twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Asuransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuransi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Pengalaman Menarik Alami Lost Package di Amazon

Ini adalah pengalaman saya yang untuk pertama kalinya mengalami masalah saat transaksi Pembelian Online di situs Amazon. Saya mengalami dua masalah yang hampir beruntun setelah sekian lama transaksi di Amazon tidak pernah terjadi masalah.

Amazon Fulfillment

Apa masalahnya? Masalah pertama, saya mengalami barang orderan saya hilang tidak diterima oleh klien saya. Dan masalah kedua, barang retur dan harus kirim ulang karena ditolak oleh penerimanya di German.

Rabu, 27 Juli 2011

Menukar Kematian Dengan Segebok Uang, Haram?

Life InsuranceIni adalah kisah lama saat saya berobat di sebuah rumah sakit Islam di kota Malang beberapa tahun silam. Waktu itu di sela-sela dokter memeriksa saya, kami sempat ngobrol perihal masalah asuransi. Awalnya saya menceritakan kalau ikut program Asuransi Medicare ke dokternya. Namun waktu itu asuransi medicare saya hanya menanggung untuk rawat inap saja, untuk rawat jalan tidak. Entah bagaimana ceritanya kemudian pembicaraan berlanjut jadi membahas masalah asuransi jiwa. Dokternya kemudian bercerita ke saya kalau asuransi medicare itu bagus dan diperbolehkan dalam agama Islam, katanya, asal jangan yang asuransi jiwa. Itu haram hukumnya di Islam.

Karena saya tak tahu dalil atau hadistnya, saya hanya manggut-mangut saja diberi wejangan itu oleh dokternya. Dan kebetulan kala itu bahkan hingga sekarang saya pun belum tertarik untuk ikut program asuransi jiwa perusahaan insurance manapun. Beberapa asuransi jiwa yang saya ikuti hanya memproteksi jiwa saya secara tidak langsung, bukan semata-mata seperti Menukar Kematian Dengan Segebok Uang seperti yang ada dalam asuransi jiwa.

Saya boleh cerita sedikit perihal asuransi saya itu? Pertama, saya mengasuransikan jiwa saya dalam Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Jika saya tiba-tiba meninggal atau Mati Muda sebelum kredit lunas maka bank BNI ― tempat saya ambil kredit rumah ― akan membebaskan ahli waris, istri dan anak-anak saya untuk melunasi hutang KPR-nya. Kedua, asuransi pendidikan anak saya juga begitu memberikan jaminan bebas bayar premi jika saya meninggal sebelum jatuh tempo asuransinya. Ketiga, kartu kredit saya juga begitu. Jika saya meninggalkan saldo hutang di kartu kredit secara otomatis akan dianggap lunas oleh pihak bank penerbit kartu kredit saya.

Asuransi Jiwa

Oke, sekarang lupakan sejenak tentang halal dan haram pada asuransi jiwa. Saya ada cerita menarik. Di Surabaya, ada salah satu tetangga mertua saya beberapa tahun lalu baru saja kehilangan suaminya. Suaminya meninggal dunia di daerah asalnya di Ponorogo. Ibu tadi kemudian pulang mengurus kematian suaminya. Sebagaimana umumnya orang yang kesusahan banyak tetangganya berdatangan ke rumah ibu tersebut untuk melayat. Sambil melayat para tetangga tak lupa memberi amlop kepada ibu tersebut sebagai tanda bela sungkawa.

Sampai disitu kisahnya saya anggap masih normal dan wajar. Karena dimana-mana umumnya begitu, kan kalau melayat pasti kebanyakan memberi amplop sebagai tanda bela sungkawa, betul?

Nah, kisah itu pun kemudian berlanjut jadi cerita yang mengejutkan. Selesai mengurus pemakaman beberapa hari kemudian ibu itu pulang balik lagi ke rumahnya yang ada di Surabaya. Kemudian tanpa diduga ibu itu satu persatu mendatangi rumah-rumah para tetangganya yang sudah memberi amplop saat melayat ke rumahnya kemarin. Ia mengembalikan satu persatu amplop berisi uang yang diberikan oleh tetangganya.

Dikembalikan? Iya. Anda ingin tahu apa alasan ibu itu waktu mengembalikan uang amplop tadi? Dia bercerita tak bisa menerima pemberian itu. Alasannya, dia sedih karena merasa seperti menukar kematian suaminya dengan uang. Ia jadi sedih teringat suaminya yang sudah meninggal waktu memegang uang itu sehingga tak mau menerima pemberian itu. Itu yang menjadi alasannya.

Deg! Bagai ditampar saya amat tersentuh haru mendengar cerita itu dari ibu mertua saya. Jaman sekarang, kok masih ada, ya orang yang seperti itu? Ini sebuah ironi yang menggembirakan diantara banyaknya orang yang begitu tamak dan akan melakukan segala cara demi mendapatkan uang. Tak peduli barokah, halal dan haram. Betul?

Pertanyaan saya di akhir posting ini: Jika memang asuransi jiwa itu benar diharamkan dalam Islam apakah salah satunya itu yang menjadi alasannya? Yaitu karena tak pantas menukar nyawa seorang manusia dengan segebok uang? Bagaimana kalau menurut pendapat Anda?

Image credit: Life Insurance|Asuransi Jiwa


Bookmark and Share

Selasa, 09 Maret 2010

Antara Penipuan dan Pentingnya Asuransi

asuransi medicareMungkin Anda pernah mendengar modus penipuan seperti ini. Yaitu ada orang yang mengaku-ngaku dokter sebuah Rumah Sakit lewat telpon mengabarkan suami atau anggota keluarga Anda mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit, terus mau dioperasi dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Kemudian Anda diminta transfer sejumlah uang untuk proses operasi suami atau keluarga Anda tersebut.

Modus ini biasanya dilakukan kepada calon korban (kebanyakan) wanita yang kebetulan mempunyai suami bekerja atau tinggal di luar kota yang berbeda dengan tempat istrinya tinggal, sehingga sang istri biasanya akan langsung panik, tanpa berpikir panjang langsung percaya dengan kabar yang disampaikan. Terlebih nomor ponsel si suami calon korban biasanya terus tidak bisa dihubungi karena sudah diblokir atau di-jamme oleh si pelaku sehingga calon korban akan kesulitan untuk mencrosscek berita kepada suaminya apakah beritanya benar atau tidak.

Sang penipu dengan tipu dayanya akan mengatakan suaminya sedang koma dan jika tidak segera dioperasi maka suami tidak akan tertolong lagi, alias bisa meninggal. Istri mana yang tidak akan panik jika mendengar berita begini?

Dan tiga hari yang lalu kejadian ini menimpah saudara dari kawan saya. Suami dari saudara kawan saya tersebut kebetulan lagi ke Semarang sementara istrinya lagi di rumah di daerah Batu Malang. Untungnya, istri dari saudara kawan saya tersebut tidak sempat transfer ke rekening penipunya meskipun sebelumnya juga sempat panik karena mencoba menghubungi semua nomor ponsel suaminya tapi tidak bisa-bisa.

Mengetahui ponsel suaminya tidak bisa dihubungi, saudara kawan saya tersebut diantara kepanikannya masih sempat berpikir jernih dan akhirnya mencoba menghubungi ponsel salah satu kawan suaminya yang ada di Semarang. Dan ternyata, suaminya sehat-sehat saja tidak kurang suatu apa bersama kawannya yang ditelpon tadi, tidak mengalami kecelakaan sebagaimana kabar yang diterima dari orang yang mengaku-ngaku Dokter tersebut.

Satu yang menjadi pertanyaan saya apakah modus kejahatan seperti ini melibatkan oknum dari operator seluler, ya? Kok, mereka (penipu) bisa tahu lokasi seseorang, nomor-nomor ponsel semua calon korbannya? Darimana coba mereka mendapatkan data-data itu? Terus mereka juga bisa melakukan blokir atau jamming nomor ponsel sasaran agar tidak bisa dihubungi untuk beberapa saat secara remote jarak jauh.

Ternyata meski mempunyai banyak nomor ponsel tetap tidak menjamin lolos dari incaran penipuan model begini. Saya jadi berpikir membandingkan dengan diri saya sendiri, saya pun juga mempunyai tiga nomor ponsel. Dua nomor sudah terpublikasi di tempat kerja bahkan salah satunya di internet, menjadi nomor telpon Contact blog ini, dan satu nomor lainnya hanya keluarga dan teman dekat saja yang tahu. Apakah ini menjamin penipu tidak bisa menemukan nomor saya?

Kalau belajar dari kasus tadi ternyata ponsel banyak tetap tidak menjamin aman dari modus penipuan begini karena penipu bisa tahu dan memblokir semua nomor-nomor ponsel para calon korbannya. Mungkin satu-satunya tindakan preventif untuk menangkal modus penipuan begini adalah kita ikut program Asuransi Medicare.

Apa hubungannya ikut asuransi medicare dengan penipuan? Hubungannya adalah dengan ikut asuransi medicare jika suatu saat Anda misalnya mengalami kecelakaan pihak rumah sakit tidak akan pernah minta deposit biaya rumah sakit atau biaya operasi kepada istri atau keluarga Anda karena semua biaya sudah dicover oleh perusahaan asuransi medicare Anda.

Dan ini yang penting, jika suatu saat ada penipu model begini yang minta transfer biaya operasi, Anda bisa tersenyum enteng dan bilang: "Maaf Anda salah alamat, Bung. Silahkan cari korban lain." He....He.... He....

Hem, untungnya saya tanpa harus keluar duit banyak bisa ikut asuransi medicare ini karena perusahaan tempat saya bekerja sudah mengasuransikan saya. Dan untung yang kedua, belum ada penipu yang sempat tertarik mencoba menipu saya. He…. He…..




Bookmark and Share

Selasa, 26 Januari 2010

Antara Rumah Sakit International dan Hotel Bintang Lima

Rumah Sakit InternationalKalau ada tempat-tempat yang membuat saya menjadi tidak berselera untuk makan, salah satu diantaranya adalah di tempat-tempat seperti berikut ini: Di rumah duka atau tempat orang meninggal, kuburan, tempat orang sakit atau saat berada di sebuah Rumah Sakit. Tidak peduli seberapa enak makanannya, kalau saya berada di tempat-tempat tadi, selera makan saya langsung hilang. Kenapa pasalnya? Mungkin barangkali diantara Anda ada yang bertanya demikian?

Secara psikologis tempat-tempat tersebut telah membuat saya sedih, tidak boleh bergembira dan membuat saya larut dengan kesedihan dengan suasana duka di tempat tersebut sehingga ini mempengaruhi selera makan saya akhirnya menjadi hilang. Makanya saya kadang heran kalau ada orang kesusahan, ditinggal mati anggota keluarganya, tapi, kok keluarganya malah sibuk, repot-repot mempersiapkan makanan buat para pelayatnya.

Namun pengalaman saya pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 kemarin sewaktu mengantar anak saya berobat ke sebuah Rumah Sakit International di Jogja membuat saya berubah. Apa pasalnya? Seumur-umur meski hampir tiap bulan saya selalu ke rumah sakit, tapi yang namanya berkunjung ke rumah sakit sekelas rumah sakit international ini, baru kali ini. Dan saya tak menyangka kalau Rumah Sakit International lebih mirip dengan sebuah hotel berbintang lima daripada mirip sebuah rumah sakit pada umumnya. Bahkan saya sempat lupa saat duduk di ruang lobinya yang lega, nyaman dan empuk sofanya kalau saya ini sedang berada di sebuah rumah sakit. Naluri makan saya tiba-tiba muncul dan melupakan kalau saya ini sedang berada di sebuah rumah sakit saat mencium bau harum roti dari salah satu toko Bakery yang ada di rumah sakit tersebut.
 
Jujur, sejak kasus perseteruan Prita Mulyasari dengan salah satu Rumah Sakit International, telah membuat saya berubah jadi sedikit apatis dengan semua rumah sakit yang namanya ada embel-embel international di belakang namanya. Sehingga meski saya sudah menginjak 3 tahun tinggal di Jogja, belum satu kali pun saya pernah sekedar berkunjung atau berobat kesana. Selama ini saya cenderung setia dengan rumah sakit langganan saya, enggan berpindah-pindah rumah sakit meskipun di rumah sakit langganan saya, saya pernah juga dibuat kesal oleh salah satu dokter yang memeriksa anak saya. Baca kisahnya di posting 5 Pelajaran Dari Seorang Dokter dan Dokter Juga Manusia.

Kekaguman saya tidak berhenti di situ saja. Rumah Sakit International memang tidak hanya namanya saja yang wah tapi juga pelayanannya juga sangat memuaskan saya. Saya terus terang sangat terkesan sekali dengan pelayanannya. Sampai-sampai tanpa sadar saya berucap: “Jika suatu saat nanti saya sakit dan harus dirawat inap, saya ingin, deh dirawat di rumah sakit ini."
 
“Hus….! Sakit, kok kepingin?” Sergah istri saya cepat-cepat menukas perkataan saya, takut nanti Tuhan benar-benar akan mengabulkan perkataan saya tersebut.

Apa service Rumah Sakit International tersebut yang membuat saya benar-benar jadi terkesan? Begini awal ceritanya, hari Sabtu lalu anak laki-laki saya yang kecil jatuh dari sepeda dan kepalanya terbentur pilar depan rumah saya sehingga kepalanya berdarah. Kejadiannya sekitar jam 5 sore menjelang maghrib. Karena darahnya cukup banyak mengucur dari kepalanya maka saya cepat-cepat melarikannya ke UGD. Dan pilihan saya jatuh ke rumah sakit international tersebut, yang memang jaraknya paling dekat dengan rumah saya, bukan ke rumah sakit langganan saya yang memang jaraknya agak jauh dari rumah saya.

Sesampai di UGD rumah sakit, anak saya langsung ditangani dengan cepat oleh pihak rumah sakitnya. Istri saya dengan anak saya yang besar menunggui anak saya yang sedang diobati, sementara saya yang juga masih di dalam ruangan periksa di UGD tersebut diminta mengisi urusan administrasinya.
 
Setelah tindakan pengobatan anak saya selesai, saya kemudian berkonsultasi dengan dokternya, dokter menjelaskan ke saya agar tidak terlalu kuatir, luka anak saya tidak terlalu serius sehingga tidak perlu sampai dijahit karena lukanya nanggung, tidak terlalu dalam. Namun dokternya juga berpesan kepada saya kalau dalam 2 kali 24 jam jika terjadi muntah-muntah agar secepatnya anak saya dibawa balik ke rumah sakit untuk dilakukan CT Scan.

Seperti biasa karena saya ikut program asuransi medicare maka saya meminta hasil diagnosa ke dokternya sebagai salah satu syarat klaim pengobatannya. Karena tadi sewaktu ke rumah sakit tergesa-gesa dan panik maka saya lupa membawa form-form klaim asuransinya. Saya langsung berpikir jangan-jangan nanti dokter ini juga ngomel juga sewaktu dimintai diagnosa seperti halnya dokter di rumah sakit langganan saya dulu. Ternyata tidak. Dokternya malah dengan senyum ramah mempersilahkan saya untuk masuk ke sebuah ruangan khusus yang melayani pasien khusus asuransi medicare.

Di ruangan tersebut saya beserta istri dan kedua anak saya kemudian dilayani oleh seorang petugas wanita yang juga tidak kalah ramah dengan dokter tadi. Petugasnya kemudian menyuruh saya menunggu di ruangannya sementara dia yang menyiapkan semua form-form asuransi untuk saya termasuk memintakan diagnosa dan tanda tangan ke dokternya. Sambil menunggu kami disuguhin sebuah minuman layaknya seorang tamu.
 
Hem, ini yang menurut saya amat luar biasa. Seorang pasien dilayani, disuruh duduk manis, disuguhi minuman sementara petugas rumah sakitnya yang sibuk kesana kemari melayani pasiennya. Bukankah ini luar biasa? Karena sepanjang sejarah saya menggunakan Layanan Rumah Sakit justru kita lah yang biasanya mondar-mandir kesana kemari, dari mulai loket pendaftaran, ruang perikasa, ruang pelayanan obat sampai terakhir ke kasir, sementara petugas rumah sakit stand by diam di tempatnya masing-masing. Celakanya, tak jarang layout sebuah rumah sakit banyak yang tempat-tempat tersebut berada saling berjauhan sehingga cukup membuat capek untuk bolak balik kesana kemari, itu belum ditambah dengan masih harus ngantri juga.

Begitulah sedikit pengalaman pertama saya menggunakan jasa sebuah Rumah Sakit International yang membuat saya sangat terkesan. Saya jadi teringat dan ingin membandingkannya dengan perusahan saya, tempat saya bekerja, yang juga bergerak di bidang jasa bahwa di perusahaan kami betapa juga sangat tidak main-main dengan yang namanya standart pelayanan. Kami punya slogan harus memberikan “Be Number One in Customer Service” kepada setiap customer kami.

Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah Anda memberikan pelayanan terbaik buat orang-orang sekitar Anda?




Bookmark and Share

Rabu, 02 Desember 2009

Dokter Juga Manusia

Dokter
Setiap orang, atau perusahaan pasti punya kecenderungan dalam memandang sesuatu hal dari sudut kepentingan dia sendiri, tak terkecuali seorang dokter, pasien dan perusahaan asuransi. Silahkan baca dulu posting saya 5 Pelajaran Dari Seorang Dokter, bagi anda yang belum baca posting tersebut. Karena kisah ini masih sedikit terkait dengan kisah saya yang dulu.

Dan petikan email dari perusahaan asuransi medicare saya di bawah ini setidaknya bisa menguatkan pendapat saya tentang adanya kepentingan-kepentingan masing-masing pihak tersebut.


Dear Bapak Joko,

Berikut kami lampirkan form klaim reimburse. Dengan pasien mengetahui diagnosa dari dokter yang merawat, pasien dapat memonitoring kondisi medis dirinya sendiri. Pasien berhak dan diharapkan dapat pro aktif untuk mengetahui diagnosa dari dokter yang merawat disesuaikan dengan anamnesa/keluhan pasien, jenis tindakan medis dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter.

Berdasarkan kutipan kalimat “Sesuai informasi dari dokter tersebut bahwa diagnosa adalah untuk kalangan medis dan tidak boleh dishare ke pasien karena bila terjadi kesalahan dalam mendiagnosa, dokter bisa dituntut penjara maksimal selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 200 juta”. Jadi untuk menghindari kesalahan dokter dalam mendiagnosa atau merawat pasien, pasien sendiri harus pro aktif. Sehingga pasien mendapatkan tindakan medis dan obat-obatan sesuai dengan indikasi medis pasien.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Jika ada hal lain yang dapat kami bantu, Bapak dapat menghubungi kami kembali.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

Regards,
Umi Haryanti
Customer Service
Global Assistance & Healthcare
PT Global Asistensi Manajemen Indonesia (GAMI)
Graha Simatupang Tower 1D 8th Floor, Jl. Letjend. T.B. Simatupang Kav 38, Jakarta 12540, Indonesia
Telephone +62 21 782 8040 Fax: +62 21 782 9332
E-mail : Customer.Services@Global-Assistance.net
Website : www.global-assistance.net



From: Maintenance Reg xxxx [mailto:maintenance.reg.xxxx@matahari.co.id]
Sent: Monday, November 30, 2009 9:44 AM
To: customer.service
Subject: Re: Laporan Pembayaran Klaim dari Global Assistance atas nama JOKO SUTARTO

Kepada Yth,
Customer Services
Plan Administrator, Employee Benefit Solutions
Global Assistance & Healthcare
di tempat

Dengan hormat,

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas informasi Laporan Pembayaran Klaim yang sudah di-email kepada saya.
Lewat email ini saya ada pertanyaan sehubungan dengan keberatan salah satu dokter untuk memberikan diagnosa setiap kali
saya berobat ke rumah sakit Panti Rapih Jogja, bersama ini saya ingin menanyakan apakah lampiran diagnosa tersebut tetap diperlukan
sebagai salah satu syarat klaim?

Sesuai informasi dari dokter tersebut bahwa diagnosa adalah untuk kalangan medis dan tidak boleh dishare ke pasien karena bila terjadi
kesalahan dalam mendiagnosa, dokter bisa dituntut penjara maksimal selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 200 juta.

Demikian pertanyaan saya. Mohon penjelasannya dan bilamana tetap diperlukan mohon saya dikirimi standart formnya untuk pengisian diagnosanya.
Formnya, jika ada bisa dikirim softcopy PDF-nya via email, terima kasih.

Hormat saya,

Joko Sutarto


Perusahaan asuransi medicare saya ternyata sudah menyanggah pendapat dari dokter tersebut dan tetap mempersyaratkan lembar diagnosa dari dokter agar selalu dilampirkan dalam pengajuan klaim asuransi saya. Ini jelas berbeda dengan pendapat dokter tersebut yang menyatakan keheranannya dan malah mempertanyakan katanya tidak bener perusahaan asuransi sampai minta diagnosa segala. Mengapa? Karena, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya katanya diagnosa hanya untuk kalangan medis, pasien tidak diperkenankan untuk mengetahui diagnosa sakitnya.

Terlepas pendapat siapa yang benar, dokter ataukah perusahaan asuransi saya yang benar, saya berkesimpulan bahwa masing-masing pihak memang punya kepentingan yang berbeda. Dokter punya kepentingan agar tetap aman dari tuntutan hukum bilamana terjadi kesalahan dalam mendiagnosa pasien, sementara perusahaan asuransi juga punya kepentingan untuk meneliti kebenaran biaya klaim berdasarkan diagnosa dan obat-obatnya yang diberikan oleh seorang dokter.

Lantas bagi saya sendiri apa hikmahnya? Mohon maaf sebelumnya, tidak ada maksud saya hendak mendikte dokter apalagi ingin mendeskreditkan profesi dokter, tapi hikmah yang bisa saya ambil dari peristiwa ini adalah “Dokter Juga Manusia” yang tentu saja bisa aja salah. Dan dengan permintaan diagnosa ini dan adanya warning tuntutan hukum dalam pemberian diagnosa jika terjadi kesalahan dalam mendiagnosa, maka dokter mau nggak mau akan merasa tertuntut agar lebih teliti dan detil dalam memeriksa penyakit setiap pasiennya sehingga kemungkinan terjadi kesalahan diagnosa yang membahanyakan pasien bisa diminimalisir sekecil mungkin. Betul tidak?

Demikian kisah saya. Mudah-mudahan kisah ini bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran bersama buat kita semua.



Bookmark and Share

Rabu, 18 November 2009

5 Pelajaran Dari Seorang Dokter

Dokter

Kalau ada profesi yang tidak perlu gencar melakukan promosi marketing, mungkin salah satunya adalah dokter. Dan kalau berbicara profesi dan perusahaan apa yang tidak menerapkan promosi marketing bahkan malah membuat persuasi yang bertentangan dengan teori marketing itu sendiri, jawabannya juga sama adalah dokter. Yang kedua mungkin Rumah Sakit dan perusahaan PLN.

Nah, terkait dengan seorang dokter dan rumah sakit, saya punya pengalaman mengantar anak saya pergi berobat ke dokter di sebuah Rumah Sakit swasta yang cukup terkenal dan favorit di Jogja karena sangat terkenal dengan pelayanannya yang bagus dan peralatan medisnya yang cukup lengkap. Rumah Sakit yang menjadi langganan saya, termasuk semua anggota keluarga saya kalau sedang sakit akan berobat kesana. Saya jadi ingat dengan kata-kata Lisha, kawan blogger saya yang pernah mengomentari posting saya yang berjudul Saya Mirip Tukang Rombeng Apa Orang Smart? Yang mengatakan kalau orang terlalu pintar malah bikin mumet karena banyak pertimbangan. Dan sekarang, boleh dong saya beropini kalau orang semakin tua dan makin pintar akan cenderung rewel dan cerewet. Benar, tidak?

Dan hari ini saya baru mendapat beberapa pelajaran berharga dari seorang dokter tua berumur sekitar 50-an tahun tetapi pintar karena saya lihat cukup banyak embel-embel gelarnya di depan dan belakang namanya. Profesor, Dr, DTMH, DSAK dan PhD. Dan satu lagi saya tambahkan gelarnya, cerewet. Maaf, saya bilang cerewet tapi memang kenyataannya demikian. Namun saya sportif, tidak mau menampik, mengakui kalau apa yang dicerewetin ke saya semuanya itu benar. Dan ini adalah kelima pelajarannya yang bisa saya petik agar anda tidak mengulang kesalahan sama seperti yang sudah saya lakukan.

1. Peduli Dengan Anak

Anak saya yang berumur 7 tahun kebetulan lagi sakit panas dan muntah-muntah selama dua hari. Kalau biasanya yang mengantar dan mendampingi periksa ke dokter adalah istri saya, maka kali ini saya sendiri, bapaknya. Sewaktu dokter bertanya ke saya berapa kali muntah-muntahnya dalam sehari, saya tidak bisa menjawab kemudian telpon ke istri saya. Dan dokter tersebut berkata ke saya: “Pak, lain kali kalau mengantar anaknya ke dokter itu Ibunya atau siapa aja yang tahu kondisi persis sakit anaknya. Kalau seperti ini, kan susah gimana saya bisa mengetahui penyakitnya kalau informasinya tidak jelas?” Saya kemudian berusaha membela diri sedikit dengan mengatakan: “Ibunya sedang mengantar anak saya yang kecil sekolah, Dok sehingga saya sendiri yang mesti mengantar.” Jawab saya sedikit malu ditodong dengan pernyataan seperti itu. Pelajaran pertama. Jangan diulang kesalahan saya, ya yang kurang peduli dengan sakit anaknya. Atau kalau bisa sebelum ke dokter mesti nanya-nanya istri dulu secara persis sakitnya apa dan tolong hafalin biar tidak gelagap-gelagap kalau sedang ditanya dokter. He…He…

2. Jaga Kesehatan

Ini yang saya bilang di muka kalau dokter adalah profesi yang tidak menerapkan promosi marketing bahkan malah membuat persuasi yang bertentangan dengan teori marketing itu sendiri. “Tolong dijaga kesehatan anaknya agar tidak sering sakit-sakit, “ begitu pesan dokternya pada saya. “Nah, kalau saya selalu menjaga kesehatan dan tidak sering sakit berarti jarang ke dokter, kan Dok?” kataku dalam hati. Lha memang iya kan? Orang sakit adalah sama seperti omzet kalau dalam perusahaan Retail. Sama juga seperti prospek kalau dalam perusahaan asuransi. Dia menyuruh saya menjaga kesehatan berarti bertentangan dengan kenyataan bahwa dia, para dokter dan Rumah Sakit yang secara kenyataan, kecuali RSU karena disubsidi pemerintah, bisa tetap eksis karena dapat pemasukan dari pasien yang berobat, kan? Dan maaf, beberapa Rumah Sakit malah sudah ada yang benar-benar berani mengkomersialkan orang sakit. Menyuruh orang untuk opname atau rawat inap padahal sebenarnya dengan rawat jalan saja sudah cukup. Dan fakta lain, ada yang mengganti nama rumah sakitnya menjadi Rumah Sakit dengan embel-embel Internasionalnya padahal bukan. Nah, sekali lagi sebuah pelajaran, jaga kesehatan.

3. Diagnosa

Saya sekeluarga kebetulan ikut program asuransi Medicare, tepatnya perusahaan tempat saya bekerja yang mengangsuransikannya. Kebiasaan yang tidak boleh saya lupakan sebagai syarat claim asuransi saya adalah selalu minta kwitansi, diagnosa dan copy resep setiap kali ke dokter. Ngomong-ngomong masalah diagnosa, saya baru ngeh sekarang setelah dokter menjelaskan ke saya. Sebenarnya diagnosa itu hanya untuk kalangan medis, tidak boleh pasien minta hasil diagnosanya ke dokter. Makanya dia heran dan mempertanyakan, kok perusahaan asuransi saya minta diagnosa itu. Saya tidak tahu apa memang benar seperti ini ketentuannya. Dan lebih lanjut dokternya menjelaskan kepada saya, kalau seorang dokter terjadi salah dalam memberikan diagnosa itu bisa dituntut di pengadilan dengan hukuman penjara maksimal 1 tahun atau denda senilai Rp 200 juta. Nah, dengan saya minta diagnosa tersebut, dokter punya peluang untuk saya tuntut jika terbukti diagnosa yang diberikan salah. Makanya di lembar yang menyatakan diagnosa tersebut, saya diminta oleh dokternya agar ikut tanda tangan juga yang intinya menyatakan tidak keberatan dengan diagnosa tersebut.

Weleh-weleh, bagaimana saya bisa nuntut, lha wong saya sendiri juga gak mudeng istilah medis, tulisan dokter juga rata-rata pakai huruf latin yang susah untuk dibacanya. He….He… Saya sebetulnya mau bilang jelek kok pekewuh, takut nanti Mbak Vicky, kawan blogger saya yang kebetulan seorang dokter juga tiba-tiba mampir dan membaca posting ini bisa gawat nanti. Pelajaran ketiga, jangan mengeluh kalau pelayanan di rumah sakit lama karena dokter ternyata butuh ketelitian untuk mendiagnosa masing-masing pasiennya.

4. Mentang-mentang Asuransi

Masih terkait dengan diagnosa, sewaktu saya minta ke dokternya, dokternya bertanya kepada saya: “Mana form claim asuransinya yang harus saya isi?” Begitu tanyanya. “Tidak ada, Dok. Saya sudah sering berobat kesini, bahkan hampir sebulan sekali dan biasanya oleh dokter yang meriksa cukup ditulis di salah satu lembaran kertasnya, Dok,” kataku menjelaskan. “Ah, dokter ini benar-benar rewel dan cerewet. Lain kali saya akan bawa formnya biar tidak protes melulu, “ kataku dalam hati sedikit menggerutu. “Jangan pernah merasa karena sudah diasuransikan terus sedikit-sedikit berobat ke dokter, “ Mungkin itu sindirannya yang dilontarkan pada saya sewaktu menceritakan hampir sebulan sekali berobat ke dokter. Padahal maksud saya cerita seperti itu untuk menegaskan ke dia kalau dokter lainnya tidak nanya-nanya detil seperti ini. Kenapa dia, kok beda sendiri. Pelajaran keempat, lain kali jangan lupa membawa form asuransinya.

5. Surat Dokter

Saya sebenarnya tidak minta surat dokter buat ijin ke sekolah anak saya. Tapi dokter tanpa saya minta memberikan surat ijin kepada anak saya. “Sebenarnya kalau anak-anak yang sakit yang terpenting bukan surat ijin seperti ini tapi seharusnya ada komunikasi dari orang tua anak ke gurunya di sekolah. Itu yang lebih penting.” Kata dokter tersebut kembali menceramahi saya. Pelajaran kelima, selalu menjaga hubungan dengan guru anak di sekolah.

Inilah kelima pelajaran yang saya dapat hari ini, saat mengantar anak saya berobat ke rumah sakit. Mudah-mudahan anda yang membaca posting ini tidak mengulang beberapa kesalahan saya dan mengerti bahwa menjadi dokter seharusnya memang seperti itu, harus teliti, detil dan terkadang harus cerewet.



Bookmark and Share

Kamis, 29 Oktober 2009

Seandainya Saya Mati Muda

Mati

Satu hal yang belum sempat terpikirkan oleh saya saat ini adalah bagaimana seandainya saya mati sekarang? Tuhan memanggilku lebih cepat dari rata-rata Angka Harapan Hidup (AHH) orang Jogja yang averagenya di angka 73,17 tahun. Mungkin pertanyaan ini terdengar aneh di telinga Anda. Karena berbicara tentang kematian sebenarnya sesuatu yang tabu dan jarang orang mau membahasnya. Mungkin hanya perusahaan asuransi dan pemakaman saja lah yang terang-terangan membahas dan mempersiapkan matinya seorang manusia, tidak saya dan barangkali juga Anda.

Apakah Anda setuju dengan saya? Saat hidup seharusnya kita tidak menyusahkan keluarga dan orang-orang di sekitar kita, terlebih saatnya nanti kita harus mati jangan sampai kita juga menyusahkan orang yang hidup. Orang-orang tercinta yang ada di sekitar kita. Benar tidak?

Satu lagi pertanyaan saya: Apakah Anda termasuk kaum urban yang tinggal di kota besar seperti saya? Penduduk yang tinggal di pemukiman baru seperti di apartemen, cluster, atau perumahan yang terkotak sendiri di lingkungannya, terasing dan tidak bisa menyatu, berbaur sepenuhnya dengan warga asli sekitar? Kalau ya, cerita dibawah ini semoga bisa mengingatkan Anda dan saya sendiri tentunya, yang barangkali lupa menyiapkan tentang peristiwa besar dalam hidup yang akan dialami semua manusia. Yaitu sebuah kematian.

Kemarin saya mendapat cerita dari saudara saya di Sidoarjo. Saudara saya tinggal di perumahan. Bahwa di perumahannya baru aja tetangganya melahirkan anak kembar. Namun Tuhan berkehendak lain, kedua bayi mungil tersebut akhirnya harus meninggal dunia berturut-turut selang sehari dari suka cita waktu hari kelahiran dua bayi mungil dan lucu tersebut hadir di dunia.

Yang menjadi masalah kemudian adalah saat mau menguburkan kedua jenazah bayi tadi. Karena area pemakaman warga di dekat komplek perumahan tersebut tidak mau menerima kedua jenazah tadi dikubur di sana. Alasannya, karena warga perumahan bukan penduduk asli atau warga setempat. Sementara area pemakaman sesuai kesepakatan warga hanya dikhususkan buat penduduk setempat saja. Sehingga kedua orang tua bayi tersebut terpaksa harus mengirim dan menguburkan jenazah anaknya ke tempat daerah asal orang tuanya di daerah Lamongan sejauh sekitar 60 KM dari rumahnya.

Mendengar cerita itu, saya lantas berpikir, bukankah problem semacam ini hampir sama dialami juga oleh mayoritas kaum Urban yang tinggal di lingkungan perumahan kota? Karena rata-rata developer perumahan jarang yang menyisahkan tanah di areal perumahannya untuk area pemakaman atau Rumah Masa Depan buat kita. Betul tidak? Saya lalu teringat dengan rumah saya sendiri di Jogja, tempat tinggal saya sekarang. Bagaimana nanti jika saya secara tiba-tiba mati muda. Tuhan mengambil saya lebih cepat dari perkiraan saya? Apakah saya tidak akan menyusahkan istri, anak-anak dan tetangga saya kalau harus menguburkan saya, terlebih daerah asal saya di Jawa Timur yang jauhnya 300 KM dari Jogja.

Saya rasa ini fakta yang perlu juga Anda pikirkan sekarang jika kondisi Anda mirip dengan saya atau cerita bayi meninggal yang ada di perumahan saudara saya tadi. Karena hampir semua developer perumahan kebanyakan jarang melakukan investasi areal pemakaman buat para calon pembeli perumahannya.

Mungkin kalau Anda sudah terbiasa tinggal di luar negeri seperti di Amerika atau negara maju lainnya, investasi tanah makam buat rumah masa depan kita adalah sudah hal biasa, yang sudah mereka lakukan di sana. Hal yang mana masih terdengar asing di telinga kebanyakan orang kita di Indonesia. Ya, investasi tanah makam apalagi di daerah pemakaman elite seperti di San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes di Karawang Jawa Barat milik PT Lippo Karawaci Tbk (Group Lippo) ini yang harga per unit bisa mencapai 4 sampai dengan 6 juta rupiah.

Tapi Anda jangan salah, masyarakat berpenghasilan tinggi di area Jabodetabek ternyata meminati bisnis kompleks pemakaman ini. "Untuk yang termahal, sudah ada keluarga yang membeli 200 meter seharga Rp 4 miliar," ungkap Jeanny Wullur Pejabat Humas Lippo Karawaci. Dan dari awal pertama kali diluncurkan awal tahun 2007 bisnis kompleks pemakaman milik Lippo ini sudah dibanjiri pemesanan sebanyak 10 ribu unit atau hampir 80 persen dari total lahan yang ditawarkan seluas 500 hektar. "Awalnya agak susah karena maksud tim pemasaran disalahartikan," ujar Jeanny Wullur lagi di Jakarta beberapa waktu yang lalu, saat diwawancara oleh koran Tempo.

Saya perlu jelaskan, saya bukan agen properti dari bisnis pemakaman itu yang dibayar dengan mereview bisnis property tersebut, juga bukan agen asuransi yang biasanya gencar dalam mencari dan memprospek orang agar ikut asuransi tertentu yang bagi kebanyakan orang, asuransi dianggap masih belum perlu. Saya hanya orang biasa yang mencoba sharing aja dan sekedar menyampaikan fakta bahwa kedepan problem kependudukan semacam ini, terlebih bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta akan dialami oleh kita semua, terutama warga urban yang notabene warga pendatang yang tidak selamanya bisa diterima dengan baik oleh penduduk setempat akibat adanya kesenjangan sosial yang terbentuk.

Satu pertanyaan terakhir saya di akhir posting ini, sudahkah anda mempersiapkan dengan baik kematian Anda buat keluarga Anda tercinta?



Bookmark and Share