Sabtu, 01 Januari 2011

Kebun Binatang: Antara Melestarikan, Kasihan dan Eksploitasi

Not Freedom

Apalah artinya hidup di sangkar emas jika hidup bagai di penjara? Pernah dengar ungkapan peribahasa itu? Jika pernah mungkin saya tak perlu lagi menjelaskan detil lagi apa makna dari ungkapam kata-kata itu.

Apa hubungan peribahasa itu dengan cerita saya berikut? Baiklah, saya akan ceritakan kisah ini kepada Anda. Hari ini, tepatnya siang tadi saya mengajak anak-anak berwisata ke Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. Di sela-sela saya mendampingi istri dan kedua anak saya berkeliling kebun binatang tiba-tiba ada sebersit perasaan sedih menggelayut di hati saya.

Kenapa pasalnya? Betapa tidak, entah kenapa tiba-tiba saya seperti merasakan kesedihan satu persatu hewan yang menjadi tontonan manusia di Kebun Binatang tersebut. Mata-mata hewan itu seperti penuh kecapaian, kuyuh menatap kami yang berjubel menontonnya. Sama seperti kecapaian mata saya kalau berada di tempat keramaian yang harus menatap banyaknya orang yang berjubel-jubel dalam sebuah tempat keramaian.

Ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja. Tapi benarkah hanya perasaan saya saja? Lihatlah bukankah hewan-hewan itu benar-benar seperti hidup di sangkar emas? Dipenjara, dikurung kebebasannya meskipun makan dan minumnya diopeni serta tempatnya sudah diberikan dengan sangat layak.

Belum lagi saya melihat Kura-kura yang bisa dipegang-pegang bisa diajak main-main pengunjung. Ada Ular yang dieler-eler untuk diajak foto-foto pengunjung. Terus ada Orang Utan yang selalu dipaksa pose untuk mendampingi pengunjung yang silih berganti ingin mengajak foto dia. Apa ini tidak sangat melelahkan mereka, hewan-hewan itu? Coba Anda bayangkan bisa berapa kali sehari, berapa kali seminggu selama bertahun-tahun dia diperlakukan seperti itu? Apa ini tidak bentuk eksploitasi buat mereka dengan dalih melestarikannya?


Ular Kebun Binatang Gembira Loka

Sekali lagi, saya merasa meski niat mulia Kebun Binatang adalah melestarikan hewan-hewan itu tapi bukankah dengan mempertontonkan mereka kepada manusia seperti saya bukankah itu bentuk eksploitasi juga? Terlebih mereka tidak dibiarkan hidup bebas sebagaimana layaknya mereka hidup di habitat aslinya? Apalah artinya hidup yang seperti itu bagai di sangkar emas tapi kebebasan terenggut bagai di penjara? Sungguh kasihan! Benar, tidak?

Kalau saya boleh berpendapat mengapa semua konsep Kebun Binatang tidak dirubah saja seperti konsep Taman Safari saja? Bukankah dengan seperti di Taman Safari kita tidak mengurungnya seperti dalam sangkar-sangkar emas? Karena di Taman Safari konsepnya berbeda. Mereka, hewan itu tetap dibiarkan bebas mirip seperti di habitat aslinya. Sementara kita yang melihatnya seperti dikurung karena harus melihatnya dari kejauhan atau lewat mobil yang tertutup untuk sekedar melihatnya. Bukankah ini jauh lebih adil dan manusiawi buat mereka meskipun dia bukan manusia? Atau karena dia hanya seekor hewan, bukan manusia, makanya sudah amat pantas diperlakukan seperti itu?

Hem, Anda bebas untuk berpendapat.


Sumber Foto: Freedom & Ular Gembira Loka


Bookmark and Share

23 komentar:

  1. Mungkin Biaya menjadi maslah utama dalam mengubah bonbin jd seperti taman safari...

    BalasHapus
  2. ini seperti buah simalakama mas...
    di lepas ke habitat aslinya di jamin pasti punah karena di buru manusia...
    jika terus di kurung juga sangat tidak manusiawi...
    dan jika di buat konsep taman safari juga bagus,cuman masalahnya masih adakah komitmen dari pemerintah untuk melindungi hewan dengan membuatkan mereka tempat seperti habitat aslinya?

    BalasHapus
  3. FaiK:
    Mungkin juga. Biaya adalah masalah klasik yang bisa dijadikan alasan. Tapi tentu bukan alasan untuk tidak berusaha, kan? :D

    widodo:
    Komitmen ini yang patut kita tagih terus menerus ke pemerintah seperti keinginan Mas Widodo yang berharap internet harusnya semakin murah. Betul, kan? :)

    BalasHapus
  4. Kebon Binatang tentu saja berbeda dengan Taman Safari, tetapi bisa saja karena Kebon Binatang kalah populer, akhirnya lebih banyak yang berkunjung ke Taman Safari. Nah untuk menarik pengunjung, maka akhirnya dibuat terobosan2 baru, yang tentu saja akhirnya jauh dari peri-kebinatangan :)

    BalasHapus
  5. kalo harimau sih ogah kalo jalan bebas di sekeliling kita :D

    tapi benar juga sih. malah kadang jika melihat dari sudut pandang seperti mas joko saya melihat Eksploitasi yang miris. tapi selama mereka aman di sana. engga masalah daripada diburu di alam bebas oleh manusia tak bertanggung jawab.

    BalasHapus
  6. RomoWage:
    Jauh dari peri-kebinatangan? Betul, Romo. Ah, apa kita tetanggaan ini? Kok, URL Anda seperti nama desa saya. :D

    Andi Sakab:
    Kalau yang jadi titik berat lebih aman daripada dibiarkan di hutan dan diburu oleh orang yang tidak bertanggung jawab, iya Mas Andi. Namun konsep seperti Taman Safari kayaknya yang paling pas. Setengah bebas namun terlindungi.

    BalasHapus
  7. Jadi keinget lagu ini, Pak Joko:

    Wahai kau burung dalam sangkar...
    Sungguh malang nasibmu benar...
    Tak seorang pun ambil tahu...
    Duka dan lara di hatimu...


    Gak tahu tapi judul lagunya apa.

    Saya jadi berpikir lagu tersebut bisa menggambarkan perasaan hewan-hewan yang ada di kebun binatang. Dikerangkeng, dijadikan tontonan seperti sirkus. Kalau hewan bisa ngomong, pasti mereka protes. Sayangnya mereka hewan, gak bisa ngomong, gak bisa protes. Dan justru karena mereka hewan, kita bisa mempertontonkan (mengeksploitasi) mereka.

    BalasHapus
  8. wah syang banget my honey nggak diajak jalan ke bonbin juga sih? padahal kan pengen itut...

    :D

    BalasHapus
  9. Kimi:
    Kalau saja mereka bisa ngomong dan protes mungkin manusia akan berhenti mengeksploitasi mereka, Mbak Kimi. Sayangnya tidak. :))

    Rohani syawaliah:
    Lha, saya, kan sudah ngajak anak istri mosok ya ikut toh? Kapan-kapan aja saya ajak berdua aja. Oke, my honey? Wakakak.

    BalasHapus
  10. Saya juga jadi ingat pas liburan Lebaran kemarin. Saya dan keluarga ke Taman Ade Irma Cirebon.

    Haduh, keadaan binatang2 itu sungguh memprihatinkan. Kandang bau, tak terurus dan mereka hanya terdiam memandangi orang2 di luar sangkar.

    Saya terenyuh. Oke lah kalau itu tujuannya melestarikan, tapi mbok ya diimbangi dengan pemeliharaan yang sepadan. Sebetulnya anggaran itu ada. Tapi entah diplot untuk apa.

    Dan pengadaan Taman Safari itu bisa jadi solusi yang bagus. Meski mungkin mahal di awal proyeknya, tapi itu berdampak sistemik. Sip buat kelestarian hewan maupun untuk koleksi untuk diperlihatkan pada anak cucu kita kelak.

    BalasHapus
  11. pokoknya met tahun baru ajah

    BalasHapus
  12. Dahsyat..kalau saja banyak piha yang membaca artikel ini, bisa jadi pihak yang membuat keputusan bisa lebih bijak dalam mengelola kebun binatang agar tidak terkesan "meg-eksploitasi ".

    BalasHapus
  13. Kebetulan sekali, saya baru saja ke Safari minggu lalu. Minggu sebelumnya ke Kebun Binatang Bandung. Memang konsep di safari lebih baik. Hewan terurus dengan lebih baik.

    Keragaman satwa dan flora memang harus dijaga. Makin beragam spesies yang ada maka ekosistem makin terjaga. Contoh sederhananya tidak pernah hutan tidak pernah mati diburu serangan hama, beda dengan sawah atau kebun yang isinya seragam.

    BalasHapus
  14. Darin:
    Begitulah gambaran secara umum pengelolaan Kebun Binatang dimana-mana, Mas Darin. Di Kebun Binatang Surabaya malah pengurusnya bersengketa sampai-sampai akhirnya hewannya ada yang jadi korban mati tak terurus.

    ario saja:
    Selamat tahun baru 2011 juga, Mas.

    andry sianipar:
    Ya, Mas Andry mudah-mudahan para pengelola Kebun Binatang segera tersadar dan memperlakukan hewan lebih manusiawi lagi.

    Jeprie:
    Betul, Mas Jeprie dengan membuat ekosistemnya terjaga maka satwa dan flora akan terus terjaga, tidak cepat punah. Dan saya rasa konsep seperti Taman Safari itu lah konsep Kebun Binatang yang paling ideal untuk melestarikannya tanpa kita harus mengurung dan mengeksploitasinya.

    BalasHapus
  15. sepertinya makna 'kekhalifahan' manusia di muka bumi sudah disalah artikan. Nice share pak.. :)

    BalasHapus
  16. saya kemarin juga dari musium hewan / jatim patk 2 di batu malang.

    saya merasakan hal yang sama mas,
    apakah nanti kita di akhirat juga di balas seperti itu ya

    BalasHapus
  17. wah aku mau di ajak ke bonbin,,,, hasekkkkkkkkkkkkk


    :D

    BalasHapus
  18. ajir:
    Ya, sepertinya begitulah, Mas Ajir. Terima kasih, Mas.

    Willy Merdiansyah:
    Saya malah belum kepikir sampai sejauh itu. Baru mikir di dunianya saja, Mas Willy.

    Rohani syawaliah:
    Memang di Pontianak sudah ada Bonbin? :D

    BalasHapus
  19. Memang sebuah dilema ya..? saya liat secara nyata gambar cewek dan ularnya juga lagi ngersulo mikirin sampai kapan dia diexploitasi dan bisa bertahan hidup, karena semakin mahal biaya perawatannya?

    BalasHapus
  20. Agus BF:
    Mas Agus ternyata cukup awas juga. Ngersulo? He He. Tapi ceweknya lama-lama tak lihat, kok mirip Farah Queen, ya? :-P

    BalasHapus
  21. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perawatan. Sepanjang komersialisasi tersebut masih dalam taraf kewajaran saya pikir it's oke. Kan ada fasilitas dokter hewan juga, pasti mereka mikir dua kali kalau mau mem-forsir hewan yang mengakibatkan pembengkakan biaya operasional kebun binatang.

    BalasHapus
  22. Setuju Pak. Saya kadang juga merasakan begitu saat melihat hewan yang dikurung pada kurungan sempit. Andai saya menjadi hewan tersebut, betapa tersiksanya saya. Tuhan saja tidak pernah menganjurkan mengurung hewan.

    Saya juga lebih setuju jika kebun binatang dibuat lebih hewani dengan membuatnya seolah menjadi miniatur alam. Saya lihat beberapa kebun binatang yang ada di luar negeri jauh lebih baik. Mereka nggak tanggung-tanggung membuat konsep kebun binatang yang sangat mirip habitat aslinya di alam liar.

    BalasHapus
  23. Agus Siswoyo:
    Mas Agus, maaf batas kewajaran itu yang seperti gimana contohnya? Saya melihat memang tidak semua hewan dikerangkeng dan dieksploitasi. Ada juga hewan yang diberi tempat yang layak setengah terbuka yang itu tak mirip samasekali dengan kurungan.

    Dan benar jika hewan sakit sudah ada dokter hewan yang merawatnya. Namun sebagai sesama mahluk hidup hati saya berteriak manakala menyaksikan ada sebagian hewan yang dipenjarakan dalam kerangkeng kecil dan dipisahkan sendiri dari habitat atau saudaranya. Ini yang saya anggap kurang manusiawi. :(

    iskandaria:
    Mas Iskandaria kayaknya sama seperti saya. Saya pun juga begitu merasakan kesedihan hewan yang terkurung dalam kurungan sempit. Burung yang seharusnya bisa bebas terbang mengepakkan sayapnya dikungkung dalam kurungan sehingga kurang bebas bergerak. Apa ini manusiawi buat mereka meski dia hanya seekor hewan?

    Saya jadi ingat guru agama saya jaman SD melarang saya, murid2nya untuk memelihara burung kecuali hanya burung Merpati, ya karena alasan ini. Kasihan hewannya dikurung.

    Betul, Mas Is konsep seperti Taman Safari dan seperti Kebun Binatang di luar negeri itu seharusnya yang mulai kita pikirkan di Indonesia

    BalasHapus