Rabu, 12 Januari 2011

Penulis Spesialis dan Penulis Generalis, Mana Yang Terbaik?

Generalis Vs Spesialist

Apakah Anda termasuk yang meyakini blog itu harus punya tema spesifik? Blog itu harus yang punya tema atau niche tertentu? Misal seperti bertema tentang blogging, bertema tentang tutorial-tutorial Wordpress, CSS, Photoshop dsb? Ataukah bertema tentang tema-tema bisnis online dan motivasi blogging misalnya? Pertanyaan saya, kalau begitu blog personal yang bertema gado-gado yang tema tulisannya campur aduk itu menurut Anda gimana? Blog ndeso? Blog kampungan, gitu?

Hem, saya rasa itu anggapan yang kurang tepat. Blog menarik atau tidak, tidak ditentukan dari tema blognya apa. Spesifik apa tidak spesifik. Tidak ditentukan oleh apakah temanya campur aduk apa tidak. Itu pandangan yang terlalu sempit, anggapan yang sangat-sangat sesat bin keliru. Yang terpenting seharusnya, ya mutu tulisan atau isi dari content blognya itu sendiri, bukan?

Kalau saya mudah saja, kok untuk mengidentifikasi tulisan sebuah blog itu menarik apa tidak, bermutu apa tidak. Saya baca, setelah itu telaah dan renungkan. Jika setelah saya baca saya tidak mendapatkan value added (nilai tambah) apa pun, ya ngapain juga capek-capek berkunjung dan baca ke sana lagi? Gak peduli meskipun itu blognya jenderal petak atau blognya para Master Blogger atau seorang penulis tenar. Peduli setan!

Mungkin ada sebagian orang yang berpendapat begitu karena picik sekali cara pandanganya, belum pernah mengamati di dunia kepenulisan atau iklim kepenulisan di media. Bukankah dalam dunia kepenulisan pun juga terbelah jadi dua kubu? Yaitu kubu Penulis Spesialis dan Penulis Generalis. Dan ngeblog masih termasuk menulis juga, kan?

Mari saya akan berikan contoh-contoh penulis dari kedua kubu tersebut. Penulis Spesialis dan Penulis Generalis.

Penulis Spesialis

Dalam tema-tema tulisan spesialis penulis sengaja mengkhususkan diri untuk menulis kepada tema-tema tertentu yang spesifik. Bisa tema tentang sastra, ekonomi, politik, hukum, budaya, seni dsb. Saya akan ambil contoh penulis spesialis mulai dari tema sastra. Dalam kelompok ini kita mengenal ada nama-nama besar seperti: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Faruk HT, Seno Gumira Ajidarma, dsb.

Kalau dalam kelompok penulis bertema politik kita juga mengenal ada nama-nama ini: Arbi Sanit, Eep Saefulloh Fatah, Daniel Sparingga, J. Kristiadi, William Liddle, Indria Samego, Afan Gaffar, Rizal Mallarangeng, Andi Alfian Mallarangeng, Riswandha Imawan, Cornelis Lay, Denny JA dsb.

Dan dalam kelompok penulis tema ekonomi misalnya kita juga mengenal ada nama-nama seperti: Kwik Kian Gie, Sri Mulayani Idrawati, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Sri Adiningsih, Sjahrir, Mubyarto, Didik J Rachbini dsb.

Itu kurang lebih sedikit contoh gambaran para penulis yang berada dalam kubu Penulis Spesialis. Silahkan Anda cari contoh-contoh yang lain. Karena tidak mungkin saya sebutkan semuanya di tulisan pendek ini.

Penulis Generalis

Penulis Generalis adalah penulis yang tidak hanya memfokuskan diri kepada satu topik tertentu saja tetapi menulis dan menekuni lebih dari satu bidang, bukan hanya satu tema saja. Penulis kubu ini biasanya karena mempunyai kompetensi, minat atau ketertarikannya kepada lebih dari satu bidang.

Contoh-contoh Penulis Generalis yang masuk dalam kubu ini adalah Jaya Suprana, Sindhunata, Ignas Kleden, Ariel Heryanto, Faisal Baraas, Kartono Mohamad.

Kedua contoh Penulis Generalis yang saya sebutkan terakhir, Faisal Baraas dan Kartono Mohamad adalah contoh seorang dokter yang disamping sering menulis tentang tema kedokteran dan kesehatan, juga sering menulis tentang masalah sosial dan kebudayaan.

Dan Jaya Suprana, kita tahu dia ini adalah sosok seorang pengusaha yang juga jago memainkan piano (Pianis) dan sekaligus seorang budayawan yang seringkali menulis dengan banyak sekali tema. Tema tulisan yang sering ditulis Jaya Suprana banyak berkisar di tema sospol, kebudayaan, musik, kelirumologi dsb.

Kesimpulannya sekarang, manakah yang terbaik menjadi Penulis Spesialis ataukah menjadi Penulis Generalis? Saya jawab, saya rasa tidak etis kalau memperbandingakannya hanya karena alasan mana yang terbaik mana yang tidak, sebab ini adalah masalah pilihan. Dan sebuah pilihan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, masing-masing punya konsekuensinya sendiri-sendiri, dan sebuah pilihan terbaik atau tidak itu tergantung dari sudut pandang Anda atau masing-masing orang. Anda lebih mempunyai kemampuan atau sreg dan menjiwai yang mana. Penulis spesialis atau Penulis Generalis. Betul, tidak?

Selamat memilih. Dan tolong satu saja pesan saya kepada Anda: Saya sudah menghargai pilihan Anda maka hargai juga pilihan saya untuk lebih memilih menulis blog dengan tema generalis. Adil, kan?

Catatan:
Artikel ini saya tulis karena saya tersengat setelah membaca tulisan sahabat blogger saya, Mas Widodo di artikelnya yang berjudul "Sudah Terlanjur Basah..." Silahkan Anda berkunjung ke sana juga sehingga Anda lebih memahami latar belakang masalah dari topik yang saya tulis ini.


Sumber Foto: generalspecialis


Bookmark and Share

13 komentar:

  1. saya pilih yang general kalo begitu soalnya memang saya bukan ahli spesialis :D

    BalasHapus
  2. wah pada nulis yang seperti ini, postingan saya telat terbaca nih, karena pake schedule... kulang ajat!

    huh! gara2 gila nulis kebanyakan ide postingan ngantri... kayak apah blog saya ini...

    menurut saya seorang yang bisa menulis tema yang gado2 dalam sebuah blog adalah orang yang bisa dikatakan master sesungguhnya...

    multi talenta kan?


    kalo hanya bisa nulis satu jenis dan bagus itu biasa, tapi kalo bs nulis berbagai macam jenis itu tetap bagus itu luar biasa.

    BalasHapus
  3. spesialis atau generalis itu tak penting selagi bermanfaat positif bagi pembaca.
    yang terpenting adalah, tulisan yang ditampilkan adalah hasil karya pribadi...

    salam kenal, jikalau kawan sempat main-main dan meninggalkan saran di inaska.blogspot.com, maka saya akan sangat berterima kasih...

    BalasHapus
  4. kalau saya si...ingin dibawa enjoy aja. Sepertinya blog saya termasuk gado-gado. untuk jadi penulis yang spesialis itu..sepertinya butuh pemahaman mendalam atas tema yang dia bahas.

    manakah yang terbaik? menurut saya yang terbaik adalah menjadi diri sendiri. Kalau memang lebih cenderung menjadi penulis spesialis, ya jadi penulis spesialis aja. begitu pula sebaliknya. Untuk apa juga memaksa diri?

    Asal dilakukan dengan sungguh2, saya yakin manfaat akan datang dengan sendirinya.

    BalasHapus
  5. Hahaha. Saya rasa sama sekali tidak ada yang meyakini blog itu harus punya tema spesifik. Nggak ada pula yang mengharuskan begitu. Tidak ada pula yang membuat aturan begitu.

    Jadi konteksnya menurut saya bukan pada masalah harus begini, harus begitu. Begini lebih baik atau begitu lebih baik.

    Kalau cuma meributkan hal-hal dualitas begitu, nggak akan selesai deh. Setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing. Itu yang pasti.

    Yang jelas, para penulis spesialis bisa lebih punya authority (otoritas) jika sudah terbentuk karakternya. Namun itu pun kembali lagi pada kualitas tulisan-tulisannya.

    Penulis generalis? Mungkin saya juga termasuk yang seperti itu. Soalnya saya pernah menulis banyak sekali tulisan bertopik dunia artis, musik, sinetron, film, acara tv, blogging, internet, coding, website, dan bahkan topik agama dan spiritual. Juga pengembangan diri.

    Semuanya akumulasi dari tulisan yang pernah saya publish di sebuah situs dan 2 blog saya yang masih aktif sekarang :)

    Dan saya pun merasa bisa menulis dengan baik/maksimal di semua topik yang saya sebutkan itu..he..he..he

    BalasHapus
  6. sepakat dengan Mas Is..hanya kita yang dapat menentukan zona nyaman kita..ketika sudah merasa nyaman,apapun bentuk blognya..apapun specialisnya ..value added bagi para penikmat tulisan tinggal menunggu waktu saja..
    berperan sebagai penulis spesialis tapi masih nanggung dan tidak berarti bagi siapapun...
    atau berperan sebagai penulis generalis tapi bisa memberi arti dan senyum pada pembaca,atau bahkan kemarahan..
    silahkan kembali ke pilihan masing-masing...

    dan belum tentu artikel yang memberi nilai itu hanya jika suatu artikel bisa memberikan senyum saja...bisa memberikan kemarahan kepada pembaca itu juga value added,artinya ada pesan yang tidak tersampaikan kepada pembaca karena perbedaan kacamatanya,maka sang pembaca pasti tergugah unutk mengkoreksi atau sekedar menambahi,arsip sang pembaca akan keluar untuk mengcounter artikel sang author...minimal bisa memberi arti bagi sang pembaca untuk mempertajam daya ingatnya...

    BalasHapus
  7. Andi Sakab:
    Tos dulu, Mas Andi. HeHe. :D

    Rohani Syawaliah:
    Ya, benar. Semoga saya bisa seperti itu. Penulis yang multi talenta kayak Hani. :)

    isralnaska:
    Salam kenal juga, Mas. Terima kasih sudah mampir.

    Huda Tula:
    Tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan, Mas Huda. Yang mana yang bikin enjoy diri kita, sebaiknya itu yang dipilih. Jangan mencoba jadi orang lain. Benar, jadilah diri sendiri. :)

    iskandaria:
    Kalau Mas Iskandaria pernah belajar ilmu Internet Marketing maka ajarannya adalah seperti itu. Kita disuruh bikin blog yang punya niche tertentu. Semakin spesifik temanya, semakin baik. Jadi para pebisnis online banyak yang masih meyakini itu, Mas Is.

    Mengapa saya pun juga memilih menjadi Penulis Generalis? Karena saya tidak ingin kebebasan menulis saya terkungkung dalam kotak. Saya kepingin bebas menulis tema apapun. Dan ini adalah pilihan saya.

    widodo:
    Pada saat saya akhirnya menulis artikel ini, artinya Mas Widodo sudah berhasil memberi saya value added kepada saya lewat tulisan yang telah saya baca di blog Mas Widodo. Selamat, Mas! :)

    Dan terus terang tulisan ini adalah sekaligus bentuk pembelaan dari saya bahwa ukuran sebuah blog tidak bisa dijustifikasi hanya dengan cara seperti itu.

    BalasHapus
  8. #jika di tilik dari ilmu marketing,pasar dan segmentasi blog niche sangat terbatas sekali,pertambahan kuenya hanya sedikit,sedangkan yang memperebutkan banyak sekali...
    kalau hanya setengah-setengah dalam mengelola blog niche,hasilnya tidak akan maksimal,hanya capek yang kita dapat...kepuasan semu saja yang ada...

    seperti yang berulangkali saya katakan,sebenarnya yang betul-betul mumpuni dan bisa hanya beberapa saja,paling cuman 3 gelintir,yang lain hanya copy paste,tambahin bumbu sedikit,di sajikan dengan piring yang berbeda,lalu di sajikan dan tinggal berteriak klaim atasnya...

    BalasHapus
  9. widodo:
    Saya ingin perjelas lagi kalimat saya di atas, Mas Widodo. Karena masih kurang lengkap penjelasannya.

    Dalam ilmu internet marketing, yang dimaksud blog niche itu adalah blog yang punya tema atau topik tertentu dengan ceruk market yang paling banyak dicari orang namun sedikit pesaingnya di internet.

    Rata-rata blog niche temanya memang spesifik, bukan yang tema umum karena kalau temanya terlalu umum meski banyak yang cari tapi kompetitornya juga tinggi. Ini mirip seperti membandingakan Blue Ocean dan Red Ocean dalam ilmu marketing.

    BalasHapus
  10. blog niche tu apa ya?

    baru dengar saya...

    :D

    BalasHapus
  11. Rohani Syawaliah:
    Lho, kan sudah kujelaskan di atas Hani untuk menjawab komentar dari Mas Widodo. Niche adalah ceruk market. Blog Niche adalah blog yang secara bisnis menguntungkan karena punya tema tertentu (spesifik) yang banyak dicari orang namun sedikit sekali pesaingnya di internet.

    BalasHapus
  12. Oh, bener juga Pak. Rata-rata masukan jika ingin sukses di bisnis online yang memanfaatkan media blog memang berisi anjuran agar fokus pada niche tertentu. Saya rasa itu agar trafik yang terjadi bisa lebih tertarget, sesuai niche produk atau model monetisasi yang ingin diterapkan pada blognya.

    AMbil contoh saja jika kita memasang iklan affiliasi produk berupa buku pada blog kita yang bertema tentang membaca, menulis, review berbagai buku, maupun dunia tulis-menulis secara umum. Maka potensi terjadinya pembelian via iklan affiliasi yang kita pasang bisa semakin besar.

    Pun begitu dengan jenis monetisasi lainnya yang "mengharuskan" niche tertentu pada blog agar hasilnya bisa memuaskan.

    BalasHapus
  13. iskandaria:
    Ya, benar tujuannya agar lebih tertarget pengunjungnya, Mas Is. Kalau dalam blog bisnis ini seperti aturan wajib kalau ingin sukses berbisnis online.

    Kecuali kalau pada personal blog yang tidak untuk dimonetisasi kasusnya sedikit berbeda tidak ada keharusan harus menulis dengan tema tertentu (spesifik) termasuk kalau hendak main adsense (PPC)juga tak masalah karena iklan akan menyesuaikan dengan apapun contentnya.

    BalasHapus