Rabu, 04 November 2009

Negeri 5 Menara, sebuah trilogi idealis atau komersial

Negeri 5 MenaraBuku Negeri 5 Menara ini sepertinya menarik. Sejak pertama kali launching Juli 2009 di toko buku Gramedia dan beberapa blog kawan saya banyak yang mereviewnya, serta media besar seperti Republika, Koran Tempo, Jawa Pos dan Kompas juga pernah memberikan resensi buku tersebut, membuat saya makin tertarik dan penasaran ingin segera membelinya. Sayangnya, saya hingga hari ini masih belum kesampaian beli buku tersebut. Karena saya masih punya PR tiga buku tebal yang belum selesai saya baca. Dua buku sudah saya baca baru setengah-setengah, yang buku ketiga malah sampulnya saja masih utuh belum kebuka. Jadi saya mesti mending dulu keinginan tersebut.

Kemarin saya habis blog walking dan menemukan komentar negatif terhadap buku tersebut pada blog seorang kawan dan kutipan email dari milis yang di share seorang pengomentar pada resensi buku tersebut. Baca disini kalau ingin lihat. Bahkan disitu ada Mas Fuadi, penulisnya sendiri juga ikut berkomentar memberikan tanggapannya. Berikut tanggapan Mas Fuadi, saya kutip dari Goodreads:


Salam buat teman-teman GR semua. Sebelumnya mohon maaf, saya sedang traveling ke Afrika dan Eropa selama sebulan ke depan, jadi gak selalu bisa cek internet. Maaf sekali lagi kalau nanti saya lama menanggapi pertanyaan lain.
Saya sangat berterima kasih untuk semua komentar tentang N5M. Pujian apalagi kritik, semuanya berguna buat orang yang baru belajar bikin novel seperti saya. Semoga dengan masukan ini novel selanjutnya bisa lebih baik. Sekarang sekuel sedang saya tulis. Per minggu lalu, sudah sekitar 20-an halaman.
Sebetulnya, niat menuangkan pengalaman belajar yang sangat inspiratif di Gontor sdh ada sejak saya lulus Gontor tahun 1992. Tapi selalu ada excuse sampai kemudian merasa punya waktu tahun silam.
Awalnya saya bingung bagaimana menuliskan cerita tentang murid yg tinggal 24 jam di pesantren (dormitory system) Apa genre yang sudah ada? Setelah saya riset, ternyata di barat ada yg menyebut genre “school story”. Isinya cerita tentang dinamika murid dan guru di sebuah dorm atau asrama, persahabatan yang kuat, kehormatan, loyalitas, sport, disiplin dan kenakalan murid. Uniknya kebanyakan buku genre ini ditulis pada abad ke 19 dengan latar belakang boarding school di UK. Misalnya Tom Brown’s Schooldays (Thomas Hughes) dan buku-buku Louisa may Alcott spt little men dll. Yang lebih baru ada buku Enid Blyton spt Malory Towers. Untuk mengerti genre ini saya memesan buku-buku ini di amazon. Ternyata tidak gampang mencari buku ini krn ada yg sdh tidak dicetak dan harus dicari sebagai used books. Selain buku-buku itu, saya juga membeli buku yang masih ada kaitannya dengan cerita masa kanak-kanak spt tom sawyer, lima sekawan, harry potter, kite runner dan laskar pelangi. Singkatnya, sebelum dan selama menulis N5M, di meja saya ada berbagai novel di atas sebagai referensi genre. Kalau tertarik, bisa cek juga di http://en.wikipedia.org/wiki/School_stor...
Sedangkan sebagai referensi isi cerita, di meja tulis saya bertumpuk diari yang saya tulis sejak SD, foto-foto waktu masa kecil di maninjau dan masa sekolah di gontor, buku-buku catatan dari sejak kelas 1 di gontor. Semua document penting ini dengan luar biasa mengembalikan semua kenangan dan ingatan masa lalu, sehingga proses menulis menjadi sangat mudah dan deras. Hampir tidak ada writer’s block, semuanya mengalir. Kalau bingung menulis apa, tinggal buka diari, buku pelajaran lama, atau lirik foto zaman dulu. Alhamdulillah, kapan saya mau menulis, hampir selalu bisa. Tidak perlu menunggu mood datang.
Nah waktu naskah separo jalan, saya pulang ke padang menjenguk amak saya. Surprise! Amak menunjukkan setumpuk tebal surat. Diurut berdasarkan tanggal dengan sangat rapi, bahkan dinomerin! Itulah semua surat2 saya sejak tahun pertama sampai tamat di gontor. Ini menambah sumber penting buat kandungan N5M. surat masa lalu.
Kebetulan pula, tokoh inspirator sahibul menara bertemu dengan sengaja dan tidak sengaja di jakarta. Semua terasa telah diatur Tuhan, stars aligned, saya punya semua bahan, punya tokoh inspirator karakter, punya memori yg indah tentang gontor, dan penulisan berjalan lancar. Kalau butuh waktu 14 bulan, itu karena saya ngantor dari pagi sampai sore, baru lah malam atau subuh menyiapkan waktu 1-2 jam mengangsur menulis.
Saya kira wajar aja kalau ada yang membandingkan. Saya sendiri suka membaca LP. Menurut saya spirit N5M mungkin mirip dengan LP. Ini cerita anak daerah yang hanya bermodalkan inspirasi, mimpi, kerja keras dan doa untuk maju. Dan Tuhan sungguh Maha Mendengar. Kami bahkan bisa kuliah ke negeri barat. Saya berumur 37 tahun, mungkin dekat-dekat dengan umur Bang Andrea. Mungkin setting historis dan suasana masa kami beranjak besar juga ada yang mirip sehingga terlihat di buku.
Tapi yang jelas, ide cerita ini terinspirasi pengalaman nyata pribadi saya dengan teman-teman. Setting juga sangat unik, yaitu area pesantren seluas 15 hektar di jawa timur. Dan latar budaya adalah minangkabau.
Yang lebih penting lagi, misi saya menulis untuk berbagi pengalaman sekolah di pesantren yg sangat inspiratif. Kalau saya terinspirasi, mungkin orang lain juga bisa mendapat manfaatnya. Jadi saya menulis bukan untuk sama/menyamai orang lain, juga bukan untuk berbeda dengan orang lain. Yang saya lakukan adalah menulis cerita saya sendiri, writing my own story.
Jika orang lain terinspirasi, saya akan sangat bersyukur dan semoga menjadi ibadah jariyah saya. Bila berhasil secara komersil, saya juga bersyukur karena saya ingin menyalurkan sebagian hasilnya untuk membuat “Yayasan Komunitas Menara”, organisasi social berbasis volunteerism untuk membantu orang tidak mampu khususnya di bidang pendidikan. Semoga niat saya ini dimudahkan Allah.
Nah, apa tulisan ini menjawab beberapa pertanyaan yang ada di pikiran teman-teman? Saya tidak tahu, tapi semoga bisa membawa kebaikan buat kita semua. Man jadda wajada!
Nb: oya, terima kasih untuk semua teman yang membeli juga, karena dalam 3 bulan terbit, telah cetak 3 kali dengan total copy sebanyak 50 ribu. Alhamdulillah.



Terlepas sudah ada tanggapan dari Mas Fuadi sendiri yang sudah mencounter komentar negatif tersebut, Saya tetap terkejut, dari sekian pemberitaan yang memberikan apresiasi positif di media, di facebook, di blog yang mereview, serta nama besar yang memberikan endorsement yang notabene adalah nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren, apa ya bener buku tersebut cuma njiplak, meniru kesuksesan tetralogi (kalau saya lebih suka menyebut trilogi untuk sesuatu yang berseri, meskipun jumlah serinya tidak harus tiga) buku Laskar Pelangi milik Andrea Hirata?

Dan masih terkait komentar negatif tersebut, katanya buku Negeri 5 Menara nantinya juga akan menerbitkan sequel dua bukunya lagi yang akan diterbitkan menyusul setelah kesuksesan buku Negeri 5 Menara tersebut, persis seperti buku Andrea Hirata pada trilogi Laskar Pelangi. Kalau pada Laskar Pelangi trilogi bukunya ada empat makanya disebut tetralogi. Yaitu buku pertama Laskar Pelangi, kedua Sang Pemimpi, ketiga Edensor dan keempat Maryamah Karpov.

Kalau berbicara trilogi saya jadi teringat sebuah resensi film yang mengomentari film berseri tapi awalnya adalah film biasa, bukan seperti film James Bond atau Matrix yang dari awal memang disetting sebagai film trilogi karena berseri. Komentar resensinya begini: Sebuah film trilogi yang hanya dibuat karena ingin mengulang kesuksesan filmnya yang pertama, biasanya cenderung jeblok di pasaran karena tidak semenarik debut kesuksesan filmnya yang pertama. Entah pendapat ini benar atau tidak, tapi sepertinya juga cukup masuk akal pendapat demikian. Lihat wajah sinetron televisi kita. Bukankah secara umum begitu? Kalau sinetronnya punya rating bagus maka episodenya akan dipanjang-panjangin sehingga ceritanya jadi mbulet dan tidak menarik lagi. Ingat dulu Sinetron Tersanjung. Awal-awalnya masih menarik ceritanya, tapi lama kelamaan membosankan sekali ceritanya karena kepanjangan dan tidak selesai-selesai ceritanya.

Akhirnya saya hanya bisa berkata, bukan menyimpulkan karena saya memang belum baca bukunya, mudah-mudahan buku Negeri 5 Menara bukan seperti buku yang dituduhkan itu. Yaitu hanya dibuat sebagai trilogi buku karena kepentingan komersial belaka tapi karena trilogi idealis dari A Fuadi, Sang penulisnya. Baca juga posting saya selanjutnya: Kreatif, Benarkah Selalu Identik Dengan Sesuatu Yang Baru?

Okey, bagi pembaca posting ini yang kebetulan sudah beli dan membaca bukunya, saya tunggu sharingnya sebelum saya benar-benar memutuskan beli buku Negeri 5 Menara tersebut, terima kasih.



Bookmark and Share

5 komentar:

  1. Salam kenal kembali Mas,... makasih banyak udah mampir dan koment.

    Tentang buku negeri 5 Menara, aku juga belon sempat baca....

    BalasHapus
  2. belom baca bukunya juga.

    setuju banget ttg "film biasa yang menjadi film berseri setelah kesuksesan pertamanya." sequelnya jadi maksa dan garing. -__-'

    BalasHapus
  3. salam kenal.... wah... aku belum baca nih... tapi sepertinya menarik dilihat dari ulasannya...

    BalasHapus
  4. Saya rasa N5M beda dengan buku laskar pelangi.N5M lebih natural daripada laskar pelangi yang hiperbolis. Gaya penulisan N5M seperti buku harian yang seperti(atau dibuat) tidak tersusun rapi.
    Masalah sequel, saya yakin N5M lebih kuat disetiap serinya.knp? krn dari sisi cerita penulis memberikan kesan kuat kejujuran. daripada andrea hirata(maaf bagi penggemar andrea h).Jika anda membaca seri maryama karpove, tentu anda bisa menilai jika seri terahir tersebut terkesan sangat dipaksakan krn adrea banyak cerita yang tidak penting(menurut saya).hingga saya jadi berfikir, apakah benar andrea h lulusan universitas ternama perancis?? apa itu bukan mimpi dari andrea saja?

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah baru saja khatam baca N5M. Sangat menarik, menginspirasi, banyak ibrah (pelajaran), dan juga tips "praktis". sangat layak dibaca, khususnya bagi pelajar/mahasiswa yang malas belajar, atau sedang tdk bersemangat untuk belajar,

    BalasHapus