Kamis, 29 Oktober 2009

Seandainya Saya Mati Muda

Mati

Satu hal yang belum sempat terpikirkan oleh saya saat ini adalah bagaimana seandainya saya mati sekarang? Tuhan memanggilku lebih cepat dari rata-rata Angka Harapan Hidup (AHH) orang Jogja yang averagenya di angka 73,17 tahun. Mungkin pertanyaan ini terdengar aneh di telinga Anda. Karena berbicara tentang kematian sebenarnya sesuatu yang tabu dan jarang orang mau membahasnya. Mungkin hanya perusahaan asuransi dan pemakaman saja lah yang terang-terangan membahas dan mempersiapkan matinya seorang manusia, tidak saya dan barangkali juga Anda.

Apakah Anda setuju dengan saya? Saat hidup seharusnya kita tidak menyusahkan keluarga dan orang-orang di sekitar kita, terlebih saatnya nanti kita harus mati jangan sampai kita juga menyusahkan orang yang hidup. Orang-orang tercinta yang ada di sekitar kita. Benar tidak?

Satu lagi pertanyaan saya: Apakah Anda termasuk kaum urban yang tinggal di kota besar seperti saya? Penduduk yang tinggal di pemukiman baru seperti di apartemen, cluster, atau perumahan yang terkotak sendiri di lingkungannya, terasing dan tidak bisa menyatu, berbaur sepenuhnya dengan warga asli sekitar? Kalau ya, cerita dibawah ini semoga bisa mengingatkan Anda dan saya sendiri tentunya, yang barangkali lupa menyiapkan tentang peristiwa besar dalam hidup yang akan dialami semua manusia. Yaitu sebuah kematian.

Kemarin saya mendapat cerita dari saudara saya di Sidoarjo. Saudara saya tinggal di perumahan. Bahwa di perumahannya baru aja tetangganya melahirkan anak kembar. Namun Tuhan berkehendak lain, kedua bayi mungil tersebut akhirnya harus meninggal dunia berturut-turut selang sehari dari suka cita waktu hari kelahiran dua bayi mungil dan lucu tersebut hadir di dunia.

Yang menjadi masalah kemudian adalah saat mau menguburkan kedua jenazah bayi tadi. Karena area pemakaman warga di dekat komplek perumahan tersebut tidak mau menerima kedua jenazah tadi dikubur di sana. Alasannya, karena warga perumahan bukan penduduk asli atau warga setempat. Sementara area pemakaman sesuai kesepakatan warga hanya dikhususkan buat penduduk setempat saja. Sehingga kedua orang tua bayi tersebut terpaksa harus mengirim dan menguburkan jenazah anaknya ke tempat daerah asal orang tuanya di daerah Lamongan sejauh sekitar 60 KM dari rumahnya.

Mendengar cerita itu, saya lantas berpikir, bukankah problem semacam ini hampir sama dialami juga oleh mayoritas kaum Urban yang tinggal di lingkungan perumahan kota? Karena rata-rata developer perumahan jarang yang menyisahkan tanah di areal perumahannya untuk area pemakaman atau Rumah Masa Depan buat kita. Betul tidak? Saya lalu teringat dengan rumah saya sendiri di Jogja, tempat tinggal saya sekarang. Bagaimana nanti jika saya secara tiba-tiba mati muda. Tuhan mengambil saya lebih cepat dari perkiraan saya? Apakah saya tidak akan menyusahkan istri, anak-anak dan tetangga saya kalau harus menguburkan saya, terlebih daerah asal saya di Jawa Timur yang jauhnya 300 KM dari Jogja.

Saya rasa ini fakta yang perlu juga Anda pikirkan sekarang jika kondisi Anda mirip dengan saya atau cerita bayi meninggal yang ada di perumahan saudara saya tadi. Karena hampir semua developer perumahan kebanyakan jarang melakukan investasi areal pemakaman buat para calon pembeli perumahannya.

Mungkin kalau Anda sudah terbiasa tinggal di luar negeri seperti di Amerika atau negara maju lainnya, investasi tanah makam buat rumah masa depan kita adalah sudah hal biasa, yang sudah mereka lakukan di sana. Hal yang mana masih terdengar asing di telinga kebanyakan orang kita di Indonesia. Ya, investasi tanah makam apalagi di daerah pemakaman elite seperti di San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes di Karawang Jawa Barat milik PT Lippo Karawaci Tbk (Group Lippo) ini yang harga per unit bisa mencapai 4 sampai dengan 6 juta rupiah.

Tapi Anda jangan salah, masyarakat berpenghasilan tinggi di area Jabodetabek ternyata meminati bisnis kompleks pemakaman ini. "Untuk yang termahal, sudah ada keluarga yang membeli 200 meter seharga Rp 4 miliar," ungkap Jeanny Wullur Pejabat Humas Lippo Karawaci. Dan dari awal pertama kali diluncurkan awal tahun 2007 bisnis kompleks pemakaman milik Lippo ini sudah dibanjiri pemesanan sebanyak 10 ribu unit atau hampir 80 persen dari total lahan yang ditawarkan seluas 500 hektar. "Awalnya agak susah karena maksud tim pemasaran disalahartikan," ujar Jeanny Wullur lagi di Jakarta beberapa waktu yang lalu, saat diwawancara oleh koran Tempo.

Saya perlu jelaskan, saya bukan agen properti dari bisnis pemakaman itu yang dibayar dengan mereview bisnis property tersebut, juga bukan agen asuransi yang biasanya gencar dalam mencari dan memprospek orang agar ikut asuransi tertentu yang bagi kebanyakan orang, asuransi dianggap masih belum perlu. Saya hanya orang biasa yang mencoba sharing aja dan sekedar menyampaikan fakta bahwa kedepan problem kependudukan semacam ini, terlebih bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta akan dialami oleh kita semua, terutama warga urban yang notabene warga pendatang yang tidak selamanya bisa diterima dengan baik oleh penduduk setempat akibat adanya kesenjangan sosial yang terbentuk.

Satu pertanyaan terakhir saya di akhir posting ini, sudahkah anda mempersiapkan dengan baik kematian Anda buat keluarga Anda tercinta?



Bookmark and Share

9 komentar:

  1. wah sob jangan merencanakan mati muda donk, semangatttt...

    nice ppost sobat!!!

    BalasHapus
  2. Nggak merencanakan mati muda, Sob.
    Hanya mengingatkan diri saya sendiri tentang perlunya menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan kematian kita, itu perlu. Contoh seperti asuransi dan dimana kelak Rumah Masa Depan kita. Hi...Hi...

    BalasHapus
  3. dan untuk kesiapan ituh, selain persiapan bekal di alam baka, kita jg harus berusaha untuk tidak menyengsarakan orang yang akan kita tinggalkan nanti.. klo ndak mampu ninggalin warisan.. minimal ninggalin asuransi biar anak istri ndak melarat sepeninggal sampeyan (saya ndak ikutaaannn :P)

    BalasHapus
  4. Kalau masalah asuransi saya da siapin semuanya.
    Jika sewaktu-waktu saya dipanggil menghadap Tuhan, meski saya tidak bisa ninggalin warisan sampai 5 M tapi minimal tidak ninggali hutang buat istri dan anak-anak saya. He...He....

    Yang belum siap tinggal Rumah Masa Depan saya ini. Mau beli di Pemakaman San Diego Hills, kok belum cukup uangku. Hi...Hi....

    BalasHapus
  5. huaaaa... jauh amat beli Rumah Masa Depan di San Diego Hill..
    knapa ndak di Rumah Masa Depannya Suzanna ajah?? :D :D

    *googling Suzanna dimakamin dmn yah? :P

    BalasHapus
  6. Kamu pikir San Diego Hill ada di US, ya? Salah. Tapi ya memang masih jauh juga, sih kalau dari Jogja karena ada di Karawang sono. Namanya juga cita-cita. Boleh, kan ingin "Mati Mulyo" (mati enak)? Tidak hanya hidup yang diharapkan Mulyo. He...He....

    "Kalau makam Suzanna itu di Magelang. Masak, nggak tahu? Nggak perlu Googling kalau hanya tanya ini. Tanya aku aja."

    BalasHapus
  7. saya kok berpikir, bahkan memvonis memesan RUMAH TERAKHIR di tempat seperti itu adalah pemborosan belaka. karena sifatnya hanya LUX semata. entahlah saya cuma beropini

    BalasHapus
  8. andi sakab:
    Kalau tentang San Diego Hill dianggap mahal dan pemborosan, saya agak kurang sependapat, Mas Andi. Harga Rp 4 juta per unit saya rasa masih relatif murah, Mas. Masih lebih murah dari harga BlackBerry seri Bold 9700 terkini. Apalagi harga segitu kata teman saya yang sudah pesan sudah include dengan biaya penguburannya segala.

    Meski kita tak sependapat saya jangan didoain cepat mati, ya Mas Andi. :D

    BalasHapus
  9. Kesampean engga ya....aku ingin hidup 100 tahun? Untuk itu aku musti menjaga kesehatan lahir dan batin. Bukankah kematian itu juga hasil keputusan pribadi? Chairil Anwar mau hidup 1000 tahun, tapi nyatanya mati di umur 27 tahun.

    BalasHapus