twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 14 Mei 2011

Tips Menulis Advertorial

Tips Menulis AdvertorialJika Anda seorang blogger yang merangkap sebagai publisher, satu keahlian yang perlu Anda kuasai selain pandai menulis artikel adalah harus bisa menulis artikel advertorial. Apa itu artikel advertorial? Bagi yang belum tahu definisinya, silahkan baca dulu tulisan saya “Etika Menulis dan Memasang Iklan di Blog” yang pernah menjelaskan arti kata advertorial.

Keahlian menulis artikel advertorial ini penting sekali Anda kuasai kalau memang Anda serius ingin mendapatkan penghasilan lewat blog Anda. Keahlian menulis advertorial itu gunanya tidak melulu untuk mengiklankan produk dari para pengiklan atau produsen, tapi suatu saat akan sangat berguna untuk mengiklankan produk Anda sendiri di internet.

Sebelum saya memberikan tips ini kepada Anda, saya perlu jelaskan dulu. Saya belum seorang penulis advertorial yang baik, namun sedikit pengalaman saya menulis beberapa advertorial yang pernah saya tulis ini semoga bisa menjadi bahan belajar bersama bagaimana, sih cara menulis advertorial yang baik dan bisa menarik serta disukai oleh pembaca. Dan yang terpenting, ujungnya bisa berakhir closing, dapat menarik penjualan setelah orang lain membaca advertorial Anda.

Saya mempunyai tiga contoh artikel review dan advertorial. Yang pertama dan kedua sama-sama mereview tentang salah satu produk dari provider telpon seluler Telkomsel. Yang pertama berupa advertorial dan berbayar. Bisa dilihat di artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” Dan artikel yang kedua “Paket simPATI Gratis Internetan Berjam-jam Ternyata Berlaku Buat Internet Lewat Komputer”, yang ini murni berupa review dari saya selaku pengguna, tidak dibayar. Artikel ketiga, “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang” adalah advertorial pesanan dari kawan saya yang sampai dengan tulisan ini saya tulis advertorialnya cukup banyak membuat closing penjualan di internet.

Saya mulai dari artikel yang pertama dan kedua. Sesuai laporan dari Google Analytics, meski kedua artikel mengulas topik yang sama, ternyata artikel pertama dan kedua hasilnya jauh berbeda. Baik jumlah pageviewnya maupun jumlah comment yang masuk dalam artikelnya. Silahkan Anda lihat data statistik artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” dibawah ini.

Staistik Advertorial simPATI freedom

Total pageview artikel “Tawaran Menarik Dari simPATI freedom, Mau?” sampai dengan tanggal 13 Mei 2011 sebanyak 325. Jumlah comment sampai dengan saya tulis artikel ini yang masuk sebanyak 30 komentar.

Statistik Review Gratis Internet Berjam-jam simPATI

Coba bandingkan sama data statistik di atas! Ternyata jumlah pageview artikel “Paket simPATI Gratis Internetan Berjam-jam Ternyata Berlaku Buat Internet Lewat Komputer” jumlahnya jauh lebih banyak, 797 pageview, dan comment-nya juga sudah mencapai 38 komentar.

Nah, sekarang artikel yang ketiga, “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang”. Saya akan perlihatkan bukti screenshot jumlah email yang masuk dari pembaca melalui form contact setelah membaca advertorial tersebut. Maaf untuk data penjualan dari advertorialnya saya tak bisa share disini. HeHe.

Screenshot email masuk

Advertorial “Tips Mengembalikan Keperawanan Yang Hilang” yang melalui blog saya sudah menuai respond sebanyak 21 komentar dari pembaca, 11 email masuk, 13 kontak melalui telpon/SMS, dan 2 invite contact melalui Blackberry. Data ini belum termasuk respond melalui notes facebook dan blog kawan saya yang juga mempublish advertorial tersebut.

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari ketiga artikel tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tulisan dengan gaya review dari sudut pandang Anda sebagai konsumen ternyata lebih kuat untuk menarik minat pembaca. Ini berbeda dengan tulisan yang ditulis hanya berupa informasi dari sudut pandang produsen.
  2. Untuk menghasilkan tulisan advertorial yang memikat, ternyata syarat wajib ini tidak bisa ditawar. Anda harus menjajal lebih dulu barang yang Anda iklankan sebelum menuliskannya kedalam sebuah artikel.
  3. Pemberian data-data hasil test atau pengujian Anda di dalam artikel advertorial terbukti sangat membantu menarik ketertarikan dari para pembaca.
  4. Proporsional antara advertisement (iklan) dan editorial dalam sebuah artikel advertorial perlu diperhatikan. Yaitu harus lebih kuat unsur editorialnya ketimbang muatan iklannya. Pemberian persuasi atau tawaran iklannya secara halus terbukti lebih efektif ketimbang bahasa iklan yang terlalu berlebihan.

Demikian setidaknya 4 (empat) poin tips yang bisa saya simpulkan dalam menulis advertorial. Jika Anda ada tambahan, sanggahan, atau pertanyaan, saya persilahkan tambahkan dalam kolom komentar. Oke, selamat menulis advertorial.


Bookmark and Share

Apakah Anda Selalu Jujur Dalam Tulisan-tulisan Anda?

Mahatma_GandhiAda tulisan menarik yang ditulis Mas Hoeda Manis di blognya yang berjudul Mahatma Gandhi Suka Gulali. Dalam tulisannya itu mengisahkan kisah Mahatma Gandhi yang pernah dimintai oleh sorang ibu untuk menasihati anaknya agar tak makan permen gulali. Hanya untuk menasihati dan mengajarkan kepada seorang anak kecil agar tak makan gulali saja, dia (Mahatma Gandhi) perlu tiga bulan lamanya sebelum memberi nasihat kepada anak tersebut. Mengapa? Masalahnya Mahatma Gandhi juga sangat suka makan gulali. Bagi Mahatma Gandhi dia tak mau melakukan kebohongan kecil yang menurut dia sangat besar seperti itu. Hanya memberi nasihat sementara dia masih melakukan apa yang dinasihatkannya kepada orang lain.

Saya jadi berpikir, bukankah ini kondisinya sama juga kalau kita memposisikan sebagai seorang blogger (penulis). Seringkali kita hanya pintar menasihati orang lain dengan tulisan-tulisan kita yang menginspirasi dan memotivasi orang lain, tapi di sisi lain kita, sang penuturnya, justru masih melakukan apa yang kita nasihatkan kepada orang lain (pembaca) tersebut. Betul?

Saya tercenung lama selesai membaca kisah itu. Saya tak berniat mensejajarkan dengan tindakan Mahatma Gandhi dalam kisah itu. Saya tak seagung, dan sebaik Mahatma Gandhi yang bisa menyejukkan semua orang seperti kata Rhenald Kasali, sehingga saya tidak cukup pantas untuk bersanding dengan Mahatma Gandhi. Faktanya, karena memang sulit untuk menjaga konsistensi dan keselarasan antara tulisan dan tindakan kedalam kehidupan kita.

Apakah Anda juga pernah merasakan kondisi seperti itu? Atau hanya cuek saja, menulis ya menulis, tindakan di kehidupan nyata ya sesuatu yang tak ada hubungannya. Tak perlu disangkutpautkan. Benarkah bisa demikian?

Kalau Anda adalah seorang penulis, yang mana dalam tulisan Anda sering menginspirasi orang lain, sering memotivasi pembaca Anda. Pendeknya, selalu mengajak berbuat baik kepada sesama, apa jadinya jika Anda ternyata bukan orang baik, suka melakukan kebohongan bahkan kejahatan?

Saya memang tak mahir untuk menulis. Lebih tak mahir lagi kalau harus disuruh menuliskan sebuah ketidakjujuran, terlebih sampai berkali-kali, termasuk suatu ketika diminta menulis advertorial yang harus bertentangan dengan prinsip kejujuran, saya pasti akan menolak. Berapapun saya dibayar. Silahkan baca contoh pertentangan batin saya dalam artikel ini “Antara Idealisme, Tuntutan Independen, dan Inkonsistensi Seorang Blogger”.

Kalau Anda seorang blogger atau penulis, pertanyaan saya, apakah Anda selalu jujur dalam tulisan-tulisan Anda?

Sumber Foto: Dreamstime.com


Bookmark and Share

Senin, 09 Mei 2011

TV Tabung Mulai Ditinggalkan

LED TVEra televisi tabung atau teknologi CRT (Cathode Ray Tube) sepertinya akan benar-benar berakhir, karena mulai ditinggalkan oleh konsumen pemakainya. Kalau pada komputer, saat ini monitor CRT malah sudah lebih dulu ditinggalkan. Baca artikel saya sebelumnya “Teknologi Tidak Bersahabat Dengan Orang Kreatif”. Karena, semua sudah beralih pada monitor LCD (Liquid Colour Display). Tak percaya? Silahkan Anda berkunjung ke toko-toko komputer dan tanya ke penjualnya. Saat ini sangatlah susah untuk mencari monitor komputer yang berjenis tabung (CRT). Semua toko rata-rata pasti merekomendasikan dan memberikan pilihan monitornya pakai LCD.

TV digital menggantikan TV analog

Sama seperti teknologi pada komputer, hadirnya teknologi baru TV digital tak bisa dihindari juga. Kini kehadiran TV digital mulai menggantikan TV analog. Televisi digital yang umumnya sudah berlayar flat, seperti Plasma TV, LCD TV, dan yang paling baru LED TV membuat televisi tabung semakin kurang diminati para konsumen. Lihatlah hypermarket dan toko-toko elektronik sekarang! Hampir semuanya saya lihat sekarang ini pajangan raknya lebih banyak didominasi display TV LCD dengan berbagai ukuran dan merk, sementara TV tabung semakin sedikit pilihan model dan merk pabrikan yang masih mengeluarkannya.

Diantara ketiga pilihan layar teknologi TV digital (Plasma TV, LCD TV, dan LED TV), yang paling terakhir, yaitu LED TV katanya diklaim mempunyai teknologi paling unggul.

Apa, sih kelebihan TV digital seperti LED TV ini kalau dibandingkan dengan TV tabung konvensional? Berikut adalah keunggulan-keunggulan dari LED TV:

  • Menghasilkan warna yang lebih realistis
  • Teknologi anti glare (tanpa bayangan)
  • Tersedia mulai ukuran kecil hingga besar
  • Tidak ada radiasi yang dipancarkan
  • Dapat digunakan sebagai monitor komputer
  • Kebutuhan sumber daya listrik yang lebih rendah dibanding Plasma.

Itulah kelebihan-kelebihan LED TV. Namun begitu, bukan berarti LED TV tanpa kelemahan. Kelemahannya tetap ada, yaitu harga LED TV lebih mahal satu setengah kali lipatnya dibanding TV LCD biasa, dan tentu lebih mahal lagi kalau pembandingnya adalah TV tabung biasa. Selengkapnya tentang perbandingan ketiga TV: Plasma TV, LCD TV, dan LED TV silahkan Anda baca artikelnya disini.

TV fitur internet

Kemarin saya sempat iseng-iseng melihat-lihat TV LCD dan nanya-nanya kepada pramuniaga di salah satu hypermarket. Satu hal yang belum pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya adalah ternyata TV terbaru saat ini sudah sedemikian canggihnya. Selain kontras ketajaman gambarnya sudah sangat tinggi dan sudah berteknologi 3D, kini sudah dibenamkan pula fitur internet di dalamnya. Saya ambil contoh merk Panasonic VT 30, dilengkapi dengan fitur internet dan bisa koneksi pakai internet wifi dan local area network (LAN) untuk akses internet langsung tanpa bantuan komputer.

Pada TV Panasonic ada fitur Viera Cast yang berfungsi untuk menghubungkan dengan berbagai layanan streaming movie/TV di internet. Contoh yang paling populer seperti menonton video dari Youtube. Terus ada fitur Viera Connect yang bisa menghubungkan pengguna ke situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Dan satu lagi, ini yang hebat bisa digunakan untuk berkomunikasi video calling melalui Skype.

Televisi kedua yang tak kalah hebat adalah merk Sony, akses internetnya malah sudah dilengkapi dengan remote yang bentuknya seperti keyboard QWERTY, sehingga kita bisa mengoperasikan TV layaknya keyboard pada komputer saja. Bukan hanya sampai disitu, TV Sony memiliki fitur Bravia Internet Widgets yang menyediakan update real time berita-berita dari Yahoo. Dan fitur Bravia Internet Video yang diklaim memiliki lebih dari 30 saluran hiburan streaming. Dan sesuai klaim resminya katanya memiliki kemampuan internet cukup lengkap karena sudah dibundling bersama paket Google TV.

Dalam perangkat lunak Internet TV itu banyak sekali fitur streaming movie/video internet yang dibenamkan ke TV Sony. Yaitu seperti Hulu yang merupakan TV iklan gratis, Amazon video on demand, Qriocity layanan hiburan streaming dari Sony, Netflix, Youtube, NPR, dan Pandora internet radio ke layar TV Anda. Dan tentu saja kemampuan mesin pencari Google tak ketinggalan ada juga dibesut di dalamnya yang memungkinkan pencarian dan menemukan pilihan acara televisi, film dari layanan internet atau dari TV kabel dari penyedia satelit yang mereka tawarkan.

Dan merk yang lainnya yang sempat saya survei adalah TV Sharp, LG dan Samsung. Fiturnya juga tak kalah dengan TV Panasonic dan Sony karena rata-rata sudah mendukung fitur internet juga.

Hem, saya tidak bisa membayangkan misalnya nonton video HD high resolution dari Youtube dan ditonton lewat TV LCD layar lebar (wide screen) yang besar serta didukung lengkap dengan sound sistem home teaternya, pasti akan mengasyikkan sekali.

Selain fitur-fitur diatas, TV digital terbaru sekarang ini semua sudah dilengkapi colokan atau port USB, yang mana dulu ini hanya ada di komputer saja. Jadi, misalnya Anda berniat melihat foto-foto yang ada di flashdisk bisa dilihat melalui TV. Hebat, bukan?

Itulah perkembangan teknologi terbaru pada pesawat televisi saat ini. Pertanyaan saya apakah Anda sudah siap meninggalkan televisi tabung Anda dan beralih ke TV digital berlayar datar?

Sumber Foto: Samsung LED TV


Bookmark and Share

Selasa, 03 Mei 2011

PLN Tersorot, Dahlan Iskan, dan Amplop

PLN Tersorot!
Pernah membaca puisi seperti ini dipajang di kantor PLN? PLN Tersorot! Puisi yang awalnya ditulis oleh Dahlan Iskan sebagai memo di internal PLN ini akhirnya kini menjadi jargon komitmen PLN. Di awal tahun 2010 sempat pernah dimuat di Harian Kontan dan Kompas. Dan kini menyebar dan dipajang di seluruh kantor PLN di seluruh Indonesia. Saya sendiri sempat melihat dan memotretnya di kantor PLN Kalasan Yogyakarta.

PLN Tersorot!

Tidak semua sorotan yang dialamatkan kepada kita, warga PLN, adalah benar.
Banyak juga yang hanya emosional.
Tapi itulah kenyataannya.
Kenyataan dunia modern saat ini.
Yang disebut juga zaman marketing.
Persepsi segala-galanya.
Persepsi sering mengalahkan fakta.
Tidak ada gunanya bantahan lisan.
Tak ada gunanya marah.
Tidak ada jalan lain.
Kita harus kalahkan persepsi itu.
Dengan tekad baru kita.
Kita nyalakan Indonesia seluruhnya.
Kita senyumkan konsumen secepatnya.
Dengan tekad baru.
Semangat baru.
Cara baru
Bebaskan Indonesia dari kegelapan Bebaskan konsumen dari keluhan.
Bebaskan warga PLN dari cap yang hina ini.
Cap sebagai perusahaan yang selalu rugi Cap sebagai pengemis subsidi.
Penghisap uang negeri.
Tahun 2010 kita mulai sepenuh hati
Tahun 2013 kita akhiri penderitaan ini.


Dan satu hal yang menurut saya juga cukup menarik adalah beberapa langkah berani setelah itu yang telah diambil oleh Dahlan Iskan dalam membuat terobosannya demi membebaskan PLN dari banyaknya tuduhan-tuduhan miring (negatif) sebagaimana umumnya cap melekat yang banyak disandang oleh perusahaan plat merah bernama BUMN. Sarang korupsi!

Berikut saya berikan kutipan kata-kata Dahlan Iskan yang pernah dimuat di Harian Kontan:

Inilah puisi berjudul “PLN Tersorot!” yang saya tulis di bulan pertama saya menjadi CEO PLN Januari 2010 lalu. Puisi tersebut kini sudah berubah menjadi poster yang dipasang di seluruh kantor unit PLN di seluruh Indonesia. Inilah puisi yang kemudian menggerakkan tekad baru karyawan PLN.

Misalnya, tekad membersihkan diri dari citra sarang korupsi. Inilah citra negatif yang paling sulit dihapus dari benak masyarakat. Ketidak percayaan masyarakat sudah demikian dalamnya. Karena itu, pidato dan slogan saja sudah tidak memadai. Harus ada action nyata untuk melawannya.

Itu sebabnya direksi baru PLN datang ke KPK untuk mendeklarasikan diri anti korupsi. Kami minta KPK mengawasi pengadaan barang dan jasa di PLN yang bernilai triliunan rupiah.

PLN juga melibatkan PBKP memproses transaksi yang sensitif. Misalnya, transaksi seluruh listrik swasta (IPP) terkendala. PLN juga menempuh cara baru dalam tender. Selain mengubah sistem tender PLN juga melibatkan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah). Setiap dokumen tender yang berpotensi menimbulkan persoalan dikonsultasikan ke LKPP. Jangan sampai ada dokumen tender yang di dalamnya mengandung kecenderungan memenangkan salah satu pihak.

PLN masih ingin telanjang lebih bulat lagi. Awal Juni 2010, PLN menjalin hubungan khusus dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bentuknya sangat mengejutkan: BPK bisa mengakses komputer keuangan PLN secara live atau real time. BPK bisa masuk ke komputer PLN secara otomatis sampai ke komputer keuangan yang paling rinci. PLN menjadi BUMN pertama di Indonesia yang menempuh cara ini.

Konsekuensinya, proses keuangan di PLN harus benar-benar telanjang.

Memang, kelihatannya upaya-upaya tersebut berlebihan. Tapi saya berkeyakinan, untuk melawan sesuatu yang sudah sangat parah harus dengan cara extra ordinary. Cara biasa-biasa saja tak memadai untuk meyakinkan masyarakat yang tingkat ketidakpercayaanya pada PLN sudah demikian dalamnya.

Puisi itu dan langkah-langkah konkrit di bidang pengadaan dan keuangan juga penting mengubah citra di internal PLN sendiri. Dengan langkah-langkah itu, sebagian karyawan PLN yang selama ini muak dengan praktik korupsi di PLN mendapat angin segar. Lalu membuat gelombang dari dalam yang lebih kuat untuk melakukan perbaikan. Misalnya, dalam menyukseskan program melawan pemadaman bergilir di seluruh Indonesia itu.

Semula kalangan PLN pesimistis mampu mengatasi pemadaman bergilir di seluruh wilayah Indonesia yang sudah demikian parahnya. Tapi dengan semangat baru, ternyata bisa. Kini tinggal Pulau Lombok yang belum beres. Di kota-kota lain, upaya melawan pemadaman bergilir sudah berhasil. Listrik cukup tersedia di semua wilayah, meski baru pas-pasan. Lombok juga akan beres akhir Juni ini.

Kini kepercayaan itu mulai muncul. Setidaknya di kalangan interen PLN.

Akh, saya tidak pesimistis apalagi sampai berapriori dengan langkah Dahlan Iskan ini meski prakteknya saya melihat langkah ini tak mudah diikuti oleh semua jajaran pegawai PLN di tingkat bawahannya sampai yang di daerah-daerah. Mengapa? Coba baca salah satu kejadian yang dulu pernah menimpa saya sewaktu mengurus naik daya di PLN Yogyakarta ini. Baca “Gila, Sejak Kapan di PLN Ada Tawar Menawar?

Dan contoh yang kedua, yang ini masih hangat saya ambil dari kejadian kemarin di hari Sabtu malam tanggal 30 April 2011, ada kerusakan jaringan di salah satu toko tempat saya bekerja tetapi para pegawai PLN dengan santainya karena alasan libur membiarkan kerusakan jaringan 20 kV ngepong yang sebetulnya amat berbahaya, tapi dibiarkan terkatung-katung lama sampai baru hari Senin kemarin siang selesai diperbaiki.

Ya, prakteknya saya melihat ada kemalasan dari petugas di lapangan dalam menangani complain dari pelanggannya karena sebagaimana himbauan PLN kami tak boleh memberi uang tip buat anak buahnya di lapangan. Dulu sewaktu mereka masih dibolehkan menerima amplop mereka dengan sigapnya datang dan mengatasi gangguan yang kami laporkan.

Terakhir harapan saya, sebagai pelanggan saya hanya bisa berharap semoga PLN terus berbenah menjadi lebih baik sesuai dengan komitmennya.


Bookmark and Share