimana menderitanya harus kehilangan rumah, terombang-ambing dalam sebuah ketidakpastian selama bertahun-tahun karena menunggu proses ganti rugi yang tak kunjunga selesai hingga sekarang. Dan juga bisa menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri penderitaan tetangga dan saudara saya yang kehilangan rumah dan sawah mereka. Sementara di sisi lain pemerintah seperti mlempem tak bisa berbuat apa-apa.

    Masih normal, ya? Ha Ha Ha. Sama-sama, Mas Hoeda.

    Rohani Syawaliah:
    Padahal "Behind the scene" dari Hani belum diceritakan saja saya sudah klepek-klepek. Apalagi nanti mau dibuka, bisa-bisa saya tambah naksir berat. :))

    tonykoes:
    Sesekali dibuat melow buat selingan, Mas Tony. Asal jangan keseringan. :D

    Kalau saya kekurangannya hanya satu. Kurang tajir! :)) Kalau wajah saya masih lumayan ganteng, kulit bersih dan tinggi *Narsis Mode On*. Buktinya kalau jalan di toko para SPG masih suka ngelirik saya dan suka bisik-bisik. HaHaHa

    BalasHapus
  15. Wah, kalo saya rasanya belum pernah nulis yang full pakai perasaan begitu Pak (kalau di blog). Namun ketika masih aktif menulis di sebuah situs komunitas beberapa tahun silam, saya tergolong cukup sering menulis sesuatu yang melibatkan totalitas perasaan seperti daftar tulisan Pak Joko di atas.

    Rata-rata sih tentang kerihatinan dan kegeraman saya terhadap sesuatu (alias kritikan). Kalau kesedihan, belum pernah kayaknya.

    BalasHapus
  16. iskandaria:
    Terkadang saya ini suka lupa sebetulnya saya ini laki-laki apakah seorang perempuan, Mas Is. Mengapa? Karena sisi emosi saya tak kalah kuat dengan sisi logika saya. Saya bahkan mudah sekali menangis jika menghadapi sesuatu yang sangat menyentuh hati saya. Ah, mungkin ini terdengar sentimentil dan sungguh tak pantas, kok ada laki-laki cengeng seperti saya ini. Tapi ini kenyataan, sisi lain ini benar-benar ada pada diri saya.

    Jika ketidaknormalan semacam ini katanya bisa menjadi modal kuat untuk menulis yang begitu nge-"soul" seharusnya saya malah mensyukurinya dan terus mengasahnya. Itu artinya saya punya kepekaan jiwa yang mungkin melebihi laki-laki normal pada umumnya. Betul? :))

    Tapi saya masih laki-laki normal, lho. Punya istri, bisa punya anak dan seorang pencinta yang hebat. Ha Ha Ha.

    BalasHapus
  17. Ternyata di blog juga ada behind the scene ya pak. saya kira hanya di film aja yang ada, ternyata di blog juga ada.
    Btw

    BalasHapus
  18. bro eser:
    Kali ini saya yang coba membuatnya, Bro. Karena jarang-jarang saya menemui yang seperti ini (Behind The Scene) di blog. HeHeHe

    BalasHapus
  19. behind the scene dalam artian secara harfiah ya?
    jujur saja,saya belum menemukan media yang pas untuk mengungkapnya ,kegeraman-kegeraman dan kejengkelan-kejengkelan,keletihan-keletihan yang ada sepertinya hilang setelah bergaul dengan dunia lain bernama blog...
    masih banyak lagi sbeenarnya behind the scene yang ingin saya tuliskan,tapi nggak tahu kenapa libido bloging saya agak menurun minggu-minggu ini....

    BalasHapus
  20. wid:
    Baru setengah ronde, kok libidonya mulai menurun. Minum jamu kuku bima, Mas Widodo biar gairah ngesek, eh salah blogging semangat lagi. :D

    Saya pikir kritik-kritik tajam dan pedas di blog Mas Widodo selama ini itu sudah cukup bisa menyalurkan sisi-sisi (kegeraman) itu. Belum, ya?

    BalasHapus
  21. Jadi saya teringat kata kata Al-mutanabbi - “Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”

    Tentang makna dibalik problematika hidup apapun bentuknya, Hanya orang-orang yang telah melewati pahit getirnya kehidupanlah yang ‘kan jadi orang mulia. Bukankah manusia yg paling mulia di atas muka bumi ini adalah mereka yang paling berat ujian hidupnya? - Behind The Scene pada setiap pristiwa. :) :)

    BalasHapus
  22. Lintang Hamidjoyo:
    Kata-kata kutipannya sangat dalem sekali maknanya, Mas Lintang. Saya jadi tercerahkan sekali. :)

    Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang mulia tersebut. Ya, saya setuju orang-orang yang bisa sukses melewati kesengsaran dan kegetiran hidup biasanya akan jauh (cenderung) menghargai kalau hidup ini adalah pemberianNya. Penderitaan atau cobaan diberikan agar kita lebih mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya kepada kita.

    BalasHapus
  23. behind the scene kalau di tv kan ngga semuanya di tampilkan ke khalayak umum pak,

    salut deh utk yang empunya blog..

    BalasHapus
  24. Aming:
    Maksudnya? Oh, berarti Anda mendukung saya kalau tidak apa-apa tidak ditampilkan semuanya, gitu? Ya, Behind the Scene harus disisakan sedikit untuk misteri. :D

    Terima kasih apresiasinya, Mas Aming. :)

    BalasHapus
  25. wah blog pak joko luar biasa, semua artikel yang di posting di buat dengan penuh penghayatan.

    BalasHapus
  26. motivasi hendra:
    Terima kasih apresiasinya, Mas Hendra. Saya hanya menuliskan apa yang ada didalam hati dan pikiran saya aja, sesuai pengalaman hidup saya.

    BalasHapus
  27. Oh, sempet ke obrolan langsat dimana Anindya Bakrie diundang Pak..? Ckckck.. di sana kalo tidak salah mereka disuguhi kue lumur tuh sama orang2 langsat.. Hehe..

    BalasHapus
  28. titiw:
    Saya nggak ikut ke sana (Langsat), Mbak Titi. Hanya dengar dari GM baca tulisan di Tempo.

    HaHaHa... Ya disuguhi Lumpur aja. Setuju!

    BalasHapus