Jumat, 18 September 2009

Noordin M Top, mengapa harus dibunuh?

teroris Noordin M Top
Hampir semua media lokal kemarin tidak ada satupun yang tidak memberitakan tentang kematian Noordin M Top, gembong teroris yang paling diburu di negeri ini. Semua orang bersuka cita menyambut berita ini. Pujian pun banyak dilontarkan kepada Polri atas prestasinya bisa membekuk teroris licin yang selama sembilan tahun ini selalu lolos dari sergapan polisi.

Semua orang bersuka cita karena paling tidak, satu persatu orang jahat yang bernama teroris berkurang lagi dari muka bumi ini. Namun disisi lain sebagian pihak ada yang menyayangkan mengapa Noordin M Top harus dibunuh? “Apa yang dia lakukan memang salah. Kita tidak bisa memaafkan perbuatannya selama ini. Saya sedih mengapa kita tidak merehabilitasinya, seperti yang kita lakukan dengan yang lain, termasuk militan Jamaah Islamiyah,” ujar Datuk Seri Hishammuddin Tun Hussein, Menteri dalam negeri Malaysia, seperti dilansir The Star, Jumat (18/9/2009) yang menyesalkan mengapa Noordin M Top sampai dibunuh. “Saya sedih karena hidup sangatlah berharga,” tambahnya.

Komnas HAM pun menilai penggerebekan Noordin M Top yang dilakukan oleh Densus 88 di Solo tanggal 17 September 2009 kemarin dinilai melanggar HAM. Karena terlalu vulgar dan melanggar hak asasi manuasia. “Penanganan terhadap terorisme sudah banyak sekali dilakukan, seharusnya Polri tidak boleh arogan dengan skenario dia sendiri dia harus mempertimbangkan semua masukan. Yang disesalkan adalah perlakuan dimana Polri terlalu counter terorism, terlalu vulgar,” ujar Wakil Ketua Bidang Internal Komnas HAM Ridha Saleh di gedung Komnas HAM, Jakarta, Kamis (17/9/2009)

Apa yang disampaikan oleh Ridha Saleh ini ternyata cukup menuai banyak kecaman komentar di Detikcom. Sampai posting ini saya tulis tidak kurang 422 orang rata-rata mengecam perkataan wakil Komnas HAM ini. Banyak orang yang protes dengan sikapnya yang menyalahkan polisi yang telah dianggap melanggar HAM. “bubarin aja komnas ham. ga jelas apa maunya mereka. hidup di indonesia kok ngeresein pemerintah indonesia melulu. bantu dong nangkep teroris kalau emang bisa? jangan komentar doang!!!!!!!!!!” Ujar Lesly salah seorang pengomentar.

Tidak kalah dengan Lesly, seseorang dengan nick name Mbalelo juga berkomentar tidak kalah sengitnya. “Hanyalah orang HAM yg tidak mempunyai Otak, sepertinya otak kalian tidak lebih dari seekor otak udang, yang bisanya hanya bersembunyi dibalik kata kata HAM,KOMAS HAM perlu diselidiki lebih lanjutan tuch, apakah kinerja emang sesuai kredibilitas orang2nya yg berdasi tapi berotak UDANG. Jadi Tolong Pak SBY, DEnsus 88, KPK, atau bahkan pak RT tempat orang HAM yg berkerja tolong diwaspadai, apa mungkin para terroris bersembunyi di balik KOMNAS HAM. Atau Org KOMNAS HAM adalah terroris dibalik selimut.” Tulisnya di Detikcom.

Hem, tuhan memang punya kehendak lain. Noordin M Top harus tewas dengan cara seperti itu. Tewas disaat Lebaran tinggal 3 hari lagi akan dirayakan oleh seluruh umat muslim di dunia tak terkecuali dia yang juga seorang muslim. Sebagai sesama manusia kita boleh sama-sama tidak setuju dengan perbuatan jahat yang sudah dilakukannya namun kalau saja dia tidak tewas dengan jalan ditembak polisi, mungkin akan lebih terhormat bisa mati setelah ada kesempatan bertobat lebih dulu. Walaupun kecil kemungkinannya dia akan lolos dari jeratan hukuman mati seandainya dia bisa ditangkap hidup-hidup tapi paling tidak, kita sudah memberikan kesempatan kepada dia untuk bertobat.

Nah, agar tidak seperti Noordin M Top yang tidak punya waktu lagi untuk bertobat dan saling memaafkan maka lewat posting ini sebagai manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan salah, tak lupa saya mengucapkan: “Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1430 H. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.”


Bookmark and Share

1 komentar:

  1. sama2 mas..
    mohon maaf lahir bathin jg.. :D

    selamat hari raya idul fitri yaah mas..

    about Nurdin, drpd membuat resah, saya pikir sudah sangat baik dia terbunuh di penyergapan kmrn. krna sblmnya kan udh dikasih peringatan dulu sm densus untuk menyerahkan diri, tp ternyata melakukan perlawanan.
    kemungkinan utk ditangkap hidup2 sudah susah, bila tersangka sdr melakukan perlawanan. salah2 nanti malah anggota densus yang jd korban.

    just my opinion..
    :)

    lisha

    BalasHapus