Selasa, 01 Juni 2010

Maaf, Saya Sudah Mengecoh Anda

Maaf MengecohApakah Anda pernah menjumpai Iklan di blog berupa anchor text yang sengaja disisipkan dalam sebuah artikel postingan? Bagaimana menurut pendapat Anda? Apakah ini bisa disebut sebagai tindakan mengecoh pengunjung, sama seperti penempatan dua atau lebih anchor text yang berbeda dalam sebuah halaman postingan yang sama namun ternyata linknya mengarah ke satu halaman artikel yang sama. Dan sebaliknya, bagaimana pendapat Anda kalau menjumpai sebuah anchor text yang sama di dalam sebuah postingan tapi linknya ternyata merujuk ke beberapa halaman web yang berbeda-beda? Apakah ini bisa juga disebut mengecoh pengunjung meski masih mempunyai relevansi topik bahasan yang sama?

Bebeberapa waktu yang lalu salah seorang pengomentar di blog ini pernah ada yang protes pada salah satu posting artikel saya gara-garanya ada dua anchor text berbeda di dalam satu posting yang sama tetapi kenapa linknya tertuju ke halaman yang sama. Maaf, saya tak perlu sebut siapa dia karena tujuan saya nulis ini bukan untuk memperuncing perbedaan pendapat dengan dia. Tapi sebaliknya, justru karena pendapat itu lah maka rasanya saya perlu menulis ini.

Banyak blogger kenyataannya, terutama pada blog engine Wordpress sering men-disable fungsi Snap shots pada anchor text-nya daripada membiarkannya dalam kondisi default-nya. Mengapa? Saya tak tahu alasan persisnya apa. Yang jelas mudah-mudahan bukan karena tujuan untuk mengecoh pengunjung —dengan dibenamkannya banyak pilihan link dalam anchor text yang ada di dalam postingannya— karena sengaja mematikan fasilitas Snap shorts-nya. Sebaiknya saya tak berprasangka buruk dengan menuduh begitu. Mudah-mudahan alasannya lebih karena untuk menaikkan impression halaman blognya saja. Titik.

Dalam pelajaran ilmu SEO memang menganjurkan perlunya memberikan sebanyak-banyaknya tautan-tautan link internal mengarah ke postingan Anda yang terdahulu untuk mengoptimisasi blog Anda. Bahkan konsep website Wikipedia juga saya lihat begitu, banyak terdapat anchor text yang mengarah ke artikel-artikel Wikipedia yang lain.

Dan terkait urusan mengecoh tadi jika kebetulan Anda adalah seorang pengunjung blog, dan atau bukan seorang blogger, saya menyarankan perlunya Anda membekali browser Anda dengan software yang bisa Mengintip anchor text di halaman blog/website di internet agar Anda tak bisa terkecoh. Contoh saya menggunakan Add-on Interclue pada Firefox saya untuk mempreview sebuah link sebelum saya putuskan untuk lanjut klik atau tidak. Dan ini sangat membantu saya untuk mem-preview atau bisa langsung baca lewat jendela pop up preview yang ditampilkan oleh software Interclue tersebut tanpa susah-susah ngeklik lebih dulu.

Akhirnya, sebelum ada yang membalik saya dengan pertanyaan kritis mengapa saya juga sama, tak mengaktifkan fasilitas Snap shorts pada blog ini? Tanpa bermaksud untuk ngeles, terus terang, pada blog dengan engine Blogspot saya belum tahu caranya gimana. Jika kebetulan Anda ada yang tahu caranya, saya mohon bisa membagi ilmunya buat saya, insya Alloh nanti akan saya aktifkan fasilitas Snap shots-nya, terima kasih.




Bookmark and Share

14 komentar:

  1. Mohon maaf. Saya sudah tidak tahu lagi ini artikel yang mana dan blog apa. Tab aslinya sudah ketutup. Apa tidak bisa form komentarnya langsung menyatu dengan artikel?

    Saya nulis saja, supaya pemilik blog ini tahu kebingungan pembaca yang muncul karena form komentarnya.

    BalasHapus
  2. HAhah lucu sob postingannya, ane juga pernah tertipu gara-gara banyak achortext yang judulnya berbeda tapi menuju ke satu alamat jadi bikin kesel hati

    BalasHapus
  3. nikon coolpix camera:
    Terima kasih pujiannya.

    Jeprie:
    Terima kasih masukkannya, Mas Jeprie. Maaf, kalau blog ini sudah membuat Anda jadi kesulitan untuk berkomentar. Saya akan perbaiki.

    aguestri:
    Lha, Anda pernah tertipu. Kalau saya malah yang disebut menipu atau mengecoh tersebut. Tapi kedepan saya usahakan untuk tak melakukannya lagi.

    BalasHapus
  4. Pendapat saya singkat saja,
    Kalau pembaca tersebut seorang yang sudah mengetahui SEO, saya pikir tidak termasuk mengecoh, tetapi kalau belum, mungkin bisa dikatakan sedikit mengecoh.

    Sebagai salah satu solusinya bisa dengan mengaktifkan Snapshot kalau di Wordpress atau dengan title pada link yang bersangkutan.

    BalasHapus
  5. Di artikel saya ini juga saya sebut, Mas Yuda. Mengapa banyak blogger pengguna engine WP banyak yang tak mau mengaktifkan Snapshot tapi di sisi lain ada yang mempermasalahkan masalah Anchor text yang linknya katanya mengecoh. Ini dua sisi yang saling bertolak belakang sebenarnya.

    BalasHapus
  6. Oh, ternyata saya nulis komentar buat blog ini ya. Sekarang lebih nyaman tapi saran saja, akan lebih baik jika formnya menyatu dengan artikel, tidak di halaman baru seperti ini. Tapi sepertinya tidak bisa ya?

    Verifikasi kata apa memang perlu?

    BalasHapus
  7. Jeprie:
    Terima kasih atas saran-sarannya. Saya pernah berkeluh kesah juga mengenai CAPTCHA ini di sini, Mas Jeprie. Dan ini sulit buat saya untuk memilih.

    Untuk komentar menyatu dengan artikelnya nanti coba yang kutak-katiknya lagi kenapa, kok tak bisa terus waktu kemarin coba saya setting begitu.

    BalasHapus
  8. OOT, sepertinya saran mas jeprie di atas sangat teramat penting untuk dipertimbangkan pak. Saya pun idem dengan beliau utk urusan form komentar di blog ini :D

    Untuk alasan mengapa saya tidak memakai fitur snapshot di blog wordpress saya, karena banyak pengunjung internet (salah satunya saya) tidak memiliki koneksi internet yang cepat dan quota bandwidht yang terbatas, oleh karena itu jika mengarahkan mouse ke URL, maka pengunjung dipaksa utk mendownload konten yang ada di snapshot. Fitur tsb juga dapat mengganggu navigasi pada tulisan yang mempunyai banyak link di dalamnya.

    Hmm sepertinya saya tahu siapa blogger yang dimaksud. Tapi tanpa berburuk sangka, mungkin maksud beliau adalah agar pengguna screen reader tidak merasa terkecoh (sekalipun kita tidak ada niatan utk mengecoh).

    Itu saja siy pak...

    BalasHapus
  9. rismaka:
    Maaf, saya sudah nyerah, Mas Adi. Saya sudah coba setting begitu dengan embedded comment di bawah postingan tapi lagi-lagi malah error. Setiap dikomen malah berputar-putar. Kok bisa begitu, ya?

    He2 Mas Adi tahu, ya? Maaf, Mas tulisan ini seperti juga sudah saya singgung di artikelnya diatas, saya tak bermaksud untuk memperuncing perbedaan pendapat ini. Saya sangat menghormati perbedaan cara pandang ini. Dan saya bisa menerima masukannya. Next pada posting selanjutnya saya tak akan melakukan itu lagi.

    BalasHapus
  10. Sepertinya saya tahu orangnya. :D Itu saya (GR mode on). Kecuali ada orang lain yang berkomentar senada.

    Seharusnya nama saya disebut di tulisan ini. Lalu saya dapat backlink gratis. Saya sangat tidak keberatan untuk itu. Kan komentar saya sudah menginspirasi. Dan saya harusnya juga punya hak jawab. Digosipin tanpa diberitahu itu apa namanya? [serious..ini bercanda, Pak] :D

    Mengenai fitur snap itu:
    kelemahan mendasarnya, selain bandwidth, menurut saya adalah karena fungsi kebergunaan dan aksesibilitasnya. Jika memang bisa dengan teks anchor yang deskriptif, kenapa dipersulit dengan snap atau atribut title? Toh keduanya tidak aksesibel sepenuhnya. Lagipula fungsi klik kanan agak terganggu dengan fitur snap itu. Fitur sejenis snap ini dulu bahkan pernah diboikot oleh priyadi.net dkk.

    Menurut logika hemat saya, bukankah lebih murah meriah dengan teks anchor yang deskriptif? Dalam hal ini, tetap jujur lebih baik. Apapun alasannya. Tuhan pun sepertinya merestui kejujuran. Sederhana kan, Pak? :)

    BalasHapus
  11. dani:
    Saya ingin menanggapi komentar Mas Dani dengan sebuah candaan saya dulu. Ini blog saya, ya suka-suka gua, dong. Seandainya saya membenamkan misalnya sampai 10 atau lebih Anchor text dalam artikel saya apakah pengunjung akan ngeklik semuanya? Seberapa banyak ada pengunjung yang jenis seperti itu. He....He.... Maaf, ini hanya candaan saya sekali lagi.

    Prakteknya, sesuai analisa data web statistik blog saya rasio impresion blog saya rendah sekali, hanya 1,7 kali impresion artikel per kunjungan, Mas Dani. Jika saya dianggap punya tujuan mengecoh, saya termasuk kurang sukses mengecoh pengunjung blog saya karena ternyata pengunjung blog saya rata-rata pada pinter semua sehingga tak sembarangan klik sebuah anchor text yang saya taruh di blog ini.

    Sebagaimana tanggapan saya dulu di artikel 3 Alasan Mengapa Saya Harus Berhenti Ngeblog, pada prinsipnya saya sependapat dan bisa menerima masukan tersebut. Dan benar, yang saya ceritakan disini adalah Mas Dani. He...He.... Saya tak mau sebut nama karena nanti dikira kita dianggap sedang perang dingin atau bersiteru seperti dalam artikel Mas Adi itu, bisa gawat.

    Anggap saja posting ini sebuah edukasi saja buat pengunjung yang tak tahu atau belum mengerti tentang cara mengintip Anchor text.

    Sekedar tambahan, ada cara termudah yang lain untuk mengintip anchor text. Bukankah sebuah anchor text juga bisa dihower atau intip dulu URL-nya sebelum diputuskan untuk diklik?

    BalasHapus
  12. Santai saja Pak. Ini kan diskusi terbuka. Saya sih tidak masalah. Mas Adi Rismaka saja yang sedang kehabisan ide ngeblog. :D

    Kadang saya ingin sekali memberi alasan dari sisi SEO. Tapi menurut saya, itu hanya pelengkap saja. Seperti kasus teks anchor berbeda dengan URL yang sama ini. Jika dibawa ke ranah SEO, toh algoritma hanya memperhitungkan URL yang pertama disebut. Sisanya tidak. Dan ini, menurut saya, sudah sejalan dengan konsep aksesibilitas Web. :)

    Cara mengetahui ada apa di balik URL mungkin banyak. Tapi haruskah selalu serepot dan separanoid itu untuk mengakses URL di blog yang (hendak) kita percayai?

    Intinya, maafnya saya terima. :)

    BalasHapus
  13. dani:
    Lho, diskusinya, kok berlanjut ke blognya Mas Adi, Mas Dani. He...He....

    Oke, lain kali saya akan berikan backlink dan menunjuk nama agar tak disebut sebagai saling sindir menyindir dan perang dingin.

    BalasHapus