twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Selasa, 16 Maret 2010

Modem Fenomenal

Modem InternetSebenarnya ini Modem hanya Modem biasa. Modem jenis USB merk SpeedUp tipe SU-9000U, dengan kecepatan dowloadnya sudah HSDPA (High-Speed Downlink Packet Access) sebesar 7.2 Mbps dan kecepatan uploadnya sudah HSUPA (High-Speed Uplink Packet Access) sebesar 2.1 Mbps. Tapi kejadian demi kejadian yang saya alami dengan Modem ini sejak awal beli sampai sekarang yang penuh dengan kejutan bolehlah saya sebut fenomenal, karena seringkali mengejutkan saya akibat munculnya kejadian yang tanpa bisa saya duga sebelumnya.

Kejadian pertama, pada bulan Desember 2009 lalu saya sempat mengatakan dan menulis artikel tentang modem tersebut sebagai Modem Mubazir. Betapa tidak? Karena percuma saya beli modem dengan teknologi peripheralnya yang sudah tinggi, tetapi speed Telkomsel Flash yang menjadi pasangannya ternyata masih jauh tertinggal dibelakangnya.

Terus Mubazir yang kedua, saat masa pemakaian awal selama enam bulan dari promo pembeliannya yang mendapatkan bonus sebesar 500 MB/ bulan sudah habis, rencananya saya ingin lanjut dengan apply paket Telkomsel Flash Unlimited. Tapi apa? Ternyata programnya sudah ditutup. Saya kecele. Saya akhirnya kecewa.

"Terus modemnya mau dipakai apa?" Sungut saya kala itu.

Kemudian demi agar tidak Mubazir akhirnya saya terpaksa apply paket Telkomsel Flash Reguler volume base 500 MB/ bulan dengan biaya abonemen sebesar Rp 125 ribu/ bulan. Maklum, modemnya memang modem lock sehingga tidak bisa saya pakai dengan menggunakan simcard operator lain.

Dan alamak, pada pemakaian bulan pertama pada Januari 2010 atau tagihan Februari, saya dibuat terkejut setengah mati. Angka tagihan Flash-nya meledak ke angka Rp 405.065,-

Mungkin bagi Anda yang banyak duit angka segitu tidak terlalu besar, tapi bagi saya itu sudah lumayan cukup membuat saya terkaget-kaget, terlebih itu bukan tagihan internet saya satu-satunya. Karena saya juga masih harus keluar duit lagi untuk bayar tagihan Flash pada Kartu Halo di ponsel saya. Terus juga harus ngopeni pulsa untuk Modem SMART saya, yang saya pakai sebagai secondary modem saya.

Akhirnya bulan Februari 2010 akhir, Flash-nya terpaksa saya tutup karena saya takut makainya kebablas lagi sehingga dipertengahan Februari saya mulai stop tidak menggunakan modem tersebut. Dan pada tanggal 1 Maret 2010 saya datang ke Grapari Jogja untuk melalukan penutupan kartu Halo-nya.

Pada hari Senin, 15 Maret 2010 kemarin tagihan Halo buat Flash yang sudah saya tutup tadi baru nyampek kantor saya dan saya terima. Lagi-lagi saya terkejut begitu saya buka tagihannya. Ternyata masih tinggi angkanya, yaitu sebesar Rp 280.750.

"Ini aneh?" Pikir saya. Lha, wong saya sudah nggak pakai kok masih setinggi itu. Saya mulai curiga dan su'udon dengan Telkomsel.

"Jangan-jangan ada yang tidak beres ini?" Saya bertambah curiga. Kok, perincian pemakaiannya tidak dilampirkan? Terus muncul biaya voice di billing statementnya, padahal saya tidak pernah pakai buat nelpon. Wong itu hanya khusus buat modem jadi mana pernah saya pakai buat nelpon.

Akhirnya, terpaksa saya putuskan kembali mendatangi Grapari untuk menanyakannya. Dan setelah di Grapari saya dijelaskan ternyata memang ada kesalahan pada sistem billing di Telkomselnya sehingga data pada angka tagihannya memang tidak valid. CS Grapari-nya menjelaskan kepada saya seharusnya yang benar tagihan saya hanya bayar abonemen saja, tidak sebesar itu.

Saya lantas punya pikiran jelek: "Kok, bisa perusahaan gede sekelas Telkomsel punya sistem billing kacau begini? Jangan-jangan ini disengaja? Buktinya perinciannya sengaja tidak dilampirkan di tagihannya," pikir saya kembali ber-su'udon.

Saya tiba-tiba jadi ingin membandingkan antara perusahaan Telekomunikasi dengan PLN. Keduanya sama-sama perusahaan pelayanan publik tapi setidaknya PLN, meski banyak orang yang tidak puas dengan pelayanan PLN, tapi sistem pencatatan billing pada PLN lebih baik dan transparan dibanding Telkom atau Telkomsel. Mengapa? Karena PLN pasang KWH di rumah pelanggan, sementara Telkom tidak sehingga transparansi perhitungannya lebih terbuka punya PLN.

Begitulah cerita tentang Modem Fenomenal saya. Kini akhirnya terpaksa harus saya pensiunkan kembali modem saya tersebut. Karena saya nggak kuat ngopeni biaya internetnya. Jadi saya mending pakai Flash Unlimited saya, sama modem SMART saja.




Bookmark and Share

Senin, 15 Maret 2010

The Power of Giving

The Power of GivingMENULIS identik dengan berbagi, dengan memberi. Ada yang bilang BERBAGI itu indah, bikin Hidup jadi lebih Hidup. Benarkah? Kalau misalnya benar, mengapa ada banyak orang pintar sekarang ini tapi tidak sedikit yang masih beranggapan jika saya membagi ilmu saya, bukankah itu berbahaya buat diri saya sendiri, karena bisa membuat saya bisa tidak dibutuhkan lagi, berbahaya karena mereka yang akan saya bagi ilmu suatu saat akan menjadi pesaing saya.

Atau, saya juga sering menjumpai ada orang yang gemar membaca tapi enggan untuk menulis. Anda masih ingat dengan point ke-8 pada salah satu tulisan saya 10 Alasan Mengapa Orang Enggan Ngeblog? Silahkan Anda baca dulu tulisan saya tersebut jika kebetulan Anda belum sempat membacanya.

Terkait dengan MEMBERI atau bahasa kerennya The Power of Giving. Saya ada cerita menarik yang menggambarkan tentang kekuatan memberi. Saya kutip dari tulisan seorang Life Inspirator, Johanes Arifin Wijaya dari Majalah Intisari, ada cerita menarik yang menggambarkan tentang hal memberi, dari buku The Man Nobody Knows karya Bruce Barton. Dalam buku tersebut diceritakan, di Palestina ada dua laut, laut yang pertama bernama Laut Mati dan yang kedua bernama Laut Galilea. Keduanya sangat berbeda jauh meskipun sebenarnya berasal dari aliran sungai yang sama, yaitu berasal dari sungai Yordan.

Apa perbedaan dari kedua laut tersebut? Kalau Laut Mati, rasanya sangat asin karena kandungan garamnya sangat tinggi, lebih tinggi dari asinnya air laut pada umumnya. Sehingga karena saking asinnya menebarkan bau yang sangat tidak sedap ke sekeliling pantainya sehingga tak ada orang yang ingin atau mau tinggal di sekitar lautnya apalagi hidup didalamnya, karena mahluk hidup akan mati kalau hidup di dalamnya.

Sementara laut yang satunya bernama danau Galilea atau sering disebut Laut Galilea. Mengapa disebut laut dan bukan danau? Karena saking luasnya maka banyak orang menyebutnya laut. Berbeda dengan Laut Mati yang memang mati beneran karena tidak menebarkan kehidupan di sekitarnya, kalau Laut Galilea ini airnya sangat jernih, bisa diminum, banyak ikan, dan manusia suka berenang di dalamnya. Danau itu juga dikelilingi ladang dan kebun hijau dan banyak orang yang mendirikan rumah di sekitarnya.

Kalau keduanya berasal dari sungai yang sama, mengapa keduanya bisa jauh berbeda 180 derajat? Apa penyebabnya? Penyebabnya ternyata disebabkan karena karena laut yang satu, yaitu Laut Mati hanya mau menerima tapi tidak mau Memberi, sementara laut yang satunya, Laut Galilea mau menerima tapi juga mau memberi. Aliran air dari sungai Yordan yang mengalir ke Laut Galilea dari dasarnya dialirkan juga ke danau lain yang kemudian memanfaatkan airnya, sementara Laut Mati serakah, air yang masuk hanya ditampung di lautnya sendiri tidak pernah keluar lagi.

Luar biasa! Bukankah ini sebuah gejala alam yang diberikan tuhan untuk mengingatkan kita semua agar kita mau BERBAGI, TIDAK SERAKAH dan mau MEMBERI kepada sesama?

Hem, kalau ada kata MEMBERI, saya jadi ingat dengan tulisan dalam posting saya terdahulu. Baca BerQurban, Benarkah Hanya Untuk Orang Kaya? Didalam tulisan saya tersebut saya mengutip tulisan pada buku difference for excellence karangan Ashoff Murtadha. Di buku tersebut ada kata-kata seperti ini:

“Untuk menolong si miskin, seseorang tidak perlu menunggu jadi kaya. Untuk menolong orang susah, ia tidak perlu menunggu hidupnya mudah. Untuk menolong orang bodoh, ia tidak perlu menunggu menjadi pintar dulu. Untuk melakukan kebaikan, ia tidak harus menunggu segala sesuatu pada dirinya sempurna dulu. Justru penyempurnaan akan dicapai saat kebaikan itu dijalankan. Penyempurnaan itulah yang akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya amal kebaikan.”

Saya bukan seorang inspirator, juga bukan seorang motivator, tapi lewat tulisan ini tidak ada salahnya, kan saya ingin mengajak Anda untuk BERBAGI, bisa berbagi dengan cara memberi sesuatu yang tidak selalu bersifat materi. Contoh salah satunya dengan MENULIS atau ngeblog seperti saya misalnya, yang siapa tahu bisa memberi manfaat buat orang lain.




Bookmark and Share

Sabtu, 13 Maret 2010

6 Syarat yang perlu diperhatikan sebelum Tukar Link

Tukar LinkAkhir-akhir ini saya banyak mendapat tawaran dari kawan blogger yang ingin bersahabat dengan blog saya, alias ingin mengajak ber-Tukar Link. Kalau menurut Anda apakah hanya Tukar Link satu-satunya cara untuk bersahabat di dunia maya? Apakah tidak ada cara lain selain hanya sekedar Tukar Link? Contohnya, dengan cara saling mengunjungi atau saling meninggalkan komentar secara reguler misalnya.
 
Maaf, kalau saya sendiri mengartikan ajakan Tukar Link sebenarnya bisa bermakna ganda. Makna yang pertama, ini yang secara eksplisit terang-terangan disampaikan oleh kebanyakan kawan blogger, ingin menjalin persahabatan di dunia maya. Makna yang kedua, ini yang tidak pernah disampaikan secara terus-terang, yaitu ingin mendapatkan backlink untuk meningkatkan link popularity blognya dia.

Mengapa saya berani menyimpulkan demikian? Selama hampir 3 tahun saya ngeblog, rata-rata blog yang getol untuk ngajak Tukar Link adalah kebanyakan blog yang punya Page Rank rendah, yaitu tidak lebih dari PR 2. Yang banyak malah blog yang belum apa-apa alias belum ber-PR atau ber-PR 0. Saya belum pernah mendapati ada kawan blogger yang blognya ber-PR 3, 4, 5 keatas berniat mengajak Tukar Link dengan blog ini. Karena blog yang sudah punya PR 3 keatas biasanya memang sudah cukup terkenal di internet sehingga bloggernya sudah tidak perlu cari-cari backlink untuk menaikkan popularitas blognya dia karena blognya biasanya sudah cukup populer dan eksis di dunia maya.

Pertanyaan saya, benarkah Tukar Link atau mengumpulkan backlink bisa menaikkan popularitas blog kita di internet? Jawabnya tergantung, kalau berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya, tergantung dengan beberapa syarat. Apa saja syaratnya? Berikut adalah 6 syarat yang perlu diperhatikan sebelum Anda memutuskan untuk mengajak ber-Tukar Link:

  1. Apakah ada relevansi tema dan topik antara blog Anda dengan blog yang ingin Anda ajak ber-Tukar Link? Jika tidak ada, percuma karena tidak terlalu berpengaruh significant untuk menaikkan link popularity blog Anda.
  2. Page Rank dan Alexa-nya minimal sama atau lebih tinggi peringkatnya dari blog Anda. Ini sudah jelas kalau sebuah blog PR-nya tinggi pasti populer di internet sehingga backlink dari blog seperti ini berpotensi untuk menaikkan traffic blog Anda, juga bisa buat mendongkrak PR blog Anda.
  3. Maksimal outbond link blogroll dari blog yang akan diajak Tukar Link tidak lebih dari 50 link. Bahkan ada yang berpendapat katanya malah cuma 10 link. Terlepas ini mana yang benar, intinya, semakin banyak outbond linknya maka semakin rendah kualitas backlink yang kita dapat dari sebuah blog.
  4. Blogroll Anda harus ditaruh di sidebar atau homepage halaman utama blognya. Jangan mau kalau Anda diajak Tukar Link tapi link ke blog Anda ternyata ditaruh di halaman blog atau di sub domainnya. Karena kebanyakan yang tinggi Page Rank-nya adalah halaman utamanya, bukan sub domainnya.
  5. Jangan ber-Tukar Link dengan blog yang tidak serius atau blog yang jarang diupdate, karena blog begini bisa membebani atau merugikan blog Anda. Blog Anda bisa terkena imbas ikut turun Page Rank-nya. Kecuali kalau blog yang dimaksud memang PR-nya tinggi, boleh dikecualikan.
  6. Jangan ber-Tukar Link dengan blog yang mengandung segala sesuatu yang dilarang seperti content yang mengandung unsur pelanggaran hak cipta, content porno, content hacking dan Tindakan-tindakan Ilegal sejenis lainnya yang sangat dibenci oleh Google. Karena ber-Tukar Link dengan blog begini sangat merugikan blog Anda sendiri. Blog Anda bisa kecipratan getah negatifnya.
  7. ………..
Dan masih banyak lagi. Silahkan Anda tambahkan jika dirasa ada yang masih kurang dan terlewat di point 7 dst.

Demikian, mudah-mudahan posting ini bisa sedikit menjawab pertanyaan dari kawan blogger yang permohonan Tukar Link-nya, maaf, belum bisa saya kabulkan karena salah satunya adalah karena alasan seperti yang saya sebutkan diatas. Namun jika keenam syarat-syarat ini ternyata cocok dan bisa Anda penuhi, silahkan Anda tinggalkan komentar dan link blog Anda di posting ini, insya Alloh secepatnya akan saya link balik, terima kasih.




Bookmark and Share

Jumat, 12 Maret 2010

Blog Peduli Energi

Energy saving modeManusia peduli energi mungkin sudah terlalu biasa dan tentu sudah seharusnya, tetapi bagaimana kalau yang peduli energi itu adalah sebuah Komputer, atau tepatnya sebuah webblog di internet?

Saya coba menebak ide awal Blog Peduli Energi ini bisa jadi karena melihat kebiasaan orang dalam berinternet. Karena hampir semua browser saat ini sudah support untuk dipakai browsing secara multitab sekaligus, saya yakin rata-rata Anda yang sering berinternet pasti langsung membuka atau browsing beberapa halaman sekaligus. Kebiasaan ini memang lebih efisien untuk menghemat waktu dan lebih efektif daripada membuka halaman web satu persatu. Mengapa? Karena tidak semua halaman web bisa cepat dibuka, entah karena load dari server webnya yang memang lama atau bisa juga karena Speed Koneksi Internet Anda yang memang lemot, sehingga agar proses berinternet tidak menjemukan maka saat waktu menunggu loading bisa disambi sambil melihat halaman web yang lain. Makanya, ada pendapat yang mengatakan agar blog Anda tidak ditinggal atau di-close pengunjung, usahakan waktu loading blog Anda tidak lebih dari sepuluh detik.

Kebiasaan tersebut mungkin sedikit mirip dengan kebiasaan Anda menonton TV. Yaitu saat TV menampilkan jeda iklan, kebiasaan orang secara umum juga akan pindah-pindah channel untuk menengok acara stasiun TV yang lainnya.

Terkait dengan kebiasaan berinternet dan menggunakan komputer tadi kalau dilihat dari kaca mata Energy Saving justru malah sebaliknya, bukan efektif dan efisien lagi tapi malah menjadi boros energi. Jika sebuah komputer dipakai untuk multitasking, membuka banyak aplikasi sekaligus atau meload halaman web lebih dari satu maka kerja prosesor akan menjadi lebih berat. Itu artinya prosesor dipaksa kerja ke level yang lebih tinggi dari level performance normalnya sehingga otomatis butuh Energi yang juga lebih tinggi pula.

Dan rupanya, perilaku itu kemudian ditangkap oleh salah seorang master blogger lewat blognya. Kemarin saat saya blogwalking ke blognya Paman Tyo tanpa sengaja saya melihat tampilan blognya memunculkan tampilan blank Energy Saving Mode saat beberapa detik saya tinggal untuk browsing ke halaman web lain. Saya sempat terkejut saat menggerakkan mouse tiba-tiba blank screen di komputer saya bergerak memunculkan halaman web kembali setelah sejenak tampilannya sempat blank.

Kalau Anda penasaran atau sekedar ingin tahu tampilan Blog Peduli Energi itu seperti apa, silahkan langsung aja berkunjung kesana.




Bookmark and Share