
Sebagian orang menganggap membaca cerpen, novel, karya sastra atau lebih luasnya membaca sebuah cerita dianggap sebagai sesuatu yang remeh, tak penting, hanya membuang-buang waktu saja. Untuk apa baca cerita, atau baca seperti cerita curhat-curhat orang lain seperti di blog misalnya? Mending baca-baca buku How-to, tentang Tips atau tentang ilmu pengetahuan yang bisa menambah wawasan kita.
Saya ingin bertanya kepada Anda: Benarkah? Benarkah Anda juga punya pendapat seperti itu? Jika Anda menjawab "Ya" untuk apa, mungkin Anda perlu membaca kisah-kisah inspiratif dari Andy Noya di KickAndy. Betapa isi di dalam websitenya semuanya adalah tentang cerita semuanya. Tapi Anda jangan meremehkan. Cerita-cerita di KickAndy sangat inspiratif dan mencerahkan bagi siapa pun yang membacanya. Bahkan terkadang saya sampai berkaca-kaca saat membacanya tatkala kisah yang ditulis benar-benar menyentuh hati saya.
Tidak berlebihan kalau saya sebut seperti itu karena kenyataannya tulisan KickAndy banyak berisi tentang pelajaran atau nilai-nilai tentang hidup yang sekarang ini pelajaran itu mulai banyak dikesampingkan oleh sebagian besar orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sama seperti nasib jurusan sastra dimata para orang tua modern yang dianggap hanya melahirkan sastrawan dan seniman saja, yang dianggap tak menjanjikan finansial di masa depan, dibanding jurusan kedokteran, ekonomi atau teknik.
Ada salah satu tulisan KickAndy yang cukup menohok atau menyindir saya. Judulnya: "Kaca Spion". Tulisan itu bercerita tentang kebencian KickAndy kepada orang kaya. Gara-garanya di masa kecilnya KickAndy pernah mematahkan kaca spion mobil orang kaya kemudian dia disuruh menggantinya.
Saya tak bermaksud untuk mensejajarkan diri dengan KickAndy dengan membandingkan kisah hidup saya dengan KickAndy. Saya perlu tegaskan, tidak. Saya tidak sekaya dan sesukses KickAndy. Tapi pengalaman hidup KickAndy, terutama di masa kecilnya seperti cermin buat diri saya. Mengingatkan masa kecil saya yang dulu pernah hidup sangat susah dan selalu iri kalau melihat orang kaya.
Dan cerita yang sedikit menyindir saya adalah tentang makan gado-gado itu. Gado-gado yang dulu semasa kuliah KickAndy selalu membuatnya ngiler. Namun katanya: Mengapa kini baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? Tulisnya di KickAndy
Saat KickAndy menceritakan kegundahannya itu kepada istrinya. Istrinya hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,’’ ujarnya.
Saya jadi tercenung lama selesai membaca tulisan itu. Ingatan saya jadi melayang ke masa 12 tahun yang lalu, masa awal-awal saya bekerja. Dulu, ingat saya rumah makan Wapo di pojok dekat Unair jalan Airlangga Surabaya saya anggap sebagai tempat makan satu-satunya yang paling lezat dan tak ada duanya, selain masakannya enak juga bisa sebagai tempat asyik nongkrong karena di sana banyak cewek-cewek cantik makan di sana.
Tetapi setelah 5 tahun kemudian saya kembali ke sana mengapa citarasa masakannya berubah, saya merasa tastenya tak seenak dulu lagi. Saya baru nyadar kemudian setelah membaca kisah KickAndy tersebut. Mungkin saja selama ini saya sudah terlalu sering makan bufe di hotel-hotel berbintang, restoran mahal dan kuliner kemana-mana waktu mobile di pekerjaan saya yang sering keluar kota sehingga lidah saya pun juga ikutan berubah jadi lebih sensitif mencicipi taste (citarasa) makanan.
Hal yang sama, juga saat saya mudik lebaran ke Surabaya dan pulang ke desa saya di Lamongan. Saya merasa begitu tersiksa karena merasakan udaranya yang sangat panas, banyak nyamuk, di kedua kota itu, berbeda dengan rumah tinggal saya sekarang ini di Jogja yang sangat sejuk dan nyaman karena sudah ada AC di rumah saya.
Ya, ternyata saya juga ikutan berubah seperti KickAndy. Tubuh saya menjadi sangat manja sekarang. Mudah sekali kegerahan kalau harus hidup tanpa AC. Padahal sejak kecil selama tiga puluhan tahun saya tidur tanpa AC pun ya tak masalah. Kini, saya sudah berubah. Tak urung saya juga ikutan sedih karenanya. Semoga saya tak menjadi sombong karena perubahan ini. Semoga saya tetap punya kepekaan sosial dan rasa empati dengan kesusahan hidup orang lain.
Semoga judul di posting ini "Mengapa Anda Perlu Membaca Cerita?", bukan lagi jadi sebuah pertanyaan tapi sebuah pertanyaan sekaligus jawaban bahwa betapa perlunya kita membaca cerita, kisah-kisah hidup orang lain untuk mengingatkan diri kita. Arswendo Atmowiloto pernah menulis di bukunya betapa pentingnya kita untuk membaca karya sastra karena dalam setiap karya sastra selalu ada tawaran nilai-nilai baru yang disodorkan oleh pengarangnya. Dan katanya, tidak ada hal yang paling menyedihkan bagi kita, seorang manusia jika kita hanya mau belajar tentang hidup hanya dari pengalaman sendiri dan tak mau mencoba bercermin dan belajar dari pengalaman hidup orang lain.
Sumber Foto: Touch smell lick taste









