Senin, 14 September 2009

In Memorian Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo
Tiga tahun yang lalu tepatnya tanggal 29 Mei 2006, hampir bersamaan dengan terjadinya musibah gempa di Jogja, ada sebuah mobil mewah tanpa sengaja sudah menabrak saya. Saya jatuh dan mengalami luka-luka. Meski masih meringis kesakitan saya segera bangkit untuk menghampiri Si pengemudi mobil tersebut untuk menghardik, melabrak minta pertanggung jawabannya. Dia kemudian menawarkan uang damai untuk biaya pengobatan saya beserta biaya perbaikan motor saya yang rusak karena ketabrak.

Dengan rasa masih menahan amarah logika saya berpikir.

“Mau diganti berapapun uang sebenarnya tidak bisa mengganti pedih kucuran darah akibat luka yang sudah menggores tubuh saya. Tidak bisa mengembalikan sakitnya kaki saya yang kesleo akibat jatuh terbentur keras ke jalan.” Kataku geram

Diantara rasa menahan sakit, saya tercenung sesaat menatap bola mata Si penabrak saya. Hati saya tersentuh melihat tatapan matanya yang samasekali tidak marah akibat saya hardik, saya umpat dengan penuh amarah. Saya melihat tatapan matanya justru meredup seperti menyesali kelalainnya telah menabrak saya.

Tiba-tiba hati saya jadi tersedak.

“Ya Tuhan tak ada satupun orang baik di dunia ini suka menabrak orang, sebagai sama-sama manusia yang pernah berbuat salah haruskah aku bersikukuh tidak mau memaafkannya?”

Note:
In memorian rumahku yang sudah ditenggelamkan oleh Lumpur Lapindo. Dan tulisan ini sengaja saya posting untuk merespond apa yang ditulis oleh Anindya Bakrie di blognya disini


Bookmark and Share

2 komentar:

  1. Wah, tulisannya benar-benar menyentuh Mas.. Allah Maha pemaaf dan pengampun, dan saya tetap kagum dengan sifat memaafkan Mas. Semoga kesabaran Mas diganjar dengan segenap kebaikan oleh Allah SWT. Amin

    BalasHapus
  2. Alangkah Indah-nya kalau semua itu bisa saling melihat diri-nya masing-2, krn dengan instrospeksi diri kita akan semakin jadi tambah dewasa dan bijak dalam menyikapi kehidupan yang fana ini. Subhanaallah...

    BalasHapus