
Apakah Anda termasuk yang meyakini blog itu harus punya tema spesifik? Blog itu harus yang punya tema atau niche tertentu? Misal seperti bertema tentang blogging, bertema tentang tutorial-tutorial Wordpress, CSS, Photoshop dsb? Ataukah bertema tentang tema-tema bisnis online dan motivasi blogging misalnya? Pertanyaan saya, kalau begitu blog personal yang bertema gado-gado yang tema tulisannya campur aduk itu menurut Anda gimana? Blog ndeso? Blog kampungan, gitu?
Hem, saya rasa itu anggapan yang kurang tepat. Blog menarik atau tidak, tidak ditentukan dari tema blognya apa. Spesifik apa tidak spesifik. Tidak ditentukan oleh apakah temanya campur aduk apa tidak. Itu pandangan yang terlalu sempit, anggapan yang sangat-sangat sesat bin keliru. Yang terpenting seharusnya, ya mutu tulisan atau isi dari content blognya itu sendiri, bukan?
Kalau saya mudah saja, kok untuk mengidentifikasi tulisan sebuah blog itu menarik apa tidak, bermutu apa tidak. Saya baca, setelah itu telaah dan renungkan. Jika setelah saya baca saya tidak mendapatkan value added (nilai tambah) apa pun, ya ngapain juga capek-capek berkunjung dan baca ke sana lagi? Gak peduli meskipun itu blognya jenderal petak atau blognya para Master Blogger atau seorang penulis tenar. Peduli setan!
Mungkin ada sebagian orang yang berpendapat begitu karena picik sekali cara pandanganya, belum pernah mengamati di dunia kepenulisan atau iklim kepenulisan di media. Bukankah dalam dunia kepenulisan pun juga terbelah jadi dua kubu? Yaitu kubu Penulis Spesialis dan Penulis Generalis. Dan ngeblog masih termasuk menulis juga, kan?
Mari saya akan berikan contoh-contoh penulis dari kedua kubu tersebut. Penulis Spesialis dan Penulis Generalis.
Penulis Spesialis
Dalam tema-tema tulisan spesialis penulis sengaja mengkhususkan diri untuk menulis kepada tema-tema tertentu yang spesifik. Bisa tema tentang sastra, ekonomi, politik, hukum, budaya, seni dsb. Saya akan ambil contoh penulis spesialis mulai dari tema sastra. Dalam kelompok ini kita mengenal ada nama-nama besar seperti: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Faruk HT, Seno Gumira Ajidarma, dsb.
Kalau dalam kelompok penulis bertema politik kita juga mengenal ada nama-nama ini: Arbi Sanit, Eep Saefulloh Fatah, Daniel Sparingga, J. Kristiadi, William Liddle, Indria Samego, Afan Gaffar, Rizal Mallarangeng, Andi Alfian Mallarangeng, Riswandha Imawan, Cornelis Lay, Denny JA dsb.
Dan dalam kelompok penulis tema ekonomi misalnya kita juga mengenal ada nama-nama seperti: Kwik Kian Gie, Sri Mulayani Idrawati, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Sri Adiningsih, Sjahrir, Mubyarto, Didik J Rachbini dsb.
Itu kurang lebih sedikit contoh gambaran para penulis yang berada dalam kubu Penulis Spesialis. Silahkan Anda cari contoh-contoh yang lain. Karena tidak mungkin saya sebutkan semuanya di tulisan pendek ini.
Penulis Generalis
Penulis Generalis adalah penulis yang tidak hanya memfokuskan diri kepada satu topik tertentu saja tetapi menulis dan menekuni lebih dari satu bidang, bukan hanya satu tema saja. Penulis kubu ini biasanya karena mempunyai kompetensi, minat atau ketertarikannya kepada lebih dari satu bidang.
Contoh-contoh Penulis Generalis yang masuk dalam kubu ini adalah Jaya Suprana, Sindhunata, Ignas Kleden, Ariel Heryanto, Faisal Baraas, Kartono Mohamad.
Kedua contoh Penulis Generalis yang saya sebutkan terakhir, Faisal Baraas dan Kartono Mohamad adalah contoh seorang dokter yang disamping sering menulis tentang tema kedokteran dan kesehatan, juga sering menulis tentang masalah sosial dan kebudayaan.
Dan Jaya Suprana, kita tahu dia ini adalah sosok seorang pengusaha yang juga jago memainkan piano (Pianis) dan sekaligus seorang budayawan yang seringkali menulis dengan banyak sekali tema. Tema tulisan yang sering ditulis Jaya Suprana banyak berkisar di tema sospol, kebudayaan, musik, kelirumologi dsb.
Kesimpulannya sekarang, manakah yang terbaik menjadi Penulis Spesialis ataukah menjadi Penulis Generalis? Saya jawab, saya rasa tidak etis kalau memperbandingakannya hanya karena alasan mana yang terbaik mana yang tidak, sebab ini adalah masalah pilihan. Dan sebuah pilihan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, masing-masing punya konsekuensinya sendiri-sendiri, dan sebuah pilihan terbaik atau tidak itu tergantung dari sudut pandang Anda atau masing-masing orang. Anda lebih mempunyai kemampuan atau sreg dan menjiwai yang mana. Penulis spesialis atau Penulis Generalis. Betul, tidak?
Selamat memilih. Dan tolong satu saja pesan saya kepada Anda: Saya sudah menghargai pilihan Anda maka hargai juga pilihan saya untuk lebih memilih menulis blog dengan tema generalis. Adil, kan?
Catatan:
Artikel ini saya tulis karena saya tersengat setelah membaca tulisan sahabat blogger saya, Mas Widodo di artikelnya yang berjudul "Sudah Terlanjur Basah..." Silahkan Anda berkunjung ke sana juga sehingga Anda lebih memahami latar belakang masalah dari topik yang saya tulis ini.
Sumber Foto: generalspecialis







