twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

Penulis Spesialis dan Penulis Generalis, Mana Yang Terbaik?

Generalis Vs Spesialist

Apakah Anda termasuk yang meyakini blog itu harus punya tema spesifik? Blog itu harus yang punya tema atau niche tertentu? Misal seperti bertema tentang blogging, bertema tentang tutorial-tutorial Wordpress, CSS, Photoshop dsb? Ataukah bertema tentang tema-tema bisnis online dan motivasi blogging misalnya? Pertanyaan saya, kalau begitu blog personal yang bertema gado-gado yang tema tulisannya campur aduk itu menurut Anda gimana? Blog ndeso? Blog kampungan, gitu?

Hem, saya rasa itu anggapan yang kurang tepat. Blog menarik atau tidak, tidak ditentukan dari tema blognya apa. Spesifik apa tidak spesifik. Tidak ditentukan oleh apakah temanya campur aduk apa tidak. Itu pandangan yang terlalu sempit, anggapan yang sangat-sangat sesat bin keliru. Yang terpenting seharusnya, ya mutu tulisan atau isi dari content blognya itu sendiri, bukan?

Kalau saya mudah saja, kok untuk mengidentifikasi tulisan sebuah blog itu menarik apa tidak, bermutu apa tidak. Saya baca, setelah itu telaah dan renungkan. Jika setelah saya baca saya tidak mendapatkan value added (nilai tambah) apa pun, ya ngapain juga capek-capek berkunjung dan baca ke sana lagi? Gak peduli meskipun itu blognya jenderal petak atau blognya para Master Blogger atau seorang penulis tenar. Peduli setan!

Mungkin ada sebagian orang yang berpendapat begitu karena picik sekali cara pandanganya, belum pernah mengamati di dunia kepenulisan atau iklim kepenulisan di media. Bukankah dalam dunia kepenulisan pun juga terbelah jadi dua kubu? Yaitu kubu Penulis Spesialis dan Penulis Generalis. Dan ngeblog masih termasuk menulis juga, kan?

Mari saya akan berikan contoh-contoh penulis dari kedua kubu tersebut. Penulis Spesialis dan Penulis Generalis.

Penulis Spesialis

Dalam tema-tema tulisan spesialis penulis sengaja mengkhususkan diri untuk menulis kepada tema-tema tertentu yang spesifik. Bisa tema tentang sastra, ekonomi, politik, hukum, budaya, seni dsb. Saya akan ambil contoh penulis spesialis mulai dari tema sastra. Dalam kelompok ini kita mengenal ada nama-nama besar seperti: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Faruk HT, Seno Gumira Ajidarma, dsb.

Kalau dalam kelompok penulis bertema politik kita juga mengenal ada nama-nama ini: Arbi Sanit, Eep Saefulloh Fatah, Daniel Sparingga, J. Kristiadi, William Liddle, Indria Samego, Afan Gaffar, Rizal Mallarangeng, Andi Alfian Mallarangeng, Riswandha Imawan, Cornelis Lay, Denny JA dsb.

Dan dalam kelompok penulis tema ekonomi misalnya kita juga mengenal ada nama-nama seperti: Kwik Kian Gie, Sri Mulayani Idrawati, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Sri Adiningsih, Sjahrir, Mubyarto, Didik J Rachbini dsb.

Itu kurang lebih sedikit contoh gambaran para penulis yang berada dalam kubu Penulis Spesialis. Silahkan Anda cari contoh-contoh yang lain. Karena tidak mungkin saya sebutkan semuanya di tulisan pendek ini.

Penulis Generalis

Penulis Generalis adalah penulis yang tidak hanya memfokuskan diri kepada satu topik tertentu saja tetapi menulis dan menekuni lebih dari satu bidang, bukan hanya satu tema saja. Penulis kubu ini biasanya karena mempunyai kompetensi, minat atau ketertarikannya kepada lebih dari satu bidang.

Contoh-contoh Penulis Generalis yang masuk dalam kubu ini adalah Jaya Suprana, Sindhunata, Ignas Kleden, Ariel Heryanto, Faisal Baraas, Kartono Mohamad.

Kedua contoh Penulis Generalis yang saya sebutkan terakhir, Faisal Baraas dan Kartono Mohamad adalah contoh seorang dokter yang disamping sering menulis tentang tema kedokteran dan kesehatan, juga sering menulis tentang masalah sosial dan kebudayaan.

Dan Jaya Suprana, kita tahu dia ini adalah sosok seorang pengusaha yang juga jago memainkan piano (Pianis) dan sekaligus seorang budayawan yang seringkali menulis dengan banyak sekali tema. Tema tulisan yang sering ditulis Jaya Suprana banyak berkisar di tema sospol, kebudayaan, musik, kelirumologi dsb.

Kesimpulannya sekarang, manakah yang terbaik menjadi Penulis Spesialis ataukah menjadi Penulis Generalis? Saya jawab, saya rasa tidak etis kalau memperbandingakannya hanya karena alasan mana yang terbaik mana yang tidak, sebab ini adalah masalah pilihan. Dan sebuah pilihan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, masing-masing punya konsekuensinya sendiri-sendiri, dan sebuah pilihan terbaik atau tidak itu tergantung dari sudut pandang Anda atau masing-masing orang. Anda lebih mempunyai kemampuan atau sreg dan menjiwai yang mana. Penulis spesialis atau Penulis Generalis. Betul, tidak?

Selamat memilih. Dan tolong satu saja pesan saya kepada Anda: Saya sudah menghargai pilihan Anda maka hargai juga pilihan saya untuk lebih memilih menulis blog dengan tema generalis. Adil, kan?

Catatan:
Artikel ini saya tulis karena saya tersengat setelah membaca tulisan sahabat blogger saya, Mas Widodo di artikelnya yang berjudul "Sudah Terlanjur Basah..." Silahkan Anda berkunjung ke sana juga sehingga Anda lebih memahami latar belakang masalah dari topik yang saya tulis ini.


Sumber Foto: generalspecialis


Bookmark and Share

Rabu, 21 Juli 2010

6 Alasan Mengapa Anda Perlu Menunda Posting Blog

Break NgeblogBanyak tips blogging yang menyarankan pentingnya untuk selalu ajeg atau rutin update posting blog setiap hari. Alasannya, tentu demi trafik. Dan selebihnya, dengan alasan katanya untuk memuaskan haus informasi pengunjung blog. Namun, hanya sedikit saya menjumpai, atau bahkan mungkin Anda belum pernah menjumpai ada tips blogging yang menyarankan sebaliknya. Yaitu menyarankan agar jangan terlalu sering update posting blog setiap hari.

Pertanyaan saya: Benarkah rutin update posting blog setiap hari sangat baik untuk trafik blog, dan juga bisa memuaskan dahaga informasi pengunjung blog Anda?

Bagaimana dengan fakta yang ada di blognya Kang Yudiono ini? Katanya, ia punya blog berbahasa Inggris. Pada masa tiga bulan pertama sering diupdate dan jumlah artikelnya sudah dilipatkandakan dari 90 artikel menjadi 180 artikel, tapi toh prakteknya jumlah visitor blognya tetap, stagnan tak nambah-nambah dari angka 100 orang visitor per hari. Jadi, siapa bilang rajin update blog selalu baik untuk trafik?

Berdasarkan pengalaman saya mengelola beberapa blog saya selama ini, peristiwa di blog Kang Yudiono itu sebetulnya agak jarang terjadi. Namun, terlepas dari fakta itu, kalau saya boleh beropini, adakalanya alasan atau kondisi seperti dibawah ini mungkin bisa Anda jadikan rujukan untuk menunda update posting blog:

  1. Karena Anda sudah bisa mengimbangi berkurangnya kuantitas posting blog Anda dengan kualitas artikel atau Pillar article yang lebih banyak.
  2. Anda capek karena terlalu sibuk, tak cukup punya waktu luang dan energi untuk ngeblog dan update posting terlalu sering.
  3. Artikel terbaru Anda di homepage ternyata punya hits tinggi dan Anda tak ingin artikel tersebut cepat-cepat dilewatkan pengunjung karena tergusur artikel Anda yang baru.
  4. Boleh kan sesekali meniru kebiasaan nyentrik Sapardi Djoko Damono yang perlu menimbang-nimbang dulu karyanya cukup lama apakah masih cukup patut dibaca oleh orang lain sebelum dipublikasikan?
  5. Anda ingin break sejenak dan menjauhkan kejenuhan pembaca blog Anda akibat gerujukan artikel Anda setiap hari.
  6. Sesekali bolehlah Anda membuat sebuah kerinduan buat pengunjung blog Anda untuk menanti terbitnya artikel baru.

Sudah. Cukup saya berikan enam alasan saja. Jangan banyak-banyak. Hem, Anda ada tambahan? Jika ada, saya persilahkan tambahkan di kolom komentar, terima kasih.



Bookmark and Share

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kenapa Seniman Nyentrik?

seniman nyentrik

Anda boleh saja mengatakan posting saya ini sebuah trilogi karena diposting berseri, dan kalau anda barangkali berminat mengaduk-aduk arsip tulisan lama saya dalam blog ini, setidaknya posting ini ada benang merah dengan tulisan saya yang lama yang berjudul Teori Ilmu Silat dan Anda Termasuk Tipe Pekerja Yang Mana. Silahkan klik linknya bilamana anda berminat untuk membaca tulisan saya itu juga. Buktikan sendiri bahwa apa yang saya tulis ini semoga juga anda amini. Ada benang merah yang menghubungkannya seperti trilogi dalam judul posting ini, yang sebenarnya awalnya adalah sambungan dari trilogi I am Truly Blogger, saya beri judul berbeda agar anda tidak jenuh membaca judulnya.

Sore tadi saya mengaduk-aduk, cari koleksi buku lama saya di rak. Saya tertarik membaca kembali buku lama karangan Arswendo Atmowiloto, yang berjudul "Mengarang Itu Gampang", yang sudah saya beli 14 tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1995. Wow, nggak nyangka juga itu sudah lama banget. Saya bersyukur termasuk orang yang ‘primpen’ (rajin nyimpan) meskipun saya mengalami pindahan rumah total sebanyak 16 kali. Dari mulai indekost saat masih bujangan, terus tinggal di rumah terakhir yang terkena Lumpur Lapindo, hingga akhirnya stay di kota Jogja sekarang ini. Hem, mudah-mudahan sudah tidak pindah-pindah lagi.

Nah, saya ingin share salah satu bab dalam buku tersebut yang berjudul "Kenapa Seniman Nyentrik". Saya petik sebagian isi paragraf yang berupa dialog dari buku tersebut. Silahkan disimak!



Jadi, kenapa mereka pada nyentrik?

Jangan dibalik begitu. Ini kan soal penghayatan. Soal gaya hidup. Kalau mereka yang kamu anggap nyentrik itu merasa pas dengan gaya dan penghayatannya, apa salahnya? Sekali lagi, ini hanya sekedar dari sudut mana kamu memandang, dari nilai mana kamu menangkap. Kan sama saja, misalnya saya beranggapan bahwa ABRI itu lebih nyentrik. Tiap hari pakai seragam itu-itu melulu. Tiap hari mengelap sabuk, menyemir sepatu, membersihkan bintang hingga mengkilat. Bagi saya justru yang begitu tidak wajar. Tapi mereka yang menjalani mempunyai penilaian sendiri. Ini pertanda disiplin. Dan disiplin dituntut tinggi dalam kemiliteran. Tak usah jauh-jauh. Kita pergi ke pasar di sebuah kampung. Lihat dan perhatikan Hansip dengan seragam coklat itu. Dengan segala tanda pengenal. Apakah itu tidak nyentrik dibanding ibu-ibu atau babu-babu atau pedagang sayur?

Ya, tapi Hansip kan diharuskan begitu.

Sama saja. Seniman yang kamu sebutkan tadi juga “diharuskan” begitu. Bedanya, yang mengharuskan adalah dirinya sendiri. Yang menuntut seperti itu adalah dirinya sendiri. Tuntutan tetap kreatif. Untuk menawarkan nilai-nilai yang lain. Mengajukan persoalan yang baru. Yang karena baru- meski harus dalam tanda petik- jadinya masih asing, masih dianggap aneh. Pelukis Rustamaji mungkin dianggap nyentrik dan aneh. Hidupnya sederhana, padahal lukisannya laku puluhan juta-satu lukisan saja. Tapi ia tak pernah mau menjual lukisannya kalau tidak mengadakan pameran. Dan pameran itu hanya dilakukan sepuluh tahun sekali! Orang yang berpikiran bisnis, tentu akan mengatakan itu aneh. Tapi Rustamaji sendiri tak merasa aneh. Wajar. Ia hanya merasa siap untuk pameran setiap sepuluh tahun. Sapardi Djoko Damono lain lagi. Ia biasa menyimpan dulu puisinya sekian tahun setelah diciptakan sebelum dipublikasikan. Ia perlu mengendapkan, menimbang-nimbang, apakah karya itu masih patut.

Ya, tapi dengan demikian bisa dianggap kurang waras kan?

Ya, karena ukuran mengenai waras berbeda. Jangan hiraukan itu.


Sekarang kita baru mudeng Kenapa Seniman Nyentrik, bukan?

Saya ada contoh juga salah satu teman saya, yang juga seorang pekerja seni. Seorang design cover buku pada sebuah perusahaan penerbitan. Kalau anda sebelumnya pernah membaca tulisan saya yang berjudul Anda Termasuk Tipe Pekerja Yang Mana? maka teman saya ini termasuk golongan pekerja pada tingkatan 2, pekerja freelance. Orang Jakarta boleh berbangga bisa kerja dikantoran mentereng di bilangan Thamrin, berdasi setiap hari, tapi tetap terkungkung dengan ketidak bebasannya akibat adanya aturan pada kantornya. Teman saya ini adalah salah satu pekerja Work at Home. Pekerja paling bebas yang pernah saya kenal. Kerja bisa sambil pakai sarung di rumah dengan minum kopi dan tak henti-hentinya mengisap rokok. Hal yang sama tidak bisa anda lakukan kalau anda adalah tipe pekerja kantoran, termasuk saya. Untungnya saya bukan perokok.

Teman saya ini juga rada mirip dengan pelukis Rustamaji, nyentrik juga. Meski sekarang ia tinggal di Jakarta yang tipikal orang-orangnya terkenal apa-apa duit, karena iklimnya memang mengkondisikan orang jadi seperti itu, ia tetap hidup dengan kesederhanaanya. Saya hafal betul kebiasaan dia. Dia tiap hari online internet. Yahoo Mesengger bagi dia lebih mirip seperi kantor virtualnya di dunia maya. Nah, kalau dalam sehari statusnya di YM tidak online berarti dia lagi invisible karena kebanjiran order dan diuber-uber Editor. Jangan ditanya berapa job order setiap harinya. Dia sampai nolak-nolak kadang karena saking banyaknya. Terakhir dia cerita ke saya ditawarin ikutan Production House (PH) film untuk ngerjakan design grafisnya. Dia tolak, meskipun pada PH tersebut menjanjikan rupiah yang lebih gede, dia tidak mau tergoda dan tetap enjoy fokus di bidang pekerjaannya sekarang. Alasannya sederhana, dia tidak ingin serakah jadi orang dan berusaha untuk tetap loyal pada beberapa klien perusahaan pernerbitan yang sudah memberinya order selama ini. Itulah orang seni. Hampir kebanyakan orang-orangnya punya idealisme tinggi seperti itu, yang tetap tidak bisa dibeli pakai uang manapun.

Nah, tanpa bermaksud Narsis dengan memuji para Blogger, karena saya termasuk ada di dalamnya, ternyata selain pekerja seni, beberapa kawan blogger saya tidak sedikit yang mempunya sikap seperti ini. Seperti pelukis Rustamaji. Tetap hidup dengan kesederhanaannya dan tidak aji mumpung mengkomersialkan kepopuleran blognya di dunia maya. Dia tetap ikhlas berbagi tanpa berharap imbalan apapun, kecuali hanya sebuah kepuasan batin.

Satu lagi pembelajaran tentang hidup yang membuat saya tumbuh dan belajar untuk menjadi makin dewasa. Semoga tulisan ini bisa menggugah anda juga.



Bookmark and Share