Selasa, 26 Januari 2010

Antara Rumah Sakit International dan Hotel Bintang Lima

Rumah Sakit InternationalKalau ada tempat-tempat yang membuat saya menjadi tidak berselera untuk makan, salah satu diantaranya adalah di tempat-tempat seperti berikut ini: Di rumah duka atau tempat orang meninggal, kuburan, tempat orang sakit atau saat berada di sebuah Rumah Sakit. Tidak peduli seberapa enak makanannya, kalau saya berada di tempat-tempat tadi, selera makan saya langsung hilang. Kenapa pasalnya? Mungkin barangkali diantara Anda ada yang bertanya demikian?

Secara psikologis tempat-tempat tersebut telah membuat saya sedih, tidak boleh bergembira dan membuat saya larut dengan kesedihan dengan suasana duka di tempat tersebut sehingga ini mempengaruhi selera makan saya akhirnya menjadi hilang. Makanya saya kadang heran kalau ada orang kesusahan, ditinggal mati anggota keluarganya, tapi, kok keluarganya malah sibuk, repot-repot mempersiapkan makanan buat para pelayatnya.

Namun pengalaman saya pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 kemarin sewaktu mengantar anak saya berobat ke sebuah Rumah Sakit International di Jogja membuat saya berubah. Apa pasalnya? Seumur-umur meski hampir tiap bulan saya selalu ke rumah sakit, tapi yang namanya berkunjung ke rumah sakit sekelas rumah sakit international ini, baru kali ini. Dan saya tak menyangka kalau Rumah Sakit International lebih mirip dengan sebuah hotel berbintang lima daripada mirip sebuah rumah sakit pada umumnya. Bahkan saya sempat lupa saat duduk di ruang lobinya yang lega, nyaman dan empuk sofanya kalau saya ini sedang berada di sebuah rumah sakit. Naluri makan saya tiba-tiba muncul dan melupakan kalau saya ini sedang berada di sebuah rumah sakit saat mencium bau harum roti dari salah satu toko Bakery yang ada di rumah sakit tersebut.
 
Jujur, sejak kasus perseteruan Prita Mulyasari dengan salah satu Rumah Sakit International, telah membuat saya berubah jadi sedikit apatis dengan semua rumah sakit yang namanya ada embel-embel international di belakang namanya. Sehingga meski saya sudah menginjak 3 tahun tinggal di Jogja, belum satu kali pun saya pernah sekedar berkunjung atau berobat kesana. Selama ini saya cenderung setia dengan rumah sakit langganan saya, enggan berpindah-pindah rumah sakit meskipun di rumah sakit langganan saya, saya pernah juga dibuat kesal oleh salah satu dokter yang memeriksa anak saya. Baca kisahnya di posting 5 Pelajaran Dari Seorang Dokter dan Dokter Juga Manusia.

Kekaguman saya tidak berhenti di situ saja. Rumah Sakit International memang tidak hanya namanya saja yang wah tapi juga pelayanannya juga sangat memuaskan saya. Saya terus terang sangat terkesan sekali dengan pelayanannya. Sampai-sampai tanpa sadar saya berucap: “Jika suatu saat nanti saya sakit dan harus dirawat inap, saya ingin, deh dirawat di rumah sakit ini."
 
“Hus….! Sakit, kok kepingin?” Sergah istri saya cepat-cepat menukas perkataan saya, takut nanti Tuhan benar-benar akan mengabulkan perkataan saya tersebut.

Apa service Rumah Sakit International tersebut yang membuat saya benar-benar jadi terkesan? Begini awal ceritanya, hari Sabtu lalu anak laki-laki saya yang kecil jatuh dari sepeda dan kepalanya terbentur pilar depan rumah saya sehingga kepalanya berdarah. Kejadiannya sekitar jam 5 sore menjelang maghrib. Karena darahnya cukup banyak mengucur dari kepalanya maka saya cepat-cepat melarikannya ke UGD. Dan pilihan saya jatuh ke rumah sakit international tersebut, yang memang jaraknya paling dekat dengan rumah saya, bukan ke rumah sakit langganan saya yang memang jaraknya agak jauh dari rumah saya.

Sesampai di UGD rumah sakit, anak saya langsung ditangani dengan cepat oleh pihak rumah sakitnya. Istri saya dengan anak saya yang besar menunggui anak saya yang sedang diobati, sementara saya yang juga masih di dalam ruangan periksa di UGD tersebut diminta mengisi urusan administrasinya.
 
Setelah tindakan pengobatan anak saya selesai, saya kemudian berkonsultasi dengan dokternya, dokter menjelaskan ke saya agar tidak terlalu kuatir, luka anak saya tidak terlalu serius sehingga tidak perlu sampai dijahit karena lukanya nanggung, tidak terlalu dalam. Namun dokternya juga berpesan kepada saya kalau dalam 2 kali 24 jam jika terjadi muntah-muntah agar secepatnya anak saya dibawa balik ke rumah sakit untuk dilakukan CT Scan.

Seperti biasa karena saya ikut program asuransi medicare maka saya meminta hasil diagnosa ke dokternya sebagai salah satu syarat klaim pengobatannya. Karena tadi sewaktu ke rumah sakit tergesa-gesa dan panik maka saya lupa membawa form-form klaim asuransinya. Saya langsung berpikir jangan-jangan nanti dokter ini juga ngomel juga sewaktu dimintai diagnosa seperti halnya dokter di rumah sakit langganan saya dulu. Ternyata tidak. Dokternya malah dengan senyum ramah mempersilahkan saya untuk masuk ke sebuah ruangan khusus yang melayani pasien khusus asuransi medicare.

Di ruangan tersebut saya beserta istri dan kedua anak saya kemudian dilayani oleh seorang petugas wanita yang juga tidak kalah ramah dengan dokter tadi. Petugasnya kemudian menyuruh saya menunggu di ruangannya sementara dia yang menyiapkan semua form-form asuransi untuk saya termasuk memintakan diagnosa dan tanda tangan ke dokternya. Sambil menunggu kami disuguhin sebuah minuman layaknya seorang tamu.
 
Hem, ini yang menurut saya amat luar biasa. Seorang pasien dilayani, disuruh duduk manis, disuguhi minuman sementara petugas rumah sakitnya yang sibuk kesana kemari melayani pasiennya. Bukankah ini luar biasa? Karena sepanjang sejarah saya menggunakan Layanan Rumah Sakit justru kita lah yang biasanya mondar-mandir kesana kemari, dari mulai loket pendaftaran, ruang perikasa, ruang pelayanan obat sampai terakhir ke kasir, sementara petugas rumah sakit stand by diam di tempatnya masing-masing. Celakanya, tak jarang layout sebuah rumah sakit banyak yang tempat-tempat tersebut berada saling berjauhan sehingga cukup membuat capek untuk bolak balik kesana kemari, itu belum ditambah dengan masih harus ngantri juga.

Begitulah sedikit pengalaman pertama saya menggunakan jasa sebuah Rumah Sakit International yang membuat saya sangat terkesan. Saya jadi teringat dan ingin membandingkannya dengan perusahan saya, tempat saya bekerja, yang juga bergerak di bidang jasa bahwa di perusahaan kami betapa juga sangat tidak main-main dengan yang namanya standart pelayanan. Kami punya slogan harus memberikan “Be Number One in Customer Service” kepada setiap customer kami.

Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah Anda memberikan pelayanan terbaik buat orang-orang sekitar Anda?




Bookmark and Share

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar